Author Archives: Tech Greeneration

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat
Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat (Sumber: ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)

Banjir di Sintang Kalimantan Barat yang terjadi sejak awal November 2021 belum kunjung surut setelah lebih dari tiga pekan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang mencatat bahwa setidaknya terdapat 124.497 warga terdampak oleh banjir ini dan 25.884 di antaranya terpaksa harus mengungsi. Bencana banjir yang terjadi di Sintang saat ini merupakan salah satu potret nyata dari krisis iklim. Bencana banjir ini disebabkan oleh meningkatnya intensitas curah hujan akibat cuaca ekstrem dan berkurangnya daerah resapan air akibat deforestasi.

Deforestasi adalah aktivitas penebangan atau penggundulan hutan agar lahan hutan dapat dialihfungsikan untuk penggunaan lain di sektor non-kehutanan. Sejak 2010 hingga 2020, rata-rata net penyusutan hutan di dunia mencapai 4.7 juta hektar per tahun. Namun, angka laju deforestasi secara global justru lebih tinggi, yakni mencapai 10 juta hektar per tahun. Rata-rata net penyusutan hutan ini diukur dari jumlah deforestasi dan tambahan hutan yang tumbuh dalam suatu periode. Penyebab dari deforestasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti alih fungsi lahan untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan pertambangan. Komoditi yang dominan menyebabkan deforestasi secara global di antaranya adalah: daging sapi (41%), kedelai dan sawit (10%), dan produk kayu (5%).

Dampak Buruk Deforestasi

Hutan berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim karena memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dari proses fotosintesis. Namun, ketika ditebang atau dibakar, hutan justru akan mengeluarkan karbon yang tersimpan ke atmosfer. Setiap tahun, sekitar 5.2 miliar ton karbondioksida mencemari atmosfer karena deforestasi. Angka ini setara dengan 10% emisi gas rumah kaca global yang terhitung sejak 2009 hingga 2016.

Hilangnya fungsi hutan akibat deforestasi tentunya akan berdampak buruk terhadap keseimbangan ekosistem. Keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam hutan akan terancam punah. Selain itu, deforestasi juga dapat menyebabkan degradasi tanah, kekeringan, longsor, dan banjir sehingga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat seperti yang terjadi di Kabupaten Sintang.

Berbagai Upaya Atasi Deforestasi

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi
Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi (sumber: pexels)

Pada awal November lalu, para pemimpin dunia berkumpul di Glasgow untuk KTT Perubahan Iklim atau COP 26 yang diselenggarakan oleh PBB untuk mendiskusikan aksi dan komitmennya untuk mengatasi krisis iklim. Isu deforestasi pun menjadi salah satu perbincangan penting dalam konferensi tersebut. Lebih dari 100 negara termasuk Indonesia telah sepakat untuk mengakhiri deforestasi di 2030. Negara lain yang menguasai sekitar 85% hutan secara global seperti Brazil, Kanada, Russia, China, Kongo, AS, dan Inggris pun turut menandatangani perjanjian tersebut. Melalui perjanjian ini, dana sekitar 19.2 miliar dollar direncanakan akan dialokasikan untuk merestorasi degradasi hutan, mengatasi kebakaran hutan, dan melindungi masyarakat.

Perjanjian untuk mengakhiri deforestasi di 2030 ini tentu bisa disambut baik, namun pada pelaksanaannya harus tetap dikawal dan diawasi. Pasalnya, perjanjian serupa pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa negara sebelumnya telah sepakat untuk mengurangi separuh deforestasi di 2020 dan mengakhirinya di 2030 melalui The New York Declaration on Forest 2014. Namun, pada kenyataannya angka laju deforestasi justru tetap meningkat.

Selain melalui upaya struktural, masyarakat juga dapat terlibat dalam upaya mengatasi deforestasi melalui aksi individu. Kini, beberapa organisasi lingkungan sudah menyediakan jasa donasi tanam pohon sehingga konsumen bisa langsung terlibat dalam upaya reforestasi secara mudah. Pada 28 November, Indonesia akan menyambut hari menanam pohon. Hari ini juga bisa dijadikan momen bagi masyarakat untuk menanam pohon baik secara mandiri atau melalui organisasi lingkungan.

Implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan pun tentunya berperan penting dalam mengatasi isu deforestasi. Pada acara COP 26, 28 negara bahkan sepakat untuk menolak perdagangan global untuk produk makanan dan pertanian yang terkait dengan deforestasi seperti minyak sawit, kedelai, dan kakao. Dalam tingkat individu, masyarakat dapat mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan menjalankan gaya hidup ramah lingkungan seperti hidup minim sampah, mengurangi penggunaan produk berlebihan, dan teliti dalam memilih merek produk.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://regional.kompas.com/read/2021/11/24/113424378/banjir-di-sintang-kalbar-jadi-yang-terbesar-dan-terlama-sejak-1963 Diakses pada 25 November 2021

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211116084504-20-721696/sebulan-banjir-sintang-25-ribu-orang-mengungsi-listrik-padam Diakses pada 25 November 2021

https://www.forestdigest.com/detail/1445/banjir-sintang Diakses pada 25 November 2021

https://ourworldindata.org/deforestation Diakses pada 25 November 2021

Deforestation can raise local temperatures by up to 4.5℃ – and heat untouched areas 6km away (theconversation.com) Diakses pada 25 November 2021

https://www.bbc.com/news/science-environment-59088498 Diakses pada 25 November 2021

https://theconversation.com/organized-crime-is-a-top-driver-of-global-deforestation-along-with-beef-soy-palm-oil-and-wood-products-170906 Diakses pada 25 November 2021

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi perlengkapan fashion

Potensi Circular Economy pada Industri Tekstil: Gen-Z dan Millennial sebagai Penggerak Sustainable Fashion

Potensi Circular Economy pada Industri Tekstil: Gen-Z dan Millennial sebagai Penggerak Sustainable Fashion

Ilustrasi perlengkapan fashion
Ilustrasi perlengkapan fashion (sumber: pexels)

Sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan menjadi sebuah tren dan salah satu hal yang diperhitungkan konsumen dalam membeli pakaian. Tingginya permintaan akan pakaian yang sustainable didorong oleh tingginya kesadaran akan sustainable fashion pada konsumen terbesar saat ini yaitu Gen-Z dan millennial, mendorong rantai pemasok di industri tekstil dan retailer besar mengambil langkah dan berkomitmen untuk mengubah bisnis model ke arah sustainable.

Fast Fashion di Indonesia

Tren fast fashion yang merebak dipicu oleh perkembangan tren fesyen dan inovasi teknologi dengan kemunculan media sosial dan online shop, serta berkembangnya populasi dunia. Sebagai 10 negara produsen tekstil terbesar dan pengekspor terbesar ke-12 di dunia, Indonesia menyumbang sebanyak 88% limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan atau pembakaran. Besarnya potensi kontribusi industri tekstil secara ekonomi, sosial dan lingkungan menjadikan industri ini unggul dan ideal untuk penerapan circular economy di Indonesia. Dalam circular economy, penggunaan sumber daya, sampah, emisi dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi-konsumsi dengan cara memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, penggunaan kembali, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling).

Jika dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu, rata-rata konsumen di dunia membeli 60 persen pakaian lebih banyak. Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia membuang pakaian yang tidak diinginkan setelah satu kali pemakaian. Siklus ‘hidup’ pakaian yang pendek disertai dengan produksi dan konsumsi pakaian murah berlebihan menyebabkan peningkatan jumlah limbah tekstil secara signifikan dan diprediksi akan memburuk pada tahun 2030 di Indonesia.

Berbicara mengenai limbah tekstil, sekitar 180 ton limbah beracun dibuang ke Sungai Citarum setiap harinya yang berdampak pada tercemarnya air lokal di Jakarta Barat dan menurunnya kesuburan tanah di tahun 2018. Permintaan akan bahan viscose memperparah deforestasi hutan Indonesia. Selain itu, limbah dalam jumlah besar dari industri batik dapat membahayakan hidup manusia dan binatang. Di tahun 2015, produksi tekstil juga menyumbang 10% dari semua emisi gas rumah kaca global dan menghasilkan 1,2 miliar ton CO2e.

Peran Gen-Z dan Millennial dalam Sustainable Fashion

Dominasi Gen-Z dan Millennial dalam dunia fashion didukung oleh kemunculan smartphone dan media sosial. Kemudahan dalam mengakses online shop dan keinginan untuk selalu up-to-date serta terlihat bergaya berdampak besar akan konsumsi berlebih pakaian. Meskipun begitu, berdasarkan survey global di tahun 2018, sebanyak 66% millennial bersedia membeli pakaian lebih banyak untuk merek yang berkelanjutan dan sebanyak 69% memperhatikan klaim branding “eco-friendly” dan “sustainable” saat membeli pakaian. Komitmen Gen-Z dan Millennial untuk membeli pakaian yang berasal dari retailer yang berkomitmen pada sustainability terhambat oleh permintaan akan pakaian berharga murah. Namun, peluang untuk membeli barang yang lebih mahal sangat mungkin terjadi ketika generasi tersebut sudah memiliki penghasilan lebih di masa mendatang. Kesadaran akan peduli lingkungan dan sosial oleh Gen-Z dan Millennial mempengaruhi pelaku industri tekstil dan retailer besar dan brand lokal untuk mengubah model bisnis ke arah sustainable.

Penerapan Reuse dan Recycle dalam Penerapan Ekonomi Sirkular

Pendekatan “reuse” memiliki potensi yang sangat besar dalam penerapan ekonomi sirkular. Berdasarkan survey, sebanyak 20% millennial di Indonesia menjadikan faktor bosan sebagai motivasi utama untuk membuang pakaian mereka. Banyak alternatif yang bisa ditawarkan untuk memperpanjang masa pemakaian produk tekstil antara lain preloved atau menjual kembali pakaian bekas, perbaikan pakaian dan menyewa pakaian. Selain itu, potensi untuk meng-upcycle bahan sisa produksi tekstil ataupun kain batik dapat diubah menjadi berbagai jenis produk pakaian wanita. Potensi “reuse” juga menjadi alasan produsen dan merek untuk mengganti bahan pakaian yang sustainable.

Sementara itu, tingkat recycle atau daur ulang limbah tekstil di Indonesia diperkirakan menjadi 12%, padahal sekitar 20% limbah tekstil dapat didaur ulang. Proses recycle sendiri membutuhkan bantuan bahan kimia serta mesin, berbeda dengan proses reuse. Akan tetapi, proses recycle menggunakan bahan kimia masih terbatas untuk diterapkan di Indonesia saat ini. Bukan hanya keterbatasan, tetapi recycle memiliki resiko menurunkan kualitas bahan yang didaur ulang. Hal tersebut yang membuat beberapa produsen untuk menciptakan jeans dari material yang mudah untuk didaur ulang dan lebih tahan lama.

Respon Industri Tekstil dan Retailer

Tidak hanya brand-brand besar, banyak brand fashion lokal yang juga menerapkan keberlanjutan seperti merek Sejauh Mata Memandang, Sukkha Citha, dan Kana Goods. Penerapan ekonomi sirkular untuk pelaku usaha memiliki potensi profitable dengan mengurangi sebesar 16.4 juta ton emisi CO2 -eq dan 1.2 miliar kubik air. Hal ini dapat menekan biaya produksi para pelaku usaha di sektor industri tekstil.

Penerapan efisiensi sumber daya dan produksi bersih di sebuah industri di Semarang berhasil mengurangi konsumsi air hingga 31.4%, pengurangan air limbah hingga 23.7%, 7.1% pengurangan penggunaan listrik, dan penurunan emisi GRK hingga 9.8%. Strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil tersebut, antara lain dengan manajemen industri secara berkelanjutan, modifikasi produk dan peralatan, dan perubahan teknologi. Selain itu, dapat dilakukan pengurangan limbah pakaian, seperti reuse, repairing, dan recycling pakaian agar tidak dibuang langsung ke TPA.

Referensi

[1] Widyasanti, A. A. (2021). Strategi Mewujudkan Implementasi Ekonomi Sirkular pada Industri Tekstil di Indonesia.

 

[2] Economic, Social, and Environmental Benefits of a Circular Economy in Indonesia (Bappenas , UNDP, & Embassy of Denmark, 2021)

 

[3] HSBC Global Research. 2019

 

[4] Sembiring, Emenda. komunikasi pribadi. 24 Agustus 2021

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca (sumber: Pixels/Pixabay)

Pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan upaya yang perlu kita lakukan untuk mencegah perubahan iklim dan menjaga laju pemanasan bumi tetap berada di bawah 1.5 derajat celcius. Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% melalui usaha sendiri dan 41% melalui bantuan Internasional serta berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060. Untuk mencapai target tersebut, Presiden Joko Widodo baru saja mengesahkan Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon atau yang lebih dikenal dengan istilah carbon pricing.

Nilai Ekonomi Karbon atau carbon pricing secara sederhana dapat diartikan sebagai mekanisme biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak pencemar emisi dan pemberian insentif kepada pihak yang mampu menghemat emisi. Kebijakan carbon pricing di Indonesia menerapkan prinsip polluters-pay-principle. Melalui prinsip ini, setiap pelaku kegiatan atau usaha yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca harus membayar biaya atas dampak pencemaran yang telah dihasilkannya. Kebijakan carbon pricing ini terdiri dari instrumen perdagangan dan non-perdagangan. Instrumen perdagangan karbon terdiri dari perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset). Sementara instrumen non-perdagangan dalam mekanisme carbon pricing terdiri dari pungutan/pajak atas karbon dan pembayaran berbasis hasil.

Apa Itu Perdagangan Karbon?

Perdagangan karbon adalah kegiatan jual beli kredit karbon antara pihak yang mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan dengan pihak yang mampu menyerap atau menghemat karbon. Sistem perdagangan karbon terbagi menjadi dua, yaitu perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset).

Perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dikenal juga dengan skema cap and trade. Pihak yang dapat terlibat pada perdagangan izin emisi ini di antaranya adalah organisasi, perusahaan, dan bahkan negara. Pada awal periode, para pihak yang terlibat dalam perdagangan izin emisi akan diberikan kuota atau batasan jumlah emisi yang boleh dihasilkan. Jika pada akhir periode suatu organisasi/perusahaan/negara memproduksi emisi lebih dari batasan yang sudah ditentukan, maka mereka harus membeli izin emisi dari pihak yang masih memiliki kuota izin emisi. Agar mereka dapat menjual kuota izin emisi yang mereka punya, maka mereka harus melakukan upaya penghematan emisi.

Mekanisme perdagangan karbon yang kedua adalah penyeimbangan karbon (carbon offset) atau yang juga dikenal dengan sistem baseline-and-crediting. Pada mekanisme ini, pembeli membeli kredit karbon dalam bentuk sertifikasi dari pihak yang sudah melakukan upaya penyerapan karbon melalui proyek hijau seperti penanaman pohon. Upaya ini dilakukan oleh pembeli untuk mencapai target net zero emission atau netral karbon.

Pajak Karbon dan Pembayaran Berbasis Hasil

Selain melalui perdagangan karbon, kebijakan lain yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan emisi adalah pemberlakuan pajak karbon dan pembayaran berbasis hasil. DPR RI baru saja mengesahkan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang di dalamnya mengatur tentang pajak karbon. Penerapan pajak karbon ini menggunakan sistem cap and tax, yaitu setiap pihak yang sudah melebihi batas emisi yang ditetapkan akan dikenakan wajib pajak dengan tarif Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen. Pajak karbon ini akan mulai diberlakukan di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara pada 1 April 2022.

Instrumen carbon pricing yang terakhir adalah pembayaran berbasis hasil, yaitu sistem pemberian insentif terhadap pihak yang sudah berhasil melakukan penurunan emisi melalui upaya mitigasi tertentu. Pengukuran keberhasilan ini tentunya sudah disepakati dan diverifikasi oleh Sekretariat UNFCCC atau tim teknis yang sudah ditunjuk oleh UNFCCC.

Bagaimana Kebijakan Carbon Pricing Berperan dalam Mengatasi Perubahan Iklim?

Ilustrasi bibit tanaman
Ilustrasi bibit tanaman (sumber: pexels)

Kebijakan carbon pricing ini memberi beberapa keuntungan bagi upaya pencegahan perubahan iklim seperti mendorong pelaku usaha untuk mengurangi emisi, mendorong terbukanya investasi hijau, dan mengatasi kesulitan dalam membiayai dana perubahan iklim. Dengan kebijakan ini, diharapkan para pelaku usaha dapat menjalankan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Namun kebijakan carbon pricing ini juga tidak lepas dari kritikan. Beberapa organisasi lingkungan menilai kebijakan carbon offset bukan solusi yang tepat untuk atasi perubahan iklim karena hanya akan memberi celah bagi korporasi untuk membenarkan pembabatan hutan dan melakukan konsesi lahan dengan menukarkan emisinya dengan program pengurangan emisi di tempat lain. Kebijakan ini menjadi dinilai bermasalah karena emisi yang akan diserap belum tentu seimbang dengan emisi yang sudah dikeluarkan mengingat setiap wilayah memiliki daya serap emisi yang berbeda. Selain itu, keanekaragaman hayati yang berada di suatu wilayah juga tidak dapat ditukar dengan mudah.

Penerapan tarif pajak karbon sebesar Rp30 per kilogram CO2e di Indonesia juga dinilai terlalu rendah. Tarif ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Singapura yang memasang tarif pajak karbon senilai Rp56.89 per kilogram CO2e. Pada awalnya, RUU Harmonisasi Peraturan Perpajakan mengatur tarif pajak karbon senilai Rp75 per kilogram CO2e, namun upaya ini tidak terealisasikan.

Terlepas dari kontroversi yang diperdebatkan, kebijakan carbon pricing ini dapat menjadi angin segar bagi upaya pembangunan yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan ini tetap perlu kita kawal bersama-sama.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-iklim/#:~:text=Tujuan%20utama%
  • 20dari%20pengenaan%20pajak,ekonomi%20hijau%20yang%20rendah%20karbon.&text=Tarif%20Rp30%20per%20kilogram%20karbon,yang%20melebihi%20cap%20yang%20ditetapkan diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi kota Jakarta pada masa PSBB (Pexels/Tom Fisk)

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 telah mengakibatkan kemunduran besar di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Di samping itu, umat manusia juga harus bersiap untuk menghadapi ancaman yang lebih besar, yaitu perubahan iklim. Para ilmuwan telah memprediksi bahwa cuaca dan bencana ekstrem akan lebih sering terjadi akibat perubahan iklim sehingga dapat menurunkan produktivitas di berbagai sektor terutama pertanian. Selain itu, perubahan iklim juga dapat menurunkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat. 

 

Oleh karena itu, secara makro perubahan iklim juga dapat berdampak terhadap perekonomian. Jika pada 2050 suhu bumi tetap naik hingga 3.2 derajat celcius, maka PDB global diprediksi akan menurun hingga 18%. Bappenas juga memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 115 Triliun pada 2024 akibat perubahan iklim di sektor air, kesehatan, laut pesisir, dan pertanian. 

 

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Indonesia pun sedang bersiap untuk melakukan upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan. Upaya ini bertujuan untuk mengatasi dampak ekonomi dari pandemi sekaligus mencegah dan menangani isu perubahan iklim. Sektor berkelanjutan yang diprioritaskan pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan di antaranya adalah pengembangan energi terbarukan, ekowisata, dan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Berwawasan Lingkungan. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini dapat mendorong implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan serta sesuai dengan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan Internasional pada 2030. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru di bidang lingkungan atau green jobs bagi masyarakat khususnya anak muda yang masih dalam usia produktif.  

green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi teknisi pemasangan panel surya (Pexels/Los Muertos)

Apa Itu Green Jobs?

Green jobs adalah pekerjaan yang bertujuan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas ekonomi. Namun, perlu diingat bahwa meskipun suatu pekerjaan pada prinsipnya ‘hijau’ dan turut berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan, tidak semua pekerjaan tersebut dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang layak. Pemulung dan petugas persampahan contohnya seringkali mendapatkan perlindungan dan upah yang minim karena sistem pengelolaan sampah yang belum layak. Oleh karena itu, upaya peningkatan green jobs pun perlu memperhatikan kesejahteraan dan mutu pekerjanya. 

 

Green jobs juga tidak hanya mengacu bagi para pekerja yang menekuni bidang lingkungan secara khusus seperti spesialis konservasi alam atau insinyur teknik lingkungan. Jenis pekerjaan lainnya juga dapat dikatakan green jobs selama mendukung upaya pelestarian lingkungan. Perancang busana ramah lingkungan, arsitek ramah lingkungan, content creator ramah lingkungan, petani dan peternak ramah lingkungan juga dapat dikategorikan sebagai green jobs.

Peluang Green Jobs di Indonesia

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan bahwa secara global ekonomi hijau dapat menciptakan 24 juta lapangan kerja baru di 2030. Sementara di Indonesia sendiri, penerapan ekonomi sirkular yang berdasarkan prinsip berkelanjutan juga berpotensi menciptakan 4.4 juta lapangan kerja baru di 2030. Selain itu, masa peralihan transisi juga berpotensi menciptakan 1.721.435 juta lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan pada 2030. 

 

Potensi green jobs ini tentunya perlu didukung oleh setiap pemangku kepentingan. Hal yang dapat dilakukan untuk mendukung green jobs di Indonesia di antaranya adalah: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang green jobs, memberikan stimulus untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan mendorong pihak swasta untuk membuka lapangan kerja hijau atau green jobs. 

 

Implementasi prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan di sektor ekonomi juga tentunya dapat membuka peluang green jobs lebih banyak. Oleh karena itu, para pelaku usaha perlu didorong untuk menerapkan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan dalam menjalankan usahanya. Selain itu, untuk mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan, minat masyarakat terhadap barang atau jasa ramah lingkungan pun perlu ditingkatkan.  

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim diakses melalui: https://katadata.co.id/happyfajrian/ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath
  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy.: https://www.weforum.org/agenda/2021/
  • 06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim https://katadata.co.id/happyfajrian/
  • ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/
  • 30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/
  • public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/
  • wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021
  • /09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
sampah makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

sampah makanan
Ilustrasi sampah makanan. (Foto oleh Rachel Claire dari Pexels)

Di saat jutaan orang masih banyak mengalami kelaparan dan kekurangan gizi, sepertiga makanan di dunia setiap tahunnya malah terbuang sia-sia atau hilang sebelum dapat dikonsumsi. Sampah makanan yang terbuang ini mampu memberi makan dua milyar orang, jumlah yang setara dengan dua kali lipat jumlah orang yang kekurangan gizi di dunia. Sampah makanan juga masih menjadi permasalahan sampah yang besar di Indonesia.

 

Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia. Setiap orang di Indonesia diperkirakan menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya. Kajian terbaru dari Bappenas, Waste4Change, dan WRI Indonesia juga menunjukan bahwa jumlah pemborosan makanan (food waste) dan penyusutan makanan (food loss) di Indonesia dari tahun 2000-2019 diperkirakan mencapai 23-48 juta ton per tahun. 

Food Waste dan Food Loss, Apa Bedanya?

Untuk mengatasi masalah sampah makanan, kita perlu memahami pengertian antara sampah makanan (food wastage), pemborosan makanan (food waste), dan penyusutan makanan (food loss) karena ketiganya memerlukan solusi yang berbeda. Sampah makanan adalah semua makanan yang terbuang dan tidak dimakan. Sampah makanan ini terdiri dari dua kategori: pemborosan makanan dan penyusutan makanan.

Pemborosan makanan (food waste) adalah sampah makanan yang terbuang yang disebabkan oleh retail, restoran, dan konsumen. Pemborosan makanan terjadi saat menjelang akhir rantai pasokan. Sementara penyusutan makanan (food loss) adalah penurunan kualitas dan kuantitas makanan yang terjadi pada awal rantai pasok. Ini biasanya disebabkan oleh manajemen produksi, penyimpanan, transportasi, dan pemrosesan yang tidak memadai.

Dampak Buruk Sampah Makanan

Sampah makanan termasuk ke dalam kategori sampah organik. Sampah organik sering kali dianggap lebih aman daripada sampah anorganik seperti plastik karena mampu terurai kembali. Kenyataannya, sampah organik yang tidak dikelola dengan benar justru dapat menyebabkan dampak yang lebih buruk terhadap lingkungan, terutama ketika sampah organik dan anorganik tersebut tidak kita pisahkan. Jika sampah makanan berakhir di TPA dan bercampur dengan sampah anorganik, sampah makanan tersebut akan mengalami proses penguraian secara anaerob sehingga dapat menimbulkan gas metana pada atmosfer. Gas metana ini merupakan gas rumah kaca yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Bahkan, gas metana 25 kali lipat lebih berbahaya daripada karbon dioksida dalam hal memerangkap panas di atmosfer. Emisi yang dikeluarkan dari pemborosan makanan dan penyusutan makanan di Indonesia setara dengan 7.29% rata-rata emisi gas rumah kaca Indonesia per tahun. 

 

Selain berdampak terhadap lingkungan, sampah makanan juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Timbulan pemborosan makanan dan penyusutan makanan dari tahun 2000-2019 di Indonesia telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 214-551 triliun per tahun. Jumlah kerugian ini setara dengan 4-5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kerugian ekonomi ini bahkan diperkirakan bisa lebih besar karena dalam proses penghitungannya menggunakan harga pangan yang tersedia pada saat kajian dilakukan. Sementara harga pangan di pasaran yang sesungguhnya dapat menjulang tinggi karena bersifat fluktuatif. 

 

sampah makanan
Ilustrasi tomat buruk potensi sebabkan sampah makanan (Foto oleh oleh Wendy Wei dari Pexels)

Mencegah dan Mengatasi Sampah Makanan

Sampah makanan merupakan tanggung jawab setiap pihak baik produsen, konsumen, dan pemerintah. Untuk mengurangi sampah makanan dalam rantai pasokan (food loss), produsen dapat membuat perencanaan produksi yang sesuai dengan jumlah kebutuhan konsumen, menyediakan sistem penyimpanan dan pendinginan, hingga mengolah pangan menjadi makanan yang lebih tahan lama dan bernilai tinggi. 

 

Upaya ini tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah seperti kebijakan yang menjamin harga pangan yang stabil dan mempersingkat rantai pasokan agar tidak banyak sampah makanan yang terbuang pada saat perjalanan. 

 

Sebagai konsumen, kita juga dapat mencegah sampah makanan dengan melakukan perencanaan konsumsi yang lebih terukur seperti dengan melakukan meal preparation (persiapan makanan). 

Bagaimana Jika Kita Masih Menyisakan Sampah Makanan?

Seperti yang kita ketahui, tidak semua bagian dari sayuran atau bumbu dapur yang kita gunakan umum untuk dikonsumsi seperti cangkang dan kulit buah. Jika kita terpaksa masih menyisakan sampah makanan, sebaiknya kita mengolahnya terlebih dahulu sebelum dikirim ke petugas sampah. Terdapat berbagai cara yang bisa generasi hijau lakukan untuk mengolah sampah makanan seperti:

 

  • 1. Membuat kreasi masakan dari sisa makanan seperti membuat manisan kulit buah atau kaldu dari sisa sayuran dan kulit bawang. 
  • 2. Membuat eco-enzym, yaitu cairan fermentasi kulit buah dan gula yang bisa dijadikan pembersih rumah dan nutrisi tanaman. 
  • 3. Mengompos sampah makanan untuk dijadikan nutrisi tanaman 

 

Dengan mengolah sampah makanan yang ada di rumah, kita dapat berkontribusi atasi salah satu permasalahan utama dalam persampahan Indonesia. Hal ini karena 40% timbulan sampah di Indonesia merupakan sampah makanan. Selain itu, dengan mencegah dan mengolah sampah makanan secara bertanggung jawab, kita juga sudah turut mendukung implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan di Indonesia. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Aktivis Muda Peduli Lingkungan

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Aktivis Muda Peduli Lingkungan
Ilustrasi demo aksi perubahan iklim (sumber: Unsplash/Markus Spiske)

Akhir bulan September lalu, sekitar 400 perwakilan pemuda dari 197 negara di dunia telah menyuarakan aksi dan tuntutannya untuk perubahan iklim dalam sebuah forum Internasional bernama Youth4Climate: Driving Ambition (Pre-COP26 Youth Event) yang diselenggarakan di Milan, Italia. Acara Youth4Climate ini merupakan rangkaian pra-acara dari Conference of the Parties (COP) 26, yaitu konferensi PBB terkait perubahan iklim yang akan diselenggarakan pada 1-12 November 2021 mendatang. Ratusan pemuda peduli lingkungan dari seluruh dunia hadir dalam acara ini, termasuk salah satunya Greta Thunberg yang pidato kritikannya terhadap pemimpin dunia berujung viral di dunia maya. Indonesia pun turut mengirimkan 2 orang perwakilan pemuda pada acara ini. Kedua perwakilan pemuda tersebut adalah Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari.

Menjelang Hari Sumpah Pemuda, Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari membagikan pengalamannya kepada penggiat lingkungan muda di Kota Bandung dalam diskusi interaktif “Cengkerama Iklim” dengan tajuk “Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh: Pemuda Sadar Emisi dan Berketahanan Iklim” yang diselenggarakan oleh Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK pada 18 Oktober 2021 di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Diskusi ini diselenggarakan secara hybrid di mana sebagian peserta menghadiri acara secara tatap muka dan sebagian menghadiri acara melalui aplikasi daring.

Damayanti Prabasari yang hadir selaku pemantik pada acara diskusi tersebut memaparkan bahwa terdapat beberapa pesan utama yang direkomendasikan oleh para pemuda yang menghadiri acara Youth4Climate ini. Pesan utama tersebut telah diklasifikasi menjadi empat kelompok kerja yang di antaranya adalah youth driving ambition yang isinya mendorong keterlibatan pemuda dalam aksi iklim, mendorong upaya pemulihan berkelanjutan (sustainable recovery), mendorong keterlibatan aktor non-pemerintah (non-state actors’ engagement), dan membangun masyarakat sadar iklim (climate conscious society). Namun, dokumen rekomendasi tersebut masih belum sepenuhnya difinalisasi.

Peran Pendidikan dan Media dalam Atasi Perubahan Iklim

Pemuda Peduli Lingkungan
Diskusi Cengkerama Iklim KLHK (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Siti Aisyah N)

Isu tentang upaya membangun masyarakat sadar iklim terutama di kalangan pemuda menjadi perhatian para peserta pada acara diskusi ini. Pasalnya, relasi pemuda dengan alam dinilai telah semakin jauh terutama bagi pemuda yang tinggal di perkotaan sehingga sulit bagi mereka untuk memahami dan menyadari permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Steven Setiawan yang juga hadir sebagai pemantik menjelaskan bahwa pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan di kalangan pemuda.

Mendorong pendidikan iklim merupakan salah satu poin rekomendasi yang diusulkan oleh para perwakilan pemuda dalam acara Youth4Climate. Pendidikan iklim harus menggunakan pendekatan yang holistik dan dapat mengintegrasikan pengetahuan lokal masyarakat adat, perspektif gender, dan mendorong perubahan dalam gaya hidup, sikap, dan perilaku. Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pendidikan iklim adalah dengan cara memasukannya ke dalam kurikulum nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim baru-baru ini pun mengusulkan agar mata pelajaran IPA dan IPS dapat difokuskan pada isu perubahan iklim. Usulan ini tentunya memberikan harapan bagi kita untuk membangun pemuda yang lebih peduli lingkungan.

Selain melalui pendidikan, media juga berperan penting untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim. Steven mengatakan bahwa media saat ini sudah bekerja cukup baik dalam menyampaikan pemberitaan terkait bencana alam akibat perubahan iklim. Namun, penyampaian berita ini perlu diiringi dengan informasi mengenai solusi dan aksi yang bisa masyarakat lakukan. Penyampaian berita bencana akibat dampak perubahan iklim dengan cara menakut-nakuti tidak membuat generasi muda semakin peduli, tapi justru malah membuat mereka merasa cemas hingga putus asa dan hilang harapan. Sebuah survei yang dilakukan pada 10.000 anak muda berusia 16-25 tahun di 10 negara bahkan menunjukan bahwa 60% orang merasa sangat khawatir dengan perubahan iklim. Ini menunjukan bahwa pemberitaan tentang perubahan iklim juga dapat menyebabkan dampak psikologis terutama di kalangan anak muda. Oleh karena itu, pemberitaan mengenai bencana akibat krisis iklim ini perlu diimbangi dengan informasi mengenai aksi mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan.

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, Apa yang Anak Muda dapat Lakukan untuk Memerangi Krisis Iklim?

Jika pemuda zaman dahulu berjuang melawan penjajah, pemuda di masa sekarang harus berjuang melawan krisis iklim. Sebagai agen perubahan, kita dapat memerangi krisis iklim baik melalui upaya individu dan kolektif. Untuk melakukan aksi individu, generasi hijau dapat mulai mencoba gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah dan jejak karbon. Generasi hijau juga bisa melakukan aksi kolektif seperti dengan cara bergabung di organisasi penggiat lingkungan di sekitarmu, menandatangani petisi aksi iklim, mendorong kerja sama lintas sektor di bidang lingkungan, dan aksi-aksi lainnya.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

Hickman, C. et al. Preprint at http://dx.doi.org/10.2139/

ssrn.3918955 (2021)

Nadiem Makarim Usulkan Pelajaran IPA Difokuskan untuk Pelajari Isu Perubahan Iklim. Liputan6.com. 20 Oktober 2021. Diakses dari https://www.liputan6.com/news/

read/4689185/nadiem-makarim-usulkan-mata-pelajaran-ipa-difokuskan-untuk-pelajari-isu-perubahan-iklim

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

The Buyerarchy of Needs, Perhitungkan Kembali Sebelum Beli Baju

The Buyerarchy of Needs, Perhitungkan Kembali Sebelum Beli Baju

Di pertengahan tahun 2021 ini, coba hitung berapa pakaian yang sudah Generasi Hijau beli sejak awal tahun. Satu? Atau lebih dari lima? Lalu, berapa dari baju tersebut yang sering kamu pakai? Atau… apakah kamu sebenarnya tidak membutuhkannya? Bisa jadi kamu beli hanya karena tawaran harga murah, atau lapar mata saja. 

Tapi… rasanya sayang sekali kalau tidak beli. Nanti uangnya keburu dipakai untuk kebutuhan lain, nanti baju ini keburu habis, nanti tidak ada diskon seperti ini lagi…. Lebih baik nyesal beli daripada nyesal nggak beli!

Eits, biasanya pola pikir seperti itu yang akan membuat kita menghabiskan uang tanpa sadar, lho. Sebelum checkout, yuk kita pikirkan kembali. Apakah baju itu akan sering kamu pakai? Apakah sebenarnya kamu masih punya barang serupa? Yakinkah kamu, baju itu tidak akan mengendap di belakang lemari?

The Buyerarchy of Needs

Ilustrasi ini menyajikan cara berpikir baru sebelum memutuskan beli barang. Ada enam tingkatan dalam hierarki kebutuhan beli ini.

Pakai Yang Ada

Sebagai prioritas utama dan ada di tingkat paling bawah, Lazarovic menulis use what you have. Sebelum beli sesuatu, pikirkan kembali dan lihat isi lemari. Mungkin kita masih punya dress yang sudah setahun tidak dipakai. Atau celana jeans yang sebenarnya masih muat. Jika bosan dengan pakaian yang itu-itu saja, kita dapat mix and match atau tambahkan aksesoris untuk lebih bergaya

Pinjam Teman

Wah, jadwal sidang skripsi sudah keluar! Tapi belum punya blazer, kemeja putih, dan rok hitam… mau beli tapi rasanya hanya akan dipakai sekali saja. Ada baiknya pinjam teman saja, mungkin, ya? Generasi Hijau pernah ada di situasi seperti itu? Ketika kamu butuh sesuatu untuk satu kesempatan saja, dan sekiranya tidak akan dipakai lagi, jangan gengsi untuk meminjam ke orang lain. Borrow ada di tingkatan kedua. Pasti ada orang terdekat kita yang punya apa yang kita butuhkan. Sekiranya tidak memungkinkan, kamu dapat mengambil opsi untuk menyewa pakaian atau barang lainnya.

Pinjam teman

Swap atau menukar pakaian memberi kita kesempatan punya pakaian baru tanpa membelinya. Dengan begini, kita juga dapat mengganti isi lemari yang sudah lama tidak kita pakai. Prinsipnya adalah jumlah yang masuk harus sama dengan jumlah yang keluar. Misalnya, kita mengeluarkan tiga pakaian lama, dan memasukkan tiga pakaian baru. Jika kamu belum berkesempatan mengikuti acara besar yang diorganisir komunitas, tukar baju ini dapat kamu lakukan dengan teman-temanmu.

Beli Baju Bekas

Generasi Hijau pasti sudah tidak asing dengan thrifting. Baju bekas dari industri fast fashion kini banyak dijual kembali, baik melalui e-commerce atau media sosial. Selain mendapat baju bagus dalam kondisi layak dengan harga miring, kamu juga membantu mengurangi limbah tekstil ke TPA. 

Buat Sendiri!

Kalau Generasi Hijau punya hobi merajut atau menjahit, yuk coba membuat pakaian sendiri! Di tingkatan kelima ini, kamu punya kontrol penuh terhadap pakaianmu jika kamu membuatnya sendiri (make). Kamu dapat membuat baju yang sesuai ukuran tubuhmu atau menambahkan aksesori sesuai selera. Tingkatan kelima ini memang bukan untuk semua orang, namun tidak ada salahnya untuk dicoba.

Beli

Beli Membeli baju baru menjadi opsi paling akhir ketika kamu butuh sesuatu. Selalu ingat untuk mempertimbangkan lima langkah sebelumnya, ya. Jangan lupa, perhitungkan juga budget kamu untuk kebutuhan lain sebelum beli baju; karena kamu dapat gunakan baju yang sama selama bertahun-tahun, namun kamu lebih butuh menyediakan bahan pangan tiap harinya.

Dari pertimbangan kecil seperti ini, Generasi Hijau dapat menghemat uang tanpa disadari. Tentunya, kamu juga membantu menyelamatkan bumi dengan mempraktikkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Florentina, S. (2019, December 27). Yuk, Tukar Baju! Tampil Keren Sambil Menjaga Bumi. Retrieved from detik.com: https://news.detik.com/kolom/d-4837641/yuk-tukar-baju-tampil-keren-sambil-menjaga-bumi Martinko, K. (2018, October 11). Why Shopping Should Be a Last Resort . Retrieved from Treehugger: https://www.treehugger.com/why-shopping-should-be-last-resort-4856723

Sister Mountain. (2018, January 9). The Buyerarchy of Needs: How to Build a More Intentional Wardrobe. Retrieved from Sister Mountain: https://www.sistermountain.com/blog/buyerarchy-of-needs

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Tips Menerapkan Program Daur Ulang di Kantor

Tips Menerapkan Program Daur Ulang di Kantor

Kita sudah sering mendengar ajakan memilah sampah di rumah. Namun, bagaimana dengan sampah yang kita hasilkan di kantor?

Dilansir dari Envirowise, 70% sampah yang dihasilkan di kantor sebenarnya dapat didaur ulang. Kertas kering hasil salah cetak itu sebenarnya dapat dimanfaatkan lagi, sama seperti gelas plastik bekas kopi tadi pagi yang dibeli temanmu. Melihat hal ini, bayangkan berapa banyak sampah yang sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali namun berakhir menumpuk di TPA.

Jika Generasi Hijau sudah terbiasa memilah sampah di rumah dan menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan, untuk memulainya lagi di kantor pastinya tidak sulit. Yang sulit hanyalah mengajak teman kantor untuk sama-sama satu visi mewujudkan kantor yang minim sampah. Yuk simak tips di bawah ini untuk memulainya!

Bentuk Tim Satgas

Mengubah perilaku banyak orang bukan hal yang mudah dilakukan seorang individu. Ajak teman-teman dari departemen lain untuk menyatukan visi dan bisa bertukar pikiran untuk bisa mewujudkan kantor yang ramah lingkungan.

Libatkan teman teman tenaga kebersihan

Kadang, kita sudah memilah sampah kita namun disatukan lagi oleh teman-teman tenaga kebersihan di kantor dan berakhir di TPA. Kita perlu melibatkan mereka sehingga paham alasannya. Dengan bertukar pikiran, kita mendapat perspektif lain tentang perilaku orang-orang di kantor yang kita tidak ketahui sebelumnya, sehingga kita dapat mengimplementasikan program yang lebih efektif.

Sediakan tempat sampah terpilah

Setelah membentuk tim dan menyebarkan perspektif tentang pentingnya memilah sampah, langkah selanjutnya dapat dimulai dengan menyediakan tempat sampah terpilah. Dari kertas dan karton, sisa organik, plastik, kaca dan metal, semua perlu tempatnya masing-masing. Tim satgas dapat memberi konsekuensi bagi mereka yang memasukkan sampahnya tidak sesuai dengan jenis.

Tempat sampah terpilah di kantor dapat mengurangi sampah yang terbuang ke TPA. (Sumber: Best Eco Shop/Pinterest)

Jenis-Jenis sampah yang di hasilkan di kantor

  1. 1. Kertas

Menurut Environmental Protection Agency, rata-rata pekerja kantor menghasilkan sekitar 1 kilogram kertas dan produk karton setiap hari dan menggunakan 10.000 lembar kertas setiap tahun. Sayang sekali kan kertas hasil salah cetak yang masih bagus itu disatukan dengan sampah lainnya. Selain jadi bau, sampah ini jadi tidak bisa diolah kembali. Untuk mengurangi sampah kertas, kita bisa mencoba mencetak bolak-balik di dua permukaan kertas. Kita dapat juga memaksimalkan pengiriman berkas digital untuk meminimalisasi penggunaan kertas.

 

  1. 2. Sisa makanan

Seringkali karyawan menyimpan snack atau makanan sisa di kulkas pantry kantor hingga akhirnya lupa dan keburu kadaluarsa. Untuk mengurangi sampah makanan di kantor, yuk kita biasakan untuk menghabiskan makanan kita. Kita bisa juga menghindari menyimpan sisa makanan di kantor agar tidak lupa. 

 

  1. 3. Produk sekali pakai

Tidak heran, karena karyawan kantor biasanya diburu waktu. Produk sekali pakai jauh lebih praktis dan tidak perlu menunggu lama untuk disiapkan. Ini dapat menjadi salah satu agenda tim satgas untuk mengubah kebiasaan. Dengan membiasakan para karyawan untuk membawa tumbler dan tempat makan sendiri, kita dapat mengurangi sampah secara signifikan.

Bekerja sama dengan perusahaan pengelolaan sampah

Setelah semua sampah sudah terpilah, kita kadang bingung untuk memastikannya tidak terbuang ke TPA. Jika kita masih berlangganan tukang sampah konvensional, hampir pasti sampah yang sudah kita pilah dari sumbernya akan disatukan kembali.

Pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dapat mengurangi sampah ke TPA. (Sumber: dok. Waste4Change)

Demi memastikan sampah kita terolah dengan baik, kita dapat berlangganan jasa pengelolaan sampah terpilah. Untuk area Jabodetabek, kantormu dapat berlangganan layanan Responsible Waste Management dari Waste4Change. Kamu akan mendapat kantung sampah terpilah, edukasi manajemen sampah gratis, laporan perjalanan dan detail berat sampah, dan sampah kantormu sudah pasti dikelola dengan baik. Dengan memilah sampah dan memastikan tidak ada yang ke TPA, kantormu sudah menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Referensi

Amara, A. D. (2021, March 31). Pemilahan Sampah di Kantor 101: Cara Memilah Sampah Kantor Anda. Retrieved from Waste4Change Blog: https://waste4change.com/blog/waste-sorting-at-office-101-how-to-get-your-offices-waste-sorted/2/

Clean River. (n.d.). How to set up an office recycling program. Retrieved from Clean River Blog: https://cleanriver.com/set-office-recycling-program/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Atas nama pembangunan, manusia telah mengeksploitasi sumber daya bumi untuk membangun infrastruktur dan mengekspansi industri selama beberapa abad terakhir. Bukan tujuan yang salah, namun seringkali eksekusinya tidak dibarengi dengan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan sumber daya yang ada, melainkan kita menganggap lingkungan sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia, sehingga pengelolaan sumber daya merupakan suatu siklus timbal balik bagi manusia dan alam. Dengan begitu, manusia tidak egois dan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Sementara selama beberapa tahun terakhir, manusia telah merasakan dampak negatifnya dari pertambangan. Tentu saja, warga kecil di sekitar galian tambang yang paling merasakan dampaknya. Lantas, bagaimana industri pertambangan mempengaruhi tanah dan manusia? Masalah polusi air dan tanah, erosi, perubahan muka bentuk bumi, hingga bekas galian tambang yang kerap memakan korban.

Meninggalkan lubang besar

Galian tambang yang sudah tidak produktif akan meninggalkan lubang menganga sedalam 30-40 meter. Di banyak bekas lokasi tambang, lubang ini dibiarkan begitu saja. Lama kelamaan, lubang ini akan menampung air dan seringkali dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Warna airnya yang hijau dan kebiru-biruan indah dipandang mata. Padahal, warna tersebut tidak alami. Ia berwarna terang karena mengandung banyak logam berbahaya bagi manusia.

Warga sekitar yang mengelilingi danau bekas galian tambang setelah ada kabar korban tenggelam. (Sumber: dokumen Jatam Kaltim)

Menurut hasil uji dari Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) di bekas lubang tambang di Jambi, sampel air yang diambil mengandung pH 3,4. Sementara, standar pH air laik dikonsumsi adalah 6.5 – 8,5. Angka pH yang rendah dapat dikatakan bahwa tingkat keasaman air tinggi yang mengindikasikan tingginya logam berat yang terlarut di dalamnya. Secara kasat mata airnya terlihat jernih, namun tidak terdapat mikroorganisme maupun ikan yang dapat hidup di sana. Ironisnya, dengan kondisi air yang jernih tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan air dalam bekas galian tambang tersebut untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain isu air yang tidak laik, lubang bekas galian tambang ini juga kerap memakan korban. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lubang bekas tambang telah memakan korban hingga 33 jiwa. Kebanyakan masih berusia belia, usia 10-14 tahun.

Seperti dilansir dari Tirto.id, sejak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.7/2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat wisata adalah perbuatan legal. Padahal, reklamasi seharusnya adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka harus dikembalikan seperti hutan.

Mengubah Permukaan Tanah

Manusia modern bergantung pada mineral dan logam. Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya. Karena itu juga, jadilah lubang galian tambang.

Menurut Matthew Ross pada artikelnya di The Conversation, untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah struktur geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade. Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air. Untuk menunggu mineral tambang tersebut dapat diekstraksi kembali, butuh waktu proses geologis hingga ratusan tahun. Sementara kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya. Manusia tidak memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan mereproduksi. Karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan sulit memprediksi pergerakan bentang alam ini dalam evolusi masa depan mereka. Benua kuno di dunia dapat dilihat pergerakannya di tiap zaman geologis, namun manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan