Versi English

Versi English

karya Chiara Thidy E. Siregar 

siswi kelas VD SD Swasta Katolik Asisi Medan

Juara 1 Lomba Menulis Cerita Anak

“Lihat….” bisik Dwi di telingaku, “Si bocah sampah datang lagi mengambil tumpukan kulit kentang di depan rumahmu.”

“Sudahlah….” ucapku, “Jangan selalu mengolok-oloknya. Bukankah dia tak pernah mengganggu kita.”

Sayangnya, belum lagi tuntas ucapanku, Dwi, Thomas, dan Naga sudah berlarian ke depan rumahku. Tampaknya tak ada yang mengingat bahwa kami berkumpul sore ini untuk mengerjakan tugas IPA yang harus dikumpulkan keesokan hari. 

“Bocah sampah!” seru Thomas pongah, “Untuk apa kau mengumpulkan kulit kentang itu? Jangan-jangan untuk dimakan ya?”

“Ihhhhh….” sela Naga dengan mimik wajah jijik, “Memangnya ada yang mau makan kulit kentang?”

“Pasti ada,” senyum Dwi mengembang lebar, “Siapa lagi kalau bukan si bocah sampah. Hahaha….”

“Sudahlah. Jangan diteruskan lagi,” ujarku. Aku sungguh tak tega melihat ketiga sahabatku tiada hentinya mengolok-olok bocah lugu berwajah memelas itu.

“Rendy…” sebuah suara bernada tegas dari dalam rumah tiba-tiba mengejutkan kami semua, “Ajak teman-temanmu masuk! Mereka datang untuk mengerjakan tugas ‘kan?”

Kami semua langsung terdiam. Semua sahabatku sangat mengenal sifat ayahku. Beliau bisa bersikap ramah dan pemurah jika mereka datang untuk mengerjakan tugas atau kegiatan lain yang berhubungan dengan kepentingan sekolah. Namun, beliau juga tak jarang marah bila sahabat-sahabatku berdatangan hanya untuk bermain-main atau melakukan hal-hal tak bermanfaat.

“Ayah tidak suka kalian mengolok-olok anak itu,” tegur ayah tajam setelah Dwi, Thomas, dan Naga berpamitan.

“Bukan Rendy, ayah!” sahutku lemah, “Rendy tak pernah mengolok-oloknya.”

“Ayah percaya padamu,” suara ayah tak lagi terdengar tajam, “Andai saja kalian mengenalnya dan mengetahui kegigihannya, pasti kalian akan mengaguminya.”

“Rendy ingin bisa mengenalnya, ayah!” ucapku yakin, “Siapa namanya? Di mana ia tinggal?”

“Namanya Bayu,” jawab ayah, “Ia tinggal di dekat rel kereta api. Jika Rendy ingin mengenalnya, datanglah ke sana. Tidak sulit menemukan rumahnya. Carilah rumah berdinding bata merah dan berpagar kayu bercat kuning.”

Keesokan sore, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Bayu. Ucapan ayah tentangnya sungguh membuatku merasa penasaran.
“Seperti apa kegigihan yang dimaksud ayah,” tanyaku dalam hati.

Benar ucapan ayah. Tak sulit menemukan rumah Bayu. Belum lagi aku sempat mengucapkan salam, sosoknya sudah muncul dengan senyum terpancar hangat.

“Kamu pasti Rendy,” sapanya ramah sembari mengulurkan tangan, “Ayahmu sudah bercerita kalau kamu akan datang berkunjung. Tapi, maafkan aku ya! Seperti inilah keadaan di rumahku. Panas dan tidak nyaman.”

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya, “Aku datang sekaligus untuk meminta maaf atas ejekan teman-temanku kemarin. Maukah kamu memaafkan mereka?”

“Sudahlah. Lupakan saja,” ucapnya ringan, “Mari masuk! Kami sedang menggoreng keripik kulit kentang. Kamu mau mencicipinya?”

“Keripik kulit kentang?” batinku keheranan.

“Kamu pasti terkejut mendengarnya,” celotehnya seolah dapat membaca pikiranku, ”Ayahmu selalu mengizinkanku mengambil kulit kentang yang tersisa dari usaha pembuatan keripik kentang milik kalian. Dari kulit kentang itu, kami membuat keripik gurih untuk dijual ke warung-warung sekitar. Hasilnya memang tidak banyak. Tapi, cukuplah untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku.”

Dengan penuh minat, aku mendengarkan penjelasan Bayu. Ternyata, kulit kentang yang dikumpulkannya terlebih dahulu harus dicuci dengan air mengalir berulang kali hingga bersih, barulah kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Kulit kentang lantas digoreng dalam minyak banyak di atas nyala api sedang agar kering dan renyah. Untuk memberi rasa gurih, Bayu menambahkan bubuk penyedap juga taburan bawang goreng.

”Renyah…. Gurih sekali….” pujiku setelah mencicipi keripik kulit kentang buatan Bayu.

”Aku senang kamu menyukainya,” senyum Bayu mengembang tulus.

Di ruangan depan, aku melihat dua orang bocah perempuan sebaya adikku sedang sibuk menjalin plastik-plastik bekas kemasan deterjen menjadi tas dan dompet. Pekerjaan mereka sangat teliti, sehingga menghasilkan kerajinan yang unik juga indah. Aku yakin, ibu pasti akan menyukai tas dan dompet buatan mereka.

”Mereka adik-adikku,” bisik Bayu, ”Seperti inilah pekerjaan kami setiap hari. Mengolah benda-benda yang tersisa dan sering dianggap sampah. Selain memperoleh uang untuk menyambung hidup, kami juga bangga karena bisa mengurangi tumpukan sampah yang mencemari bumi.”

”Di mana ayah dan ibumu?” tanyaku penasaran.

”Mereka meninggal karena kecelakaan hampir dua tahun lalu,” lirih Bayu dengan mata berkaca-kaca.

Aku terdiam mendengar ucapan Bayu. Bocah-bocah seperti Bayu dan adik-adiknya seharusnya belum pantas memikirkan apa pun selain bermain dan belajar. Namun, mereka telah sanggup menunjukkan keuletan luar biasa di tengah kerasnya kehidupan. Diam-diam aku merasa malu pada diriku sendiri yang selalu hanya bisa menuntut atau merengek pada kedua orangtuaku.

”Boleh aku datang lagi besok?” tanyaku.

”Tentu saja,” sahut Bayu dengan sorot mata berbinar, ”Aku akan sangat senang bila bisa bersahabat denganmu. Tapi, apakah kamu tidak malu bersahabat dengan si bocah sampah?”

”Tentu saja tidak!” sergahku, ”Aku akan menceritakan kepada semua sahabatku tentang apa yang kulihat hari ini. Aku yakin, mereka juga pasti akan ingin menjadi sahabatmu.”

”Terima kasih,” ucap Bayu terbata-bata.

Mendadak aku teringat pada Dwi. Ayahnya adalah pengusaha keripik pisang dan aku sering melihat onggokan kulit pisang di depan rumahnya. Besok, aku akan mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kulit pisang itu. Aku pun ingin seperti mereka. Aku ingin berbuat sesuatu guna menunjukkan rasa cinta kepada bumiku.