Author Archives: Christiani Yohanna

Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan. (Sumber: Freestocks/Unsplash)

Dalam industri fashion, kita mungkin mengenal dua istilah yang saling bertolak belakang, yaitu fast fashion dan sustainability fashion. Fast fashion merupakan industri fashion yang bergerak sangat cepat, dengan koleksi baru yang siap untuk diluncurkan setiap minggu dan dijual dengan harga yang relatif murah. Sebaliknya, sustainable fashion sering dikaitkan dengan produk fashion yang menggunakan bahan-bahan lebih ramah lingkungan, seperti memanfaatkan daur ulang maupun bahan alami.

Sebagian besar orang menyadari bahwa ketika mereka membeli produk fast fashion yang harganya murah, sebenarnya mereka sama saja ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan manusia. Pakaian dengan bahan yang tidak ramah lingkungan akan berpotensi merusak bumi kita ketika pakaian tersebut sudah tidak lagi bisa dipakai dan berujung hanya akan menjadi sampah.

Fast fashion sangat erat kaitannya dengan “limbah fashion”. Fast fashion menjadi salah satu penyebab terbesar polusi limbah fashion yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, maupun penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat menyebabkan climate change (perubahan iklim).

Industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya, sehingga kerap kali disebut tidak etis (unethical). Kebanyakan industri fast fashion terletak di Asia dan beberapa negara berkembang, seperti Bangladesh, India, bahkan Indonesia. Biasanya mereka akan mempekerjakan wanita yang berpendidikan rendah, wanita muda, dan imigran (bukan penduduk asli negara tersebut). Kemudian para pekerja harus bekerja selama 14 jam/hari, diberikan upah yang rendah, tidak ada jaminan asuransi jiwa ataupun jaminan keselamatan kerja, serta harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya untuk memproduksi produk fast fashion.

Produksi dan konsumsi yang berlebihan

Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian
Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian. (Sumber: Sarah Brown/Unsplash)

Kita mungkin lebih merelakan t-shirt atau celana panjang murah untuk disumbangkan daripada tas dari merek ternama. Akan tetapi kita perlu ingat bahwa barang-barang yang diproduksi oleh merek mewah juga sebagian besar tidak ramah lingkungan.

Sebagai contoh, sebuah fashion brand ternama asal London mendapat kecaman pada tahun 2018 karena membakar stok yang tidak terjual senilai hampir 40 juta dollar AS. Hal itu dilakukan untuk mencegah barang-barang tersebut dijual dengan harga lebih rendah atau diskon, sekaligus meningkatkan daya tarik merek di mata publik.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa setiap detiknya sampah tekstil dalam satu truk sampah dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selain itu, industri fast fashion juga dinilai menyumbang limbah sebanyak 20 persen dan emisi karbon 10 persen.

Dampak yang Ditimbulkan dari Industri Fast Fashion

Ilustrasi Industri Fast Fashion
Ilustrasi Industri Fast Fashion. (Sumber: John Cameron/Unsplash)

Industri fast fashion tentunya memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan, bahkan terhadap manusia sendiri. Di antaranya adalah:

Meminimalisasi Dampak Fast Fashion dengan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan salah satu kunci mengurangi dampak fast fashion. Secara praktis, berikut merupakan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari dampak dari industri fast fashion:

Dilansir dari laporan Fixing Fashion, memperpanjang masa aktif 50% pakaian hingga sembilan bulan akan menghemat: 8% karbon, 10% air, 4% limbah per metrik ton pakaian.

Serat sintetis berbasis minyak bumi seperti poliester membutuhkan lebih sedikit air dan tanah dibandingkan kapas, tetapi serat ini memancarkan lebih banyak gas rumah kaca per kilogram. Polimer sintetis berbasis bio yang dibuat dari tanaman yang dapat diperbarui seperti jagung dan tebu melepaskan emisi karbon hingga 60% lebih sedikit. Label harus menunjukkan apakah pakaian dibuat menggunakan polyester daur ulang (rPET).

Di Inggris, beberapa merek yang berkelanjutan dan vintage menawarkan layanan perbaikan seumur hidup. Sebanyak 59% pengecer besar termasuk IKEA dan GAP berjanji meningkatkan penggunaan poliester daur ulang dengan minimum 25% pada tahun 2020. Belanja dan beramal Pada 2017, sebelas ribu toko amal Inggris menyelamatkan 330 ribu metrik ton tekstil dari TPA, dan membantu mengurangi emisi karbon hingga jutaan ton per tahun melalui penggunaan kembali dan daur ulang pakaian bekas.

Asosiasi Tanah mengatakan kepada Komite Audit Lingkungan, peningkatan produksi kapas organik dapat meminimalkan dampak lingkungan dari industri fast fashion, karena akan mengurangi penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan air.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://lifestyle.kompas.com/read/

2021/05/07/155527320/jangan-cuma-belanja-pakaian-ketahui-juga-dampak-fast-fashion-pada?page=all diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/ diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://www.fimela.com/fashion/read/

4465856/kenali-istilah-fast-fashion-dan-dampaknya-bagi-kehidupan diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://mediaindonesia.com/weekend/

238334/ini-7-cara-menghentikan-fast-fashion diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut. (Sumber: nationalgeographic.grid.id)

Parasetamol terkenal di kalangan masyarakat sebagai obat pereda rasa nyeri dan dapat menurunkan panas. Jenis obat ini telah dikonsumsi oleh masyarakat sebanyak ribuan ton per tahunnya. Dikutip dari Kompas.com, pada awal Oktober 2021 lalu, ditemukan kandungan parasetamol berkonsentrasi tinggi yang tercemar di daerah Muara Angke dan Ancol, Jakarta Utara.

Akibat tercemarnya parasetamol tersebut menyebabkan kawasan Teluk Jakarta memiliki air laut yang berubah warna dari biru menjadi merah kecoklatan. Hal ini juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat sekitar seperti nelayan yang harus mencari ikan hingga ke tengah lautan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Brighton asal Inggris, mengungkapkan bahwa konsentrasi parasetamol tinggi yang tercemar di Teluk Jakarta mengandung 610 nanogram per liter pada Muara Sungai Angke dan sebanyak 420 nanogram per liter pada Muara Sungai Ciliwung Ancol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan ke publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak mengetahui adanya kadar parasetamol tinggi pada perairan Teluk Jakarta.

Namun, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusiono berdalih bahwa pihak pemerintah tidak pernah menganalisis adanya kadar parasetamol pada perairan Jakarta dikarenakan menurutnya zat tersebut tidak termasuk dalam daftar indikator pencemaran lingkungan.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Peraturan Pemerintah itu menyebutkan bahwa ada 38 parameter yang merupakan indikator dari pencemaran lingkungan dan parasetamol tidak termasuk di dalamnya. Meskipun demikian, pihak Pemprov DKI Jakarta rutin meneliti kualitas air laut Ibukota setiap enam bulan sekali sesuai perintah perundangan.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI DKI Jakarta) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi mengungkap pendapatnya bahwa obat parasetamol tidak termasuk dalam parameter pencemaran lingkungan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rehabilitasi Teluk Jakarta termasuk dalam daftar kegiatan strategis. Oleh karena itu, sudah seharusnya upaya pencegahan pencemaran lingkungan dilakukan oleh pemerintah.

Tubagus juga mengungkapkan penelitian yang telah dilakukan oleh BRIN dan Universitas Brighton pada tahun 2018-2019 lalu memiliki proses penelitian yang panjang sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi bersama LIPI serta ahli dari berbagai bidang terkait dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini, karena setiap terjadi pencemaran lingkungan dipastikan akan mempengaruhi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Terkait sumber limbah tersebut, Tubagus mengatakan banyak dugaan yang bisa menjadi penyebab tercemarnya Teluk Jakarta. Untuk dapat memastikan hal tersebut, sudah diungkapkan melalui peneliti yang sempat terlibat dalam studi yang terbit di jurnal Science Direct pada Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 hingga 70 persen pencemaran di laut yang sumbernya datang dari daratan atau antropogenik (dilakukan manusia).

Dalam kasus pencemaran air di daerah Muara Angke dan Ancol oleh parasetamol konsentrasi tinggi, kemungkinan besar menurut peneliti sumbernya berasal dari daerah Jabodetabek. Dugaan pertama yaitu bisa karena gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, obat-obatan kadaluarsa atau rusak kemudian dibuang sembarangan. Dugaan kedua yaitu instalasi pembuangan air limbah yang tidak optimal.

Peneliti menjelaskan, parasetamol tidak bisa terendapkan oleh jaring limbah yang saat ini digunakan. Ini artinya, kita memerlukan inovasi teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Sementara itu, Dr. Wulan Koaguow yang juga Peneliti Oseanografi BRIN dan terlibat dalam penelitian menambahkan bahwa sebenarnya semua obat-obatan bisa menjadi kontaminan lingkungan.

Langkah Mengolah Sampah Obat yang Tepat

Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat
Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat. (Sumber: Wikihow)

Generasi Hijau, berikut beberapa langkah tepat yang dapat kita lakukan dalam mengelola sampah obat-obatan yang sudah kadaluarsa ataupun rusak sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah hingga terjadinya pencemaran lingkungan seperti peristiwa pada perairan di Teluk Jakarta yang disebabkan oleh parasetamol berkonsentrasi tinggi. Di antaranya adalah:

Obat yang belum lewat dari tanggal kadaluarsa bisa kita donasikan ke klinik amal untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini hanya berlaku untuk kondisi obat yang masih bagus. Artinya, obat masih berada dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol yang belum dibuka atau masih tersegel rapi.

Sementara untuk obat yang sudah kadaluarsa, bisa kita titipkan ke apotik, rumah sakit, ataupun pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa. Namun, sebelum kita titipkan jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Seperti misalnya, stiker pada botol yang disobek, kotak kemasan yang digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa ada pihak yang bisa menyalahgunakan obat kadaluarsa ini.

Apabila jumlah obat yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, kita dapat juga dititipkan seperti di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen. Vitamin dan mineral cair bisa dipakai sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman. Jika obat berbentuk kapsul, isinya bisa dikeluarkan, sedangkan obat yang berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti obat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak ataupun hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut. Untuk obat-obatan ini direkomendasikan untuk dibuang dengan cara diguyur ke dalam toilet segera setelah tidak lagi digunakan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://propertyobserver.id/cara-mengelola-sampah-obat-kita/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.liputan6.com/news/read/

4676263/headline-perairan-teluk-jakarta-tercemar-parasetamol-seberapa-bahaya diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2021/

10/04/130100923/teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-peneliti-duga-sumbernya-dari-sini?page=all diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.alinea.id/nasional/seberapa-bahaya-parasetamol-yang-mencemari-teluk-jakarta-b2cCa97m8 diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Coral Bleaching

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Ilustrasi Coral Bleaching
Ilustrasi Coral Bleaching. (Sumber: theguardian.com)

Sekitar 18% terumbu karang dunia tumbuh di Indonesia, dengan luas mencapai 50.785 kilometer persegi. Terumbu karang memberikan tempat bernaung bagi ikan hias dan ikan santap, melindungi daerah pesisir dari erosi dan badai, serta memberikan penghidupan bagi nelayan serta pekerja industri wisata. Begitu banyak manfaat dari terumbu karang di laut kita. Sayangnya, ada satu ancaman terhadap eksistensi terumbu karang, yakni coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Mengenal Coral Bleaching

Terumbu karang terdiri dari banyak polyps yaitu binatang kecil yang berbentuk kantung dan memiliki ujung yang mekar dengan tentakel-tentakel kecil. Di dalam polyps, terdapat ganggang hidup yang ukurannya sangat kecil dan disebut zooxanthellae. Ganggang kecil ini yang memberikan warna pada terumbu karang.

Hubungan antara terumbu karang dengan zooxanthellae termasuk ke dalam hubungan simbiosis mutualisme di mana terumbu karang menyediakan tempat tinggal untuk ganggang kemudian tumbuhan laut tersebut memberikan gizi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Namun, ketika terjadi perubahan suhu pada air laut, ganggang tersebut akan meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. Salah satu dampak yang akan terjadi ketika ganggang kecil tersebut pergi adalah bagian luar dari terumbu karang yang berwarna putih akan terlihat karena polyps tidak memiliki warna (transparan). Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Dilansir dari National Geographic, hingga saat ini pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sudah terjadi di wilayah Australia hingga Madagaskar. Selama tahun 2014 sampai tahun 2017, terjadi peristiwa coral bleaching terbesar di dunia dan telah mencapai angka 70%. Meski masih mampu bertahan hidup tanpa adanya ganggang, akan tetapi terumbu karang akan menjadi rentan terserang penyakit. Terlebih jika suhu air laut yang mengalami kenaikkan suhu, maka kemungkinan besar terumbu karang akan mati. Sekalipun suhu air laut kembali normal dan ganggang kembali ke dalam terumbu karang, maka memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun kemudian agar terumbu karang dapat pulih secara sempurna.

Penyebab Utama Terjadinya Coral Bleaching

Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati
Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati. (Sumber: marineconservation.org.au)

Penyebab utama terjadinya coral bleaching adalah karena perubahan suhu, polusi, dan penangkapan makhluk laut yang berlebihan. Kenaikkan suhu air laut baik di atas ataupun di bawah dari suhu normal dapat memicu terjadinya peristiwa coral bleaching. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik atau secara optimal di laut tropis pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius.

Ketika terjadi perbedaan suhu 2 hingga 3 derajat celsius di atas ataupun di bawah dari suhu normal dalam kurun waktu antara satu sampai dua minggu, terumbu karang akan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya coral bleaching. Ketika perubahan suhu terjadi hingga satu bulan, maka seluruh koloni karang, karang lunak, anemon dan zoanthid akan memutih bahkan akan mengalami kematian pada minggu keenam.

Massa air hangat di laut juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sementara penurunan suhu laut juga dipengaruhi Indian Ocean Dipolemode, terutama pada coral bleaching di bagian barat Sumatera, kadang-kadang disebabkan oleh turunnya suhu di bawah normal yaitu kurang dari 26 derajat celsius.

Dapatkah Terumbu Karang yang Mengalami Coral Bleaching Kembali Pulih?

Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat
Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat. (Sumber: gilisharkconservation.com)

Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul di benak kita setelah membaca uraian mengenai coral bleaching. Pemulihan terumbu karang akan tergantung pada jenis terumbu karang serta tingkat stress yang dialami oleh terumbu karang akibat perubahan suhu air laut di sekelilingnya.

Beberapa terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, seperti terumbu karang dari kelompok Pociliporoid dan Acroporoid. Sementara, ada juga jenis terumbu karang yang cukup kuat untuk tetap bertahan dalam mengalami perubahan suhu air laut, seperti terumbu karang jenis Porites dan polyp besar. Terumbu karang jenis ini akan kembali normal apabila kenaikkan suhu tidak lebih dari enam minggu hingga satu bulan. Namun, apabila kenaikkan suhu air laut hanya terjadi selama dua hingga tiga minggu, biasanya terumbu karang dapat bertahan dan akan segera pulih kembali warnanya seperti semula.

Pada prinsipnya, sebenarnya terumbu karang hanya mengalami stress dan jika faktor penyebab stress tersebut hilang seperti suhu yang kembali normal maka karang akan segera pulih kembali. Kondisi sebaliknya bisa terjadi yaitu coral bleaching yang sangat parah diikuti oleh faktor lain yang memperparah kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contohnya yaitu ketika terjadi coral bleaching secara bersamaan dengan waktu transisi pada musim peralihan. Pada kondisi ini, air laut sangat tenang ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini biasanya akan muncul berbagai pertumbuhan filamentus, turf alage, cyanobacteria dan penyakit karang. Jika hal ini terjadi maka akan sangat berakibat fatal.

Intervensi Manusia pada Pemulihan Terumbu Karang

Pada dasarnya, terumbu karang bisa memulihkan diri sendiri. Akan tetapi, Generasi Hijau pun juga dapat mengambil berbagai langkah untuk memulihkan terumbu karang yang memutih, serta mencegah pemutihan pada terumbu karang yang sehat.

Menjalankan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dalam kehidupan sehari-hari ataupun saat berwisata, dapat menjadi solusi. Walau hidup jauh dari laut, Generasi Hijau yang bercocok tanam dapat menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida agar senyawa kimia tidak masuk dalam saluran air yang akan berakhir di laut. Generasi Hijau juga bisa memilah sampah agar tidak ada sampah yang tercecer dan berakhir di laut. Di rumah, hematlah air, agar mengurangi air sisa yang kotor dan dapat mencemari laut.

Saat berwisata di pantai, Generasi Hijau dapat menggunakan tabir surya ramah lingkungan, agar senyawa kimia berbahaya tidak larut dalam air laut ketika berenang. Dalam aktivitas diving atau snorkeling, pastikan jangkar kapal tidak menyentuh terumbu karang. Pastikan juga Generasi Hijau tidak menyentuh terumbu karang, dan tidak ada limbah yang dibuang dari kapal ke laut. Terakhir, tentu saja, jangan buang sampah di pantai atau laut, dan ikuti kegiatan volunteer membersihkan pantai, seperti yang dilakukan kawan-kawan EcoRanger di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.

Dalam jangka yang lebih panjang, menghambat pemanasan global adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan coral bleaching. Jadi, pastikan juga Generasi Hijau sudah memulai langkah menghambat pemanasan global, seperti beralih ke energi terbarukan, menggunakan transportasi umum atau transportasi tanpa bahan bakar fosil, serta membaca label karbon pada produk yang Generasi Hijau konsumsi.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

http://coremap.or.id/berita/1172 diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131623449/coral-bleaching-fenomena-hilangnya-warna-indah-terumbu-karang diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://reefresilience.org/id/stressors/bleaching/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/18/173000923/cegah-pemutihan-terumbu-karang-diberi-makan-bakteri-probiotik?page=all diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.instagram.com/p/CUWZcP_h7Nz/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua. (Sumber: Shutterstock)

Perubahan iklim telah memberi dampak besar bagi dunia, tak terkecuali juga Indonesia. Gletser kebangaan Indonesia yang berada di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, atau sering disebut juga sebagai Puncak Carstensz ini ternyata ikut terkena dampak dari memanasnya suhu bumi. Gletser yang terletak di Taman Nasional Lorentz di Provinsi Papua merupakan gletser tropis terakhir yang ada di Asia. Beberapa orang menyebut gletser ini dengan sebutan “Gletser Keabadian” yang meski pada kenyataannya, gletser ini tentu tidak akan bisa bertahan lama. Gletser yang berada di atas puncak Pegunungan Jayawijaya ini merupakan sisa dari daratan es yang terbentuk sekitar 5.000 tahun lalu.

Gletser tropis merupakan salah satu indikator perubahan iklim yang paling sensitif. Kini jumlahnya semakin sedikit yang tersisa di dunia. Selain di Papua, gletser tropis juga terdapat di Amerika Selatan dan Afrika. Sedangkan, Pegunungan Jayawijaya merupakan pegunungan tertinggi di Indonesia, puncak tertinggi antara pegunungan Himalaya dan Andes. Pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, penurunan suhu dan hujan berubah menjadi salju, selanjutnya akan membentuk es dan akan memadat menjadi gletser. Indonesia adalah salah satu wilayah terbasah di bumi, dan hujan turun di kawasan Papua hampir 300 hari dalam setahun. Akan tetapi, suhu yang memanas membuat hujan tidak lagi berubah menjadi salju. Akibatnya, gletser mencair dari atas dan bawah.

Peneliti senior BMKG, Donaldi Permana, mengatakan bahwa sebagian orang Indonesia masih kurang mengetahui keberadaan gletser ini. Meskipun puncak Pegunungan Jayawijaya tidak memiliki es pada daerah puncaknya namun terdapat beberapa lapisan es di sekitarnya. Ia juga menjelaskan bahwa proses mencairnya es pada gletser yang tergolong cepat tersebut dapat dilihat berdasarkan data mengenai penyusutan luasan wilayah gletser dari tahun 1850 hingga 2018.

Pada tahun 1850, gletser memiliki luas 19,3 km2. Kemudian pada tahun 1972, luas gletser menyusut menjadi 7,3 km2. Data pada tahun 2018 menunjukkan kondisi luas gletser yang mencapai 0,5 km2. Melihat hal ini, para ilmuwan memperkirakan bahwa gletser puncak Pegunungan Jayawijaya akan benar-benar menghilang pada tahun 2026 nanti, akan tetapi gletser diprediksi kemungkinan terburuknya bisa punah atau menghilang pada tahun 2021 ini. Tentunya hal Ini menjadi petunjuk penting bagaimana perubahan iklim bumi yang semakin dekat.

Penyebab Penyusutan Gletser

Ilustrasi Glester yang Meleleh
Ilustrasi Gletser yang Meleleh. (Sumber: Christopher Michel/Flickr)

Penyebab dari penyusutan gletser ini adalah perubahan iklim yang ekstrim yang ditandai dengan pemanasan global. Mengutip laporan Indonesian Third National Communication, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celcius dan suhu permukaan naik sebanyak 0,25 derajat celcius per dekade.

Di Indonesia khususnya, fenomena El Nino memperparah penyusutan gletser di Papua yang terjadi semakin cepat dari tahun ke tahun. Fenomena El Nino merupakan peristiwa iklim di mana suhu permukaan air laut dan suhu atmosfer meningkat. Fenomena ini terjadi ketika udara hangat memangkas curah hujan sehingga akan menyebabkan daerah sekitarnya menjadi mengering.

Sebagai dampaknya, penyusutan gletser ini akan berdampak pada daerah-daerah di sekelilingnya. Dampak lainnya juga dirasakan oleh masyarakat suku asli Papua yang menganggap gletser ini adalah dewa sehingga menyusutnya gletser ini dianggap akan kehilangan sosok pemimpin dalam budaya dan adat di suku Papua tersebut.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya
Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya. (Sumber: Shutterstock)

Fenomena El Nino merupakan faktor pendorong terbesar penyusutan gletser ini. Namun, tidak hanya penyusutan gletser saja yang terdampak oleh fenomena tersebut, melainkan kebakaran hutan yang juga menarik perhatian pemerintah dalam memperhatikan dampak yang disebabkan oleh fenomena El Nino.

Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan 16 provinsi berisiko mengalami kebakaran hutan menjelang fenomena El Nino yang ditentukan oleh pola iklim. Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino dapat diantisipasi oleh pemerintah. Apabila fenomena El Nino dapat dikendalikan, maka harapannya akan tersisa untuk gletser terakhir di Indonesia.

Diskusi mengenai El Nino lebih banyak berputar soal isu mitigasi ketimbang pencegahan. Dalam isu gletser Jayawijaya, mitigasi akan membantu penduduk Papua merespons akibat dari penyusutan gletser dan tentunya perubahan iklim, namun tidak membantu pencegahan penyusutan gletser itu sendiri.

Konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menjadi kunci pencegahan penyusutan gletser. Semakin banyak orang memilih barang dan jasa yang terbukti lebih ramah lingkungan dan menghasilkan lebih sedikit karbon, produsen akan terdorong untuk menyesuaikan permintaan pasar dengan memproduksi barang dan jasa yang lebih ramah lingkungan pula. Mengurangi konsumsi energi fosil dengan cara menghemat listrik, transisi ke energi terbarukan, serta menggunakan transportasi umum menjadi beberapa cara sederhana untuk memulai langkah tersebut.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/05/183300823/puncak-jaya-papua-gletser-terakhir-di-asia-yang-diprediksi-punah-tahun?page=all diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.suara.com/news/2020/12/04/165957/puncak-jaya-di-papua-jadi-gletser-tropis-terakhir-di-dunia-terancam-punah diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.dw.com/id/gletser-di-papua-akan-punah-dalam-satu-dekade/a-51653411 diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/13/ragam-upaya-mencegah-hilangnya-salju-papua diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2020/06/17/the-last-glacier-runtuhnya-salju-abadi-papua/ diakses pada tanggal 30 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Gambar 1

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Latar Belakang

Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) merupakan infrastruktur pengelolaan sampah yang dikelola oleh Greeneration Foundation di bawah program EcoRanger dan telah berjalan hampir tiga tahun. Sentra Kelola Sampah, merupakan infrastruktur pengelolaan sampah satu-satunya di daerah Dusun Pancer. Di SEKOLA, sampah dikumpulkan dan dipilah lalu dilakukan pendataan terkait jumlah sampah. Setelah itu, sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sampah yang bisa direcycle dijual ke industri daur ulang dan sisanya dibuang ke TPA. Sampai saat ini, SEKOLA berhasil memberikan pelayanan pengelolaan sampah ke 300 KK. SEKOLA merupakan program pilot yang diharapkan dapat diperbesar cakupan jangkauan layanannya melalui kerja sama multi pihak di Dusun pancer, terutama Pemerintah Desa.

Namun, proses pengolahan sampah tidak efisien di SEKOLA masih tidak efisien karena pemilahan sampah oleh masyarakat dari sumber untuk daerah domestik layanan SEKOLA masih kurang dari 5%. Ketidakefisienan dalam melakukan pemilahan di sumber menyebabkan biaya operasional yang membesar dan menurunkan tingkat daur ulang. Padahal, pemilahan di sumber merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah sampah ke TPA.

Riset ini dilakukan untuk meningkatkan pemilahan dari sumber di Dusun Pancer dengan menginvestigasi pemahaman dan perilaku masyarakat di Dusun terkait dengan sampah. Tujuan-tujuan dari riset ini adalah:

 

      1. 1. Menganalisis tingkat pemilahan sampah dari sumber, baik klien SEKOLA maupun non-klien;
    1. 2. Menganalisis kondisi sosial dan budaya masyarakat Dusun Pancer untuk mendukung program edukasi persampahan;
    2. 3. Mengidentifikasi regulasi persampahan yang berlaku di Dusun Pancer beserta keberjalanan penegakannya;
    3. 4. Memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan pemilahan sampah di Dusun Pancer.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tempat yang sama dengan letak SEKOLA, yaitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (peta lokasi dapat dilihat pada Gambar 1). Dusun Pancer terdiri dari 3 RW dan 21 RT dengan jumlah penduduk (2017) sebanyak 1.648 KK dan 4.888 jiwa. Di Dusun Pancer juga terdapat dua pantai utama yang menjadi tempat berkunjungnya wisatawan, yaitu Pantai Pulau Merah & Pantai Mustika.

Gambar 1
Gambar 1 Peta Lokasi Dusun Pancer

Kegiatan penelitian ini dilakukan khusus di RW 2 dan RW 3 yang merupakan cakupan wilayah layanan SEKOLA. Proses pengambilan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling yang dilakukan ke 50 orang di RW 2 dan 54 orang di RW 3 di mana dari 104 orang tersebut 56 diantaranya adalah klien yang berlangganan layanan SEKOLA dan 48 orang lainnya adalah non-klien. Pengambilan data ini dilakukan untuk mengidentifikasi penyampaian informasi dan komunikasi, perilaku memilah dan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, dan evaluasi keberjalanan Ecoranger dan SEKOLA. Pertanyaan yang digunakan terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Data yang dikumpulkan merupakan campuran antara data kuantitatif dan kualitatif. Topik-topik pertanyaan yang ditanyakan adalah terkait karakteristik demografi, cara berkomunikasi, penyebaran informasi, keadaan kelompok masyarakat, pengetahuan umum mengenai persampahan, konsep 3R, pewadahan sampah, biaya retribusi, dan peraturan persampahan.
  • Wawancara semi-terstruktur dilakukan menggunakan beberapa set pertanyaan yang terkait pengelolaan sampah di Dusun Pancer berdasarkan lima aspek persampahan, yaitu: partisipasi masyarakat, operasional, pendanaan, regulasi, dan institusi. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling agar pemangku kepentingan yang dipilih beragam dari berbagai macam pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
  • Lembaga lokal (Ketua RT, Ketua RW 2 dan Ketuan RW 3, Kepala Dusun, KUB, Pokmas, DLH Banyuwangi)
  • Industri daur ulang (3 orang pengepul dan 3 orang dari industri daur ulang)
  • Petugas persampahan (2 orang pemulung dan 1 orang petugas pengangkut sampah)

Sampling sampah dilakukan menggunakan metode kuadran. Sampling sampah ini dilakukan untuk mencari tahu komposisi dan berat jenis sampah, jika dibutuhkan untuk memperluas SEKOLA. Sampling dilakukan sebanyak dua kali di SEKOLA, yaitu satu kali saat weekday dan satu kali saat weekend, setelah semua sampah telah diangkut ke SEKOLA. Jumlah sampel sampah yang diambil adalah 25% dari sampah yang masuk di hari tersebut. Sampling sampah dilakukan menggunakan sampling box untuk menghitung berat, volume, dan densitas dari sampah dengan ukuran 100 cm x 21 cm x 21 cm. Sampah dipilah menjadi 8 jenis, yaitu organik, plastik, kresek, logam, kertas, kaca, karet, dan residu

Hasil Penelitian

Demografi Responden Penduduk

Dari 104 responden penduduk yang diwawancarai, 67,3% diantaranya adalah wanita. Usia responden terbanyak adalah di antara 36 hingga 45 tahun. Sekitar 43% responden merupakan lulusan sekolah dasar dan hampir separuh responden memiliki pendapatan kurang dari Rp 2.000.000 per bulannya. Seluruh responden penduduk ini berasal dari RW 2 dan RW 3 Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi. Jumlah warga yang diwawancarai sebanyak 56 orang klien dan 48 orang non-klien. Rangkuman data mengenai demografi responden dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2a
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2b
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2c
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2d
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan

Kondisi Sosial

Informasi dan Komunikasi

Berdasarkan hasil wawancara, sekitar 90% responden memperoleh informasi tentang sesuatu hal di lingkungan mereka melalui ketua RT/RW tempat mereka tinggal dan 74% responden memperoleh informasi melalui pengumuman lewat masjid. Untuk cara penyampaian informasi lain seperti melalui tetangga, keluarga, puskesmas, PKK, karang taruna, atau media digital, digunakan hanya sebagian kecil responden saja (2%-22%). Hal ini didukung juga dengan temuan bahwa hanya sekitar 48% responden yang menggunakan media digital dan hanya 12,5% responden yang menggunakan media digital sebagai media untuk menyebarkan informasi. Tidak ada perbedaan yang jauh antara cara memperoleh informasi antara klien dan non klien seperti tertera pada Gambar 3. Klien lebih banyak menggunakan facebook tetapi secara keseluruhan baik di klien maupun non-klien, Whatsapp tetap paling banyak digunakan sebanyak 29% responden. Meskipun demikian, masih cukup banyak responden yang menggunakan telepon langsung (di luar aplikasi pengirim pesan) untuk menyampaikan berita dan/atau informasi seperti yang tertera pada bagian lainnya di Gambar 3 (b).

Gambar 3a
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital
Gambar 3b
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital

Kegiatan komunal yang biasa diikuti dan dinantikan oleh masyarakat adalah pengajian (90%), festival petik laut (67%), dan kegiatan sosial (65%). Kumpul rutin mingguan juga diikuti oleh sebagian kecil masyarakat (28%). Perbandingan kegiatan komunal yang diikuti dan dinantikan relatif sama antara klien dan non-klien layanan SEKOLA.

Gambar 4
Gambar 4 Kegiatan Komunal

Kelompok Masyarakat di Bidang Lingkungan

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa Dusun Pancer didominasi oleh masyarakat pendatang dari daerah lain di banyuwangi maupun dari luar banyuwangi. Terdapat beberapa kelompok yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan minat dan peruntukkan yang berbeda-beda, seperti asosiasi nelayan, KUB Bina Karya, KUB Sekar Arum, POKMAS wisata, karang taruna, dan perkumpulan Ibu PKK. Karena memiliki tujuan yang berbeda, kelompok-kelompok ini tidak bersaing satu sama lain. Selain Ecoranger, tidak ada kelompok masyarakat lain yang fokus pada lingkungan, terutama persampahan. Secara umum, beberapa masyarakat dan kelompok-kelompok ini mendukung kegiatan lingkungan dan memiliki kepedulian sosialisasi yang cukup tinggi.

Walaupun begitu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kegiatan sosial dan lingkungan kelompok-kelompok yang ada dan juga kebanyakan masyarakat bersikap acuh kegiatan ini. Keacuhan ini ditenggarai disebabkan utamanya oleh kelompok-kelompok ini yang kurang merangkul dan terkesan eksklusif. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ada dilakukan hanya untuk anggota kelompoknya sendiri. Hal ini menjadi kendala untuk pengembangan kegiatan lingkungan yang sifatnya mengajak orang banyak. Kemudian, ada beberapa konflik yang terjadi akibat adanya pertambangan dan warga yang mendukung dan menolak kegiatan tambang yang dilakukan oleh perusahaan tambang yang tersebar di seluruh wilayah Dusun Pancer tanpa adanya afiliasi khusus dengan kelompok-kelompok yang ada.

Kondisi Pengelolaan Persampahan

Secara keseluruhan, pengelolaan persampahan di Dusun Pancer masih dilakukan dari inisiatif masyarakat dan komunitas. Belum muncul kepekaan pemangku kebijakan, terutama Kades, yang peduli terhadap isu sampah karena sampai saat ini Perdes masih belum disosialisasikan dengan baik karena bahkan Kepala RT dan Kepala RW di Dusun Pancer tidak mengetahui adanya Peraturan Desa. Selain itu, DLH Kab. Banyuwangi belum memprioritaskan kawasan ini sebagai wilayah yang penting dijangkau dari segi pengelolaan persampahan. DLH berkilah bahwa mereka tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Kemudian, salah satu pemangku kepentingan di Dusun Pancer, Perhutani, juga belum berpikir untuk ikut andil secara aktif untuk kemajuan pengelolaan sampah dengan alasan kebijakan yang terlalu birokratis.

Pengetahuan Umum Persampahan

Dari segi pengetahuan umum persampahan, responden ditanya seputar definisi sampah, kompos, program pengelolaan sampah, dan dampak sampah yang tidak terkelola. Sebagian besar responden mendefinisikan sampah sebagai kotoran, limbah, sisa-sisa kegiatan yang sudah tidak terpakai dan dibuang. Ada juga beberapa responden yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang masih dapat berguna. Hal ini menandakan bahwa secara umum, responden sudah mengerti tentang definisi sampah walaupun dalam tingkatan yang berbeda.

Saat ditanya mengenai pengertian kompos, sebagian besar responden masih mendefinisikannya sebagai sampah yang ditumpuk-tumpuk atau setara dengan pupuk organik. Beberapa responden juga mendefinisikan kompos sebagai sampah organik saja atau daun yang dibakar kemudian ditempatkan di tanaman. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan responden tentang apa itu kompos masih terbatas dan perlu edukasi lebih lanjut. Walaupun sebagian besar masih keliru mengenai definisi, hampir 100% responden, baik klien maupun non-klien, mengetahui dan paham jenis sampah apa saja yang dapat diolah melalui proses komposting. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5, dimana hanya terdapat 1 responden saja yang masih keliru mengenai hal ini.

Gambar 5a
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer
Gambar 5b
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer

Mengenai pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal, mayoritas klien (78%) dan non-klien (73%) sudah mengetahui bahwa terdapat program pengelolaan sampah di Dusun Pancer. Hampir tidak ada perbedaan antara klien dan non-klien. Walaupun demikian, masih sedikit responden yang mengetahui tentang EcoRanger sebagai salah satu pelaksana program. Pengetahuan kebanyakan responden hanya terbatas pada aktor-aktor dari EcoRanger, seperti Pak Sukam, Pak Jarwo, dan Mbak Saroh, bahkan untuk klien SEKOLA. Hanya ada sebanyak 21% klien yang mengetahui tentang SEKOLA atau Ecoranger secara organisasi, jumlahnya bahkan lebih kecil lagi untuk non-klien, yaitu sebanyak 10%.

Temuan menarik lainnya adalah ada sebagian kecil responden (3 orang) yang menganggap bahwa pelaksana program berasal dari pihak pertambangan sekitar yang berjarak cukup dekat ke SEKOLA, padahal responden tersebut merupakan klien dari SEKOLA. Beberapa responden lain tidak mengetahui nama tetapi hanya sebatas mengenali wajah aktor-aktor pelaksana program. Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa branding SEKOLA ataupun EcoRanger masih sangat minim di kalangan masyarakat Dusun Pancer, bahkan untuk klien sekalipun.

Saat ditanya mengenai dampak sampah yang tidak terkelola, seluruh responden sudah mengetahui dampak buruknya. Mereka telah sadar dan tahu bahwa jika sampah tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan bau, tidak enak dipandang, menyebabkan penyakit, mengganggu, hingga pencemaran ke lingkungan yang menyebabkan banjir dan pendangkalan sungai. Walaupun begitu, berdasarkan observasi di lapangan, banyak masyarakat yang dekat dengan Sungai Cacalan yang masih membuang sampah ke sungai. Selain itu, pembakaran sampah masih umum dilakukan oleh masyarakat di Dusun Pancer. Edukasi tentang bahaya sampah, termasuk membakar sampah, perlu dimasukkan dalam konten edukasi yang akan dilakukan.

Konsep 3R

Mengenai konsep 3R, responden ditanya tentang sampah yang memiliki nilai jual, penerapan perilaku 3R individu, hingga pandangan mengenai 3R itu sendiri. Dari hasil wawancara, sekitar 83% responden tahu bahwa terdapat jenis sampah yang memiliki nilai jual dan mengetahui pihak yang dapat membeli jenis sampah tersebut. Menariknya hanya 76% klien SEKOLA yang tahu bahwa ada sampah yang bisa dijual dibandingkan dengan 90% non-klien yang tahu bahwa ada jenis sampah yang bisa dijual. Jenis sampah yang paling banyak dianggap memiliki nilai jual adalah plastik, walaupun juga banyak responden yang memilih jenis sampah lainnya seperti besi dan kardus. Hampir tidak ada perbedaan pengetahuan antara klien dan non-klien terkait sampah jenis apa yang memiliki nilai jual (Gambar 6).

Gambar 6a
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden
Gambar 6b
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden

Mengenai aplikasi perilaku 3R dalam keseharian, responden ditanya menggunakan contoh perilaku untuk memudahkan responden memahami konteks perilaku yang dimaksud, yaitu membawa tas belanja sendiri saat berbelanja atau wadah saat membeli makanan (reduce), menggunakan kembali wadah atau barang lain sebelum dibuang (reuse), dan mendaur ulang barang atau sampah (recycle). Dari perilaku reduce, hanya sebanyak 24% responden menjawab melakukannya meskipun sebanyak 75% responden merasa perilaku ini tidak merepotkan bagi mereka. Klien cenderung lebih melakukan reduce (28%) dibandingkan dengan non-klien (18%), walaupun klien dan non-klien memiliki persentase jawaban bahwa perilaku reduce tidak merepotkan yang relatif sama. Hal ini menandakan adanya jarak (gap) antara kesadaran dengan perilaku yang dilakukan oleh responden. Walaupun, responden merasa hal ini mudah dan tidak merepotkan, tetapi masih sedikit yang melakukannya. Saat ditanya mengenai alasan mengapa perilaku reduce merepotkan, banyak responden yang menjawab karena alasan kemudahan seperti tidak repot membawa tas, karena jarak tempat belanja yang dekat, dan sudah disediakan plastik oleh penjual. Hal ini juga perlu menjadi perhatian untuk edukasi masyarakat kedepannya, mengingat adanya kejanggalan dimana saat lokasi belanja dekat, para responden malah enggan membawa wadah atau tas belanja sendiri.

Seputar perilaku reuse, sekitar 57% responden menjawab sudah melakukannya. Barang terbanyak yang digunakan kembali adalah wadah makanan dan kantong plastik. Hasil lengkap mengenai barang yang digunakan kembali oleh responden dapat dilihat pada Gambar 7. Perilaku ini dilakukan oleh klien dan non-klien dengan jumlah yang hampir sama. Mengenai perilaku daur ulang, hanya 5% responden saja yang sudah melakukannya dan hampir seluruhnya mendaur ulang plastik. Hal ini menandakan bahwa perilaku reuse masih menjadi prioritas utama bagi para responden dibandingkan dengan dua perilaku lainnya. Hal ini juga didukung oleh data saat responden ditanya perilaku 3R mana yang lebih baik dimana data ini disajikan pada Gambar 8. Sebanyak 33% responden menganggap perilaku reuse lebih baik, 30% memilih reduce, dan 26% memilih recycle. Hal ini menandakan bahwa konsep hirarki pengelolaan sampah masih perlu disosialisasikan lebih lanjut lagi untuk warga klien ataupun non-klien SEKOLA di Dusun Pancer.

Gambar 7
Gambar 7 Jenis barang yang digunakan kembali oleh responden
Gambar 8
Gambar 8 Pandangan responden mengenai perilaku 3R yang lebih baik

Pewadahan

Dari segi pewadahan, seluruh responden sudah menggunakan wadah untuk menampung sampah mereka kecuali satu (1) responden yang langsung membakar sampahnya sehingga tidak menggunakan wadah apapun di rumahnya. Jenis wadah yang paling banyak digunakan adalah tempat sampah tidak tetap. Hanya terdapat satu responden saja sudah menggunakan tempat sampah tetap. Masih banyak responden yang menggunakan kantong plastik dan karung untuk menampung sampah mereka di rumah. Untuk ukuran wadah yang digunakan oleh para responden, sebagian besar menggunakan wadah dengan volume yang setara dengan ember kecil (setara volume 5-10 L) dan ember sedang (setara ember cat 25 L). Data terkait jenis dan ukuran wadah yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9a
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran
Gambar 9b
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran

Untuk jumlah wadah, cukup banyak responden (62,5%) sudah menggunakan lebih dari 1 tempat sampah di rumah. Mayoritas responden (90,4%) (Gambar 10) merasa membutuhkan lebih dari 1 tempat sampah di rumah dengan berbagai macam alasan, seperti kemudahan, kebersihan, dan pemilahan sampah, walaupun mayoritas dari responden merasa perlu memiliki lebih dari 1 wadah sebagai cadangan jika ada tempat sampah lain yang penuh. Hal ini menandakan bahwa sudah banyak responden yang merasa bahwa pewadahan sampah yang sesuai kebutuhan merupakan sesuatu yang penting meskipun masih terdapat responden yang memiliki jumlah wadah saat ini yang terbatas.

Gambar 10a
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1
Gambar 10b
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1

Mayoritas responden menempatkan wadah sampah di luar rumah (72%) dan di ruang dapur (70%). Tidak ada perbedaan preferensi khusu penempatan tempat sampah di dalam rumah untuk klien dan non-klien, kecuali lebih banyak klien juga yang menempatkan tempat sampah di ruang tengah dibandingkan dengan non-klien. Kemudian untuk frekuensi pengosongan wadah, hampir seluruh responden melakukannya satu kali sehari atau satu kali dalam 2 hari. Responden yang melakukan pengosongan wadah satu kali dalam 2 hari kebanyakan merupakan klien SEKOLA (Gambar 11), dimana frekuensi ini sesuai dengan kondisi saat ini operasional pengangkutan SEKOLA. Hal ini menandakan untuk responden yang merupakan non-klien SEKOLA mayoritas melakukan pengosongan satu kali sehari.

Gambar 11a
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan
Gambar 11b
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan

Pemilahan

Dari 104 responden, sebanyak 33% menjawab sudah melakukan pemilahan dan 62,5% ingin memulai atau melanjutkan untuk melakukan pemilahan. Menariknya persentase non-klien yang melakukan pemilahan lebih banyak dibandingkan persentase klien yang melakukan pemilahan, yaitu 38% dibandingkan 29% (Gambar 12). Alasan responden ingin memulai atau melanjutkan pemilahan adalah untuk menjual jenis sampah yang dipilah, untuk mempermudah penanganan selanjutnya, dan juga karena kebiasaan. Namun, masih ada responden yang enggan untuk memilah karena pemilahan masih dirasa repot, malas, lama, tidak terpikir, tidak penting, merasa sudah ada yang pilah, hingga dirasa kotor jika dipilah. Untuk jenis sampah yang dipilah, mayoritas responden memilah sampah plastik seperti botol plastik dan kantong belanja sekali pakai. Selain plastik, jenis sampah lainnya yang cukup banyak dipilah adalah kardus, kertas, dan sampah makanan. Hal ini selaras dengan alasan responden memilah sampah mengingat plastik, kardus, dan kertas mengingat ketiga jenis ini mudah untuk dijual ke pelapak atau pengepul. Data yang lebih lengkap mengenai jenis sampah yang dipilah oleh responden dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12a
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden
Gambar 12b
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden

Selain kondisi saat ini pemilahan, responden juga ditanyakan mengenai motivasi pemilahan. Dari berbagai jawaban yang diperoleh, faktor finansial masih menjadi alasan bagi responden untuk memilah (57,7%), terutama bagi non-klien (Gambar 13). Faktor kedua yang banyak dipilih adalah alasan kesehatan & lingkungan, walaupun dengan persentase yang jauh dibandingkan dengan alasan finansial. Contoh faktor finansial yang banyak disebutkan adalah keuntungan dari penjualan jenis sampah yang dipilah. Alasan terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan juga memberikan kepada pihak yang membutuhkan masih menjadi dasar mengapa responden ingin memilah meskipun tidak sebesar alasan finansial.

Gambar 13
Gambar 13 Motivasi responden dalam pemilahan sampah

Responden juga ditanyakan apakah mereka bersedia jika setiap jenis sampah diangkut di hari-hari tertentu, misalkan seperti pengangkutan khusus sampah plastik di hari Senin, sampah organik di hari Selasa dan Jumat, dan seterusnya. Dari 72 responden yang ditanyakan mengenai hal ini, hanya sebagian kecil, yaitu 39% responden (28 orang) yang setuju dengan gagasan ini. Ada responden yang setuju tetapi dengan syarat kondisi tertentu, yaitu dimana sampah organik tetap diangkut setiap hari.

Dari seluruh data mengenai pemilahan sampah, dapat dikatakan bahwa secara keinginan dan kesadaran untuk memilah sampah, banyak responden yang sudah mengetahui manfaatnya. Meskipun demikian, dari segi praktikal, masih banyak responden yang belum melakukannya. Adanya jarak antara keinginan dan perilaku saat ini dapat diperkecil melalui sosialisasi atau edukasi oleh para tokoh yang dapat merangkul seluruh kelompok masyarakat. Tidak hanya sosialisasi atau edukasi, para tokoh tersebut juga perlu ikut memberikan contoh agar masyarakat sekitar yang mengagumi atau menghormati mereka akan mengikuti perilaku tersebut pada akhirnya.

Finansial

Dari segi finansial, responden ditanyakan seputar jumlah dan teknis pembayaran retribusi. Sekitar 90% responden menganggap jumlah retribusi saat ini (Rp 20.000) sudah murah dan terdapat 10% responden yang menganggap jumlah retribusi mahal. Tidak ada perbedaan yang jauh antara klien dan non-klien terkait hal ini. Hasil ini sudah selaras dengan kesediaan membayar (willingness-to-pay) responden seperti yang ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14
Gambar 14 Kesediaan membayar responden

Hal lain yang ditanyakan adalah willingness-to-pay responden untuk membayar lebih dari nominal retribusi saat ini. Hanya terdapat 31% responden (22 orang) yang bersedia membayar lebih, dimana 81,8% (18 orang) bersedia membayar hingga Rp 25.000 dan 18,2% (4 orang) bersedia membayar di atas Rp 30.000. Untuk waktu pembayaran retribusi, dari 72 responden yang ditanya, sekitar 67% responden memilih untuk membayar retribusi sebulan satu kali dengan pembayaran di awal bulan. Hal ini dapat menjadi pertimbangan mengenai penarikan retribusi saat ini, terutama untuk klien SEKOLA, dimana saat ini penarikan masih menggunakan sistem pembayaran setiap 3 bulan sekali.

Peraturan Persampahan

Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15, hanya sekitar 23% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tertulis. Persentase ketidaktahuan klien dan non-klien terhadap peraturan desa ini relatif sama rendahnya. Itu pun ternyata para responden menganggap berbagai himbauan tertulis yang berada di sekitar sungai atau pantai sebagai peraturan tertulis. Untuk peraturan tertulis yang merupakan spesifik terhadap Peraturan Desa SumberAgung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, maka hanya 2 dari 104 responden yang mengetahui hal tersebut, dimana salah satunya juga masih tidak yakin jika Perdes ini memang ada. Jumlah ini sangat kecil mengingat peraturan ini sudah ada cukup lama berlakunya. Hal ini menandakan kurangnya sosialisasi mengenai peraturan ini baik dari pihak desa, dusun, RW, maupun RT sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai Perdes ini.

Selain itu, hanya sekitar 47% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tidak tertulis. Untuk peraturan tidak tertulis, berikut beberapa temuan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan para responden:

  • Dilarang membuang sampah di kuburan
  • Tidak diperbolehkan membuang sampah di Sungai Cacalan saat sore hari (peraturan ini masih sering dilanggar oleh warga)
  • Dilarang membuang sampah di daerah sungai dan pantai
  • Membuang pembalut sembarangan akan mengundang kuntilanak
  • Tidak boleh membuang di timur daerah wisata
  • Dilarang membuang sampah di bawah pohon besar
  • Dilarang membuang sampah sembarangan tetapi jika dibakar tidak apa-apa
  • Dilarang membakar sampah popok atau pembalut
  • Dilarang buang sampah di belakang rumah
Gambar 15a
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis
Gambar 15b
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis

Pembahasan dan Rekomendasi

Pada bagian ini, rekomendasi akan diberikan berdasarkan motivasi dan/atau rintangan (diwarnai kotak biru tua di Gambar 16, 17, dan 18) yang didapatkan dari hasil penelitian di lapangan. Rekomendasi ini akan berupa saran dan/atau konten yang dapat dilakukan ketika melakukan edukasi untuk meningkatkan pemilahan sampah dari sumber (diwarnai kotak abu di Gambar 16, 17, dan 18) atau pun rekomendasi yang lebih praktikal dalam bentuk kegiatan dan/atau saran (diwarnai kotak biru muda di Gambar 16, 17, dan 18). Motivasi dan/atau rintangan dan rekomendasi yang selaras dikelompokkan dalam kotak yang lebih besar. Cara ini mengadaptasi dari pendekatan fostering sustainable behavior yang dikembangkan oleh Doug McKenzie (Mckenzie-Mohr, 2011).

Partisipasi Masyarakat

Dalam partisipasi masyarakat, ada lima kelompok rintangan yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Dusun Pancer (lihat Gambar 16). Kelompok rintangan pertama terkait dengan perilaku berkelompok. Kelompok-kelompok komunitas di Dusun Pancer cenderung eksklusif dan tidak mengajak orang di luar kelompoknya dalam suatu kegiatan. Dalam hal ini, Ecoranger dapat memperkenalkan diri sebagai pihak netral yang inklusif mengajak semua lapisan masyarakat tanpa membatasi diri ke kelompok tertentu. Terkait organisasi Ecoranger atau SEKOLA yang masih kurang dikenal masyarakat dapat menjadi kelebihan tersendiri karena berarti Ecoranger dapat melakukan branding sebagai pihak netral yang inklusif dengan relatif lebih mudah dan tanpa ada prasangka atau stigma apapun sebelumnya.

Selain itu, ada juga perilaku individu yang menjadi salah penyebab masalah. Perilaku individu yang dimaksud disini adalah sebagian warga hanya mau melakukan sesuatu jika warga lain melakukannya. Sebagian warga mempertimbangkan pilihan orang lain dalam pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa peduli dampak yang dihasilkan baik atau buruk. Sebagian warga merasa “rugi” jika mereka membayar iuran retribusi, sedangkan warga yang lain tidak ikut membayar dan tetap membuang sampah sembarangan atau dibakar. Hal ini tidak selalu berarti buruk karena berarti edukasi dan perubahan perilaku harus dilakukan dalam level kelompok atau komunitas, bukan dalam level individu.

Kemudian kelompok rintangan kedua, yaitu rendahnya kepedulian terhadap lingkungan yang diakibatkan kurangnya sosialisasi dan juga kurangnya dukungan tokoh daerah di Dusun Pancer. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat yang dihormati, seperti tokoh agama (seperti kyai), tokoh adat, ataupun tokoh sosial (seperti Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Dusun) setempat. Pendekatan dilakukan untuk mengajak tokoh masyarakat melakukan edukasi dan ikut memberikan contoh untuk melakukan pemilahan sampah dari sumber. Edukasi yang dapat dilakukan misalnya melalui diskusi dengan Kyai agar tema ceramah di Jumat juga disisipi dengan tema-tema lingkungan yang disandingkan dengan agama islam.

Kelompok rintangan ketiga adalah cara edukasi yang kurang sesuai. Cara sosialisasi dan edukasi yang berfokus pada acara langsung yang berkaitan dengan persampahan seperti workshop tentu dapat dilakukan, tetapi penyisipan konten edukasi tentang persampahan di lingkungan pada acara pengajian dan kegiatan sosial juga perlu dilakukan. Kabupaten Banyuwangi, termasuk juga Dusun Pancer, memiliki keterikatan yang kuat dengan acara keagamaan terlihat dari banyaknya warga yang ikut dan juga menantikan pengajian di Dusun Pancer berdasarkan hasil studi ini. Selain ceramah Jumat tadi, tim Ecoranger juga dapat menyelenggarakan acara pengajian dengan teman utama lingkungan, terutama persampahan dalam sudut pandang islam. Pengajian ini juga dapat menjadi ajang branding bagi Ecoranger. Selain itu, kegiatan sosial yang dapat dilakukan dapat berupa kegiatan bersih-bersih sungai untuk menambah acara bersih-bersih pantai yang biasanya dilakukan oleh Ecoranger. Dalam acara bersih-bersih sungai sampah yang ada jadi terasa lebih dekat karena sampah tersebut bukan berasal dari wisatawan tetapi terutama berasal dari warga di sekitar juga.

Kelompok rintangan ke-empat adalah konflik tambang. Konflik tambang di Dusun Pancer memiliki dampak sosial yang cukup besar dan meluas. Pihak pendukung dan pihak penolak tambang sama-sama memiliki pendapat yang sangat bertentangan. Beberapa kali konflik ini juga melebar ke arah bentrokan antara warga dengan warga dan warga dengan polisi. Dalam hal ini, branding sebagai organisasi netral yang dijelaskan pada paragraf kedua di subchapter ini, sebetulnya tidak terbatas pada menyatakan diri sebagai pihak netral, tapi juga membuat konten edukasi yang netral. Maksud dari konten edukasi yang netral adalah konten edukasi yang menghindari permasalahan konflik tambang yang ada di Dusun Pancer. Konten edukasi tentang pemilahan sampah, pengelolaan sampah, dan lingkungan dapat menjadi beberapa opsi pilihan konten edukasi yang dilakukan.

Kelompok rintangan yang kelima adalah sebagian masyarakat merasa malas dalam memilah sampah atau berperan aktif dalam pengelolaan sampah karena dianggap sulit dan mengeluarkan uang untuk melakukannya. Hal yang dapat dilakukan disini adalah dengan penyediaan wadah atau tempat sampah untuk pemilahan per rumah yang menjadi klien SEKOLA. Wadah ini nantinya diletakkan di depan rumah yang terlihat oleh orang yang melintas (berdasarkan hasil studi diketahui mayoritas warga menempatkan tempat sampah mereka di luar rumah). Wadah yang diberikan untuk pemilahan dapat diwarnai/diberi stiker dengan tulisan “aku sudah memilah” atau kata-kata lainnya yang menunjukkan bahwa suatu rumah telah melakukan pemilahan dan mendukung proses melindungi lingkungan sekitar. Hal ini penting karena suatu perilaku akan lebih bertahan lama dan lambat laun jadi kebiasaan, jika perilaku tersebut dapat terlihat oleh umum dalam jangka waktu yang lama (atau dalam fostering sustainable behavior disebut public and durable commitment).

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi rintangan kelima ini adalah dengan membuat tempat sampah komunal. Hal ini sempat menjadi usulan beberapa warga ketika diwawancara. Tetapi, tempat sampah komunal memiliki keuntungan (misalnya, relatif lebih murah dan memudahkan dalam pemisahan dari sumber dan koleksi sampah oleh petugas) dan kerugian (misalnya, jadi tempat sampah baru yang menggunung dan orang yang tidak membayar ikut menikmati fasilitas tersebut) yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum dilakukan (meskipun misalnya dana tersedia).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan edukasi dan sosialisasi tentang pemilahan sampah adalah melakukan kegiatan di skala RT. Kegiatan di skala RT memiliki kelebihan dimana masyarakat relatif saling mengenal dan oleh sebab itu, akan relatif lebih mudah diajak. Skala RT juga penting karena informasi lebih mudah disebarkan dan kegiatan dilakukan di kelompok yang relatif kecil.

Gambar 16
Gambar 16 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Partisipasi Masyarakat

Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Dalam pemahaman masyarakat dan edukasi, ada tiga kelompok rintangan dan satu alasan motivasi dalam menyampaikan materi edukasi dan konten apa saja yang penting untuk disampaikan (lihat Gambar 17). Rintangan pertama adalah perilaku 3R belum menjadi kebiasaan masyarakat. Dari hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa mayoritas masyarakat sebetulnya sudah terbiasa melakukan “penggunaan kembali” (reuse) terhadap barang yang dibeli atau digunakan sebelum dibuang. Walaupun, dalam hal mengurangi (reduce) dan daur ulang (recycle) tergolong masih minim. Rintangan kedua adalah misinformasi tentang pengetahuan sampah yang mendasar seperti cara membuat kompos dari sampah organik. Untuk kedua rintangan ini, hal-hal yang dapat dilakukan adalah membuat konten edukasi tentang pentingnya perilaku 3R dalam pengelolaan sampah dan juga penyebaran informasi persampahan melalui sistem broadcast. Sebelum memulai broadcast, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah melakukan pendekatan ke ketua RT di Dusun Pancer untuk membuat grup Whatsapp (WA) untuk kebutuhan penyebaran informasi di tingkat RT. Walaupun hanya 48% dari responden yang menggunakan media digital, jumlah ini cukup signifikan dalam penyebaran informasi jika digabung dengan diseminasi informasi oleh Ketua RT yang mencapai 90%. WA grup ini bisa dimanfaatkan oleh ketua RT untuk memudahkan penyebaran informasi dan dapat digunakan juga oleh Ecoranger dalam menyampaikan info-info pemilahan dan pengelolaan sampah yang mudah, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, rintangan ketiga adalah masyarakat tidak mengetahui esensi dari melakukan pemilahan sampah dan merasa malah. Diketahui juga dari hasil wawancara bahwa hampir 30% masyarakat sudah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumber walaupun secara sederhana. Sebagian besar responden mengatakan finansial adalah motivasi utama mereka dalam melakukan atau jika melakukan pemilahan sampah. Finansial disini maksudnya adalah sampah yang mereka pilah dapat dijual dan menghasilkan tambahan ekonomi untuk mereka. Terkait rintangan malas dan tidak tahu esensi, masih sama seperti rekomendasi di subchapter sebelumnya, pemberian wadah untuk pemilahan sampah dan penyesuaian cara edukasi yang lebih cocok dengan masyarakat dapat dilakukan. Sedangkan, terkait motivasi finansial ini akan dibahas lebih lanjut dalam subchapter keempat Ecoranger dan Sekola.

Gambar 17
Gambar 17 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis

Dalam segi regulasi, ada dua kelompok rintangan untuk melancarkan implementasi dan penegakkan aturan yang telah ada (lihat Gambar 18). Sebetulnya, Dusun Pancer telah memiliki Peraturan Desa Sumber Agung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sampat saat ini, Perdes ini belum pernah disosialisasikan ke masyarakat. Akibatnya, hanya dua orang dari total 104 responden yang mengetahui keberadaan Perdes ini, 1 orang diantaranya bahkan ragu kalo Perdes tentang sampah ini betul-betul ada. Untuk mengatasi masalah ini, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu sosialisasi Perdes dan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up approach). Sosialisasi Perdes dapat dilakukan oleh Ecoranger sendiri dengan meminta bantuan dari desa (jika ada dana) ataupun terus-menerus melakukan audiensi dan advokasi kepada Kepala Desa ataupun orang-orang di Kantor Desa untuk mendorong dilakukannya sosialisasi Perdes ini. Cara kedua adalah dengan melakukan pendekatan dari bawah ke atas, yaitu melakukan pendekatan dan advokasi ke ketua RT, ketua RW, dan Kepala Dusun yang menunjukkan antusiasme yang lebih baik dalam urusan pengelolaan sampah rumah tangga ini dibandingkan dengan Kepala Desa. Pendekatan dan kerja sama yang terus menerus dengan ketiga pemangku kepentingan ini diharapkan dapat menggerakan Kepala Desa juga pada akhirnya.

Rintangan kedua adalah peraturan tidak tertulis dalam penanganan sampah seperti tidak boleh membakar popok atau pembalut, namun membuangnya ke sungai atau laut dan juga mengikuti orang lain walaupun salah, misalnya dalam membuang sampah ke sungai. Manusia memang mengikuti kebiasaan sosial yang berlaku, sehingga jika membuang sampah ke sungai ini sudah menjadi “norma umum”, tidak aneh jika hal ini susah diubah. Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan di level RT menjadi penting untuk mengubah kebiasaan buruk ini dengan cara membuat kebiasaan baru di masyarakat yang lebih ramah lingkungan sampai pada tahap misalnya orang yang aneh adalah orang yang tidak memilah sampah dari rumah.

Gambar 18
Gambar 18 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Aspek Regulasi

Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA

Dalam segi Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA, ada satu kelompok rintangan dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan rencana di masa depan dari Ecoranger dan SEKOLA. Rintangan ini adalah keterlambatan membayar retribusi dan kesediaan bayar lebih tetapi dengan syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering oleh pihak SEKOLA. Dalam hal keterlambatan membayar retribusi, mayoritas warga bersedia membayar iuran di awal bulan, jadi waktu penagihan iuran mungkin bisa dipindahkan ke awal bulan agar lebih banyak klien yang membayar tepat waktu. Dalam hal syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering, pihak SEKOLA dapat menjadikan penambahan armada pengangkut sampah dari program BCAD sebagai daya tawar untuk mengedukasi warga agar mau melakukan pemilahan sampah dari rumah. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan sampah yang diberikan kepada petugas satu persatu sambil diingatkan agar melakukan pemisahan berdasarkan organik dan anorganik.

Dalam pelaksanaanya memang akan merepotkan tetapi hal ini cukup dilakukan selama 2 bulan awal agar masyarakat mau mengubah perilakunya terlebih dahulu. Agar memastikan sampah yang sudah dipilah tidak tercampur, ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu menggunakan sekat di armada atau melakukan pengangkutan sampah organik setiap hari dan sampah anorganik di waktu-waktu tertentu. Sebagai tambahan motivasi bagi masyarakat, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat unit tambahan di SEKOLA, yaitu unit bank sampah keliling. Jadi, sampah anorganik yang telat dipisah tadi akan dibayar oleh pihak SEKOLA seperti bank sampah pada umumnya.

Rekomendasi lainnya

Selain rekomendasi-rekomendasi di atas, ada beberapa tambahan rekomendasi yang dapat dilakukan oleh Ecoranger, yaitu:

  • Melakukan riset dan studi banding model bisnis ke tempat pengelolaan sejenis yang bisa menutupi biaya operasional keseluruhan dan bahkan mendapatkan profit
  • Melakukan pendekatan pilah sampah lewat sekolah-sekolah agar anak-anak menjadi agent of change untuk keluarga di rumah
  • Riset kerja sama dengan perguruan tinggi terkait inovasi dalam hal inovasi produk dan pengelolaan sampah, serta pemberdayaan multipihak
  • Melakukan kerja sama dengan SMK-SMK di sekitar Desa Sumber Agung terkait program inovasi produk dari sampah yang ada (misalnya semacam produk inovasi dari sampah popok yang dilakukan oleh Popokku Berkah) dan diintegrasikan dengan BUMDES
  • Kolaborasi BUMDES dengan SEKOLA untuk pembuatan program TPST

Acknowledgement

Riset ini merupakan salah satu bagian dari program kerja sama antara Greeneration Foundation, Kitabisa, dan BCA Digital yang akan dilakukan dari bulan September 2021 sampai April 2022 untuk meningkatkan keterpilahan sampah dari sumber di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kab. Banyuwangi. Jika ada pertanyaan lebih lanjut terkait riset ini, silahkan menghubungi Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, R&D Manager di Greeneration Foundation, melalui email aditya@greeneration.org.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Blue Carbon

Mengenal Apa itu Blue Carbon, Manfaat, dan Langkah untuk Menjaganya

Mengenal Apa itu Blue Carbon, Manfaat, dan Langkah untuk Menjaganya

Ilustrasi Blue Carbon
Ilustrasi Blue Carbon. (Sumber: icctf.or.id)

Selama ini, kita mengetahui bahwa hutan memiliki fungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Degradasi dan alih fungsi lahan hutan merupakan tindakan yang dapat mengemisi karbon ke atmosfer bumi dan menyebabkan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi menjadi semakin padat. Itulah sebabnya, kegiatan mitigasi perubahan iklim dititikberatkan pada upaya-upaya perbaikan wilayah hutan.

Namun, ada potensi emitan karbon yang tidak kalah besar dibanding wilayah hutan, yaitu ekosistem pesisir yang meliputi hutan mangrove, tumbuhan laut (seagrass) dan rawa-rawa merupakan hal penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Secara alamiah, ekosistem pesisir menyerap karbon dari atmosfer dan lautan lalu menyimpannya. Karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dikenal sebagai blue carbon. Dilansir dari Tempo.co, blue carbon atau karbon biru itu sendiri merupakan karbon yang ditangkap dan disimpan di samudra dan ekosistem pesisir, termasuk karbon pantai yang tersimpan di lahan basah pasang surut, seperti hutan yang dipengaruhi pasang surut, bakau, rawa pasang surut dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan sumber karbon biomassa yang tidak hidup.

Seperti dengan namanya, karbon ini memiliki warna biru. Blue carbon dianggap penting karena secara ekosistemnya merupakan penyerap karbon yang efektif. Blue carbon ini dapat memainkan peran utama dalam memenuhi target nasional dan global tentang perubahan iklim.

Manfaat Blue Carbon

Ilustrasi Penerapan Blue Carbon
Ilustrasi Penerapan Blue Carbon. (Sumber: bluecarbonsociety.org)

Berdasarkan penelitian, ditemukan fakta bahwa ekosistem pesisir juga merupakan penyerap gas rumah kaca. Ekosistem pesisir diyakini mampu menyerap dan menyimpan karbon dengan seratus kali lebih banyak dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan. Karbon yang diserap oleh ekosistem pesisir tidak kalah besar dibandingkan hutan.

Berbeda dengan ekosistem daratan yang cenderung tidak bertambah pada saat tertentu, ekosistem pesisir mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sedimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama.

Sekitar 50-99 persen karbon yang diserap oleh ekosistem pantai disimpan dalam tanah di kedalaman 6 meter di bawah permukaan tanah. Karbon yang tersimpan ini dapat tersimpan sampai ribuan tahun. Karena potensi yang besar inilah ekosistem pesisir bisa berperan banyak sebagai solusi adaptasi dan mitigas dampak perubahan iklim.

Selain manfaat penyimpanan karbonnya, ekosistem blue carbon juga menyediakan lapangan kerja dan pendapatan bagi ekonomi lokal, meningkatkan kualitas air, mendukung perikanan yang sehat, dan memberikan perlindungan pesisir.

Mangrove bertindak sebagai penghalang alami dengan menstabilkan garis pantai dan mengurangi energi gelombang untuk mengurangi risiko banjir bagi masyarakat pesisir dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut. Padang lamun menjebak sedimen tersuspensi di akarnya yang meningkatkan redaman cahaya, meningkatkan kualitas air, dan mengurangi erosi. Lahan basah pesisir menyerap polutan (misalnya, logam berat, nutrisi, bahan tersuspensi) sehingga membantu menjaga kualitas air dan mencegah eutrofikasi.

Langkah-langkah untuk Menjaga Ekosistem Blue Carbon

Ilustrasi Ekosistem Blue Carbon
Ilustrasi Ekosistem Blue Carbon. (Sumber: ndcpartnership.org)

1. Adapun sejumlah langkah yang bisa kita lakukan dalam menjaga ekosistem blue carbon ini, di antaranya adalah:

 

2. Mengurangi pemakaian limbah cair

 

3. Tidak sembarang memancing hewan laut

 

4. Menjaga kelestarian habitat laut

 

5. Membuang sampah pada tempatnya

 

6. Mengurangi penggunaan plastik

 

7. Menjaga aset pesisir saat berwisata

 

8. Melakukan penanaman mangrove

 

9. Menjaga dan merawat pesisir serta lautan

Manfaat yang bisa diperoleh apabila kita menjaga ekosistem blue carbon adalah dapat menanggulangi perubahan iklim, dijadikan sebagai habitat dari keanekaragaman biota laut seperti udang, ikan, kepiting, dan lain sebagainya.

Dengan kita menjaga mangrove, akarnya dapat menyaring air dari kotoran dan polutan supaya menghasilkan air yang sehat untuk vegetasi di sekitarnya. Mangrove juga mampu sebagai stabilitator garis pantai karena dapat mencegah erosi oleh ombak sekaligus sebagai pengikat lumpur yang dibawa oleh aliran sungai. Menjaga mangrove pun menjadi bagian dari langkah penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan yang akan berdampak dalam jangka panjang untuk kita dan generasi penerus kita.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.thebluecarboninitiative.org/about-blue-carbon diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2017/09/11/besarnya-potensi-karbon-biru-dari-pesisir-indonesia-tetapi-belum-ada-roadmap-blue-carbon-kenapa/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://tekno.tempo.co/read/1108480/apa-itu-blue-carbon-ini-penjelasannya/full&view=ok diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://maritim.go.id/indonesia-masukkan-blue-carbon-sebagai-andalan-dalam-skenario/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://reefresilience.org/id/blue-carbon/blue-carbon-introduction/blue-carbon-benefits/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Kemajuan Teknologi

Kantor Ramah Lingkungan dengan Penerapan Paperless Office

Kantor Ramah Lingkungan dengan Penerapan Paperless Office

Ilustrasi Kemajuan Teknologi
Ilustrasi Kemajuan Teknologi. (Sumber: Marvin Meyer/Unsplash)

Kemajuan teknologi telah membantu dan membawa perubahan, termasuk dalam dunia kerja di mana semua pengolahan data dan informasi bisa dirangkum menggunakan suatu sistem. Sistem informasi ini nantinya akan memudahkan kita dalam mengelola setiap transaksi yang ada, salah satunya adalah surat menyurat.

Berita baik untuk lingkungan: kehadiran teknologi juga bisa mempermudah penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan, termasuk di tempat kerja. Kemajuan teknologi menawarkan inovasi terbaru yaitu paperless office, di mana proses digitalisasi surat menyurat dan arsip dokumen. Selain ramah lingkungan, gerakan ini pun bisa lebih ekonomis dan menghemat anggaran kantor. Lebih canggihnya lagi, surat-menyurat bisa dilakukan secara lebih efisien, dan pengarsipan dokumen bisa jauh lebih rapi.

Konsep paperless sebenarnya telah berkembang sejak lama dan sudah diterapkan dalam bisnis. Ide ini diutarakan oleh Frederick Wilfrid Lancester di dalam bukunya “Toward Paperless Information System” tahun 1978 bahwa paperless adalah sebuah kondisi dalam lingkungan usaha yang full digital, yaitu termasuk upaya dalam mengurangi konsumsi kertas. Meskipun bukan hal baru, beberapa orang masih menganggap konsep ini sebagai hal yang aneh karena kertas telah menjadi medium utama dari bisnis sejak lama.

Paperless office, atau yang biasa disebut dengan paper-free office, merupakan lingkungan kerja yang menggunakan kertas dengan sangat minim dan sebagai gantinya beralih ke dokumen digital. Selain itu, ada juga istilah paperless employee yang berarti pekerja yang berhasil mengurangi penggunaan kertas dalam operasionalnya. Proses peralihan dari kertas fisik ke dokumen elektronik dikenal sebagai digitalisasi.

Meskipun penggunaan kertas ini tidak bisa sepenuhnya dihapuskan, namun setidaknya dengan kemunculan paperless office, penggunaan kertas yang berlebihan itu bisa diminimalisir. Penggunaan kertas pun hanya akan digunakan jika memang dalam situasi mendesak, namun sangat lebih efektif lagi jika semuanya bisa dilakukan secara elektronik.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan paperless office ini selain menyelamatkan bumi dan menghemat kertas. Beberapa manfaat yang akan didapatkan di antaranya adalah:

1. Ramah Lingkungan

Ilustrasi Ramah Lingkungan
Ilustrasi Ramah Lingkungan. (Sumber: Nick Fewings/Unsplash)

Untuk membuat satu ton kertas, atau sekitar 200.000 lembar kertas, dibutuhkan rata-rata 24 batang pohon. Di seluruh dunia, lebih dari 15 miliar pohon ditebang setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan industri kertas. Padahal, pohon di hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menyerap karbondioksida, menghasilkan lebih banyak oksigen, serta menyediakan rumah bagi keanekaragaman hayati. Meminimalisir penggunaan kertas tentu saja itu akan membantu dalam menjaga alam kita, di mana kertas sendiri berasal dari bahan dasar bubur kayu. Oleh karena itu, jika kertas bisa diminimalisir tentu saja tidak akan banyak pohon yang ditebang sehingga sangat bagus dalam rangka melestarikan hutan.

2. Praktis dan Efisien

Ilustrasi Seseorang yang Menerapkan Paperless Office
Ilustrasi Seseorang yang Menerapkan Paperless Office. (Sumber: Wes Hicks/Unsplash)

Menggunakan sistem paperless office jauh lebih praktis dan efisien, di mana kita tidak perlu lagi membawa dokumen secara fisik karena dokumen tersebut sudah tersimpan di dalam media penyimpanan seperti database sehingga akan mudah di akses kapan saja dan dimana saja. Selain itu, ketika dokumen dibutuhkan untuk dikirimkan kepada orang lain, bisa dilakukan dengan cepat seperti mengirimkannya melalui email atau media sosial yang dapat diterima secara instan dan real-time.

3. Hemat Waktu

Ilustrasi Hemat Waktu
Ilustrasi Hemat Waktu. (Sumber: Lukas Blazek/Unsplash)

Selain praktis dan efisien, paperless office juga menghemat waktu dalam proses pencarian dokumen atau informasi yang dibutuhkan. Jika semua itu dilakukan secara konvensional tentu saja akan membutuhkan waktu dengan mencari satu per satu dokumen di dalam rak penyimpanan. Namun dengan sistem digitalisasi, maka itu semua bisa dilakukan dengan mudah.

4. Hemat Biaya

Ilustrasi Menghemat Biaya Pengeluaran
Ilustrasi Menghemat Biaya Pengeluaran. (Sumber: Mathieu Stern/Unsplash)

Karena konsep dari paperless office ini adalah mengurangi penggunaan kertas, maka hal ini akan sangat membantu dalam menghemat biaya. Biaya pengeluaran untuk pembelian kertas tersebut, tentu saja bisa dialihkan untuk kebutuhan operasional lainnya.

5. Aman

Ilustrasi Keamanan Data
Ilustrasi Keamanan Data. (Sumber: Dan Nelson/Unsplash)

Membuat dokumen secara konvensional bisa dikatakan kurang dari segi keamanannya karena rentan akan kehilangan ataupun kerusakan. Lain halnya jika dokumen tersebut tersimpan secara digital tentu saja jauh lebih aman, karena sudah tersimpan di dalam database yang terkontrol secara keamanannya. Selain tersimpan secara digital dengan security yang aman, kita juga bisa melakukan backup dokumen tersebut sehingga kekhawatiran dokumen hilang atau rusak bisa diminimalisir.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.greenprophet.com/2021/08/paperless-movement/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

https://www.openaccessgovernment.org/embracing-digital-advancements-going-paperless/118423/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

https://www.paper.id/blog/bisnis/bisnis-paperless/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

https://ledgerowl.com/lima-alasan-untuk-go-paperless/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

https://indonesiancloud.com/apa-itu-paperless-office/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

https://news.garudacyber.co.id/ diakses pada tanggal 14 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Tempat Sampah

Tempat Pengelolaan Sampah di Indonesia Terancam Penuh, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tempat Pengelolaan Sampah di Indonesia Terancam Penuh, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ilustrasi Tempat Sampah
Ilustrasi Tempat Sampah. (Sumber: Rita E/Pixabay)

Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume sampah. Ditambah dengan pengelolaan sampah yang belum sesuai dengan teknik pengelolaan sampah berwawasan lingkungan sehingga nantinya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan keadaan lingkungan.

Untuk mempertimbangkan hal-hal tersebut pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Keadaan Tempat Pengelolaan Sampah di Indonesia

Ilustrasi Sampah Berceceran
Ilustrasi Sampah Berceceran. (Hans/Pixabay)

Salah satunya adalah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Setelah mengolah sampah melalui TPST, proses selanjutnya adalah sampah dipindahkan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). TPA sendiri merupakan tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Perbedaan signifikan antara TPST dengan TPA adalah dalam kebijakan sistem pengelolaan sampahnya.

Mengutip dari Waste4Change, TPA Bantar Gebang kemungkinan besar merupakan TPA yang paling terkenal di Indonesia, meski kenyataannya ada banyak TPA lain yang tersebar di berbagai provinsi. Pada dasarnya, TPA-TPA di Indonesia menghadapi permasalahan yang sama, yaitu sama-sama sedang di ambang kelebihan kapasitas. Beberapa TPA di Indonesia yang menghadapi masalah yang sama di antaranya TPA Suwung di Denpasar, TPA Sarimukti di Bandung, TPA Piyungan di Yogyakarta, dan TPA Terjun di Medan.

TPST Bantargebang yang sudah mencapai kapasitas maksimal

Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir. (Sumber: Vkingxl/Pixabay)

Dilansir dari akun Instagram resmi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta), Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria ikut menyuarakan terkait Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi yang sudah mencapai batas maksimal pada tahun 2021 ini. Oleh karena itu, menurut beliau, upaya pengendalian sampah di DKI Jakarta terutama berbahan plastik harus lebih efektif. Ia menjelaskan sampah yang mendominasi di antaranya berasal dari sampah plastik hingga mencapai jumlah 14% dari sampah yang ada.

Beliau juga menambahkan bahwa sampah yang ada di Jakarta sudah melebihi 8.700 ton per hari. Sampah-sampah yang dihasilkan ini dibuang di Bantargebang sampai tahun 2021 dan sudah seharusnya diambil langkah tegas untuk upaya pengendalian sampah. Sebagai bentuk upaya dalam pengendalian sampah yang sudah mencapai batas maksimal di TPST Bantargebang, Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut menyarankan agar sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Nambo, Klapanunggal. Namun, untuk melakukan hal ini tentunya diperlukan kerjasama antar pemerintah setempat secara intensif.

Selain itu, meminimalisir penggunaan kantong plastik sesuai dengan yang sudah diatur oleh Pemprov DKI Jakarta dalam Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan dapat membantu mengurangi timbunan sampah yang membludak. Sejumlah tempat pusat perbelanjaan sudah menerapkan peraturan ini sehingga secara tidak langsung meminta pembeli membawa kantong belanja yang ramah lingkungan untuk berbelanja.

Sebagai badan yang berfokus dalam menangani lingkungan di daerah DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sudah memprediksi bahwa TPST Bantargebang akan mencapai kapasitas maksimum hingga tidak dapat menampung sampah lagi.

Berdasarkan data per Juli 2019 yang dipaparkan oleh Plt. Kepala DLH DKI, Syaripudin, ketinggian sampah yang berada di TPST Bantargebang sudah mencapai hingga 43-48 meter dari batas maksimal 50 meter. Oleh karena itu, beliau perlu melakukan upaya pengendalian sampah dalam rangka untuk mengurangi kuantitas sampah yang terus masuk ke TPST Bantargebang. Salah satu langkah yang diupayakan oleh DLH DKI Jakarta adalah membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) di Tebet, Jakarta Selatan. Tujuan dari upaya ini dilakukan oleh DLH DKI Jakarta adalah dalam mendukung optimalisasi TPST Bantargebang yang saat ini sedang berjalan. DLH DKI Jakarta juga sedang menjalankan upaya pengurangan sampah dengan mengimplementasikan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga.

FPSA atau Intermediate Treatment Facility (ITF) merupakan salah satu strategi penanganan sampah dengan penerapan teknologi penanganan sampah yang ramah lingkungan dan tepat guna. FPSA sudah dimanfaatkan oleh sejumlah negara seperti Finlandia, Singapura, Jepang, China, dan negara lainnya. Rencana pembangunan FPSA sudah dipikirkan oleh DLH DKI Jakarta secara matang dan sudah disesuaikan dengan komposisi dan karakteristik sampah di daerah Kecamatan Tebet.

FPSA Tebet merupakan pengolahan sampah terpadu dengan recycling center, biodigester, pirolisis, BSF (Black Soldier Fly) Maggot, insinerator, dan pengolahan FABA (Fly Ash & Bottom Ash), sehingga diupayakan agar hanya sampah yang susah terolah yang akan masuk ke dalam insinerator. FPSA Tebet dilengkapi fasilitas enviromental education (pusat edukasi bagi warga Tebet dan sekitarnya), ruang interaksi publik (taman bermain), food center (kantin), sarana olahraga, urban farming, dan open theater.

Teknologi insinerator yang direncanakan pada FPSA Tebet telah terdaftar dalam Registrasi Teknologi Ramah Lingkungan Pemusnah Sampah Domestik dan telah dilakukan pengujian kualitas udara pada laboratorium yang tersertifikasi dengan hasil pengujian emisi yang dikeluarkan di bawah baku mutu yang dipersyaratkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.70/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Sampah secara Termal.

DLH DKI Jakarta akan memastikan bahwa FPSA Tebet ini memenuhi standar lingkungan yang dipersyaratkan dengan melakukan pemantauan dan pengawasan secara rutin. Selain itu, mewajibkan pengelola untuk memasang Continues Emision Monitoring System (CEMS) yang dapat dilihat juga oleh masyarakat Tebet dan sekitarnya terkait parameter kualitas emisi yang dihasilkannya.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.instagram.com/p/

CTtCaP3Jnnn/ diakses pada tanggal 13 September 2021.

https://waste4change.com/blog/tpa-terancam-penuh/ diakses pada tanggal 13 September 2021.

https://waste4change.com/blog/fungsi-tps-tps-3r-tpst-dan-tpa/ diakses pada tanggal 13 September 2021.

https://www.cnbcindonesia.com/news/

20200717153336-4-173587/gawat-bantar-gebang-tempat-buang-sampah-dki-penuh-di-2021 diakses pada tanggal 13 September 2021.

https://tirto.id/tpst-bantargebang-hampir-penuh-dki-bangun-pengelolaan-sampah-tebet-gitq diakses pada tanggal 13 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah Berceceran

Dampak Sampah Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca