Author Archives: Tech Greeneration

Pengelolaan Sampah Kini Solusinya Tak Terbatas

Pengelolaan Sampah Kini Solusinya Tak Terbatas

Foto Industri Pengelolaan Sampah (Reciki)

Halo, bertemu lagi di artikel HPSN Series #2! Di artikel sebelumnya, kami sudah membahas seluk beluk permasalahan berbagai jenis sampah di Indonesia. Pastinya Generasi Hijau sepakat kalau masalah ini sudah mendesak untuk segera diselesaikan sebelum kita tidak mampu memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh masalah sampah, bukan?

 

Untuk menyelesaikan masalah ini, peran masing-masing individu tentu penting untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan. Namun, ada peran yang tak kalah penting, yaitu peran dari para inovator yang menciptakan berbagai inovasi kreatif solusi pengelolaan sampah untuk skala industri. Seperti apa saja inovasi terkini solusi pengelolaan sampah? Cek selengkapnya di sini!

Inovasi Pengurangan Sampah

Foto Bulk Store (Liandro N. I. Siringoringo)

Inovasi pengelolaan sampah yang menjadi garda terdepan untuk mencegah timbulnya sampah adalah inovasi pengurangan sampah. Saat ini, berbagai gebrakan solusi kurangi sampah organik maupun anorganik menawarkan kemudahan layanan melalui teknologi dengan dampak yang besar dan luas. Inovasi tersebut datang dari Surplus, Food Cycle, dan bulk store.

 

Surplus dan Food Cycle sama-sama bergerak untuk mengurangi jumlah sampah sisa makanan. Hanya saja strategi yang mereka terapkan berbeda. Dalam menangani sampah sisa makanan, Food Cycle berupaya untuk mengatasi kelaparan pada masyarakat yang kurang mampu. Mereka mengumpulkan sisa makanan yang masih layak dari industri makanan maupun donasi untuk didonasikan kepada orang yang membutuhkan. Sedangkan Surplus mengurangi sampah sisa makanan dengan menyediakan platform bagi penggunanya untuk jual beli sisa makanan yang masih layak konsumsi. Sisa makanan dijual oleh industri makanan dan dapat dibeli oleh konsumen umum. Inovasi tersebut tentunya berdampak baik untuk mengurangi jumlah sampah sisa makanan yang dihasilkan dari aktivitas industri makanan maupun konsumsi pribadi. 

 

Selain mengurangi sampah organik berupa sisa makanan, sampah anorganik tetap harus kita cegah. Bulk store adalah inovasi yang hadir untuk mengurangi produksi sampah baik organik maupun anorganik. Bulk store adalah toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang menerapkan prinsip zero waste. Berbelanja di bulk store, kita harus menyediakan wadah untuk tempat barang yang kita beli karena produk bulk store tidak menyediakan kemasan sekali pakai seperti kemasan plastik alias menerapkan sistem isi ulang. Kita juga harus membawa tas belanja sendiri karena tidak tersedia kantong plastik. Barang-barang yang dijual juga ramah lingkungan. Berbelanja di bulk store juga membantu mencegah sampah sisa makanan karena kamu bisa menakar sendiri kebutuhan pangan yang perlu kamu beli.

Inovasi Pengumpulan dan Pengolahan Sampah

Foto Startup Pengelolaan Sampah (Gringgo.co)

Saat ini di Indonesia, banyak sekali inovasi yang bergerak untuk mengelola sampah berbasis teknologi. Inovasi ini melahirkan startup pengelolaan sampah dan teknologi pengumpulan sampah. Tak hanya mengumpulkan sampah, namun juga mendaur ulang sampah yang terkumpul agar menjadi barang yang memiliki nilai guna. Mereka yang menyediakan layanan seperti Waste4Change, Gringgo, Mall Sampah, Reciki, Rapel dan Sungai Watch yang menawarkan teknologi pengumpul sampah sungai.

 

Walaupun bergerak dalam bidang yang sama, namun masing-masing startup tersebut bergerak di sektor yang berbeda. Misalnya saja Waste4Change dan Gringgo yang bergerak di sektor rumah tangga dan bussiness to bussiness mengelola sampah dari masyarakat umum yang mengikuti layanannya dan melayani berbagai perusahaan untuk mengelola sampah mereka. Khusus untuk yang bergerak di sektor rumah tangga, ada Rapel yang siap mengelola sampah anorganik dari kliennya yang sudah terpilah.

 

Inovasi ini tentunya memberi dampak positif. Selain membersihkan lingkungan, inovasi sampah bisa membuka peluang bisnis startup yang akan membuka lapangan pekerjaan, mendatangkan laba, bahkan para klien sampah juga bisa memperoleh keuntungan dari sampah yang ditukarkan menjadi uang. Walaupun beberapa startup masih belum mampu mendaur ulang sampah yang didapat, mereka masih memiliki semangat untuk mengupayakan daur ulang sampah dengan bekerjasama dengan industri daur ulang sampah. Sementara, yang sudah mampu mengolah sampahnya tentu sudah berhasil membentuk kebiasaan pilah sampah bagi kliennya agar startup dapat mengolah sampah yang terpilah sesuai jenis dan produknya.

 

Inovasi teknologi juga hadir dari Citarum Repair yang menciptakan penghalang sampah (trash barrier) dan alat pengumpul sampah bertenaga surya yang di pasang di Sungai Citarum untuk mencegah sampah plastik berakhir ke laut. Sungai Citarum merupakan sungai terkotor di Indonesia. Tak sekedar mengumpulkan sampah dari sungai, mereka juga mendaur ulang sampah yang dikumpulkan. Di bali, juga terdapat Sungai Watch yang telah berhasil mengumpulkan 333 ton sampah di sungai Bali pada tahun 2021 lalu dengan memasang 105 penghalang sampah. 

 

Inovasi Daur Ulang Sampah Organik

Maggot
Foto Maggot (Jiri Birtnik / Unsplash)

Sampah organik memiliki jumlah yang paling banyak di Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, tentunya butuh banyak inovasi dan ide kreatif pengelolaan sampah organik yang diwujudkan dalam bentuk tindakan. Aksi yang saat ini marak dilakukan adalah pembuatan kompos dan maggot.

 

Kompos adalah pupuk organik yang dibuat dari bahan sampah organik seperti sisa makanan, kayu, ranting, daun, dan rumput yang melalui proses pelapukan oleh bakteri pembusuk. Proses pembuatannya cukup mudah dan tidak memakan waktu lama. Pembuatan kompos memerlukan waktu 1-3 bulan sampai pupuk siap dipanen. 

 

Hasil dari mengolah sampah organik menjadi kompos dapat digunakan mulai dari skala rumah tangga dan industri. Untuk rumah tangga, pupuk yang dihasilkan bisa Generasi Hijau gunakan untuk menyuburkan tanaman di rumah, sehingga Generasi Hijau tidak perlu membeli pupuk lagi. Untuk skala industri, kompos bisa dijadikan peluang bisnis dengan menjual hasil olahan pupuk pada jangkauan pasar yang lebih luas.

 

Selain kompos, maggot juga bisa menjadi pilihan untuk mengolah sampah organik skala industri. Maggot (Black Soldier Fly) merupakan larva yang akan bermetamorfosis menjadi lalat. Budidaya maggot sangat berkontribusi untuk pengurangan sampah organik karena 1 kg maggot mampu menghabiskan 2-5 kg sampah organik per harinya. Jika dihasilkan dalam skala industri, tentu sampah organik yang menjadi makanannya akan semakin berkurang menjadi sampah.

 

Budidaya maggot dinilai sangat menguntungkan karena proses budidayanya yang mudah dan tingginya permintaan pasar karena protein tinggi yang terkandung pada maggot sangat baik untuk pakan ternak. Memperbanyak budidaya maggot bisa menjadi salah satu strategi untuk mengurangi sampah organik secara alami. 

Inovasi Daur Ulang Sampah Plastik

Foto Olahan Ecobrick Oleh Rebricks (Aviaska Wienda S)

Tak kalah dari inovasi pengolahan sampah organik, inovasi pengolahan sampah plastik juga terus bermunculan. Salah satunya adalah mengubah sampah plastik menjadi batu bata untuk bahan bangunan (ecobrick). Pembuatan ecobrick dapat dilakukan dalam skala industri maupun rumah tangga. Untuk skala rumah tangga, ecobrick dapat dibuat dengan memecah sampah plastik kemasan. Lalu, sampah tersebut dimasukkan ke dalam botol plastik bekas untuk dipadatkan. Botol-botol berisi plastik tersebut, jika dirangkai bisa menjadi bahan untuk membuat meja, kursi, bahkan bangunan. 

 

Untuk skala industri, sampah plastik akan dijadikan bahan campuran batako yang digunakan untuk membangun infrastruktur. Plastik tersebut akan dicacah dengan mesin lalu dicampurkan ke semen dan akhirnya dicetak menjadi berbagai bentuk batako seperti hollow block dan paving block. Salah satu industri yang telah mengolah sampah plastik menjadi ecobrick adalah Rebricks. Rebricks telah mampu mengolah 17.500 kg sampah plastik menjadi 10.000 kg batako.

 

Sektor industri memang memiliki peran dan tanggung jawab besar untuk sistem pengelolaan sampah. Sektor ini menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia. Meskipun sudah banyak inovasi pengelolaan sampah yang bermunculan, bukan berarti kita tak berupaya sama sekali untuk mencegah sampah. Jadi, perilaku minim sampah tetap harus diterapkan! Masih penasaran bagaimana peranan sektor ini hadir di masyarakat? 

 

Nantikan artikel HPSN Series ke-3 yang akan mengupas peran industri kuliner dalam menangani sampah organik maupun anorganik! Artikel selanjutnya dapat kamu nikmati disini!

 

Artikel ini merupakan artikel kedua dari seri Hari Peduli Sampah Nasional 2022. 

 

 

 

Ditulis oleh: Aviaska Wienda Saraswati

Referensi

(n.d.). FoodCycle Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.foodcycle.id/

 

(n.d.). Surplus | Food Rescue App | Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.surplus.id/

 

(n.d.). https://sungaiwatch.com/pages/rivers.

 

(n.d.). https://rebricks.id/what-we-do

 

Home. (n.d.). Rapel.id. Retrieved February 7, 2022, from https://www.rapel-id.com/en/

 

Kurangi Sampah Organik dengan Beternak Maggot – Infografik Katadata.co.id. (2021, November 13). Katadata. Retrieved February 7, 2022, from https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/618f1ec50b131/kurangi-sampah-organik-dengan-beternak-maggot

 

Kurniasih, W., & Atthariq, R. (2021, October 14). Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya – Best Seller Gramedia. Gramedia.com. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gramedia.com/best-seller/budidaya-maggot/

 

Membuat Kompos dari Sampah Organik. (2021, March 9). Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya. Retrieved February 7, 2022, from https://dlh.palangkaraya.go.id/membuat-kompos-dari-sampah-organik/

 

Sustainable development. (n.d.). Gringgo Tech. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gringgo.co/about

Tentang. (n.d.). Waste4Change. Retrieved February 7, 2022, from https://waste4change.com/official/about

 

(n.d.). FoodCycle Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.foodcycle.id/

 

(n.d.). Surplus | Food Rescue App | Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.surplus.id/

 

(n.d.). https://sungaiwatch.com/

pages/rivers.

 

(n.d.). https://rebricks.id/

what-we-do

 

Home. (n.d.). Rapel.id. Retrieved February 7, 2022, from https://www.rapel-id.com/en/

 

Kurangi Sampah Organik dengan Beternak Maggot – Infografik Katadata.co.id. (2021, November 13). Katadata. Retrieved February 7, 2022, from https://katadata.co.id/

ariayudhistira/infografik/618f1ec50b131/kurangi-sampah-organik-dengan-beternak-maggot

 

Kurniasih, W., & Atthariq, R. (2021, October 14). Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya – Best Seller Gramedia. Gramedia.com. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gramedia.com/

best-seller/budidaya-maggot/

 

Membuat Kompos dari Sampah Organik. (2021, March 9). Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya. Retrieved February 7, 2022, from https://dlh.palangkaraya.go.id/

membuat-kompos-dari-sampah-organik/

 

Sustainable development. (n.d.). Gringgo Tech. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gringgo.co/about

Tentang. (n.d.). Waste4Change. Retrieved February 7, 2022, from https://waste4change.com/official/

about

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Perubahan Iklim

Perubahan Iklim di Depan Mata: 2021 Jadi Tahun Terpanas Kelima dalam Sejarah

Perubahan Iklim di Depan Mata: 2021 Jadi Tahun Terpanas Kelima dalam Sejarah

Perubahan Iklim
Foto permukaan tanah tandus di siang arah (sumber: Pixabay)

Saat ini, para pemangku kepentingan di dunia sedang sibuk menangani dampak dari pandemi yang terjadi sejak 2020. Namun, di sisi lain, kita juga harus bersiap untuk menghadapi perubahan iklim yang memiliki dampak yang tak kalah mengerikan dari pandemi. Baru-baru ini, sebuah badan layanan informasi iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), mengungkapkan bahwa 2021 tercatat sebagai tahun terpanas kelima dalam sejarah. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa 7 tahun terakhir merupakan tahun-tahun terpanas dalam sejarah. Rekor ini menjadi pengingat bagi umat manusia untuk segera bertindak mengatasi perubahan iklim.

Rata-rata kenaikan suhu bumi pada 2021 mencapai 1.1°-1.2° Celcius. Sebelumnya, melalui Perjanjian Paris, negara-negara di dunia telah sepakat untuk membatasi rata-rata kenaikan suhu bumi hingga 2° C dan berusaha menekan kenaikan suhu bumi hingga 1.5° C untuk mengurangi dampak kerusakan yang terjadi akibat perubahan iklim. Namun, kenaikan suhu bumi sebesar 1.1°-1.2° Celcius yang terjadi pada 2021 saja sudah menunjukan dampak dan ancaman perubahan iklim yang serius. Hal ini terbukti dari maraknya berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi selama 2021 seperti banjir mematikan yang menewaskan lebih dari 200 orang di Eropa Barat hingga gelombang panas yang memicu kebakaran hutan di kawasan Mediterania seperti Turki dan Yunani. Sementera di Indonesia, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat terdapat 3.078 bencana yang sebagian besar berkaitan dengan perubahan iklim. Salah satu bencana di Indonesia yang menjadi perhatian pada 2021 adalah banjir berkepanjangan yang merendam ribuan rumah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Emisi Karbon Dioksida dan Metana Semakin Meningkat

Meskipun 2021 tidak lebih panas dari tahun 2020 yang dicatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, ilmuwan C3S memperingatkan bahwa kita harus fokus melihat gambaran yang lebih besar, yaitu rata-rata kenaikan suhu bumi yang terus meningkat setiap tahun alih-alih terpaku pada peringkat tahun terpanas. Lagipula, penurunan kenaikan suhu bumi pada 2021 disebabkan oleh fenomena La Nina yang menyebabkan suhu permukaan laut Samudera Pasifik bagian tengah menurun.

Analisis dari C3S juga menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca yang paling berpengaruh terhadap perubahan iklim seperti karbon dioksida dan metana pada tahun 2021 semakin meningkat. Tingkat karbon dioksida di atmosfer mencapai 414,3 ppm pada tahun 2021, naik sekitar 2,4 ppm dari tahun 2020. Emisi gas rumah kaca ini bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi yang sebagian besar digunakan untuk industri dan pembangkit tenaga listrik.

Selain karbon dioksida, gas metana di atmosfer juga mengalami peningkatan dengan tingkat konsentrasi sebesar 1.900 ppb, naik sekitar 16.3 ppb dari tahun 2020. Namun, para ilmuwan belum mempelajari lebih lanjut penyebab dari peningkatan ini. Gas metana 80 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim jika dibandingkan dengan karbon dioksida. Sumber gas metana ini dapat berasal dari peternakan, pertanian, hingga sampah.

Aksi Iklim yang Lebih Ambisius

Untuk memenuhi target Perjanjian Paris dalam mencegah perubahan iklim, negara-negara di dunia pada 2021 telah berkumpul di KTT Perubahan Iklim COP 26 yang dilaksanakan di Glasgow. KTT Perubahan Iklim COP 26 telah menghasilkan beberapa perjanjian seperti 40 negara sepakat untuk beralih dari batubara, 100 negara sepakat untuk mengakhiri deforestasi dan mengurangi gas metana sebesar 30% di tahun 2030.

Namun beberapa ilmuwan masih menilai bahwa beberapa perjanjian yang sudah ditandatangani di KTT Perubahan Iklim COP 26 belum bisa menyelesaikan masalah perubahan iklim. Misalnya, dalam Pakta Iklim Glasgow, disebutkan bahwa emisi gas rumah kaca harus dikurangi dan emisi karbon dioksida harus turun 45% pada tahun 2030, tapi dengan perjanjian pengurangan emisi yang ada sekarang, ilmuwan menilai bahwa emisi justru akan meningkat hingga 14% pada tahun 2030.

Meskipun begitu, sebagai masyarakat kita harus tetap optimis untuk bisa bergerak bersama mencegah dan mengatasi perubahan iklim. Kita bisa terus menyuarakan aspirasi kita mengenai perubahan iklim agar para pemangku kepentingan dapat memiliki komitmen yang lebih ambisius untuk menangani perubahan iklim. Kita juga bisa mencegah perubahan iklim melalui keseharian kita seperti menjalankan gaya hidup yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Usaha sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari seperti mengurangi plastik sekali pakai dan penggunaan listrik juga bisa membantu mencegah perubahan iklim jika kita melakukannya secara bersama dan kolektif. Sebesar apapun usaha kita akan sangat berarti untuk bumi.




Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://www.aljazeera.com/news/2022/1/10/last-7-years-warmest-on-record-globally-by-clear-margin-eu Diakses pada 13 Januari 2022

https://www.ecowatch.com/2021-fifth-warmest-year-on-record.html Diakses pada 13 Januari 2022

https://edition.cnn.com/2022/01/10/world/2021-global-climate-5th-warmest-copernicus/index.html Diakses pada 13 Januari 2022

https://climate.copernicus.eu/sites/default/files/custom-uploads/Annual_summary_2021/C3S-CAMS%20annual%20temp%20data%20and%20CO2%202021_press%20release_final.pdf Diakses pada 13 Januari 2022

https://www.space.com/climate-change-methane-high-despite-reduction-pledges

https://www.nature.com/articles/d41586-021-03431-4 Diakses pada 13 Januari 2022

https://www.aljazeera.com/news/

2022/1/10/last-7-years-warmest-on-record-globally-by-clear-margin-eu Diakses pada 13 Januari 2022

https://www.ecowatch.com/

2021-fifth-warmest-year-on-record.html Diakses pada 13 Januari 2022

https://edition.cnn.com/

2022/01/10/world/2021-global-climate-5th-warmest-copernicus/index.html Diakses pada 13 Januari 2022

https://climate.copernicus.eu/sites/

default/files/custom-uploads/Annual_summary_2021/C3S-CAMS%20annual%20temp%20data%

20and%20CO2%202021_press%20release_final.pdf Diakses pada 13 Januari 2022

https://www.space.com/

climate-change-methane-high-despite-reduction-pledges

https://www.nature.com/

articles/d41586-021-03431-4 Diakses pada 13 Januari 2022

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

sampah digital

Bersihkan Sampah Digital dengan Digital Decluttering

Bersihkan Sampah Digital dengan Digital Decluttering

sampah digital
rak server di pusat data (sumber: pexels/brett sayles)

Bukan hanya sampah sehari-hari saja yang perlu kita bersihkan, sampah digital juga perlu dibersihkan. Aktivitas digital yang kita lakukan dengan gadget kita dapat memproduksi jejak karbon yang merupakan penyebab perubahan iklim. Saat ini, ada sekitar 4.1 miliar orang yang menggunakan internet. Sementara di Indonesia, jumlah pengguna internet mencapai 83.7 juta pada 2014. Penggunaan internet ini dapat menghasilkan jejak karbon digital yang setara dengan 3.7% emisi global. Bahkan, angka ini diprediksi dapat meningkat dua kali lipat pada 2025.

Dari mana jejak karbon digital ini berasal? Jejak karbon digital pada penggunaan internet berasal dari proses manufaktur dan pengiriman perangkat elektronik yang dapat menimbulkan polusi udara. Selain itu, jejak karbon digital juga bersumber dari pengeluaran energi perangkat elektronik yang sebagian besar masih bersumber dari energi fosil. Oleh karena itu, sebagai pengguna kita harus mulai bijak dalam melakukan aktivitas digital. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi jejak karbon digital adalah membersihkan sampah digital melalui kegiatan digital decluttering.

sampah digital
Infografis jejak karbon dari sampah digital

Apa Itu Digital Decluttering?

Digital decluttering adalah upaya memilah dan membersihkan sampah digital yang terdapat pada gadget kita. Sampah digital tersebut dapat berupa data atau dokumen yang menumpuk, riwayat pencarian internet, dan spam email. Dengan menghapus sampah digital yang tidak kita perlukan lagi, aktivitas digital kita dapat lebih terorganisir dan efisien sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Lalu, langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk melakukan digital decluttering?

1. Membersihkan Email

Email yang menumpuk merupakan sampah digital yang dapat menghasilkan jejak karbon digital. Email standar dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 4 gram CO2e dan email dengan lampiran dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 50 gram CO2e. Kita bisa mulai mengurangi jejak karbon digital dari email dengan menghapus email yang sudah dibaca, spam, dan berhenti berlangganan newsletter yang tidak perlu.

2. Pilah dan Hapus Data Digital yang Tidak Perlu

Sampah digital seperti foto, video, riwayat penelusuran internet, dan dokumen yang tidak diperlukan juga dapat menghasilkan jejak karbon jika tetap dibiarkan menumpuk pada gadget atau penyimpanan cloud storage. Data yang kita simpan pada penyimpanan cloud storage sebenarnya disimpan di data center atau pusat data. Data center membutuhkan energi untuk mengoperasikannya. Jejak karbon dari data center setara dengan 2% emisi global. Angka ini diperkirakan akan naik 3.2% di 2025 dan 14% di 2040.

3. Menetapkan Prioritas Aktivitas Digital dan Membatasi Screen Time

Pengolahan sampah konvensional lebih baik dilakukan dengan mengurangi sampah terlebih dahulu sebelum mendaur ulangnya. Hal ini pun sama dengan sampah digital. Kita dapat mengurangi jejak karbon dan sampah digital dengan mengurangi aktivitas digital yang tidak perlu. Cobalah pilah aktivitas digital mana yang perlu kamu prioritaskan dan buatlah batasan. Salah satu contoh yang bisa kita lakukan adalah mengurangi konsumsi video yang tidak perlu. Menurut sebuah lembaga penelitian di Prancis, menonton video online dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 1% dari total emisi global.

Konvensional VS Digital, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Meskipun aktivitas digital dapat menghasilkan sampah digital dan jejak karbon digital, perlu kita ingat bahwa dalam kondisi tertentu aktivitas digital dapat lebih ramah lingkungan daripada aktivitas yang kita lakukan secara konvensional. Jika kita ingin melakukan rapat, rapat virtual dapat lebih ramah lingkungan daripada rapat tatap muka. Rapat virtual hanya memproduksi jejak karbon sebesar 7% dari jejak karbon rapat tatap muka. Selain itu, membaca secara digital juga lebih baik daripada membaca menggunakan kertas secara konvensional.

Untuk mendukung implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan dari sektor digital, kita juga dapat mengurangi jejak karbon digital dengan menjaga gadget kita agar lebih tahan lama dan tidak menyebabkan e-waste atau sampah elektronik. Sebuah studi dari University of Edinburgh menemukan bahwa memperpanjang penggunaan komputer dan monitor dari 4 ke 6 tahun dapat mencegah sekitar 190 kg CO2e. Jadi, jagalah gadget yang kita punya agar bisa lebih tahan lama. Jika ingin membeli gadget, kamu juga bisa mempertimbangkan gadget bekas yang masih berkualitas. Aktivitas pengurangan jejak karbon digital ini tentunya sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://www.climatecare.org/resources/news/infographic-carbon-footprint-internet/ diakses 5 Januari 2022

https://www.bbc.com/future/article/20200305-why-your-internet-habits-are-not-as-clean-as-you-think diakses 5 Januari 2022

https://www.zelladc.com/insights/how-is-your-data-centre-affecting-your-carbon-footprint diakses 5 Januari 2022

Referensi

https://www.climatecare.org/

resources/news/infographic-carbon-footprint-internet/ diakses 5 Januari 2022

https://www.bbc.com/future/

article/20200305-why-your-internet-habits-are-not-as-clean-as-you-think diakses 5 Januari 2022

https://www.zelladc.com/insights/

how-is-your-data-centre-affecting-your-carbon-footprint diakses 5 Januari 2022

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

resolusi ramah lingkungan

Resolusi Ramah Lingkungan untuk Tahun Baru 2022

Resolusi Ramah Lingkungan untuk Tahun Baru 2022

resolusi ramah lingkungan
seseorang memegang cangkir dengan tumbuhan hijau (sumber: pexels/cats coming)

Memulai tahun baru 2022 dengan resolusi ramah lingkungan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan positif dalam hidup kita. Namun, pembuatan resolusi tahun baru yang ramah lingkungan ini tentunya perlu disertai dengan perencanaan yang realistis sehingga resolusi kita tidak berakhir menjadi hanya “wacana” atau “omong kosong”. Menurut penelitian dari University of Scranton, hanya ada 8% orang yang dapat memenuhi resolusi tahun baru yang mereka buat.

Jadi, bagaimana agar kita bisa menjalankan resolusi tahun baru yang ramah lingkungan secara konsisten dan berkelanjutan?

Fokus pada Kebiasaan yang Paling Ingin Kita Ubah

Resolusi tahun baru ramah lingkungan akan sulit dijalankan jika kita terlalu memiliki banyak prioritas. Mulailah dengan aspek lingkungan yang ingin kita prioritaskan. Kita bisa berefleksi terhadap gaya hidup atau kebiasaan kita masing-masing. Kira-kira, kebiasaan apa saja yang selama ini paling berdampak buruk terhadap lingkungan? Misalnya, jika kita sering menyisakan sampah makanan, kita bisa fokus untuk mencapai target pengurangan sampah makanan di tahun baru.

Mulai dengan Kebiasaan Kecil

Kesalahan umum yang sering terjadi saat kita membuat resolusi tahun baru adalah membuat target besar yang sangat ambisius. Namun, target yang ambisius tersebut seringkali berhenti di tengah jalan. Jadi, lebih baik kita menentukan target yang sederhana dan realistis seperti memulai kebiasaan kecil yang bisa berdampak besar.

Mulai menjalankan kebiasaan #MeatlessMonday atau mengurangi konsumsi daging setiap hari senin contohnya bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi jejak karbon dari konsumsi daging. Kebiasaan ini tentu dapat berdampak baik terhadap lingkungan karena 1 pon daging sapi dapat menghabiskan sekitar 1700 galon air, sedangkan sayuran hanya menghabiskan sekitar 39 galon air. Selain itu, kita juga bisa mencoba resolusi ramah lingkungan sederhana lain seperti memilah sampah dari rumah, mencoba merawat satu tanaman dalam pot, menggunakan barang yang masih bisa dipakai, serta konsisten membawa tumbler dan tas belanja untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Mempertahankan Resolusi Ramah Lingkungan

Setelah berhasil menjalan aktivitas ramah lingkungan, kita harus bisa membuat aktivitas tersebut menjadi kebiasaan atau bagian dari rutinitas kita agar resolusi tahun baru kita bisa tercapai. Cobalah aktivitas ramah lingkungan yang ingin kita capai selama sekitar 3-7 hari berturut-turut sampai aktivitas tersebut terbangun menjadi kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan.

Kita bisa memonitor kebiasaan ramah lingkungan yang sedang kita jalankan dengan mencatatnya pada jurnal harian atau ponsel pintar. Selain itu, kita juga bisa mengunduh aplikasi kalkulator jejak karbon agar jejak karbon yang kita keluarkan tetap terpantau sehingga kita lebih terdorong untuk konsisten menjalankan resolusi tahun baru ramah lingkungan yang kita buat.

Mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar juga dapat memicu kita untuk konsisten menjalankan resolusi tahun baru kita. Cobalah bergabung dengan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap gaya hidup ramah lingkungan sehingga kita bisa lebih termotivasi dan terbantu melalui komunitas tersebut. Kita juga bisa mencari komunitas lingkungan melalui situs Bebas Sampah ID.

Ingat Tujuan Utama Kita Membuat Resolusi Tahun Baru

Salah satu hal yang berpotensi menggagalkan resolusi tahun baru kita adalah kecenderungan kita untuk memilih “reward” lebih kecil yang ada pada saat ini daripada “reward” lebih besar yang bisa kita dapatkan di masa depan. Hal ini disebut juga dengan “present bias”.

Contohnya, dalam situasi tertentu, kadang kita memilih untuk mencampurkan sampah karena lebih mudah dan praktis. Namun, sebenarnya dengan melakukan hal tersebut, kita kehilangan “reward” lebih besar yang akan kita dapatkan di masa mendatang, yaitu lingkungan yang bersih dan sehat.

Oleh karena itu, jangan sampai kita terjebak dalam “present bias”. Cobalah untuk selalu mengingat kembali alasan dan motivasi kita untuk menjalankan resolusi tahun baru ramah lingkungan. Kondisi bumi saat ini sudah semakin buruk akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. BNPB mencatat pada 2021 ada sekitar 3058 bencana di Indonesia yang sebagian besar dipicu oleh perubahan iklim.

Menjalankan resolusi tahun baru yang ramah lingkungan dapat menjadi salah satu solusi untuk mencegah perubahan iklim. Resolusi ramah lingkungan juga secara tidak langsung mendukung terwujudnya konsumsi dan produksi berkelanjutan yang merupakan salah satu tujuan dalam agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Erupsi Gunung Semeru

Erupsi Gunung Semeru, Bagaimana Kaitannya dengan Perubahan Iklim?

Erupsi Gunung Semeru, Bagaimana Kaitannya dengan Perubahan Iklim?

Erupsi Gunung Semeru
Erupsi Gunung Semeru (sumber: Antara Foto/Umarul Faruq)

Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengeluarkan awan panas dan menelan puluhan korban jiwa. Per 17 Desember 2021, BNPB mencatat terdapat 48 orang meninggal, 27 luka-luka, dan 10.571 mengungsi. Kemunculan korban jiwa pada erupsi Gunung Semeru diduga disebabkan karena kurangnya sistem peringatan dini kepada warga. Indonesia memang dikenal sebagai negara cincin api sehingga rawan terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan aktivitas vulkanis. Namun, erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada awal Desember lalu bukan hanya sekedar bencana alam yang terjadi secara natural, para ahli mengungkap bahwa cuaca ekstrem juga turut memicu terjadinya erupsi Gunung Semeru.

Eko Budi Lelono sebagai Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa erupsi Gunung Semeru kemungkinan turut didorong oleh faktor eksternal. Hal ini karena catatan kegempaan relatif rendah dan tidak ada perubahan signifikan terhadap aktivitas suplai magma sepanjang November dan sebelum erupsi. Selain itu, curah hujan tinggi yang terjadi di sekitar puncak gunung telah meruntuhkan bibir lava sehingga memicu terjadinya erupsi.

Sementara itu, seorang pakar dari UNPAD juga menjelaskan bahwa banjir lahar yang terjadi pada saat erupsi Gunung Semeru juga diperparah oleh curah hujan tinggi. Akumulasi material vulkanis dialirkan oleh air dan hanyut ke bawah melalui lembahan dan sungai sehingga kawasan di lembahan Semeru disapu banjir lahar. Jika tidak ada curah hujan tinggi, material vulkanis yang keluar tidak akan langsung menjadi lahar. Namun karena curah hujan tinggi, material vulkanis langsung terkena air dan hanyut ke sungai.

Meningkatnya intensitas curah hujan di Indonesia pada penghujung 2021 disebabkan oleh fenomena La Nina. Fenomena La Nina ditandai dengan peningkatan intensitas curah hujan hingga 70% dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebelumnya, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah memperingatkan adanya kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin puting beliung, dll. Fenomena La Nina ini menjadi sering terjadi akibat perubahan iklim.

Jaminan Kesuburan Tanah dari Erupsi Gunung Semeru

Erupsi Gunung Semeru ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa serta menghancurkan ribuan rumah warga dan fasilitas umum. Namun, alam juga memiliki cara sendiri untuk membangun dan memulihkan kembali dengan memberikan tanah yang lebih subur. Pasir vulkanis dari Gunung Semeru mengandung unsur hara yang penting bagi kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman seperti kalsium oksida (18%), magnesium oksida (3,6%), potasium oksida (2,16%), dan fosfor pentaoksida (2,52%).

Tanah di Indonesia pada umumnya kekurangan fosfor sehingga kebanyakan petani harus memupuk tanamannya dengan pupuk fosfor. Namun, tersedianya unsur fosfor pada pasir vulkanis dapat menjadi peluang untuk menyuburkan tanah dan tanaman. Oleh karena itu, material vulkanis yang memiliki kandungan penting bagi kesuburan tanah ini perlu dimanfaatkan dengan baik alih-alih dibuang ke sungai. Namun, butuh beberapa tahun agar material vulkanis ini dapat digunakan untuk kesuburan tanah sehingga upaya mitigasi seperti perbaikan tata ruang tanggap bencana dan peringatan dini juga perlu dikedepankan.

Erupsi Gunung Semeru telah menunjukan bahwa perubahan iklim dapat memperburuk bencana alam. Sebagai negara yang rawan terkena bencana karena terletak di wilayah cincin api, Indonesia memiliki risiko terdampak oleh perubahan iklim yang lebih besar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi perubahan iklim adalah menjalankan sistem konsumsi dan produksi berkelanjutan sehingga aktivitas ekonomi dapat berdampingan dengan kepentingan pelestarian lingkungan.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://nasional.sindonews.com/read/631883/15/bnpb-48-meninggal-10571-warga-mengungsi-akibat-erupsi-gunung-semeru-1639786338

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211206065834-199-730245/ahli-ungkap-penyebab-erupsi-gunung-semeru

https://theconversation.com/gunung-semeru-meletus-sejarah-erupsinya-dan-jaminan-kesuburan-tanah-untuk-masa-depan-173238

www.unpad.ac.id/pakar-unpad-jelaskan-dampak-cuaca-ekstrem-terhadap-erupsi-gunung-semeru/

https://nasional.sindonews.com/read/

631883/15/bnpb-48-meninggal-10571-warga-mengungsi-akibat-erupsi-gunung-semeru-1639786338

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/

20211206065834-199-730245/ahli-ungkap-penyebab-erupsi-gunung-semeru

https://theconversation.com/

gunung-semeru-meletus-sejarah-erupsinya-dan-jaminan-kesuburan-tanah-untuk-masa-depan-173238

www.unpad.ac.id/

pakar-unpad-jelaskan-dampak-cuaca-ekstrem-terhadap-erupsi-gunung-semeru/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

revolusi hijau

Sejarah Revolusi Hijau dan Dampaknya Hingga Saat Ini

Sejarah Revolusi Hijau dan Dampaknya Hingga Saat Ini

revolusi hijau
Traktor hijau membajak ladang (sumber: pexels/jannis knorr)

Revolusi hijau, sekilas kata ini terdengar seperti sebuah fenomena yang membawa perubahan besar bagi lingkungan. Namun, revolusi hijau ternyata memiliki makna yang menyimpang dengan upaya pelestarian lingkungan. Revolusi hijau adalah reformasi sistem pertanian secara global yang terjadi sejak 1950-an hingga 1960-an. Revolusi hijau bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pangan dengan cara mengubah pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Revolusi hijau memang mampu meningkatkan produksi pangan dan mengatasi krisis kelaparan di berbagai belahan dunia, tapi kini umat manusia harus membayar dampak buruk dari revolusi hijau, seperti kepunahan keanekaragaman hayati, degradasi ekosistem, dan perubahan iklim.

Revolusi hijau dimulai oleh seorang pakar agronomi, Norman Borlaug, yang berhasil menciptakan varietas baru benih gandum pada 1940-an, lalu membudidayakannya di Meksiko. Bukan hanya itu, Norman Borlaug juga mempromosikan penggunaan pupuk kimia dan sistem irigasi modern. Dalam kurun waktu dua dekade, Meksiko yang awalnya negara pengimpor gandum pun mampu meningkatkan dua kali lipat produksi gandumnya hingga menjadi swasembada dan pengekspor gandum. Revolusi hijau pun mulai diterapkan di negara lain seperti India, Pakistan, Turki, dan negara lainnya termasuk Indonesia.

Program revolusi hijau di Indonesia dimulai pada masa orde baru melalui program Bimas (Bimbingan Massal) dan Panca Usaha Tani yang mendorong petani untuk (1) menggunakan bibit unggul (2) Pemupukan (3) Pemberantasan hama dan penyakit (4) Pengairan dan (5) Perbaikan cocok tanam. Program Bimas kemudian berkembang menjadi program Intensifikasi Massal (Inmas). Melalui program Inmas ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi bibit unggul, pupuk, pestisida, dan teknologi lainnya. Sejak Indonesia menjalankan program revolusi hijau, Indonesia mampu swasembada beras.

Dampak Revolusi Hijau

revolusi hijau
Fotografi fokus selektif ladang gandum (sumber: pixabay)

Revolusi hijau hadir untuk mengatasi kelaparan dengan meningkatkan produksi pangan melalui modernisasi pertanian. Meskipun revolusi hijau telah berhasil mengatasi kelaparan untuk beberapa waktu tertentu, krisis pangan pada kenyataannya masih mengintai beberapa negara terutama negara berkembang. Hal ini karena terjadi degradasi ekosistem yang mengakibatkan produksi pangan justru semakin menurun.

Bibit unggul yang digunakan pada masa revolusi hijau adalah benih rekayasa sehingga berbeda dengan bibit atau benih yang biasa digunakan oleh petani tradisional. Bibit unggul didapatkan melalui pengembangbiakan selektif untuk meningkatkan kualitas dengan cara mengembangkan sifat genetik tertentu. Meskipun bibit unggul ini menghasilkan tanaman yang berkualitas, bibit unggul ini tidak bisa dibiakan secara mandiri oleh petani untuk penanaman musim berikutnya. Oleh karena itu, petani harus kembali membeli bibit unggul yang bersertifikat untuk penanaman berikutnya. Dampaknya, petani harus meningkatkan modal produksinya. Selain itu, penggunaan bibit unggul juga menyebabkan kepunahan keanekaragaman hayati karena petani didorong untuk menanam satu jenis tanaman sehingga tanaman lokal yang beragam mulai tersisihkan.

Bibit unggul juga membutuhkan pupuk dan pestisida sintetis serta air yang lebih agar bisa tumbuh maksimal. Oleh karena itu, penggunaan pupuk dan pestisida semakin intensif pada masa revolusi hijau. Sisa residu dari pupuk dan pestisida sintetis ini dapat mencemari tanah sehingga unsur hara di dalam tanah pun menurun. Akibatnya, tanah menjadi tidak subur dan petani menjadi ketergantungan untuk menggunakan pupuk sintetis. Selain itu, penggunaan pestisida sintetis juga menyebabkan populasi hama bermutasi dan menjadi semakin ganas.

Revolusi hijau juga membawa dampak terhadap kehidupan petani. Revolusi hijau membuat modal produksi menjadi lebih mahal karena petani harus membayar lebih untuk pengolahan tanah, bibit unggul, pupuk dan pestisida sintetis. Meningkatnya modal produksi ini memaksa petani yang berada di kelas menengah ke bawah untuk berhutang. Ketika petani berada dalam kondisi putus asa dan tidak bisa membayar hutang, banyak dari mereka yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri seperti yang terjadi di India. Pada 2019, setidaknya 10.281 orang yang bekerja di sektor pertanian di India dinyatakan bunuh diri.

Memulihkan Ekosistem Melalui Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Memulihkan ekosistem yang sudah rusak memang tidak mudah. Revolusi hijau sudah memberikan dampak yang begitu besar sehingga petani pun terlanjur ketergantungan dan enggan untuk beralih ke pertanian yang lebih berkelanjutan karena dinilai tidak ekonomis. Namun, kini konsep agroekologi yang mengedepankan keberlanjutan dan ekonomi pun sudah mulai berkembang. Di Korea contohnya, seorang petani bernama Youngsang Cho mengembangkan sistem pertanian organik yang dapat menurunkan harga produksi. Di Indonesia pun, penggiat agroekologi juga sudah mulai berkembang.

Sebagai konsumen, kita juga bisa menyelamatkan ekosistem mulai dari piring kita seperti mengonsumsi sayuran dan buah lokal, mengompos sisa makanan di rumah, menanam tanaman lokal di pekarangan, dan mulai mencari tahu dari mana asal makanan kita berasal. Hal tersebut secara tidak langsung dapat mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://ojs.unud.ac.id/index.php/soca/article/view/45139/27364https://www.welthungerhilfe.org/news/latest-articles/2021/dark-side-of-the-green-revolution/

https://kumparan.com/berita-hari-ini/mengenal-revolusi-hijau-di-indonesia-program-untuk-modernisasi-pertanian-1wGDeGdDDQY/3

https://www.thoughtco.com/green-revolution-overview-1434948https://www.thoughtco.com/green-revolution-overview-1434948

https://www.downtoearth.org.in/news/agriculture/every-day-28-people-dependent-on-farming-die-by-suicide-in-india-73194

https://ojs.unud.ac.id/index.php/

soca/article/view/45139/27364

https://www.welthungerhilfe.org/news/

latest-articles/2021/dark-side-of-the-green-revolution/

https://kumparan.com/

berita-hari-ini/mengenal-revolusi-hijau-di-indonesia-program-untuk-modernisasi-pertanian-1wGDeGdDDQY/3

https://www.thoughtco.com/

green-revolution-overview-1434948

https://www.thoughtco.com/g

reen-revolution-overview-1434948

https://www.downtoearth.org.in/news/

agriculture/every-day-28-people-dependent-on-farming-die-by-suicide-in-india-73194

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

eco ableism

Mengenal Eco Ableism dan Dampaknya bagi Penyandang Disabilitas

Mengenal Eco Ableism dan Dampaknya bagi Penyandang Disabilitas

eco ableism
Dua Pengendara Sepeda Berlari Satu Sama Lain (Sumber: Pexels/Run 4 FFWPU)

Eco ableism, istilah ini mungkin masih asing dan jarang dibicarakan. Namun, tanpa disadari eco ableism sering terjadi di sekitar kita dan berdampak langsung terhadap penyandang disabilitas. Eco ableism adalah diskriminasi terhadap penyandang disabilitas yang terjadi di dalam gerakan atau aktivisme lingkungan. Eco ableism terjadi ketika usaha untuk melestarikan lingkungan tidak memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas sehingga menyulitkan penyandang disabilitas. Contoh paling umum dari eco ableism adalah kasus pelarangan sedotan plastik yang mengundang kritikan dari kelompok dan aktivis penyandang disabilitas.

Sampah sedotan plastik adalah salah satu permasalahan sampah yang paling banyak disoroti oleh masyarakat. Perhatian masyarakat terhadap isu sampah sedotan plastik pun didorong oleh peristiwa tragis seperti hewan di lautan yang mati akibat memakan atau tersumbat sedotan plastik. Oleh karena itu, masyarakat pun mulai giat mencari alternatif untuk menggantikan sedotan plastik dengan beralih ke sedotan metal, sedotan kertas, sedotan kaca, dan sedotan bambu. Bahkan, beberapa restoran pun mulai menerapkan pelarangan sedotan plastik demi mengurangi dampak sampah plastik terhadap lingkungan. Upaya ini memang patut diapresiasi karena kesadaran masyarakat terhadap dampak sampah plastik mulai meningkat. Namun, pada sisi lain, upaya pelarangan sampah plastik ini mengundang kritik dari kelompok penyandang disabilitas karena dinilai tidak mengakomodasi kebutuhan beberapa penyandang disabilitas atau dalam kata lain eco ableism.

Beberapa penyandang disabilitas seperti disabilitas tanpa tangan dan fungsi genggam membutuhkan sedotan plastik agar bisa minum dengan aman dan nyaman secara mandiri. Sedotan plastik juga dinilai lebih aman dibandingkan dengan sedotan metal yang keras dan dapat menghantarkan panas. Selain itu, sedotan plastik juga dinilai lebih aman bagi beberapa orang yang memiliki alergi terhadap metal. Oleh karena itu, pelarangan sedotan plastik secara penuh tanpa memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas ini menuai kritik dari kelompok dan aktivis penyandang disabilitas karena dinilai sebagai tindakan eco ableism.

Contoh lain dari eco ableism adalah menyingkirkan tempat parkir atau jalur kursi roda demi mengakomodasi tempat parkir atau jalur sepeda. Selain itu, menyalahkan orang untuk menggunakan kendaraan karena dinilai tidak ramah lingkungan juga bisa menimbulkan eco ableism karena beberapa penyandang disabilitas memerlukan bantuan kendaraan untuk mobilitas.

Isu mengenai eco ableism juga menjadi perhatian pada saat KTT Perubahan Iklim di Glasgow atau COP 26 (Conference of the Parties). Penyelenggaraan COP 26 dinilai kurang ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Karine Elhararr, seorang menteri dari Israel yang merupakan penyandang disabilitas mengeluhkan bahwa dia tidak bisa menghadiri salah satu sesi di COP 26 karena salah satu lokasinya sulit diakses oleh kursi roda.

Pada dasarnya, eco ableism disebabkan oleh diskriminasi dan penindasan secara sistemik yang terjadi di masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Hal tersebut dikenal juga dengan istilah ableism. Oleh karena itu, ableism bukan hanya ada dalam gerakan lingkungan, tapi juga dapat terjadi di ruang dan lingkup yang lainnya. Lalu, bagaimana cara untuk mencegah eco ableism?

Melibatkan Penyandang Disabilitas dalam Kebijakan Lingkungan

eco ableism
Ilustrasi tangan seseorang sedang membaca buku dalam huruf braille (sumber: pexels/yan krukov)

Untuk memastikan bahwa kebijakan lingkungan tidak mendiskriminasi penyandang disabilitas dan tidak mengarah pada tindakan eco ableism, tentunya penyandang disabilitas perlu dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan atau kebijakan lingkungan. Melibatkan penyandang disabilitas dalam kebijakan lingkungan juga penting karena mereka merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim.

Perubahan iklim membuat bencana ekstrem menjadi lebih sering terjadi. Akibat kurangnya penanganan risiko bencana yang inklusif, penyandang disabilitas dapat mengalami kesulitan ketika proses evakuasi. Sebagai contoh, 12 penyandang disabilitas tewas ketika banjir seketika melanda Kota Sinzig di Jerman. Selain itu, banyak bus evakuasi yang tidak bisa diakses oleh kursi roda dan penyandang disabilitas tunarungu dan tunanetra juga kesulitan untuk mendapatkan informasi darurat ketika dalam proses evakuasi.

Fokus Pada Perubahan Sistem

Beberapa contoh kasus eco ableism merupakan isu mengenai perubahan perilaku dalam tingkat individu. Perubahan perilaku tingkat individu untuk beralih ke gaya hidup yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan memang baik dan perlu didukung, namun tidak semua kalangan masyarakat memiliki privilese atau kemampuan untuk beralih ke gaya hidup ramah lingkungan. Oleh karena itu, alih-alih menghakimi seseorang hanya karena memilih pilihan yang dinilai “tidak ramah lingkungan”, sebaiknya gerakan lingkungan juga fokus pada perubahan sistemik dan menuntut setiap pihak baik pemerintah atau swasta untuk bertanggung jawab. Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan permasalahan lingkungan keduanya merupakan masalah sistemik sehingga memerlukan solusi yang sistemik pula.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://difabel.tempo.co/read/1521781/pentingnya-sedotan-bagi-penyandang-disabilitas-tanpa-tangan-dan-fungsi-genggam diakses 3 Desember 2021

https://www.bbc.com/news/world-59128618 diakses 3 Desember 2021

https://foe.scot/eco-ableism-and-the-climate-movement/ diakses 3 Desember 2021

https://www.bbc.com/news/disability-59042087 diakses 3 Desember 2021

https://difabel.tempo.co/read/1521781/pentingnya-sedotan-bagi-penyandang-disabilitas-tanpa-tangan-dan-fungsi-genggam diakses 3 Desember 2021

https://www.bbc.com/news/world-59128618 diakses 3 Desember 2021

https://foe.scot/eco-ableism-and-the-climate-movement/ diakses 3 Desember 2021

https://www.bbc.com/news/disability-59042087 diakses 3 Desember 2021

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim