Tag Archives: tren konsumsi di indonesia

Tren Pola Konsumsi di Indonesia

Tren Pola Konsumsi di Indonesia

diproses oleh Aditya Mirzapahlevi dan Tsamara Luthfia

Ilustrasi: konsumen Indonesia. Sumber: Unsplash/Joshua Rawson-Harris
 

Apakah teman-teman pernah mendengar istilah konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (SCP)? SCP adalah salah satu tujuan utama dari SDG (Sustainable development goals), yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab yang bertujuan untuk membuat pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (SCP). Menurut UNEP (2011), SCP adalah “Pendekatan holistik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh sistem konsumsi dan produksi selagi mengembangkan kualitas hidup bagi semua orang” (Akenji dkk., 2015). Salah satu komponen penting dalam SCP adalah isu terkait konsumsi berkelanjutan.

Konsumsi berkelanjutan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, memiliki 2 aspek penting, yaitu kebutuhan untuk memperhatikan konsumsi yang kurang dan sekaligus peningkatan kelas konsumen yang memiliki tingkat konsumsi tinggi. Gaya hidup dan pola konsumsi jutaan konsumen di negara berkembang kini sudah menyerupai dengan konsumen di negara-negara maju. Hal ini khususnya terjadi pada kalangan elit muda dan berpendidikan. Dalam mengikuti pola konsumen di negara berkembang, pola konsumsi dari konsumen transisi ini akan menyebabkan rumah dan apartemen yang lebih besar yang dilengkapi dengan peralatan baru, mode transportasi baru juga peningkatan kepemilikan kendaraan pribadi, peningkatan penerbangan, diet baru, dan berbagai barang dan gaya hidup baru lainnya.

Panduan dalam transisi menuju pola konsumsi berkelanjutan dapat dilakukan melalui penerapan kebijakan dan kerangka yang menguntungkan produk dan jasa yang ramah secara lingkungan dan sosial. Hal ini dapat dicapai melalui labelling, subsidi, dan kampanye informasi. Namun, studi terkait tren pola konsumsi berkelanjutan di masyarakat Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Greeneration Foundation (GF) melakukan penelitian kecil terkait pola konsumsi masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Selanjutnya data ini diharapkan dapat digunakan oleh GF untuk melakukan edukasi dengan informasi yang lebih disukai, dibutuhkan, dan berdampak lebih besar kepada publik.

Tentang Studi Tren Pola Konsumsi di Indonesia

Studi ini dilakukan melalui survei pada tanggal 14-28 Februari pada tahun 2021. Form survei dibuat menggunakan Google Forms dan dibagikan melalui grup-grup WhatsApp dan Instagram Greeneration Foundation. Pada akhir studi didapatkan data sebanyak 120 orang. Survei berisi pertanyaan-pertanyaan menggunakan skala Likert dan isian bebas dengan target masyarakat perkotaan.

 

Dari data demografi, diketahui bahwa sebanyak 62% responden adalah perempuan dan berusia 19-25 tahun (45%) dan 26-35 tahun (38%). Lebih dari 50% dari responden tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan di bidang lingkungan dan 25% responden tidak pernah bergabung dengan organisasi lingkungan sama sekali. Domisili provinsi asal responden masih didominasi responden dari Pulau Jawa sebanyak hampir 60% (sepertiganya bahkan berasal dari Jawa Barat). Sebanyak 60% memiliki pendidikan S1 dan 20% diantaranya memiliki pendidikan setingkat SMA.

 

Survei terkait isu pola konsumsi masyarakat ini ditanyakan menggunakan skala Likert untuk menanyakan seberapa setuju responden terhadap suatu pernyataan. Pernyataan-pernyataan dalam survei ini dapat dikelompokan menjadi ke tiga macam kategori, yaitu pengetahuan, intensi, dan perilaku konsumsi yang bisa dilihat lebih detail pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengelompokan pernyataan-pernyataan di survei terkait konsumsi

Hasil Survei

Hasil dari survei disajikan dalam Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan skor rata-rata bagaimana pengetahuan dan pola perilaku konsumsi responden dari 14 pernyataan yang diajukan. Angka 1 berarti sangat tidak setuju dan angka 7 berarti sangat setuju dengan pernyataan yang diberikan. Secara umum, untuk pernyataan positif rata-rata responden agak setuju terhadap pernyataan yang disebutkan dan untuk pernyataan negatif, rata-rata responden agak tidak setuju terhadap pernyataan yang disebutkan. Berarti secara umum, pengetahuan, intensi, dan perilaku responden mengarah ke pola perilaku yang lebih sadar terhadap dampak yang dihasilkan dari pola konsumsi yang berlebihan dan tidak ramah lingkungan.

 

Namun ada beberapa temuan menarik dari hasil survei ini, seperti terkait pernyataan dengan konteks pengetahuan. Rata-rata responden memiliki kesadaran dan pengetahuan yang sangat baik terkait isu lingkungan. Responden tahu mana hal-hal yang memang berbahaya dan memiliki pengetahuan dasar terkait isu lingkungan yang baik. Hal ini terlihat dari nilai pernyataan “sampah sayuran bisa diolah menjadi kompos” dan “global warming adalah ancaman serius bagi umat manusia” yang mendapatkan nilai 6 yang berarti setuju terhadap pernyataan tersebut yang nilainya lebih besar dibandingkan pernyataan lain dan ketidaksetujuan terhadap pernyataan “kekhawatiran lingkungan terlalu dilebih-lebihkan”.

 

Poin menarik lainnya adalah secara intensi dan perilaku pola konsumsi, skor rata-rata dari responden adalah 5 yang berarti agak setuju. Skor rata-rata ini menunjukan tren pola konsumsi responden yang ramah lingkungan. Walaupun, hal ini juga dapat menunjukkan bahwa ada sedikit jarak antara pengetahuan dan intensi dengan perilaku yang dilakukan oleh responden. Namun begitu, bukan berarti ini adalah hal yang buruk karena tahu dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Jarak inilah yang harus diisi oleh aktivis, komunitas, dan NGO lingkungan untuk mengedukasi dan memberikan informasi kepada masyarakat agar, selain memiliki pengetahuan tentang lingkungan yang meningkat, masyarakat juga memiliki pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan.

Gambar 1. Hasil Survei Tren Pola Konsumsi di Indonesia

Motivasi Gaya Hidup Berkelanjutan

Untuk semakin mendekatkan jarak antara pengetahuan dan perilaku, studi ini juga menanyakan pada responden faktor-faktor apa saja yang mendorong dapat mendorong orang-orang untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan di kehidupan sehari-hari. Ada 3 jawaban kunci yang diberikan oleh responden, yaitu:

 

       1. Pentingnya pengetahuan dan kesadaran terhadap pola konsumsi di era digital. Informasi dan kesadaran bahwa setiap harinya kita menghasilkan sampah, bahkan sekecil mengkonsumsi kopi sachet atau beli jajanan dan pentingnya kesadaran tentang sesedikit apapun hal yang kita lakukan, hal itu akan berdampak besar jika semua orang melakukannya. Menerapkan gaya hidup minimalis dan menerapkan gaya hidup 3R adalah contoh-contoh yang bisa dilakukan.

       2. Shock therapy dengan memperlihatkan dampak langsung, seperti melihat kejadian seperti kuda laut yang membawa cotton bud atau sedotan yang menyangkut pada kura-kura, untuk membangkitkan kepedulian.

       3. Pengetahuan, kesadaran, dan musibah langsung pada akhirnya harus diikuti dengan kekuatan ekonomi dan sosial yang baik. Banyak hal-hal berkelanjutan yang bisa dilakukan terhalang karena masalah ekonomi, misalnya memilih produk organik dan bersertifikasi adalah kemewahan yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Selain ekonomi, sosial yang baik juga sama pentingnya. Pola konsumsi yang bertanggung jawab harus menjadi norma di masyarakat, sehingga orang yang berbeda adalah bukan orang yang memilah sampah, tetapi adalah orang yang tidak memilah sampah.

Peran Multipihak dalam Gaya Hidup Berkelanjutan

Fakta menarik lainnya adalah sebanyak 75% responden setuju bahwa semua pihak, termasuk pemerintah, produsen, distributor, dan konsumen ikut bertanggung jawab untuk menerapkan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Berdasarkan jawaban dari responden, ada lima hal penting yang harus dilakukan oleh produsen atau perusahaan untuk mencapai pola produksi berkelanjutan, yaitu:

 

          1. Produsen harus bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan dengan cara minimal mengikut kaidah-kaidah yang disarankan oleh sertifikasi lingkungan (ecolabelling). Penerapan prinsip tentang zero waste menjadi hal penting untuk diterapkan dalam segala aspek produksi dan distribusi;

          2. Mendesain ulang produk dan kemasan agar memakai bahan baku dan desain yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Kemasan yang baru harus dapat diperbarui dan dimanfaatkan lebih lanjut. Minimal kemasan harus dapat didaur ulang secara mandiri oleh konsumen atau oleh perusahaan;

          3. Efisiensi dan optimalisasi sumber daya harus terus ditingkatkan agar jumlah produksi barang yang sama dapat dihasilkan melalui sumber daya yang lebih sedikit;

          4. Pengelolaan limbah agar tidak mencemari lingkungan, jika memungkinkan limbah produksi ini bisa dijual dan digunakan kembali untuk industri lain seperti dalam prinsip ekonomi sirkular dan ekologi industri;

          5. Mengikutsertakan komunitas, NGO, dan ahli di bidang lingkungan dalam pengambilan keputusan perusahaan yang berdampak pada lingkungan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, penerapan pola konsumsi dan produksi di Indonesia adalah tanggung jawab bersama. Pola konsumsi yang bertanggung jawab tidak akan memberikan efek apa-apa tanpa produsen yang menerapkan pola produksi dan distribusi yang bertanggung jawab pula. Namun begitu, dengan menerapkan pola konsumsi yang bertanggung jawab, kita sebagai konsumen dapat menekan produsen dan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, penghasil plastik dan limbah industri lainnya untuk bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi dan berusaha untuk meminimalisir dampak tersebut sekecil mungkin.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan