Monthly Archives: May 2021

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Generasi Hijau yang tinggal di kota besar, pasti familiar dengan masalah seperti kemacetan dan polusi. Masalah di jalan tidak jarang diikuti dengan tekanan batin setelahnya; terjebak macet lalu terlambat ke kantor, atau karena terburu-buru malah melanggar rambu lalu lintas dan terkena tilang. Tidak hanya di Jabodetabek, kemacetan sudah dijumpai di kota besar lainnya di Indonesia. Namun sayangnya, persebaran transportasi publik belum merata. Untuk saat ini, hanya penduduk Jakarta yang dapat menikmati MRT (mass rapid transit) dan TransJakarta, sementara penduduk Jabodetabek dapat menggunakan fasilitas kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. 

 

Bagi kamu yang berkesempatan tinggal di kota dengan transportasi umum, yuk manfaatkan! Kamu dapat mendukung terbentuknya kota berkelanjutan. Berikut keuntungan bagimu dan lingkungan sekitarmu jika kamu rutin menggunakan transportasi umum.

Mengurangi jejak karbon pribadi

Dilansir dari WRI Indonesia, jika kamu melakukan perjalanan sejauh 20 kilometer ke kantor dengan menggunakan mobil setiap harinya, kamu akan menghasilkan 1.300 kilogram CO2 per tahun. Sementara jika naik bus, kamu mengurangi jejak karbonmu hingga hampir setengahnya; hanya 600 kilogram CO2 per tahun. Dengan membawa lebih banyak orang dalam sekali angkut, transportasi publik mereduksi jejak karbon dibanding kendaraan pribadi secara signifikan.

Efisiensi bensin

Selain mengurangi emisi karbon, transportasi umum juga menggunakan bahan bakar dengan efisien. Hal ini turut berkontribusi pada reduksi energi yang dibutuhkan moda transportasi secara keseluruhan.

 

Terhindar kemacetan

Seperti alasan sebelumnya, transportasi umum membawa lebih banyak orang dalam sekali jalan dan dapat membantumu terhindar dari kemacetan. Waktu tempuh untuk ke tujuan pun dapat lebih singkat. Meski begitu, pengguna Commuter Line Jabodetabek mesti mengganti rasa waswas takut terlambat dengan berdesakan di rangkaian kereta (hehe).

Tidak perlu repot mencari lahan parkir

Kamu pasti pernah menghabiskan waktu lama bolak-balik untuk mencari lahan parkir. Lahan parkir yang tersedia memang tidak seimbang dengan kendaraan pribadi yang banyak. Dengan naik transportasi umum, kamu dapat memangkas waktu mencari lahan parkir dan lebih cepat ke tempat tujuan.

Naik TransJakarta membantu kita aktif bergerak, karena dari halte ke tempat tujuan perlu naik jembatan penyeberangan. (SumberL Azka Rayhansyah/Unsplash)

Lebih aktif bergerak

Jalan kaki dari dan ke stasiun atau halte, berdiri menunggu bus atau kereta, hingga naik-turun tangga jembatan penyeberangan akan membuatmu lebih aktif bergerak. Dilansir dari Hellosehat, semua aktivitas tersebut dapat meningkatkan fungsi jantung, paru, dan otot. Selain itu, dapat membakar lemak lebih banyak ketimbang duduk, meningkatkan kebugaran tubuh, serta menjadi kegiatan menyehatkan bagi orang dengan hipertensi, kadar kolesterol tinggi, atau kekakuan sendi.

Mengumpulkan energi untuk bekerja

Jika beruntung dapat duduk, kamu dapat memanfaatkan waktu istirahat saat berada di kendaraan umum. Selagi menunggu sampai tujuan, kamu dapat tidur sejenak, membaca buku, atau sekadar meluruskan kaki.

Mengasah fungsi otak

Generasi Hijau mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya, namun naik transportasi umum dapat melatih kerja otak, lho.

 

Misalnya, memikirkan transportasi mana yang paling efektif untuk ditempuh dengan pertimbangan paling mudah, lebih murah, dan menghemat waktu. Kamu juga diharuskan mengingat kode-kode kendaraan tertentu, seperti mikrolet atau kopaja. Atau mengingat peron mana yang dilewati kereta tujuanmu. Jika sudah terbiasa, kamu secara tidak sadar akan hafal rute kendaraan yang sering kamu tumpangi.

 

Semua hal yang disebutkan di atas berkaitan erat dengan banyak fungsi otak, seperti penalaran, daya ingat, perhitungan, emosi, dan juga pengambilan keputusan. Ini sama halnya ketika kamu mengerjakan soal matematika atau memainkan permainan puzzle yang bermanfaat bagi otak.

 

Data kecelakaan lalu lintas tahun 2019. (Sumber: Korlantas Polri)

Lebih aman

Transportasi umum diperbaiki secara berkala, dipastikan keamanannya, dan sparepart-nya dipelihara untuk memastikannya layak jalan. Dibanding kendaraan pribadi yang hanya kita servis jika rusak, transportasi umum dinilai lebih aman.

 

Dilihat dari kebiasaan berkendara dan jam terbang, masinis dan sopir bus tentunya lebih berpengalaman dibanding pengendara pribadi seperti kita. Mereka telah melalui sertifikasi dan pelatihan khusus untuk dipercaya membawa transportasi umum.

Menurut data dari Korlantas Polri, kecelakaan lalu lintas di tahun 2019 didominasi oleh pengendara motor sebanyak 73,49%. Sementara kecelakaan bus hanya 1,22%, dan kecelakaan kereta hanya 0,05% saja.

Dampak lebih jauhnya, dengan lebih banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi, udara akan lebih bersih dan bebas polusi. Tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, namun juga untuk kesehatan kita. Melalui penggunaan transportasi umum, kamu juga mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan di level urban.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

National Express Transit. (2017, July 18). 9 Benefits of Public Transportation. Retrieved from National Ecpress Transit: https://www.nationalexpresstransit.com/blog/9-benefits-of-public-transportation/

 

Noor, N., Pradana, A., & Rizki, M. (2019, October 11). Menghitung Jejak Karbon Pribadi Dapat Mendukung Aksi Iklim. Retrieved from WRI Indonesia: https://wri-indonesia.org/id/blog/menghitung-jejak-karbon-pribadi-dapat-mendukung-aksi-iklim

 

Puji, A. (2019, October 06). Tak Hanya Kurangi Kemacetan, Lihat 4 Manfaat Naik Kendaraan Umum Bagi Kesehatan. Retrieved from Hellosehat: https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/manfaat-naik-angkutan-umum/

 

Setijowarno, D. (2020, March 01). Sepeda Motor Penyumbang Kecelakaan Terbesar di Jalan Raya. Retrieved from Bisnis News: https://bisnisnews.id/detail/berita/sepeda-motor-penyumbang-kecelakaan-terbesar-di-jalan-raya

 

Timperley, J. (2020, March 18). How Our Daily Travel Harms the Planet. Retrieved from BBC UK: https://www.bbc.com/future/article/20200317-climate-change-cut-carbon-emissions-from-your-commute

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Sumber: Plankton over plastic: Citizen support for strong laws to reduce ocean plastics | West Coast Environmental Law (wcel.org)

Polusi yang disebabkan oleh manusia berdampak besar pada lingkungan laut dunia. Salah satu bentuk pencemaran yang paling luas adalah sampah plastik. Plastik diperkirakan diproduksi lebih dari 80 juta ton per tahun di seluruh dunia. Plastik ini tahan lama, membutuhkan 500 tahun di lautan untuk terurai. Karena ketahanan dan daya apungnya, mereka dapat dibawa jauh dari sumbernya. Di samudra utama, rasio plastik terhadap zooplankton dihitung hingga 6:1 menurut beratnya.

 

Paus, ikan, dan hewan laut lainnya bergantung pada zooplankton untuk makanan karena mereka adalah penghubung penting antara fitoplankton dan matahari. Plastik diyakini diambil oleh zooplankton dan dengan demikian bergabung dengan rantai makanan, menurut para peneliti. Racun juga dimasukkan ke dalam rantai makanan oleh plastik. Saat plastik terdegradasi, mereka melepaskan zat beracun. Polutan di atmosfer sering dikumpulkan oleh mereka. Saat hewan menelan plastik, kedua bahan kimia ini dilepaskan.

 

Paus, anjing laut, duyung, burung laut, penyu, kepiting, ular laut, hiu, pari, dan ikan lainnya termasuk di antara lebih dari 200 hewan yang dilaporkan dirusak oleh sampah air. Banyak dari spesies ini yang terancam punah, yang lainnya penting untuk makanan kita. Ini menunjukkan bahwa plastik yang dimakan oleh hewan tidak hanya membahayakan mereka – usus mereka mungkin berlubang, dan mereka mungkin mati – tetapi bahan kimia dalam plastik juga dapat membahayakan manusia.

 

Hewan laut juga berisiko terjerat. Setiap tahun, hingga 40.000 anjing laut berbulu terbunuh saat mereka terjerat puing-puing. Hal ini menyebabkan penurunan populasi tahunan 4-6 persen. Hampir setiap kelompok vertebrata laut dipengaruhi oleh belitan. Kura-kura, cetacea, paus, singa laut, burung laut, hiu dan pari, kepiting, dan spesies lain diketahui terkena imbas di perairan dunia.

 

Alat tangkap yang hilang, serta sampah yang terkait, merupakan masalah besar. Setiap tahun, setidaknya 6,4 juta ton alat tangkap komersial diperkirakan akan hilang di lautan di seluruh dunia. Teluk Carpentaria, di ujung utara Australia, adalah contoh yang bagus untuk ini. Lebih dari 8.000 jaring ikan terbengkalai, dengan total jaring sepanjang 90.000 meter, telah dibersihkan di pantai-pantai di negara itu. Menurut pemodelan oseanografi kami, jaring-jaring ini kemungkinan besar akan melayang di wilayah yang luas di wilayah tersebut, mempengaruhi enam dari tujuh spesies penyu laut dunia yang hidup di sana. Banyak hewan lain yang kemungkinan besar akan dirugikan, tetapi mereka akan mati sebelum jala tersapu ke darat dan ditemukan.

Menyelesaikan Permasalahan Ini

Untuk memerangi sampah laut, diperlukan kombinasi pendidikan, insentif, dan regulasi. Daur ulang botol plastik adalah contoh yang baik; telah berkembang setiap tahun sejak 1990, mencapai 2,2 triliun pound pada tahun 2006. Sumber daya pendidikan, seperti kode identifikasi plastik pada botol, menawarkan informasi penting kepada masyarakat umum dan meningkatkan partisipasi. Deposito botol, hadiah finansial, menghasilkan pengurangan kerugian lingkungan sebesar 75%. Peraturan, seperti larangan botol minuman sekali pakai baru-baru ini, dapat membantu meringankan masalah lebih jauh.

 

Di sisi lain, kurangnya pengetahuan kita membuat sulit untuk menargetkan pendidikan, insentif, dan regulasi. Saat ini tidak mungkin untuk menghubungkan plastik di atmosfer dengan pabrik, supermarket, nelayan, atau pelanggan tertentu. Seperti banyak bentuk polusi lainnya, ini berarti alat kami untuk perubahan budaya harus disesuaikan secara luas, sementara kerugian lingkungan kemungkinan besar disebabkan oleh minoritas yang sembrono. Perilaku manusia harus bergeser dari masyarakat yang membuang sampah saat ini, dan transparansi adalah komponen kunci dari transformasi ini.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Kehidupan pertama di bumi dimulai dari laut. Makhluk darat pertama berasal dari laut. Hingga kini, laut menjadi tonggak penting kehidupan makhluk hidup bumi.

 

Tiap hari Jumat di minggu ketiga Mei diperingati sebagai Hari Spesies Flora dan Fauna Langka. Untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga dan merestorasi alam liar untuk keberlangsungan hidup satwa, Hari Spesies Flora dan Fauna Langka di tahun ini jatuh tanggal 21 Mei.

Sustainable consumption and production contributes to healthy ocean life. (Source: Miles Prolevic/Unsplash)

Sejak revolusi industri yang pertama, planet bumi telah menyaksikan kehilangan banyaknya spesies hewan dan tumbuhan akibat aktivitas manufaktur dan perkembangan teknologi manusia. Sayangnya, perkembangan industri tersebut tidak dibarengi dengan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Ekosistem laut modern kini menanggung akibatnya.

Bukan hanya tempat produksi ikan

Lebih dari sekadar hamparan air asin yang luas, laut berperan penting dalam keberlangsungan hidup di bumi; baik di laut itu sendiri maupun di darat. Berikut beberapa alasannya.

Produsen oksigen

80% oksigen dunia diproduksi fitoplankton di lautan. Betul, kamu tidak salah baca! Hutan hujan tropis dan tumbuhan memang turut menyumbang kadar oksigen di atmosfer bumi, namun sebenarnya laut memproduksi sebagian besar oksigen yang kita hirup sekarang. Fitoplankton ialah tumbuhan laut mikroskopik, jumlahnya masif di lautan. Merekalah yang berperan menghasilkan oksigen bagi makhluk darat.

 

 

Evaporasi air hujan

Laut berperan sebagai panel surya raksasa, dan mendistribusikan panasnya ke seluruh dunia. Ketika sinar matahari menghangatkan laut, terjadi pertukaran antara molekul air dan udara. Proses ini disebut evaporasi. Air laut berevaporasi secara konstan, meningkatkan suhu dan kelembaban udara di sekitarnya untuk membentuk awan hujan. Awan hujan tersebut lalu terbawa angin ke darat. Daerah tropis lebih sering hujan, karena matahari bersinar sepanjang tahun, sehingga proses evaporasi frekuensinya lebih tinggi di area ekuator.

 

Mengapa air hujan rasanya tawar, meski airnya menguap dari laut? Proses evaporasi murni hanya membawa molekul air, tanpa ada substansi lainnya. Jadi, kandungan garam dan partikel lainnya tetap ada di laut. Ketika cuaca di laut sedang berangin, kadang percikan airnya terbawa hingga tepi pantai. Percikan air tersebut memuat partikel garam yang tertinggal saat proses evaporasi. Proses inilah yang menyebabkan angin laut terasa asin dan berbau logam.

Pengatur iklim daratan

Laut mempengaruhi cuaca dan iklim darat dengan menjaga temperatur bumi. Sebagian besar radiasi matahari diserap air laut dan samudra di perairan tropis dekat ekuator. Sementara untuk daerah bumi di luar ekuator, laut mempengaruhi pola cuaca darat dengan arusnya. Arus laut mengalir terus menerus, dibentuk dari angin di permukaan laut, suhu dan kadar garam, rotasi bumi, serta pasang-surut lautan. Arus laut bergerak searah jarum jam dari belahan bumi utara, dan berlawanan jarum jam di belahan bumi selatan. Polanya melingkar dan melewati garis pantai.

 

Arus laut bergerak seperti conveyor belt, mengangkut air hangat dan presipitasi dari ekuator ke kutub, dan air dingin dari kutub kembali ke daerah tropis. Siklus ini menjaga iklim global dan menetralkan distribusi panas matahari di permukaan bumi. Tanpa arus ini, temperatur regional akan jadi sangat ekstrem; panas luar biasa di ekuator dan dingin membeku di dekat kutub. Selain itu, daratan di bumi mungkin tidak akan layak ditempati.

Laut dan ancaman yang menyertainya

Pada praktiknya, bumi memang mengalami kenaikan suhu secara natural. Namun sejak adanya aktivitas industri manusia, bumi mengalami kenaikan temperatur global dalam kecepatan tinggi. Dilansir dari jurnal Advances in Atmospheric Science, temperatur air laut disinyalir paling tinggi di tahun 2019, sejak 60 tahun lalu pencatatan suhu bumi dimulai.

 

Laut sangat sensitif dengan suhu. Adanya kenaikan temperatur global mempengaruhi seluruh elemen laut. Jika tidak beradaptasi, biota laut akan mati. 

Healthy coral reefs have bright vibrant colors. (Source: QUI/Unsplash)

Salah satu dampak kenaikan temperatur ialah terjadinya coral bleaching. Terumbu karang yang sehat aslinya berwarna terang dan ditinggali hewan laut lainnya. Warna terang ini dikeluarkan oleh alga berukuran mikroskopik bernama zooxanthellae. Terumbu karang dan alga ini menjalin simbiosis mutualisme; zooxanthellae yang hidup di terumbu karang melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk mereka.

Ketika suhu air naik, terumbu karang di dasar laut bisa stres dan melepas alga dari tubuhnya. Karena hilangnya alga ini, warna terumbu karang dapat berubah menjadi putih seperti terkena bleaching. Tanpa zooxanthellae, terumbu karang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Jika suhu air tetap tinggi, terumbu karang tersebut akan mati.

 

Selain coral bleaching, ancaman lain yang dihadapi makhluk laut berhubungan erat dengan aktivitas manusia. Belum lagi jika kita membicarakan soal sampah lautan, overfishing, dan tumpahan minyak di lepas pantai. Dengan memahami masalahnya, Generasi Hijau dapat mengambil peran untuk mengatasi salah satu dari faktor yang disebutkan tadi. Tetap ingat bahwa tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Berwyn, B. (2020, January 14). Ocean Warming Is Speeding Up, with Devastating Consequences, Study Shows. Retrieved from Inside Climate News: https://insideclimatenews.org/news/14012020/ocean-heat-2019-warmest-year-argo-hurricanes-corals-marine-animals-heatwaves/

 

DNA Web Team. (2020, May 15). National Endangered Species Day 2020: History, significance & more. Retrieved from DNA India: https://www.dnaindia.com/lifestyle/report-national-endangered-species-day-2020-history-significance-more-2824843

 

Earth Science Communication Team. (n.d.). What is happening in the ocean? Retrieved from NASA Climate Kids: https://climatekids.nasa.gov/ocean/

 

Fallahnda, B. (2021, March 19). Apa Penyebab Pencemaran dan Dampak Konservasi Laut? Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/apa-penyebab-pencemaran-dan-dampak-konservasi-laut-gbhK

 

Hancock, L. (n.d.). Everything You Need to Know about Coral Bleaching—And How We Can Stop It. Retrieved from WWF Page: https://www.worldwildlife.org/pages/everything-you-need-to-know-about-coral-bleaching-and-how-we-can-stop-it

 

National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). What is coral bleaching? Retrieved from National Ocean Service: https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_bleach.html

Ocean Exploration. (n.d.). How does the ocean affect climate and weather on land? Retrieved from Ocean Exploration Facts: https://oceanexplorer.noaa.gov/facts/climate.html

 

Skilling, T. (2017, September 1). Ask Tom: Why is rain that comes from evaporated ocean water not salty? Retrieved from Chicago Tribune: https://www.chicagotribune.com/weather/ct-wea-asktom-0903-20170901-column.html

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Berdasarkan penelitian Frias & Nash (2018), mikroplastik didefinisikan sebagai “partikel padat sintetis atau matriks polimer, dengan bentuk beraturan atau tidak beraturan dan dengan ukuran mulai dari 1 m sampai 5 mm, baik primer maupun sekunder yang berasal manufaktur dan tidak larut dalam air.”

Mikroplastik sudah menyebar di tiap aspek kehidupan kita. (Sumber: Zatevahins/Shutterstock)

Jumlah mikroplastik sudah sangat banyak dan juga sudah tersebar di seluruh dunia terutama dalam 70 tahun terakhir. Distribusi dan jumlah mikroplastik sangat banyak dan bahakan membuat lapisan startifikasi sendiri di tanah atau batuan, sehingga banyak ilmuwan yang menjadikan mikroplastik sebagai periode zaman tersendiri: Plasticene (Campanale et al. 2020). Namun, dampak dari mikroplastik tidak sepenuhnya dimengerti, terutama dampaknya pada kesehatan manusia. Hal disebabkan karena sifat fisik dan kimia dari mikroplastik yang sangat kompleks. Mikroplastik terdiri dari dua tipe senyawa kimia, yaitu 1. Senyawa aditif dan material polimer mentah (termasuk material penguat, plasticizer, antioksidan, penstabil UV, pelumas, pewarna dan penghambat api) dan 2. Senyawa kimia yang diserap dari lingkungan.

Mikroplastik dikhawatirkan dapat masuk ke dalam rantai makanan, terakumulasi, dan dikonsumsi oleh manusia seperti biogmanifikasi dari zat xenobiotic. Ide tentang biomangifikasi berasal dari buku Rachel Carson yang berjudul “silent spring” tentang akumulasi senyawa DDT yang menyebabkan telur ayam dan elang bercangkang tipis dan menyebabkan kematian telur-telur tersebut.

Biomagnifikasi adalah “proses di mana zat xenobiotic (senyawa kimia yang secara alami tidak ada dalam organisme) dipindahkan dari organisme ke organisme lain dalam rantai makanan yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumbernya.” (Rand et al., 1995). Walaupun fenomena biomagnifikasi dipakai untuk menjelaskan akumulasi senyawa kimia pada jaring makanan, mikroplastik yang merupakan benda fisik juga diasumsikan punya pola yang sama. Mikroplastik merupakan salah satu xenobiotic yang mulai banyak diteliti oleh banyak peneliti sebagai akibat dari meningkatnya jumlah dan distribusi plastik di lingkungan selama beberapa tahun terakhir (Gray, 2002).

Dari penelitian Saley et al. (2019) di Jurnal marine Pollution Bulletin, akumulasi mikroplastik bahkan terjadi di rantai makanan di ekosistem pantai yang jauh dari manusia, mikroplastik ini ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi terutama di populasi herbivora air (terutama siput). Jika di ekosistem perairan yang ada di tempat terpencil saja mikroplastik dapat terakumulasi mencapai konsentrasi yang bisa terdeteksi, ekosistem yang dekat dengan populasi manusia diasumsikan mengandung lebih banyak lagi mikroplastik.

Berdasarkan penelitian Miller et al. (2020) di Jurnal Plos One, mikroplastik telah terakumulasi dan ada dalam semua tingkatan pada jaring-jaring makanan di ekosistem perairan, terutama di laut. Walaupun tidak ada indikasi di lapangan bahwa akumulasi mikroplastik yang terjadi dalam tubuh mahkluk hidup adalah biomagnifikasi. Tetap saja tidak dapat dipungkiri bahwa mikroplastik telah ada dalam hewan air tawar dan laut yang kita konsumsi, bahkan juga di hewan darat.

Penelitian tentang bahaya mikroplastik pada kesehatan manusia sudah mulai banyak dilakukan. Walaupun belum ada hasil yang konklusif dari banyak penelitian tersebut, terdapat indikasi bahwa mikroplastik membahayakan tubuh manusia karena bersifat toksik bagi sel-sel tubuh dan juga karena mikroplastik dapat menjadi pembawa mikrooganisme ataupun senyawa lain seperti logam berat yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pencernaan, pernafasan, dan kontak dengan kulit.

Mikroplastik dapat masuk ke sistem pencernaan lewat makanan dan dapat berdampak buruk sistem pencernaan dan sistem eskresi. Berdasakan hasil penelitian Barboza et al. (2018), mikroplastik dengan ukuran 10 µm dapat masuk ke membran sel, organ, dan plasenta. Selain itu, mikroplastik berukuran lebih kecil dari 2,5 µm dapat masuk ke saluran pencernaan melalui endositosis oleh sel. Masuknya mikroplastik ke saluran pencernaan dapat menyebabkan keracunan yang disebabkan oleh inflamasi. Tingkat keparahan inflamasi dipengaruhi oleh konsentrasi mikroplastik dalam saluran pencernaan. Sebenarnya sistem ekskresi manusia mampu untuk mengeluarkan mikro dan nanoplastik sampai sebanyak 90% (Campanale et al. 2020). Walaupun begitu, lebih dari 10% sisanya tetap dapat menyebakan inflamasi.

Mikroplastik juga ada di udara dapat berasal dari tempat pengolahan sampah, baju berbahan sintetik, emisi industri, debu, dan pertanian. Mikroplastik ini dapat masuk ke sistem pernafasan lewat udara dan dapat berdampak buruk sistem pernafasan. Dampak mikroplastik ini berbeda-beda tergantung kerentanan, dosis, dan metabolisme tubuh, namun beberapa orang dapat mengalami asma, pneumonia, inflamasi, radang bronchitis, dan bahkan kanker pulmonari (seperti yang ditemukan pada karyawan di industri tekstil) (Campanale et al. 2020). Selain itu, ada bahaya lain dari kemungkinan transmisi mikroorganisme ke saluran pernafasan dari mikroorganisme yang menempel di mikroplastik.

Mikroplastik juga dapat masuk ke kulit melalui kontak fisik dengan kulit saat membasuh kulit dengan air atau dari kosmetik. Walaupun begitu, hanya mikroplastik yang berukuran kurang dari 100 nm yang dapat masuk. Mikroplastik tersebut mengandung polutan organik, antibiotik, dan logam berat yang memiliki sifat sitotoksitas (tingkat merusaknya suatu zat pada sel) yang tinggi (Campanale et al. 2020). Salah satu contohnya adalah logam aluminium dan antimon yang dapat menyebabkan kanker payudara dan logam mangan yang dapat menyebabkan kelainan sistem syaraf.

Detail bahaya dari mikroplastik dan efeknya ke tubuh manusia belum banyak dipelajari. Bisa jadi mikroplastik lebih berbahaya bagi kesehatan daripada penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengurangi sampah plastik agar distribusi dan jumlah mikroplastik di sungai dan lautan dapat berkurang dan tidak membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Greeneration Foundation mendukung pencegahan mikroplastik di perairan melalui Citarum Repair untuk membantu mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum dan juga membantu melakukan edukasi ke warga di sekitar Sungai Citarum terkait sampah plastik di sungai dan laut.

 

Referensi

Barboza, L. G. A., Vethaak, A. D., Lavorante, B. R., Lundebye, A. K., & Guilhermino, L. (2018). Marine microplastic debris: An emerging issue for food security, food safety and human health. Marine pollution bulletin133, 336-348.

 

Campanale, C., Stock, F., Massarelli, C., Kochleus, C., Bagnuolo, G., Reifferscheid, G., & Uricchio, V. F. (2020). Microplastics and their possible sources: The example of Ofanto river in Southeast Italy. Environmental Pollution258, 113284.

 

Frias, J. P. G. L., & Nash, R. (2019). Microplastics: finding a consensus on the definition. Marine pollution bulletin138, 145-147.

 

Gray, J. S. (2002). Biomagnification in marine systems: the perspective of an ecologist. Marine Pollution Bulletin45(1-12), 46-52.

 

Miller, M. E., Hamann, M., & Kroon, F. J. (2020). Bioaccumulation and biomagnification of microplastics in marine organisms: A review and meta-analysis of current data. Plos one15(10), e0240792

 

Rand GM, Wells PG, McCarty LS. Introduction to aquatic toxicology. (1995). In: Rand GM, editor. Fundamentals of aquatic toxicology: Effects, environmental fate, and risk assessment. North Palm Beach: Taylor & Francis. pp. 3–67

 

Saley, A. M., Smart, A. C., Bezerra, M. F., Burnham, T. L. U., Capece, L. R., Lima, L. F. O., … & Morgan, S. G. (2019). Microplastic accumulation and biomagnification in a coastal marine reserve situated in a sparsely populated area. Marine pollution bulletin146, 54-59.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Hari Raya semakin dekat! Di tahun kedua pandemi, kita telah menempuh dua Idulfitri dengan terhubung melalui internet dan sambungan telepon dengan keluarga di kampung halaman. Meski banyak keterbatasan di bulan penuh berkah ini, jangan sampai silaturahmi bersama keluarga dan kerabat terbatas juga ya, Generasi Hijau.

 

Setelah berpuasa satu bulan penuh, Hari Raya jadi waktu untuk merayakan kemenangan. Perayaan ini identik dengan berbagai hidangan khas Hari Raya. Opor, gulai, rendang, sambal goreng, biasanya mana dulu yang kamu masak?

 

Seringkali dalam perayaan Lebaran, kita menyajikan terlalu banyak hidangan hingga tanpa sadar banyak yang terbuang. Tahukah kamu, sampah makanan justru meningkat di bulan Ramadan dan Hari Raya? Untuk itu, kami mengajak Generasi Hijau untuk lebih menyadari lagi berapa banyak sampah makanan yang berpotensi dihasilkan dari makanan pada Idulfitri. Berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mencegah sampah makanan saat Idulfitri.

Masak secukupnya

Jika di rumahmu ada lima orang, jangan memasak untuk porsi sepuluh orang. Ketahui berapa banyak tamu yang akan datang sehingga mencegah makanan terbuang. Rasulullah saw. bersabda: “Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah).

 

We can share the abundance of Eid food to neighbors and others in need. (Source: Getty Images)

Bagikan ke tetangga dan yang membutuhkan

Semangat Ramadan masih akan terasa di Hari Raya. Ketika makanan sudah tersaji dan ternyata tidak dapat dihabiskan, bagikan kelebihannya pada tetangga di sekitar rumah. Jika memungkinkan, bagikan juga pada teman-teman di sekitar kita yang kurang beruntung.

Masak kembali sisa masakan

Maksudnya ialah kulit buah atau sayur yang kamu kira tidak bisa dimakan lagi. Kini sudah banyak lho resep di internet yang memanfaatkan kulit buah atau batang sayur, contohnya resep oseng kulit singkong yang bisa kamu lihat di sini!

Jangan lapar mata

Ketika banyak makanan di meja, seringkali kita kalap dan ingin mengambil semuanya. Ternyata porsinya terlalu banyak buat kita dan tidak sanggup dihabiskan. Untuk menghindari makanan terbuang karena ini, ambil porsi kecil-kecil saja. Kalau kurang, kamu bisa tambah lagi.

Composting can eliminate food waste from its source. (Source: Markus Spiske/Unsplash)

Kompos sisa masakanmu!

Ketika kita buang sampah, sampah itu tidak akan hilang; sejatinya hanya berpindah tempat. Dari rumahmu ke TPA, tidak menyelesaikan masalah. Karena itu, usaha paling tepat untuk mencegah penumpukan sampah makanan di TPA ialah dengan mengompos sendiri di rumah. Sisa kulit buah dan batang sayurmu dapat berubah menjadi nutrisi yang baik untuk tanaman di rumah. Kamu bisa menanam kembali sisa sayur dan buah melalui cara ini. Sisa sayur yang sudah jadi kompos itu akan berputar jadi makananmu kembali. Dengan begitu, kamu telah menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan di skala rumah.

Esensi Hari Raya ialah merefleksikan diri kembali setelah satu bulan berpuasa di bulan yang baik. Jangan sampai volume sampah makanan menghambat kebahagiaan kita berkumpul bersama orang tersayang.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Kembangkan Start Up-mu di Circular Jumpstart

Kembangkan Start Up-mu di Circular Jumpstart

Miliki kesempatan untuk menampilkan inovasi bisnis startup-mu pada banyak calon investor!

Circular Jumpstart merupakan salah satu rangkaian acara menjelang Main Event Indonesia Circular Economy Forum (ICEF). Program inkubasi bisnis ini akan berlangsung selama dua bulan, bertujuan untuk membantu usaha startup yang berkelanjutan dan berprinsip ekonomi sirkular di Indonesia untuk menumbuhkan pasar dan daya saing bisnismu. 

 

Dengan mendaftar di Circular Jumpstart, kamu berkesempatan mendapat program mentoring bisnis, peluang networking dengan investor dan mitra bisnis, hingga hadiah utama berupa dukungan finansial untuk bisnis startup-mu. 

Berikut ialah area inovasi tantangan yang dihadapi dari hulu ke hilir dalam mewujudkan praktik ekonomi melingkar. Bisnismu dapat berdampak pada ketiganya atau salah satunya.

1. Kreasi Produk Berkelanjutan

Menghalau limbah dan polusi melalui rancangan produk, material, atau kemasan dari bahan ramah lingkungan atau bahan limbah.

2. Konsumsi dan Penggunaan (Pemberdayaan UMKM)

Mewujudkan konsumsi sumber daya berkelanjutan dengan memperoleh, menyediakan, dan berbagi akses pada produk dan jasa.

3. Re-invent Pengelolaan Sampah

Inovasi pengumpulan, pemisahan, daur ulang dan pengelolaan sampah demi mencegah polusi air, udara, dan tanah.

Siapa saja yang dapat mendaftar?

Kami mencari prototype bisnis hingga solusi inovatif yang siap dipasarkan, dengan potensi untuk memperkuat pembangunan kota yang berkelanjutan, sirkular dan berkembang.

 

Solusi bisnismu dapat berfokus pada bidang spesifik maupun lintas-sektor, seperti ada di isu plastik, pangan, konstruksi, tekstil, atau lainnya. Dari meningkatkan usia pakai material, pengurangan langsung bahan jadi, atau pada perilaku bisnis dan konsumen, yang terpenting ialah bisnismu dapat menjawab satu atau lebih tantangan.

Kriteria seleksi

Inovasi bisnismu akan dievaluasi berdasarkan potensinya untuk menghasilkan dampak signifikan sehubungan dengan area tantangannya. Kriteria berikut akan digunakan untuk memandu ulasan inovasimu:

  •  – Berpotensi transformatif
  • Secara keseluruhan, solusinya berpotensi membuat dampak signifikan pada fokus areanya.
  •  
  • – Dampak lingkungan dan sirkular
  • Solusinya berpotensi untuk meningkatkan alur sumber daya berkelanjutan dan mengurangi dampak iklim.
  •  
  • – Dampak sosial dan komunitas
  • Solusinya berpotensi membuat kota berkembang dan menghadirkan kesempatan bagi komunitas yang beragam.
  •  
  • – Kemungkinan
  • Apakah solusinya mungkin dan layak terwujud?
  • – Kelayakan dan kemampuan tim
  • Mengapa kamu jadi orang yang tepat untuk memecahkan tantangan ini dan bagaimana eksekusi dari tim kamu?
  •  
  • – Kemampuan finansial
  • Kemampuan perusahaan dan inisiatif untuk mendapat profit dan bisnis berkelanjutan.
  •  
  • – Skala dan kemampuan direproduksi
  • Solusinya berpotensi direplikasi dan mengikuti konteks urban di berbagai kota.

Apa saja yang akan didapat?

1. Kesempatan mendapat jaringan

Berinteraksi dengan instansi pemerintahan, perusahaan, dan calon investor untuk membuka kesempatan kemitraan. Bangun jaringanmu di program inkubasi dan Konferensi ICEF.

2. Dana hibah untuk bisnismu

Jika kamu salah satu dari tiga pemenang, kamu berkesempatan mendapat dana hingga total Rp 75.000.000 dari donatur kami untuk pengembangan bisnismu.

3. Bimbingan dari yang ahli

Kamu akan ikut program inkubasi yang berisi sembilan workshop dengan mentor dan investor berpengalaman, termasuk pemangku kepentingan dari instansi pemerintahan.

4. Eksposur dari ICEF

Bisnismu akan dimuat di publikasi lanjutan dari program ICEF ke-4 dan laporan pasca-program.

Jika kamu inovator dari usaha startup dengan prinsip berkelanjutan dan model bisnis sirkular, segera daftarkan bisnismu sebagai peserta Circular Jumpstart. Kami mengundang ecopreneur pemula untuk turut mewujudkan kota berkelanjutan dan dapatkan kesempatan untuk membuka potensi pengembangan bisnis melalui Model Bisnis Sirkular!

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Bukan Bocah Sampah

Versi English

Versi English

karya Chiara Thidy E. Siregar 

siswi kelas VD SD Swasta Katolik Asisi Medan

Juara 1 Lomba Menulis Cerita Anak

“Lihat….” bisik Dwi di telingaku, “Si bocah sampah datang lagi mengambil tumpukan kulit kentang di depan rumahmu.”

“Sudahlah….” ucapku, “Jangan selalu mengolok-oloknya. Bukankah dia tak pernah mengganggu kita.”

Sayangnya, belum lagi tuntas ucapanku, Dwi, Thomas, dan Naga sudah berlarian ke depan rumahku. Tampaknya tak ada yang mengingat bahwa kami berkumpul sore ini untuk mengerjakan tugas IPA yang harus dikumpulkan keesokan hari. 

“Bocah sampah!” seru Thomas pongah, “Untuk apa kau mengumpulkan kulit kentang itu? Jangan-jangan untuk dimakan ya?”

“Ihhhhh….” sela Naga dengan mimik wajah jijik, “Memangnya ada yang mau makan kulit kentang?”

“Pasti ada,” senyum Dwi mengembang lebar, “Siapa lagi kalau bukan si bocah sampah. Hahaha….”

“Sudahlah. Jangan diteruskan lagi,” ujarku. Aku sungguh tak tega melihat ketiga sahabatku tiada hentinya mengolok-olok bocah lugu berwajah memelas itu.

“Rendy…” sebuah suara bernada tegas dari dalam rumah tiba-tiba mengejutkan kami semua, “Ajak teman-temanmu masuk! Mereka datang untuk mengerjakan tugas ‘kan?”

Kami semua langsung terdiam. Semua sahabatku sangat mengenal sifat ayahku. Beliau bisa bersikap ramah dan pemurah jika mereka datang untuk mengerjakan tugas atau kegiatan lain yang berhubungan dengan kepentingan sekolah. Namun, beliau juga tak jarang marah bila sahabat-sahabatku berdatangan hanya untuk bermain-main atau melakukan hal-hal tak bermanfaat.

“Ayah tidak suka kalian mengolok-olok anak itu,” tegur ayah tajam setelah Dwi, Thomas, dan Naga berpamitan.

“Bukan Rendy, ayah!” sahutku lemah, “Rendy tak pernah mengolok-oloknya.”

“Ayah percaya padamu,” suara ayah tak lagi terdengar tajam, “Andai saja kalian mengenalnya dan mengetahui kegigihannya, pasti kalian akan mengaguminya.”

“Rendy ingin bisa mengenalnya, ayah!” ucapku yakin, “Siapa namanya? Di mana ia tinggal?”

“Namanya Bayu,” jawab ayah, “Ia tinggal di dekat rel kereta api. Jika Rendy ingin mengenalnya, datanglah ke sana. Tidak sulit menemukan rumahnya. Carilah rumah berdinding bata merah dan berpagar kayu bercat kuning.”

Keesokan sore, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Bayu. Ucapan ayah tentangnya sungguh membuatku merasa penasaran.
“Seperti apa kegigihan yang dimaksud ayah,” tanyaku dalam hati.

Benar ucapan ayah. Tak sulit menemukan rumah Bayu. Belum lagi aku sempat mengucapkan salam, sosoknya sudah muncul dengan senyum terpancar hangat.

“Kamu pasti Rendy,” sapanya ramah sembari mengulurkan tangan, “Ayahmu sudah bercerita kalau kamu akan datang berkunjung. Tapi, maafkan aku ya! Seperti inilah keadaan di rumahku. Panas dan tidak nyaman.”

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya, “Aku datang sekaligus untuk meminta maaf atas ejekan teman-temanku kemarin. Maukah kamu memaafkan mereka?”

“Sudahlah. Lupakan saja,” ucapnya ringan, “Mari masuk! Kami sedang menggoreng keripik kulit kentang. Kamu mau mencicipinya?”

“Keripik kulit kentang?” batinku keheranan.

“Kamu pasti terkejut mendengarnya,” celotehnya seolah dapat membaca pikiranku, ”Ayahmu selalu mengizinkanku mengambil kulit kentang yang tersisa dari usaha pembuatan keripik kentang milik kalian. Dari kulit kentang itu, kami membuat keripik gurih untuk dijual ke warung-warung sekitar. Hasilnya memang tidak banyak. Tapi, cukuplah untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku.”

Dengan penuh minat, aku mendengarkan penjelasan Bayu. Ternyata, kulit kentang yang dikumpulkannya terlebih dahulu harus dicuci dengan air mengalir berulang kali hingga bersih, barulah kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Kulit kentang lantas digoreng dalam minyak banyak di atas nyala api sedang agar kering dan renyah. Untuk memberi rasa gurih, Bayu menambahkan bubuk penyedap juga taburan bawang goreng.

”Renyah…. Gurih sekali….” pujiku setelah mencicipi keripik kulit kentang buatan Bayu.

”Aku senang kamu menyukainya,” senyum Bayu mengembang tulus.

Di ruangan depan, aku melihat dua orang bocah perempuan sebaya adikku sedang sibuk menjalin plastik-plastik bekas kemasan deterjen menjadi tas dan dompet. Pekerjaan mereka sangat teliti, sehingga menghasilkan kerajinan yang unik juga indah. Aku yakin, ibu pasti akan menyukai tas dan dompet buatan mereka.

”Mereka adik-adikku,” bisik Bayu, ”Seperti inilah pekerjaan kami setiap hari. Mengolah benda-benda yang tersisa dan sering dianggap sampah. Selain memperoleh uang untuk menyambung hidup, kami juga bangga karena bisa mengurangi tumpukan sampah yang mencemari bumi.”

”Di mana ayah dan ibumu?” tanyaku penasaran.

”Mereka meninggal karena kecelakaan hampir dua tahun lalu,” lirih Bayu dengan mata berkaca-kaca.

Aku terdiam mendengar ucapan Bayu. Bocah-bocah seperti Bayu dan adik-adiknya seharusnya belum pantas memikirkan apa pun selain bermain dan belajar. Namun, mereka telah sanggup menunjukkan keuletan luar biasa di tengah kerasnya kehidupan. Diam-diam aku merasa malu pada diriku sendiri yang selalu hanya bisa menuntut atau merengek pada kedua orangtuaku.

”Boleh aku datang lagi besok?” tanyaku.

”Tentu saja,” sahut Bayu dengan sorot mata berbinar, ”Aku akan sangat senang bila bisa bersahabat denganmu. Tapi, apakah kamu tidak malu bersahabat dengan si bocah sampah?”

”Tentu saja tidak!” sergahku, ”Aku akan menceritakan kepada semua sahabatku tentang apa yang kulihat hari ini. Aku yakin, mereka juga pasti akan ingin menjadi sahabatmu.”

”Terima kasih,” ucap Bayu terbata-bata.

Mendadak aku teringat pada Dwi. Ayahnya adalah pengusaha keripik pisang dan aku sering melihat onggokan kulit pisang di depan rumahnya. Besok, aku akan mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kulit pisang itu. Aku pun ingin seperti mereka. Aku ingin berbuat sesuatu guna menunjukkan rasa cinta kepada bumiku.

Pemetaan Karakteristik Masyarakat di Sekitar Bantaran Sungai Citarum

Pemetaan Karakteristik Masyarakat di Sekitar Bantaran Sungai Citarum

oleh Farid Lisniawan Muzakki, pemenang Citarum Repair Writing Competition (Kategori Bahasa Indonesia)

Sungai Citarum. Sumber foto: CNN Indonesia

 

Permasalahan sampah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, dan hal tersebut sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Kegiatan sehari-hari manusia, baik dalam skala rumah tangga maupun industri, dapat menghasilkan sampah yang tidak sedikit jumlahnya. Sampah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan masalah baru. Namun kenyataannya di lapangan, masih ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap sampahnya dan membuang begitu saja. Hal tersebut menyebabkan pencemaran lingkungan, salah satunya adalah pencemaran sungai dan laut.

 

Sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Sungai Citarum tidak lepas dari permasalahan sampah. Sungai Citarum melewati 13 wilayah kabupaten/kota dan berdekatan dengan banyak pemukiman dan kawasan industri. Dengan kondisi geografis tersebut, besar kemungkinan terjadinya pencemaran sungai oleh pihak-pihak tertentu. Bahkan pada tahun 2018, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia oleh World Bank. Banyak hal yang menyebabkan tercemarnya Sungai Citarum, seperti limbah domestik rumah tangga, limbah peternakan, limbah industri, dan tumpukan sampah padat.

 

Menurut Kepala LPTB LIPI Sri Priatni, sumber pencemaran terbesar Sungai Citarum berasal dari limbah domestik rumah tangga dengan presentase 60-70%. Permasalahan limbah domestik ini tidak terlepas dari kelayakan sanitasi masyarakat di bantaran sungai. Kehidupan masyarakat dengan sanitasi yang buruk menyebabkan limbah produk rumah tangga dan feses manusia terbuang begitu saja ke perairan tanpa diproses terlebih dahulu.

 

Banyaknya peternak yang bermukim di bantaran Sungai Citarum meningkatkan kemungkinan terjadinya pencemaran sungai. Limbah ternak yang tidak diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan dibuang langsung ke sungai menjadi permasalahan baru. Bersama dengan limbah feses manusia, limbah peternakan menyebabkan tingginya total bakteri E. coli pada Sungai Citarum. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal menjelaskan bahwa bakteri E. coli dapat membawa penyakit serius bagi manusia, seperti diare bercampur darah, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, dan penyakit jantung.

 

Kawasan industri juga turut bertanggung jawab atas pencemaran Sungai Citarum. Dari seluruh industri yang ada di bantaran Sungai Citarum, hanya sekitar 20% saja yang mengolah limbah mereka, sedangkan sisanya langsung membuang limbah ke perairan tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak berwenang (Tribunnews, 09/07/2018). Limbah berbahaya yang masuk ke Sungai Citarum dari kawasan industri menimbulkan kerugian bagi masyarakat, mulai dari bau yang tidak sedap, kematian biota air tawar, hingga terjadinya gagal panen bagi petani. Bahkan menurut Greenpeace, total kerugian ekonomi akibat tercemarnya Sungai Citarum pada tahun 2016 adalah sekitar Rp 11,4 triliun.

 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pencemaran Sungai Citarum, salah satunya melalui program Citarum Harum. Program tersebut dilaksanakan oleh Satgas PPK DAS Citarum dengan payung hukum Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Derah Aliran Sungai Citarum. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan menyisir anak sungai dan sungai Citarum untuk membersihkan tumpukan sampah padat dan mengidentifikasi beberapa saluran yang berisi limbah pencemar. Komandan Satgas Citarum Harum Sektor 13, Kolonel Inf Nazwadi Irham menyatakan bahwa kondisi anak Sungai Citarum mulai mengalami perubahan cukup signifikan setelah patroli dilakukan. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah berhasil menyeret beberapa perusahaan yang terbukti mencemari Sungai Citarum ke pengadilan. Namun strategi tersebut masih belum dapat sepenuhnya mengubah kebiasaan masyarakat dan mengindentifikasi saluran yang berada di bawah permukaan air.

 

Untuk mengatasi masalah pencemaran Sungai Citarum, pemerintah harus menyasar akar dari permasalahannya, yaitu aktivitas manusia. Setiap Pemerintahan Daerah (Pemda) perlu memetakan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum, mulai dari kegiatan rumah tangga, peternakan, maupun industri. Kemudian Pemda mengidentifikasi kemana perginya sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Hasil pemetaan alur perginya sampah dari masing-masing Pemda disatukan oleh Pemerintahan Provinsi (Pemprov) untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai aktivitas masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum dari hulu hingga bermuara di laut.

 

Pemda bersama Satgas Citarum Harum dapat melakukan inspeksi mendadak ke industri di sekitar bantaran sungai untuk mengidentifikasi alur pembuangan limbah dan mengukur kandungan bahan kimia berbahaya yang terkandung didalamnya. Stategi ini lebih efektif untuk menemukan saluran-saluran tersembunyi yang mencemari Sungai Citarum. Perusahaan yang ditemukan melakukan pencemaran sungai dapat langsung diproses secara hukum.

 

Gambaran aktivitas masyarakat tersebut merupakan landasan dasar dari setiap program yang akan dijalankan. Pemerintah dapat membuat beberapa titik lokasi bank sampah dan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) bersama. Berdasarkan hasil pemetaan, pemerintah juga dapat mengidentifikasi karakteristik sampah di suatu daerah dan menentukan jenis bank sampah dan IPAL yang tepat. Pembangunan IPAL bersama akan memudahkan pelaku industri, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki dana cukup untuk membangun IPAL sendiri. Daerah dengan fasilitas kebersihan yang kurang memadai bisa teridentifikasi dari hasil pemetaan, sehingga perencanaan pembangunan atau pengadaan fasilitas menjadi lebih tepat sasaran.

 

Aktivitas masyarakat dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung pada budaya dan nilai yang dipegang oleh masyarakat daerah tersebut. Pemetaan kegiatan masyarakat berarti juga pemetaan kebiasaan dan perilaku masyarakat. Hal tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan materi edukasi sehingga dapat tersampaikan secara optimal. Materi edukasi yang tepat sasaran akan mempermudah Satgas dalam mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat. Selain itu, dari kebudayaan yang berlaku dapat diketahui siapa sosok yang dihormati di daerah tersebut. Menjadikan tokoh masyarakat sebagai pemberi edukasi dan pengawas kebersihan sungai dapat mendukung pemerintah untuk mencapai tujuan program Citarum Harum.

 

Pemerintah melalui Satgas Citarum Harum tidak mampu mengendalikan pencemaran dan kerusakan Sungai Citarum sendirian, komunitas dan masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai harus bergotong royong membantu menjaga kelestarian Sungai Citarum. Pencemaran Sungai Citarum bukanlah sebuah masalah sederhana, perlu adanya penanganan yang terencana dan tepat sasaran serta melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dengan penanganan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sasaran, program Citarum Harum akan berjalan lebih efektif dan optimal.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest