Author Archives: admin

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Atas nama pembangunan, manusia telah mengeksploitasi sumber daya bumi untuk membangun infrastruktur dan mengekspansi industri selama beberapa abad terakhir. Bukan tujuan yang salah, namun seringkali eksekusinya tidak dibarengi dengan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan sumber daya yang ada, melainkan kita menganggap lingkungan sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia, sehingga pengelolaan sumber daya merupakan suatu siklus timbal balik bagi manusia dan alam. Dengan begitu, manusia tidak egois dan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Sementara selama beberapa tahun terakhir, manusia telah merasakan dampak negatifnya dari pertambangan. Tentu saja, warga kecil di sekitar galian tambang yang paling merasakan dampaknya. Lantas, bagaimana industri pertambangan mempengaruhi tanah dan manusia? Masalah polusi air dan tanah, erosi, perubahan muka bentuk bumi, hingga bekas galian tambang yang kerap memakan korban.

Meninggalkan lubang besar

Galian tambang yang sudah tidak produktif akan meninggalkan lubang menganga sedalam 30-40 meter. Di banyak bekas lokasi tambang, lubang ini dibiarkan begitu saja. Lama kelamaan, lubang ini akan menampung air dan seringkali dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Warna airnya yang hijau dan kebiru-biruan indah dipandang mata. Padahal, warna tersebut tidak alami. Ia berwarna terang karena mengandung banyak logam berbahaya bagi manusia.

Warga sekitar yang mengelilingi danau bekas galian tambang setelah ada kabar korban tenggelam. (Sumber: dokumen Jatam Kaltim)

Menurut hasil uji dari Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) di bekas lubang tambang di Jambi, sampel air yang diambil mengandung pH 3,4. Sementara, standar pH air laik dikonsumsi adalah 6.5 – 8,5. Angka pH yang rendah dapat dikatakan bahwa tingkat keasaman air tinggi yang mengindikasikan tingginya logam berat yang terlarut di dalamnya. Secara kasat mata airnya terlihat jernih, namun tidak terdapat mikroorganisme maupun ikan yang dapat hidup di sana. Ironisnya, dengan kondisi air yang jernih tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan air dalam bekas galian tambang tersebut untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain isu air yang tidak laik, lubang bekas galian tambang ini juga kerap memakan korban. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lubang bekas tambang telah memakan korban hingga 33 jiwa. Kebanyakan masih berusia belia, usia 10-14 tahun.

Seperti dilansir dari Tirto.id, sejak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.7/2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat wisata adalah perbuatan legal. Padahal, reklamasi seharusnya adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka harus dikembalikan seperti hutan.

Mengubah Permukaan Tanah

Manusia modern bergantung pada mineral dan logam. Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya. Karena itu juga, jadilah lubang galian tambang.

Menurut Matthew Ross pada artikelnya di The Conversation, untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah struktur geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade. Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air. Untuk menunggu mineral tambang tersebut dapat diekstraksi kembali, butuh waktu proses geologis hingga ratusan tahun. Sementara kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya. Manusia tidak memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan mereproduksi. Karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan sulit memprediksi pergerakan bentang alam ini dalam evolusi masa depan mereka. Benua kuno di dunia dapat dilihat pergerakannya di tiap zaman geologis, namun manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Artikel ini merupakan hasil studi literatur yang dilakukan oleh tim Citarum Repair mengenai pemahaman tentang Common Pool Resources untuk tata kelola sumber daya (lingkungan khususnya) yang digunakan secara bersama oleh masyarakat dengan berbagai macam latar belakang.


Masyarakat tumbuh menjadi beragam secara etnis, budaya, dan ras. Meningkatnya populasi migran memiliki berbagai implikasi ekonomi di dunia, terutama di Afrika Utara dan Asia Barat (International Migration Report 2019) dan Afrika Sub-Sahara Tahun ini adalah 2019. Variabilitas yang berkembang ini mungkin menyulitkan bisnis untuk bersaing dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dalam Common Pool Resources (CPR) dalam dua cara: (1) secara langsung dengan mendiversifikasi kepentingan, dan (2) secara tidak langsung dengan mendiversifikasi kepentingan. Kemudian, (1) secara langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pengguna, dan (2) secara tidak langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pelaku Kerjasama dalam CPR berkurang dalam kedua kasus. Sumber daya alam atau buatan manusia, seperti padang rumput, adalah contoh CPR. Misalnya, hutan bersama, kolam pemancingan, atau sistem irigasi. Mengecualikan pengguna potensial itu mahal (Ostrom 1990).


Sumber daya bersama, tidak seperti barang publik, mungkin habis, mengeksposnya ke ‘tragedi milik bersama,’ seperti yang digariskan oleh Hardin (1968), situasi dimana strategi dominan jangka pendek pengguna adalah untuk mengeksploitasi sumber daya terbatas.


Ini akan hancur jika digunakan tanpa batas. Dampak peningkatan heterogenitas pada keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam proses ini (Baland dan Platteau 1999; Bardhan dan Dayton-Johnson 2002; Ruttan 2006, 2008; Varughese dan Ostrom 2001), masih diperdebatkan. Heterogenitas ekonomi mengacu pada perbedaan kekayaan, pendapatan, dan akses sumber daya, sedangkan heterogenitas sosial budaya mengacu pada perbedaan bahasa, etnis, agama, dan ekspresi budaya lainnya (Baland dan Platteau 1996; Bardhan 2000).


Ruttan 2006; dan Dayton-Johnson 2002). Sebagian besar penelitian mengklaim bahwa heterogenitas ekonomi dan sosial budaya dapat berkontribusi pada biaya negosiasi dan tawar-menawar yang lebih tinggi karena kurangnya konsep umum, kepercayaan, dan insentif di antara orang atau kelompok individu (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002), pembagian pengambilan keputusan yang tidak setara hak, dan berbagai alasan untuk bekerja sama (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002). (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan bahwa hal itu akan mengurangi kohesi sosial (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Namun, penelitian lain berpendapat bahwa heterogenitas ekonomi memiliki dampak positif pada penyediaan barang komunitas, yang mengklaim bahwa (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan akan mengurangi kohesi sosial. (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa heterogenitas ekonomi memiliki efek positif pada penyediaan barang kolektif, yang menyatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan ketidaksetaraan insentif, yang mengakibatkan beberapa apropriator cukup termotivasi untuk berinvestasi dalam aksi kolektif sendiri, sehingga menanggung biaya kerjasama.


Kami memasukkan kepercayaan sebagai mediator untuk menyelidiki hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR: terdapat bukti bahwa heterogenitas mempengaruhi kepercayaan (Alesina dan La Ferrara 2002; Delhey dan Newton 2005; Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001) dan memiliki dampak yang signifikan pada hasil sosial (Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001). Hubungan antara kepercayaan dan keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, akan diselidiki.


Tidak ada bukti hubungan negatif antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, menurut temuan tersebut. Heterogenitas ekonomi, di sisi lain, ditemukan berhubungan negatif dengan kepercayaan, sedangkan kepercayaan ditemukan berhubungan positif dengan keberhasilan CPR. Ada bukti pengaruh tidak langsung dari heterogenitas ekonomi pada keberhasilan CPR melalui kepercayaan.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Fenomena Smog Fotokimia

Fenomena Smog Fotokimia

Pernahkan kamu melihat pemandangan seperti foto di bawah ini? Pemandangan ini biasanya dapat kamu temukan dengan mudah di kawasan perkotaan yang padat dan banyak aktivitas kendaraan bermotor atau industri. Foto di bawah ini menunjukkan fenomena smog fotokimia. Apa itu smog fotokimia dan apakah ini berbahaya bagi lingkungan juga manusia? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!

Sumber: prior-scientific
Sumber: prior-scientific

Definisi

Smog merupakan gabungan kata antara smoke (asap) dan fog (kabut), yang berarti kabut yang berisi gas pencemar udara. Fotokimia adalah proses reaksi kimia yang diakibatkan oleh adanya cahaya. Smog fotokimia adalah campuran polutan yang terbentuk ketika senyawa nitrogen oksida (NOx) dan senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds atau VOCs) bereaksi dengna cahaya matahari sehingga menyebabkan kabut kecoklatan di atas kawasan perkotaan. Polutan yang terdapat pada smog fotokimia adalah ozon, lachrymator (substansi kimia yang dapat menyebabkan iritasi mata), dan zat-zat kimia berbahaya lainnya.

Penyebab

Terdapat 3 senyawa utama yang diperlukan untuk membuat reaksi kimia pembentuk smog terjadi. Ketiga senyawa tersebut adalah sinar ultraviolet (UV), hidrokarbon, dan nitrogen oksida (NOx). Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat berasal dari sumber alami ataupun dari kegiatan manusia.

Kebakaran hutan dan proses mikrobiologi yang terjadi di alam, terutama di tanah, akan menghasilkan NOx. Sedangkan senyawa VOCs dapat dihasilkan dari proses penguapan senyawa organik yang terjadi secara alamiah, seperti terpena (C5H8)n, yang merupakan hidrokarbon yang dihasilkan oleh tumbuhan dan terdapat dalam minyak sebagai pemicu terjadinya pembakaran. Eukaliptus, salah satu jenis pohon dari Australia, juga melepaskan senyawa ini dalam jumlah yang cukup besar. Selain itu, senyawa NOx dapat terbentuk melalui proses terjadinya petir. Gas nitrogen bereaksi dengan oksigen di sekitarnya membentuk nitrogen monoksida.

Hidrokarbon dan NOx sebagian besar dihasilkan dari kegiatan manusia seperti pembakaran pada mesin kendaraan bermotor. Di sebagian besar wilayah perkotaan, lebih dari 50% smog fotokimia terbentuk akibat adanya emisi kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor menyebabkan terjadinya emisi berbagai hidrokarbon yang belum terbakar, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur oksida. Pembakaran yang tidak sempurna ini biasanya terjadi ketika kendaraan bermotor sedang melaju cepat dan saat terjadinya kemacetan, yang menimbulkan kurangnya suplai oksigen untuk proses pembakaran. Pembakaran tidak sempurna juga dapat diakibatkan oleh proses pembakaran pada industri yang kurang suplai oksigen karena adanya kekurangan pada mesin.

Selain disebabkan oleh senyawa-senyawa yang berasal dari kedua jenis sumber tersebut, smog fotokimia juga sering disebabkan oleh angin yang tenang. Selama musim dingin, kecepatan angin menjadi rendah, sehingga asap dan kabut menjadi stagnan pada tempat terbentuknya smog dan meningkatkan tingkat polusi pada bagian permukaan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Terjadinya inversi termal dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah factor lokasi. Inversi termal dapat dengan lebih mudah terjadi di daerah lembah, karena pergerakan udara di daerah lembah lebih terbatasi dan suhu pada malam hari yang lebih dingin. Pada daerah pantai, inversi termal sangat sulit untuk terjadi. Hal ini disebabkan oleh suhu pada malam hari yang tetap hangat. Suhu yang hangat ini disebabkan oleh tingginya kelembaban. Uap air yang merupakan penyumbang terbesar terjadinya efek rumah kaca (50%, dihitung dari konsentrasi dan kemampuan zat menyerap energi matahari) menyebabkan panas tetap terperangkap di daerah pantai pada malam hari.

Kondisi yang mempengaruhi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya smog fotokimia adalah inversi termal. Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat dan ringan terjadi di atas lapisan udara yang lebih dingin dan berat, menyebabkan tidak terjadinya angin vertikal yang akhirnya membuat polutan terperangkap di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Polutan yang harusnya naik ke lapisan udara yang lebih tinggi untuk mengalami proses dispersi dan dilusi menjadi tetap berada di lapisan bawah dan menyebabkan polutan semakin terakumulasi. Terperangkapnya polutan tersebut akan menyebabkan smog tetap diam di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Jika inversi termal tidak terjadi, maka smog fotokimia di daerah tersebut akan segera hilang dalam jangka waktu yang dekat.

Dampak

Smog fotokimia dapat memberikan dampak pada lingkungan, kesehatan manusia, hingga kerusakan material. Dampak utama yang dapat dilihat secara langsung (visual) adalah kabut kecokelatan yang berada di atas wilayah perkotaan. Warna kecokelatan disebabkan oleh partikel cair dan padatan yang berukuran sangat kecil yang memendarkan cahaya.

Senyawa NOx, ozon, dan juga peroksiasetil nitrat (PAN) dapat mengurangi bahkan hingga menghentikan pertumbuhan tumbuhan dengan mengurangi proses fotosintesis. Ozon dalam jumlah kecil dapat menyebabkan hal ini, tetapi PAN bersifat lebih toksik lagi terhadap tumbuhan. Smog dapat menyebabkan masalah pada jantung dan paru-paru, iritasi mata, gangguan pernapasan, batuk, dan sesak pada manusia. Hal ini disebabkan oleh polutan-polutan yang terkandung dalam smog itu sendiri (NOx, VOCs, ozon, dan PAN). Ozon juga dapat merusak berbagai campuran material. Ozon dapat menyebabkan keretakan pada karet, mengurangi kekuatan tekstil, memudarkan warna pada kain, dan keretakan cat.

Referensi

EPA. (2004). Photochemical smog—what it means for us. Adelaide: EPA South Australia.

Foust, Richard. n.d. Photochemical Smog. Diperoleh dari http://mtweb.mtsu.edu/nchong/Smog-Atm1.htm

Manahan, Stanly E. (2000). Environmental Chemistry 6th Edition. Florida: CRC Press.

Rani, Bina et al. (2011). Photochemical Smog Pollution and Its Mitigation Measures. Journal of Advanced Scientific Research, 2011; 2(4): 28-33.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Jika Generasi Hijau berlibur ke pantai dan melihat sampah di tepinya, kemungkinan besar sampah itu bukan berasal dari daerah pesisir pantai. Bisa jadi sampah tersebut berasal dari negara di seberang lautan, sudah terombang-ambing di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya terbawa ombak dan terdampar di pantai.

Laut kita penuh sampah. Bukan hanya plastik kemasan, termasuk juga jala ikan, besi berkarat, atau sampah sisa peradaban manusia lainnya. Sebenarnya dari mana sampah ini berasal?

We often see marine debris washed ashore at the coast. (Source: dokumen Tim EcoRanger)

Sampah laut berasal dari beragam sumber. Pembuangan sampah dari seluruh dunia menjadi sebab utamanya. Dalam kasus tertentu, seperti ketika pengunjung pantai tidak mengambil sampah mereka dan mengelolanya dengan baik, sampah tersebut langsung masuk ke lautan. Seringnya, sampah tersebut datang dari seberang laut. Ketika ada yang buang sampah di jalan, kadangkala sampahnya tidak menyumbat saluran air dan terbawa arus hingga ke muara dan berakhir di laut.

Penyebab besar lainnya ialah sistem pembuangan sampah yang serampangan. TPA di Indonesia yang hampir penuh memang bukan solusi praktis. Sampah hanya dibuang hingga menggunung, tanpa ada pengolahan, dan terus menerus ditumpuk. Lama kelamaan, gunungan sampah tersebut tidak akan bisa menopang lagi. Kalau sudah begitu, mungkin akan jatuh, tertiup angin, terbawa saluran air, dan sampai ke laut.

Di seluruh dunia, banyak orang yang tidak punya akses ke pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Namun ketika sampahnya tetap menumpuk, mereka tidak hilang begitu saja. Sampah itu akan pindah tempat. Jika tidak di darat, kemungkinan besar akan menuju laut; tempat yang jauh dari penglihatan dan jangkauan mata manusia.

Bukan hanya di darat, sampah laut bisa bersumber dari aktivitas manusia di lautan juga. Tak jarang penumpang kapal secara sadar membuang sampahnya ke lautan. Atau barang yang sedang dipakai, tanpa sengaja jatuh dari kapal, tertiup angin, atau terseret arus. Contohnya saja, kamu sedang bermain di pantai yang ombaknya besar. Tanpa sadar, kamu keluar dari air tanpa memakai sandal. Ternyata sandalmu tahu-tahu sudah ada di tengah air yang cukup dalam. Sandalmu akan tetap ada di laut hingga bertahun-tahun selanjutnya, terbawa arus hingga hanyut di tepi pantai, atau berakhir di perut hewan laut. Selain itu, nelayan seringkali kehilangan perlengkapan pancing ketika mendapati badai di laut.

Sampah plastik di laut akan mencemari air dan biotanya. (Sumber: Naja Bertold Jensen/Unsplash)

Ketika sudah ada di laut lepas, sulit sekali melacak kedatangan sampah laut tersebut. Untuk sampah plastik sachet atau kemasan, kita masih dapat memastikan sampah ini datang dari negara mana melalui keterangan di kemasannya. Namun tentu saja sulit untuk menentukan, apakah kemasan ini datang dari sampah rumah tangga di darat, dari TPA, pantai, atau terbuang langsung dari lautan.

Intinya, semua sampah laut berasal dari aktivitas manusia. Manusia menjadi biangnya, dan tiap manusia punya tanggung jawab yang sama pula untuk menghentikan dan mencegahnya.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita mengurangi sampah plastik dari sumbernya. Dapat dikatakan, kita menutup keran terbentuknya sampah laut sejak awal. Hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti menggunakan tas kain, belanja di bulk store, mengompos, atau menggunakan menstrual pad, tentu akan berdampak besar jika dilakukan banyak orang. Kamu telah menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan tanpa kamu sadari. Jadi, jangan berkecil hati dengan usahamu ya.

Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Ocean Today. (n.d.). Where Does Marine Debris Come From? Retrieved from National Oceanic and Atmospheric Administration: https://oceantoday.noaa.gov/trashtalk_wheredoesmarinedebriscomefrom/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Keuntungan Naik Transportasi Umum

Generasi Hijau yang tinggal di kota besar, pasti familiar dengan masalah seperti kemacetan dan polusi. Masalah di jalan tidak jarang diikuti dengan tekanan batin setelahnya; terjebak macet lalu terlambat ke kantor, atau karena terburu-buru malah melanggar rambu lalu lintas dan terkena tilang. Tidak hanya di Jabodetabek, kemacetan sudah dijumpai di kota besar lainnya di Indonesia. Namun sayangnya, persebaran transportasi publik belum merata. Untuk saat ini, hanya penduduk Jakarta yang dapat menikmati MRT (mass rapid transit) dan TransJakarta, sementara penduduk Jabodetabek dapat menggunakan fasilitas kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. 

 

Bagi kamu yang berkesempatan tinggal di kota dengan transportasi umum, yuk manfaatkan! Kamu dapat mendukung terbentuknya kota berkelanjutan. Berikut keuntungan bagimu dan lingkungan sekitarmu jika kamu rutin menggunakan transportasi umum.

Mengurangi jejak karbon pribadi

Dilansir dari WRI Indonesia, jika kamu melakukan perjalanan sejauh 20 kilometer ke kantor dengan menggunakan mobil setiap harinya, kamu akan menghasilkan 1.300 kilogram CO2 per tahun. Sementara jika naik bus, kamu mengurangi jejak karbonmu hingga hampir setengahnya; hanya 600 kilogram CO2 per tahun. Dengan membawa lebih banyak orang dalam sekali angkut, transportasi publik mereduksi jejak karbon dibanding kendaraan pribadi secara signifikan.

Efisiensi bensin

Selain mengurangi emisi karbon, transportasi umum juga menggunakan bahan bakar dengan efisien. Hal ini turut berkontribusi pada reduksi energi yang dibutuhkan moda transportasi secara keseluruhan.

 

Terhindar kemacetan

Seperti alasan sebelumnya, transportasi umum membawa lebih banyak orang dalam sekali jalan dan dapat membantumu terhindar dari kemacetan. Waktu tempuh untuk ke tujuan pun dapat lebih singkat. Meski begitu, pengguna Commuter Line Jabodetabek mesti mengganti rasa waswas takut terlambat dengan berdesakan di rangkaian kereta (hehe).

Tidak perlu repot mencari lahan parkir

Kamu pasti pernah menghabiskan waktu lama bolak-balik untuk mencari lahan parkir. Lahan parkir yang tersedia memang tidak seimbang dengan kendaraan pribadi yang banyak. Dengan naik transportasi umum, kamu dapat memangkas waktu mencari lahan parkir dan lebih cepat ke tempat tujuan.

Naik TransJakarta membantu kita aktif bergerak, karena dari halte ke tempat tujuan perlu naik jembatan penyeberangan. (SumberL Azka Rayhansyah/Unsplash)

Lebih aktif bergerak

Jalan kaki dari dan ke stasiun atau halte, berdiri menunggu bus atau kereta, hingga naik-turun tangga jembatan penyeberangan akan membuatmu lebih aktif bergerak. Dilansir dari Hellosehat, semua aktivitas tersebut dapat meningkatkan fungsi jantung, paru, dan otot. Selain itu, dapat membakar lemak lebih banyak ketimbang duduk, meningkatkan kebugaran tubuh, serta menjadi kegiatan menyehatkan bagi orang dengan hipertensi, kadar kolesterol tinggi, atau kekakuan sendi.

Mengumpulkan energi untuk bekerja

Jika beruntung dapat duduk, kamu dapat memanfaatkan waktu istirahat saat berada di kendaraan umum. Selagi menunggu sampai tujuan, kamu dapat tidur sejenak, membaca buku, atau sekadar meluruskan kaki.

Mengasah fungsi otak

Generasi Hijau mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya, namun naik transportasi umum dapat melatih kerja otak, lho.

 

Misalnya, memikirkan transportasi mana yang paling efektif untuk ditempuh dengan pertimbangan paling mudah, lebih murah, dan menghemat waktu. Kamu juga diharuskan mengingat kode-kode kendaraan tertentu, seperti mikrolet atau kopaja. Atau mengingat peron mana yang dilewati kereta tujuanmu. Jika sudah terbiasa, kamu secara tidak sadar akan hafal rute kendaraan yang sering kamu tumpangi.

 

Semua hal yang disebutkan di atas berkaitan erat dengan banyak fungsi otak, seperti penalaran, daya ingat, perhitungan, emosi, dan juga pengambilan keputusan. Ini sama halnya ketika kamu mengerjakan soal matematika atau memainkan permainan puzzle yang bermanfaat bagi otak.

 

Data kecelakaan lalu lintas tahun 2019. (Sumber: Korlantas Polri)

Lebih aman

Transportasi umum diperbaiki secara berkala, dipastikan keamanannya, dan sparepart-nya dipelihara untuk memastikannya layak jalan. Dibanding kendaraan pribadi yang hanya kita servis jika rusak, transportasi umum dinilai lebih aman.

 

Dilihat dari kebiasaan berkendara dan jam terbang, masinis dan sopir bus tentunya lebih berpengalaman dibanding pengendara pribadi seperti kita. Mereka telah melalui sertifikasi dan pelatihan khusus untuk dipercaya membawa transportasi umum.

Menurut data dari Korlantas Polri, kecelakaan lalu lintas di tahun 2019 didominasi oleh pengendara motor sebanyak 73,49%. Sementara kecelakaan bus hanya 1,22%, dan kecelakaan kereta hanya 0,05% saja.

Dampak lebih jauhnya, dengan lebih banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi, udara akan lebih bersih dan bebas polusi. Tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, namun juga untuk kesehatan kita. Melalui penggunaan transportasi umum, kamu juga mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan di level urban.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

National Express Transit. (2017, July 18). 9 Benefits of Public Transportation. Retrieved from National Ecpress Transit: https://www.nationalexpresstransit.com/blog/9-benefits-of-public-transportation/

 

Noor, N., Pradana, A., & Rizki, M. (2019, October 11). Menghitung Jejak Karbon Pribadi Dapat Mendukung Aksi Iklim. Retrieved from WRI Indonesia: https://wri-indonesia.org/id/blog/menghitung-jejak-karbon-pribadi-dapat-mendukung-aksi-iklim

 

Puji, A. (2019, October 06). Tak Hanya Kurangi Kemacetan, Lihat 4 Manfaat Naik Kendaraan Umum Bagi Kesehatan. Retrieved from Hellosehat: https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/manfaat-naik-angkutan-umum/

 

Setijowarno, D. (2020, March 01). Sepeda Motor Penyumbang Kecelakaan Terbesar di Jalan Raya. Retrieved from Bisnis News: https://bisnisnews.id/detail/berita/sepeda-motor-penyumbang-kecelakaan-terbesar-di-jalan-raya

 

Timperley, J. (2020, March 18). How Our Daily Travel Harms the Planet. Retrieved from BBC UK: https://www.bbc.com/future/article/20200317-climate-change-cut-carbon-emissions-from-your-commute

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Sumber: Plankton over plastic: Citizen support for strong laws to reduce ocean plastics | West Coast Environmental Law (wcel.org)

Polusi yang disebabkan oleh manusia berdampak besar pada lingkungan laut dunia. Salah satu bentuk pencemaran yang paling luas adalah sampah plastik. Plastik diperkirakan diproduksi lebih dari 80 juta ton per tahun di seluruh dunia. Plastik ini tahan lama, membutuhkan 500 tahun di lautan untuk terurai. Karena ketahanan dan daya apungnya, mereka dapat dibawa jauh dari sumbernya. Di samudra utama, rasio plastik terhadap zooplankton dihitung hingga 6:1 menurut beratnya.

 

Paus, ikan, dan hewan laut lainnya bergantung pada zooplankton untuk makanan karena mereka adalah penghubung penting antara fitoplankton dan matahari. Plastik diyakini diambil oleh zooplankton dan dengan demikian bergabung dengan rantai makanan, menurut para peneliti. Racun juga dimasukkan ke dalam rantai makanan oleh plastik. Saat plastik terdegradasi, mereka melepaskan zat beracun. Polutan di atmosfer sering dikumpulkan oleh mereka. Saat hewan menelan plastik, kedua bahan kimia ini dilepaskan.

 

Paus, anjing laut, duyung, burung laut, penyu, kepiting, ular laut, hiu, pari, dan ikan lainnya termasuk di antara lebih dari 200 hewan yang dilaporkan dirusak oleh sampah air. Banyak dari spesies ini yang terancam punah, yang lainnya penting untuk makanan kita. Ini menunjukkan bahwa plastik yang dimakan oleh hewan tidak hanya membahayakan mereka – usus mereka mungkin berlubang, dan mereka mungkin mati – tetapi bahan kimia dalam plastik juga dapat membahayakan manusia.

 

Hewan laut juga berisiko terjerat. Setiap tahun, hingga 40.000 anjing laut berbulu terbunuh saat mereka terjerat puing-puing. Hal ini menyebabkan penurunan populasi tahunan 4-6 persen. Hampir setiap kelompok vertebrata laut dipengaruhi oleh belitan. Kura-kura, cetacea, paus, singa laut, burung laut, hiu dan pari, kepiting, dan spesies lain diketahui terkena imbas di perairan dunia.

 

Alat tangkap yang hilang, serta sampah yang terkait, merupakan masalah besar. Setiap tahun, setidaknya 6,4 juta ton alat tangkap komersial diperkirakan akan hilang di lautan di seluruh dunia. Teluk Carpentaria, di ujung utara Australia, adalah contoh yang bagus untuk ini. Lebih dari 8.000 jaring ikan terbengkalai, dengan total jaring sepanjang 90.000 meter, telah dibersihkan di pantai-pantai di negara itu. Menurut pemodelan oseanografi kami, jaring-jaring ini kemungkinan besar akan melayang di wilayah yang luas di wilayah tersebut, mempengaruhi enam dari tujuh spesies penyu laut dunia yang hidup di sana. Banyak hewan lain yang kemungkinan besar akan dirugikan, tetapi mereka akan mati sebelum jala tersapu ke darat dan ditemukan.

Menyelesaikan Permasalahan Ini

Untuk memerangi sampah laut, diperlukan kombinasi pendidikan, insentif, dan regulasi. Daur ulang botol plastik adalah contoh yang baik; telah berkembang setiap tahun sejak 1990, mencapai 2,2 triliun pound pada tahun 2006. Sumber daya pendidikan, seperti kode identifikasi plastik pada botol, menawarkan informasi penting kepada masyarakat umum dan meningkatkan partisipasi. Deposito botol, hadiah finansial, menghasilkan pengurangan kerugian lingkungan sebesar 75%. Peraturan, seperti larangan botol minuman sekali pakai baru-baru ini, dapat membantu meringankan masalah lebih jauh.

 

Di sisi lain, kurangnya pengetahuan kita membuat sulit untuk menargetkan pendidikan, insentif, dan regulasi. Saat ini tidak mungkin untuk menghubungkan plastik di atmosfer dengan pabrik, supermarket, nelayan, atau pelanggan tertentu. Seperti banyak bentuk polusi lainnya, ini berarti alat kami untuk perubahan budaya harus disesuaikan secara luas, sementara kerugian lingkungan kemungkinan besar disebabkan oleh minoritas yang sembrono. Perilaku manusia harus bergeser dari masyarakat yang membuang sampah saat ini, dan transparansi adalah komponen kunci dari transformasi ini.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Kehidupan pertama di bumi dimulai dari laut. Makhluk darat pertama berasal dari laut. Hingga kini, laut menjadi tonggak penting kehidupan makhluk hidup bumi.

 

Tiap hari Jumat di minggu ketiga Mei diperingati sebagai Hari Spesies Flora dan Fauna Langka. Untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga dan merestorasi alam liar untuk keberlangsungan hidup satwa, Hari Spesies Flora dan Fauna Langka di tahun ini jatuh tanggal 21 Mei.

Sustainable consumption and production contributes to healthy ocean life. (Source: Miles Prolevic/Unsplash)

Sejak revolusi industri yang pertama, planet bumi telah menyaksikan kehilangan banyaknya spesies hewan dan tumbuhan akibat aktivitas manufaktur dan perkembangan teknologi manusia. Sayangnya, perkembangan industri tersebut tidak dibarengi dengan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Ekosistem laut modern kini menanggung akibatnya.

Bukan hanya tempat produksi ikan

Lebih dari sekadar hamparan air asin yang luas, laut berperan penting dalam keberlangsungan hidup di bumi; baik di laut itu sendiri maupun di darat. Berikut beberapa alasannya.

Produsen oksigen

80% oksigen dunia diproduksi fitoplankton di lautan. Betul, kamu tidak salah baca! Hutan hujan tropis dan tumbuhan memang turut menyumbang kadar oksigen di atmosfer bumi, namun sebenarnya laut memproduksi sebagian besar oksigen yang kita hirup sekarang. Fitoplankton ialah tumbuhan laut mikroskopik, jumlahnya masif di lautan. Merekalah yang berperan menghasilkan oksigen bagi makhluk darat.

 

 

Evaporasi air hujan

Laut berperan sebagai panel surya raksasa, dan mendistribusikan panasnya ke seluruh dunia. Ketika sinar matahari menghangatkan laut, terjadi pertukaran antara molekul air dan udara. Proses ini disebut evaporasi. Air laut berevaporasi secara konstan, meningkatkan suhu dan kelembaban udara di sekitarnya untuk membentuk awan hujan. Awan hujan tersebut lalu terbawa angin ke darat. Daerah tropis lebih sering hujan, karena matahari bersinar sepanjang tahun, sehingga proses evaporasi frekuensinya lebih tinggi di area ekuator.

 

Mengapa air hujan rasanya tawar, meski airnya menguap dari laut? Proses evaporasi murni hanya membawa molekul air, tanpa ada substansi lainnya. Jadi, kandungan garam dan partikel lainnya tetap ada di laut. Ketika cuaca di laut sedang berangin, kadang percikan airnya terbawa hingga tepi pantai. Percikan air tersebut memuat partikel garam yang tertinggal saat proses evaporasi. Proses inilah yang menyebabkan angin laut terasa asin dan berbau logam.

Pengatur iklim daratan

Laut mempengaruhi cuaca dan iklim darat dengan menjaga temperatur bumi. Sebagian besar radiasi matahari diserap air laut dan samudra di perairan tropis dekat ekuator. Sementara untuk daerah bumi di luar ekuator, laut mempengaruhi pola cuaca darat dengan arusnya. Arus laut mengalir terus menerus, dibentuk dari angin di permukaan laut, suhu dan kadar garam, rotasi bumi, serta pasang-surut lautan. Arus laut bergerak searah jarum jam dari belahan bumi utara, dan berlawanan jarum jam di belahan bumi selatan. Polanya melingkar dan melewati garis pantai.

 

Arus laut bergerak seperti conveyor belt, mengangkut air hangat dan presipitasi dari ekuator ke kutub, dan air dingin dari kutub kembali ke daerah tropis. Siklus ini menjaga iklim global dan menetralkan distribusi panas matahari di permukaan bumi. Tanpa arus ini, temperatur regional akan jadi sangat ekstrem; panas luar biasa di ekuator dan dingin membeku di dekat kutub. Selain itu, daratan di bumi mungkin tidak akan layak ditempati.

Laut dan ancaman yang menyertainya

Pada praktiknya, bumi memang mengalami kenaikan suhu secara natural. Namun sejak adanya aktivitas industri manusia, bumi mengalami kenaikan temperatur global dalam kecepatan tinggi. Dilansir dari jurnal Advances in Atmospheric Science, temperatur air laut disinyalir paling tinggi di tahun 2019, sejak 60 tahun lalu pencatatan suhu bumi dimulai.

 

Laut sangat sensitif dengan suhu. Adanya kenaikan temperatur global mempengaruhi seluruh elemen laut. Jika tidak beradaptasi, biota laut akan mati. 

Healthy coral reefs have bright vibrant colors. (Source: QUI/Unsplash)

Salah satu dampak kenaikan temperatur ialah terjadinya coral bleaching. Terumbu karang yang sehat aslinya berwarna terang dan ditinggali hewan laut lainnya. Warna terang ini dikeluarkan oleh alga berukuran mikroskopik bernama zooxanthellae. Terumbu karang dan alga ini menjalin simbiosis mutualisme; zooxanthellae yang hidup di terumbu karang melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk mereka.

Ketika suhu air naik, terumbu karang di dasar laut bisa stres dan melepas alga dari tubuhnya. Karena hilangnya alga ini, warna terumbu karang dapat berubah menjadi putih seperti terkena bleaching. Tanpa zooxanthellae, terumbu karang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Jika suhu air tetap tinggi, terumbu karang tersebut akan mati.

 

Selain coral bleaching, ancaman lain yang dihadapi makhluk laut berhubungan erat dengan aktivitas manusia. Belum lagi jika kita membicarakan soal sampah lautan, overfishing, dan tumpahan minyak di lepas pantai. Dengan memahami masalahnya, Generasi Hijau dapat mengambil peran untuk mengatasi salah satu dari faktor yang disebutkan tadi. Tetap ingat bahwa tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Berwyn, B. (2020, January 14). Ocean Warming Is Speeding Up, with Devastating Consequences, Study Shows. Retrieved from Inside Climate News: https://insideclimatenews.org/news/14012020/ocean-heat-2019-warmest-year-argo-hurricanes-corals-marine-animals-heatwaves/

 

DNA Web Team. (2020, May 15). National Endangered Species Day 2020: History, significance & more. Retrieved from DNA India: https://www.dnaindia.com/lifestyle/report-national-endangered-species-day-2020-history-significance-more-2824843

 

Earth Science Communication Team. (n.d.). What is happening in the ocean? Retrieved from NASA Climate Kids: https://climatekids.nasa.gov/ocean/

 

Fallahnda, B. (2021, March 19). Apa Penyebab Pencemaran dan Dampak Konservasi Laut? Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/apa-penyebab-pencemaran-dan-dampak-konservasi-laut-gbhK

 

Hancock, L. (n.d.). Everything You Need to Know about Coral Bleaching—And How We Can Stop It. Retrieved from WWF Page: https://www.worldwildlife.org/pages/everything-you-need-to-know-about-coral-bleaching-and-how-we-can-stop-it

 

National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). What is coral bleaching? Retrieved from National Ocean Service: https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_bleach.html

Ocean Exploration. (n.d.). How does the ocean affect climate and weather on land? Retrieved from Ocean Exploration Facts: https://oceanexplorer.noaa.gov/facts/climate.html

 

Skilling, T. (2017, September 1). Ask Tom: Why is rain that comes from evaporated ocean water not salty? Retrieved from Chicago Tribune: https://www.chicagotribune.com/weather/ct-wea-asktom-0903-20170901-column.html

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Berdasarkan penelitian Frias & Nash (2018), mikroplastik didefinisikan sebagai “partikel padat sintetis atau matriks polimer, dengan bentuk beraturan atau tidak beraturan dan dengan ukuran mulai dari 1 m sampai 5 mm, baik primer maupun sekunder yang berasal manufaktur dan tidak larut dalam air.”

Mikroplastik sudah menyebar di tiap aspek kehidupan kita. (Sumber: Zatevahins/Shutterstock)

Jumlah mikroplastik sudah sangat banyak dan juga sudah tersebar di seluruh dunia terutama dalam 70 tahun terakhir. Distribusi dan jumlah mikroplastik sangat banyak dan bahakan membuat lapisan startifikasi sendiri di tanah atau batuan, sehingga banyak ilmuwan yang menjadikan mikroplastik sebagai periode zaman tersendiri: Plasticene (Campanale et al. 2020). Namun, dampak dari mikroplastik tidak sepenuhnya dimengerti, terutama dampaknya pada kesehatan manusia. Hal disebabkan karena sifat fisik dan kimia dari mikroplastik yang sangat kompleks. Mikroplastik terdiri dari dua tipe senyawa kimia, yaitu 1. Senyawa aditif dan material polimer mentah (termasuk material penguat, plasticizer, antioksidan, penstabil UV, pelumas, pewarna dan penghambat api) dan 2. Senyawa kimia yang diserap dari lingkungan.

Mikroplastik dikhawatirkan dapat masuk ke dalam rantai makanan, terakumulasi, dan dikonsumsi oleh manusia seperti biogmanifikasi dari zat xenobiotic. Ide tentang biomangifikasi berasal dari buku Rachel Carson yang berjudul “silent spring” tentang akumulasi senyawa DDT yang menyebabkan telur ayam dan elang bercangkang tipis dan menyebabkan kematian telur-telur tersebut.

Biomagnifikasi adalah “proses di mana zat xenobiotic (senyawa kimia yang secara alami tidak ada dalam organisme) dipindahkan dari organisme ke organisme lain dalam rantai makanan yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumbernya.” (Rand et al., 1995). Walaupun fenomena biomagnifikasi dipakai untuk menjelaskan akumulasi senyawa kimia pada jaring makanan, mikroplastik yang merupakan benda fisik juga diasumsikan punya pola yang sama. Mikroplastik merupakan salah satu xenobiotic yang mulai banyak diteliti oleh banyak peneliti sebagai akibat dari meningkatnya jumlah dan distribusi plastik di lingkungan selama beberapa tahun terakhir (Gray, 2002).

Dari penelitian Saley et al. (2019) di Jurnal marine Pollution Bulletin, akumulasi mikroplastik bahkan terjadi di rantai makanan di ekosistem pantai yang jauh dari manusia, mikroplastik ini ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi terutama di populasi herbivora air (terutama siput). Jika di ekosistem perairan yang ada di tempat terpencil saja mikroplastik dapat terakumulasi mencapai konsentrasi yang bisa terdeteksi, ekosistem yang dekat dengan populasi manusia diasumsikan mengandung lebih banyak lagi mikroplastik.

Berdasarkan penelitian Miller et al. (2020) di Jurnal Plos One, mikroplastik telah terakumulasi dan ada dalam semua tingkatan pada jaring-jaring makanan di ekosistem perairan, terutama di laut. Walaupun tidak ada indikasi di lapangan bahwa akumulasi mikroplastik yang terjadi dalam tubuh mahkluk hidup adalah biomagnifikasi. Tetap saja tidak dapat dipungkiri bahwa mikroplastik telah ada dalam hewan air tawar dan laut yang kita konsumsi, bahkan juga di hewan darat.

Penelitian tentang bahaya mikroplastik pada kesehatan manusia sudah mulai banyak dilakukan. Walaupun belum ada hasil yang konklusif dari banyak penelitian tersebut, terdapat indikasi bahwa mikroplastik membahayakan tubuh manusia karena bersifat toksik bagi sel-sel tubuh dan juga karena mikroplastik dapat menjadi pembawa mikrooganisme ataupun senyawa lain seperti logam berat yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pencernaan, pernafasan, dan kontak dengan kulit.

Mikroplastik dapat masuk ke sistem pencernaan lewat makanan dan dapat berdampak buruk sistem pencernaan dan sistem eskresi. Berdasakan hasil penelitian Barboza et al. (2018), mikroplastik dengan ukuran 10 µm dapat masuk ke membran sel, organ, dan plasenta. Selain itu, mikroplastik berukuran lebih kecil dari 2,5 µm dapat masuk ke saluran pencernaan melalui endositosis oleh sel. Masuknya mikroplastik ke saluran pencernaan dapat menyebabkan keracunan yang disebabkan oleh inflamasi. Tingkat keparahan inflamasi dipengaruhi oleh konsentrasi mikroplastik dalam saluran pencernaan. Sebenarnya sistem ekskresi manusia mampu untuk mengeluarkan mikro dan nanoplastik sampai sebanyak 90% (Campanale et al. 2020). Walaupun begitu, lebih dari 10% sisanya tetap dapat menyebakan inflamasi.

Mikroplastik juga ada di udara dapat berasal dari tempat pengolahan sampah, baju berbahan sintetik, emisi industri, debu, dan pertanian. Mikroplastik ini dapat masuk ke sistem pernafasan lewat udara dan dapat berdampak buruk sistem pernafasan. Dampak mikroplastik ini berbeda-beda tergantung kerentanan, dosis, dan metabolisme tubuh, namun beberapa orang dapat mengalami asma, pneumonia, inflamasi, radang bronchitis, dan bahkan kanker pulmonari (seperti yang ditemukan pada karyawan di industri tekstil) (Campanale et al. 2020). Selain itu, ada bahaya lain dari kemungkinan transmisi mikroorganisme ke saluran pernafasan dari mikroorganisme yang menempel di mikroplastik.

Mikroplastik juga dapat masuk ke kulit melalui kontak fisik dengan kulit saat membasuh kulit dengan air atau dari kosmetik. Walaupun begitu, hanya mikroplastik yang berukuran kurang dari 100 nm yang dapat masuk. Mikroplastik tersebut mengandung polutan organik, antibiotik, dan logam berat yang memiliki sifat sitotoksitas (tingkat merusaknya suatu zat pada sel) yang tinggi (Campanale et al. 2020). Salah satu contohnya adalah logam aluminium dan antimon yang dapat menyebabkan kanker payudara dan logam mangan yang dapat menyebabkan kelainan sistem syaraf.

Detail bahaya dari mikroplastik dan efeknya ke tubuh manusia belum banyak dipelajari. Bisa jadi mikroplastik lebih berbahaya bagi kesehatan daripada penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengurangi sampah plastik agar distribusi dan jumlah mikroplastik di sungai dan lautan dapat berkurang dan tidak membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Greeneration Foundation mendukung pencegahan mikroplastik di perairan melalui Citarum Repair untuk membantu mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum dan juga membantu melakukan edukasi ke warga di sekitar Sungai Citarum terkait sampah plastik di sungai dan laut.

 

Referensi

Barboza, L. G. A., Vethaak, A. D., Lavorante, B. R., Lundebye, A. K., & Guilhermino, L. (2018). Marine microplastic debris: An emerging issue for food security, food safety and human health. Marine pollution bulletin133, 336-348.

 

Campanale, C., Stock, F., Massarelli, C., Kochleus, C., Bagnuolo, G., Reifferscheid, G., & Uricchio, V. F. (2020). Microplastics and their possible sources: The example of Ofanto river in Southeast Italy. Environmental Pollution258, 113284.

 

Frias, J. P. G. L., & Nash, R. (2019). Microplastics: finding a consensus on the definition. Marine pollution bulletin138, 145-147.

 

Gray, J. S. (2002). Biomagnification in marine systems: the perspective of an ecologist. Marine Pollution Bulletin45(1-12), 46-52.

 

Miller, M. E., Hamann, M., & Kroon, F. J. (2020). Bioaccumulation and biomagnification of microplastics in marine organisms: A review and meta-analysis of current data. Plos one15(10), e0240792

 

Rand GM, Wells PG, McCarty LS. Introduction to aquatic toxicology. (1995). In: Rand GM, editor. Fundamentals of aquatic toxicology: Effects, environmental fate, and risk assessment. North Palm Beach: Taylor & Francis. pp. 3–67

 

Saley, A. M., Smart, A. C., Bezerra, M. F., Burnham, T. L. U., Capece, L. R., Lima, L. F. O., … & Morgan, S. G. (2019). Microplastic accumulation and biomagnification in a coastal marine reserve situated in a sparsely populated area. Marine pollution bulletin146, 54-59.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Menuju Idulfitri, Begini Cara Kurangi Sampah Makanan di Hari Raya

Hari Raya semakin dekat! Di tahun kedua pandemi, kita telah menempuh dua Idulfitri dengan terhubung melalui internet dan sambungan telepon dengan keluarga di kampung halaman. Meski banyak keterbatasan di bulan penuh berkah ini, jangan sampai silaturahmi bersama keluarga dan kerabat terbatas juga ya, Generasi Hijau.

 

Setelah berpuasa satu bulan penuh, Hari Raya jadi waktu untuk merayakan kemenangan. Perayaan ini identik dengan berbagai hidangan khas Hari Raya. Opor, gulai, rendang, sambal goreng, biasanya mana dulu yang kamu masak?

 

Seringkali dalam perayaan Lebaran, kita menyajikan terlalu banyak hidangan hingga tanpa sadar banyak yang terbuang. Tahukah kamu, sampah makanan justru meningkat di bulan Ramadan dan Hari Raya? Untuk itu, kami mengajak Generasi Hijau untuk lebih menyadari lagi berapa banyak sampah makanan yang berpotensi dihasilkan dari makanan pada Idulfitri. Berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mencegah sampah makanan saat Idulfitri.

Masak secukupnya

Jika di rumahmu ada lima orang, jangan memasak untuk porsi sepuluh orang. Ketahui berapa banyak tamu yang akan datang sehingga mencegah makanan terbuang. Rasulullah saw. bersabda: “Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah).

 

We can share the abundance of Eid food to neighbors and others in need. (Source: Getty Images)

Bagikan ke tetangga dan yang membutuhkan

Semangat Ramadan masih akan terasa di Hari Raya. Ketika makanan sudah tersaji dan ternyata tidak dapat dihabiskan, bagikan kelebihannya pada tetangga di sekitar rumah. Jika memungkinkan, bagikan juga pada teman-teman di sekitar kita yang kurang beruntung.

Masak kembali sisa masakan

Maksudnya ialah kulit buah atau sayur yang kamu kira tidak bisa dimakan lagi. Kini sudah banyak lho resep di internet yang memanfaatkan kulit buah atau batang sayur, contohnya resep oseng kulit singkong yang bisa kamu lihat di sini!

Jangan lapar mata

Ketika banyak makanan di meja, seringkali kita kalap dan ingin mengambil semuanya. Ternyata porsinya terlalu banyak buat kita dan tidak sanggup dihabiskan. Untuk menghindari makanan terbuang karena ini, ambil porsi kecil-kecil saja. Kalau kurang, kamu bisa tambah lagi.

Composting can eliminate food waste from its source. (Source: Markus Spiske/Unsplash)

Kompos sisa masakanmu!

Ketika kita buang sampah, sampah itu tidak akan hilang; sejatinya hanya berpindah tempat. Dari rumahmu ke TPA, tidak menyelesaikan masalah. Karena itu, usaha paling tepat untuk mencegah penumpukan sampah makanan di TPA ialah dengan mengompos sendiri di rumah. Sisa kulit buah dan batang sayurmu dapat berubah menjadi nutrisi yang baik untuk tanaman di rumah. Kamu bisa menanam kembali sisa sayur dan buah melalui cara ini. Sisa sayur yang sudah jadi kompos itu akan berputar jadi makananmu kembali. Dengan begitu, kamu telah menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan di skala rumah.

Esensi Hari Raya ialah merefleksikan diri kembali setelah satu bulan berpuasa di bulan yang baik. Jangan sampai volume sampah makanan menghambat kebahagiaan kita berkumpul bersama orang tersayang.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Kembangkan Start Up-mu di Circular Jumpstart

Kembangkan Start Up-mu di Circular Jumpstart

Miliki kesempatan untuk menampilkan inovasi bisnis startup-mu pada banyak calon investor!

Circular Jumpstart merupakan salah satu rangkaian acara menjelang Main Event Indonesia Circular Economy Forum (ICEF). Program inkubasi bisnis ini akan berlangsung selama dua bulan, bertujuan untuk membantu usaha startup yang berkelanjutan dan berprinsip ekonomi sirkular di Indonesia untuk menumbuhkan pasar dan daya saing bisnismu. 

 

Dengan mendaftar di Circular Jumpstart, kamu berkesempatan mendapat program mentoring bisnis, peluang networking dengan investor dan mitra bisnis, hingga hadiah utama berupa dukungan finansial untuk bisnis startup-mu. 

Berikut ialah area inovasi tantangan yang dihadapi dari hulu ke hilir dalam mewujudkan praktik ekonomi melingkar. Bisnismu dapat berdampak pada ketiganya atau salah satunya.

1. Kreasi Produk Berkelanjutan

Menghalau limbah dan polusi melalui rancangan produk, material, atau kemasan dari bahan ramah lingkungan atau bahan limbah.

2. Konsumsi dan Penggunaan (Pemberdayaan UMKM)

Mewujudkan konsumsi sumber daya berkelanjutan dengan memperoleh, menyediakan, dan berbagi akses pada produk dan jasa.

3. Re-invent Pengelolaan Sampah

Inovasi pengumpulan, pemisahan, daur ulang dan pengelolaan sampah demi mencegah polusi air, udara, dan tanah.

Siapa saja yang dapat mendaftar?

Kami mencari prototype bisnis hingga solusi inovatif yang siap dipasarkan, dengan potensi untuk memperkuat pembangunan kota yang berkelanjutan, sirkular dan berkembang.

 

Solusi bisnismu dapat berfokus pada bidang spesifik maupun lintas-sektor, seperti ada di isu plastik, pangan, konstruksi, tekstil, atau lainnya. Dari meningkatkan usia pakai material, pengurangan langsung bahan jadi, atau pada perilaku bisnis dan konsumen, yang terpenting ialah bisnismu dapat menjawab satu atau lebih tantangan.

Kriteria seleksi

Inovasi bisnismu akan dievaluasi berdasarkan potensinya untuk menghasilkan dampak signifikan sehubungan dengan area tantangannya. Kriteria berikut akan digunakan untuk memandu ulasan inovasimu:

  •  – Berpotensi transformatif
  • Secara keseluruhan, solusinya berpotensi membuat dampak signifikan pada fokus areanya.
  •  
  • – Dampak lingkungan dan sirkular
  • Solusinya berpotensi untuk meningkatkan alur sumber daya berkelanjutan dan mengurangi dampak iklim.
  •  
  • – Dampak sosial dan komunitas
  • Solusinya berpotensi membuat kota berkembang dan menghadirkan kesempatan bagi komunitas yang beragam.
  •  
  • – Kemungkinan
  • Apakah solusinya mungkin dan layak terwujud?
  • – Kelayakan dan kemampuan tim
  • Mengapa kamu jadi orang yang tepat untuk memecahkan tantangan ini dan bagaimana eksekusi dari tim kamu?
  •  
  • – Kemampuan finansial
  • Kemampuan perusahaan dan inisiatif untuk mendapat profit dan bisnis berkelanjutan.
  •  
  • – Skala dan kemampuan direproduksi
  • Solusinya berpotensi direplikasi dan mengikuti konteks urban di berbagai kota.

Apa saja yang akan didapat?

1. Kesempatan mendapat jaringan

Berinteraksi dengan instansi pemerintahan, perusahaan, dan calon investor untuk membuka kesempatan kemitraan. Bangun jaringanmu di program inkubasi dan Konferensi ICEF.

2. Dana hibah untuk bisnismu

Jika kamu salah satu dari tiga pemenang, kamu berkesempatan mendapat dana hingga total Rp 75.000.000 dari donatur kami untuk pengembangan bisnismu.

3. Bimbingan dari yang ahli

Kamu akan ikut program inkubasi yang berisi sembilan workshop dengan mentor dan investor berpengalaman, termasuk pemangku kepentingan dari instansi pemerintahan.

4. Eksposur dari ICEF

Bisnismu akan dimuat di publikasi lanjutan dari program ICEF ke-4 dan laporan pasca-program.

Jika kamu inovator dari usaha startup dengan prinsip berkelanjutan dan model bisnis sirkular, segera daftarkan bisnismu sebagai peserta Circular Jumpstart. Kami mengundang ecopreneur pemula untuk turut mewujudkan kota berkelanjutan dan dapatkan kesempatan untuk membuka potensi pengembangan bisnis melalui Model Bisnis Sirkular!

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest