Category Archives: Green Info

Fenomena Smog Fotokimia

Fenomena Smog Fotokimia

Pernahkan kamu melihat pemandangan seperti foto di bawah ini? Pemandangan ini biasanya dapat kamu temukan dengan mudah di kawasan perkotaan yang padat dan banyak aktivitas kendaraan bermotor atau industri. Foto di bawah ini menunjukkan fenomena smog fotokimia. Apa itu smog fotokimia dan apakah ini berbahaya bagi lingkungan juga manusia? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!

Sumber: prior-scientific
Sumber: prior-scientific

Definisi

Smog merupakan gabungan kata antara smoke (asap) dan fog (kabut), yang berarti kabut yang berisi gas pencemar udara. Fotokimia adalah proses reaksi kimia yang diakibatkan oleh adanya cahaya. Smog fotokimia adalah campuran polutan yang terbentuk ketika senyawa nitrogen oksida (NOx) dan senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds atau VOCs) bereaksi dengna cahaya matahari sehingga menyebabkan kabut kecoklatan di atas kawasan perkotaan. Polutan yang terdapat pada smog fotokimia adalah ozon, lachrymator (substansi kimia yang dapat menyebabkan iritasi mata), dan zat-zat kimia berbahaya lainnya.

Penyebab

Terdapat 3 senyawa utama yang diperlukan untuk membuat reaksi kimia pembentuk smog terjadi. Ketiga senyawa tersebut adalah sinar ultraviolet (UV), hidrokarbon, dan nitrogen oksida (NOx). Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat berasal dari sumber alami ataupun dari kegiatan manusia.

Kebakaran hutan dan proses mikrobiologi yang terjadi di alam, terutama di tanah, akan menghasilkan NOx. Sedangkan senyawa VOCs dapat dihasilkan dari proses penguapan senyawa organik yang terjadi secara alamiah, seperti terpena (C5H8)n, yang merupakan hidrokarbon yang dihasilkan oleh tumbuhan dan terdapat dalam minyak sebagai pemicu terjadinya pembakaran. Eukaliptus, salah satu jenis pohon dari Australia, juga melepaskan senyawa ini dalam jumlah yang cukup besar. Selain itu, senyawa NOx dapat terbentuk melalui proses terjadinya petir. Gas nitrogen bereaksi dengan oksigen di sekitarnya membentuk nitrogen monoksida.

Hidrokarbon dan NOx sebagian besar dihasilkan dari kegiatan manusia seperti pembakaran pada mesin kendaraan bermotor. Di sebagian besar wilayah perkotaan, lebih dari 50% smog fotokimia terbentuk akibat adanya emisi kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor menyebabkan terjadinya emisi berbagai hidrokarbon yang belum terbakar, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur oksida. Pembakaran yang tidak sempurna ini biasanya terjadi ketika kendaraan bermotor sedang melaju cepat dan saat terjadinya kemacetan, yang menimbulkan kurangnya suplai oksigen untuk proses pembakaran. Pembakaran tidak sempurna juga dapat diakibatkan oleh proses pembakaran pada industri yang kurang suplai oksigen karena adanya kekurangan pada mesin.

Selain disebabkan oleh senyawa-senyawa yang berasal dari kedua jenis sumber tersebut, smog fotokimia juga sering disebabkan oleh angin yang tenang. Selama musim dingin, kecepatan angin menjadi rendah, sehingga asap dan kabut menjadi stagnan pada tempat terbentuknya smog dan meningkatkan tingkat polusi pada bagian permukaan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Terjadinya inversi termal dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah factor lokasi. Inversi termal dapat dengan lebih mudah terjadi di daerah lembah, karena pergerakan udara di daerah lembah lebih terbatasi dan suhu pada malam hari yang lebih dingin. Pada daerah pantai, inversi termal sangat sulit untuk terjadi. Hal ini disebabkan oleh suhu pada malam hari yang tetap hangat. Suhu yang hangat ini disebabkan oleh tingginya kelembaban. Uap air yang merupakan penyumbang terbesar terjadinya efek rumah kaca (50%, dihitung dari konsentrasi dan kemampuan zat menyerap energi matahari) menyebabkan panas tetap terperangkap di daerah pantai pada malam hari.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Dampak

Smog fotokimia dapat memberikan dampak pada lingkungan, kesehatan manusia, hingga kerusakan material. Dampak utama yang dapat dilihat secara langsung (visual) adalah kabut kecokelatan yang berada di atas wilayah perkotaan. Warna kecokelatan disebabkan oleh partikel cair dan padatan yang berukuran sangat kecil yang memendarkan cahaya.

Senyawa NOx, ozon, dan juga peroksiasetil nitrat (PAN) dapat mengurangi bahkan hingga menghentikan pertumbuhan tumbuhan dengan mengurangi proses fotosintesis. Ozon dalam jumlah kecil dapat menyebabkan hal ini, tetapi PAN bersifat lebih toksik lagi terhadap tumbuhan. Smog dapat menyebabkan masalah pada jantung dan paru-paru, iritasi mata, gangguan pernapasan, batuk, dan sesak pada manusia. Hal ini disebabkan oleh polutan-polutan yang terkandung dalam smog itu sendiri (NOx, VOCs, ozon, dan PAN). Ozon juga dapat merusak berbagai campuran material. Ozon dapat menyebabkan keretakan pada karet, mengurangi kekuatan tekstil, memudarkan warna pada kain, dan keretakan cat.

Referensi

EPA. (2004). Photochemical smog—what it means for us. Adelaide: EPA South Australia.

Foust, Richard. n.d. Photochemical Smog. Diperoleh dari http://mtweb.mtsu.edu/nchong/Smog-Atm1.htm

Manahan, Stanly E. (2000). Environmental Chemistry 6th Edition. Florida: CRC Press.

Rani, Bina et al. (2011). Photochemical Smog Pollution and Its Mitigation Measures. Journal of Advanced Scientific Research, 2011; 2(4): 28-33.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Jika Generasi Hijau berlibur ke pantai dan melihat sampah di tepinya, kemungkinan besar sampah itu bukan berasal dari daerah pesisir pantai. Bisa jadi sampah tersebut berasal dari negara di seberang lautan, sudah terombang-ambing di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya terbawa ombak dan terdampar di pantai.

Laut kita penuh sampah. Bukan hanya plastik kemasan, termasuk juga jala ikan, besi berkarat, atau sampah sisa peradaban manusia lainnya. Sebenarnya dari mana sampah ini berasal?

We often see marine debris washed ashore at the coast. (Source: dokumen Tim EcoRanger)

Sampah laut berasal dari beragam sumber. Pembuangan sampah dari seluruh dunia menjadi sebab utamanya. Dalam kasus tertentu, seperti ketika pengunjung pantai tidak mengambil sampah mereka dan mengelolanya dengan baik, sampah tersebut langsung masuk ke lautan. Seringnya, sampah tersebut datang dari seberang laut. Ketika ada yang buang sampah di jalan, kadangkala sampahnya tidak menyumbat saluran air dan terbawa arus hingga ke muara dan berakhir di laut.

Penyebab besar lainnya ialah sistem pembuangan sampah yang serampangan. TPA di Indonesia yang hampir penuh memang bukan solusi praktis. Sampah hanya dibuang hingga menggunung, tanpa ada pengolahan, dan terus menerus ditumpuk. Lama kelamaan, gunungan sampah tersebut tidak akan bisa menopang lagi. Kalau sudah begitu, mungkin akan jatuh, tertiup angin, terbawa saluran air, dan sampai ke laut.

Di seluruh dunia, banyak orang yang tidak punya akses ke pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Namun ketika sampahnya tetap menumpuk, mereka tidak hilang begitu saja. Sampah itu akan pindah tempat. Jika tidak di darat, kemungkinan besar akan menuju laut; tempat yang jauh dari penglihatan dan jangkauan mata manusia.

