Monthly Archives: August 2021

Ilustrasi Karantina Mandiri

Penerapan PPKM Mempengaruhi Kualitas Udara di Indonesia

Penerapan PPKM Mempengaruhi Kualitas Udara di Indonesia

Ilustrasi Karantina Mandiri
Ilustrasi Karantina Mandiri. (Sumber: Sarah Kilian/Unsplash)

Angka infeksi Covid-19 yang sempat melonjak naik sejak pertengahan bulan Juni 2021 lalu, membuat pemerintah akhirnya mengambil tindakan tegas dengan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) yang telah diberlakukan untuk daerah Jawa dan Bali yang dimulai sejak 3 Juli 2021 dan aturan ini masih berlaku hingga sekarang.

Dengan diberlakukannya PPKM selama masa pandemi pada sejumlah wilayah, hal ini memiliki pengaruh terhadap kualitas lingkungan di Indonesia karena terbatasnya aktivitas yang dilakukan masyarakat di luar rumah. Penerapan PPKM saat ini memberikan kesempatan bagi lingkungan dalam pemulihan udara di Indonesia. Sebagai indikator untuk melihat bagaimana kualitas lingkungan di Indonesia adalah melalui kualitas udara pada wilayah tersebut.

Umumnya, dalam mengukur kualitas udara pada suatu wilayah memerlukan satuan polusi per meter kubik udara. Baik atau buruknya kualitas udara, dapat diketahui dari banyaknya polutan yang terdapat di udara dan salah satunya adalah particulate matter (PM). PM merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna. PM juga cukup berbahaya jika ukurannya yang semakin kecil maka akan semakin berbahaya bagi tubuh kita, karena dari ukurannya yang kecil berarti akan semakin mudah masuk ke dalam tubuh tanpa bisa tersaring oleh filter tubuh kita. Partikel kecil tersebut bahkan bisa masuk ke dalam bagian terkecil dari sistem pernapasan kita.

PM terdiri dari 3 bagian, yaitu condensed organic material, soot particle, dan fly ash (inorganic). Bagian terbesarnya adalah soot atau unburnt carbon. Sementara, berdasarkan ukurannya, PM terbagi menjadi 2 jenis, yaitu PM2.5 atau polutan yang lebih kecil dari 2,5 mikrogram per meter kubik (μg/m3) dan PM10. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara yang sehat jika berada dalam PM2,5 masih di bawah 60 μg/m3 dan PM10 di bawah 150 μg/m3.

Di berbagai kota di Indonesia, pengurangan mobilitas penduduk terbukti meningkatkan kualitas udara. Di Pekanbaru, Rosita Rakhim dan Wendel Jan Pattipeiloh melakukan penelitian dengan menganalisis kualitas udara di kota Pekanbaru pada saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum PSBB, angka PM10 sebesar 5-10 μg/m3. Kemudian setelah PSBB, kualitas udara Pekanbaru beranjak naik menjadi 5-10 μg/m3.

Di Jakarta, BMKG melaporkan perbandingan kualitas udara Jakarta pada Maret 2019 dan Maret 2020, angka PM10 yang cenderung turun. Selama Maret 2019 angka PM10 di Jakarta sebesar 65 di awal bulan dan mencapai puncak 85 μg/m3 di akhir bulan. Apabila dibandingkan dengan masa awal pandemi di Indonesia pada awal Maret 2020, angka PM10 Jakarta langsung turun. Angkanya hanya 30-70 μg/m3.

PM10 dan Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

PM10 berasal dari pembakaran batu bara atau asap knalpot kendaraan bermotor. Meski sejumlah pembangkit listrik atau pabrik berada di lingkar luar Jakarta, asapnya mengotori langit Jakarta sehingga menurut riset Jaringan Kerja Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, tak ada waktu berolahraga yang bagus buat warga Jakarta sebelum pandemi Covid-19.

Polusi merupakan salah satu hal yang paling mengancam dan dapat membahayakan kesehatan manusia secara perlahan. Menurut WHO, 9 dari 10 orang penduduk di dunia menghirup udara yang mengandung polusi. Sebanyak 7 juta orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan gangguan kardiovaskular.

Kualitas udara Jakarta semakin menurun akibat emisi dan polusi tak memiliki penyerap, yakni pohon dan taman kota. Menurut UU Ruang Terbuka Hijau, emisi akan terserap jika sebuah kota memiliki areal ruang terbuka hijau sebanyak 30% dari luas wilayahnya. Kota Jakarta dengan luas wilayah 66.000 hektare, hanya memiliki 14,9% ruang hijau.

Akibatnya polusi membumbung ke udara lalu kembali turun bersama oksigen yang terhirup oleh manusia. Saat padat polusi, polutan membumbung setinggi 2-3 kilometer, kemudian kembali turun ketika kepadatan polusi berkurang karena turunnya lalu lintas kendaraan bermotor. Biasanya hal ini terjadi pada pagi dan malam hari. Maka dampak PPKM terhadap kualitas udara cukup signifikan karena menghentikan sumber polusi di banyak kota.

Kesempatan untuk Membangun Kembali

Inovasi kesehatan dan pengguliran vaksin akan membawa dampak positif terhadap kepulihan masyarakat dunia dari Covid-19. Akan tetapi, dengan kembalinya mobilitas masyarakat dan industri, ada kekhawatiran kualitas udara di berbagai tempat di dunia akan menurun kembali.

Jeda yang diberikan pandemi dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk membangun kota yang lebih berkelanjutan pasca pandemi. Kesempatan ini sudah dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kota-kota di belahan wilayah dunia. Paris, Milan, Brussels, dan London berkomitmen untuk memperluas jalur sepeda mereka untuk mengakomodasi transportasi berkelanjutan. Bahkan, Prancis menargetkan akan menjadi negara dengan karbon netral pada 2050, dan Inggris menargetkan 80% pengurangan emisi pada 2050.

Kesempatan ini pun juga milik Indonesia. Selagi pemerintah berbenah menyiapkan kota yang berkelanjutan, kita pun bisa menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan untuk menyongsong kehidupan pasca pandemi yang lebih sehat dan lebih hijau.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. https://www.gjesm.net/article_40288_

  2. dcaaec135c595ceb30158e25f364155e.pdf diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  3. https://nasional.kompas.com/read/2021/06/30/

  4. 20101901/rencana-ppkm-darurat-jawa-bali-mulai-3-juli-2021-ini-gambaran-aturannya?page=all diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  5. https://www.forestdigest.com/detail/1214/dampak-ppkm-kualitas-udara diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  6. https://covid19.go.id/p/berita/tingkat-kepatuhan-membaik-dampak-dari-ppkm-dan-ppkm-mikro diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  7. https://www.idntimes.com/science/discovery/anisa-anggi-dinda/mengenal-particulate-matter-polutan-berbahaya-bagi-pernafasan-c1c2/3 diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  8. https://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JKLH/article/download/6172/5356 diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  9. https://jurnal.stmkg.ac.id/index.php/jmkg/article/

  10. download/141/115/ diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Masker Bekas Pakai

Cara Mengelola Sampah Masker Bekas Pakai

Cara Mengelola Sampah Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Masker Bekas Pakai. (Sumber: Limpido/iStockPhoto)

Di masa pandemi, masker merupakan salah satu barang penting dan tentunya digunakan bagi setiap orang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Penggunaan masker ini juga menjadi salah satu bagian dari protokol kesehatan yang wajib dipatuhi karena memakai masker dapat melindungi seseorang dari infeksi Covid-19.

Dilansir dari covid19.go.id, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 (Satgas Covid-19) menjelaskan bahwa penggunaan masker medis ini akan memberikan perlindungan hingga 30% sampai 95% dari infeksi virus Covid-19 dengan bergantung pada jenis masker yang digunakan. Namun Satgas Covid-19 juga memastikan bahwa masker medis lebih efektif melindungi dari virus Covid-19 dibandingkan dengan penggunaan masker kain yang efektivitasnya hanya mencapai 10 persen.

Beragamnya jenis masker yang digunakan tentu akan menyebabkan kenaikan volume timbunan sampah masker. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah mengumpulkan sebanyak 1,5 ton limbah masker medis atau masker sekali pakai selama pandemi Covid-19 di Jakarta. Data limbah masker tersebut terhitung sejak April hingga akhir Desember 2020 lalu. Salah satunya adalah masker medis atau masker yang hanya diperbolehkan dalam sekali pemakaian dengan jangka waktu maksimal hanya 6 jam saja dan setelahnya masker tersebut harus dibuang. Masker medis sendiri akan menghasilkan limbah medis yang tidak bisa dibuang secara sembarangan. Apabila salah langkah ketika membuang masker medis bisa berujung pada penularan Covid-19.

Generasi Hijau, kita mungkin sudah banyak mendengar dan mengetahui kabar mengenai kasus daur ulang dan penjualan ulang masker bekas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab ketika kelangkaan masker terjadi pada masa awal pandemi. Untuk mencegah hal tersebut terulang kembali, kita perlu membuang masker bekas pakai dengan cara yang tepat karena selain untuk mempermudah pengelolaan limbah masker, kita juga bisa membantu mencegah hal tersebut terulang.

Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Limbah Masker dari Masyarakat yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan pada bulan Maret 2020 lalu, kita bisa menerapkan beberapa langkah berikut untuk membuang masker bekas pakai:

1. Kumpulkan Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Limbah Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Limbah Masker Bekas Pakai. (Sumber: Kaldera News)

Masker medis idealnya tidak digunakan lebih dari 6 jam karena akan dapat mengurangi efektivitas masker. Namun, jika kita dalam kondisi melakukan aktivitas di luar rumah, kita perlu mengganti masker medis hingga 3-4 kali yang harus dibuang. Kita bisa mengganti masker yang sedang kita gunakan apabila masker tersebut dalam kondisi yang basah, robek, ataupun terlalu lembab.

Setelah mengganti masker, kita perlu mengumpulkan masker bekas yang sudah kita pakai seharian sebelum dibuang ke tempat sampah, terlebih jika kita tidak sempat membuang masker bekas pakai tersebut dengan benar.

2. Desinfeksi Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Desinfektan
Ilustrasi Desinfektan. (Sumber: Anshu A/Unsplash)

Langkah selanjutnya setelah mengumpulkan masker bekas pakai adalah kita bisa melakukan desinfeksi pada masker-masker tersebut dengan cara merendam masker yang sudah selesai digunakan pada larutan desinfektan atau klorin.

3. Ubah Bentuk Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Menggunting Masker Bekas Pakai. (Sumber: Antara News)

Setelah masker bekas pakai direndam menggunakan larutan desinfektan, lakukan langkah penting namun terkadang suka dilupakan bagi sebagian orang, yaitu menyobek atau memotong bagian masker bekas pakai.

Kita bisa mengubah bentuk masker bekas pakai dengan cara memotong masker hingga menjadi dua bagian, merusak tali masker dengan cara memutuskan kedua tali tersebut agar masker tidak digunakan kembali maupun tersangkut pada benda atau makhluk hidup lain. Mengubah bentuk masker bekas pakai tentunya dapat membantu mencegah masker tersebut digunakan kembali oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

4. Ubah Bentuk Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Membuang Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Membuang Masker Bekas Pakai. (Sumber: Beauty Journal)

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kita bisa membuang masker bekas pakai pada tempat sampah khusus masker yang tersedia di ruang publik atau dapat dibuang melalui tempat sampah berwarna kuning khusus untuk menampung limbah infeksius.

Namun, jika tidak menemukan tempat sampah khusus masker, kita bisa membungkus rapat masker bekas yang sudah kita gunakan dengan plastik transparan agar memudahkan petugas medis dalam mengolah limbahnya dan membuang sampah masker tersebut ke tempat sampah domestik.

5. Cuci Tangan

Ilustrasi Mencuci Tangan Dengan Sabun
Ilustrasi Mencuci Tangan Dengan Sabun. (Sumber: Melissa Jeanty/Unsplash)

Langkah terakhir setelah membuang sampah masker bekas pakai adalah jangan lupa untuk mencuci tangan kita menggunakan sabun dan dengan kondisi air mengalir. Apabila kita sedang berada dalam kondisi sulit menemukan tempat cuci tangan yang memadai, kita bisa menggunakan hand sanitizer dengan kadar alkohol minimum 70%.

Saat ini, banyak institusi di Indonesia yang tengah mencoba mendaur ulang sampah medis. Salah satunya adalah Parongpong Raw Lab yang melakukan inovasi dengan mengumpulkan sampah masker bekas pakai kemudian memanfaatkan tali dan polimer yang ada pada masker tersebut sebagai pengganti pasir karena pasir termasuk dalam kategori sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.

Parongpong Raw Lab merupakan perusahaan pengelolaan/pengolahan sampah yang memberikan pelatihan untuk memisahkan sampah, mendaur ulang, dan mencegah sampah residu agar tidak mencapai tempat pembuangan sampah (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA) dengan dikelola secara mandiri oleh penghasil sampah.

Kesehatan kita menjadi prioritas di masa pandemi ini. Tapi, alangkah baiknya jika kita bisa menjaga kesehatan dan lingkungan sama baiknya. Mengelola sampah masker dapat menjadi implementasi sederhana prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan, yang menjaga kita, para petugas persampahan yang rentan terkena COVID-19, serta orang lain dari pandemi ini.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. https://covid19.go.id/p/berita/
  2. menggunakan-masker-yang-benar-cara-ampuh-menangkal-virus diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  3. https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-kelola-limbah-masker-masyarakat diperoleh pada 20 Agustus 2021.
  4. https://indonesiabaik.id/infografis/
  5. pakai-lepas-dan-buang-masker-dengan-benar diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  6. https://health.kompas.com/read/
  7. 2020/03/21/180100768/cara-menggunakan-melepas-dan-membuang-masker-yang-benar diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  8. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5396523/penting-ini-cara-buang-limbah-masker-agar-tak-tularkan-virus-corona diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  9. https://www.dlhk.jogjaprov.go.id/
  10. pengelolaan-sampah-masker-sekali-pakai diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  11. https://news.detik.com/berita/d-5350288/15-ton-sampah-masker-bekas-dari-rumah-tangga-terkumpul-selama-pandemi diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  12. https://www.liputan6.com/lifestyle/
  13. read/4596631/inovasi-limbah-masker-jadi-bahan-tembok-dari-parongpong diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Polusi Udara

Bumi Memanas 1,5 Derajat Celcius, Apa Akibatnya?

Bumi Memanas 1,5 Derajat Celcius, Apa Akibatnya?

Ilustrasi Polusi Udara
Ilustrasi Polusi Udara. (Sumber: Veeterzy/Unsplash)

Kebakaran hutan di Pulau Komodo, Yunani, dan Turki, banjir di Filipina dan Eropa barat, hingga gelombang ekstrim di Kanada menjadi dampak mengerikan terbaru dari perubahan iklim. Mengkonfirmasi hal ini, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan hasil studi terbaru mengenai kenaikkan suhu permukaan bumi yang diperkirakan akan naik hingga mencapai lebih dari 1,5 derajat dalam kurun waktu kurang lebih dua dekade ke depan, meleset dari target Perjanjian Paris (Paris Agreement).

Laporan tersebut menyebutkan upaya dalam mengurangi emisi sekarang ini tidak akan mampu mencegah kenaikkan suhu permukaan bumi hingga tahun 2050 mendatang. Hal ini tentunya bisa mengakibatkan fenomena perubahan cuaca ekstrim seperti meningkatnya potensi terjadinya gelombang panas, hujan lebat, atau siklon tropis. Selain itu, sejumlah kawasan pun akan mengalami musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih lama.

IPCC juga berpendapat bahwa aktivitas manusia yang menjadi penyebab utama dalam perubahan drastis pada iklim, hingga berdampak pada lingkungan seperti kenaikkan permukaan laut, mencairnya es di kutub dan gletser, fenomena gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, kekeringan, hingga gagal panen.

Sejak laporan terakhir IPCC pada tahun 2014 silam, para ilmuwan meyakini bahwa perubahan iklim akan melaju lebih cepat. Solusi yang sekiranya memungkinkan untuk dilakukan adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dalam skala besar dan penggunaan bahan bakar fosil. Akan tetapi, upaya ini terhalang oleh sikap pemerintah, pelaku usaha, maupun konsumen. Ilmuwan iklim Institute for Atmospheric and Climate Science dari Universitas ETH Zurich, Swiss, Sonia Seneviratne berpendapat bahwa dunia kini sudah menghadapi krisis iklim dan hal ini merupakan masalah yang sangat besar.

Seberapa cepat perubahan iklim mempengaruhi lingkungan?

Menurut Climate Action Tracker, lembaga asal Jerman, pada tahun 2015, para pemimpin dunia berjanji untuk memperlambat laju pemanasan global di bawah 2 derajat celcius, atau paling ideal yaitu 1,5 derajat celcius melalui Perjanjian Paris. Namun, pada kenyataannya, dunia sedang mengarah pada level kenaikkan suhu sebesar 3 derajat celcius. Angka ini merupakan angka rata-rata dunia, yang berarti negara di bagian Utara bisa saja mengalami kenaikan suhu sebesar 2 derajat, namun negara lain di bagian Selatan bisa mengalami kenaikan suhu hingga 7 derajat. Implikasinya, akan banyak tempat di dunia yang tidak layak huni. NASA meyakini pemanasan global ini akan paling parah mempengaruhi Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Meski terlihat kecil, dampak yang dihasilkan pemanasan global 3 derajat celcius lebih mengerikan daripada 1,5 derajat celcius. Dengan pemanasan 1,5 derajat celcius saja, ketinggian permukaan laut akan naik hingga 48 cm hingga menyebabkan banjir hebat dan tenggelamnya kota di tepi pantai, laut akan memanas 16 kali lipat hingga mengancam spesies laut dan sumber makanan, akan ada penambahan rata-rata 19 hari dengan gelombang panas ekstrim yang meningkatkan potensi kebakaran hutan, akan ada 2 bulan kekeringan dalam setahun yang meningkatkan potensi kekeringan dan gagal panen serta kelangkaan air. Sementara dengan pemanasan 3 derajat celcius, ratusan juta orang akan kehilangan tempat tinggal akibat tenggelamnya rumah mereka, laut akan memanas 41 kali lipat, dan akan ada 10 bulan kekeringan dalam setahun.

Selain bencana alam, perekonomian manusia pun akan menanggung akibatnya. Rata-rata produk domestik bruto (GDP) dunia akan menurun hingga 8% pada kenaikan suhu 1,5 derajat celcius dan 13% pada kenaikan suhu 2 derajat celcius. Dunia juga akan merugi 10,2 triliun dolar per tahun akibat banjir pada kenaikan suhu 1,5 derajat celcius, dan merugi 11,7 triliun dolar per tahun pada kenaikan suhu 1,5 derajat celcius.

Berpacu dengan waktu

Jakarta merupakan kota yang tenggelam paling cepat di dunia, disusul Ho Chi Minh City, Bangkok, New Orleans, dan Tokyo. Negara kepulauan termasuk Indonesia, merupakan negara yang paling cepat tenggelam akibat pemanasan global.

Guna memperlambat laju pemanasan global, kita perlu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 6% per tahun menuju 2030. Angka ini setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca pada 2020, ketika pandemi COVID-19 mengurangi mobilitas manusia dan produksi pabrik dengan bahan bakar fosil.

Generasi Hijau, upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dapat dilakukan dengan melakukan transisi radikal menuju ekonomi sirkular. Secara global, semua negara harus beralih dari penggunaan bahan bakar fosil dan industri ekstraktif. Sementara dalam tingkat individu, kita sebagai warga negara dan konsumen, harus sadar menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dalam keseharian kita.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.ipcc.ch/report/r6/wg1/

downloads/report/IPCC_AR6

_WGI_SPM.pdf diakses pada tanggal 13 Agustus 2021

https://id.wikipedia.org/wiki/

Panel_Antarpemerintah_

tentang_Perubahan_Iklim diakses pada tanggal 13 Agustus 2021

https://www.liputan6.com/

global/read/3662451/pbb-kita-hanya-punya-waktu-12-tahun-untuk-cegah-malapetaka-pemanasan-global diakses pada tanggal 13 Agustus 2021

https://www.beritasatu.com/dunia/

812357/suhu-permukaan-bumi-bakal-naik

-lebih-dari-15-c diakses pada tanggal 13 Agustus 2021

https://www.economist.com/briefing/

2021/07/24/three-degrees-of-global-warming-is-quite-plausible-and-truly-disastrous diakses pada tanggal 16 Agustus 2021

https://climate.nasa.gov/news/2865/

a-degree-of-concern-why-global-temperatures-matter/ diakses pada tanggal 16 Agustus 2021

https://interactive.carbonbrief.org/

impacts-climate-change-one-point-five-degrees-two-degrees diakses pada tanggal 16 Agustus 2021

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Tempat Sampah

Pemerintah, Publik, dan Persampahan

Pemerintah, Publik, dan Persampahan

Dewasa ini, banyak faktor yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, namun di antaranya adalah penurunan konsumsi rumah tangga. Sampah domestik, limbah padat, dan limbah industri adalah beberapa jenis limbah yang paling mencemari. Lindi, produk sampingan dari limbah padat, membunuh ikan, menurunkan kualitas air, dan menularkan penyakit. Rumah tangga merupakan sumber sampah campuran yang dapat merusak lingkungan. Sampah organik, sabun, plastik, elektronik, medis, dan dapur adalah sampah yang paling banyak kita temukan di rumah tangga. Pertumbuhan penduduk berarti peningkatan konsumsi dan produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, kita belum siap dengan sampah yang kita hasilkan dari segala aktivitas mengikuti pertambahan penduduk. Tingkat Rumah Tangga, Keluarga dan Masyarakat memiliki produk sehari-hari, usaha kecil, dan kegiatan ekonomi penting untuk produksi sampah. Pada level ini, kami berpendapat bahwa masyarakat perlu memahami tentang sampah mereka dari rumah mereka.

Bagaimana mengedukasi masyarakat? Bagaimana cara mengubah perilaku mereka? Dua pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh orang-orang. Kami memahami bahwa masyarakat memiliki begitu banyak latar belakang orang seperti budaya, ras, sumber daya dan pemahaman literasi. Masyarakat yang berbeda berarti pendekatan yang berbeda untuk melibatkan mereka ke dalam program pendidikan. Setelah komunitas berdiri dan berjalan, Anda dapat menciptakan insentif ekonomi yang memungkinkan bisnis tetap beroperasi. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, kita mulai dengan meningkatkan pola pikir individu, diikuti oleh institusi, organisasi, dan pemerintah untuk mengelola pemahaman yang dihasilkan. Kita bisa mulai dengan menempatkan pola pikir Keluarga Sehat atau Keluarga Tangguh di beberapa masyarakat. Kembali ke akar kebutuhan dasar seperti Kesehatan dan Keluarga. Pemerintah dapat mulai mengembangkan program mereka dengan bantuan LSM, akademisi, dan aktivis yang lebih memahami penelitian ini. Penelitian ini akan membantu kita menemukan karakteristik umum berdasarkan pendapatan, pengeluaran, tingkat pendidikan, lokasi, dan usia. Hal ini akan menentukan jenis pendekatan untuk mendidik mereka atau membuat policy brief yang akan diterapkan.

Seiring dengan pendidikan dan kebijakan, perlu dikembangkan industri pengelolaan sampah di tingkat nasional dan daerah untuk meningkatkan pelayanan dan perhatian publik. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat kemauan politik Pemerintah untuk mengelola sampah. Hal ini juga akan memicu penelitian di bidang industri, energi, dan pengelolaan berbasis limbah. Dengan tata kelola yang baik dan berbasis ilmu pengetahuan untuk membuat keputusan, kualitas kebijakan akan sangat baik, dan diharapkan keberlanjutan dapat tercapai.

Partisipasi masyarakat meningkat dengan adanya transparansi Pemerintah dalam menyampaikan permasalahan dan solusi berdasarkan kehidupan nyata. Hal ini membawa tumbuhnya kesadaran masyarakat dari sinergi bottom up dan top down untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas sampah untuk mencapai kesehatan global di area publik.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Medali Olimpiade Tolyo 2020

Medali Olimpiade Tokyo 2020 Terbuat Dari Sampah Elektronik

Medali Olimpiade Tokyo 2020 Terbuat Dari Sampah Elektronik

Medali Olimpiade Tolyo 2020
Medali Olimpiade Tokyo 2020. (Sumber: Laredo/Morning Times)

Sejarah mencatat perolehan medali emas pertama yang berhasil diraih oleh tim ganda putri Indonesia yaitu Greysia Polii dan Apriyani Rahayu dalam acara olahraga bergengsi, Olimpiade Tokyo 2020, sukses membuat seluruh masyarakat Indonesia bangga dan kagum mengingat momen langka ini merupakan emas ganda putri pertama bagi Indonesia sejak penyelenggaraan Olimpiade pertama di Barcelona pada tahun 1992 silam.

Sehubungan dengan medali yang digunakan untuk Olimpiade Tokyo 2020 terdapat hal unik dalam bahan pembuatannya. Pasalnya, medali yang diberi nama Tokyo 2020 Medal Project ini terbuat dari sampah elektronik. Panitia penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade melakukan daur ulang sampah sebagai bentuk kontribusi untuk masyarakat dan kepedulian terhadap isu limbah elektronik dalam menerapkan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Selain itu, panitia penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade juga berharap proses pembuatan medali ramah lingkungan ini bisa berkelanjutan dan menjadi warisan Olimpiade Tokyo 2020.

Dikutip dari USA Today, pembuatan medali Olimpiade Tokyo 2020 dibuat dengan memanfaatkan sekitar 80.000 ton sampah elektronik yang dikumpulkan sejak Februari 2017. Proyek besar ini dimulai dengan mengajak seluruh rakyat Jepang ikut berpartisipasi dalam menyumbangkan barang-barang elektronik yang sudah tidak terpakai. Setelah pemerintah Jepang berhasil mengumpulkan sampah elektronik dari berbagai kota dan desa di Jepang, hasilnya terkumpul sampah elektronik yang terdiri dari sampah ponsel dengan jumlah yang mendominasi hingga mencapai sekitar 6 juta unit, serta sampah elektronik lainnya seperti laptop, komputer, konsol game dan baterai yang sudah tidak terpakai.

Selanjutnya sampah elektronik memasuki proses daur ulang yang panjang hingga menjadi medali yang siap digunakan untuk Olimpiade Tokyo 2020. Hasil dari proses tersebut diperoleh 70 pon (32 kilogram) emas, 4.000 kilogram perak, dan 2.000 kilogram perunggu. Total medali yang berhasil dibuat dari hasil daur ulang sampah elektronik ini berjumlah sekitar 5.000 medali, diukir oleh pengrajin Jepang bernama Junichi Kawanishi. Sebelumnya, beliau telah bersaing bersama 400 seniman lainnya untuk berlomba mendapatkan posisi tersebut dan akhirnya beliau berhasil lolos untuk mendesain medali yang digunakan pada Olimpiade Tokyo 2020.

Selain menggunakan sampah elektronik sebagai bahan dalam pembuatan medali Olimpiade Tokyo 2020, pita yang digunakan sebagai desain medali Olimpiade Tokyo 2020 juga berasal dari barang hasil daur ulang yang ramah lingkungan. Desain medali Olimpiade Tokyo 2020 ini sangat mewakili budaya Jepang yaitu dengan menggunakan pita yang menunjukkan ichimatsu moyo modern atau pola kotak-kotak dan kasane no irome atau teknik pelapisan kimono. Pewarnaan pita dilakukan melalui serat poliester hasil daur ulang yang lebih ramah lingkungan. Garis cembung silikon diterapkan pada permukaan pita sehingga siapapun dapat mengenali jenis medali (emas, perak, atau perunggu) cukup dengan menyentuhnya. Serat poliester tersebut menghasilkan lebih sedikit CO2 selama proses pembuatannya. Hal ini memungkinkan untuk penggabungan warna grafis inti Tokyo 2020 dan tahan lama di saat yang bersamaan.

Inisiatif penerapan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dilakukan oleh Jepang dalam penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 lainnya adalah beberapa perlengkapan yang juga terbuat dari bahan hasil daur ulang seperti podium yang terbuat dari sampah plastik dan tempat tidur yang terbuat dari kardus, kemudian berupaya dalam mengurangi emisi karbondioksida melalui carbon offsetting, serta menggunakan transportasi yang ramah lingkungan seperti bis listrik dan truk dengan tenaga hidrogen.

Generasi Hijau, berkaca dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 saat ini, Jepang telah sukses berinovasi dalam menjaga lingkungan. Hal ini membuktikan bahwa penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan di keseharian kita sangat memungkinkan untuk dilakukan. Kita juga bisa ikut andil dalam menerapkan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan dimulai dari hal-hal kecil seperti mengganti penggunaan kantong plastik menjadi tas kain, menggunakan botol minum yang bisa dipakai berulang kali untuk membantu menciptakan kepedulian kita terhadap lingkungan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

Gold medals not entirely made of gold? Here’s everything to know about the medals at Tokyo Olympics. (26 Juli 2021). Diperoleh pada 05 Agustus 2021 dari https://www.usatoday.com/story/

sports/olympics/2021/07/22/2020-olympics-tokyo-gold-silver-bronze-medals/8046071002/

 

Badminton Olimpiade: Momen Greysia Polii/Apriyani Rahayu ‘buat sejarah’ di ganda putri dalam rangkaian foto. (02 Agustus 2021). Diperoleh pada 05 Agustus 2021 dari https://www.bbc.com/indonesia/

dunia-58057381

 

Manfaatkan Limbah Elektronik, Ini Detail Pembuatan Medali Olimpiade Tokyo 2020. (26 Juli 2021). Diperoleh pada 06 Agustus 2021 dari https://

www.goodnewsfromindonesia.id/

2021/07/26/manfaatkan-limbah-elektronik-ini-detail-pembuatan-medali-olimpiade-tokyo-2020

 

Semua Medali di Olimpiade Tokyo Hasil Daur Ulang Ponsel dan Laptop Tua. (27 Juli 2021). Diperoleh pada 06 Agustus dari https://www.tempo.co/dw/5425/

semua-medali-di-olimpiade-tokyo

-hasil-daur-ulang-ponsel-dan-laptop-tua

 

Tahukah Kamu? Ini 8 Fakta Menarik Medali Olimpiade Tokyo 2020. (04 Agustus 2021). Diperoleh pada 06 Agustus 2021 dari https://klikpositif.com/baca/93929/

tahukah-kamu-ini-8-fakta-menarik-medali-olimpiade-tokyo-2020.html

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Hidup Manusia Bergantung pada Ekosistem Sungai

Hidup Manusia Bergantung pada Ekosistem Sungai

Di zaman kuno, peradaban manusia sering ditemukan dekat dengan sumber air. Sungai dapat menjadi sumber air serta sumber makanan berlimpah bagi manusia. Selain untuk minum, mencuci dan mandi, manusia dapat mencari ikan maupun memburu burung atau hewan lain yang tinggal di sekitar sungai. Manusia juga dapat mengairi ladang dengan irigasi dari sungai.

Sayangnya, kita sudah jarang menemui aliran air di kota yang bersih dan bebas sampah. Penelitian dari Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 20.000 sampah plastik ukuran besar (plastik makro) yang mengalir ke laut melalui sungai di Jakarta selama satu jam. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa jumlah sampah plastik dari semua sungai di Jakarta mencapai berat 2,1 juta kilogram (Van Emmerick, Tim, 2020). Berat ini setara dengan 42.000 kali berat mahkota emas Monas.

Peranan penting sungai bagi ekosistem

Sungai, danau, rawa, merupakan ekosistem air tawar yang penting bagi hidup manusia. Sesungguhnya, 97,5% air di permukaan bumi merupakan air asin, dan hanya 2,5%-nya air tawar yang dapat dikonsumsi manusia. Karena itu, untuk memahami peranan pentingnya bagi kita dan makhluk hidup lain, kita perlu paham bagaimana struktur sungai dan fungsi mereka. Peran sungai pun melekat kuat di sejarah kita, serta menjadi warisan alam yang penting untuk masa depan kita dan generasi mendatang.

Hilir Sungai Citarum yang penuh sampah sangat berbeda dengan daerah hulunya, yang ada di pegunungan dan bersumber langsung dari mata air Gunung Wayang. (Sumber: Adhi Wicaksono/REPUBLIKA)

Generasi Hijau, yuk lihat beberapa peranan penting sungai bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya yang jarang kita sadari.

Sungai yang sehat menjadi sumber air bersih utama

Jika seluruh air di dunia diibaratkan ada di satu galon, sebenarnya hanya satu sendok makan air bersih yang dapat kita konsumsi. Ekosistem sungai yang sehat berdampak secara langsung pada air yang kita konsumsi. Hutan di sekeliling sungai berperan sebagai filter, terus menerus menyaring air sungai sehingga tidak perlu energi maksimal untuk memfiltrasinya menjadi air minum.

Sungai melindungi daerah dari banjir

Mungkin akan berbeda arus aliran sungai di kota dan di pegunungan, namun idealnya, sungai dengan daya tampung yang baik dan ekosistem yang sehat tidak akan meluap. Sebaliknya, ekosistem sungai yang sehat akan menyuburkan tanaman di sekelilingnya, sehingga mengundang ikan dan hewan lain untuk hidup di sekitar sungai.

Sungai sebagai rumah biodiversitas urban

Sekumpulan angsa berenang di Sale Water Park, Britania Raya. (Sumber: Chris Curry/Unsplash)

Menurut penelitian yang dilakukan Endah Sulistyawati dan Dasapta Irawan dari Institut Teknologi Bandung, terdapat 335 spesies hewan dan tumbuhan yang ditemukan di bantaran Sungai Cikapundung, Bandung. Seperti ditulis di The Conversation, indeks diversitas dan kekayaan spesies umumnya tinggi di bagian hulu dan rendah di bagian hilir. Hal ini menunjukkan, bahwa bantaran sungai merupakan tempat yang tepat untuk banyak organisme berkembang dan tumbuh.

Higienitas sungai berpengaruh pada air tanah dan sumur

Melalui penelitian yang berbeda, Irawan mengungkapkan bahwa beberapa warga di Cihampelas pada Juli-Agustus 2018, bila dibandingkan dengan era 1980-an, lebih dari separuh sumur milik warga (dari kurang lebih 50 kepala keluarga) kini telah ditutup oleh pemiliknya. Alasannya, mereka merasa tidak aman mengkonsumsinya, bahkan untuk mandi dan mencuci. Mereka beralih ke air yang dipasok oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung yang tidak mengalir secara penuh dalam sehari.

Dulunya penuh sampah, kini Sungai Water Gong di Klaten sukses direhabilitasi dan penuh ikan yang sehat. (Sumber: Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA Foto)

Hal ini disebabkan air Sungai CIkapundung yang telah tercemar dengan sumber polutan tidak hanya dari industri, tapi juga dari rumah tangga (domestik). Kedua sumber polutan itu merupakan dampak dari aktivitas manusia. Penurunan kualitas air sungai ini juga berdampak langsung pada penurunan kualitas air tanah.

Kini, sungai yang memenuhi fungsinya sebagai ekosistem dan habitat makhluk hidup selain manusia agaknya hanya kita temui di pegunungan dekat sumber airnya langsung. Makin mendekati hilir dan melewati pemukiman manusia, aliran sungai makin terkontaminasi. Sampah dan produk berbahaya lainnya turut terbawa hingga ke laut. Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Generasi Hijau, kita juga perlu turut mendukung ketersediaan dan kebersihan air tanah serta air sungai. Jika kamu kini tinggal di perkotaan, kamu juga dapat menghemat air dengan langkah-langkah kecil seperti mematikan kran, menampung air hujan untuk mencuci kendaraan atau menyiram tanaman, atau jika kamu menggunakan AC (air conditioner), kamu dapat menampung air buangan AC untuk mengepel lantai. Selamat, kamu sudah mempraktikkan langsung konsumsi dan produksi berkelanjutan!

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

American Rivers. (n.d.). Why Do We Need Wild Rivers. Retrieved from American Rivers: Rivers Connect Us: https://www.americanrivers.org/

threats-solutions/protecting-rivers/the-value-of-wild-river/

Irawan, D. E. (2018, November 26). Bantaran Cikapundung: debit air sungai besar, kualitas air sumur buruk, mengapa? Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/bantaran-cikapundung-debit-air-sungai-besar-kualitas-air-sumur-buruk-mengapa-106416

McCabe, D. J. (2011) Rivers and Streams: Life in Flowing Water. Nature Education Knowledge 3(10):19

Naroju, S. (n.d.). What Are The Uses Of Rivers? Retrieved from Riddle Life: https://www.riddlelife.com/what-are-the-uses-of-rivers/

Sulistyawati, E., & Irawan, D. E. (2019, April 30). Menelusuri biodiversitas urban di Cikapundung, apa saja temuannya? . Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/

menelusuri-biodiversitas-urban-di-cikapundung-apa-saja-temuannya-113747

Westcountry Rivers Trust. (n.d.). River Form and Function. Retrieved from Westcountry Rivers Trust: https://wrt.org.uk/river-form-function/

WWF. (n.d.). Why Are Rivers So Important? Retrieved from WWF UK: https://www.wwf.org.uk/

updates/why-are-rivers-so-important-and-what-are-we-doing-protect-them

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest