Monthly Archives: April 2021

Ramadhan Hijau Dimulai Dari Sini

Ramadhan Hijau Dimulai Dari Sini

Generasi Hijau,

April menjadi bulan penuh momentum bagi para pegiat lingkungan. Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, Greeneration Foundation menjalani berbagai kegiatan bersama para mitra untuk menyebarluaskan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Memasuki bulan suci Ramadan, kamu bisa membuka banyak pintu kemenangan dan menebarkan kebaikan. Mari berbagi berkah Ramadan, bersama berdonasi untuk mewujudkan Indonesia yang berkelanjutan.

Ikuti juga kami melalui kanal: InstagramFacebookTwitter,

 Youtube, LinkedIn, dan Website.

Pak Presiden, Tolong Tegakkan Peraturan Persampahan di Indonesia!

Indonesia saat ini sedang mengalami krisis persampahan! Bagaimana tidak, KLHK bahkan mengungkapkan bahwa timbulan sampah secara nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya, dari 64 juta ton di tahun 2019, menjadi 67,8 juta ton di tahun 2020. Data dari KLHK juga menyatakan bahwa 30% dari total jutaan ton sampah tersebut masih belum dikelola dengan baik dan mencemari lingkungan. Mayoritas “pengelolaan” sampah di Indonesia adalah dengan membuangnya ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun faktanya, TPA di Indonesia sudah terancam penuh dua-tiga tahun ke depan. Kalau begini terus, bagaimana mungkin Indonesia bisa mencapai target bebas sampahnya di  tahun 2025?

Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki berbagai landasan hukum dalam mengelola sampah. Namun seperti kebanyakan peraturan di Indonesia, implementasi dari hukum tersebut masih kurang tegas, sehingga penegakkan nya juga sangat jauh dari optimal. Saatnya Indonesia mulai menegakkan peraturan hukum tersebut demi mewujudkan sistem pengolahan sampah yang inklusif dan kolaboratif dengan landasan peraturan persampahan. Mari tunjukkan dukungan Generasi Hijau dalam menegakkan aturan persampahan.

Kembangkan Bisnis dengan Circular Jumpstart

Circular Jumpstart merupakan salah satu rangkaian acara menjelang Main Event Indonesia Circular Economy Forum (ICEF). Circular Jumpstart adalah program inkubasi bisnis yang bertujuan untuk membantu usaha startup yang berkelanjutan dan berprinsip ekonomi sirkular di Indonesia untuk menumbuhkan pasar dan daya saing mereka. Circular Jumpstart hadir sebagai solusi untuk mengurangi dampak kegiatan ekonomi terhadap lingkungan, dengan memberikan bisnis startup kesempatan untuk menampilkan inovasi bisnis mereka kepada calon investor di Main Event ICEF ke-4.

Circular Jumpstart menawarkan program mentoring bisnis, peluang networking dengan investor dan mitra bisnis, dengan hadiah utama berupa dukungan finansial untuk bisnis startup Anda. Kami mencari inovator dari usaha startup dengan prinsip berkelanjutan dan model bisnis sirkular untuk menjadi peserta Circular Jumpstart. Dapatkan kesempatan untuk membuka potensi pengembangan bisnis melalui Model Bisnis Sirkular melalui Circular Jumpstart.

EcoRanger Kurangi Emisi Karbon dengan Membangun Sistem Pengelolaan Sampah

Upaya yang dirintis EcoRanger untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang baik di destinasi wisata Pantai Pulau Merah Banyuwangi akhirnya berbuah manis untuk lingkungan. Program yang dilaksanakan sejak 2019 hingga Maret 2021 mulai dari pengumpulan sampah, mengurangi produksi sampah, dan pengolahan sampah ini berhasil mencegah sampah masuk ke TPA dan mengurangi gas emisi karbon sebanyak 250 metric tons CO2 ekuivalen. Data ini dihitung menggunakan metode EPA WARM Tool Versi 15. Pencapaian ini telah berkontribusi untuk mencegah krisis iklim. Dari 100% emisi transportasi yang menyumbang krisis iklim, EcoRanger berhasil mengurangi 0.01384% emisi yang terlepas ke atmosfer.

Persiapan Edukasi Driving Refill Solution di 3 Lokasi Baru

Setelah mendapatkan total 615 orang penerima manfaat yang berhasil diedukasi melalui program Driving Refill Solution di Quarter 1 (Januari – Maret 2021), pada bulan April ini DRS sedang mempersiapkan rencana edukasi di lokasi selanjutnya. Adapun lokasi selanjutnya yang akan diberikan edukasi yaitu Kelurahan Tebet Barat, Kelurahan Menteng Dalam, dan Kelurahan Kebon Baru. Selain itu, di bulan April ini DRS juga melakukan pendistribusian merchandise kepada Kelurahan Tebet Timur yang sudah selesai diberikan edukasi pada akhir Maret lalu.

Selain itu, dalam mempersiapkan kegiatan edukasi di lokasi selanjutnya, DRS juga kembali memproduksi modul baru. Kali ini, modul yang akan diberikan tidak lagi berupa kalender, namun berupa notebook atau buku catatan kecil yang didesain dengan informasi terkait persampahan. Sembari memproduksi modul dalam bentuk baru tersebut, DRS bekerja sama dengan PT. Vooya Manajemen Eksplorasi membuat sebuah video untuk menceritakan terkait perjalanan program DRS di lapangan.

Perkenalkan, Fitur Gerakan Bebas Sampah ID

Di bulan April ini, Bebas Sampah ID telah meluncurkan dan memperbarui Fitur Gerakan. Fitur Gerakan merupakan wadah kolaborasi melalui kegiatan-kegiatan dalam bentuk yang mendukung Indonesia Bebas Sampah. Keuntungan Fitur Gerakan untuk kamu: (1) kegiatanmu akan ditampilkan di website dan media sosial Bebas Sampah ID dengan lebih dari 9.000+ audiens, (2) Bebas Sampah ID memiliki massa yang sangat berminat dalam isu lingkungan, (3) tidak ada batas waktu take-downnya, (4) gratis, dan (5) kamu akan mendapatkan template e-certificate untuk mengapresiasi semua peserta.

FGD dan Persiapan Edukasi Lapangan Citarum Repair

Setelah melakukan FGD 1, 2, dan 3 Citarum Repair berhasil menyusun modul dan program edukasi lapangan di desa Cipatik dan Cihampelas. FGD yang sebelumnya dilakukan pada bulan Oktober 2020, bulan Februari 2021, dan Bulan Maret 2021 digunakan untuk mengumpulkan data kebutuhan edukasi dari masyarakat. Melalui metode ini diharapkan kegiatan edukasi dapat efektif dan sesuai dengan isu persampahan yang sedang dihadapi masyarakat.

Kegiatan edukasi adalah rangkaian kegiatan Citarum Repair yang bertujuan memberi wawasan kepada masyarakat dalam isu persampahan. Kegiatan ini akan dilaksanakan oleh Dio Armansyah sebagai field officer yang merekrut fasilitator lapangan untuk membantu kegiatan edukasi. Tim Citarum Repair berhasil merekrut tiga fasiliator lapangan yang akan membantu kegiatan edukasi. Saat ini mereka akan menjalani pelatihan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan edukasi lapangan.

Pelaksanaan Kegiatan Virtual Workshop ICCFTE

Kegiatan Virtual Workshop merupakan bagian kegiatan edukasi dari program Indonesian Children Care for The Environment (ICCFTE). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi anak tentang isu sampah makanan dan belajar untuk mengelola sampah makanan dengan cara yang bisa mereka praktikkan sendiri di rumah. Kegiatan ini sendiri  telah berlangsung pada hari Sabtu, 10 April 2021, dengan diikuti sebanyak 120 peserta anak-anak Sekolah Dasar dan didampingi oleh 5 fasilitator yang berasal dari Greeneration Foundation dan Komunitas Bekasi Berkebun.

Di Virtual Workshop ini, anak-anak dikenalkan pada perjalanan makanan dan masalah sampah makanan melalui pemutaran video animasi dan pembacaan buku cerita Bana si Pisang Berjalan-jalan. Selain itu juga anak-anak dikenalkan dengan cara mengolah sampah makanan mereka dan menghasilkan makanannya sendiri, yaitu dengan mengompos dan berkebun. Dengan menggunakan perlengkapan berkebun yang sebelumnya telah dikirimkan ke masing-masing anak, kegiatan berkebun dilakukan bersama-sama. Setelah sama-sama menanam, tidak lupa untuk melakukan kegiatan monitoring tanaman setiap harinya selama dua minggu ke depan.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

6 Alasan Kita Tidak Perlu Beli Baju Lebaran Baru

6 Alasan Kita Tidak Perlu Beli Baju Lebaran Baru

Beberapa dari kita terbiasa membeli baju baru saat Lebaran. Sudah berapa lebaran yang kamu lalui dengan baju baru? Apakah baju itu dipakai lagi, atau… kamu segera bosan?

 

Coba buka lemarimu. Lihat tumpukan bajumu dan pikirkan kembali: kapan terakhir kali kamu pakai baju itu? Mungkin sudah waktunya melepaskan beberapa potong kain.

 

Dua minggu menuju Idulfitri, di saat banyak orang sibuk membeli baju lebaran, ada baiknya kamu menggunakan kesempatan ini untuk mengaudit lemari. Pisahkan pakaian yang masih sering kamu pakai, dan sisihkan yang sudah lama mengendap di lemari. Jika ada yang rusak dan masih mau kamu perbaiki, segerakan agar kamu tidak lupa.

Abaya di tahun lalu dapat dipakai lagi di Hari Raya tahun ini. (Sumber: Pamela Joe McFarlane/iStockphoto)

 

Apa sih pentingnya kita menggunakan kembali baju lama? Mengapa tidak beli yang baru saja? Lebih praktis, tidak perlu beres-beres, dan mengikuti tren. Eits, Generasi Hijau, coba pikir ulang. Dilansir dari Go Green Drop, berikut enam alasan penting mengapa beli baju baru merupakan opsi terakhir.

Mengurangi angka limbah tekstil

Mendaur ulang bahan kain tidak semudah mendaur ulang plastik. Energi yang dibutuhkan lebih besar dan emisi yang dikeluarkan lebih banyak. Salah satu cara paling tepat untuk transisi dari mendaur ulang ke menggunakan kembali ialah dengan mengerti dampak yang dihasilkan sejak awal.

Mengurangi gas penyebab efek rumah kaca

Kain yang terbuat dari kapas harusnya dapat dikompos. Meski begitu, kebanyakan orang yang membuang kain akan membuatnya berakhir di TPA, di tempat yang kekurangan oksigen dan material organik untuk bantu memecahnya jadi kompos. Minimnya oksigen akan membuat limbah tekstil tersebut terurai melalui proses degradasi anaerob yang menghasilkan gas metana. Metana dapat terperangkap di atmosfer kita dan berbahaya bagi keseimbangan gas di lapisan ozon.

Mencegah sampah masuk TPA

Tahukah Generasi Hijau, TPA Bantar Gebang disinyalir akan penuh di tahun 2030. Jika kita menggunakan kembali pakaian kita atau memperbaiki yang rusak, kita mencegah limbah kain kita ke TPA. Dengan begitu, kita turut membantu mengurangi pasokan sampah baru di TPA. 

Mengurangi konsumerisme

Beberapa tahun belakangan, topik hidup minimalis mulai marak diperbincangkan. Orang mulai sadar bahwa mengurangi barang dan konsumsi justru membawa lebih banyak perasaan lega, senang dan puas. Termasuk juga dengan pakaian. Pasti kamu juga merasakan, banyak pakaian yang menumpuk di lemari malah rasanya penat. Ketika kita mengurangi pembelanjaan kita, selain rasanya hemat uang dan hemat tempat, kita membawa dampak personal bagi limbah kain secara keseluruhan.

 

Sunting lemari bajumu, lihat baju yang masih bagus dan cocok dipakai di lebaran tahun ini. (Sumber: ztj/Pinterest)

Hemat energi

Proses produksi fast fashion membutuhkan energi tinggi. Tiap potong pakaian yang kamu punya telah melalui proses manufaktur kompleks yang membutuhkan banyak listrik, air, dan sumber energi lainnya. Menggunakan kembali atau memperbaiki pakaianmu yang rusak dapat menghemat energi dengan mengeliminasi kemungkinan pembuatan produk dari awal. Sama seperti ketika kamu beli baju bekas atau thrifting, kamu berkontribusi mengurangi volume fast fashion.

Praktis

Alasan paling penting untuk menggunakan kembali pakaian lama kita ialah karena cara ini paling praktis dibanding yang lain. Membeli baju baru butuh usaha pergi ke toko, berjalan-jalan hingga dapat baju yang pas, belum lagi berdesakan dengan banyak orang di tengah pandemi seperti ini membuatmu jadi punya risiko tinggi. Ditambah lagi ketika puasa Ramadan, akan sangat mungkin kamu dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh.

 

Ketika Idulfitri datang, sudah menjadi tradisi di banyak negara untuk membeli baju baru. Mungkin memang menyenangkan untuk anak-anak punya baju baru di Hari Raya, namun diharapkan kita yang sudah dewasa sudah hidup lebih sadar lingkungan dan memilih untuk menggunakan pakaian lama. Selain menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, menggunakan baju lama yang masih bagus berarti kita dapat menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Idulfitri identik dengan berkah dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga, sehingga pakaian kita tidak jadi penentu kebahagiaan untuk merayakan lebaran.

 

Ditulis oleh Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Mers, T. (2020, March 4). 7 Important Reasons to Recycle Your Clothes. Retrieved from Go Green Drop: https://www.gogreendrop.com/blog/7-important-reasons-to-recycle-your-clothes/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

Di negara dengan mayoritas Muslim, Ramadan menjadi momen di mana konsumsi justru meningkat di bulan menahan hawa nafsu. Tidak hanya di negara dengan pendapatan tinggi seperti Uni Emirat Arab atau Qatar, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia sendiri, meningkatnya konsumsi dan belanja didorong oleh tradisi kita saat berpuasa dan lebaran Idulfitri. Salah satunya, anggapan untuk memakai baju baru saat lebaran, tradisi mudik, makan bersama dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

 

Makna utama Ramadan ialah untuk mensucikan diri, merawat jiwa raga dan orang sekitar kita. Puasa di bulan Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu lainnya seperti keinginan belanja. Akan jadi kesempatan emas bagi umat Muslim khususnya di Indonesia untuk mempertimbangkan beralih ke hidup yang lebih mindful dan sadar lingkungan. 

 

Tanggal 22 April lalu, kita merayakan Hari Bumi. Bertepatan dengan bulan Ramadan dan momentum untuk menekan pengeluaran, kita juga bisa menyelamatkan bumi, menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, sembari menghemat THR. Gaya hidup sadar lingkungan ini dapat membantu kita mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengusahakan penghematan sumber daya alam, kita juga mengimplementasikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

 

Di bulan Ramadan ini, bukan tidak mungkin untuk Generasi Hijau meredam pengeluaran dan memanfaatkan apa yang kita punya. Yuk, cek tips berikut untuk tahu bagaimana memulai menahan diri untuk belanja!

Cek kembali lemari bajumu

Audit pakaian di lemari agar tidak menumpuk. (Sumber: Pinterest)

Apakah kamu tipe orang yang bosanan? Sekali beli baju, hanya dua-tiga kali pakai, bosan dan lupakan. Jika iya, pasti ada banyak baju yang kamu lupa ada di lemarimu. Di waktu dua minggu sebelum lebaran seperti sekarang, kamu bisa menggunakan waktu luang untuk audit pakaian. Periksa kembali pakaian lama yang masih bagus, mix n’ match dengan baju lainnya. Hasil kurasi pakaianmu dapat jadi baju hari raya yang tak kalah ciamik dengan baju baru!

Jangan tergiur diskon

Diskon hari raya memang beragam dan ada di mana-mana. Tetap utamakan prioritasmu lebih dulu, ya. (Sumber: dok. Agung Rahmat P)

Dalam rangka Ramadan dan lebaran, aktivitas ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Di tahun kedua pandemi, aktivitas ekonomi di tahun 2021 ini meningkat dan lebih baik dibanding tahun 2020. Momen ini dimanfaatkan industri ritel untuk memberi diskon besar-besaran. Diskon memang sangat membantu kita untuk meredam pengeluaran, namun akan beda jadinya apabila kita tergiur terlalu banyak barang, membeli yang tidak kita butuhkan dan malah jadi tidak digunakan.

 

Untuk menghindari kalap belanja, cek daftar barang diskon, dan tentukan mana yang benar kamu butuhkan. Jika kamu beli barang dengan tanggal kadaluarsa seperti makanan dan minuman, jangan lupa dihabiskan agar mencegah limbah makanan. Jangan langsung membeli karena ada diskon, apalagi untuk barang-barang non-kebutuhan. Percayalah diskon itu tidak lari meski dikejar.

 

Mindful Eating

Setelah seharian 12 jam berpuasa, ada kalanya nafsu makan kita meningkat saat berbuka. Rasanya ingin menyantap beragam hidangan yang tersedia di meja. Gorengan, es buah, bubur sumsum, yang mana dulu, ya?

Perut kita yang kosong selama berpuasa, kaget ketika diisi beragam makanan dalam waktu singkat. Akhirnya begah, kekenyangan, dan tidak dapat menghabiskan semuanya. Padahal sudah banyak camilan yang dibeli. Inilah salah satu alasan mengapa limbah makanan justru meningkat di bulan Ramadan. Hidangan berbuka yang sudah dibeli ternyata terlampau banyak untuk dihabiskan, akhirnya jadi terbuang.

 

Tahun ini, mari kita praktikkan konsep mindfulness dalam menyantap makanan. Untuk menghindari lapar mata, kamu bisa mulai dengan memasak sendiri makanan berbuka. Dengan memperkirakan porsi sendiri dan orang di rumah, tidak perlu ada makanan terbuang. Selain itu, coba untuk pahami makanan yang ada di hadapanmu. Pikirkan perjalanannya hingga sampai ada di piringmu. Dari biji, ditanam petani hingga berbulan-bulan, setelah dipanen perlu melalui proses distribusi antarkota dan antarprovinsi hingga sampai ke pedagang di pasar, kamu beli, dan baru dapat diolah menjadi pangan lezat. Inderakan semua rasa makanannya ketika masuk mulut. Jadilah lebih atentif pada rasa, tekstur, dan aromanya. Ambil potongan kecil-kecil dan makan dengan perlahan. Dengan begitu, kamu bisa lebih menghargai makananmu.

 

Sikap mindfulness akan sangat esensial ketika Generasi Hijau sedang mempraktikkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mari kita jadikan momentum Ramadan untuk usahakan memulainya. Semoga dapat konsisten hingga Ramadan berakhir, ya!

 

Oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Sudah memasuki bulan Ramadan lagi nih, Generasi Hijau! Pasti kita akan lebih sibuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur. Apakah kamu atau orang di rumahmu masak? Atau kamu memilih beli agar lebih praktis? Yang manapun itu, pastikan tidak ada makanan yang terbuang, ya.

 

Ramadan seharusnya menjadi bulan di mana kita menahan hawa nafsu. Bukan hanya lapar dan haus, namun juga menahan keinginan untuk membeli barang yang tidak kita perlukan, termasuk makanan. Tahukah Generasi Hijau, ironisnya justru di bulan Ramadan sampah makanan meningkat? Pada hari selain Ramadan saja, Food and Agriculture Organization dari PBB mencatat, setiap penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 300 kg sampah makanan tiap tahunnya. Dikutip dari Malay Mail, angka ini meningkat 20-30% pada bulan Ramadan di negara mayoritas Muslim.

 

Sampah makanan yang terhitung tersebut bukan hanya pangan jadi, namun juga limbah makanan dari hasil proses memasak. Sayuran yang cenderung murah membuat kita kadang menyia-nyiakannya dengan langsung membuang sisa masakan ke tempat sampah atau komposter. Padahal, banyak sisa sayuran yang dapat kita tanam kembali (regrow). Uang yang kita gunakan untuk beli kebutuhan dapur dapat ditukar dengan waktu yang dibutuhkan dan kesabaran kita menunggu tanaman kita tumbuh.

Tanam sisa sayur

Untuk kita yang tinggal di apartemen atau rumah tanpa halaman, rasanya kadang iri dengan mereka yang bisa memasak dari kebun sendiri, ya. Sebenarnya, dengan memanfaatkan sedikit wadah dan beberapa ruang dekat jendela untuk sinar matahari, kita juga bisa urban farming di unit apartemen kita! Berikut beberapa sayuran yang dapat ditanam ulang dengan media yang tidak makan tempat.

Sawi, pakcoy dan selada

Tiga sayuran ini pasti meninggalkan bonggol yang tidak kita makan. Jangan buru-buru dikompos, bonggolnya dapat menumbuhkan sayur lagi untuk nanti kita panen. Letakkan 5 cm bonggol sayuran tersebut di wadah berisi air, jangan sampai tenggelam. Simpan di tempat yang terkena sinar matahari. Setelah 3 hari, tunasnya akan mulai terlihat. Pindahkan ke pot setelah 7 hari.

Menanam selada dari bonggolnya. (Sumber: Heather Buckner/Gardener’s Path)

Serai

Letakkan ujung batang serai di air, pastikan wadahnya memungkinkan batangnya berdiri. Ganti airnya setiap hari untuk mencegahnya berlumut. Dalam seminggu, kamu akan punya suplai serai tanpa perlu beli lagi. Jangan lupa pindahkan serai ke tanah setelah tumbuh sekitar 5cm. Ketika dibutuhkan, gunting saja lalu biarkan tumbuh lagi.

 

3. Mengambil peluang untuk negara berkembang

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs). Di Indonesia, konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menciptakan lapangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta pengelolaan sumber daya yang efisien dan mempertimbangkan kesejahteraan pekerjanya.

Daun bawang, bawang bombay, bawang putih dan merah

Bawang-bawangan ialah sayuran yang paling mudah ditanam kembali. Perawatannya juga tidak sulit. Kubur saja ujung bawang di dalam tanah, dalam waktu 4 hari akan mulai terlihat tunasnya. Pastikan masih ada ‘mata’ tempat akarnya tumbuh, ya. Untuk daun bawang, kamu tinggal letakkan ujung daunnya di air seperti hendak menanam serai. Lebih mudah lagi jika kamu punya daun bawang yang masih ada akarnya.

Daun bawang dalam gelas. (Sumber: The Gardening Cook/Pinterest)

Rosemary, thyme, basil, dan cilantro

Dedaunan herbal yang bukan asli Indonesia ini biasanya jarang ditemukan di pasar tradisional. Untuk mendapatkannya perlu pemasok khusus, atau kita dapat beli di supermarket di pusat belanja. Karena aksesnya agak sulit dibanding sayuran lainnya, akan lebih mudah kalau kita beli satu kali dan tanam sendiri.

Herbal Mediterania sekarang bisa kita nikmati di dapur sendiri. (Sumber: Kirsten Boehmer)

Sisakan sekitar 5 cm batang dan daun. Letakkan di air, ganti airnya setiap hari. Tunggu hingga akarnya tumbuh dan bisa dipindahkan ke pot.

Tanam kembali buahmu

Ketika beli buah, rasanya agak sayang kalau kita langsung buang bijinya ya. Yuk, manfaatkan sisa biji buah untuk tanam tumbuhan baru.

Stroberi dan tomat

Tahukah Generasi Hijau, bintik kecil stroberi yang turut kita makan ialah bijinya? Sementara biji tomat yang terkandung dalam satu buah dapat mencapai 150-300 biji.  Untuk memanfaatkan bijinya, iris kecil stroberi dan tomat, letakkan dalam pot yang sudah diisi tanah. Tutup dengan tanah lagi di atasnya. Pastikan tanahnya selalu lembab dan letakkan di tempat yang hangat. Dalam waktu dua minggu, akan tumbuh tunas baru.

Simpan tomat di pot, lalu tutup lagi dengan tanah. (Sumber: Shirley E/Thrifty Fun)

Alpukat

Buah ini butuh waktu lebih banyak dibanding sayuran dan herbal yang tadi sudah disebutkan, jadi kamu butuh kesabaran penuh ya. Bersihkan biji buah alpukat, lalu keringkan. Tusukkan tiga buah tusuk gigi mengelilingi alpukat seperti gambar di bawah. Tusukan harus berbentuk melingkar di garis lurus, dan agak serong ke bawah Tusuk gigi ini gunanya untuk menyangga biji di wadah air.

Alpukat berusia satu bulan. (Sumber: Ingrid HS/Getty Images)

Simpan biji alpukat di wadah air. Bagian atas yang bentuknya lebih lonjong adalah tempat tumbuh tunasnya, dan bagian bawah tempat tumbuh akar yang bentuknya sedikit lebih datar dibanding yang atas. Pastikan seperempat bagian biji alpukat terendam air. Generasi Hijau bisa menuangkan satu sendok gula pasir ke dalam air untuk menambah nutrisi pertumbuhan tunas dan akar alpukat. Kemudian, letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Jangan lupa ganti airnya setiap lima hari sekali.

 

Di hari ke-45, akarnya akan terlihat rimbun dan batangnya sudah tinggi. Potong batang sekitar 7 cm untuk merangsang pertumbuhannya. Ketika batangnya sudah menghasilkan daun cukup banyak, pindahkan ke tanah. 

Nanas

Putar daun mahkota nanas untuk memisahkan daun dan buahnya. Kupas beberapa daun di bawahnya untuk membuka batang. Balik dan biarkan mengering selama seminggu.

 

Setelah batang nanas mengering, siapkan empat tusuk gigi dan wadah air yang mulutnya cukup lebar. Tusuk batangnya seperti hendak menanam biji alpukat tadi. Rendam batangnya, dan letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Hindari suhu ekstrem di sekitar tunas nanas, pastikan tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

 

Ganti airnya setiap lima hari sekali. Pertumbuhan akar nanas akan memakan waktu hingga satu bulan, jadi kamu harus lebih sabar lagi dibanding ketika tanam alpukat ya. Ketika akarnya sudah cukup panjang, pindahkan dalam pot.

Jeruk, apel, ceri, pir dan kiwi

Biji di buah-buahan ini dapat langsung kita pisahkan dari daging buahnya. Keringkan dulu, lalu langsung kubur di pot. Untuk mempercepat pertumbuhan tunasnya, Generasi Hijau dapat membuat rumah kaca DIY dengan botol plastik bekas seperti di bawah ini.

(Sumber: Hanna/Tracks of Foxes)

Selain membantu mengurangi sampah makanan, Generasi Hijau juga punya persediaan bahan makanan dari kebun sendiri. Minim sampah dan minim pengeluaran, pasti menyenangkan, ya!

Referensi

H, D. (2018, February 6). 10 VEGETABLES YOU CAN REGROW FROM SCRAP. Retrieved from SPUD Vancouver: https://about.spud.com/blog-regrowing-vegetables-from-scrap/

 

Will, M. J. (2020, November 21). 39 Vegetables, Fruits, and Herbs to Regrow from Scraps. Retrieved from Empress of Dirt: https://empressofdirt.net/regrow-vegetable-scraps/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Mengenal Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Mengenal Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

SDGs 12: konsumsi dan produksi berkelanjutan (Source: ISGlobal)

 

Jika Generasi Hijau rutin mengunjungi blog ini, pasti sering menjumpai istilah ‘konsumsi dan produksi berkelanjutan’ atau ‘sustainable consumption and production (SCP)’. Sebenarnya, apa itu konsumsi dan produksi berkelanjutan, dan mengapa akan selalu berkaitan dengan gaya hidup ramah lingkungan?

 

Apa itu konsumsi dan produksi berkelanjutan?

Menurut definisi dari Simposium Oslo tahun 1994, konsumsi dan produksi berkelanjutan merujuk pada penggunaan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan dasar dan membawa kualitas hidup lebih baik sembari meminimalisasi penggunaan sumber daya alam, material beracun, emisi gas dan polutan dalam siklus hidup produk dan jasa tersebut. Dengan begitu, kita tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang.

 

Singkatnya, pola konsumsi dan produksi berkelanjutan ialah aksi melakukan lebih banyak hal berdampak baik untuk lingkungan dengan sumber daya minimal. Selain itu, pola ini juga menjadi acuan untuk memisahkan pertumbuhan ekonomi dengan degradasi lingkungan, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mempromosikan gaya hidup berkelanjutan.

 

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan perubahan sistemik. Untuk mewujudkannya, diperlukan pendekatan holistik. Terdapat tiga sasaran untuk mewujudkannya:

1. Memisahkan degradasi lingkungan dari pertumbuhan ekonomi

Pola ini ditujukan untuk melakukan banyak hal lebih produktif dengan meminimalkan sumber daya, meningkatkan keuntungan bersih dari aktivitas ekonomi dengan mengurangi emisi dan polusi bersamaan dengan meningkatkan kualitas hidup.

2. Menerapkan pola pikir melingkar

Seperti tujuannya, pola ini menekankan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan mencapai efisiensi dalam tahap konsumsi dan produksinya. Di dalamnya termasuk ekstraksi sumber daya, produksi tahap menengah, distribusi, penjualan, penggunaan, pembuangan limbah dan guna ulang produk serta servisnya.

 

3. Mengambil peluang untuk negara berkembang

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs). Di Indonesia, konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menciptakan lapangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta pengelolaan sumber daya yang efisien dan mempertimbangkan kesejahteraan pekerjanya.

Mengapa kita perlu konsumsi dan produksi berkelanjutan?

Saat ini, kita mengkonsumsi dan mengeksploitasi sumber daya hingga melampaui kapasitas bumi. Sumber daya dikeruk terus menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang untuk generasi mendatang. Polusi dan sampah makin menumpuk, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin makin melebar. Kerugiannya juga dirasakan di sektor kesehatan dan pendidikan serta berdampak buruk pada kesetaraan dan pemberdayaan masyarakat.

Warga Jakarta yang memenuhi Pasar Tanah Abang. (Sumber: Indonesia Economic Forum)

Kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat jauh jaraknya. Masih ada 1,2 miliar orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di satu sisi yang kaya ingin lebih, dan yang miskin makin bahkan tidak sanggup memenuhi kebutuhan dasarnya. Selain itu, jangan lupakan bahwa manusia tinggal di bumi ini tidak sendiri. Kita berbagi tempat dengan hewan dan tumbuhan yang punya hak hidup sama seperti manusia.

 

Tahun 1820, diperkirakan terdapat 1,042 miliar manusia. Satu abad kemudian di tahun 1920, populasi manusia diperkirakan bertambah menjadi 1,86 miliar. 100 tahun kemudian di tahun 2020, umat manusia membludak menjadi tujuh kali lipatnya, yaitu 7,7 miliar. Angka ini mungkin tidak terlihat signifikan hingga kita pertimbangkan fakta bahwa semua orang butuh lahan tempat tinggal, air bersih dan makanan. Bumi yang lahannya makin sempit dan manusia yang makin banyak membuat pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan menjadi hal krusial.

 

Pola konsumsi dan produksi yang umum diterapkan sekarang masih bermasalah karena kita hanya punya satu planet dengan sumber daya terbatas. Jika kita terus mengeksploitasinya dengan rakus seperti sekarang, suatu saat nanti bumi tidak akan bisa menyediakan kebutuhan kita.

Implementasi di kehidupan sehari-hari

Demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan pembangunan berkelanjutan, kita perlu mengurangi jejak karbon kita dengan mengubah pola konsumsi dan produksi kita. Saat ini, sektor pertanian menjadi konsumen air paling banyak, dan irigasi mengambil sekitar 70 persen penggunaan air bersih.

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan mendukung ekonomi melingkar. (Sumber: UNEP)

 

Pengelolaan sumber daya dan limbah merupakan target penting untuk mencapai tujuan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mendesak bisnis dan industri untuk mendaur ulang sampahnya dapat menjadi langkah yang besar untuk mewujudkan SDGs nomor 12 ini.

 

Konsumsi dan produksi berkelanjutan ialah awal mula transisi menuju ekonomi hijau yang menghasilkan ekonomi rendah karbon. Untuk mencapainya, konsumsi dan produksi berkelanjutan butuh membangun kerja sama multipihak dan lintas sektor di tiap negara.

 

Wah, kedengarannya agak tidak mungkin kita lakukan di rumah sendiri ya, Generasi Hijau? Faktanya, pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat kita terapkan dari skala paling kecil, yaitu di rumah tangga. Kamu juga bisa mengajak keluarga dan teman-teman untuk ikut menerapkannya.

 

Generasi Hijau dapat menerapkan gaya hidup minim sampah, mengompos, serta dengan memperpanjang usia pakai barang. Dalam penerapannya, kamu bisa memulai dengan berbelanja ke bulk store, memperbaiki barang yang rusak dibanding membeli baru, atau beli barang bekas yang masih bagus.

 

Sekarang, bayangkan jika semua itu dilakukan banyak orang. Semua dapat berdampak luas jika dilakukan secara kolektif. Seiring berjalannya waktu, produsen mungkin akan memertimbangkan untuk menjual produknya tanpa kemasan. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat dapat berkontribusi mewujudkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Referensi

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Greeneration Foundation Menyalurkan Paket Bantuan di Tengah Keterbatasan

Greeneration Foundation Menyalurkan Paket Bantuan di Tengah Keterbatasan

Setelah sepuluh hari yang panjang, Greeneration Foundation beserta sepuluh mitra lokal lainnya berhasil mengirim paket bantuan bagi 1.000 pemulung dan petugas persampahan. Diiringi ucapan terima kasih dan senyum dari para petugas persampahan, agenda yang didukung World Economic Forum (WEF) dan Global Plastic Action Partnership (GPAP) ini akhirnya usai. Meski begitu, penyaluran ini bukannya tanpa hambatan.

Menurut Maudy Dwi Lestari selaku penanggung jawab kegiatan dari Greeneration Foundation, terdapat beberapa kendala di periode penyaluran bantuan. Di beberapa lokasi titik penyaluran yang bukan merupakan kota besar, barang donasi datang terlambat dari hari yang ditentukan. Hal ini dikarenakan jasa pengiriman barang sulit menjangkau lokasi, sehingga memakan waktu yang lebih lama dari yang lainnya. Barang yang datang setelah kegiatan penyaluran, disiasati oleh mitra lokal dengan melaksanakan penyaluran susulan untuk menyebarkan paket donasi yang datang belakangan.

Selain terlambatnya kedatangan paket donasi, kendala juga dihadapi saat penyusunan paket. “Saat mendekati jadwal penyaluran, beberapa mitra mengkonfirmasi untuk memundurkan jadwal penyaluran karena keterbatasan panitia sehingga belum rampung menyusun paket bantuan. Namun kendala ini pun dapat ditoleransi karena jadwal terbarunya tidak melebihi jadwal yang sudah ditentukan,” tutur Maudy.

Karena keterbatasan jarak, Greeneration Foundation tidak selalu dapat menghadiri proses penyaluran. Dari 10 titik wilayah, hanya penyaluran di Kab. Bandung Barat bersama komunitas Bersama Bermanfaat yang dapat diiringi kehadiran tim Greeneration Foundation. Sembilan titik penyaluran lainnya dihubungkan dengan Instagram live agar dapat disaksikan bersama. Namun beberapa live penyaluran tidak dapat terlaksana karena sinyal di lokasi penyaluran yang kurang baik. Terhambatnya kegiatan live penyaluran ini masih bisa digantikan dengan dokumentasi video yang dikirimkan oleh mitra lokal.

Kab. Bandung Barat menjadi satu dari sepuluh titik wilayah yang disambangi Greeneration Foundation dengan mitra lokal untuk penyaluran bantuan. Sembilan titik wilayah lainnya adalah Kabupaten Malang dengan mitra lokal TPST 3R Mulyoagung, Kota Malang dengan Garda Pangan, Kota Surabaya dengan Garda Pangan, Banyuwangi dengan Eco Ranger, Kabupaten Gianyar di Bali dengan Griya Luhu, Banjarmasin dengan Forum Komunitas Hijau (FKH) dan Perkumpulan Hijau Daun (PHD) Kota Banjarmasin, Balikpapan dengan PPMI Balikpapan, Kota Kendari dengan Pepelingasih Indonesia, dan Pekanbaru dengan Pepelingasih Riau.

Adapun paket bantuan yang diberikan terdiri dari Alat Pelindung Diri (APD), sembako, dan alat kebersihan (hygiene kit). Selain itu, kami juga memberikan modul edukasi COVID-19 sebagai media sosialisasi mengenai upaya pencegahan COVID-19 yang bisa dilakukan oleh pemulung dan petugas persampahan. Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan penyaluran dan sosialisasi ini dibantu oleh mitra lokal melalui metode door to door dan physical distancing. Kegiatan ini tentunya dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Kegiatan sosialisasi pencegahan Covid-19 di Balikpapan. (Sumber: dok. PPMI Balikpapan)

Di Pasar Pandan Sari, Balikpapan, penyaluran bantuan dan sosialisasi pencegahan Covid-19 yang dilakukan PPMI Kota Balikpapan mendapat sambutan baik oleh penerima manfaat. Menurut Ernawati dan Saminah selaku petugas persampahan di Pasar Pandan Sari, bantuan ini sangat bermanfaat untuk menyokong tugas sehari-hari. “Adanya penyaluran donasi ini sangat membantu, kita ‘kan butuh untuk kegiatan sehari-hari. Kami sangat berterima kasih kepada Greeneration Foundation dan WEF atas bantuan seperti ini,” ujar Ernawati.

Di Pasar Pandan Sari, Balikpapan, penyaluran bantuan dan sosialisasi pencegahan Covid-19 yang dilakukan PPMI Kota Balikpapan mendapat sambutan baik oleh penerima manfaat. Menurut Ernawati dan Saminah selaku petugas persampahan di Pasar Pandan Sari, bantuan ini sangat bermanfaat untuk menyokong tugas sehari-hari. “Adanya penyaluran donasi ini sangat membantu, kita ‘kan butuh untuk kegiatan sehari-hari. Kami sangat berterima kasih kepada Greeneration Foundation dan WEF atas bantuan seperti ini,” ujar Ernawati.

Nyatanya, pandemi bukan jadi halangan untuk kita tetap menyebarkan kebaikan. Penyaluran paket bantuan tetap terlaksana kendati mengalami beragam kendala. Dari rangkaian kegiatan penyaluran donasi, kendala yang dihadapi menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus menyempurnakan kekurangan yang ada.

Kami selalu percaya bahwa dengan kekuatan kolaborasi, kita bisa melalui kesulitan di tengah pandemi ini bersama-sama. Semoga paket bantuan dan sosialisasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi para penerima manfaat. Generasi Hijau juga bisa membantu meringankan pekerjaan pemulung dan petugas persampahan dengan menggunakan masker guna ulang dan memilah sampah di rumah.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Di Tengah Pandemi, Greeneration Foundation Kembali Berhasil Menyalurkan Paket Bantuan ke 1000 Pemulung dan Petugas Persampahan

Di Tengah Pandemi, Greeneration Foundation Kembali Berhasil Menyalurkan Paket Bantuan ke 1000 Pemulung dan Petugas Persampahan

Penyerahan paket bantuan di Banjarmasin, 28 Maret 2021. (Sumber: dok. FKH & PHD Banjarmasin)

Kelokan jalan berkerikil semakin mendaki, bersamaan dengan temperatur yang semakin menurun. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh, namun rombongan tim Greeneration Foundation dan komunitas Bersama Bermanfaat telah bertolak meninggalkan Kota Bandung menuju Lembang yang menggigil. Mendekati destinasi, jalan yang dilalui menyempit melewati pemukiman dan perkebunan, hingga terlihatlah, dari kejauhan, sebuah kubah kekuningan.

Destinasi mereka Sabtu (27/3) itu adalah Imah Noong, sebuah kampung edukasi wisata astronomi yang terletak di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Namun, kunjungan mereka kali ini bertujuan bukan untuk mengobservasi benda langit, melainkan untuk menyalurkan paket bantuan COVID-19.

Ya, 2020 telah berlalu, tapi pandemi COVID-19 di Indonesia masih belum berakhir. Tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan perekonomian, pandemi ini juga telah memberikan dampak yang nyata terhadap sektor persampahan. Meningkatnya sampah infeksius yang bercampur dengan sampah rumah tangga di TPA membuat nasib pemulung dan petugas persampahan menjadi semakin rentan terpapar virus.

Dalam menanggapi permasalahan tersebut, Greeneration Foundation berusaha untuk memberikan paket bantuan kepada pemulung dan petugas persampahan di berbagai titik wilayah di Indonesia melalui upaya penggalangan dana dan sponsor. Tahun ini, Greeneration Foundation mendapatkan dukungan dari World Economic Forum (WEF) dan Global Plastic Action Partnership (GPAP).

Paket bantuan yang diberikan terdiri dari Alat Pelindung Diri (APD), sembako, dan alat kebersihan (hygiene kit). Selain itu, kami juga memberikan modul edukasi COVID-19 sebagai media sosialisasi mengenai upaya pencegahan COVID-19 yang bisa dilakukan oleh pemulung dan petugas persampahan. Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan penyaluran dan sosialisasi ini dibantu oleh mitra lokal melalui metode door to door dan physical distancing. Kegiatan ini tentunya dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Kegiatan sosialisasi pencegahan COVID-19 di Bandung Barat, 27 Maret 2021. (Sumber: dok. Greeneration Foundation)

Di Bandung, program penyaluran bantuan dan sosialisasi ini disambut baik oleh para penerima manfaat. Para pemulung dan petugas persampahan datang ke Imah Noong tepat waktu. Mereka mencuci tangan di pintu masuk, menerima paket bantuan, lalu duduk di kursi yang telah disusun dengan jarak 2 meter. Acara pun dimulai dengan adanya sambutan serta edukasi tentang risiko COVID-19 dan cara menanganinya.

“Acara dan bantuan yang diberikan sangat bermanfaat untuk saya, semoga ilmu yang didapatkan tentang COVID-19 bisa saya terapkan. Terima kasih Greeneration Foundation dan WEF,” tutur Ibu Yeti, salah satu penerima manfaat dalam kegiatan penyaluran paket bantuan.

Sumardi selaku buruh tani dan petugas kebersihan juga menyambut baik kegiatan penyaluran paket bantuan ini. “Bantuan yang diterima sangat bermanfaat untuk saya, alhamdulillah. Terima kasih kepada Greeneration Foundation dan juga WEF untuk bantuannya. Semoga kegiatannya lancar selalu,” tuturnya.

Jawa Barat menjadi satu dari sepuluh titik wilayah yang disambangi Greeneration Foundation dengan mitra lokal untuk penyaluran bantuan. Sembilan titik wilayah lainnya adalah Kabupaten Malang dengan mitra lokal TPST 3R Mulyoagung, Kota Malang dengan Garda Pangan, Kota Surabaya dengan Garda Pangan, Banyuwangi dengan Eco Ranger, Kabupaten Gianyar di Bali dengan Griya Luhu, Banjarmasin dengan Forum Komunitas Hijau (FKH) dan Perkumpulan Hijau Daun (PHD) Kota Banjarmasin, Balikpapan dengan PPMI Balikpapan, Kota Kendari dengan Pepelingasih Indonesia, dan Pekanbaru dengan Pepelingasih Riau.

Kami selalu percaya bahwa dengan kekuatan kolaborasi, kita bisa melalui kesulitan di tengah pandemi ini bersama-sama. Semoga paket bantuan dan sosialisasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi para penerima manfaat. Generasi Hijau juga bisa membantu meringankan pekerjaan pemulung dan petugas persampahan dengan menggunakan masker guna ulang dan memilah sampah di rumah.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Greeneration Foundation Kembali Menyalurkan Paket Bantuan Bagi 1000 Pemulung

Greeneration Foundation Kembali Menyalurkan Paket Bantuan Bagi 1000 Pemulung

Penyaluran paket bantuan ke penerima manfaat di Kendari, Sulawesi Utara

Setelah sukses menyalurkan bantuan pada 7.127 pemulung dan petugas persampahan di 27 provinsi di Indonesia tahun lalu, Greeneration Foundation kembali mengadakan program “Bantu Pemulung dan Petugas Persampahan Aman dari COVID-19” tahun ini. Kini, Greeneration Foundation mendapat dukungan dari World Economic Forum (WEF) dan Global Plastic Action Partnership (GPAP) untuk menyalurkan paket bantuan ke 10 titik wilayah di Indonesia, dalam periode Maret-April 2021. Kegiatan ini akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk memastikan keamanan tiap peserta.

Persiapan dan pelaksanaan kegiatan ini akan didukung oleh mitra lokal Greeneration Foundation, dengan target penyaluran hingga 1.000 pemulung. Adapun 10 titik wilayah penyaluran yang menjadi target dalam program ini beserta mitra lokal kami ialah:

  1. Kab. Bandung Barat – Bermanfaat Bersama
  2. Kab. Malang – TPST 3R Mulyoagung
  3. Kota Malang – Garda Pangan
  4. Kota Surabaya – Garda Pangan
  5. Banyuwangi – Eco Ranger
  6. Kab. Gianyar, Bali – Griya Luhu
  7. Banjarmasin – Forum Komunitas Hijau (FKH) dan Perkumpulan Hijau Daun (PHD) Kota Banjarmasin
  8. Balikpapan – PPMI Balikpapan
  9. Kota Kendari – Pepelingasih Indonesia
  10. Pekanbaru – Pepelingasih Riau

Sementara Paket bantuan yang disalurkan dalam program ini diantaranya berupa:

  • Paket Sembako, yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula, teh, biskuit dan mie instan.
  • Alat Pelindung Diri (APD), yang terdiri dari masker guna ulang, sarung tangan, topi, dan sepatu boot.
  • Hygiene Kit, yang terdiri dari sabun cuci tangan dan hand sanitizer
  • Modul Edukasi Pencegahan Covid-19 yang disunting oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Paket bantuan tersebut akan dibantu disalurkan oleh mitra lokal. Pada penyaluran ini mitra lokal membantu kami mulai dari proses persiapan, pendataan menerima manfaat, pembelian beberapa paket bantuan, pengemasan paket bantuan, penyaluran dan edukasi, hingga proses pelaporan.

Dalam proses penyaluran kami menggunakan 2 metode, yaitu; metode penyaluran berjarak dan metode penyaluran door-to-door. Metode penyaluran berjarak berupa pengumpulan penerima manfaat di satu tempat dengan physical distancing, sementara door-to-door berupa mitra lokal kami berkunjung langsung ke rumah-rumah penerima manfaat. Metode yang digunakan akan menyesuaikan dengan keadaan lokasi dan waktu di masing-masing wilayah.

Bantuan yang diberikan diharapkan dapat bermanfaat bagi penerima manfaat dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Kami juga mengajak teman-teman yang lain untuk turut membantu meringankan tugas mereka dengan mulai memilah sampah dari rumah.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Kompetisi Menulis Citarum Repair 2021 Hasilkan 6 Nama Pemenang

Kompetisi Menulis Citarum Repair 2021 Hasilkan 6 Nama Pemenang

Program Citarum Repair dari Greeneration Foundation membuka lomba penulisan artikel populer dalam dua bahasa. Kompetisi ini dibuka sejak awal Januari 2021 dan pengiriman karya ditutup pada 14 Februari 2021. Partisipan dapat memilih tema tulisan: sungai dan laut tercemar sampah plastik atau aktivitas manusia mencemari sungai dan laut

Jurnalis lingkungan senior Harry Surjadi dan dosen Teknologi Pengelolaan Lingkungan ITB Indah Rachmatiah Siti Salami akan menilai karya yang masuk. Dari 140 pengirim, para juri telah menentukan 6 pemenang dari dua kategori:

Pemenang Kompetisi Menulis Kategori Bahasa Indonesia

Kategori Bahasa Indonesia

Juara 1: Farid Lisniawan Muzzaki

Juara 2: Hasna Afifah

Juara 3: Vella Maharani Febina

Pemenang Kompetisi Menulis Kategori Bahasa Inggris

Kategori Bahasa Inggris

Juara 1: Christa Anggelia Sulistio

Juara 2: Calista Trina Winata

Juara 3: Tiar Salsabila Fitriazaki

Tiap pemenang akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:

Juara 1:

  • Uang sebesar Rp 1.500.000
  • Tulisan bahasa Indonesia dipublikasi di website Greeneration Foundation
  • Tulisan bahasa Inggris dipublikasi di website cleancurrentcoalition.org
  • Souvenir Citarum Repair

Juara 2:

  • Uang sebesar Rp 1.000.000
  • Souvenir Citarum Repair
  • Juara 3:

  • Uang sebesar Rp 500.000
  • Souvenir Citarum Repair
  • Greeneration Foundation ucapkan selamat bagi para pemenang! Bagi Generasi Hijau yang belum beruntung, nantikan kompetisi menarik lainnya dari Greeneration Foundation!

    Artikel Terkait

    Sebarkan Artikel

    Bagikan ke Media Sosial​

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Giveaway Spesial HPSN 2021