Ancaman yang Dihadapi Ekosistem Laut

Menurut Generasi Hijau, apa sampah yang dominan mengotori ekosistem laut? Mikroplastik, kantong, botol atau sedotan plastik?

 

Sepertinya tebakanmu keliru. Sampah jala ikan mencapai angka 48% dari total sampah di laut. Berdasarkan laporan dari Greenpeace International, lebih dari 640.000 ton jala, jaring dan perangkap ikan yang digunakan di penangkapan ikan komersil dibuang begitu saja tiap tahunnya; setara dengan berat 55.000 bus tingkat.

 

Jala yang berhasil diambil Ocean Voyages Institute. (Sumber: Jackson McMuldren/Ocean Voyages Institute)

 

Tahun 2020, Ocean Voyages Institute melakukan aksi pembersihan laut di Great Pacific Garbage Patch yang berada di lepas pantai California dan Hawaii. Ekspedisi ini memakan waktu 48 hari, dengan operasi pembersihan laut yang berhasil mengumpulkan 103 ton sampah plastik dan jala ikan.

 

 

Kerangka penyu yang terlilit di jala. (Sumber: Jackson McMuldren/Ocean Voyages Institute _

 

Dilansir dari National Geographic Indonesia, kebanyakan yang mereka kumpulkan adalah sampah plastik dan konsumen, juga peralatan penangkapan ikan yang dibuang sembarangan oleh para nelayan ke lautan. Yang lebih menyedihkan, sampah-sampah tersebut sudah merenggut nyawa beberapa korban: ditemukan sejumlah kerangka penyu yang tewas terjerat jala, serta beberapa sisa terumbu karang dari ekosistem laut.

Selain sampah jala, hal lain yang perlu kita khawatirkan ialah bagaimana ekosistem laut perlahan-lahan mulai terkikis, sama seperti hutan di darat yang tiap tahunnya mengalami deforestasi jutaan hektar.

Bagaimana pilihan makanan kita berkontribusi mendukung kerusakan ekosistem laut

Seaspiracy

Belum lama ini, Netflix merilis film dokumenter berjudul Seaspiracy yang mengupas industri perikanan komersial dengan pergerakan bawah tanah yang masif, walaupun sudah ada regulasi terkait penangkapan ikan. Seaspiracy menyoroti dampak buruk yang dihasilkan manusia pada ekosistem laut dari konsumsi makanan laut yang menopang industri perikanan.

 

Atas film Cowspiracy yang juga diproduksi tim yang sama dengan Seaspiracy, sudah rahasia umum bahwa industri peternakan dan agraria, selain eksploitatif, turut menyumbang banyak jejak karbon ke udara. Mungkin beberapa dari orang terdekat atau Generasi Hijau sendiri sudah mengubah gaya hidup menjadi vegetarian atau vegan untuk tidak berkontribusi dalam eksploitasi hewan. Namun, siapa sangka ternyata industri perikanan jauh lebih eksploitatif dibanding keduanya; hanya saja karena ekosistem laut dirasa jauh dari penglihatan, dampak buruk industri perikanan tidak mendapat sorotan yang sama seperti peternakan.

Sirip hiu kepala martil. (Sumber: Jeff Rotman/jeffrotman.com)

 

Sirip hiu di Tiongkok dan Hong Kong masih umum dibuat sup atau dikeringkan karena dipercaya memiliki banyak manfaat sebagai obat. Padahal, tidak ada penelitian yang membuktikan manfaat sirip hiu untuk mengobati penyakit. Sup sirip hiu dulu digunakan sebagai simbol status tinggi di budaya Tiongkok. Pada zaman kekaisaran Tiongkok, sup sirip hiu disajikan pada tamu sebagai representasi kemenangan telah mengalahkan hiu yang kuat. Ironisnya, kini hiu sudah tidak berdaya di hadapan manusia.

 

Selain sirip hiu, Seaspiracy menunjukkan bahwa industri ikan laut secara keseluruhan memang sudah rusak. Menurut Peter Hammarstedt di Seaspiracy, 300.000 lumba-lumba dan paus terbunuh tiap tahunnya sebagai bycatch. Bycatch ialah ketika penangkapan ikan komersial turut menangkap ikan atau hewan laut lain yang tidak diinginkan. Tidak heran banyak ikan yang turut tertangkap, karena industri perikanan komersil menggunakan jala raksasa atau pukat harimau. Sebagai gambaran, 45 lumba-lumba terbunuh untuk 8 ikan tuna atas konsekuensi penggunaan pukat harimau.

 

Penggunaan pukat harimau tidak hanya mengancam kelangkaan hiu, lumba-lumba dan paus, namun juga mengancam hidup terumbu karang serta biota lainnya di dasar laut.  Pukat harimau yang dioperasikan di dasar laut dapat merusak terumbu karang, menimbulkan kekeruhan di dasar perairan, dan menangkap ikan atau hewan bukan target (bycatch). Hasilnya kita hanya punya gurun tandus di dasar laut. Sama saja seperti kita mendeforestasi ekosistem laut, namun efeknya lebih masif lagi karena 50-80% oksigen di bumi dihasilkan dari tumbuhan laut dan fitoplankton; bukan dari hutan hujan di darat.

 

Dikutip dari UNDP, lebih dari tiga miliar orang bergantung pada keanekaragaman biota dan ekosistem laut. Namun begitu, hari ini 30% ikan laut di dunia dieksploitasi berlebihan, hingga persediaan ikan laut sudah mencapai angka di bawah level di mana ikan dapat diternakkan atau dipancing secara berkelanjutan.

 

Hasil tangkapan nelayan kecil di Pulau Buru, Maluku, berupa ikan tuna. Nelayan di Pulau Buru pada umumnya merupakan nelayan kecil yang hanya bergantung pada hasil melaut saja. (Sumber: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia)

 

Di Indonesia sendiri, penggunaan pukat harimau telah banyak diprotes nelayan di sepanjang pantai negeri ini. Tahun 2020 lalu nelayan Tiongkok tertangkap basah menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan di wilayah perairan Natuna. Sementara di Medan, Sumatera Utara, nelayan tradisional kerap dicurangi oleh nelayan modern atau pengusaha cantrang yang menggunakan pukat harimau dan sejenisnya dalam mencari ikan. 

 

Bersaing dengan kapal ikan asing dan nelayan modern, nelayan tradisional Indonesia melaut dengan kekhawatiran perahu mereka akan ditabrak kapal besar. Ikan hasil tangkapan pun jauh berkurang sejak banyak kapal besar yang menggunakan pukat. Tanggal 21 Mei mendatang kita akan memperingati Hari Nelayan Nasional. Momen yang tepat untuk berupaya menyejahterakan nelayan tradisional serta mendukung produksi laut berkelanjutan.

Ancaman terbesar kerusakan ekosistem laut

Ekosistem laut kita tidak pernah lebih terancam selama puluhan dekade dibanding saat ini. Tantangan besar dari overfishing, krisis iklim, polusi dan kehilangan habitat ekosistem laut sudah membahayakan stok ikan, biota laut, serta nyawa jutaan manusia yang bergantung padanya.

 

Terumbu karang di lepas pantai Aceh Besar, provinsi Aceh, Indonesia. Terumbu karang yang bertahan dari tsunami Aceh 2004 ini kondisinya memprihatinkan karena kenaikan temperatur air di Laut Andaman. (Sumber: Heri Juanda/AP Photo)

 

Namun ada masalah lain yang tidak banyak dibicarakan: apatis. Dibanding masalah lain yang tadi disebutkan, ketidakpedulian kita menjadi alasan utama industri perusak ini masih berjalan. Dari fakta-fakta yang dibeberkan dalam Seaspiracy, sebagian besar jarang mendapat sorotan di media. Sama seperti kita awalnya mengira sampah laut paling banyak ialah kantong plastik padahal jala ikan lebih mendominasi.

 

Kurangnya sorotan media menjadi bukti bahwa ketidakpedulian ini didukung karena kurangnya akses informasi.

Terdapat fokus untuk mengkonservasi ekosistem laut dalam Sustainable Development Goals – 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan; tepatnya pada nomor 14 tentang memproteksi dan memulihkan ekosistem laut (life below water). Sayangnya, laut bukan menjadi prioritas sorotan untuk menyelamatkan manusia dan alam.

Terumbu karang yang sehat beserta beberapa ikan berenang di sekitarnya, di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. (Sumber: Aji Styawan/ANTARA Foto)

 

Mengutip dari Sustainable Brands, survei terbaru dari 3.500 pemimpin negara di belahan bumi selatan menunjukkan SDGs nomor 14 hampir secara umum dianggap paling tidak penting dari semua tujuan; hanya 5% dari partisipan survei yang memasukkan SDGs nomor 14 ke enam tujuan prioritas. Pada akhirnya, ancaman terbesar ekosistem laut kita bukan hanya dari overfishing atau krisis iklim, Great Pacific Garbage Patch atau debit air laut meningkat, hilangnya habitat atau industri perikanan ilegal. Akar masalahnya ada di ketidakpedulian kita.

 

Setelah membaca ini, bukan berarti Generasi Hijau menganggap hidup minim sampah tidak berarti, ya! Tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Referensi

Andersen, K. (Director). (2021). Seaspiracy [Motion Picture].

Fairclough, C. (2-13, August). Shark Finning: Sharks Turned Prey. Retrieved from Ocean: Find Your Blue: https://ocean.si.edu/ocean-life/sharks-rays/shark-finning-sharks-turned-preyen

Figueiras, S. (2021, March 25). Netflix Seaspiracy Review: If You Can Still Eat Fish After Watching This Film, We’re Not Made The Same. Retrieved from Green Queen: https://www.greenqueen.com.hk/netflix-seaspiracy-review-if-you-can-still-eat-fish-after-watching-this-film-were-not-made-the-same/

Holme, C. (2018, November 18). The Biggest Threat to Life Below Water? Apathy . Retrieved from Sustainable Brand: https://sustainablebrands.com/read/colla bor ation-cocreation/the-biggest-threat-to-life-below-water-apathy

Ilham, M. (2021, March 25). Kisah Agusri Nelayan Tradisional Asal Natuna Bersaing dengan Kapal Ikan Asing di Laut. Retrieved from Tribunnews Batam: https://batam.tribunnews.com/2021/03/25/ kisah-agusri-nelayan-tradisional-asal-natuna-bersaing-dengan-kapal-ikan-asing-di-laut?page=3

Laville, S. (2019, November 9). Dumped fishing gear is biggest plastic polluter in ocean, finds report. Retrieved from The Guardian: https://batam.tribunnews.com/2021/03/25/ kisah-agusri-nelayan-tradisional-asal-natuna-bersaing-dengan-kapal-ikan-asing-di-laut?page=3

UNDP. (n.d.). Goal 14: Life Below Water. Retrieved from UNDP: Sustainable Development Goals: https://www.undp.org/content/undp/en/ home/sustainable-development-goals/goal-14-life-below-water.html

Widyaningrum, G. L. (2020, July 7). Aksi Pembersihan Laut Terbesar Berhasil Kumpulkan 100 Ton Sampah Plastik . Retrieved from NationalGeographic: https://nationalgeographic.grid.id/read/ 132231434/aksi-pembersihan-laut-terbesar-berhasil-kumpulkan-100-ton-sampah-plastik?page=all

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan