Monthly Archives: March 2021

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

 

31 Oktober 2020, PBB meluncurkan data persebaran populasi urban di seluruh dunia untuk memperingati Hari Kota. Penelitian ini dilakukan di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin. Hasilnya, penduduk kota di Asia kini mencapai 51.1%, meningkat drastis dibanding tahun 1950 di mana hanya 17.5% dari total populasi yang tinggal di kota. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan 56.2% populasi dunia kini tinggal di daerah perkotaan. 

Mengingat hampir seluruh bahan pangan dan sumber daya berasal dari pedesaan, temuan tadi menimbulkan pertanyaan, bagaimana sistem perkotaan dapat menghidupi tiap warganya dengan berkelanjutan? Hal tersebut mungkin dilakukan dengan menerapkan konsep kota berkelanjutan.

Apa Itu Kota Berkelanjutan?

Secara konseptual, kota berkelanjutan mengacu pada usaha berjalannya perekonomian dan kegiatan sosial dengan meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan. Jadi, generasi selanjutnya masih dapat tetap merasakan kota ramah lingkungan dengan kondisi yang sama. Inspirasi dan inovasi dalam membangun kota adalah meniru kerja alam, karena alam sendiri bersifat berkelanjutan.

 

Songdo, Korea Selatan. Tiap gedungnya sudah terkomputerisasi dan memiliki kontrol cuaca otomatis. (Sumber: Panya K/Shutterstock)

Menurut Koordinator Kemitraan Kota Hijau Nirwono Joga, kota berkelanjutan mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas penyediaan air bersih, pengolahan air limbah dan pengelolaan sampah ramah lingkungan, aksesibilitas dan mobilitas yang didukung transportasi berkelanjutan, pemanfaatan energi baru terbarukan, persyaratan bangunan gedung hijau, dan ruang terbuka hijau yang memadai.

Menurut BBC, berikut pilar utama kota berkelanjutan:

            1. Semua penduduk kota dapat layanan dan akses yang setara.

            2. Transportasi publik dinilai aman dan merupakan alternatif yang baik dari kendaraan pribadi.

            3. Aman bersepeda dan berjalan kaki.

            4. Warga dapat mengakses dan menikmati RTH..

            5. Penggunaan energi baru dan terbarukan lebih masif.

            7. Sampah dinilai sebagai sumber daya dan didaur ulang sedapat mungkin.

            8. Akses perumahan lebih terjangkau.

            9. Hubungan antarkomunitas lebih kuat dan warga saling bantu untuk mengentaskan kriminalitas.

            10. Fasilitas publik dapat diakses tiap kalangan.

            11. Penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan.

 

Konsep Kota Berkelanjutan di Berbagai Negara

Tahun 2019 pasca kemenangannya, Presiden Joko Widodo mencanangkan perpindahan ibukota Indonesia dari Jakarta ke dua kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara. Atas alasan konversi lahan dan penduduk pulau Jawa yang terlalu padat, Kalimantan dipilih sebagai rencana pembangunan ibukota baru.

 

Deputi II bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut Alu Dohong menyebutkan agar perpindahan ini menganut konsep “green and smart city”, seperti dilansir ANTARAKonsep ini mengombinasikan antara kota pemerintahan berbasis keberlanjutan dan teknologi serta memperhatikan efisiensi. Jadi, bukan berarti semua tanaman akan dibabat habis dan dibangun lahan baru. Namun sebagian tanaman dipertahankan dan dipelihara selagi menjalankan konsep kota berkelanjutan.

 

Menerapkan konsep kota berkelanjutan pasti akan jadi hal baru untuk Indonesia, tetapi bukan berarti tidak dapat dicapai. Untuk mewujudkannya, kita dapat mencontoh beberapa kota berikut. Berikut beberapa kota di dunia yang telah menerapkan prinsip kota berkelanjutan.

Kopenhagen, Denmark

Kopenhagen menargetkan untuk jadi ibukota pertama di dunia yang bebas emisi karbon pada tahun 2025. Kini, hasil upayanya mulai terlihat. Kurang dari 2% sampah di kota berakhir di TPA. Sebagian besar sisanya didaur ulang atau dikonversi menjadi energi di Copenhill (Amager Resource Center – Pusat Sumber Daya Amager). Copenhill ialah pembangkit listrik tenaga sampah yang sekaligus berperan sebagai fasilitas olah raga warga Kopenhagen. 

 

Copenhill, pembangkit listrik tenaga sampah di tengah kota Denmark. (Sumber: Visit Denmark)

 

 Bus sebagai transportasi publik seluruhnya sudah beralih ke tenaga listrik dari bahan bakar diesel. Jalanan didominasi oleh sepeda, bahkan anggota parlemen juga bersepeda ke kantor. Kalau kamu memilih jalur air, kamu bisa menyewa perahu listrik untuk menyusuri kanal. Kalau tertarik berenang di kanal, air di Kopenhagen bersih sekali untuk berenang.

 

Meski memiliki sistem tata kelola sampah yang sangat baik, gerakan minim sampah juga berkembang. Amass, restoran di Kopenhagen dinilai sebagai restoran paling ramah lingkungan di dunia. Bahan yang disajikan di Amass berasal dari kebun sendiri, bahkan membuat bir sendiri. Sisa dapur diolah menjadi makanan lagi atau dikompos.

Vancouver, Kanada

Alam dan perkotaan sudah jadi entitas yang menyatu di Vancouver. Dikelilingi Gunung Cypress, Grouse dan Seymour, Vancouver jadi daya tarik bagi pecinta alam. Kota ini juga menghasilkan emisi karbon paling minim dari semua kota di Amerika Utara.

 

Vancouver Convention Center – satu-satunya convention center di dunia yang mendapat sertifikasi platinum dalam aspek keberlanjutan. (Sumber: Vancouver Economic Comission)

50 persen warga di Vancouver berjalan kaki, bersepeda atau naik transportasi umum. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah pohon sebanyak 125.000 pohon sudah ditanam sejak 2010, dan masih akan terus bertambah. Vancouver menargetkan untuk sepenuhnya menghapus jejak karbon pada 2040.

Singapura

Dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Asia, tidak salah jika titel kota paling maju di Asia disematkan pada Singapura. Negara-kota yang sedikit lebih besar dari Jakarta ini menerapkan konsep kota berkelanjutan dan berkomitmen untuk mereduksi konsumsi energinya hingga 35 persen pada 2030. 

 

Singapura mampu menjaga preservasi alam di tengah gedung betonnya. Karena lahan yang minim, apartemen dan rumah susun vertikal mengisi 80 persen dari total residential area. Tempat wisata yang berbasis ekologi juga menerapkan konsep taman vertikal, seperti Gardens by the Bay, Jewel Changi dan Marina One. 

Supertree, panel surya berbentuk pohon raksasa dengan beragam tumbuhan menjalar di Gardens by The Bay, Singapura. (Sumber: Patrick Bingham Hall/Grant Associates UK)

Minimnya sumber air tawar membuat Singapura memiliki water recycling system. Air saluran pembuangan disaring untuk membuang bakteri, virus dan partikel besar. Airnya akan disuling kembali dengan reverse osmosis, menyaring kontaminan dan substansi pembawa penyakit. Di akhir proses, air disterilisasi dengan sinar ultraviolet untuk memastikannya murni dan siap dikonsumsi.

Prinsip kota berkelanjutan secara sirkular akan menghasilkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan pula. Greeneration Foundation sebagai lembaga yang mendukung produksi dan konsumsi berkelanjutan mengajak Generasi Hijau turut berperan dalam kolaborasi multipihak untuk dapat mewujudkan konsep kota berkelanjutan. Selain itu, kami juga mendukung perwujudan pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab melalui beberapa inisiatif kami, yaitu Bebas Sampah ID dan Indonesia Circular Economy Forum (ICEF).

Referensi

Alonso, T. (2020, February 10). Success story: the transformation of Singapore into a sustainable garden city. Retrieved from Tomorrow City: https://www.smartcitylab.com/blog/urban-environment/singapore-transformation-garden-city/

ArcGIS. (n.d.). Retrieved from How does Vancouver plan to become the most sustainable city worldwide?: https://www.arcgis.com/apps/Cascade/ index.html?appid= 9a8f6f4bdb2e4bdaa762ce805684ae37

Duerre, R. I. (2013, June 6). Singapore ‘toilet-to-tap’ concept. Retrieved from Deutsch Welle: https://www.dw.com/en/singapores-toilet-to-tap-concept/a-16904636

Gloede, K. (2015, May 18). The Greenest City in the World by 2020. Retrieved from Architect Magazine: https://www.architectmagazine.com/ technology/the-greenest-city-in-the-world-by-2020_c

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Joga, N. (2019, November 6). Investor.id. Retrieved from Menggaungkan Konsep Ibukota Baru: https://investor.id/opinion/menggaungkan-kota-berkelanjutan

Koesno, D. A. (2019, Agustus 28). Tirto.id. Retrieved from Mengenal Konsep Green City Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur: https://tirto.id/mengenal-konsep-green-city-ibu-kota-baru-di-kalimantan-timur-eg9t

Mathieson, E. (2020, August 14). 10 of the most sustainable cities in the world. Retrieved from Condé Nast Traveller: https://www.cntraveller.com/gallery/ sustainable-cities

Visit Singapore. (n.d.). Leading the Way: Singapore’s Sustainable Future. Retrieved from Visit Singapore: https://www.visitsingapore.com/mice/en/ bulletin-board/leading-the-way-singapores-sustainable-future/overview/

Wilmott, J. (2020, February 6). Have you been to the world’s greenest city? . Retrieved from The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/travel/ discovering-hygge-in-copenhagen/worlds-greenest-city/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Panel Surya dan Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Panel Surya dan Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

 

Seberapa sering Generasi Hijau melihat panel surya di Indonesia? Baik di lahan luas atau gedung, energi surya agaknya belum banyak dilirik. Hal ini dikarenakan pembangkit listrik kita masih berpusat pada bahan bakar fosil, dan transisi menuju instalasi energi terbarukan dalam skala besar masih terhalang pendanaan, ketersediaan lahan, dan tentu saja, regulasi berbelit. Padahal, Indonesia harus memenuhi komitmen mengurangi emisi karbon sebesar 29% – 41% pada tahun 2030.

 

Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. (Sumber: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Di seluruh dunia, pemerintah dan berbagai pembuat kebijakan sedang mempertimbangkan cara mengimplementasikan “transisi yang berkeadilan” dari batu bara ke energi terbarukan. Usaha tiap negara mulai terlihat di kenaikan instalasi energi terbarukan di dunia hingga 200 gigawatt (umumnya dari panel surya) pada 2019. Dalam lima tahun berturut-turut, energi terbarukan menggantikan instalasi batu bara dan nuklir. Secara umum, kapasitas energi terbarukan yang sudah ada dapat menghasilkan kurang lebih 27,3% listrik dunia pada akhir 2019 (REN21, 2020).

Menurut penelitian yang dilakukan kandidat doktor Australian National University David Firnando Silalahi tentang skenario Indonesia menghasilkan 100% listrik dari energi terbarukan, ia menemukan bahwa negara ini memiliki potensi untuk menghasilkan listrik sebesar 640.000 Terrawatt per jam (TWh) per tahun dari energi matahari. Sebagai perbandingan, produksi tenaga listrik nasional tercatat sebesar 272,42 TWh pada 2020. 

90% dari produksi tenaga listrik Indonesia utamanya bersumber dari batu bara. Bahan bakar fosil ini dianggap paling low-maintenance dan efisien, seperti dikutip dari Financial Times. Selain dianggap mahal dan minimnya ketersediaan lahan, pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih terhalang kepentingan elit politik yang didukung industri batu bara.

Meski begitu, penelitian dari Carbon Tracker menemukan bahwa pembangunan panel surya atau instalasi photovoltaic (PV) akan lebih murah di tahun 2020-2022 dibanding membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Tahun 2027-2028, akan lebih murah membangun instalasi PV baru dibanding menjalankan pembangkit listrik yang sudah ada. Tidak seperti yang digadang-gadang bahwa cadangan batu bara Indonesia masih ada hingga 40 tahun ke depan, studi yang sama juga mengatakan, Indonesia terancam rugi 35 miliar dolar ketika nilai investasi batu bara turun 15 tahun lagi. 

 

PLTS di Desa Oelpuah, Kupang, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: detikFinance/Eduardo Simorangkir)

Berikut alasan mengapa energi surya dapat menjadi jawaban untuk transisi dari tenaga batu bara.

Sinar Matahari Sepanjang Tahun

Sebagai negara di garis khatulistiwa, Indonesia punya sinar matahari berlimpah sepanjang tahun. Namun pada praktiknya, di Indonesia energi surya hanya menghasilkan 0,04% dari total produksi energi. Jumlah kapasitas energi surya di Indonesia pada akhir 2019 bahkan lebih kecil dibandingkan Singapura, negara paling kecil di Asia Tenggara, menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), sebuah lembaga internasional yang fokus pada pengembangan energi terbarukan.

 

Dilihat dari usaha transisinya, Indonesia masih perlu banyak belajar pada Jerman. Negara subtropikal ini telah memproduksi 50% kebutuhan listrik negaranya dari energi surya. Dari 177 Gigawatt (GW) yang diproduksi seluruh dunia, Jerman menghasilkan 38,2 Gigawatt-nya. Meski tidak punya sinar matahari sepanjang tahun, Jerman punya target untuk mengganti seluruh sumber energi listriknya dari bahan bakar fosil menjadi surya dan energi terbarukan lain di tahun 2050. Transisi ini memang butuh waktu lama dan usaha penuh untuk mewujudkannya.

Ketersediaan Lahan

Penelitian David Silalahi menunjukkan bahwa pemasangan tenaga surya untuk memenuhi target Indonesia untuk mencapai 1,500 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya pada 2050 akan membutuhkan setidaknya 8.000 kilometer persegi atau sekitar 0,4% lahan. 

PLTS Atap di Gedung Chairul Saleh, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (Sumber: Kementerian ESDM)

0,4% mungkin bukan angka yang signifikan. Namun angka ini belum memperhitungkan pengelolaan lahan yang dibawahi pemerintah pusat dan daerah. Hambatan dalam pengadaan lahan ini dapat diatasi dengan mengintegrasikan panel surya di atap bangunan. Metode ini tak hanya disarankan bagi gedung perkantoran, bisa juga pada perumahan.

Penampung Daya Melalui Energi Hidro

Pertimbangan lain dari pembangkit listrik tenaga surya ialah ketika sumber energinya sedang minim, seperti saat malam atau mendung. Kelebihan daya yang didapat ketika  bisa ditampung dalam penyimpanan energi hidro terpompa (pumped hydro energy storage – PHES). Menurut Energy Storage Systems, PHES menyumbang 97% penyimpanan energi seluruh dunia karena teknologi ini yang paling murah dari penyimpanan skala besar, dengan masa pakai operasi mencapai 50 tahun atau lebih. Mayoritas sistem PHES berada di lembah sungai dan dihubungkan sistem listrik tenaga hidro. Namun, PHES di luar sungai mempunyai potensi yang lebih besar karena semakin banyak situs potensial yang jauh dari sungai.

PLTA Saguling yang bersumber dari Sungai Citarum, sebagai penampung energi hidro untuk listrik Jawa Barat. (Sumber: ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Menurut riset yang dilakukan Andrew Blakers dari Australian National University, kebutuhan air tahunan dari jaringan listrik terbarukan 100% yang didukung PHES akan jauh lebih sedikit dibanding sistem fosil saat ini karena angin dan PV tidak membutuhkan air pendingin. PHES, baterai, dan manajemen permintaan kemungkinan akan berperan penting ketika jaringan listrik Indonesia beralih total ke energi terbarukan.

Menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, minim emisi, dan di saat yang sama juga minim tarif pasti akan memudahkan kita ya, Generasi Hijau. Sampai panel surya jadi hal umum di Indonesia, selagi menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan, yuk kita minimalisasi penggunaan listrik yang tidak dibutuhkan.

 

Referensi

Asian Development Bank. (2019, Agustus 2). New Wind Farm, Electricity Grid Strengthening Projects Are Helping Indonesia Meet its Ambitions in Clean Energy, Access. Retrieved from https://www.adb.org/news/features/new-wind-farm-electricity-grid-indonesia-clean-energy-access

Aziz, S. Z., & Malessy, A. C. (2020, November 6). Indonesia Looks To Foster Development Of Rooftop Solar Panels. Retrieved from https://www.mondaq.com/renewables/ 1002382/indonesia-looks-to-foster-development-of-rooftop-solar-panels

Blakers, A. (2014, Juli 9). How pushing water uphill can solve our renewable energy issues. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/how-pushing-water-uphill-can-solve-our-renewable-energy-issues-28196

Blakers, A., Lu, B., & Stocks, M. (2018, Mei 3). Indonesia miliki banyak tempat penyimpanan energi hidro untuk sokong 100% listrik terbarukan. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/indonesia-miliki-banyak-tempat-penyimpanan-energi-hidro-untuk-sokong-100-listrik-terbarukan-95062

Briggs, C., Dominish, E., & Mey, F. (2019, Juni 10). Bagaimana transisi dari batu bara: 4 pelajaran dari penutupan pembangkit di berbagai negara. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/bagaimana-transisi-dari-batu-bara-4-pelajaran-dari-penutupan-pembangkit-di-berbagai-negara-118520

Carbon Tracker. (2018). Economic and financial risks of coal power in Indonesia, Vietnam and the Philippines. Carbon Tracker.

Christiningrum, R. (2018). Pengembangan Energi Baru Terbarukan Masih Terkendala Regulasi. Buletin APBN Edisi 5 Vol. III. Maret 2018, 3-8.

Dunne, D. (2019). The Carbon Brief Profile: Indonesia. Carbon Brief.

Energy Storage Systems Program. (2020). Global Energy Storage Database. Albuqurque: Energy Storage Systems Program.

International Energy Agency. (2020). SDG7: Data and Projections. Paris: International Energy Agency.

International Renewable Energy Agency. (2020). Solar Energy Data. International Renewable Energy Agency.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2019). Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2019). Statistik Ketenagalistrikan Tahun 2018: Edisi No. 32 Tahun Anggaran 2019. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2020). Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kennedy, S. F. (2020, Juli 6). Bagaimana ketersediaan lahan menjadi tantangan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/bagaimana-ketersediaan-lahan-menjadi-tantangan-dalam-pengembangan-energi-terbarukan-di-indonesia-141975

Krismantari, I. (2021, Februari 2). Politik dan pandemi buyarkan mimpi energi terbarukan Indonesia. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/politik-dan-pandemi-buyarkan-mimpi-energi-terbarukan-indonesia-153891

Menghwani, V., Zerriffi, H., & Pai, S. (2019, April 4). Tanpa perencanaan yang baik, masa depan infrastruktur energi terbarukan tak menentu. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/tanpa-perencanaan-yang-baik-masa-depan-infrastruktur-energi-terbarukan-tak-menentu-114633

Shalal, A. (2019, January 27). Germany to move ahead quickly on implementing coal exit. Retrieved from Reuters: https://www.reuters.com/article/us-energy-coal-germany/germany-to-move-ahead-quickly-on-implementing-coal-exit-idUSKCN1PL001

Silalahi, D. F. (2020, April 22). 100% Renewable Energy | ANU. Retrieved from RE100 – ANU: http://re100.eng.anu.edu.au/news/2020-04-22.php

Silalahi, D. F. (2020, April 22). Riset prediksi Indonesia bisa hasilkan 100% listrik dari tenaga surya pada tahun 2050. Retrieved from The Conversation ID: https://theconversation.com/riset-prediksi-indonesia-bisa-hasilkan-100-listrik-dari-tenaga-surya-pada-tahun-2050-136879

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Imlek Minim Sampah Menuju Keberuntungan Baru

Imlek Minim Sampah Menuju Keberuntungan Baru

 

Tahun Baru Imlek penuh dengan tradisi berupa simbolisme harapan baik. Acara makan bersama keluarga besar, bersih-bersih rumah, banyak camilan kue kering, dan tentu saja: angpao! Imlek menjadi waktu yang tepat untuk minta keberuntungan, berkumpul bersama keluarga dan mengantar kita ke awal yang baru. 

Seperti hari festival lainnya, dekorasi dan kegiatan kita di hari raya Imlek dapat menimbun sampah. Merah memang simbol keberuntungan di tradisi Tionghoa, namun kita bisa menjadikan tahun baru Imlek ini menjadi lebih ‘hijau’. Di tahun kerbau ini, Generasi Hijau dapat memulai perubahan kecil untuk Imlek yang minim sampah!

Bersih-bersih Rumah

Seminggu sebelum Imlek, ada tradisi sao nian (扫年), alias ‘menyapu tahun’ untuk bebersih seluruh rumah. Hal ini sebagai simbolisasi menghapus keburukan tahun lalu dan menggantinya dengan keberuntungan tahun depan. Sao nian ini bukan hanya menyapu dan mengepel lantai, namun juga mencuci sprei yang digunakan tahun lalu, bahkan ada keluarga yang merenovasi rumahnya.

Bebersih rumah menjelang tahun baru Imlek. (Sumber: travel.newsgd)

Menurut tradisi Tionghoa, salah satu hal penting dalam sao nian ialah untuk menggunakan bahan yang ramah lingkungan untuk bersih-bersih. Sadari bahwa bahan kimia sintetis berbahaya untuk saluran air dan tanah. Mari kita mulai tahun kerbau ini untuk lebih menyayangi bumi!

Dalam kesempatan sao nian ini, lakukan decluttering. Tata dan pilah tumpukan barang yang tak terpakai selama satu tahun ini, lalu pisahkan mana yang kira-kira masih dapat dipakai dan mana yang tidak. Pastikan barang-barang yang sudah tidak dapat dipakai kamu kelola dengan bijak. Salurkan ke bank sampah yang dapat menerimanya. Untuk barang yang masih dalam kondisi baik namun tidak lagi kamu pakai, dapat kamu jual atau donasikan pada yang lebih membutuhkan. 

Bersih-bersih rumah hanya boleh dilakukan 15 hari hingga satu minggu sebelum Imlek. Jika dilakukan saat hari raya, Generasi Hijau dianggap akan menyapu semua rezeki dan keberuntungan yang akan datang.

Biasanya sao nian akan diikuti dengan belanja. Walaupun terdengar bertolak belakang dengan decluttering, belanja barang baru dipercaya dapat menyambut awal yang baik di tahun baru. Jika kamu memenuhi tradisi yang satu ini, tetaplah conscious shopping agar tidak membeli barang yang tidak kamu butuhkan ya.

Angpao Merah Virtual untuk Imlek yang Lebih Hijau

Dalam budaya Tionghoa, merah adalah warna keberuntungan, sehingga memberi uang dalam amplop merah adalah cara untuk memberikan harapan terbaik, serta hadiah keuangan yang diharapkan akan membawa hoki. Uang amplop merah tradisional sering disebut ‘uang pengusir setan’ (压岁钱 yāsuìqián / yaa-sway-chyen). Menurut banyak legenda Tahun Baru, roh-roh jahat takut pada warna merah, sehingga amplop merah pada awalnya digunakan untuk mengusir setan sambil memberikan uang.

Gunakan kembali angpaomu dari tahun lalu. (Sumber: Smart Parents)

Generasi Hijau dapat gunakan amplop angpao dari tahun lalu. Kalau sudah dibuang, kamu bisa gunakan amplop tahun ini untuk di tahun depan. Agar bisa digunakan lagi, usahakan tidak menempel lem di penutupnya, selipkan saja ke dalam. Beli angpao yang tidak menggunakan desain tertentu, misalnya gambar kerbau untuk tahun kerbau. Karena tahun berganti, kamu bisa menggunakan angpao polos dengan berkelanjutan.

Kreasikan angpaomu untuk dekorasi Imlek. Kamu bisa mengubahnya menjadi dekorasi dinding, bunga kertas, atau bahkan lentera rumah. Pilihan lain adalah untuk mengolahnya secara bertanggung jawab. Kirimkan ke bank sampah yang dapat mengelola bahan kertas.

Sekarang sudah marak pengguna dompet virtual. Kirim uang Imlek untuk sanak saudara menggunakan template Imlek bernuansa merah melalui ponsel kamu. Kamu bisa mendorong orang tuamu atau kakek-nenekmu untuk belajar menggunakan teknologi ini.  Mungkin agak asing untuk mereka tidak menggunakan uang kertas, tapi yakinkanlah, bahwa ini tidak ada bedanya dengan angpao merah.

Hampers Tanpa Plastik

Seperti hari raya lainnya, terdapat kebiasaan berkirim hampers dengan kerabat di saat Imlek. Apalagi di masa pandemi di mana kita sulit bertemu sanak saudara, hampers dapat menjadi simbol pengingat kita untuk orang tersayang. Generasi Hijau tetap dapat mengirim hampers dengan isi dan kemasan tanpa plastik.

Hampers Imlek ramah lingkungan untuk dikirim ke orang terdekat. (Sumber: The Source Bulk Foods)

Kotak hampers plastik atau kardus dapat kamu ganti dengan besek bambu. Besek bambu bisa tahan air, tidak mudah penyok dan tetap dapat kamu kreasikan. Jika sudah tidak layak pakai, kamu juga bisa mengompos besek bambu.

Dalam besek, kertas nasi untuk melapis isi hampers bisa diganti dengan daun pisang. Kamu dapat mengisi hampers kamu dengan kue keranjang, kue lapis, jeruk mandarin hingga teh oolong. Semuanya bisa didapat tanpa kemasan plastik.

Walaupun Imlek tahun ini harus kita lalui dengan jarak, semoga kita dan keluarga tetap diberi kesehatan dan keberuntungan.

Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai!

Penulis: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Au, R. (2-19, January 30). How to celebrate Chinese New Year without feeling guilty about the Earth. Retrieved from Buro247: https://www.buro247.my/lifestyle/insiders/ eco-friendly-chinese-new-year-decor-sustainable.html

Green Is The New Black. (2021, February 02). Good Luck, Good Health, Good Cheer and A Conscious Chinese New Year. Retrieved from Conscious Scoop: https://greenisthenewblack.com/how-to-be-conscious-over-chinese-new-year-a-sustainable-guide-to-cny/

Ho, S. (2020, January 17). Our Eco-Friendly Guide To Spring Cleaning Before The Lunar New Year. Retrieved from Green Queen HK: https://www.greenqueen.com.hk/our-eco-friendly-guide-to-spring-cleaning-before-the-lunar-new-year/

Lee, K. (2019, December 30). CNY 2020: ‘Huat’ to Do to Have an Eco-friendly, Sustainable, Zero Waste CNY in the Year of the Metal Rat. Retrieved from Singapore Motherhood: https://singaporemotherhood.com/articles /20 19/12/cny-2020-zero-waste-eco-friendly-sustainable/

Moraleda, N. (2020, January 23). 5 ways to be more environmentally friendly this Chinese New Year. Retrieved from SCMP: https://www.scmp.com/yp/discover/lifestyl e/ features/article/3071239/5-ways-be-more-environmentally-friendly-chinese-new

Murphy, L. (2018, February 12). Get Ready for a Green Chinese New Year Celebration. Retrieved from Earth911: https://earth911.com/living-well-being/events-entertainement/sustainable-chinese-new-year/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Bulk Store, Cara Efisien Mengurangi Kemasan Plastik

Bulk Store, Cara Efisien Mengurangi Kemasan Plastik

 

Mencoba hidup minim sampah rasanya sulit ketika belanja kebutuhan harian. Belanja di supermarket maupun pasar tradisional, kebanyakan barang sudah dikemas dengan wadah plastik sekali pakai. Dari kebutuhan dapur, kebersihan rumah tangga hingga perawatan tubuh, kita terbiasa dengan pilihan beragam ukuran kemasan. Berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dari kebutuhan harian kita dalam seminggu? Tentunya kita tidak ingin menjadi salah satu penyumbang sampah ke TPA.

Di bulan Februari ini, kita akan memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada tanggal 21 Februari nanti. Peringatan ini timbul untuk mengenang peristiwa ledakan dan longsornya TPA Leuwigajah pada tahun 2006, di tanggal yang sama. Dalam rangka mendekati peringatan HPSN, kami mengajak Generasi Hijau untuk mendukung konsumsi dan produksi bertanggung jawab dan turut mengatasi permasalahan sampah dengan cara paling efisien, yaitu mengurangi dari sumbernya.

The Bulkstore & Co., salah satu bulk store di Jakarta. (Sumber: Kompas.com/Hilel Hodawya)

Untuk mendukung pergeseran gaya hidup Generasi Hijau menuju minim sampah, belanja di bulk store dapat menjadi pilihan tepat. Bulk store menyajikan kebutuhan harian tanpa kemasan, sehingga pelanggan membawa wadah sendiri. Belanja di bulk store bukan berarti kamu membeli kebutuhan dalam kontainer besar seperti di wholesale. Sebaliknya, kamu dapat menakar belanjaan sesuai keperluan. 

Panduan Belanja di Bulk Store Bagi Pemula

Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah barang apa saja yang akan dibeli. Buat daftar belanja lengkap dengan jumlahnya. Tanpa panduan daftar, mungkin kamu akan kewalahan menentukan ukuran belanjaan dan berakhir membeli banyak barang yang tidak dibutuhkan.

Selain itu, Generasi Hijau juga perlu menyiapkan wadah belanja. Tas kain serut atau produce bag dan toples kaca bekas selai dapat menjadi pilihan. Gunakan apa yang ada di rumah dan jangan lupa dicuci agar dapat dipakai ulang.

Belanja di bulk store menggunakan kantong kain akan lebih mudah ditakar. (Sumber: Unsplash/Gaelle Marcel)

Generasi Hijau yang terbiasa belanja di supermarket mungkin akan bingung dengan sistem pembayaran di bulk store. Supermarket menjual produknya dengan harga per unit, sementara bulk store menakar harga sesuai ukuran yang kita beli. Misal, kita terbiasa membeli gula kemasan ukuran 1 kg dengan harga x. Sementara di bulk store, harga barang dipatok dari satuan berat (gram) untuk benda padat dan volume (liter) untuk benda cair. 

Di bulk store tertentu, ada juga yang menjual kebutuhan rumah tangga seperti sabun mandi dan sampo, sabun cuci piring atau deterjen. Untuk sikat bambu, loofah, sabun dan sampo batang, harganya akan dihitung per unit (jumlah). 

Dengan sistem pembayaran ini, penjual akan menghitung bobot wadah pelanggan dulu sebelum diisi. Untuk toples kaca yang beratnya 50 gram dan diisi gula 200 gram, Generasi Hijau hanya perlu membayar gulanya tanpa biaya tambahan dari berat toples. Nantinya, penjual akan menghitung berat wadahmu dulu sebelum diisi.

Mengapa Perlu Beralih ke Bulk Store?

Belanja dengan wadah sendiri memangkas kebutuhan kemasan plastik yang tidak dibutuhkan. Saat Generasi Hijau mulai belanja ke bulk store, kamu akan merasakan betapa minim sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu. Tanpa kemasan plastik, Generasi Hijau juga membeli barang lebih murah — kamu murni beli barangnya saja, tanpa ada biaya kemasan!

Tampilan interior Toko Nol Sampah, bulk store di Kota Bandung. (Sumber: Beritabaik.id/Djuli Pamungkas)

Bulk store memungkinkan Generasi Hijau untuk mengukur kebutuhan rumah dan membeli sesuai kebutuhan. Hal ini juga dapat meminimalisasi food waste dari rumah. Belanja di bulk store juga membuatmu bisa mencoba produk lain dalam volume kecil sebelum memutuskan membeli banyak.

Bahan-bahan yang dijual di bulk store kebanyakan diproduksi dari rumah atau tumbuh dari kebun sendiri. Sayur, buah dan bumbu didapat dari petani lokal. Kebutuhan rumah tangga dan badan juga dibuat dari bahan ramah lingkungan, tanpa bahan kimia berbahaya dan tentunya cruelty-free. Dengan belanja di bulk store, Generasi Hijau tidak hanya dapat meminimalisasi sampah, namun juga mendukung petani dan pengusaha lokal.

Bahan yang didistribusi lokal juga mereduksi emisi karbon yang ditimbulkan dari proses distribusi retail. Minim kemasan, minim sampah, minim emisi. 

Referensi

Bold Commerce Collaborator. (2017, July 13). How to Shop At a Bulk Foods Store. Retrieved from Upcycle Studio: https://www.upcyclestudio.com.au/blogs/ sustainable-living/how-to-shop-at-a-bulk-foods-store

Miles, L. (2018, January 25). A First-Timer’s Guide to Shopping at Bulk Stores. Retrieved from Treading My Own Path: https://treadingmyownpath.com/2018/01/ 25/first-time-bulk-store/

Shreeves, R. (2019, April 22). The Many Benefits of Buying Bulk Foods. Retrieved from Treehugger: https://www.treehugger.com/ the-many-benefits-of-buying-bulk-foods-4867771

The Source Bulk Foods. (n.d.). Benefits of Buying Bulk Foods. Retrieved February 2021, from The Source Bulk Foods: Zero Waste Blog: https://thesourcebulkfoods.com.au/blog/ benefits-of-buying-bulk-foods/

Trost, C. (2016, March). Learn How and Why to Buy Food in Bulk. Retrieved from Scratch Mommy: https://scratchmommy.com/learn-how-and-why-to-buy-food-in-bulk/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Haider, N., & et., a. (2020). COVID-19—Zoonosis or Emerging Infectious Disease? frontiers in Public Health, 1-8.

Kurangi Sampah, Selamatkan Hidup

Kurangi Sampah, Selamatkan Hidup

 

Indonesia diperkirakan menghasilkan 64 juta ton sampah setiap tahun dengan persentase sampah organik dan plastik sebesar 60% dan 15%; Jumlah sampah bahkan mencapai 67,8 juta ton pada 2020, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya (Azzahra, 2020). Langkah terpenting untuk mengurangi jumlah sampah adalah dengan mengelola sampah dari sumbernya.. Penyediaan dan perbaikan infrastruktur pengelolaan sampah memang diperlukan, namun akan sia-sia jika tidak dilakukan bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Pemerintah Pusat telah menunjukkan kemauan politik dalam pengelolaan sampah melalui Keputusan Presiden No. 97/2017 dan dalam dokumen “Radically Reducing Plastic Pollution in Indonesia: A Multi-Stakeholder Action Plan” dimana pemerintah ingin mencapai pengurangan 30% total sampah yang diproduksi dan 70 % sampah plastik yang berakhir di laut pada tahun 2025 (World Economic Forum, 2020). Pemerintah provinsi dan kota juga  membuat peraturan daerah untuk mengurangi atau melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.Sebagai contoh, peraturan di Bali dimulai sejak Desember 2018 dan di Bandung sejak Februari 2016 (Setiawan & Fithrah, 2018). Kebijakan pemerintah ini dibarengi dengan inisiatif dari pihak-pihak swasta yang menunjukkan hasil yang positif. Terlihat dari berkurangnya jumlah sampah plastik sebanyak 1 persen pada tahun 2018 dibandingan dengan tahun 2016 (CNN Indonesia, 2019). Jumlah ini mungkin terlihat sedikit, namun sebenarnya jumlah ini mewakili 630.000 ton limbah. Oleh karena itu, sembari menunggu pemerintah provinsi dan daerah membangun fasilitas yang diperlukan, kita juga harus belajar memilah sampah. Jika kita sebagai individu mulai mengurangi sampah domestik, kita bisa mengurangi sampah secara signifikan.

Bagaimana mengelola sampah rumah tangga kita

Hal terpenting dalam mengurangi timbunan sampah di rumah adalah dengan mencoba mengelola sampah. Poin-poin berikut adalah beberapa solusi yang dapat kita coba lakukan untuk mengurangi sampah yang dapat kita lakukan satu per satu. 

Sebenarnya, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah adalah dengan menghindari penggunaannya bahan baku yang berlebihan sejak awal. Kita bisa mulai dengan membuat makanan secukupnya agar tidak membuang-buang makanan. Kita juga bisa mulai mengurangi penggunaan plastik di rumah kita, termasuk dalam kehidupan sehari-hari dengan cara sebagai berikut:

  1. Gunakan daun pisang sebagai pembungkus daging atau sayuran untuk disimpan di lemari es
  2. Beli bahan makanan dari toko curah. Kita dapat menggunakan toples atau wadah lain untuk membeli berbagai macam bahan makanan seperti beras, kacang-kacangan dan pasta atau bahkan perlatan mandi seperti sampo dan sabun mandi.
  3. Gunakan kotak bekal untuk mengemas makanan atau saat membeli makanan di luar
  4. Bawalah tumbler berisi air atau lebih baik lagi, bawalah juga mug/mug termos jika ingin membeli kopi
  5. Bawalah tas keranjang untuk  membawa barang dari supermarket atau pasar tradisional
  6. Jika perlu, gunakan sedotan alumunium sebagai pengganti sedotan plastik, atau langsung minum dari gelas

Jika kita harus menggunakan plastik karena lupa membawa wadah atau karena hal lainnya, coba gunakan kembali plastik tersebut di lain waktu untuk membawa barang atau gunakan sebagai tempat sampah di rumah.

Selanjutnya, kita sebaiknya memilah sampah yang kita hasilkan. Sebagai permulaan, kita bisa mulai membaginya menjadi tiga kategori; sampah organik (sisa makanan), sampah anorganik (kertas, plastik, kardus), dan sampah beracun/berbahaya (baterai, obat-obatan, minyak, kabel dan cat). Di rumah, sediakan tiga tempat sampah dengan label di atasnya untuk menghindari tercampurnya sampah. Kita dapat mencoba memberi label tempat sampah Anda dengan mengikuti gambar di bawah. Tentu terkadang kita sering bingung ke wadah mana sampah harus dibuang seperti misalnya sampah kotak nasi. Hal ini bisa membingungkan karena wadah kotak nasi terdiri dari sampah anorganik (kertas dan plastik) dan sampah organik (sisa). Jika begitu, kita bisa membuang sisa makanan ke tempat sampah organik terlebih dahulu, sedangkan kertas, tisu dan plastik ke wadah lain. Sangat mudah untuk dipisahkan dalam mebuang sampah selama kita mencoba membiasakan diri.

Setelah itu, sampah anorganik bisa kita berikan kepada pemulung atau pengepul. Biasanya mereka akan menjual sampah untuk didaur ulang. Jika tidak dapat menemukan pemulung atau pengepul, sampah dapat dikirmkan ke TPS terdekat di sekitar rumah secara langsung atau melalui tukang sampah. Yang terpenting jangan pernah membakar sampah karena pembakaran sampah menimbulkan asap dan abu yang mengandung beberapa produk sampingan beracun, antara lain sulfur dioksida, merkuri, VOC dan klorida (Christian et al. 2013) yang mudah terhirup dan dapat merembes. ke dalam tanah dan air tanah.

Ketiga, kita bisa mulai belajar membuat kompos dari sampah organik agar kita dapat ikut membantu dalam mengurangi sampah organik yang mencapai 60% dari total sampah terbuang. Berikut cara mudah membuat kompos berdasarkan beberapa pengalaman lapangan (Rhoades, 2020; Mommies Daily, 2019; Calisti dkk. 2020):

  1. Letakkan kardus di dasar ember plastik. Kardus ini akan berfungsi sebagai penghangat selama proses pengomposan
  2. Tuang tanah / kompos organik sebagai starter mikroba
  3. Masukkan sampah organik hijau (sayuran dan sisa makanan lainnya) sebagai sumber karbon bagi mikroba yang telah dipotong kecil-kecil ke dalam ember
  4. Masukkan juga sampah organik berwarna coklat (potongan kayu, daun, dll) sebagai sumber nitrogen bagi mikroba
  5. Buat lapisan coklat dan sampah organik dengan komposisi satu lapisan hijau (bertindak sebagai sumber nitrogen) untuk setiap 2-4 lapisan coklat (bertindak sebagai sumber karbon). Memang membutuhkan beberapa kali percobaan untuk Untuk mendapatkan campuran yang tepat tetapi pada dasarnya rasio C: N harus di antara 25: 1 hingga 30: 1
  6. Aduk semuanya hingga rata
  7. Lakukan langkah-langkah ini sampai ember penuh
  8. Tutupi ember menggunakan kardus untuk memungkinkan aerasi
  9. Tolong letakkan di tempat yang tidak terkena air dan terik matahari
  10. Buka kardus setiap tiga hari dan aduk isinya untuk menjaga keseimbangan warna hijau dan cokelat
  11. Diperlukan waktu 2-4 minggu untuk membuat kompos

Ada persepsi bahwa tumpukan kompos berbau tidak sedap. Namun, tumpukan kompos yang baik seharusnya tidak berbau tidak sedap; baunya cenderung seperti tanah. Bau tak sedap berasal dari rasio C: N kurang dari 20: 1 dan sebagai akibatnya terjadi pembentukan senyawa nitrogen yang mudah menguap dan menimbulkan bau tak sedap. Jika terjadi, hal tersebut mungkin disebabkan oleh aerasi yang terlalu sedikit (aduk sampah organic untuk menambah oksigen), terlalu banyak kelembaban (menambahkan lebih banyak bahan berwarna coklat), kelembaban yang terlalu rendah (menambahkan air beras), atau aktivitas mikroba yang terlalu rendah yang dapat dilihat dari tumpukan sampah organic yang tidak terasa hangat (tambahkan lebih banyak bahan hijau) (Calisti et al. 2020)

Ketiga langkah tersebut sangat krusial untuk mengurangi sampah domestik. Mengapa sangat penting untuk mengurangi sampah? Sampah-sampah tersebut dapat membunuh hewan-hewan sungai dan laut dan bahkan membahayakan kita secara langsung. Mengurangi sampah berarti menyelamatkan hewan-hewan sungai dan lautHal ini sangat penting untuk mengurangi sampah yang bermuara di ekosistem sungai dan laut.  Berikut ini adalah contoh-contoh dimana sampah dapat berbahaya:

  1. Hewan air menganggap plastik atau sampah lainnya adalah makanan dan memakannya hingga menyebabkan kematian karena plastik menyumbat usus dan tidak dapat terurai.
  2. Sampah-sampah di badan perairan dapat menembus bagian tubuh hewan-hewan sehingga menyebabkan kematian.
  3. Ikan-ikan memakan sampah plastik berukuran sangat kecil (mikroplastik) . Ikan-ikan tersebut ditangkan dan kita makan. Secara langsung kita memakan akumulasi plastik yang ada di ikan-ikan tersebut yang mana dapat menyebabkan kanker

Oleh karena itu, sampah domestik perlu kita kelola dengan baik, mulai hari ini, dimulai dari diri kita sendiri.

References

Azzahra, T.A. (2020). Menteri LHK: Timbunan Sampah di Indonesia Tahun 2020 Capai 67,8 Juta Ton. Retrieved from https://news.detik.com/berita/d-5046558/menteri-lhk-timbunan-sampah-di-indonesia-tahun-2020-capai-678-juta-ton

Calisti, R., Regni, L., & Proietti, P. (2020). Compost-recipe: A new calculation model and a novel software tool to make the composting mixture. Journal of Cleaner Production, 122427

CNN Indonesia. (2019). KLHK Sebut Volume Sampah Plastik Turun 630 Ribu Ton di 2018. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/nasional/ 20190728101745-20-416168/klhk-sebut-volume-sampah-plastik-turun-630-ribu-ton-di-2018

Christian, T. J., Yokelson, R., Cárdenas, B., Molina, L. T., Engling, G., & Hsu, S. C. (2010). Trace gas and particle emissions from domestic and industrial biofuel use and garbage burning in central Mexico. Atmospheric Chemistry and Physics, 10(2), 565.

Mommie Daily. (22 April 2019). Cara Gampang Mengolah Sampah Rumah Tangga [Video File]. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=zMhOUJbnjIk

Rhoades, H. (2020). Understanding the Browns and Greens Mix for Compost. Retrieved from https://www.gardeningknowhow.com/ composting/ingredients/browns-greens-compost.html

Setiawan, B., & Fithrah, D. S. (2018). Kampanye Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Dalam Membentuk Persepsi Masyarakat Bandung. Jurnal Manajemen Komunikasi2(2), 102-117.

World Economic Forum. 2020. Radically Reducing Plastic Pollution in Indonesia: A Multistakeholder Action Plan. Geneva: World Economic Forum.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Tips Menghabiskan Waktu #DiRumahAja Ala Generasi Hijau

Tips Menghabiskan Waktu #DiRumahAja Ala Generasi Hijau

Pada 27 Maret 2020, pemerintah mengumumkan bahwa terdapat 893 warga Indonesia yang terinfeksi positif virus corona (COVID-19) dengan 35 orang dinyatakan sembuh dan 78 orang meninggal. Untuk mengurangi penyebaran virus tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak sosial atau social distancing dengan tetap beraktivitas di rumah hingga pandemi ini mereda. Melakukan aktivitas di rumah dalam jangka waktu yang lama memang terdengar seperti akan membosankan. Namun tanpa kita sadari bahwa berkurangnya aktivitas manusia di luar ternyata dapat memberikan dampak yang positif bagi lingkungan. Pengurangan jumlah kendaraan yang berada di perkotaan tentunya dapat mengurangi polusi udara yang selama ini mencemari lingkungan. Meskipun demikian, generasi hijau harus tetap berperilaku ramah lingkungan selama menjalani masa karantina di rumah. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu karantina di rumah secara ramah lingkungan:

Kurangi pengeluaran sampah

Meskipun tinggal di rumah, kita harus tetap memperhatikan timbulan sampah yang kita produksi selama masa karantina. Mengurangi produksi sampah di rumah sangat penting karena sampah rumah tangga masih termasuk sampah yang paling banyak diproduksi di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak baik bagi lingkungan seperti sampah plastik. Selain itu, untuk mengurangi sampah organik, generasi hijau juga dapat mengompos sampah organik tersebut sehingga tidak mencemari lingkungan. 

Membuat prakarya dari bahan-bahan bekas

Tetap berada di dalam rumah dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kebosanan bagi beberapa orang. Rasa bosan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan membuat prakarya dari bahan-bahan bekas. Selain menyenangkan, kegiatan ini tentunya dapat bermanfaat bagi lingkungan. 

Menonton film yang bertema lingkungan

Selain membuat prakarya, generasi hijau juga dapat mengisi waktu luang di rumah dengan cara menonton film edukatif yang memiliki pesan untuk lebih menjaga lingkungan. Dengan menonton film tersebut, kita dapat terhibur sekaligus terdorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Penasaran film apa saja yang memiliki tema tentang lingkungan? Yuk cek di sini.

 

Itu dia hal-hal yang bisa generasi hijau lakukan di rumah untuk bisa menjadi ramah lingkungan. Jangan lupa juga ya untuk selalu menjaga kebersihan dengan cuci tangan dan menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan sehat dan olahraga yang cukup.

 

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

MENGELOLA SAMPAH SELAMA PANDEMI

MENGELOLA SAMPAH SELAMA PANDEMI

 Sumber gambar: Kompas.com
 

Selama pemberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) selama pandemi, jumlah sampah yang ditimbun di TPST Bantargebang memang mengalami penurunan. Namun, ternyata dalam survei singkat yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, komposisi plastik meningkat menjadi 21% dari total sampah jika dibandingkan dengan komposisi plastik pada 2018 yang sebesar 18%. 

Kejadian ini menunjukan bahwa selama pandemi ini, kondisi persampahan menghadapi tantangan yang lebih sulit. Penggunaan barang sekali pakai atau penggunaan plastik sebagai kemasan saat belanja daring misalnya, menjadi salah satu penyebab semakin meningkatnya sampah yang bertumpuk. 

Selain itu, masalah persampahan di Indonesia juga menghadapi tantangan baru lainnya, seperti tercampurnya sampah masker bekas dengan limbah domestik di pembuangan sampah selama pandemi. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengolahan atau pemisahan di sumber. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan surat edaran (SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020) tentang pengelolaan limbah infeksius yang cenderung meningkat selama pandemi. Salah satu isi dari surat edaran tersebut adalah himbauan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga selama pandemi. 

Dalam surat edaran tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengelola sampahnya sesuai protokol seperti berikut: 

  1. Petugas kebersihan atau pengangkut sampah wajib dilengkapi dengan APD khususnya masker, sarung tangan, dan safety shoes.
  2. Untuk mengurangi timbulan sampah masker, masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker guna ulang yang dapat dicuci setiap hari
  3. Sampah masker sekali pakai diharuskan untuk dirobek, dipotong, digunting, dan dikemas serta ditandai sebelum dibuang ke tempat sampah untuk menghindari penyalahgunaan
  4. Pemerintah setempat diharapkan dapat menyediakan tempat sampah khusus untuk masker di ruang publik 

Selain cara-cara yang di atas, tentunya kita juga dapat berupaya mengurangi timbulan sampah selama pandemi ini dengan menerapkan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai serta mengolah sampah yang kita produksi dengan bijak. Contohnya, di era new normal ini, kita dapat menjalankan gaya hidup yang lebih berkelanjutan seperti membawa botol dan tempat makan pribadi, membawa tas belanja pribadi, memakai masker kain guna ulang, dsb. 

Kita juga dapat mengisi waktu kita #DiRumahAja dengan mengolah sampah yang kita produksi seperti membuat kerajinan daur ulang atau mengompos sampah organik. Dengan semangat bersama, kita dapat mengurangi dampak lingkungan serta memutus rantai penyebaran virus dengan hal yang sederhana seperti menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan serta konsisten menerapkan protokol kesehatan. 

Referensi:

Violetta, Prisca. (2020, Juni 18). DKI Jakarta Catat Komposisi Sampah Plastik Naik Saat PSBB. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/1561108/dki-jakarta-catat-komposisi-sampah-plastik-naik-saat-psbb

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

BAGAIMANA COVID-19 MEMPENGARUHI MASALAH TATA KELOLA SAMPAH?

BAGAIMANA COVID-19 MEMPENGARUHI MASALAH TATA KELOLA SAMPAH?

Sumber gambar : Kompas.com

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan permasalahan baru bagi lingkungan, salah satunya adanya peningkatan timbulan limbah medis. Di masa pandemi, limbah medis tidak hanya berasal dari fasilitas kesehatan, tapi juga dapat berpotensi berasal dari limbah domestik atau rumah tangga. Meningkatnya penggunaan APD di fasilitas kesehatan dan penggunaan masker oleh masyarakat umum selama pandemi berpotensi sebabkan lonjakan jumlah sampah medis

Asian Development Bank (ADB) memprediksi bahwa Jakarta dapat menghasilkan tambahan 12.720 ton limbah medis berupa sarung tangan, baju APD, masker, dan kantong infus selama 60 hari selama pandemi. Sebelumnya, Indonesia sendiri telah memproduksi limbah medis sekitar sebanyak 290 ton per hari dan 35 ton per hari untuk wilayah Jakarta.

Sementara itu, penanganan sampah medis di Indonesia masih mengalami keterbatasan. Dari 2.820 rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia, hanya ada 83 lokasi yang memiliki incinerator untuk mengolah limbahnya. Penggunaan incinerator sendiri ini pun masih menjadi pro kontra di masyarakat karena dapat berpotensi mencemari lingkungan.

Selain itu, pabrik pengolah sampah medis di Indonesia pun masih terbatas. Hanya terdapat lima pabrik pengolah sampah medis di pulau Jawa dan satu di pulau Kalimantan. Sebelum pandemi, kasus timbulan sampah medis juga pernah ditemukan tercecer di kawasan hutan Mangrove di Karawang pada 2018. Hal ini membuktikan bahwa penanganan limbah medis di Indonesia masih bermasalah dan mengalami keterbatasan.

Di masa pandemi, kondisi tersebut tentunya menjadi semakin parah. Bukan hanya limbah medis di fasilitas kesehatan yang semakin meningkat, tapi kini limbah infeksius juga dapat diproduksi dari limbah domestik karena meningkatnya penggunaan APD serta penggunaan alat tes antibodi oleh masyarakat umum. Akibatnya, salah satu masalah persampahan yang dihadapi sekarang adalah bercampurnya limbah infeksius dengan limbah domestik di tempat pembuangan sehingga mengancam keselamatan para pemulung dan petugas persampahan.

Sebagai upaya untuk mengantisipasi para pemulung dan petugas persampahan terpapar dari bahaya virus, Greeneration Foundation telah bekerja sama dengan The Coca-Cola Foundation Atlanta melalui The Coca-Cola Foundation Indonesia untuk membantu 2.500 pemulung dan petugas persampahan di 25 titik wilayah. 

Adapun bantuan yang disealurkan berupa modul edukasi COVID-19, Alat Pelindung Diri (APD), alat kebersihan (hygiene kit), dan paket sembako. Upaya ini diharapkan dapat membantu pemulung dan petugas persampahan selama pandemi karena mereka adalah pejuang yang berada di garda terdepan dalam membersihkan lingkungan kita dari pencemaran sampah. 

Referensi:

Adinda, Permata. (2020, April 22). Pengelolaan Limbah Medis di Indonesia Bermasalah Sebelum Pandemi. Sekarang Bagaimana? Diakses dari https://asumsi.co/post/pengelolaan-limbah-medis-di-indonesia-bermasalah-sebelum-pandemi-sekarang-bagaimana

Ismawati, Yunia. (2020, Mei 15). Empat Cara Mengelola APD & Masker Selama Pandemi COVID-19. Mana yang Lebih Efektif? Diakses dari https://theconversation.com/empat-cara-mengelola-limbah-masker-dan-apd-selama-pandemi-covid-19-mana-yang-lebih-efektif-135956

United Nation Environment Program. (2020). : Waste Management during the COVID-19 Pandemic From Response to Recovery Penulis: Siti Aisyah Novitri

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

COVID-19 DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN, APA KAITANNYA?

COVID-19 DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN, APA KAITANNYA?

Sumber Gambar: International Center for Climate Change and Development
 Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO (World Health Organization) menetapkan bahwa dunia sedang dalam kondisi pandemi akibat penyebaran penyakit COVID-19. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Wabah virus ini pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Tiongkok, pada tanggal 1 Desember 2019. 

Virus yang awalnya ditemukan di satu kota ini, kini telah mengguncang hampir seluruh dunia dan telah berdampak terhadap berbagai sektor mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial, hingga lingkungan. Kemunculan virus ini pun dipercaya berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan yang telah terjadi di bumi karena penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit zoonosis. 

Kemunculan penyakit baru seperti COVID-19 dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti perubahan kondisi alam dan perilaku mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Mikroorganisme ini biasanya menular melalui kontak dengan binatang atau lingkungan dimana mikroorganisme tersebut berkembang. Penyakit yang bersumber dari binatang ini dinamakan zoonosis

Dalam kata lain, zoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme infeksius seperti virus, bakteri, dan parasit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, atau sebaliknya. 60% penyakit infeksius yang diderita manusia sekarang ini berasal dari binatang. Salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kontak antara manusia dan satwa liar melalui aktivitas perusakan lingkungan. 

Contohnya, perburuan dan eksploitasi satwa liar dan rusaknya habitat mereka yang disebabkan oleh deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi kawasan pertambangan, pertanian monokultur, dll. Selain itu, perubahan iklim juga dapat turut berkontribusi terhadap perkembangan penyakit zoonosis.

Seperti yang telah diketahui, kerusakan alam ini saling berkaitan erat dengan kemunculan pandemi yang saat ini kita hadapi bersama. Jika kita terus membuat kerusakan di muka bumi ini, bukan tidak mungkin penyakit zoonosis jenis lainnya akan berkembang dan menciptakan pandemi baru di masa depan. Selain itu, perubahan iklim atau pemanasan global yang juga mengancam kehidupan manusia, akan membuat pandemi menjadi lebih buruk. 

Contohnya, jika sistem pangan yang kita miliki sekarang terancam gagal akibat perubahan iklim, kita berpotensi untuk menghadapi krisis lainnya seperti krisis ekonomi dan krisis pangan, yang akan membuat pandemi lebih sulit dikendalikan. 

Kita harus dapat menyelesaikan pandemi ini dengan strategi pendekatan Build Back Better atau Membangun Kembali Lebih Baik. Dalam kata lain, kita bukan hanya harus berusaha memulihkan pandemi, tapi juga kita harus membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap krisis seperti pandemi dan dampak perubahan iklim yang mungkin akan terjadi di masa depan. 

Upaya pemulihan pandemi ini perlu memperhatikan aspek-aspek keberlanjutan lingkungan. Perlunya kerjasama antara berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, swasta, organisasi nirlaba, dan masyarakat akar rumput dalam mewujudkan kebijakan yang lebih peduli terhadap lingkungan. 

Selain melalui perubahan struktural, kita juga dapat mulai memberikan kebaikan untuk alam dimulai dari diri kita sendiri dengan menerapkan gaya hidup yang lebih berkesadaran terhadap lingkungan serta menjaga ketat protokol kesehatan untuk meredakan penyebaran virus. 

Referensi:

United Nation Environment Program. (2020). Preventing the Next Pandemic: Zoonotic Disease and How to Break the Chain of Transmission

Penulis: Siti Aisyah Novitri

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

 

Ketersediaan air bersih adalah salah satu faktor penentu utama kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sejak Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan pertumbuhan populasi, tantangan menyediakan air bersih untuk kehidupan semakin meningkat. Tingginya permintaan akan air bersih juga membuat permintaan akan pengelolaan sumber daya air yang bertanggung jawab menjadi semakin intensif.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak sumber daya air, salah satunya sungai-sungai yang tersebar di nusantara. Secara geografis, Indonesia dibagi menjadi 131 wilayah wilayah sungai dengan lebih dari 5.700 sungai, termasuk bendungan dan kanal-kanal. (ADB, 2016). Dengan demikian, seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk menyediakan air bersih bagi seluruh populasi Indonesia. Dalam artikel sebelumnya, kita juga telah membahas tentang jasa ekosistem sungai yang berpotensi memberikan manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa dekade terakhir dan semakin tingginya laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi membuat sungai-sungai Indonesia menghadapi banyak masalah saat ini. Masalah yang paling mendesak adalah pencemaran air di sungai-sungai yang banyak melalui kawasan industri dan pemukiman warga. Pencemaran sungai ini mempengaruhi kualitas air di sungai kita. Untuk memahami kualitas sungai, kita dapat merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 82/2001 tanggal 14 Desember 2001. Menurut peraturan ini, kualitas air dibagi menjadi 4 kelas, yaitu:

(i) Kelas I, air yang dapat digunakan untuk keperluan minum;

(ii) Kelas II, air yang dapat digunakan untuk rekreasi air, budidaya ikan, irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa;

(iii) Kelas III, air yang dapat digunakan sebagai alat/fasilitas budidaya ikan, irigasi, dan/atau penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas yang serupa dengan manfaatnya; dan

(iv) Kelas IV, air yang hanya dapat digunakan untuk irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa

Asian Development Bank (ADB) melalui Country Water Assessment (2016), melaporkan bahwa kualitas air sungai di Indonesia buruk. Beberapa parameter digunakan untuk menilai kualitas sungai Indonesia seperti ketersediaan oksigen secara kimiawi dan biologis, banyaknya kandungan bakteri fecal coli, dan total banyaknya coliform. ADB melakukan studi terhadap 44 sungai besar di seluruh Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa hanya empat sungai yang memenuhi standar Kelas II sepanjang tahun 2016 (ADB, 2016). Penilaian ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan di Indonesia berada di bawah ancaman serius. Ancaman yang lebih tinggi terutama terjadi di pulau-pulau berpenduduk padat di mana hampir semua sungai besarnya tergolong tercemar berat.

Sebagai pulau utama, Jawa juga merupakan pulau dengan jumlah penduduk terbanyak. Pesatnya pertumbuhan urbanisasi ke pulau Jawa dan kelangkaan tanah untuk pemukiman menarik orang untuk tinggal di dekat sungai. Implikasi dari permukiman padat di dekat sungai adalah semakin banyak sampah rumah tangga dibuang secara sembarangan ke sungai.

Sungai-sungai utama di Jawa seperti Citarum dan Cimanuk di barat, Serang dan Serayu di Jawa tengah, dan Solo dan Brantas di timur (ADB, 2016) hampir semuanya sekarang sedang tercemar. Bahkan salah satunya yaitu Sungai Citarum mendapat predikat sebagai sungai paling tercemar di dunia. Dalam laporan dari Black Smith Institute dan Green Cross Switzerland (2013), Indonesia menerima “kehormatan” yang tidak diinginkan tersebut dalam sebuah laporan yang berisi tempat-tempat yang paling tercemar di dunia.

Biaya dari sungai yang tercemar yang harus ditanggung oleh masyarakat sangat besar seperti berkurangnya sumber daya air bersih, hilangnya potensi jasa ekosistem sungai, dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir bandang. Belum lagi kerusakan ekosistem laut yang juga terdampak polusi sungai yang mengalir ke laut. Beberapa sungai mengalir langsung ke lautan membawa polusi termasuk bahan kimia beracun, limbah rumah tangga, dan polusi plastik. Sebagai akibatnya, lautan juga semakin memburuk dari hari ke hari.

Beberapa upaya sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memulihkan sungai seperti mengeluarkan Keputusan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah-Sampah Laut tahun 2018-2025 dan membentuk satuan tugas (Satgas) untuk membersihkan sungai salah satunya Satgas Citarum Harum. Namun, upaya pemerintah kita ini tidak bisa berjalan sendiri, kita harus mendukung program pemulihan sungai-sungai di Indonesia. Pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat sipil harus berkolaborasi untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan mengedukasi publik tentang sikap yang bertanggung jawab terhadap sungai.

Ditulis oleh: Rio Alfajri

Referensi:

Asian Development Bank. 2016. Indonesia Country Water Assessment. Accessed at 
https://www.adb.org/sites/default/files/ institutional-document/183339/ino-water-assessment.pdf
 at 20th July 2020

Blacksmith Institute. 2013. THE WORLDS WORST 2013: THE TOP TEN TOXIC THREATS. Accessed at
https://www.worstpolluted.org/docs/TopTenT hreats2013.pdf
at 20th July 2020

Government Regulation No. 82/2001 dated 14 December 2001

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan