Monthly Archives: June 2021

The Buyerarchy of Needs, Perhitungkan Kembali Sebelum Beli Baju

The Buyerarchy of Needs, Perhitungkan Kembali Sebelum Beli Baju

Di pertengahan tahun 2021 ini, coba hitung berapa pakaian yang sudah Generasi Hijau beli sejak awal tahun. Satu? Atau lebih dari lima? Lalu, berapa dari baju tersebut yang sering kamu pakai? Atau… apakah kamu sebenarnya tidak membutuhkannya? Bisa jadi kamu beli hanya karena tawaran harga murah, atau lapar mata saja. 

Tapi… rasanya sayang sekali kalau tidak beli. Nanti uangnya keburu dipakai untuk kebutuhan lain, nanti baju ini keburu habis, nanti tidak ada diskon seperti ini lagi…. Lebih baik nyesal beli daripada nyesal nggak beli!

Eits, biasanya pola pikir seperti itu yang akan membuat kita menghabiskan uang tanpa sadar, lho. Sebelum checkout, yuk kita pikirkan kembali. Apakah baju itu akan sering kamu pakai? Apakah sebenarnya kamu masih punya barang serupa? Yakinkah kamu, baju itu tidak akan mengendap di belakang lemari?

The Buyerarchy of Needs

Ilustrasi ini menyajikan cara berpikir baru sebelum memutuskan beli barang. Ada enam tingkatan dalam hierarki kebutuhan beli ini.

Pakai Yang Ada

Sebagai prioritas utama dan ada di tingkat paling bawah, Lazarovic menulis use what you have. Sebelum beli sesuatu, pikirkan kembali dan lihat isi lemari. Mungkin kita masih punya dress yang sudah setahun tidak dipakai. Atau celana jeans yang sebenarnya masih muat. Jika bosan dengan pakaian yang itu-itu saja, kita dapat mix and match atau tambahkan aksesoris untuk lebih bergaya

Pinjam Teman

Wah, jadwal sidang skripsi sudah keluar! Tapi belum punya blazer, kemeja putih, dan rok hitam… mau beli tapi rasanya hanya akan dipakai sekali saja. Ada baiknya pinjam teman saja, mungkin, ya? Generasi Hijau pernah ada di situasi seperti itu? Ketika kamu butuh sesuatu untuk satu kesempatan saja, dan sekiranya tidak akan dipakai lagi, jangan gengsi untuk meminjam ke orang lain. Borrow ada di tingkatan kedua. Pasti ada orang terdekat kita yang punya apa yang kita butuhkan. Sekiranya tidak memungkinkan, kamu dapat mengambil opsi untuk menyewa pakaian atau barang lainnya.

Pinjam teman

Swap atau menukar pakaian memberi kita kesempatan punya pakaian baru tanpa membelinya. Dengan begini, kita juga dapat mengganti isi lemari yang sudah lama tidak kita pakai. Prinsipnya adalah jumlah yang masuk harus sama dengan jumlah yang keluar. Misalnya, kita mengeluarkan tiga pakaian lama, dan memasukkan tiga pakaian baru. Jika kamu belum berkesempatan mengikuti acara besar yang diorganisir komunitas, tukar baju ini dapat kamu lakukan dengan teman-temanmu.

Beli Baju Bekas

Generasi Hijau pasti sudah tidak asing dengan thrifting. Baju bekas dari industri fast fashion kini banyak dijual kembali, baik melalui e-commerce atau media sosial. Selain mendapat baju bagus dalam kondisi layak dengan harga miring, kamu juga membantu mengurangi limbah tekstil ke TPA. 

Buat Sendiri!

Kalau Generasi Hijau punya hobi merajut atau menjahit, yuk coba membuat pakaian sendiri! Di tingkatan kelima ini, kamu punya kontrol penuh terhadap pakaianmu jika kamu membuatnya sendiri (make). Kamu dapat membuat baju yang sesuai ukuran tubuhmu atau menambahkan aksesori sesuai selera. Tingkatan kelima ini memang bukan untuk semua orang, namun tidak ada salahnya untuk dicoba.

Beli

Beli Membeli baju baru menjadi opsi paling akhir ketika kamu butuh sesuatu. Selalu ingat untuk mempertimbangkan lima langkah sebelumnya, ya. Jangan lupa, perhitungkan juga budget kamu untuk kebutuhan lain sebelum beli baju; karena kamu dapat gunakan baju yang sama selama bertahun-tahun, namun kamu lebih butuh menyediakan bahan pangan tiap harinya.

Dari pertimbangan kecil seperti ini, Generasi Hijau dapat menghemat uang tanpa disadari. Tentunya, kamu juga membantu menyelamatkan bumi dengan mempraktikkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Florentina, S. (2019, December 27). Yuk, Tukar Baju! Tampil Keren Sambil Menjaga Bumi. Retrieved from detik.com: https://news.detik.com/kolom/d-4837641/yuk-tukar-baju-tampil-keren-sambil-menjaga-bumi Martinko, K. (2018, October 11). Why Shopping Should Be a Last Resort . Retrieved from Treehugger: https://www.treehugger.com/why-shopping-should-be-last-resort-4856723

Sister Mountain. (2018, January 9). The Buyerarchy of Needs: How to Build a More Intentional Wardrobe. Retrieved from Sister Mountain: https://www.sistermountain.com/blog/buyerarchy-of-needs

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Tips Menerapkan Program Daur Ulang di Kantor

Tips Menerapkan Program Daur Ulang di Kantor

Kita sudah sering mendengar ajakan memilah sampah di rumah. Namun, bagaimana dengan sampah yang kita hasilkan di kantor?

Dilansir dari Envirowise, 70% sampah yang dihasilkan di kantor sebenarnya dapat didaur ulang. Kertas kering hasil salah cetak itu sebenarnya dapat dimanfaatkan lagi, sama seperti gelas plastik bekas kopi tadi pagi yang dibeli temanmu. Melihat hal ini, bayangkan berapa banyak sampah yang sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali namun berakhir menumpuk di TPA.

Jika Generasi Hijau sudah terbiasa memilah sampah di rumah dan menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan, untuk memulainya lagi di kantor pastinya tidak sulit. Yang sulit hanyalah mengajak teman kantor untuk sama-sama satu visi mewujudkan kantor yang minim sampah. Yuk simak tips di bawah ini untuk memulainya!

Bentuk Tim Satgas

Mengubah perilaku banyak orang bukan hal yang mudah dilakukan seorang individu. Ajak teman-teman dari departemen lain untuk menyatukan visi dan bisa bertukar pikiran untuk bisa mewujudkan kantor yang ramah lingkungan.

Libatkan teman teman tenaga kebersihan

Kadang, kita sudah memilah sampah kita namun disatukan lagi oleh teman-teman tenaga kebersihan di kantor dan berakhir di TPA. Kita perlu melibatkan mereka sehingga paham alasannya. Dengan bertukar pikiran, kita mendapat perspektif lain tentang perilaku orang-orang di kantor yang kita tidak ketahui sebelumnya, sehingga kita dapat mengimplementasikan program yang lebih efektif.

Sediakan tempat sampah terpilah

Setelah membentuk tim dan menyebarkan perspektif tentang pentingnya memilah sampah, langkah selanjutnya dapat dimulai dengan menyediakan tempat sampah terpilah. Dari kertas dan karton, sisa organik, plastik, kaca dan metal, semua perlu tempatnya masing-masing. Tim satgas dapat memberi konsekuensi bagi mereka yang memasukkan sampahnya tidak sesuai dengan jenis.

Tempat sampah terpilah di kantor dapat mengurangi sampah yang terbuang ke TPA. (Sumber: Best Eco Shop/Pinterest)

Jenis-Jenis sampah yang di hasilkan di kantor

  1. 1. Kertas

Menurut Environmental Protection Agency, rata-rata pekerja kantor menghasilkan sekitar 1 kilogram kertas dan produk karton setiap hari dan menggunakan 10.000 lembar kertas setiap tahun. Sayang sekali kan kertas hasil salah cetak yang masih bagus itu disatukan dengan sampah lainnya. Selain jadi bau, sampah ini jadi tidak bisa diolah kembali. Untuk mengurangi sampah kertas, kita bisa mencoba mencetak bolak-balik di dua permukaan kertas. Kita dapat juga memaksimalkan pengiriman berkas digital untuk meminimalisasi penggunaan kertas.

 

  1. 2. Sisa makanan

Seringkali karyawan menyimpan snack atau makanan sisa di kulkas pantry kantor hingga akhirnya lupa dan keburu kadaluarsa. Untuk mengurangi sampah makanan di kantor, yuk kita biasakan untuk menghabiskan makanan kita. Kita bisa juga menghindari menyimpan sisa makanan di kantor agar tidak lupa. 

 

  1. 3. Produk sekali pakai

Tidak heran, karena karyawan kantor biasanya diburu waktu. Produk sekali pakai jauh lebih praktis dan tidak perlu menunggu lama untuk disiapkan. Ini dapat menjadi salah satu agenda tim satgas untuk mengubah kebiasaan. Dengan membiasakan para karyawan untuk membawa tumbler dan tempat makan sendiri, kita dapat mengurangi sampah secara signifikan.

Bekerja sama dengan perusahaan pengelolaan sampah

Setelah semua sampah sudah terpilah, kita kadang bingung untuk memastikannya tidak terbuang ke TPA. Jika kita masih berlangganan tukang sampah konvensional, hampir pasti sampah yang sudah kita pilah dari sumbernya akan disatukan kembali.

Pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dapat mengurangi sampah ke TPA. (Sumber: dok. Waste4Change)

Demi memastikan sampah kita terolah dengan baik, kita dapat berlangganan jasa pengelolaan sampah terpilah. Untuk area Jabodetabek, kantormu dapat berlangganan layanan Responsible Waste Management dari Waste4Change. Kamu akan mendapat kantung sampah terpilah, edukasi manajemen sampah gratis, laporan perjalanan dan detail berat sampah, dan sampah kantormu sudah pasti dikelola dengan baik. Dengan memilah sampah dan memastikan tidak ada yang ke TPA, kantormu sudah menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Referensi

Amara, A. D. (2021, March 31). Pemilahan Sampah di Kantor 101: Cara Memilah Sampah Kantor Anda. Retrieved from Waste4Change Blog: https://waste4change.com/blog/waste-sorting-at-office-101-how-to-get-your-offices-waste-sorted/2/

Clean River. (n.d.). How to set up an office recycling program. Retrieved from Clean River Blog: https://cleanriver.com/set-office-recycling-program/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Atas nama pembangunan, manusia telah mengeksploitasi sumber daya bumi untuk membangun infrastruktur dan mengekspansi industri selama beberapa abad terakhir. Bukan tujuan yang salah, namun seringkali eksekusinya tidak dibarengi dengan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan sumber daya yang ada, melainkan kita menganggap lingkungan sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia, sehingga pengelolaan sumber daya merupakan suatu siklus timbal balik bagi manusia dan alam. Dengan begitu, manusia tidak egois dan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Sementara selama beberapa tahun terakhir, manusia telah merasakan dampak negatifnya dari pertambangan. Tentu saja, warga kecil di sekitar galian tambang yang paling merasakan dampaknya. Lantas, bagaimana industri pertambangan mempengaruhi tanah dan manusia? Masalah polusi air dan tanah, erosi, perubahan muka bentuk bumi, hingga bekas galian tambang yang kerap memakan korban.

Meninggalkan lubang besar

Galian tambang yang sudah tidak produktif akan meninggalkan lubang menganga sedalam 30-40 meter. Di banyak bekas lokasi tambang, lubang ini dibiarkan begitu saja. Lama kelamaan, lubang ini akan menampung air dan seringkali dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Warna airnya yang hijau dan kebiru-biruan indah dipandang mata. Padahal, warna tersebut tidak alami. Ia berwarna terang karena mengandung banyak logam berbahaya bagi manusia.

Warga sekitar yang mengelilingi danau bekas galian tambang setelah ada kabar korban tenggelam. (Sumber: dokumen Jatam Kaltim)

Menurut hasil uji dari Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) di bekas lubang tambang di Jambi, sampel air yang diambil mengandung pH 3,4. Sementara, standar pH air laik dikonsumsi adalah 6.5 – 8,5. Angka pH yang rendah dapat dikatakan bahwa tingkat keasaman air tinggi yang mengindikasikan tingginya logam berat yang terlarut di dalamnya. Secara kasat mata airnya terlihat jernih, namun tidak terdapat mikroorganisme maupun ikan yang dapat hidup di sana. Ironisnya, dengan kondisi air yang jernih tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan air dalam bekas galian tambang tersebut untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain isu air yang tidak laik, lubang bekas galian tambang ini juga kerap memakan korban. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lubang bekas tambang telah memakan korban hingga 33 jiwa. Kebanyakan masih berusia belia, usia 10-14 tahun.

Seperti dilansir dari Tirto.id, sejak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.7/2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat wisata adalah perbuatan legal. Padahal, reklamasi seharusnya adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka harus dikembalikan seperti hutan.

Mengubah Permukaan Tanah

Manusia modern bergantung pada mineral dan logam. Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya. Karena itu juga, jadilah lubang galian tambang.

Menurut Matthew Ross pada artikelnya di The Conversation, untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah struktur geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade. Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air. Untuk menunggu mineral tambang tersebut dapat diekstraksi kembali, butuh waktu proses geologis hingga ratusan tahun. Sementara kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya. Manusia tidak memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan mereproduksi. Karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan sulit memprediksi pergerakan bentang alam ini dalam evolusi masa depan mereka. Benua kuno di dunia dapat dilihat pergerakannya di tiap zaman geologis, namun manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Artikel ini merupakan hasil studi literatur yang dilakukan oleh tim Citarum Repair mengenai pemahaman tentang Common Pool Resources untuk tata kelola sumber daya (lingkungan khususnya) yang digunakan secara bersama oleh masyarakat dengan berbagai macam latar belakang.


Masyarakat tumbuh menjadi beragam secara etnis, budaya, dan ras. Meningkatnya populasi migran memiliki berbagai implikasi ekonomi di dunia, terutama di Afrika Utara dan Asia Barat (International Migration Report 2019) dan Afrika Sub-Sahara Tahun ini adalah 2019. Variabilitas yang berkembang ini mungkin menyulitkan bisnis untuk bersaing dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dalam Common Pool Resources (CPR) dalam dua cara: (1) secara langsung dengan mendiversifikasi kepentingan, dan (2) secara tidak langsung dengan mendiversifikasi kepentingan. Kemudian, (1) secara langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pengguna, dan (2) secara tidak langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pelaku Kerjasama dalam CPR berkurang dalam kedua kasus. Sumber daya alam atau buatan manusia, seperti padang rumput, adalah contoh CPR. Misalnya, hutan bersama, kolam pemancingan, atau sistem irigasi. Mengecualikan pengguna potensial itu mahal (Ostrom 1990).


Sumber daya bersama, tidak seperti barang publik, mungkin habis, mengeksposnya ke ‘tragedi milik bersama,’ seperti yang digariskan oleh Hardin (1968), situasi dimana strategi dominan jangka pendek pengguna adalah untuk mengeksploitasi sumber daya terbatas.


Ini akan hancur jika digunakan tanpa batas. Dampak peningkatan heterogenitas pada keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam proses ini (Baland dan Platteau 1999; Bardhan dan Dayton-Johnson 2002; Ruttan 2006, 2008; Varughese dan Ostrom 2001), masih diperdebatkan. Heterogenitas ekonomi mengacu pada perbedaan kekayaan, pendapatan, dan akses sumber daya, sedangkan heterogenitas sosial budaya mengacu pada perbedaan bahasa, etnis, agama, dan ekspresi budaya lainnya (Baland dan Platteau 1996; Bardhan 2000).


Ruttan 2006; dan Dayton-Johnson 2002). Sebagian besar penelitian mengklaim bahwa heterogenitas ekonomi dan sosial budaya dapat berkontribusi pada biaya negosiasi dan tawar-menawar yang lebih tinggi karena kurangnya konsep umum, kepercayaan, dan insentif di antara orang atau kelompok individu (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002), pembagian pengambilan keputusan yang tidak setara hak, dan berbagai alasan untuk bekerja sama (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002). (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan bahwa hal itu akan mengurangi kohesi sosial (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Namun, penelitian lain berpendapat bahwa heterogenitas ekonomi memiliki dampak positif pada penyediaan barang komunitas, yang mengklaim bahwa (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan akan mengurangi kohesi sosial. (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa heterogenitas ekonomi memiliki efek positif pada penyediaan barang kolektif, yang menyatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan ketidaksetaraan insentif, yang mengakibatkan beberapa apropriator cukup termotivasi untuk berinvestasi dalam aksi kolektif sendiri, sehingga menanggung biaya kerjasama.


Kami memasukkan kepercayaan sebagai mediator untuk menyelidiki hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR: terdapat bukti bahwa heterogenitas mempengaruhi kepercayaan (Alesina dan La Ferrara 2002; Delhey dan Newton 2005; Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001) dan memiliki dampak yang signifikan pada hasil sosial (Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001). Hubungan antara kepercayaan dan keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, akan diselidiki.


Tidak ada bukti hubungan negatif antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, menurut temuan tersebut. Heterogenitas ekonomi, di sisi lain, ditemukan berhubungan negatif dengan kepercayaan, sedangkan kepercayaan ditemukan berhubungan positif dengan keberhasilan CPR. Ada bukti pengaruh tidak langsung dari heterogenitas ekonomi pada keberhasilan CPR melalui kepercayaan.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Fenomena Smog Fotokimia

Fenomena Smog Fotokimia

Pernahkan kamu melihat pemandangan seperti foto di bawah ini? Pemandangan ini biasanya dapat kamu temukan dengan mudah di kawasan perkotaan yang padat dan banyak aktivitas kendaraan bermotor atau industri. Foto di bawah ini menunjukkan fenomena smog fotokimia. Apa itu smog fotokimia dan apakah ini berbahaya bagi lingkungan juga manusia? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!

Sumber: prior-scientific
Sumber: prior-scientific

Definisi

Smog merupakan gabungan kata antara smoke (asap) dan fog (kabut), yang berarti kabut yang berisi gas pencemar udara. Fotokimia adalah proses reaksi kimia yang diakibatkan oleh adanya cahaya. Smog fotokimia adalah campuran polutan yang terbentuk ketika senyawa nitrogen oksida (NOx) dan senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds atau VOCs) bereaksi dengna cahaya matahari sehingga menyebabkan kabut kecoklatan di atas kawasan perkotaan. Polutan yang terdapat pada smog fotokimia adalah ozon, lachrymator (substansi kimia yang dapat menyebabkan iritasi mata), dan zat-zat kimia berbahaya lainnya.

Penyebab

Terdapat 3 senyawa utama yang diperlukan untuk membuat reaksi kimia pembentuk smog terjadi. Ketiga senyawa tersebut adalah sinar ultraviolet (UV), hidrokarbon, dan nitrogen oksida (NOx). Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat berasal dari sumber alami ataupun dari kegiatan manusia.

Kebakaran hutan dan proses mikrobiologi yang terjadi di alam, terutama di tanah, akan menghasilkan NOx. Sedangkan senyawa VOCs dapat dihasilkan dari proses penguapan senyawa organik yang terjadi secara alamiah, seperti terpena (C5H8)n, yang merupakan hidrokarbon yang dihasilkan oleh tumbuhan dan terdapat dalam minyak sebagai pemicu terjadinya pembakaran. Eukaliptus, salah satu jenis pohon dari Australia, juga melepaskan senyawa ini dalam jumlah yang cukup besar. Selain itu, senyawa NOx dapat terbentuk melalui proses terjadinya petir. Gas nitrogen bereaksi dengan oksigen di sekitarnya membentuk nitrogen monoksida.

Hidrokarbon dan NOx sebagian besar dihasilkan dari kegiatan manusia seperti pembakaran pada mesin kendaraan bermotor. Di sebagian besar wilayah perkotaan, lebih dari 50% smog fotokimia terbentuk akibat adanya emisi kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor menyebabkan terjadinya emisi berbagai hidrokarbon yang belum terbakar, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur oksida. Pembakaran yang tidak sempurna ini biasanya terjadi ketika kendaraan bermotor sedang melaju cepat dan saat terjadinya kemacetan, yang menimbulkan kurangnya suplai oksigen untuk proses pembakaran. Pembakaran tidak sempurna juga dapat diakibatkan oleh proses pembakaran pada industri yang kurang suplai oksigen karena adanya kekurangan pada mesin.

Selain disebabkan oleh senyawa-senyawa yang berasal dari kedua jenis sumber tersebut, smog fotokimia juga sering disebabkan oleh angin yang tenang. Selama musim dingin, kecepatan angin menjadi rendah, sehingga asap dan kabut menjadi stagnan pada tempat terbentuknya smog dan meningkatkan tingkat polusi pada bagian permukaan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Terjadinya inversi termal dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah factor lokasi. Inversi termal dapat dengan lebih mudah terjadi di daerah lembah, karena pergerakan udara di daerah lembah lebih terbatasi dan suhu pada malam hari yang lebih dingin. Pada daerah pantai, inversi termal sangat sulit untuk terjadi. Hal ini disebabkan oleh suhu pada malam hari yang tetap hangat. Suhu yang hangat ini disebabkan oleh tingginya kelembaban. Uap air yang merupakan penyumbang terbesar terjadinya efek rumah kaca (50%, dihitung dari konsentrasi dan kemampuan zat menyerap energi matahari) menyebabkan panas tetap terperangkap di daerah pantai pada malam hari.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Dampak

Smog fotokimia dapat memberikan dampak pada lingkungan, kesehatan manusia, hingga kerusakan material. Dampak utama yang dapat dilihat secara langsung (visual) adalah kabut kecokelatan yang berada di atas wilayah perkotaan. Warna kecokelatan disebabkan oleh partikel cair dan padatan yang berukuran sangat kecil yang memendarkan cahaya.

Senyawa NOx, ozon, dan juga peroksiasetil nitrat (PAN) dapat mengurangi bahkan hingga menghentikan pertumbuhan tumbuhan dengan mengurangi proses fotosintesis. Ozon dalam jumlah kecil dapat menyebabkan hal ini, tetapi PAN bersifat lebih toksik lagi terhadap tumbuhan. Smog dapat menyebabkan masalah pada jantung dan paru-paru, iritasi mata, gangguan pernapasan, batuk, dan sesak pada manusia. Hal ini disebabkan oleh polutan-polutan yang terkandung dalam smog itu sendiri (NOx, VOCs, ozon, dan PAN). Ozon juga dapat merusak berbagai campuran material. Ozon dapat menyebabkan keretakan pada karet, mengurangi kekuatan tekstil, memudarkan warna pada kain, dan keretakan cat.

Referensi

EPA. (2004). Photochemical smog—what it means for us. Adelaide: EPA South Australia.

Foust, Richard. n.d. Photochemical Smog. Diperoleh dari http://mtweb.mtsu.edu/nchong/Smog-Atm1.htm

Manahan, Stanly E. (2000). Environmental Chemistry 6th Edition. Florida: CRC Press.

Rani, Bina et al. (2011). Photochemical Smog Pollution and Its Mitigation Measures. Journal of Advanced Scientific Research, 2011; 2(4): 28-33.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Jika Generasi Hijau berlibur ke pantai dan melihat sampah di tepinya, kemungkinan besar sampah itu bukan berasal dari daerah pesisir pantai. Bisa jadi sampah tersebut berasal dari negara di seberang lautan, sudah terombang-ambing di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya terbawa ombak dan terdampar di pantai.

Laut kita penuh sampah. Bukan hanya plastik kemasan, termasuk juga jala ikan, besi berkarat, atau sampah sisa peradaban manusia lainnya. Sebenarnya dari mana sampah ini berasal?

We often see marine debris washed ashore at the coast. (Source: dokumen Tim EcoRanger)

Sampah laut berasal dari beragam sumber. Pembuangan sampah dari seluruh dunia menjadi sebab utamanya. Dalam kasus tertentu, seperti ketika pengunjung pantai tidak mengambil sampah mereka dan mengelolanya dengan baik, sampah tersebut langsung masuk ke lautan. Seringnya, sampah tersebut datang dari seberang laut. Ketika ada yang buang sampah di jalan, kadangkala sampahnya tidak menyumbat saluran air dan terbawa arus hingga ke muara dan berakhir di laut.

Penyebab besar lainnya ialah sistem pembuangan sampah yang serampangan. TPA di Indonesia yang hampir penuh memang bukan solusi praktis. Sampah hanya dibuang hingga menggunung, tanpa ada pengolahan, dan terus menerus ditumpuk. Lama kelamaan, gunungan sampah tersebut tidak akan bisa menopang lagi. Kalau sudah begitu, mungkin akan jatuh, tertiup angin, terbawa saluran air, dan sampai ke laut.

Di seluruh dunia, banyak orang yang tidak punya akses ke pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Namun ketika sampahnya tetap menumpuk, mereka tidak hilang begitu saja. Sampah itu akan pindah tempat. Jika tidak di darat, kemungkinan besar akan menuju laut; tempat yang jauh dari penglihatan dan jangkauan mata manusia.

Bukan hanya di darat, sampah laut bisa bersumber dari aktivitas manusia di lautan juga. Tak jarang penumpang kapal secara sadar membuang sampahnya ke lautan. Atau barang yang sedang dipakai, tanpa sengaja jatuh dari kapal, tertiup angin, atau terseret arus. Contohnya saja, kamu sedang bermain di pantai yang ombaknya besar. Tanpa sadar, kamu keluar dari air tanpa memakai sandal. Ternyata sandalmu tahu-tahu sudah ada di tengah air yang cukup dalam. Sandalmu akan tetap ada di laut hingga bertahun-tahun selanjutnya, terbawa arus hingga hanyut di tepi pantai, atau berakhir di perut hewan laut. Selain itu, nelayan seringkali kehilangan perlengkapan pancing ketika mendapati badai di laut.

Sampah plastik di laut akan mencemari air dan biotanya. (Sumber: Naja Bertold Jensen/Unsplash)

Ketika sudah ada di laut lepas, sulit sekali melacak kedatangan sampah laut tersebut. Untuk sampah plastik sachet atau kemasan, kita masih dapat memastikan sampah ini datang dari negara mana melalui keterangan di kemasannya. Namun tentu saja sulit untuk menentukan, apakah kemasan ini datang dari sampah rumah tangga di darat, dari TPA, pantai, atau terbuang langsung dari lautan.

Intinya, semua sampah laut berasal dari aktivitas manusia. Manusia menjadi biangnya, dan tiap manusia punya tanggung jawab yang sama pula untuk menghentikan dan mencegahnya.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita mengurangi sampah plastik dari sumbernya. Dapat dikatakan, kita menutup keran terbentuknya sampah laut sejak awal. Hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti menggunakan tas kain, belanja di bulk store, mengompos, atau menggunakan menstrual pad, tentu akan berdampak besar jika dilakukan banyak orang. Kamu telah menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan tanpa kamu sadari. Jadi, jangan berkecil hati dengan usahamu ya.

Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Ocean Today. (n.d.). Where Does Marine Debris Come From? Retrieved from National Oceanic and Atmospheric Administration: https://oceantoday.noaa.gov/trashtalk_wheredoesmarinedebriscomefrom/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest