Selama beberapa ribu tahun, sungai telah menjadi bagian dari hidup manusia dan organisme lain. Sungai menjadi sumber air untuk minum, sarana irigasi serta menjadi tempat ikan dan biota air tawar lainnya bernaung. Banyak juga sungai yang dibangun sebagai area untuk perlindungan banjir. Selain itu, sungai-sungai dapat memiliki nilai budaya dan estetika.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya sungai dan lebih mudah memasukannya ke dalam perencanaan pembangunan adalah dengan menggunakan konsep jasa ekosistem (Ecosystem Service/ES). Konsep ini merujuk pada kesinambungan antara ekosistem dan kesejahteraan manusia (MEA, 2003). Dengan bahasa sederhana, jasa ekosistem adalah berbagai manfaat yang diberikan suatu ekosistem kepada manusia. Sementara jasa ekosistem sungai adalah ketersediaan manfaat sungai yang bisa diperoleh oleh manusia dan organisme lain.

Dengan memahami jasa ekosistem sungai, pemerintah juga dapat secara objektif merencanakan apa yang harus dilakukan terhadap sungai kita. Salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan yang kurang terencana di daerah sungai adalah kurangnya pemahaman terhadap jasa ekosistem yang dapat diberikan oleh sungai tersebut. Lebih lanjut, pemerintah dapat berkolaborasi dengan para ilmuwan dari dalam maupun luar pemerintahan untuk memvaluasi nilai-nilai sungai kita. Untuk memberikan penghargaan yang lebih terhadap suatu ekosistem, jasa ekosistem dapat diukur dengan satuan moneter (uang). Penelitian terbaru oleh Costanza dkk. (2014) mengestimasi bahwa nilai jasa ekosistem dari seluruh ekosistem yang ada di dunia bisa setara dengan US$ 125 triliun. Jika seluruh ekosistem di dunia saja bernilai sangat besar seperti itu, bagaimana dengan nilai-nilai sungai di Indonesia?