Bukan hanya di darat, sampah laut bisa bersumber dari aktivitas manusia di lautan juga. Tak jarang penumpang kapal secara sadar membuang sampahnya ke lautan. Atau barang yang sedang dipakai, tanpa sengaja jatuh dari kapal, tertiup angin, atau terseret arus. Contohnya saja, kamu sedang bermain di pantai yang ombaknya besar. Tanpa sadar, kamu keluar dari air tanpa memakai sandal. Ternyata sandalmu tahu-tahu sudah ada di tengah air yang cukup dalam. Sandalmu akan tetap ada di laut hingga bertahun-tahun selanjutnya, terbawa arus hingga hanyut di tepi pantai, atau berakhir di perut hewan laut. Selain itu, nelayan seringkali kehilangan perlengkapan pancing ketika mendapati badai di laut.

Sampah plastik di laut akan mencemari air dan biotanya. (Sumber: Naja Bertold Jensen/Unsplash)

Ketika sudah ada di laut lepas, sulit sekali melacak kedatangan sampah laut tersebut. Untuk sampah plastik sachet atau kemasan, kita masih dapat memastikan sampah ini datang dari negara mana melalui keterangan di kemasannya. Namun tentu saja sulit untuk menentukan, apakah kemasan ini datang dari sampah rumah tangga di darat, dari TPA, pantai, atau terbuang langsung dari lautan.

Intinya, semua sampah laut berasal dari aktivitas manusia. Manusia menjadi biangnya, dan tiap manusia punya tanggung jawab yang sama pula untuk menghentikan dan mencegahnya.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita mengurangi sampah plastik dari sumbernya. Dapat dikatakan, kita menutup keran terbentuknya sampah laut sejak awal. Hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti menggunakan tas kain, belanja di bulk store, mengompos, atau menggunakan menstrual pad, tentu akan berdampak besar jika dilakukan banyak orang. Kamu telah menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan tanpa kamu sadari. Jadi, jangan berkecil hati dengan usahamu ya.

Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Ocean Today. (n.d.). Where Does Marine Debris Come From? Retrieved from National Oceanic and Atmospheric Administration: https://oceantoday.noaa.gov/trashtalk_wheredoesmarinedebriscomefrom/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Generasi Hijau yang tinggal di kota besar, pasti familiar dengan masalah seperti kemacetan dan polusi. Masalah di jalan tidak jarang diikuti dengan tekanan batin setelahnya; terjebak macet lalu terlambat ke kantor, atau karena terburu-buru malah melanggar rambu lalu lintas dan terkena tilang. Tidak hanya di Jabodetabek, kemacetan sudah dijumpai di kota besar lainnya di Indonesia. Namun sayangnya, persebaran transportasi publik belum merata. Untuk saat ini, hanya penduduk Jakarta yang dapat menikmati MRT (mass rapid transit) dan TransJakarta, sementara penduduk Jabodetabek dapat menggunakan fasilitas kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. 

 

Bagi kamu yang berkesempatan tinggal di kota dengan transportasi umum, yuk manfaatkan! Kamu dapat mendukung terbentuknya kota berkelanjutan. Berikut keuntungan bagimu dan lingkungan sekitarmu jika kamu rutin menggunakan transportasi umum.

Mengurangi jejak karbon pribadi

Dilansir dari WRI Indonesia, jika kamu melakukan perjalanan sejauh 20 kilometer ke kantor dengan menggunakan mobil setiap harinya, kamu akan menghasilkan 1.300 kilogram CO2 per tahun. Sementara jika naik bus, kamu mengurangi jejak karbonmu hingga hampir setengahnya; hanya 600 kilogram CO2 per tahun. Dengan membawa lebih banyak orang dalam sekali angkut, transportasi publik mereduksi jejak karbon dibanding kendaraan pribadi secara signifikan.

Efisiensi bensin

Selain mengurangi emisi karbon, transportasi umum juga menggunakan bahan bakar dengan efisien. Hal ini turut berkontribusi pada reduksi energi yang dibutuhkan moda transportasi secara keseluruhan.

 

Terhindar kemacetan

Seperti alasan sebelumnya, transportasi umum membawa lebih banyak orang dalam sekali jalan dan dapat membantumu terhindar dari kemacetan. Waktu tempuh untuk ke tujuan pun dapat lebih singkat. Meski begitu, pengguna Commuter Line Jabodetabek mesti mengganti rasa waswas takut terlambat dengan berdesakan di rangkaian kereta (hehe).

Tidak perlu repot mencari lahan parkir

Kamu pasti pernah menghabiskan waktu lama bolak-balik untuk mencari lahan parkir. Lahan parkir yang tersedia memang tidak seimbang dengan kendaraan pribadi yang banyak. Dengan naik transportasi umum, kamu dapat memangkas waktu mencari lahan parkir dan lebih cepat ke tempat tujuan.

Naik TransJakarta membantu kita aktif bergerak, karena dari halte ke tempat tujuan perlu naik jembatan penyeberangan. (SumberL Azka Rayhansyah/Unsplash)

Lebih aktif bergerak

Jalan kaki dari dan ke stasiun atau halte, berdiri menunggu bus atau kereta, hingga naik-turun tangga jembatan penyeberangan akan membuatmu lebih aktif bergerak. Dilansir dari Hellosehat, semua aktivitas tersebut dapat meningkatkan fungsi jantung, paru, dan otot. Selain itu, dapat membakar lemak lebih banyak ketimbang duduk, meningkatkan kebugaran tubuh, serta menjadi kegiatan menyehatkan bagi orang dengan hipertensi, kadar kolesterol tinggi, atau kekakuan sendi.

Mengumpulkan energi untuk bekerja

Jika beruntung dapat duduk, kamu dapat memanfaatkan waktu istirahat saat berada di kendaraan umum. Selagi menunggu sampai tujuan, kamu dapat tidur sejenak, membaca buku, atau sekadar meluruskan kaki.

Mengasah fungsi otak

Generasi Hijau mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya, namun naik transportasi umum dapat melatih kerja otak, lho.

 

Misalnya, memikirkan transportasi mana yang paling efektif untuk ditempuh dengan pertimbangan paling mudah, lebih murah, dan menghemat waktu. Kamu juga diharuskan mengingat kode-kode kendaraan tertentu, seperti mikrolet atau kopaja. Atau mengingat peron mana yang dilewati kereta tujuanmu. Jika sudah terbiasa, kamu secara tidak sadar akan hafal rute kendaraan yang sering kamu tumpangi.

 

Semua hal yang disebutkan di atas berkaitan erat dengan banyak fungsi otak, seperti penalaran, daya ingat, perhitungan, emosi, dan juga pengambilan keputusan. Ini sama halnya ketika kamu mengerjakan soal matematika atau memainkan permainan puzzle yang bermanfaat bagi otak.

 

Data kecelakaan lalu lintas tahun 2019. (Sumber: Korlantas Polri)

Lebih aman

Transportasi umum diperbaiki secara berkala, dipastikan keamanannya, dan sparepart-nya dipelihara untuk memastikannya layak jalan. Dibanding kendaraan pribadi yang hanya kita servis jika rusak, transportasi umum dinilai lebih aman.

 

Dilihat dari kebiasaan berkendara dan jam terbang, masinis dan sopir bus tentunya lebih berpengalaman dibanding pengendara pribadi seperti kita. Mereka telah melalui sertifikasi dan pelatihan khusus untuk dipercaya membawa transportasi umum.

Menurut data dari Korlantas Polri, kecelakaan lalu lintas di tahun 2019 didominasi oleh pengendara motor sebanyak 73,49%. Sementara kecelakaan bus hanya 1,22%, dan kecelakaan kereta hanya 0,05% saja.

Dampak lebih jauhnya, dengan lebih banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi, udara akan lebih bersih dan bebas polusi. Tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, namun juga untuk kesehatan kita. Melalui penggunaan transportasi umum, kamu juga mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan di level urban.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

National Express Transit. (2017, July 18). 9 Benefits of Public Transportation. Retrieved from National Ecpress Transit: https://www.nationalexpresstransit.com/blog/9-benefits-of-public-transportation/

 

Noor, N., Pradana, A., & Rizki, M. (2019, October 11). Menghitung Jejak Karbon Pribadi Dapat Mendukung Aksi Iklim. Retrieved from WRI Indonesia: https://wri-indonesia.org/id/blog/menghitung-jejak-karbon-pribadi-dapat-mendukung-aksi-iklim

 

Puji, A. (2019, October 06). Tak Hanya Kurangi Kemacetan, Lihat 4 Manfaat Naik Kendaraan Umum Bagi Kesehatan. Retrieved from Hellosehat: https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/manfaat-naik-angkutan-umum/

 

Setijowarno, D. (2020, March 01). Sepeda Motor Penyumbang Kecelakaan Terbesar di Jalan Raya. Retrieved from Bisnis News: https://bisnisnews.id/detail/berita/sepeda-motor-penyumbang-kecelakaan-terbesar-di-jalan-raya

 

Timperley, J. (2020, March 18). How Our Daily Travel Harms the Planet. Retrieved from BBC UK: https://www.bbc.com/future/article/20200317-climate-change-cut-carbon-emissions-from-your-commute

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Kehidupan pertama di bumi dimulai dari laut. Makhluk darat pertama berasal dari laut. Hingga kini, laut menjadi tonggak penting kehidupan makhluk hidup bumi.

 

Tiap hari Jumat di minggu ketiga Mei diperingati sebagai Hari Spesies Flora dan Fauna Langka. Untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga dan merestorasi alam liar untuk keberlangsungan hidup satwa, Hari Spesies Flora dan Fauna Langka di tahun ini jatuh tanggal 21 Mei.

Sustainable consumption and production contributes to healthy ocean life. (Source: Miles Prolevic/Unsplash)

Sejak revolusi industri yang pertama, planet bumi telah menyaksikan kehilangan banyaknya spesies hewan dan tumbuhan akibat aktivitas manufaktur dan perkembangan teknologi manusia. Sayangnya, perkembangan industri tersebut tidak dibarengi dengan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Ekosistem laut modern kini menanggung akibatnya.

Bukan hanya tempat produksi ikan

Lebih dari sekadar hamparan air asin yang luas, laut berperan penting dalam keberlangsungan hidup di bumi; baik di laut itu sendiri maupun di darat. Berikut beberapa alasannya.

Produsen oksigen

80% oksigen dunia diproduksi fitoplankton di lautan. Betul, kamu tidak salah baca! Hutan hujan tropis dan tumbuhan memang turut menyumbang kadar oksigen di atmosfer bumi, namun sebenarnya laut memproduksi sebagian besar oksigen yang kita hirup sekarang. Fitoplankton ialah tumbuhan laut mikroskopik, jumlahnya masif di lautan. Merekalah yang berperan menghasilkan oksigen bagi makhluk darat.

 

 

Evaporasi air hujan

Laut berperan sebagai panel surya raksasa, dan mendistribusikan panasnya ke seluruh dunia. Ketika sinar matahari menghangatkan laut, terjadi pertukaran antara molekul air dan udara. Proses ini disebut evaporasi. Air laut berevaporasi secara konstan, meningkatkan suhu dan kelembaban udara di sekitarnya untuk membentuk awan hujan. Awan hujan tersebut lalu terbawa angin ke darat. Daerah tropis lebih sering hujan, karena matahari bersinar sepanjang tahun, sehingga proses evaporasi frekuensinya lebih tinggi di area ekuator.

 

Mengapa air hujan rasanya tawar, meski airnya menguap dari laut? Proses evaporasi murni hanya membawa molekul air, tanpa ada substansi lainnya. Jadi, kandungan garam dan partikel lainnya tetap ada di laut. Ketika cuaca di laut sedang berangin, kadang percikan airnya terbawa hingga tepi pantai. Percikan air tersebut memuat partikel garam yang tertinggal saat proses evaporasi. Proses inilah yang menyebabkan angin laut terasa asin dan berbau logam.

Pengatur iklim daratan

Laut mempengaruhi cuaca dan iklim darat dengan menjaga temperatur bumi. Sebagian besar radiasi matahari diserap air laut dan samudra di perairan tropis dekat ekuator. Sementara untuk daerah bumi di luar ekuator, laut mempengaruhi pola cuaca darat dengan arusnya. Arus laut mengalir terus menerus, dibentuk dari angin di permukaan laut, suhu dan kadar garam, rotasi bumi, serta pasang-surut lautan. Arus laut bergerak searah jarum jam dari belahan bumi utara, dan berlawanan jarum jam di belahan bumi selatan. Polanya melingkar dan melewati garis pantai.

 

Arus laut bergerak seperti conveyor belt, mengangkut air hangat dan presipitasi dari ekuator ke kutub, dan air dingin dari kutub kembali ke daerah tropis. Siklus ini menjaga iklim global dan menetralkan distribusi panas matahari di permukaan bumi. Tanpa arus ini, temperatur regional akan jadi sangat ekstrem; panas luar biasa di ekuator dan dingin membeku di dekat kutub. Selain itu, daratan di bumi mungkin tidak akan layak ditempati.

Laut dan ancaman yang menyertainya

Pada praktiknya, bumi memang mengalami kenaikan suhu secara natural. Namun sejak adanya aktivitas industri manusia, bumi mengalami kenaikan temperatur global dalam kecepatan tinggi. Dilansir dari jurnal Advances in Atmospheric Science, temperatur air laut disinyalir paling tinggi di tahun 2019, sejak 60 tahun lalu pencatatan suhu bumi dimulai.

 

Laut sangat sensitif dengan suhu. Adanya kenaikan temperatur global mempengaruhi seluruh elemen laut. Jika tidak beradaptasi, biota laut akan mati. 

Healthy coral reefs have bright vibrant colors. (Source: QUI/Unsplash)

Salah satu dampak kenaikan temperatur ialah terjadinya coral bleaching. Terumbu karang yang sehat aslinya berwarna terang dan ditinggali hewan laut lainnya. Warna terang ini dikeluarkan oleh alga berukuran mikroskopik bernama zooxanthellae. Terumbu karang dan alga ini menjalin simbiosis mutualisme; zooxanthellae yang hidup di terumbu karang melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk mereka.

Ketika suhu air naik, terumbu karang di dasar laut bisa stres dan melepas alga dari tubuhnya. Karena hilangnya alga ini, warna terumbu karang dapat berubah menjadi putih seperti terkena bleaching. Tanpa zooxanthellae, terumbu karang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Jika suhu air tetap tinggi, terumbu karang tersebut akan mati.

 

Selain coral bleaching, ancaman lain yang dihadapi makhluk laut berhubungan erat dengan aktivitas manusia. Belum lagi jika kita membicarakan soal sampah lautan, overfishing, dan tumpahan minyak di lepas pantai. Dengan memahami masalahnya, Generasi Hijau dapat mengambil peran untuk mengatasi salah satu dari faktor yang disebutkan tadi. Tetap ingat bahwa tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Berwyn, B. (2020, January 14). Ocean Warming Is Speeding Up, with Devastating Consequences, Study Shows. Retrieved from Inside Climate News: https://insideclimatenews.org/news/14012020/ocean-heat-2019-warmest-year-argo-hurricanes-corals-marine-animals-heatwaves/

 

DNA Web Team. (2020, May 15). National Endangered Species Day 2020: History, significance & more. Retrieved from DNA India: https://www.dnaindia.com/lifestyle/report-national-endangered-species-day-2020-history-significance-more-2824843

 

Earth Science Communication Team. (n.d.). What is happening in the ocean? Retrieved from NASA Climate Kids: https://climatekids.nasa.gov/ocean/

 

Fallahnda, B. (2021, March 19). Apa Penyebab Pencemaran dan Dampak Konservasi Laut? Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/apa-penyebab-pencemaran-dan-dampak-konservasi-laut-gbhK

 

Hancock, L. (n.d.). Everything You Need to Know about Coral Bleaching—And How We Can Stop It. Retrieved from WWF Page: https://www.worldwildlife.org/pages/everything-you-need-to-know-about-coral-bleaching-and-how-we-can-stop-it

 

National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). What is coral bleaching? Retrieved from National Ocean Service: https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_bleach.html

Ocean Exploration. (n.d.). How does the ocean affect climate and weather on land? Retrieved from Ocean Exploration Facts: https://oceanexplorer.noaa.gov/facts/climate.html

 

Skilling, T. (2017, September 1). Ask Tom: Why is rain that comes from evaporated ocean water not salty? Retrieved from Chicago Tribune: https://www.chicagotribune.com/weather/ct-wea-asktom-0903-20170901-column.html

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Hari Raya semakin dekat! Di tahun kedua pandemi, kita telah menempuh dua Idulfitri dengan terhubung melalui internet dan sambungan telepon dengan keluarga di kampung halaman. Meski banyak keterbatasan di bulan penuh berkah ini, jangan sampai silaturahmi bersama keluarga dan kerabat terbatas juga ya, Generasi Hijau.

 

Setelah berpuasa satu bulan penuh, Hari Raya jadi waktu untuk merayakan kemenangan. Perayaan ini identik dengan berbagai hidangan khas Hari Raya. Opor, gulai, rendang, sambal goreng, biasanya mana dulu yang kamu masak?

 

Seringkali dalam perayaan Lebaran, kita menyajikan terlalu banyak hidangan hingga tanpa sadar banyak yang terbuang. Tahukah kamu, sampah makanan justru meningkat di bulan Ramadan dan Hari Raya? Untuk itu, kami mengajak Generasi Hijau untuk lebih menyadari lagi berapa banyak sampah makanan yang berpotensi dihasilkan dari makanan pada Idulfitri. Berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mencegah sampah makanan saat Idulfitri.

Masak secukupnya

Jika di rumahmu ada lima orang, jangan memasak untuk porsi sepuluh orang. Ketahui berapa banyak tamu yang akan datang sehingga mencegah makanan terbuang. Rasulullah saw. bersabda: “Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah).

 

We can share the abundance of Eid food to neighbors and others in need. (Source: Getty Images)

Bagikan ke tetangga dan yang membutuhkan

Semangat Ramadan masih akan terasa di Hari Raya. Ketika makanan sudah tersaji dan ternyata tidak dapat dihabiskan, bagikan kelebihannya pada tetangga di sekitar rumah. Jika memungkinkan, bagikan juga pada teman-teman di sekitar kita yang kurang beruntung.

Masak kembali sisa masakan

Maksudnya ialah kulit buah atau sayur yang kamu kira tidak bisa dimakan lagi. Kini sudah banyak lho resep di internet yang memanfaatkan kulit buah atau batang sayur, contohnya resep oseng kulit singkong yang bisa kamu lihat di sini!

Jangan lapar mata

Ketika banyak makanan di meja, seringkali kita kalap dan ingin mengambil semuanya. Ternyata porsinya terlalu banyak buat kita dan tidak sanggup dihabiskan. Untuk menghindari makanan terbuang karena ini, ambil porsi kecil-kecil saja. Kalau kurang, kamu bisa tambah lagi.

Composting can eliminate food waste from its source. (Source: Markus Spiske/Unsplash)

Kompos sisa masakanmu!

Ketika kita buang sampah, sampah itu tidak akan hilang; sejatinya hanya berpindah tempat. Dari rumahmu ke TPA, tidak menyelesaikan masalah. Karena itu, usaha paling tepat untuk mencegah penumpukan sampah makanan di TPA ialah dengan mengompos sendiri di rumah. Sisa kulit buah dan batang sayurmu dapat berubah menjadi nutrisi yang baik untuk tanaman di rumah. Kamu bisa menanam kembali sisa sayur dan buah melalui cara ini. Sisa sayur yang sudah jadi kompos itu akan berputar jadi makananmu kembali. Dengan begitu, kamu telah menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan di skala rumah.

Esensi Hari Raya ialah merefleksikan diri kembali setelah satu bulan berpuasa di bulan yang baik. Jangan sampai volume sampah makanan menghambat kebahagiaan kita berkumpul bersama orang tersayang.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

6 Alasan Kita Tidak Perlu Beli Baju Lebaran Baru

6 Alasan Kita Tidak Perlu Beli Baju Lebaran Baru

Beberapa dari kita terbiasa membeli baju baru saat Lebaran. Sudah berapa lebaran yang kamu lalui dengan baju baru? Apakah baju itu dipakai lagi, atau… kamu segera bosan?

 

Coba buka lemarimu. Lihat tumpukan bajumu dan pikirkan kembali: kapan terakhir kali kamu pakai baju itu? Mungkin sudah waktunya melepaskan beberapa potong kain.

 

Dua minggu menuju Idulfitri, di saat banyak orang sibuk membeli baju lebaran, ada baiknya kamu menggunakan kesempatan ini untuk mengaudit lemari. Pisahkan pakaian yang masih sering kamu pakai, dan sisihkan yang sudah lama mengendap di lemari. Jika ada yang rusak dan masih mau kamu perbaiki, segerakan agar kamu tidak lupa.

Abaya di tahun lalu dapat dipakai lagi di Hari Raya tahun ini. (Sumber: Pamela Joe McFarlane/iStockphoto)

 

Apa sih pentingnya kita menggunakan kembali baju lama? Mengapa tidak beli yang baru saja? Lebih praktis, tidak perlu beres-beres, dan mengikuti tren. Eits, Generasi Hijau, coba pikir ulang. Dilansir dari Go Green Drop, berikut enam alasan penting mengapa beli baju baru merupakan opsi terakhir.

Mengurangi angka limbah tekstil

Mendaur ulang bahan kain tidak semudah mendaur ulang plastik. Energi yang dibutuhkan lebih besar dan emisi yang dikeluarkan lebih banyak. Salah satu cara paling tepat untuk transisi dari mendaur ulang ke menggunakan kembali ialah dengan mengerti dampak yang dihasilkan sejak awal.

Mengurangi gas penyebab efek rumah kaca

Kain yang terbuat dari kapas harusnya dapat dikompos. Meski begitu, kebanyakan orang yang membuang kain akan membuatnya berakhir di TPA, di tempat yang kekurangan oksigen dan material organik untuk bantu memecahnya jadi kompos. Minimnya oksigen akan membuat limbah tekstil tersebut terurai melalui proses degradasi anaerob yang menghasilkan gas metana. Metana dapat terperangkap di atmosfer kita dan berbahaya bagi keseimbangan gas di lapisan ozon.

Mencegah sampah masuk TPA

Tahukah Generasi Hijau, TPA Bantar Gebang disinyalir akan penuh di tahun 2030. Jika kita menggunakan kembali pakaian kita atau memperbaiki yang rusak, kita mencegah limbah kain kita ke TPA. Dengan begitu, kita turut membantu mengurangi pasokan sampah baru di TPA. 

Mengurangi konsumerisme

Beberapa tahun belakangan, topik hidup minimalis mulai marak diperbincangkan. Orang mulai sadar bahwa mengurangi barang dan konsumsi justru membawa lebih banyak perasaan lega, senang dan puas. Termasuk juga dengan pakaian. Pasti kamu juga merasakan, banyak pakaian yang menumpuk di lemari malah rasanya penat. Ketika kita mengurangi pembelanjaan kita, selain rasanya hemat uang dan hemat tempat, kita membawa dampak personal bagi limbah kain secara keseluruhan.

 

Sunting lemari bajumu, lihat baju yang masih bagus dan cocok dipakai di lebaran tahun ini. (Sumber: ztj/Pinterest)

Hemat energi

Proses produksi fast fashion membutuhkan energi tinggi. Tiap potong pakaian yang kamu punya telah melalui proses manufaktur kompleks yang membutuhkan banyak listrik, air, dan sumber energi lainnya. Menggunakan kembali atau memperbaiki pakaianmu yang rusak dapat menghemat energi dengan mengeliminasi kemungkinan pembuatan produk dari awal. Sama seperti ketika kamu beli baju bekas atau thrifting, kamu berkontribusi mengurangi volume fast fashion.

Praktis

Alasan paling penting untuk menggunakan kembali pakaian lama kita ialah karena cara ini paling praktis dibanding yang lain. Membeli baju baru butuh usaha pergi ke toko, berjalan-jalan hingga dapat baju yang pas, belum lagi berdesakan dengan banyak orang di tengah pandemi seperti ini membuatmu jadi punya risiko tinggi. Ditambah lagi ketika puasa Ramadan, akan sangat mungkin kamu dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh.

 

Ketika Idulfitri datang, sudah menjadi tradisi di banyak negara untuk membeli baju baru. Mungkin memang menyenangkan untuk anak-anak punya baju baru di Hari Raya, namun diharapkan kita yang sudah dewasa sudah hidup lebih sadar lingkungan dan memilih untuk menggunakan pakaian lama. Selain menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, menggunakan baju lama yang masih bagus berarti kita dapat menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Idulfitri identik dengan berkah dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga, sehingga pakaian kita tidak jadi penentu kebahagiaan untuk merayakan lebaran.

 

Ditulis oleh Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Mers, T. (2020, March 4). 7 Important Reasons to Recycle Your Clothes. Retrieved from Go Green Drop: https://www.gogreendrop.com/blog/7-important-reasons-to-recycle-your-clothes/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

Di negara dengan mayoritas Muslim, Ramadan menjadi momen di mana konsumsi justru meningkat di bulan menahan hawa nafsu. Tidak hanya di negara dengan pendapatan tinggi seperti Uni Emirat Arab atau Qatar, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia sendiri, meningkatnya konsumsi dan belanja didorong oleh tradisi kita saat berpuasa dan lebaran Idulfitri. Salah satunya, anggapan untuk memakai baju baru saat lebaran, tradisi mudik, makan bersama dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

 

Makna utama Ramadan ialah untuk mensucikan diri, merawat jiwa raga dan orang sekitar kita. Puasa di bulan Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu lainnya seperti keinginan belanja. Akan jadi kesempatan emas bagi umat Muslim khususnya di Indonesia untuk mempertimbangkan beralih ke hidup yang lebih mindful dan sadar lingkungan. 

 

Tanggal 22 April lalu, kita merayakan Hari Bumi. Bertepatan dengan bulan Ramadan dan momentum untuk menekan pengeluaran, kita juga bisa menyelamatkan bumi, menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, sembari menghemat THR. Gaya hidup sadar lingkungan ini dapat membantu kita mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengusahakan penghematan sumber daya alam, kita juga mengimplementasikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

 

Di bulan Ramadan ini, bukan tidak mungkin untuk Generasi Hijau meredam pengeluaran dan memanfaatkan apa yang kita punya. Yuk, cek tips berikut untuk tahu bagaimana memulai menahan diri untuk belanja!

Cek kembali lemari bajumu

Audit pakaian di lemari agar tidak menumpuk. (Sumber: Pinterest)

Apakah kamu tipe orang yang bosanan? Sekali beli baju, hanya dua-tiga kali pakai, bosan dan lupakan. Jika iya, pasti ada banyak baju yang kamu lupa ada di lemarimu. Di waktu dua minggu sebelum lebaran seperti sekarang, kamu bisa menggunakan waktu luang untuk audit pakaian. Periksa kembali pakaian lama yang masih bagus, mix n’ match dengan baju lainnya. Hasil kurasi pakaianmu dapat jadi baju hari raya yang tak kalah ciamik dengan baju baru!

Jangan tergiur diskon

Diskon hari raya memang beragam dan ada di mana-mana. Tetap utamakan prioritasmu lebih dulu, ya. (Sumber: dok. Agung Rahmat P)

Dalam rangka Ramadan dan lebaran, aktivitas ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Di tahun kedua pandemi, aktivitas ekonomi di tahun 2021 ini meningkat dan lebih baik dibanding tahun 2020. Momen ini dimanfaatkan industri ritel untuk memberi diskon besar-besaran. Diskon memang sangat membantu kita untuk meredam pengeluaran, namun akan beda jadinya apabila kita tergiur terlalu banyak barang, membeli yang tidak kita butuhkan dan malah jadi tidak digunakan.

 

Untuk menghindari kalap belanja, cek daftar barang diskon, dan tentukan mana yang benar kamu butuhkan. Jika kamu beli barang dengan tanggal kadaluarsa seperti makanan dan minuman, jangan lupa dihabiskan agar mencegah limbah makanan. Jangan langsung membeli karena ada diskon, apalagi untuk barang-barang non-kebutuhan. Percayalah diskon itu tidak lari meski dikejar.

 

Mindful Eating

Setelah seharian 12 jam berpuasa, ada kalanya nafsu makan kita meningkat saat berbuka. Rasanya ingin menyantap beragam hidangan yang tersedia di meja. Gorengan, es buah, bubur sumsum, yang mana dulu, ya?

Perut kita yang kosong selama berpuasa, kaget ketika diisi beragam makanan dalam waktu singkat. Akhirnya begah, kekenyangan, dan tidak dapat menghabiskan semuanya. Padahal sudah banyak camilan yang dibeli. Inilah salah satu alasan mengapa limbah makanan justru meningkat di bulan Ramadan. Hidangan berbuka yang sudah dibeli ternyata terlampau banyak untuk dihabiskan, akhirnya jadi terbuang.

 

Tahun ini, mari kita praktikkan konsep mindfulness dalam menyantap makanan. Untuk menghindari lapar mata, kamu bisa mulai dengan memasak sendiri makanan berbuka. Dengan memperkirakan porsi sendiri dan orang di rumah, tidak perlu ada makanan terbuang. Selain itu, coba untuk pahami makanan yang ada di hadapanmu. Pikirkan perjalanannya hingga sampai ada di piringmu. Dari biji, ditanam petani hingga berbulan-bulan, setelah dipanen perlu melalui proses distribusi antarkota dan antarprovinsi hingga sampai ke pedagang di pasar, kamu beli, dan baru dapat diolah menjadi pangan lezat. Inderakan semua rasa makanannya ketika masuk mulut. Jadilah lebih atentif pada rasa, tekstur, dan aromanya. Ambil potongan kecil-kecil dan makan dengan perlahan. Dengan begitu, kamu bisa lebih menghargai makananmu.

 

Sikap mindfulness akan sangat esensial ketika Generasi Hijau sedang mempraktikkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mari kita jadikan momentum Ramadan untuk usahakan memulainya. Semoga dapat konsisten hingga Ramadan berakhir, ya!

 

Oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Sudah memasuki bulan Ramadan lagi nih, Generasi Hijau! Pasti kita akan lebih sibuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur. Apakah kamu atau orang di rumahmu masak? Atau kamu memilih beli agar lebih praktis? Yang manapun itu, pastikan tidak ada makanan yang terbuang, ya.

 

Ramadan seharusnya menjadi bulan di mana kita menahan hawa nafsu. Bukan hanya lapar dan haus, namun juga menahan keinginan untuk membeli barang yang tidak kita perlukan, termasuk makanan. Tahukah Generasi Hijau, ironisnya justru di bulan Ramadan sampah makanan meningkat? Pada hari selain Ramadan saja, Food and Agriculture Organization dari PBB mencatat, setiap penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 300 kg sampah makanan tiap tahunnya. Dikutip dari Malay Mail, angka ini meningkat 20-30% pada bulan Ramadan di negara mayoritas Muslim.

 

Sampah makanan yang terhitung tersebut bukan hanya pangan jadi, namun juga limbah makanan dari hasil proses memasak. Sayuran yang cenderung murah membuat kita kadang menyia-nyiakannya dengan langsung membuang sisa masakan ke tempat sampah atau komposter. Padahal, banyak sisa sayuran yang dapat kita tanam kembali (regrow). Uang yang kita gunakan untuk beli kebutuhan dapur dapat ditukar dengan waktu yang dibutuhkan dan kesabaran kita menunggu tanaman kita tumbuh.

Tanam sisa sayur

Untuk kita yang tinggal di apartemen atau rumah tanpa halaman, rasanya kadang iri dengan mereka yang bisa memasak dari kebun sendiri, ya. Sebenarnya, dengan memanfaatkan sedikit wadah dan beberapa ruang dekat jendela untuk sinar matahari, kita juga bisa urban farming di unit apartemen kita! Berikut beberapa sayuran yang dapat ditanam ulang dengan media yang tidak makan tempat.

Sawi, pakcoy dan selada

Tiga sayuran ini pasti meninggalkan bonggol yang tidak kita makan. Jangan buru-buru dikompos, bonggolnya dapat menumbuhkan sayur lagi untuk nanti kita panen. Letakkan 5 cm bonggol sayuran tersebut di wadah berisi air, jangan sampai tenggelam. Simpan di tempat yang terkena sinar matahari. Setelah 3 hari, tunasnya akan mulai terlihat. Pindahkan ke pot setelah 7 hari.

Menanam selada dari bonggolnya. (Sumber: Heather Buckner/Gardener’s Path)

Serai

Letakkan ujung batang serai di air, pastikan wadahnya memungkinkan batangnya berdiri. Ganti airnya setiap hari untuk mencegahnya berlumut. Dalam seminggu, kamu akan punya suplai serai tanpa perlu beli lagi. Jangan lupa pindahkan serai ke tanah setelah tumbuh sekitar 5cm. Ketika dibutuhkan, gunting saja lalu biarkan tumbuh lagi.

 

3. Mengambil peluang untuk negara berkembang

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs). Di Indonesia, konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menciptakan lapangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta pengelolaan sumber daya yang efisien dan mempertimbangkan kesejahteraan pekerjanya.

Daun bawang, bawang bombay, bawang putih dan merah

Bawang-bawangan ialah sayuran yang paling mudah ditanam kembali. Perawatannya juga tidak sulit. Kubur saja ujung bawang di dalam tanah, dalam waktu 4 hari akan mulai terlihat tunasnya. Pastikan masih ada ‘mata’ tempat akarnya tumbuh, ya. Untuk daun bawang, kamu tinggal letakkan ujung daunnya di air seperti hendak menanam serai. Lebih mudah lagi jika kamu punya daun bawang yang masih ada akarnya.

Daun bawang dalam gelas. (Sumber: The Gardening Cook/Pinterest)

Rosemary, thyme, basil, dan cilantro

Dedaunan herbal yang bukan asli Indonesia ini biasanya jarang ditemukan di pasar tradisional. Untuk mendapatkannya perlu pemasok khusus, atau kita dapat beli di supermarket di pusat belanja. Karena aksesnya agak sulit dibanding sayuran lainnya, akan lebih mudah kalau kita beli satu kali dan tanam sendiri.

Herbal Mediterania sekarang bisa kita nikmati di dapur sendiri. (Sumber: Kirsten Boehmer)

Sisakan sekitar 5 cm batang dan daun. Letakkan di air, ganti airnya setiap hari. Tunggu hingga akarnya tumbuh dan bisa dipindahkan ke pot.

Tanam kembali buahmu

Ketika beli buah, rasanya agak sayang kalau kita langsung buang bijinya ya. Yuk, manfaatkan sisa biji buah untuk tanam tumbuhan baru.

Stroberi dan tomat

Tahukah Generasi Hijau, bintik kecil stroberi yang turut kita makan ialah bijinya? Sementara biji tomat yang terkandung dalam satu buah dapat mencapai 150-300 biji.  Untuk memanfaatkan bijinya, iris kecil stroberi dan tomat, letakkan dalam pot yang sudah diisi tanah. Tutup dengan tanah lagi di atasnya. Pastikan tanahnya selalu lembab dan letakkan di tempat yang hangat. Dalam waktu dua minggu, akan tumbuh tunas baru.

Simpan tomat di pot, lalu tutup lagi dengan tanah. (Sumber: Shirley E/Thrifty Fun)

Alpukat

Buah ini butuh waktu lebih banyak dibanding sayuran dan herbal yang tadi sudah disebutkan, jadi kamu butuh kesabaran penuh ya. Bersihkan biji buah alpukat, lalu keringkan. Tusukkan tiga buah tusuk gigi mengelilingi alpukat seperti gambar di bawah. Tusukan harus berbentuk melingkar di garis lurus, dan agak serong ke bawah Tusuk gigi ini gunanya untuk menyangga biji di wadah air.

Alpukat berusia satu bulan. (Sumber: Ingrid HS/Getty Images)

Simpan biji alpukat di wadah air. Bagian atas yang bentuknya lebih lonjong adalah tempat tumbuh tunasnya, dan bagian bawah tempat tumbuh akar yang bentuknya sedikit lebih datar dibanding yang atas. Pastikan seperempat bagian biji alpukat terendam air. Generasi Hijau bisa menuangkan satu sendok gula pasir ke dalam air untuk menambah nutrisi pertumbuhan tunas dan akar alpukat. Kemudian, letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Jangan lupa ganti airnya setiap lima hari sekali.

 

Di hari ke-45, akarnya akan terlihat rimbun dan batangnya sudah tinggi. Potong batang sekitar 7 cm untuk merangsang pertumbuhannya. Ketika batangnya sudah menghasilkan daun cukup banyak, pindahkan ke tanah. 

Nanas

Putar daun mahkota nanas untuk memisahkan daun dan buahnya. Kupas beberapa daun di bawahnya untuk membuka batang. Balik dan biarkan mengering selama seminggu.

 

Setelah batang nanas mengering, siapkan empat tusuk gigi dan wadah air yang mulutnya cukup lebar. Tusuk batangnya seperti hendak menanam biji alpukat tadi. Rendam batangnya, dan letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Hindari suhu ekstrem di sekitar tunas nanas, pastikan tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

 

Ganti airnya setiap lima hari sekali. Pertumbuhan akar nanas akan memakan waktu hingga satu bulan, jadi kamu harus lebih sabar lagi dibanding ketika tanam alpukat ya. Ketika akarnya sudah cukup panjang, pindahkan dalam pot.

Jeruk, apel, ceri, pir dan kiwi

Biji di buah-buahan ini dapat langsung kita pisahkan dari daging buahnya. Keringkan dulu, lalu langsung kubur di pot. Untuk mempercepat pertumbuhan tunasnya, Generasi Hijau dapat membuat rumah kaca DIY dengan botol plastik bekas seperti di bawah ini.

(Sumber: Hanna/Tracks of Foxes)

Selain membantu mengurangi sampah makanan, Generasi Hijau juga punya persediaan bahan makanan dari kebun sendiri. Minim sampah dan minim pengeluaran, pasti menyenangkan, ya!

Referensi

H, D. (2018, February 6). 10 VEGETABLES YOU CAN REGROW FROM SCRAP. Retrieved from SPUD Vancouver: https://about.spud.com/blog-regrowing-vegetables-from-scrap/

 

Will, M. J. (2020, November 21). 39 Vegetables, Fruits, and Herbs to Regrow from Scraps. Retrieved from Empress of Dirt: https://empressofdirt.net/regrow-vegetable-scraps/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Mengenal Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Mengenal Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

SDGs 12: konsumsi dan produksi berkelanjutan (Source: ISGlobal)

 

Jika Generasi Hijau rutin mengunjungi blog ini, pasti sering menjumpai istilah ‘konsumsi dan produksi berkelanjutan’ atau ‘sustainable consumption and production (SCP)’. Sebenarnya, apa itu konsumsi dan produksi berkelanjutan, dan mengapa akan selalu berkaitan dengan gaya hidup ramah lingkungan?

 

Apa itu konsumsi dan produksi berkelanjutan?

Menurut definisi dari Simposium Oslo tahun 1994, konsumsi dan produksi berkelanjutan merujuk pada penggunaan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan dasar dan membawa kualitas hidup lebih baik sembari meminimalisasi penggunaan sumber daya alam, material beracun, emisi gas dan polutan dalam siklus hidup produk dan jasa tersebut. Dengan begitu, kita tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang.

 

Singkatnya, pola konsumsi dan produksi berkelanjutan ialah aksi melakukan lebih banyak hal berdampak baik untuk lingkungan dengan sumber daya minimal. Selain itu, pola ini juga menjadi acuan untuk memisahkan pertumbuhan ekonomi dengan degradasi lingkungan, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mempromosikan gaya hidup berkelanjutan.

 

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan perubahan sistemik. Untuk mewujudkannya, diperlukan pendekatan holistik. Terdapat tiga sasaran untuk mewujudkannya:

1. Memisahkan degradasi lingkungan dari pertumbuhan ekonomi

Pola ini ditujukan untuk melakukan banyak hal lebih produktif dengan meminimalkan sumber daya, meningkatkan keuntungan bersih dari aktivitas ekonomi dengan mengurangi emisi dan polusi bersamaan dengan meningkatkan kualitas hidup.

2. Menerapkan pola pikir melingkar

Seperti tujuannya, pola ini menekankan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan mencapai efisiensi dalam tahap konsumsi dan produksinya. Di dalamnya termasuk ekstraksi sumber daya, produksi tahap menengah, distribusi, penjualan, penggunaan, pembuangan limbah dan guna ulang produk serta servisnya.

 

3. Mengambil peluang untuk negara berkembang

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs). Di Indonesia, konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menciptakan lapangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta pengelolaan sumber daya yang efisien dan mempertimbangkan kesejahteraan pekerjanya.

Mengapa kita perlu konsumsi dan produksi berkelanjutan?

Saat ini, kita mengkonsumsi dan mengeksploitasi sumber daya hingga melampaui kapasitas bumi. Sumber daya dikeruk terus menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang untuk generasi mendatang. Polusi dan sampah makin menumpuk, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin makin melebar. Kerugiannya juga dirasakan di sektor kesehatan dan pendidikan serta berdampak buruk pada kesetaraan dan pemberdayaan masyarakat.

Warga Jakarta yang memenuhi Pasar Tanah Abang. (Sumber: Indonesia Economic Forum)

Kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat jauh jaraknya. Masih ada 1,2 miliar orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di satu sisi yang kaya ingin lebih, dan yang miskin makin bahkan tidak sanggup memenuhi kebutuhan dasarnya. Selain itu, jangan lupakan bahwa manusia tinggal di bumi ini tidak sendiri. Kita berbagi tempat dengan hewan dan tumbuhan yang punya hak hidup sama seperti manusia.

 

Tahun 1820, diperkirakan terdapat 1,042 miliar manusia. Satu abad kemudian di tahun 1920, populasi manusia diperkirakan bertambah menjadi 1,86 miliar. 100 tahun kemudian di tahun 2020, umat manusia membludak menjadi tujuh kali lipatnya, yaitu 7,7 miliar. Angka ini mungkin tidak terlihat signifikan hingga kita pertimbangkan fakta bahwa semua orang butuh lahan tempat tinggal, air bersih dan makanan. Bumi yang lahannya makin sempit dan manusia yang makin banyak membuat pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan menjadi hal krusial.

 

Pola konsumsi dan produksi yang umum diterapkan sekarang masih bermasalah karena kita hanya punya satu planet dengan sumber daya terbatas. Jika kita terus mengeksploitasinya dengan rakus seperti sekarang, suatu saat nanti bumi tidak akan bisa menyediakan kebutuhan kita.

Implementasi di kehidupan sehari-hari

Demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan pembangunan berkelanjutan, kita perlu mengurangi jejak karbon kita dengan mengubah pola konsumsi dan produksi kita. Saat ini, sektor pertanian menjadi konsumen air paling banyak, dan irigasi mengambil sekitar 70 persen penggunaan air bersih.

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan mendukung ekonomi melingkar. (Sumber: UNEP)

 

Pengelolaan sumber daya dan limbah merupakan target penting untuk mencapai tujuan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mendesak bisnis dan industri untuk mendaur ulang sampahnya dapat menjadi langkah yang besar untuk mewujudkan SDGs nomor 12 ini.

 

Konsumsi dan produksi berkelanjutan ialah awal mula transisi menuju ekonomi hijau yang menghasilkan ekonomi rendah karbon. Untuk mencapainya, konsumsi dan produksi berkelanjutan butuh membangun kerja sama multipihak dan lintas sektor di tiap negara.

 

Wah, kedengarannya agak tidak mungkin kita lakukan di rumah sendiri ya, Generasi Hijau? Faktanya, pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat kita terapkan dari skala paling kecil, yaitu di rumah tangga. Kamu juga bisa mengajak keluarga dan teman-teman untuk ikut menerapkannya.

 

Generasi Hijau dapat menerapkan gaya hidup minim sampah, mengompos, serta dengan memperpanjang usia pakai barang. Dalam penerapannya, kamu bisa memulai dengan berbelanja ke bulk store, memperbaiki barang yang rusak dibanding membeli baru, atau beli barang bekas yang masih bagus.

 

Sekarang, bayangkan jika semua itu dilakukan banyak orang. Semua dapat berdampak luas jika dilakukan secara kolektif. Seiring berjalannya waktu, produsen mungkin akan memertimbangkan untuk menjual produknya tanpa kemasan. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat dapat berkontribusi mewujudkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Referensi

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Ancaman yang Dihadapi Ekosistem Laut

Ancaman yang Dihadapi Ekosistem Laut

Menurut Generasi Hijau, apa sampah yang dominan mengotori ekosistem laut? Mikroplastik, kantong, botol atau sedotan plastik?

 

Sepertinya tebakanmu keliru. Sampah jala ikan mencapai angka 48% dari total sampah di laut. Berdasarkan laporan dari Greenpeace International, lebih dari 640.000 ton jala, jaring dan perangkap ikan yang digunakan di penangkapan ikan komersil dibuang begitu saja tiap tahunnya; setara dengan berat 55.000 bus tingkat.

 

Jala yang berhasil diambil Ocean Voyages Institute. (Sumber: Jackson McMuldren/Ocean Voyages Institute)

 

Tahun 2020, Ocean Voyages Institute melakukan aksi pembersihan laut di Great Pacific Garbage Patch yang berada di lepas pantai California dan Hawaii. Ekspedisi ini memakan waktu 48 hari, dengan operasi pembersihan laut yang berhasil mengumpulkan 103 ton sampah plastik dan jala ikan.

 

 

Kerangka penyu yang terlilit di jala. (Sumber: Jackson McMuldren/Ocean Voyages Institute _

 

Dilansir dari National Geographic Indonesia, kebanyakan yang mereka kumpulkan adalah sampah plastik dan konsumen, juga peralatan penangkapan ikan yang dibuang sembarangan oleh para nelayan ke lautan. Yang lebih menyedihkan, sampah-sampah tersebut sudah merenggut nyawa beberapa korban: ditemukan sejumlah kerangka penyu yang tewas terjerat jala, serta beberapa sisa terumbu karang dari ekosistem laut.

Selain sampah jala, hal lain yang perlu kita khawatirkan ialah bagaimana ekosistem laut perlahan-lahan mulai terkikis, sama seperti hutan di darat yang tiap tahunnya mengalami deforestasi jutaan hektar.

Bagaimana pilihan makanan kita berkontribusi mendukung kerusakan ekosistem laut

Seaspiracy

Belum lama ini, Netflix merilis film dokumenter berjudul Seaspiracy yang mengupas industri perikanan komersial dengan pergerakan bawah tanah yang masif, walaupun sudah ada regulasi terkait penangkapan ikan. Seaspiracy menyoroti dampak buruk yang dihasilkan manusia pada ekosistem laut dari konsumsi makanan laut yang menopang industri perikanan.

 

Atas film Cowspiracy yang juga diproduksi tim yang sama dengan Seaspiracy, sudah rahasia umum bahwa industri peternakan dan agraria, selain eksploitatif, turut menyumbang banyak jejak karbon ke udara. Mungkin beberapa dari orang terdekat atau Generasi Hijau sendiri sudah mengubah gaya hidup menjadi vegetarian atau vegan untuk tidak berkontribusi dalam eksploitasi hewan. Namun, siapa sangka ternyata industri perikanan jauh lebih eksploitatif dibanding keduanya; hanya saja karena ekosistem laut dirasa jauh dari penglihatan, dampak buruk industri perikanan tidak mendapat sorotan yang sama seperti peternakan.

Sirip hiu kepala martil. (Sumber: Jeff Rotman/jeffrotman.com)

 

Sirip hiu di Tiongkok dan Hong Kong masih umum dibuat sup atau dikeringkan karena dipercaya memiliki banyak manfaat sebagai obat. Padahal, tidak ada penelitian yang membuktikan manfaat sirip hiu untuk mengobati penyakit. Sup sirip hiu dulu digunakan sebagai simbol status tinggi di budaya Tiongkok. Pada zaman kekaisaran Tiongkok, sup sirip hiu disajikan pada tamu sebagai representasi kemenangan telah mengalahkan hiu yang kuat. Ironisnya, kini hiu sudah tidak berdaya di hadapan manusia.

 

Selain sirip hiu, Seaspiracy menunjukkan bahwa industri ikan laut secara keseluruhan memang sudah rusak. Menurut Peter Hammarstedt di Seaspiracy, 300.000 lumba-lumba dan paus terbunuh tiap tahunnya sebagai bycatch. Bycatch ialah ketika penangkapan ikan komersial turut menangkap ikan atau hewan laut lain yang tidak diinginkan. Tidak heran banyak ikan yang turut tertangkap, karena industri perikanan komersil menggunakan jala raksasa atau pukat harimau. Sebagai gambaran, 45 lumba-lumba terbunuh untuk 8 ikan tuna atas konsekuensi penggunaan pukat harimau.

 

Penggunaan pukat harimau tidak hanya mengancam kelangkaan hiu, lumba-lumba dan paus, namun juga mengancam hidup terumbu karang serta biota lainnya di dasar laut.  Pukat harimau yang dioperasikan di dasar laut dapat merusak terumbu karang, menimbulkan kekeruhan di dasar perairan, dan menangkap ikan atau hewan bukan target (bycatch). Hasilnya kita hanya punya gurun tandus di dasar laut. Sama saja seperti kita mendeforestasi ekosistem laut, namun efeknya lebih masif lagi karena 50-80% oksigen di bumi dihasilkan dari tumbuhan laut dan fitoplankton; bukan dari hutan hujan di darat.

 

Dikutip dari UNDP, lebih dari tiga miliar orang bergantung pada keanekaragaman biota dan ekosistem laut. Namun begitu, hari ini 30% ikan laut di dunia dieksploitasi berlebihan, hingga persediaan ikan laut sudah mencapai angka di bawah level di mana ikan dapat diternakkan atau dipancing secara berkelanjutan.

 

Hasil tangkapan nelayan kecil di Pulau Buru, Maluku, berupa ikan tuna. Nelayan di Pulau Buru pada umumnya merupakan nelayan kecil yang hanya bergantung pada hasil melaut saja. (Sumber: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia)

 

Di Indonesia sendiri, penggunaan pukat harimau telah banyak diprotes nelayan di sepanjang pantai negeri ini. Tahun 2020 lalu nelayan Tiongkok tertangkap basah menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan di wilayah perairan Natuna. Sementara di Medan, Sumatera Utara, nelayan tradisional kerap dicurangi oleh nelayan modern atau pengusaha cantrang yang menggunakan pukat harimau dan sejenisnya dalam mencari ikan. 

 

Bersaing dengan kapal ikan asing dan nelayan modern, nelayan tradisional Indonesia melaut dengan kekhawatiran perahu mereka akan ditabrak kapal besar. Ikan hasil tangkapan pun jauh berkurang sejak banyak kapal besar yang menggunakan pukat. Tanggal 21 Mei mendatang kita akan memperingati Hari Nelayan Nasional. Momen yang tepat untuk berupaya menyejahterakan nelayan tradisional serta mendukung produksi laut berkelanjutan.

Ancaman terbesar kerusakan ekosistem laut

Ekosistem laut kita tidak pernah lebih terancam selama puluhan dekade dibanding saat ini. Tantangan besar dari overfishing, krisis iklim, polusi dan kehilangan habitat ekosistem laut sudah membahayakan stok ikan, biota laut, serta nyawa jutaan manusia yang bergantung padanya.

 

Terumbu karang di lepas pantai Aceh Besar, provinsi Aceh, Indonesia. Terumbu karang yang bertahan dari tsunami Aceh 2004 ini kondisinya memprihatinkan karena kenaikan temperatur air di Laut Andaman. (Sumber: Heri Juanda/AP Photo)

 

Namun ada masalah lain yang tidak banyak dibicarakan: apatis. Dibanding masalah lain yang tadi disebutkan, ketidakpedulian kita menjadi alasan utama industri perusak ini masih berjalan. Dari fakta-fakta yang dibeberkan dalam Seaspiracy, sebagian besar jarang mendapat sorotan di media. Sama seperti kita awalnya mengira sampah laut paling banyak ialah kantong plastik padahal jala ikan lebih mendominasi.

 

Kurangnya sorotan media menjadi bukti bahwa ketidakpedulian ini didukung karena kurangnya akses informasi.

Terdapat fokus untuk mengkonservasi ekosistem laut dalam Sustainable Development Goals – 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan; tepatnya pada nomor 14 tentang memproteksi dan memulihkan ekosistem laut (life below water). Sayangnya, laut bukan menjadi prioritas sorotan untuk menyelamatkan manusia dan alam.

Terumbu karang yang sehat beserta beberapa ikan berenang di sekitarnya, di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. (Sumber: Aji Styawan/ANTARA Foto)

 

Mengutip dari Sustainable Brands, survei terbaru dari 3.500 pemimpin negara di belahan bumi selatan menunjukkan SDGs nomor 14 hampir secara umum dianggap paling tidak penting dari semua tujuan; hanya 5% dari partisipan survei yang memasukkan SDGs nomor 14 ke enam tujuan prioritas. Pada akhirnya, ancaman terbesar ekosistem laut kita bukan hanya dari overfishing atau krisis iklim, Great Pacific Garbage Patch atau debit air laut meningkat, hilangnya habitat atau industri perikanan ilegal. Akar masalahnya ada di ketidakpedulian kita.

 

Setelah membaca ini, bukan berarti Generasi Hijau menganggap hidup minim sampah tidak berarti, ya! Tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Referensi

Andersen, K. (Director). (2021). Seaspiracy [Motion Picture].

Fairclough, C. (2-13, August). Shark Finning: Sharks Turned Prey. Retrieved from Ocean: Find Your Blue: https://ocean.si.edu/ocean-life/sharks-rays/shark-finning-sharks-turned-preyen

Figueiras, S. (2021, March 25). Netflix Seaspiracy Review: If You Can Still Eat Fish After Watching This Film, We’re Not Made The Same. Retrieved from Green Queen: https://www.greenqueen.com.hk/netflix-seaspiracy-review-if-you-can-still-eat-fish-after-watching-this-film-were-not-made-the-same/

Holme, C. (2018, November 18). The Biggest Threat to Life Below Water? Apathy . Retrieved from Sustainable Brand: https://sustainablebrands.com/read/colla bor ation-cocreation/the-biggest-threat-to-life-below-water-apathy

Ilham, M. (2021, March 25). Kisah Agusri Nelayan Tradisional Asal Natuna Bersaing dengan Kapal Ikan Asing di Laut. Retrieved from Tribunnews Batam: https://batam.tribunnews.com/2021/03/25/ kisah-agusri-nelayan-tradisional-asal-natuna-bersaing-dengan-kapal-ikan-asing-di-laut?page=3

Laville, S. (2019, November 9). Dumped fishing gear is biggest plastic polluter in ocean, finds report. Retrieved from The Guardian: https://batam.tribunnews.com/2021/03/25/ kisah-agusri-nelayan-tradisional-asal-natuna-bersaing-dengan-kapal-ikan-asing-di-laut?page=3

UNDP. (n.d.). Goal 14: Life Below Water. Retrieved from UNDP: Sustainable Development Goals: https://www.undp.org/content/undp/en/ home/sustainable-development-goals/goal-14-life-below-water.html

Widyaningrum, G. L. (2020, July 7). Aksi Pembersihan Laut Terbesar Berhasil Kumpulkan 100 Ton Sampah Plastik . Retrieved from NationalGeographic: https://nationalgeographic.grid.id/read/ 132231434/aksi-pembersihan-laut-terbesar-berhasil-kumpulkan-100-ton-sampah-plastik?page=all

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest