Monthly Archives: October 2021

Aktivis Muda Peduli Lingkungan

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Aktivis Muda Peduli Lingkungan
Ilustrasi demo aksi perubahan iklim (sumber: Unsplash/Markus Spiske)

Akhir bulan September lalu, sekitar 400 perwakilan pemuda dari 197 negara di dunia telah menyuarakan aksi dan tuntutannya untuk perubahan iklim dalam sebuah forum Internasional bernama Youth4Climate: Driving Ambition (Pre-COP26 Youth Event) yang diselenggarakan di Milan, Italia. Acara Youth4Climate ini merupakan rangkaian pra-acara dari Conference of the Parties (COP) 26, yaitu konferensi PBB terkait perubahan iklim yang akan diselenggarakan pada 1-12 November 2021 mendatang. Ratusan pemuda peduli lingkungan dari seluruh dunia hadir dalam acara ini, termasuk salah satunya Greta Thunberg yang pidato kritikannya terhadap pemimpin dunia berujung viral di dunia maya. Indonesia pun turut mengirimkan 2 orang perwakilan pemuda pada acara ini. Kedua perwakilan pemuda tersebut adalah Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari.

Menjelang Hari Sumpah Pemuda, Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari membagikan pengalamannya kepada penggiat lingkungan muda di Kota Bandung dalam diskusi interaktif “Cengkerama Iklim” dengan tajuk “Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh: Pemuda Sadar Emisi dan Berketahanan Iklim” yang diselenggarakan oleh Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK pada 18 Oktober 2021 di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Diskusi ini diselenggarakan secara hybrid di mana sebagian peserta menghadiri acara secara tatap muka dan sebagian menghadiri acara melalui aplikasi daring.

Damayanti Prabasari yang hadir selaku pemantik pada acara diskusi tersebut memaparkan bahwa terdapat beberapa pesan utama yang direkomendasikan oleh para pemuda yang menghadiri acara Youth4Climate ini. Pesan utama tersebut telah diklasifikasi menjadi empat kelompok kerja yang di antaranya adalah youth driving ambition yang isinya mendorong keterlibatan pemuda dalam aksi iklim, mendorong upaya pemulihan berkelanjutan (sustainable recovery), mendorong keterlibatan aktor non-pemerintah (non-state actors’ engagement), dan membangun masyarakat sadar iklim (climate conscious society). Namun, dokumen rekomendasi tersebut masih belum sepenuhnya difinalisasi.

Peran Pendidikan dan Media dalam Atasi Perubahan Iklim

Pemuda Peduli Lingkungan
Diskusi Cengkerama Iklim KLHK (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Siti Aisyah N)

Isu tentang upaya membangun masyarakat sadar iklim terutama di kalangan pemuda menjadi perhatian para peserta pada acara diskusi ini. Pasalnya, relasi pemuda dengan alam dinilai telah semakin jauh terutama bagi pemuda yang tinggal di perkotaan sehingga sulit bagi mereka untuk memahami dan menyadari permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Steven Setiawan yang juga hadir sebagai pemantik menjelaskan bahwa pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan di kalangan pemuda.

Mendorong pendidikan iklim merupakan salah satu poin rekomendasi yang diusulkan oleh para perwakilan pemuda dalam acara Youth4Climate. Pendidikan iklim harus menggunakan pendekatan yang holistik dan dapat mengintegrasikan pengetahuan lokal masyarakat adat, perspektif gender, dan mendorong perubahan dalam gaya hidup, sikap, dan perilaku. Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pendidikan iklim adalah dengan cara memasukannya ke dalam kurikulum nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim baru-baru ini pun mengusulkan agar mata pelajaran IPA dan IPS dapat difokuskan pada isu perubahan iklim. Usulan ini tentunya memberikan harapan bagi kita untuk membangun pemuda yang lebih peduli lingkungan.

Selain melalui pendidikan, media juga berperan penting untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim. Steven mengatakan bahwa media saat ini sudah bekerja cukup baik dalam menyampaikan pemberitaan terkait bencana alam akibat perubahan iklim. Namun, penyampaian berita ini perlu diiringi dengan informasi mengenai solusi dan aksi yang bisa masyarakat lakukan. Penyampaian berita bencana akibat dampak perubahan iklim dengan cara menakut-nakuti tidak membuat generasi muda semakin peduli, tapi justru malah membuat mereka merasa cemas hingga putus asa dan hilang harapan. Sebuah survei yang dilakukan pada 10.000 anak muda berusia 16-25 tahun di 10 negara bahkan menunjukan bahwa 60% orang merasa sangat khawatir dengan perubahan iklim. Ini menunjukan bahwa pemberitaan tentang perubahan iklim juga dapat menyebabkan dampak psikologis terutama di kalangan anak muda. Oleh karena itu, pemberitaan mengenai bencana akibat krisis iklim ini perlu diimbangi dengan informasi mengenai aksi mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan.

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, Apa yang Anak Muda dapat Lakukan untuk Memerangi Krisis Iklim?

Jika pemuda zaman dahulu berjuang melawan penjajah, pemuda di masa sekarang harus berjuang melawan krisis iklim. Sebagai agen perubahan, kita dapat memerangi krisis iklim baik melalui upaya individu dan kolektif. Untuk melakukan aksi individu, generasi hijau dapat mulai mencoba gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah dan jejak karbon. Generasi hijau juga bisa melakukan aksi kolektif seperti dengan cara bergabung di organisasi penggiat lingkungan di sekitarmu, menandatangani petisi aksi iklim, mendorong kerja sama lintas sektor di bidang lingkungan, dan aksi-aksi lainnya.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

Hickman, C. et al. Preprint at http://dx.doi.org/10.2139/

ssrn.3918955 (2021)

Nadiem Makarim Usulkan Pelajaran IPA Difokuskan untuk Pelajari Isu Perubahan Iklim. Liputan6.com. 20 Oktober 2021. Diakses dari https://www.liputan6.com/news/

read/4689185/nadiem-makarim-usulkan-mata-pelajaran-ipa-difokuskan-untuk-pelajari-isu-perubahan-iklim

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan. (Sumber: Freestocks/Unsplash)

Dalam industri fashion, kita mungkin mengenal dua istilah yang saling bertolak belakang, yaitu fast fashion dan sustainability fashion. Fast fashion merupakan industri fashion yang bergerak sangat cepat, dengan koleksi baru yang siap untuk diluncurkan setiap minggu dan dijual dengan harga yang relatif murah. Sebaliknya, sustainable fashion sering dikaitkan dengan produk fashion yang menggunakan bahan-bahan lebih ramah lingkungan, seperti memanfaatkan daur ulang maupun bahan alami.

Sebagian besar orang menyadari bahwa ketika mereka membeli produk fast fashion yang harganya murah, sebenarnya mereka sama saja ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan manusia. Pakaian dengan bahan yang tidak ramah lingkungan akan berpotensi merusak bumi kita ketika pakaian tersebut sudah tidak lagi bisa dipakai dan berujung hanya akan menjadi sampah.

Fast fashion sangat erat kaitannya dengan “limbah fashion”. Fast fashion menjadi salah satu penyebab terbesar polusi limbah fashion yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, maupun penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat menyebabkan climate change (perubahan iklim).

Industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya, sehingga kerap kali disebut tidak etis (unethical). Kebanyakan industri fast fashion terletak di Asia dan beberapa negara berkembang, seperti Bangladesh, India, bahkan Indonesia. Biasanya mereka akan mempekerjakan wanita yang berpendidikan rendah, wanita muda, dan imigran (bukan penduduk asli negara tersebut). Kemudian para pekerja harus bekerja selama 14 jam/hari, diberikan upah yang rendah, tidak ada jaminan asuransi jiwa ataupun jaminan keselamatan kerja, serta harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya untuk memproduksi produk fast fashion.

Produksi dan konsumsi yang berlebihan

Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian
Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian. (Sumber: Sarah Brown/Unsplash)

Kita mungkin lebih merelakan t-shirt atau celana panjang murah untuk disumbangkan daripada tas dari merek ternama. Akan tetapi kita perlu ingat bahwa barang-barang yang diproduksi oleh merek mewah juga sebagian besar tidak ramah lingkungan.

Sebagai contoh, sebuah fashion brand ternama asal London mendapat kecaman pada tahun 2018 karena membakar stok yang tidak terjual senilai hampir 40 juta dollar AS. Hal itu dilakukan untuk mencegah barang-barang tersebut dijual dengan harga lebih rendah atau diskon, sekaligus meningkatkan daya tarik merek di mata publik.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa setiap detiknya sampah tekstil dalam satu truk sampah dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selain itu, industri fast fashion juga dinilai menyumbang limbah sebanyak 20 persen dan emisi karbon 10 persen.

Dampak yang Ditimbulkan dari Industri Fast Fashion

Ilustrasi Industri Fast Fashion
Ilustrasi Industri Fast Fashion. (Sumber: John Cameron/Unsplash)

Industri fast fashion tentunya memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan, bahkan terhadap manusia sendiri. Di antaranya adalah:

Meminimalisasi Dampak Fast Fashion dengan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan salah satu kunci mengurangi dampak fast fashion. Secara praktis, berikut merupakan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari dampak dari industri fast fashion:

Dilansir dari laporan Fixing Fashion, memperpanjang masa aktif 50% pakaian hingga sembilan bulan akan menghemat: 8% karbon, 10% air, 4% limbah per metrik ton pakaian.

Serat sintetis berbasis minyak bumi seperti poliester membutuhkan lebih sedikit air dan tanah dibandingkan kapas, tetapi serat ini memancarkan lebih banyak gas rumah kaca per kilogram. Polimer sintetis berbasis bio yang dibuat dari tanaman yang dapat diperbarui seperti jagung dan tebu melepaskan emisi karbon hingga 60% lebih sedikit. Label harus menunjukkan apakah pakaian dibuat menggunakan polyester daur ulang (rPET).

Di Inggris, beberapa merek yang berkelanjutan dan vintage menawarkan layanan perbaikan seumur hidup. Sebanyak 59% pengecer besar termasuk IKEA dan GAP berjanji meningkatkan penggunaan poliester daur ulang dengan minimum 25% pada tahun 2020. Belanja dan beramal Pada 2017, sebelas ribu toko amal Inggris menyelamatkan 330 ribu metrik ton tekstil dari TPA, dan membantu mengurangi emisi karbon hingga jutaan ton per tahun melalui penggunaan kembali dan daur ulang pakaian bekas.

Asosiasi Tanah mengatakan kepada Komite Audit Lingkungan, peningkatan produksi kapas organik dapat meminimalkan dampak lingkungan dari industri fast fashion, karena akan mengurangi penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan air.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://lifestyle.kompas.com/read/

2021/05/07/155527320/jangan-cuma-belanja-pakaian-ketahui-juga-dampak-fast-fashion-pada?page=all diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/ diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://www.fimela.com/fashion/read/

4465856/kenali-istilah-fast-fashion-dan-dampaknya-bagi-kehidupan diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://mediaindonesia.com/weekend/

238334/ini-7-cara-menghentikan-fast-fashion diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut. (Sumber: nationalgeographic.grid.id)

Parasetamol terkenal di kalangan masyarakat sebagai obat pereda rasa nyeri dan dapat menurunkan panas. Jenis obat ini telah dikonsumsi oleh masyarakat sebanyak ribuan ton per tahunnya. Dikutip dari Kompas.com, pada awal Oktober 2021 lalu, ditemukan kandungan parasetamol berkonsentrasi tinggi yang tercemar di daerah Muara Angke dan Ancol, Jakarta Utara.

Akibat tercemarnya parasetamol tersebut menyebabkan kawasan Teluk Jakarta memiliki air laut yang berubah warna dari biru menjadi merah kecoklatan. Hal ini juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat sekitar seperti nelayan yang harus mencari ikan hingga ke tengah lautan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Brighton asal Inggris, mengungkapkan bahwa konsentrasi parasetamol tinggi yang tercemar di Teluk Jakarta mengandung 610 nanogram per liter pada Muara Sungai Angke dan sebanyak 420 nanogram per liter pada Muara Sungai Ciliwung Ancol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan ke publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak mengetahui adanya kadar parasetamol tinggi pada perairan Teluk Jakarta.

Namun, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusiono berdalih bahwa pihak pemerintah tidak pernah menganalisis adanya kadar parasetamol pada perairan Jakarta dikarenakan menurutnya zat tersebut tidak termasuk dalam daftar indikator pencemaran lingkungan.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Peraturan Pemerintah itu menyebutkan bahwa ada 38 parameter yang merupakan indikator dari pencemaran lingkungan dan parasetamol tidak termasuk di dalamnya. Meskipun demikian, pihak Pemprov DKI Jakarta rutin meneliti kualitas air laut Ibukota setiap enam bulan sekali sesuai perintah perundangan.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI DKI Jakarta) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi mengungkap pendapatnya bahwa obat parasetamol tidak termasuk dalam parameter pencemaran lingkungan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rehabilitasi Teluk Jakarta termasuk dalam daftar kegiatan strategis. Oleh karena itu, sudah seharusnya upaya pencegahan pencemaran lingkungan dilakukan oleh pemerintah.

Tubagus juga mengungkapkan penelitian yang telah dilakukan oleh BRIN dan Universitas Brighton pada tahun 2018-2019 lalu memiliki proses penelitian yang panjang sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi bersama LIPI serta ahli dari berbagai bidang terkait dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini, karena setiap terjadi pencemaran lingkungan dipastikan akan mempengaruhi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Terkait sumber limbah tersebut, Tubagus mengatakan banyak dugaan yang bisa menjadi penyebab tercemarnya Teluk Jakarta. Untuk dapat memastikan hal tersebut, sudah diungkapkan melalui peneliti yang sempat terlibat dalam studi yang terbit di jurnal Science Direct pada Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 hingga 70 persen pencemaran di laut yang sumbernya datang dari daratan atau antropogenik (dilakukan manusia).

Dalam kasus pencemaran air di daerah Muara Angke dan Ancol oleh parasetamol konsentrasi tinggi, kemungkinan besar menurut peneliti sumbernya berasal dari daerah Jabodetabek. Dugaan pertama yaitu bisa karena gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, obat-obatan kadaluarsa atau rusak kemudian dibuang sembarangan. Dugaan kedua yaitu instalasi pembuangan air limbah yang tidak optimal.

Peneliti menjelaskan, parasetamol tidak bisa terendapkan oleh jaring limbah yang saat ini digunakan. Ini artinya, kita memerlukan inovasi teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Sementara itu, Dr. Wulan Koaguow yang juga Peneliti Oseanografi BRIN dan terlibat dalam penelitian menambahkan bahwa sebenarnya semua obat-obatan bisa menjadi kontaminan lingkungan.

Langkah Mengolah Sampah Obat yang Tepat

Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat
Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat. (Sumber: Wikihow)

Generasi Hijau, berikut beberapa langkah tepat yang dapat kita lakukan dalam mengelola sampah obat-obatan yang sudah kadaluarsa ataupun rusak sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah hingga terjadinya pencemaran lingkungan seperti peristiwa pada perairan di Teluk Jakarta yang disebabkan oleh parasetamol berkonsentrasi tinggi. Di antaranya adalah:

Obat yang belum lewat dari tanggal kadaluarsa bisa kita donasikan ke klinik amal untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini hanya berlaku untuk kondisi obat yang masih bagus. Artinya, obat masih berada dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol yang belum dibuka atau masih tersegel rapi.

Sementara untuk obat yang sudah kadaluarsa, bisa kita titipkan ke apotik, rumah sakit, ataupun pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa. Namun, sebelum kita titipkan jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Seperti misalnya, stiker pada botol yang disobek, kotak kemasan yang digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa ada pihak yang bisa menyalahgunakan obat kadaluarsa ini.

Apabila jumlah obat yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, kita dapat juga dititipkan seperti di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen. Vitamin dan mineral cair bisa dipakai sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman. Jika obat berbentuk kapsul, isinya bisa dikeluarkan, sedangkan obat yang berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti obat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak ataupun hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut. Untuk obat-obatan ini direkomendasikan untuk dibuang dengan cara diguyur ke dalam toilet segera setelah tidak lagi digunakan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://propertyobserver.id/cara-mengelola-sampah-obat-kita/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.liputan6.com/news/read/

4676263/headline-perairan-teluk-jakarta-tercemar-parasetamol-seberapa-bahaya diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2021/

10/04/130100923/teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-peneliti-duga-sumbernya-dari-sini?page=all diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.alinea.id/nasional/seberapa-bahaya-parasetamol-yang-mencemari-teluk-jakarta-b2cCa97m8 diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Coral Bleaching

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Ilustrasi Coral Bleaching
Ilustrasi Coral Bleaching. (Sumber: theguardian.com)

Sekitar 18% terumbu karang dunia tumbuh di Indonesia, dengan luas mencapai 50.785 kilometer persegi. Terumbu karang memberikan tempat bernaung bagi ikan hias dan ikan santap, melindungi daerah pesisir dari erosi dan badai, serta memberikan penghidupan bagi nelayan serta pekerja industri wisata. Begitu banyak manfaat dari terumbu karang di laut kita. Sayangnya, ada satu ancaman terhadap eksistensi terumbu karang, yakni coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Mengenal Coral Bleaching

Terumbu karang terdiri dari banyak polyps yaitu binatang kecil yang berbentuk kantung dan memiliki ujung yang mekar dengan tentakel-tentakel kecil. Di dalam polyps, terdapat ganggang hidup yang ukurannya sangat kecil dan disebut zooxanthellae. Ganggang kecil ini yang memberikan warna pada terumbu karang.

Hubungan antara terumbu karang dengan zooxanthellae termasuk ke dalam hubungan simbiosis mutualisme di mana terumbu karang menyediakan tempat tinggal untuk ganggang kemudian tumbuhan laut tersebut memberikan gizi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Namun, ketika terjadi perubahan suhu pada air laut, ganggang tersebut akan meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. Salah satu dampak yang akan terjadi ketika ganggang kecil tersebut pergi adalah bagian luar dari terumbu karang yang berwarna putih akan terlihat karena polyps tidak memiliki warna (transparan). Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Dilansir dari National Geographic, hingga saat ini pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sudah terjadi di wilayah Australia hingga Madagaskar. Selama tahun 2014 sampai tahun 2017, terjadi peristiwa coral bleaching terbesar di dunia dan telah mencapai angka 70%. Meski masih mampu bertahan hidup tanpa adanya ganggang, akan tetapi terumbu karang akan menjadi rentan terserang penyakit. Terlebih jika suhu air laut yang mengalami kenaikkan suhu, maka kemungkinan besar terumbu karang akan mati. Sekalipun suhu air laut kembali normal dan ganggang kembali ke dalam terumbu karang, maka memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun kemudian agar terumbu karang dapat pulih secara sempurna.

Penyebab Utama Terjadinya Coral Bleaching

Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati
Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati. (Sumber: marineconservation.org.au)

Penyebab utama terjadinya coral bleaching adalah karena perubahan suhu, polusi, dan penangkapan makhluk laut yang berlebihan. Kenaikkan suhu air laut baik di atas ataupun di bawah dari suhu normal dapat memicu terjadinya peristiwa coral bleaching. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik atau secara optimal di laut tropis pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius.

Ketika terjadi perbedaan suhu 2 hingga 3 derajat celsius di atas ataupun di bawah dari suhu normal dalam kurun waktu antara satu sampai dua minggu, terumbu karang akan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya coral bleaching. Ketika perubahan suhu terjadi hingga satu bulan, maka seluruh koloni karang, karang lunak, anemon dan zoanthid akan memutih bahkan akan mengalami kematian pada minggu keenam.

Massa air hangat di laut juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sementara penurunan suhu laut juga dipengaruhi Indian Ocean Dipolemode, terutama pada coral bleaching di bagian barat Sumatera, kadang-kadang disebabkan oleh turunnya suhu di bawah normal yaitu kurang dari 26 derajat celsius.

Dapatkah Terumbu Karang yang Mengalami Coral Bleaching Kembali Pulih?

Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat
Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat. (Sumber: gilisharkconservation.com)

Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul di benak kita setelah membaca uraian mengenai coral bleaching. Pemulihan terumbu karang akan tergantung pada jenis terumbu karang serta tingkat stress yang dialami oleh terumbu karang akibat perubahan suhu air laut di sekelilingnya.

Beberapa terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, seperti terumbu karang dari kelompok Pociliporoid dan Acroporoid. Sementara, ada juga jenis terumbu karang yang cukup kuat untuk tetap bertahan dalam mengalami perubahan suhu air laut, seperti terumbu karang jenis Porites dan polyp besar. Terumbu karang jenis ini akan kembali normal apabila kenaikkan suhu tidak lebih dari enam minggu hingga satu bulan. Namun, apabila kenaikkan suhu air laut hanya terjadi selama dua hingga tiga minggu, biasanya terumbu karang dapat bertahan dan akan segera pulih kembali warnanya seperti semula.

Pada prinsipnya, sebenarnya terumbu karang hanya mengalami stress dan jika faktor penyebab stress tersebut hilang seperti suhu yang kembali normal maka karang akan segera pulih kembali. Kondisi sebaliknya bisa terjadi yaitu coral bleaching yang sangat parah diikuti oleh faktor lain yang memperparah kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contohnya yaitu ketika terjadi coral bleaching secara bersamaan dengan waktu transisi pada musim peralihan. Pada kondisi ini, air laut sangat tenang ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini biasanya akan muncul berbagai pertumbuhan filamentus, turf alage, cyanobacteria dan penyakit karang. Jika hal ini terjadi maka akan sangat berakibat fatal.

Intervensi Manusia pada Pemulihan Terumbu Karang

Pada dasarnya, terumbu karang bisa memulihkan diri sendiri. Akan tetapi, Generasi Hijau pun juga dapat mengambil berbagai langkah untuk memulihkan terumbu karang yang memutih, serta mencegah pemutihan pada terumbu karang yang sehat.

Menjalankan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dalam kehidupan sehari-hari ataupun saat berwisata, dapat menjadi solusi. Walau hidup jauh dari laut, Generasi Hijau yang bercocok tanam dapat menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida agar senyawa kimia tidak masuk dalam saluran air yang akan berakhir di laut. Generasi Hijau juga bisa memilah sampah agar tidak ada sampah yang tercecer dan berakhir di laut. Di rumah, hematlah air, agar mengurangi air sisa yang kotor dan dapat mencemari laut.

Saat berwisata di pantai, Generasi Hijau dapat menggunakan tabir surya ramah lingkungan, agar senyawa kimia berbahaya tidak larut dalam air laut ketika berenang. Dalam aktivitas diving atau snorkeling, pastikan jangkar kapal tidak menyentuh terumbu karang. Pastikan juga Generasi Hijau tidak menyentuh terumbu karang, dan tidak ada limbah yang dibuang dari kapal ke laut. Terakhir, tentu saja, jangan buang sampah di pantai atau laut, dan ikuti kegiatan volunteer membersihkan pantai, seperti yang dilakukan kawan-kawan EcoRanger di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.

Dalam jangka yang lebih panjang, menghambat pemanasan global adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan coral bleaching. Jadi, pastikan juga Generasi Hijau sudah memulai langkah menghambat pemanasan global, seperti beralih ke energi terbarukan, menggunakan transportasi umum atau transportasi tanpa bahan bakar fosil, serta membaca label karbon pada produk yang Generasi Hijau konsumsi.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

http://coremap.or.id/berita/1172 diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131623449/coral-bleaching-fenomena-hilangnya-warna-indah-terumbu-karang diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://reefresilience.org/id/stressors/bleaching/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/18/173000923/cegah-pemutihan-terumbu-karang-diberi-makan-bakteri-probiotik?page=all diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.instagram.com/p/CUWZcP_h7Nz/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua. (Sumber: Shutterstock)

Perubahan iklim telah memberi dampak besar bagi dunia, tak terkecuali juga Indonesia. Gletser kebangaan Indonesia yang berada di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, atau sering disebut juga sebagai Puncak Carstensz ini ternyata ikut terkena dampak dari memanasnya suhu bumi. Gletser yang terletak di Taman Nasional Lorentz di Provinsi Papua merupakan gletser tropis terakhir yang ada di Asia. Beberapa orang menyebut gletser ini dengan sebutan “Gletser Keabadian” yang meski pada kenyataannya, gletser ini tentu tidak akan bisa bertahan lama. Gletser yang berada di atas puncak Pegunungan Jayawijaya ini merupakan sisa dari daratan es yang terbentuk sekitar 5.000 tahun lalu.

Gletser tropis merupakan salah satu indikator perubahan iklim yang paling sensitif. Kini jumlahnya semakin sedikit yang tersisa di dunia. Selain di Papua, gletser tropis juga terdapat di Amerika Selatan dan Afrika. Sedangkan, Pegunungan Jayawijaya merupakan pegunungan tertinggi di Indonesia, puncak tertinggi antara pegunungan Himalaya dan Andes. Pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, penurunan suhu dan hujan berubah menjadi salju, selanjutnya akan membentuk es dan akan memadat menjadi gletser. Indonesia adalah salah satu wilayah terbasah di bumi, dan hujan turun di kawasan Papua hampir 300 hari dalam setahun. Akan tetapi, suhu yang memanas membuat hujan tidak lagi berubah menjadi salju. Akibatnya, gletser mencair dari atas dan bawah.

Peneliti senior BMKG, Donaldi Permana, mengatakan bahwa sebagian orang Indonesia masih kurang mengetahui keberadaan gletser ini. Meskipun puncak Pegunungan Jayawijaya tidak memiliki es pada daerah puncaknya namun terdapat beberapa lapisan es di sekitarnya. Ia juga menjelaskan bahwa proses mencairnya es pada gletser yang tergolong cepat tersebut dapat dilihat berdasarkan data mengenai penyusutan luasan wilayah gletser dari tahun 1850 hingga 2018.

Pada tahun 1850, gletser memiliki luas 19,3 km2. Kemudian pada tahun 1972, luas gletser menyusut menjadi 7,3 km2. Data pada tahun 2018 menunjukkan kondisi luas gletser yang mencapai 0,5 km2. Melihat hal ini, para ilmuwan memperkirakan bahwa gletser puncak Pegunungan Jayawijaya akan benar-benar menghilang pada tahun 2026 nanti, akan tetapi gletser diprediksi kemungkinan terburuknya bisa punah atau menghilang pada tahun 2021 ini. Tentunya hal Ini menjadi petunjuk penting bagaimana perubahan iklim bumi yang semakin dekat.

Penyebab Penyusutan Gletser

Ilustrasi Glester yang Meleleh
Ilustrasi Gletser yang Meleleh. (Sumber: Christopher Michel/Flickr)

Penyebab dari penyusutan gletser ini adalah perubahan iklim yang ekstrim yang ditandai dengan pemanasan global. Mengutip laporan Indonesian Third National Communication, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celcius dan suhu permukaan naik sebanyak 0,25 derajat celcius per dekade.

Di Indonesia khususnya, fenomena El Nino memperparah penyusutan gletser di Papua yang terjadi semakin cepat dari tahun ke tahun. Fenomena El Nino merupakan peristiwa iklim di mana suhu permukaan air laut dan suhu atmosfer meningkat. Fenomena ini terjadi ketika udara hangat memangkas curah hujan sehingga akan menyebabkan daerah sekitarnya menjadi mengering.

Sebagai dampaknya, penyusutan gletser ini akan berdampak pada daerah-daerah di sekelilingnya. Dampak lainnya juga dirasakan oleh masyarakat suku asli Papua yang menganggap gletser ini adalah dewa sehingga menyusutnya gletser ini dianggap akan kehilangan sosok pemimpin dalam budaya dan adat di suku Papua tersebut.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya
Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya. (Sumber: Shutterstock)

Fenomena El Nino merupakan faktor pendorong terbesar penyusutan gletser ini. Namun, tidak hanya penyusutan gletser saja yang terdampak oleh fenomena tersebut, melainkan kebakaran hutan yang juga menarik perhatian pemerintah dalam memperhatikan dampak yang disebabkan oleh fenomena El Nino.

Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan 16 provinsi berisiko mengalami kebakaran hutan menjelang fenomena El Nino yang ditentukan oleh pola iklim. Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino dapat diantisipasi oleh pemerintah. Apabila fenomena El Nino dapat dikendalikan, maka harapannya akan tersisa untuk gletser terakhir di Indonesia.

Diskusi mengenai El Nino lebih banyak berputar soal isu mitigasi ketimbang pencegahan. Dalam isu gletser Jayawijaya, mitigasi akan membantu penduduk Papua merespons akibat dari penyusutan gletser dan tentunya perubahan iklim, namun tidak membantu pencegahan penyusutan gletser itu sendiri.

Konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menjadi kunci pencegahan penyusutan gletser. Semakin banyak orang memilih barang dan jasa yang terbukti lebih ramah lingkungan dan menghasilkan lebih sedikit karbon, produsen akan terdorong untuk menyesuaikan permintaan pasar dengan memproduksi barang dan jasa yang lebih ramah lingkungan pula. Mengurangi konsumsi energi fosil dengan cara menghemat listrik, transisi ke energi terbarukan, serta menggunakan transportasi umum menjadi beberapa cara sederhana untuk memulai langkah tersebut.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/05/183300823/puncak-jaya-papua-gletser-terakhir-di-asia-yang-diprediksi-punah-tahun?page=all diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.suara.com/news/2020/12/04/165957/puncak-jaya-di-papua-jadi-gletser-tropis-terakhir-di-dunia-terancam-punah diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.dw.com/id/gletser-di-papua-akan-punah-dalam-satu-dekade/a-51653411 diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/13/ragam-upaya-mencegah-hilangnya-salju-papua diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2020/06/17/the-last-glacier-runtuhnya-salju-abadi-papua/ diakses pada tanggal 30 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest