Selama pemberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) selama pandemi, jumlah sampah yang ditimbun di TPST Bantargebang memang mengalami penurunan. Namun, ternyata dalam survei singkat yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, komposisi plastik meningkat menjadi 21% dari total sampah jika dibandingkan dengan komposisi plastik pada 2018 yang sebesar 18%. 

Kejadian ini menunjukan bahwa selama pandemi ini, kondisi persampahan menghadapi tantangan yang lebih sulit. Penggunaan barang sekali pakai atau penggunaan plastik sebagai kemasan saat belanja daring misalnya, menjadi salah satu penyebab semakin meningkatnya sampah yang bertumpuk. 

Selain itu, masalah persampahan di Indonesia juga menghadapi tantangan baru lainnya, seperti tercampurnya sampah masker bekas dengan limbah domestik di pembuangan sampah selama pandemi. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengolahan atau pemisahan di sumber. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan surat edaran (SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020) tentang pengelolaan limbah infeksius yang cenderung meningkat selama pandemi. Salah satu isi dari surat edaran tersebut adalah himbauan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga selama pandemi. 

Dalam surat edaran tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengelola sampahnya sesuai protokol seperti berikut: 

  1. Petugas kebersihan atau pengangkut sampah wajib dilengkapi dengan APD khususnya masker, sarung tangan, dan safety shoes.
  2. Untuk mengurangi timbulan sampah masker, masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker guna ulang yang dapat dicuci setiap hari
  3. Sampah masker sekali pakai diharuskan untuk dirobek, dipotong, digunting, dan dikemas serta ditandai sebelum dibuang ke tempat sampah untuk menghindari penyalahgunaan
  4. Pemerintah setempat diharapkan dapat menyediakan tempat sampah khusus untuk masker di ruang publik 

Selain cara-cara yang di atas, tentunya kita juga dapat berupaya mengurangi timbulan sampah selama pandemi ini dengan menerapkan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai serta mengolah sampah yang kita produksi dengan bijak. Contohnya, di era new normal ini, kita dapat menjalankan gaya hidup yang lebih berkelanjutan seperti membawa botol dan tempat makan pribadi, membawa tas belanja pribadi, memakai masker kain guna ulang, dsb. 

Kita juga dapat mengisi waktu kita #DiRumahAja dengan mengolah sampah yang kita produksi seperti membuat kerajinan daur ulang atau mengompos sampah organik. Dengan semangat bersama, kita dapat mengurangi dampak lingkungan serta memutus rantai penyebaran virus dengan hal yang sederhana seperti menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan serta konsisten menerapkan protokol kesehatan. 

Referensi:

Violetta, Prisca. (2020, Juni 18). DKI Jakarta Catat Komposisi Sampah Plastik Naik Saat PSBB. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/1561108/dki-jakarta-catat-komposisi-sampah-plastik-naik-saat-psbb