Author Archives: melisa

Hidup Manusia Bergantung pada Ekosistem Sungai

Hidup Manusia Bergantung pada Ekosistem Sungai

Di zaman kuno, peradaban manusia sering ditemukan dekat dengan sumber air. Sungai dapat menjadi sumber air serta sumber makanan berlimpah bagi manusia. Selain untuk minum, mencuci dan mandi, manusia dapat mencari ikan maupun memburu burung atau hewan lain yang tinggal di sekitar sungai. Manusia juga dapat mengairi ladang dengan irigasi dari sungai.

Sayangnya, kita sudah jarang menemui aliran air di kota yang bersih dan bebas sampah. Penelitian dari Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 20.000 sampah plastik ukuran besar (plastik makro) yang mengalir ke laut melalui sungai di Jakarta selama satu jam. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa jumlah sampah plastik dari semua sungai di Jakarta mencapai berat 2,1 juta kilogram (Van Emmerick, Tim, 2020). Berat ini setara dengan 42.000 kali berat mahkota emas Monas.

Peranan penting sungai bagi ekosistem

Sungai, danau, rawa, merupakan ekosistem air tawar yang penting bagi hidup manusia. Sesungguhnya, 97,5% air di permukaan bumi merupakan air asin, dan hanya 2,5%-nya air tawar yang dapat dikonsumsi manusia. Karena itu, untuk memahami peranan pentingnya bagi kita dan makhluk hidup lain, kita perlu paham bagaimana struktur sungai dan fungsi mereka. Peran sungai pun melekat kuat di sejarah kita, serta menjadi warisan alam yang penting untuk masa depan kita dan generasi mendatang.

Hilir Sungai Citarum yang penuh sampah sangat berbeda dengan daerah hulunya, yang ada di pegunungan dan bersumber langsung dari mata air Gunung Wayang. (Sumber: Adhi Wicaksono/REPUBLIKA)

Generasi Hijau, yuk lihat beberapa peranan penting sungai bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya yang jarang kita sadari.

Sungai yang sehat menjadi sumber air bersih utama

Jika seluruh air di dunia diibaratkan ada di satu galon, sebenarnya hanya satu sendok makan air bersih yang dapat kita konsumsi. Ekosistem sungai yang sehat berdampak secara langsung pada air yang kita konsumsi. Hutan di sekeliling sungai berperan sebagai filter, terus menerus menyaring air sungai sehingga tidak perlu energi maksimal untuk memfiltrasinya menjadi air minum.

Sungai melindungi daerah dari banjir

Mungkin akan berbeda arus aliran sungai di kota dan di pegunungan, namun idealnya, sungai dengan daya tampung yang baik dan ekosistem yang sehat tidak akan meluap. Sebaliknya, ekosistem sungai yang sehat akan menyuburkan tanaman di sekelilingnya, sehingga mengundang ikan dan hewan lain untuk hidup di sekitar sungai.

Sungai sebagai rumah biodiversitas urban

Sekumpulan angsa berenang di Sale Water Park, Britania Raya. (Sumber: Chris Curry/Unsplash)

Menurut penelitian yang dilakukan Endah Sulistyawati dan Dasapta Irawan dari Institut Teknologi Bandung, terdapat 335 spesies hewan dan tumbuhan yang ditemukan di bantaran Sungai Cikapundung, Bandung. Seperti ditulis di The Conversation, indeks diversitas dan kekayaan spesies umumnya tinggi di bagian hulu dan rendah di bagian hilir. Hal ini menunjukkan, bahwa bantaran sungai merupakan tempat yang tepat untuk banyak organisme berkembang dan tumbuh.

Higienitas sungai berpengaruh pada air tanah dan sumur

Melalui penelitian yang berbeda, Irawan mengungkapkan bahwa beberapa warga di Cihampelas pada Juli-Agustus 2018, bila dibandingkan dengan era 1980-an, lebih dari separuh sumur milik warga (dari kurang lebih 50 kepala keluarga) kini telah ditutup oleh pemiliknya. Alasannya, mereka merasa tidak aman mengkonsumsinya, bahkan untuk mandi dan mencuci. Mereka beralih ke air yang dipasok oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung yang tidak mengalir secara penuh dalam sehari.

Dulunya penuh sampah, kini Sungai Water Gong di Klaten sukses direhabilitasi dan penuh ikan yang sehat. (Sumber: Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA Foto)

Hal ini disebabkan air Sungai CIkapundung yang telah tercemar dengan sumber polutan tidak hanya dari industri, tapi juga dari rumah tangga (domestik). Kedua sumber polutan itu merupakan dampak dari aktivitas manusia. Penurunan kualitas air sungai ini juga berdampak langsung pada penurunan kualitas air tanah.

Kini, sungai yang memenuhi fungsinya sebagai ekosistem dan habitat makhluk hidup selain manusia agaknya hanya kita temui di pegunungan dekat sumber airnya langsung. Makin mendekati hilir dan melewati pemukiman manusia, aliran sungai makin terkontaminasi. Sampah dan produk berbahaya lainnya turut terbawa hingga ke laut. Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Generasi Hijau, kita juga perlu turut mendukung ketersediaan dan kebersihan air tanah serta air sungai. Jika kamu kini tinggal di perkotaan, kamu juga dapat menghemat air dengan langkah-langkah kecil seperti mematikan kran, menampung air hujan untuk mencuci kendaraan atau menyiram tanaman, atau jika kamu menggunakan AC (air conditioner), kamu dapat menampung air buangan AC untuk mengepel lantai. Selamat, kamu sudah mempraktikkan langsung konsumsi dan produksi berkelanjutan!

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

American Rivers. (n.d.). Why Do We Need Wild Rivers. Retrieved from American Rivers: Rivers Connect Us: https://www.americanrivers.org/

threats-solutions/protecting-rivers/the-value-of-wild-river/

Irawan, D. E. (2018, November 26). Bantaran Cikapundung: debit air sungai besar, kualitas air sumur buruk, mengapa? Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/bantaran-cikapundung-debit-air-sungai-besar-kualitas-air-sumur-buruk-mengapa-106416

McCabe, D. J. (2011) Rivers and Streams: Life in Flowing Water. Nature Education Knowledge 3(10):19

Naroju, S. (n.d.). What Are The Uses Of Rivers? Retrieved from Riddle Life: https://www.riddlelife.com/what-are-the-uses-of-rivers/

Sulistyawati, E., & Irawan, D. E. (2019, April 30). Menelusuri biodiversitas urban di Cikapundung, apa saja temuannya? . Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/

menelusuri-biodiversitas-urban-di-cikapundung-apa-saja-temuannya-113747

Westcountry Rivers Trust. (n.d.). River Form and Function. Retrieved from Westcountry Rivers Trust: https://wrt.org.uk/river-form-function/

WWF. (n.d.). Why Are Rivers So Important? Retrieved from WWF UK: https://www.wwf.org.uk/

updates/why-are-rivers-so-important-and-what-are-we-doing-protect-them

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Krisis Iklim Meningkatkan Risiko Bencana Alam di Seluruh Dunia

Krisis Iklim Meningkatkan Risiko Bencana Alam di Seluruh Dunia

Satu bulan melewati pertengahan tahun 2021, sudah ada beragam peristiwa alam ekstrem terjadi di berbagai negara. Diawali dengan gelombang panas di Kanada dan Amerika Utara diikuti dengan kebakaran hutan di Oregon, Amerika Serikat, banjir besar di Jerman dan Belgia, banjir menyusul Tiongkok dan longsor di India.

Sebagai warga negara Asia Tenggara yang beriklim tropis, kita terbiasa dengan musim kemarau dan curah hujan tinggi di musimnya masing-masing. Kini bahkan bukan hanya warga Jakarta yang harus bersiap-siap ketika musim hujan karena takut banjir melanda; hampir seluruh wilayah Indonesia diberitakan dilanda banjir di curah hujan tinggi. Generasi Hijau mungkin berpikir, sudah wajar negara tropis kena banjir, andai infrastruktur kita sudah lebih baik dan bisa menghalau banjir, seperti di Eropa, ya.

Lalu dunia dikejutkan dengan berita banjir besar di Jerman Barat dan sebagian Belgia, beberapa waktu lalu. Di Eropa, di mana orang mengira negara maju tidak terdampak langsung oleh krisis iklim. Selama ini, negara belahan bumi selatan telah merasakan langsung konsekuensi dari perbuatan manusia yang terus mendulang sumber daya bumi tanpa memberi waktu bagi alam beregenerasi; hingga warga negara belahan bumi utara menyangka mereka tidak akan terdampak langsung. Nyatanya, seluruh warga dunia kemungkinan besar akan mengalami konsekuensi krisis iklim ini - alam tidak akan mempertimbangkan negara atau ras manapun.

Bencana sudah lama ada namun krisis iklim membuatnya makin parah

Tampak atas banjir di Schuld, Jerman. (16/07) (Sumber: Martin Schlicht/Reuters)

Secara kasat mata, kita mungkin bisa katakan bahwa bencana alam sudah lama terjadi dan bukan hal baru lagi. Bencana ini menunjukkan proses bumi menua dan bergerak tiap saat. Namun sejak abad ke-21, ditemukan banyak bukti bahwa perbuatan manusia mengeruk sumber daya alam mulai terlihat konsekuensinya.

Tahun 2020 menjadi tahun terpanas bagi planet bumi. Tahun 2020, bumi melihat kenaikan suhu hingga 1,2 derajat Celcius secara keseluruhan. Kenaikan temperatur bumi akan meningkatkan kelembaban di atmosfer. Atmosfer yang makin lembab akan menampung lebih banyak air, sehingga debit air hujan meninggi. Kenaikan temperatur barang 1 derajat Celcius saja dapat meningkatkan intensitas debit air hujan hingga 7 persen. Kini, bumi telah mengalami kenaikan suhu hingga dua kali lebih cepat dibanding 100 tahun lalu.

Warga Portland berkumpul di convention center untuk menyejukkan diri. (Sumber: Kathryn Elsesser/AFP)

Kutub utara dan selatan bumi mengalami kenaikan suhu dua hingga tiga kali lebih cepat dibanding di daerah ekuator. Menurut ahli krisis iklim dari Newcastle University Hayley Fowler, seperti dilansir dari Vox, hal ini dapat melemahkan Arus Teluk yang menjaga udara Eropa tetap dingin. Arus Teluk ini berada di tengah garis lintang di atas Eropa Barat Laut. Di musim panas dan gugur, arus udara yang melemah ini dapat menyebabkan pelannya arus aliran badai. Hal ini meningkatkan kemungkinan intensitas hujan dan badai yang cukup tinggi di dataran Eropa.

Selain banjir dan curah hujan tinggi, krisis iklim mendorong terjadinya gelombang panas di Kanada dan AS bagian Utara. Menurut para ahli, secara alami, gelombang panas ekstrem seperti ini hanya mungkin terjadi dalam waktu satu banding seribu tahun. Namun krisis iklim berkepanjangan akan meningkatkan kemungkinan ini hingga 150 kali.

Sebelumnya, suhu tertinggi di Kanada mencapai 45 derajat Celcius. Sementara di rekor terbaru, British Columbia sebagai provinsi di Kanada yang terdampak gelombang panas ini suhunya mencapai 49,5 derajat. Tingginya suhu ini juga memicu kebakaran hutan di Oregon dan sepanjang garis pantai di bagian barat Amerika Utara.

Apa yang terjadi bila bumi semakin panas?

Jika suhu bumi naik dua derajat saja, gletser di gunung es akan mencair. Es yang mencair tentunya akan meningkatkan debit air di laut hingga satu meter, dan meningkatkan kemungkinan banjir besar di daerah pesisir. Negara kepulauan seperti Indonesia, Maldives, dan negara-negara Oceania mungkin akan tenggelam.

Kita mungkin akan menyaksikan banyak korban tewas karena panas ekstrem seperti di gelombang panas Kanada. Bukan hanya manusia; sepertiga kehidupan di bumi terancam punah. Pertumbuhan tanaman akan melambat sebelum akhirnya terhenti. Lumbung pangan dunia akan makin minim dan dalam jangka waktu 85 tahun, sepertiga bumi akan kesulitan air bersih.

Gletser mulai meleleh di belahan bumi utara. (Sumber: Carl & Ann Purcell/Corbis)

Jika suhu bumi naik dua hingga tiga derajat, 40 persen hutan hujan Amazon akan hancur karena tanah yang panas dapat mengeluarkan lebih banyak karbon, sehingga tidak cocok lagi untuk tumbuhan dan vegetasi alami. Selain itu, Asia, Australia, dan AS bagian tenggara akan mengalami badai lebih banyak dibanding sebelumnya. Belanda yang merupakan daratan di bawah permukaan laut, akan sangat mungkin tenggelam akibat debit air Laut Utara yang bertambah. Air laut akan bercampur dengan air tawar, hingga merusak persediaan pangan.

Jika suhu bumi naik tiga hingga empat derajat, jutaan orang akan eksodus dari daerah pesisir dan pindah ke dataran tinggi. Beberapa kota akan tenggelam atau berubah menjadi pulau. Musim panas akan lebih panjang, kebakaran hutan akan lebih sering terjadi karena tingginya suhu bumi. Tingginya suhu bumi di luar ruangan akan meningkatkan penggunaan pendingin ruangan, yang ironisnya akan menambah emisi gas ke atmosfer dan berperan memperparah krisis iklim.

Alam hanya bekerja sesuai dengan apa yang manusia berikan. Kita tidak bisa menyalahkan alam, karena dampak yang kita terima juga merupakan konsekuensi dari eksploitasi berlebih yang telah bertahun-tahun dilakukan. Generasi Hijau, jangan lelah ya untuk terus mendorong pemangku kebijakan membuat regulasi konkret dan mempraktikkan produksi dan konsumsi berkelanjutan untuk menanggulangi krisis iklim. Sebagai individu, kita juga dapat membantu dengan langkah kecil dari rumah.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Arvin, J. (2021, July 16). How climate change fueled the devastating floods in Germany and northwest Europe. Retrieved from Vox: https://www.vox.com/22577431/germany-flooding-europe-climate-change

 

BBC News. (2021, June 30). Canada weather: Dozens dead as heatwave shatters records. Retrieved from BBC News: https://www.bbc.com/news/world-us-canada-57654133

 

Masters, J., & Henson, B. (2021, July 21). Central Europe staggers toward recovery from catastrophic flooding: more than 200 killed . Retrieved from Yale Climate Connections: https://yaleclimateconnections.org/2021/07/central-europe-staggers-toward-recovery-from-catastrophic-flooding-more-than-200-killed/

 

McGrath, M. (2021, July 8). Climate change: US-Canada heatwave ‘virtually impossible’ without warming. Retrieved from BBC News: https://www.bbc.com/news/science-environment-57751918

 

Milman, O. (2021, January 14). 2020 was hottest year on record by narrow margin, Nasa says. Retrieved from The Guardian: https://www.theguardian.com/environment/2021/jan/14/2020-hottest-year-on-record-nasa

 

Sky News. (2018, October 8). What Will Happen As The World Gets Warmer? Retrieved from Sky News: https://news.sky.com/story/what-will-happen-as-the-world-gets-warmer-10336299

 

Watts, J. (2021, July 16). What is causing the floods in Europe? . Retrieved from The Guardian: https://www.theguardian.com/environment/2021/jul/16/what-is-causing-floods-europe-climate-change

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Pertanian Organik, Alami, dan Permakultur: Apa Bedanya?

Pertanian Organik, Alami, dan Permakultur: Apa Bedanya?

Generasi Hijau pasti kini sering mendengar istilah ‘pertanian organik’. Sayur dan buah organik, bahan pangan organik, bahkan produk susu organik. Namun tahukah kamu, bahwa pertanian organik dan alami merupakan dua hal berbeda?

Jika kamu pernah ke hutan, kamu mungkin lihat ada murbei liar, jamur, ciplukan, atau tunas bambu liar yang biasa disebut rebung. Tumbuh-tumbuhan ini menghasilkan banyak buah tiap tahunnya, baik bagi mamalia liar di hutan, burung, serangga, atau manusia yang masih bergantung pada hutan. Mereka tumbuh subur di hutan, meski tidak ada yang memberi pupuk atau mengamankannya dari hama.

Alam yang merawat mereka. Itulah pertanian alami, sistem di mana hukum alam bergerak sendiri mengikuti praktik agrikultur. Alam menyesuaikan caranya masing-masing dengan keragaman hutan di wilayah tersebut, dan mendorong keanekaragaman hayati di lingkungannya. Tanaman produktif ini turut membentuk ekosistem dengan beragam spesies hewan, yang sama-sama berkembang dengan kecepatannya masing-masing.

Beri liar yang tumbuh di hutan. (Sumber: Andie Kolbeck/Unsplash)

Sementara pertanian organik diinisiasi manusia. Pertanian organik masih membutuhkan praktik agraria dasar seperti menyiapkan media tanam (bisa dengan tanah dalam pot atau perlu pembajakan lahan), pengolahan tanah, mencampurkan pupuk, dan menyiangi rumput liar. Pertanian alami tidak perlu campur tangan manusia. Meski begitu, keduanya mengedepankan penggunaan benih lokal/heirloom, serta tidak menggunakan pestisida kimia.

Kamu juga mungkin pernah dengar pertanian hidroponik dan akuaponik. Hidroponik ialah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Media tanamnya dapat berupa rockwool, spons, sabut, atau arang sekam. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah.

Sementara akuaponik ialah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan pemeliharaan ikan atau akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Sisa ekskresi ikan dipecah menjadi nutrisi tanaman.

Pertanian organik juga sebetulnya berbeda dengan hidroponik. Pertanian organik lebih mengedepankan upaya pemanfaatan bahan-bahan organik di sekitar dan upaya menyuburkan tanah, sementara hidroponik dalam praktiknya tidak menggunakan tanah sama sekali. Hidroponik menggunakan nutrisi cair dan berbagai media tanam. Nutrisi yang digunakan pada umumnya adalah nutrisi kimia yang bernama AB Mix. Namun, pupuk organik cair juga memungkinkan bagi nutrisi hidroponik, meski jarang ditemui.

Serba-serbi Permakultur

Selain istilah pertanian seperti organik, hidroponik, dan akuaponik, pernahkah kamu dengar tentang permakultur? Permakultur berasal dari bahasa Inggris permaculture, yang merupakan gabungan dari permanent agriculture. Sesuai dengan namanya, permakultur berkaitan dengan tatanan kehidupan yang lestari, terus menerus, dan permanen. Maka dari itu, permakultur memegang erat prinsip keseimbangan dan berkelanjutan.

Permakultur adalah cabang ilmu desain dan teknik ekologis yang mengembangkan pengolahan lahan, arsitektur berkelanjutan, dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. Permakultur memiliki konsep yang serupa dengan konsep pertanian terpadu dan pertanian organik, namun permakultur memberi penekanan pada desain, perencanaan pertanian dan integrasinya dengan implementasi berupa praktek pertanian.

Permakultur memahami dan mengadaptasi desain praktis dari tanah, air dan tanaman yang berkelanjutan bersama dengan sistem hukum dan ekonomi. Hal ini dapat meningkatkan diversifikasi pangan serta meningkatkan ketahanan lingkungan pada iklim yang berubah-ubah.

Pada praktiknya, permakultur sangat menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Untuk merehabilitasi tanah yang awalnya tidak produktif, sistem permakultur tidak menggali tanah, melainkan menyemai bibit dan menutupnya dengan tanah baru. Air untuk mengairi tumbuhan berasal dari air hujan yang ditampung. Pupuk tanaman berasal dari kompos rumah tangga atau kotoran ternak, namun tentu saja pengolahannya berbeda. Ekskresi dari pengolahan pupuk kandang akan menghasilkan gas metan yang juga ditampung, berguna untuk menyalakan kompor. Sistem pertanian permakultur memastikan bahwa tidak ada yang sia-sia, dan semua mendapat kesempatan hidup kedua.

Permakultur merupakan pertanian organik, namun pertanian organik belum tentu permakultur. Pertanian alami juga bukan permakultur, karena teknik permakultur butuh penanganan manusia dan perlu dimonitor sewaktu-waktu. Nah, kini Generasi Hijau sudah tahu bedanya, bukan?

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Barabde, N. (n.d.). What is Natural Farming? How is it Different from Organic Farming? Retrieved from Ugaoo: https://www.ugaoo.com/knowledge-center/what-is-natural-farming-how-is-it-different-from-organic-farming/ Chelsea Green Publishing. (n.d.). How to Distinguish Permaculture from Natural Farming. Retrieved from Chelsea Green: https://www.chelseagreen.com/2015/distinguish-permaculture-natural-farming/ Onggodjojo, F. E. (2021, January 27). Mengenal Permakultur, Sistem Pertanian yang Berkelanjutan. Retrieved from Wanaswara: https://wanaswara.com/mengenal-permakultur-sistem-pertanian-yang-berkelanjutan/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Mengontrol Laju Pertumbuhan Penduduk Dapat Dilakukan Bersamaan dengan Peningkatan Kualitas Hidup

Mengontrol Laju Pertumbuhan Penduduk Dapat Dilakukan Bersamaan dengan Peningkatan Kualitas Hidup

Di tahun kedua pandemi Covid-19, Indonesia menyaksikan tingkat kematian yang cukup tinggi dibanding tahun 2020. Meski angkanya lebih tinggi, persentasenya menurun. Namun kita masih belum melihat berita baik mengenai hal ini. Jika angka kasus positif dan angka kematian menurun bersamaan, baru kita bisa bernafas lega, karena artinya pandemi sudah terkendali.

Bagaimana maksudnya persentase menurun? Misalnya, dari kasus positif 1000 orang, terdapat 10 kematian, artinya persentase kematian mencapai 1%. Jika kasus positif 400.000 orang dan terdapat 1000 kematian, persentasenya hanya 0,25%. Persentasenya turun, namun lebih banyak lagi orang yang meninggal dan terjangkit Covid-19.

Tanggal 11 Juli, PBB menetapkan Hari Populasi Sedunia untuk mengangkat pentingnya isu populasi masyarakat dunia. Kita telah menyaksikan beberapa teman, atau bahkan kita sendiri, kehilangan orang terdekat sejak pandemi melanda. Hari Populasi Sedunia dapat menjadi momen yang tepat untuk berefleksi kembali tentang bagaimana kita bisa menjaga bumi, agar kita dapat mewariskan bumi yang lestari dan bebas pandemi pada anak cucu kita kelak.

(Sumber: Gabriella Clare Marino/Unsplash)

SDGs dan hubungannya dengan populasi dunia

Isu populasi masyarakat berhubungan erat dengan tiap poin SDGs -Sustainable Development Goals atau 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diinisiasi PBB. Seluruh poin SDGs bertujuan untuk membangun masa depan yang harmonis dan berkelanjutan bagi tiap warga dunia, yang mana artinya manusia perlu membangun hubungan yang selaras dengan alam dan manusia lainnya.

Di SDGs pertama, PBB menyasar tujuan untuk menghapus kemiskinan. Bank Dunia memperkirakan bahwa warga yang hidup di bawah garis kemiskinan kemungkinan tidak akan menurun di tahun 2021 karena pertumbuhan populasi masih melebihi pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Warga yang tinggal di pemukiman kumuh umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menentukan hubungan pengeluaran bulanan dan jumlah anak. Memastikan tiap warga dunia teredukasi untuk menyesuaikan jumlah anak dan pengeluaran bulanan mereka ialah salah satu kunci untuk menghapus kemiskinan.

SDGs kedua menyasar pada penghapusan angka kelaparan. Memastikan tiap warga dunia tidur dengan perut kenyang dan di saat yang sama tidak memberikan dampak negatif pada lingkungan, akan makin sulit di tahun-tahun selanjutnya ketika pertumbuhan populasi terus naik. Kemungkinan besar, nantinya manusia akan berebut lahan dengan pertanian untuk memenuhi persediaan makanan.

Seluruh isu kesehatan dalam SDGs diintegrasikan dalam satu tujuan yakni di tujuan nomor tiga, yaitu menjamin kehidupan sehat dan sejahtera. Kesulitan akses kesehatan reproduksi, termasuk pada kontrasepsi modern dan aborsi sehat kerap mengarah pada tingginya tingkat kehamilan tak direncanakan (KTD) dan kematian ibu. Negara dapat mendukung SDGs ini dengan menyediakan akses kesehatan yang inklusif bagi tiap orang, dengan begitu akan meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata ialah kunci untuk pengentasan kemiskinan dan meminimalisasi ledakan penduduk. Hal ini juga dibahas dalam SDGs keempat, yaitu pendidikan berkualitas. Secara umum, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi berdampak langsung pada pilihan untuk memiliki keturunan.

Memberdayakan perempuan dan anak untuk berdaulat dengan hidupnya sendiri menjadi hal krusial untuk menyelesaikan krisis iklim dan sosial yang kita hadapi sekarang. Dalam SDGs nomor lima: kesetaraan gender, kita juga dapat mengangkat isu pernikahan anak untuk memperlambat peningkatan jumlah penduduk.

Kombinasi buruk dari pertumbuhan populasi dan perubahan iklim ialah minimnya akses pada air bersih dan sanitasi, seperti yang diangkat di SDGs nomor enam. Jumlah manusia bertambah, namun air bersih semakin berkurang. Para ahli memperkirakan di tahun 2050, sekitar 5 miliar orang -hampir setengah penduduk dunia- akan tinggal di daerah krisis air bersih.

Lambatnya perkembangan energi bersih masih membuat kita bergantung pada energi fosil. Negara maju dapat membantu negara berpendapatan rendah untuk memimpin transisi energi bersih ini, seperti yang diproyeksikan PBB melalui SDGs nomor tujuh: energi bersih dan terjangkau.

SDGs nomor delapan menyorot pada pekerjaan layak dan perkembangan ekonomi. Tiap masyarakat dunia dapat berkontribusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan layak dan perkembangan ekonomi, bukan hanya memikirkan pertumbuhan ekonominya saja.

Industri, inovasi, dan infrastruktur di poin sembilan agaknya akan sedikit bertabrakan dengan poin SDGs yang lain ketika negara punya banyak kepala yang butuh tempat tinggal. Makin besar populasinya, makin sulit untuk memberi akses ke infrastruktur modern bagi semua orang, dan dalam prosesnya kemungkinan akan makin luas lingkungan yang dikorbankan.

Kesenjangan ekonomi terbentang luas antara si kaya dan si miskin, dan pandemi menjadikannya lebih terlihat jelas. Di poin SDGs nomor 10 tentang berkurangnya kesenjangan, populasi dunia yang terkendali berarti akses dan distribusi pada kebutuhan dasar masyarakat akan lebih mudah.

Warga Jakarta menyeberang jalan lengkap dengan maskernya. (Sumber: Edna Tarigan/AP)

Saat ini, hampir setengah populasi dunia tinggal di area urban. Diperkirakan di tahun 2050, angka ini akan bertambah hingga 68%. Di SDGs nomor 11 kota dan komunitas berkelanjutan berhubungan dengan akses warga ke infrastruktur layak. Laju pertumbuhan penduduk yang terkendali berarti negara juga dapat memastikan tiap warganya memiliki akses yang sama ke infrastruktur seperti air bersih, sanitasi, fasilitas kesehatan, pekerjaan layak dan pendidikan berkualitas.

Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab mengenai makanan dan barang harus berkorelasi dengan usaha mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Di SDGs nomor 12, PBB mengajak kita untuk menggunakan sumber daya dengan sadar demi memenuhi kebutuhan tiap manusia di dunia.

Pola konsumsi yang tidak berkelanjutan di negara dengan pendapatan tinggi menjadi alasan utama krisis iklim. SDGs ke-13 mengajak tiap warga dunia untuk mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

Polusi bawah air dari plastik maupun emisi karbon, overfishing, coral bleaching dan hancurnya ekosistem pesisir kebanyakan didukung oleh meningkatnya populasi. SDGs nomor 14 tentang kehidupan bawah air mengajak kita untuk mengatasi kehilangan jumlah hewan laut dengan cara berkomitmen mengurangi perkembangan populasi manusia.

Meningkatnya populasi manusia menjadi sebab utama hilangnya keanekaragaman hayati. Menurut WWF, kita telah kehilangan 60% dari populasi alam liar sejak tahun 1970. Sejak saat itu, populasi manusia justru meningkat pesat. Untuk mewujudkan SDGs nomor 15 tentang menjaga ekosistem darat secara efektif dalam jangka panjang, usaha konservasi harus menggabungkan solusi untuk populasi manusia pula.

Ilustrasi populasi negara di dunia. (Sumber: Anil Yanik)

Pertumbuhan populasi kerap berkontribusi pada konflik yang berhubungan dengan kesulitan mendapatkan sumber daya dan bahan pangan. Hal ini juga berhubungan karena absennya institusi publik yang kuat. SDGs nomor 16 tentang kedamaian, keadilan dan kelembagaan yang kuat, kita dapat mewujudkan fondasi masyarakat yang stabil. Dengan demikian, kedamaian di ekosistem masyarakat kita dapat lebih mudah dicapai.

Dari seluruh poin SDGs, tujuan ini akan lebih mudah diraih jika tiap institusi dan negara memiliki kemitraan yang kuat untuk mewujudkan bumi yang lebih baik. Semuanya dirangkum dalam SDGs nomor 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Tiap poin SDGs ini perlu dilakukan bersama untuk memastikannya tercapai. Namun untuk saat ini karena kita masih di masa pandemi, jika masih sulit untuk memanifestasikan tiap poin dalam langkah-langkah individu kecil, Generasi Hijau dapat terus mendukung penurunan angka positif Covid-19 dengan tetap berada di rumah. Kita bisa turut menjaga diri sendiri dan orang lain. Selain itu, jangan lupa untuk terus perhatikan kondisi psikismu. Yuk, ajak juga orang sekitar untuk vaksinasi!

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

United Nations. (n.d.). Population and the Sustainable Development Goals. Retrieved from Population Matters: https://populationmatters.org/sdgs United Nations. (n.d.). World Population Day Background. Retrieved from United Nations: https://www.un.org/en/observances/world-population-day/background

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Klon, Cara Manusia Menjual Hasil Bumi

Klon, Cara Manusia Menjual Hasil Bumi

Buah yang kamu lihat di pasar atau supermarket itu kebanyakan hasil klon. Bahkan, beberapanya hasil mutan. Hal ini terdengar seram karena kloning tidak umum dilakukan mamalia. Padahal, kloning sudah dilakukan bertahun-tahun secara natural oleh serangga, amfibi, cacing, dan, ya, tumbuhan.

Dilihat dari asal katanya saja, kloning diperkirakan telah berlangsung selama jutaan tahun. Klon berasal dari bahasa Yunani, κλών klōn yang bermakna "cabang" atau "ranting", merujuk pada penggunaan pertama dalam bidang hortikultura sebagai bahan tanam dalam reproduksi vegetatif. Kloning juga yang membuat bumi terisi benda hidup selama ratusan juta tahun.

Kita makan buah yang sama seperti yang ada 150 tahun lalu

Sejatinya, buah yang kini ada di pasaran semua merupakan hasil kloning dari rekayasa genetik yang dilakukan ratusan tahun lalu. Tahun 1868, Maria Ann Smith menemukan tunas pohon apel tumbuh di pekarangan rumahnya. Pohon itu lalu berbuah apel dengan kulit hijau terang dan rasanya manis-asam. Smith suka sekali apel itu, ia mengembangbiakkan pohon itu dengan teknik stek dari batang pohon pertama.

Kloning pada tumbuhan berarti susunan genetiknya sama persis dengan si tanaman pertama. Jika misalnya Generasi Hijau menanam biji dari jeruk yang kamu suka, ketika berbuah nanti kamu mungkin akan kecewa karena rasanya berbeda dengan rasa jeruk pertama yang kamu ingat. Sejak berabad-abad lalu, manusia menemukan bahwa untuk menghasilkan varietas buah yang sama, tanaman baru perlu dikembangbiakkan dari tumbuhan asalnya. Caranya bisa dengan stek batang, cangkok atau okulasi dari tumbuhan pertama, dan ini bisa disebut kloning.

Apel dengan varietas yang sama memiliki susunan genetik yang sama pula. (Sumber: Scott Evans/Unsplash)

Salah satu contoh kloning tumbuhan paling ekstrem ialah pisang Cavendish. Walaupun merupakan tanaman lokal Asia Tenggara, Cavendish dibudidayakan seorang bangsawan Inggris, William Cavendish. Jika Generasi Hijau lebih sering makan pisang Cavendish dibanding pisang ambon atau barangan, kemungkinan besar kamu hanya pernah mencicipi buah dari satu tumbuhan pisang yang sama, meski ada ribuan varietas pisang di bumi. Kini, sekitar 55 juta ton pisang Cavendish tumbuh di seluruh dunia.

Umumnya, tumbuhan membuat klon untuk bereproduksi secara aseksual. Pisang一seluruhnya, bukan hanya Cavendish一menghasilkan ‘anak’ tumbuhannya di bagian bawah batang. Batang anggur menjalar yang ada di tanah atau terkubur dapat tumbuh jadi tanaman baru. Pohon aspen di Taman Nasional Fishlake, Utah, Amerika Serikat, merupakan satu organisme masif yang tumbuh dari jaringan akar bawah tanah. Jadi, hasil kloning di dunia tumbuhan bukan hal aneh lagi.

Limitasi varietas tumbuhan karena kloning

Kloning tumbuhan memastikan bahwa kita mendapat hasil buah yang sama seperti yang kita tanam pertama. Selain itu, toleransi terhadap penyakit dan perkembangannya juga sama persis dengan tumbuhan pertama. Itulah alasan tiap buah yang kamu beli di pasar itu rasanya sama, karena mereka merupakan kloning dari satu tumbuhan.

Kloning memang memberi kita buah yang sama persis dan berkualitas tinggi, namun hal ini juga membatasi diversitas tumbuhan. Diversifikasi pangan dan tumbuhan di tempat asalnya mungkin ada banyak, namun untuk menjadikannya komersil dan masif butuh proses yang lama, khususnya untuk tanaman tahunan. Untuk mengkomersilkan tanaman, akan lebih efisien jika beberapa gen tanaman dipindahkan untuk menjadikan daya tahannya lebih tinggi, contohnya mengenai resistensinya pada penyakit.

Umumnya, ada tiga macam benih: benih lokal (heirloom), benih hibrida, dan benih GMO (genetically-modified organism).

Petani umbi porang memanen umbi yang sering digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. (Sumber: Grafis GoSulsel/Unsplash)

Saat ini, yang umum beredar di Indonesia ialah benih hibrida dan GMO. Kini benih lokal sudah sulit dicari. Sehingga di penanaman selanjutnya, petani terpaksa harus beli ke perusahaan benih yang memproduksi benih hibrida. Padahal sebelumnya mereka mandiri mengembangkan benih lokal unggulan masing-masing.

Benih GMO ini sangat rentan dengan perubahan iklim di lokasi berbeda, karena tidak disiapkan untuk beradaptasi di tiap kondisi lingkungan. Hal ini membuat petani harus tergantung dengan pestisida dan pupuk kimia, sehingga berdampak buruk pada lahannya.

Jika Generasi Hijau memiliki akses untuk belanja ke petani lokal, kamu dapat memilih untuk mengonsumsi hasil bumi yang tumbuh di sekitar tempat tinggalmu. Mungkin tampilannya akan sedikit berbeda dengan yang dijual di supermarket, namun produk alami tidak perlu selalu terlihat cantik dan sempurna. Dengan memberdayakan petani lokal, kamu juga menerapkan konsumsi dan produksi yang berkelanjutan karena memastikan hasil tani di sekitar rumah dikonsumsi dengan bertanggung jawab.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Bajer, D. (2017, June 9). A Good Portion of What You Eat is Cloned. Retrieved from Eating Clones: Dustin Bajer: https://www.dustinbajer.com/cultivars/

de Rosary, E. (2017, March 18). NGO: Benih Modifikasi Genetik Tidak Akan Menyejahterakan Petani. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2017/03/18/ngo-benih-modifikasi-genetik-tidak-akan-menyejahterakan-petani/

Leatherdale, D. (2016, January 24). The imminent death of the Cavendish banana and why it affects us all. Retrieved from BBC News UK: https://www.bbc.com/news/uk-england-35131751

Savage, S. (2013, April 29). Is it OK to eat Cloned Fruit? Retrieved from Biofortified Blog: https://biofortified.org/2013/04/is-it-ok-to-eat-cloned-fruit/#llc_comments

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest