Category Archives: Citarum Repair

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Degradasi Tanah, Bahaya yang mengintai dari Industri Tambang

Atas nama pembangunan, manusia telah mengeksploitasi sumber daya bumi untuk membangun infrastruktur dan mengekspansi industri selama beberapa abad terakhir. Bukan tujuan yang salah, namun seringkali eksekusinya tidak dibarengi dengan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan sumber daya yang ada, melainkan kita menganggap lingkungan sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia, sehingga pengelolaan sumber daya merupakan suatu siklus timbal balik bagi manusia dan alam. Dengan begitu, manusia tidak egois dan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Sementara selama beberapa tahun terakhir, manusia telah merasakan dampak negatifnya dari pertambangan. Tentu saja, warga kecil di sekitar galian tambang yang paling merasakan dampaknya. Lantas, bagaimana industri pertambangan mempengaruhi tanah dan manusia? Masalah polusi air dan tanah, erosi, perubahan muka bentuk bumi, hingga bekas galian tambang yang kerap memakan korban.

Meninggalkan lubang besar

Galian tambang yang sudah tidak produktif akan meninggalkan lubang menganga sedalam 30-40 meter. Di banyak bekas lokasi tambang, lubang ini dibiarkan begitu saja. Lama kelamaan, lubang ini akan menampung air dan seringkali dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Warna airnya yang hijau dan kebiru-biruan indah dipandang mata. Padahal, warna tersebut tidak alami. Ia berwarna terang karena mengandung banyak logam berbahaya bagi manusia.

Warga sekitar yang mengelilingi danau bekas galian tambang setelah ada kabar korban tenggelam. (Sumber: dokumen Jatam Kaltim)

Menurut hasil uji dari Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) di bekas lubang tambang di Jambi, sampel air yang diambil mengandung pH 3,4. Sementara, standar pH air laik dikonsumsi adalah 6.5 – 8,5. Angka pH yang rendah dapat dikatakan bahwa tingkat keasaman air tinggi yang mengindikasikan tingginya logam berat yang terlarut di dalamnya. Secara kasat mata airnya terlihat jernih, namun tidak terdapat mikroorganisme maupun ikan yang dapat hidup di sana. Ironisnya, dengan kondisi air yang jernih tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan air dalam bekas galian tambang tersebut untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain isu air yang tidak laik, lubang bekas galian tambang ini juga kerap memakan korban. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lubang bekas tambang telah memakan korban hingga 33 jiwa. Kebanyakan masih berusia belia, usia 10-14 tahun.

Seperti dilansir dari Tirto.id, sejak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.7/2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, menjadikan lubang bekas tambang sebagai tempat wisata adalah perbuatan legal. Padahal, reklamasi seharusnya adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka harus dikembalikan seperti hutan.

Mengubah Permukaan Tanah

Manusia modern bergantung pada mineral dan logam. Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya. Karena itu juga, jadilah lubang galian tambang.

Menurut Matthew Ross pada artikelnya di The Conversation, untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah struktur geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade. Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air. Untuk menunggu mineral tambang tersebut dapat diekstraksi kembali, butuh waktu proses geologis hingga ratusan tahun. Sementara kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya. Manusia tidak memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan mereproduksi. Karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan sulit memprediksi pergerakan bentang alam ini dalam evolusi masa depan mereka. Benua kuno di dunia dapat dilihat pergerakannya di tiap zaman geologis, namun manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Heterogenitas dan Pengelolaan Lingkungan

Artikel ini merupakan hasil studi literatur yang dilakukan oleh tim Citarum Repair mengenai pemahaman tentang Common Pool Resources untuk tata kelola sumber daya (lingkungan khususnya) yang digunakan secara bersama oleh masyarakat dengan berbagai macam latar belakang.


Masyarakat tumbuh menjadi beragam secara etnis, budaya, dan ras. Meningkatnya populasi migran memiliki berbagai implikasi ekonomi di dunia, terutama di Afrika Utara dan Asia Barat (International Migration Report 2019) dan Afrika Sub-Sahara Tahun ini adalah 2019. Variabilitas yang berkembang ini mungkin menyulitkan bisnis untuk bersaing dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dalam Common Pool Resources (CPR) dalam dua cara: (1) secara langsung dengan mendiversifikasi kepentingan, dan (2) secara tidak langsung dengan mendiversifikasi kepentingan. Kemudian, (1) secara langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pengguna, dan (2) secara tidak langsung dengan mengurangi kepercayaan di antara pelaku Kerjasama dalam CPR berkurang dalam kedua kasus. Sumber daya alam atau buatan manusia, seperti padang rumput, adalah contoh CPR. Misalnya, hutan bersama, kolam pemancingan, atau sistem irigasi. Mengecualikan pengguna potensial itu mahal (Ostrom 1990).


Sumber daya bersama, tidak seperti barang publik, mungkin habis, mengeksposnya ke ‘tragedi milik bersama,’ seperti yang digariskan oleh Hardin (1968), situasi dimana strategi dominan jangka pendek pengguna adalah untuk mengeksploitasi sumber daya terbatas.


Ini akan hancur jika digunakan tanpa batas. Dampak peningkatan heterogenitas pada keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam proses ini (Baland dan Platteau 1999; Bardhan dan Dayton-Johnson 2002; Ruttan 2006, 2008; Varughese dan Ostrom 2001), masih diperdebatkan. Heterogenitas ekonomi mengacu pada perbedaan kekayaan, pendapatan, dan akses sumber daya, sedangkan heterogenitas sosial budaya mengacu pada perbedaan bahasa, etnis, agama, dan ekspresi budaya lainnya (Baland dan Platteau 1996; Bardhan 2000).


Ruttan 2006; dan Dayton-Johnson 2002). Sebagian besar penelitian mengklaim bahwa heterogenitas ekonomi dan sosial budaya dapat berkontribusi pada biaya negosiasi dan tawar-menawar yang lebih tinggi karena kurangnya konsep umum, kepercayaan, dan insentif di antara orang atau kelompok individu (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002), pembagian pengambilan keputusan yang tidak setara hak, dan berbagai alasan untuk bekerja sama (Aksoy 2019; Bardhan dan DaytonJohnson 2002). (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan bahwa hal itu akan mengurangi kohesi sosial (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Namun, penelitian lain berpendapat bahwa heterogenitas ekonomi memiliki dampak positif pada penyediaan barang komunitas, yang mengklaim bahwa (Anderson dan Paskeviciute 2006; Fung dan Au 2014; Komakech et al. 2012), serta kemungkinan akan mengurangi kohesi sosial. (Flache dan Mäs 2008; Jehn et al. 1999). Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa heterogenitas ekonomi memiliki efek positif pada penyediaan barang kolektif, yang menyatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan ketidaksetaraan insentif, yang mengakibatkan beberapa apropriator cukup termotivasi untuk berinvestasi dalam aksi kolektif sendiri, sehingga menanggung biaya kerjasama.


Kami memasukkan kepercayaan sebagai mediator untuk menyelidiki hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR: terdapat bukti bahwa heterogenitas mempengaruhi kepercayaan (Alesina dan La Ferrara 2002; Delhey dan Newton 2005; Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001) dan memiliki dampak yang signifikan pada hasil sosial (Fukuyama 1995; Putnam 2000; Uslaner 2002; Zak dan Knack 2001). Hubungan antara kepercayaan dan keberhasilan CPR, serta fungsi kepercayaan dalam hubungan tidak langsung antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, akan diselidiki.


Tidak ada bukti hubungan negatif antara heterogenitas dan keberhasilan CPR, menurut temuan tersebut. Heterogenitas ekonomi, di sisi lain, ditemukan berhubungan negatif dengan kepercayaan, sedangkan kepercayaan ditemukan berhubungan positif dengan keberhasilan CPR. Ada bukti pengaruh tidak langsung dari heterogenitas ekonomi pada keberhasilan CPR melalui kepercayaan.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Dampak Sampah Lautan Pada Hewan dan Solusi Yang Dapat Dilakukan

Sumber: Plankton over plastic: Citizen support for strong laws to reduce ocean plastics | West Coast Environmental Law (wcel.org)

Polusi yang disebabkan oleh manusia berdampak besar pada lingkungan laut dunia. Salah satu bentuk pencemaran yang paling luas adalah sampah plastik. Plastik diperkirakan diproduksi lebih dari 80 juta ton per tahun di seluruh dunia. Plastik ini tahan lama, membutuhkan 500 tahun di lautan untuk terurai. Karena ketahanan dan daya apungnya, mereka dapat dibawa jauh dari sumbernya. Di samudra utama, rasio plastik terhadap zooplankton dihitung hingga 6:1 menurut beratnya.

 

Paus, ikan, dan hewan laut lainnya bergantung pada zooplankton untuk makanan karena mereka adalah penghubung penting antara fitoplankton dan matahari. Plastik diyakini diambil oleh zooplankton dan dengan demikian bergabung dengan rantai makanan, menurut para peneliti. Racun juga dimasukkan ke dalam rantai makanan oleh plastik. Saat plastik terdegradasi, mereka melepaskan zat beracun. Polutan di atmosfer sering dikumpulkan oleh mereka. Saat hewan menelan plastik, kedua bahan kimia ini dilepaskan.

 

Paus, anjing laut, duyung, burung laut, penyu, kepiting, ular laut, hiu, pari, dan ikan lainnya termasuk di antara lebih dari 200 hewan yang dilaporkan dirusak oleh sampah air. Banyak dari spesies ini yang terancam punah, yang lainnya penting untuk makanan kita. Ini menunjukkan bahwa plastik yang dimakan oleh hewan tidak hanya membahayakan mereka – usus mereka mungkin berlubang, dan mereka mungkin mati – tetapi bahan kimia dalam plastik juga dapat membahayakan manusia.

 

Hewan laut juga berisiko terjerat. Setiap tahun, hingga 40.000 anjing laut berbulu terbunuh saat mereka terjerat puing-puing. Hal ini menyebabkan penurunan populasi tahunan 4-6 persen. Hampir setiap kelompok vertebrata laut dipengaruhi oleh belitan. Kura-kura, cetacea, paus, singa laut, burung laut, hiu dan pari, kepiting, dan spesies lain diketahui terkena imbas di perairan dunia.

 

Alat tangkap yang hilang, serta sampah yang terkait, merupakan masalah besar. Setiap tahun, setidaknya 6,4 juta ton alat tangkap komersial diperkirakan akan hilang di lautan di seluruh dunia. Teluk Carpentaria, di ujung utara Australia, adalah contoh yang bagus untuk ini. Lebih dari 8.000 jaring ikan terbengkalai, dengan total jaring sepanjang 90.000 meter, telah dibersihkan di pantai-pantai di negara itu. Menurut pemodelan oseanografi kami, jaring-jaring ini kemungkinan besar akan melayang di wilayah yang luas di wilayah tersebut, mempengaruhi enam dari tujuh spesies penyu laut dunia yang hidup di sana. Banyak hewan lain yang kemungkinan besar akan dirugikan, tetapi mereka akan mati sebelum jala tersapu ke darat dan ditemukan.

Menyelesaikan Permasalahan Ini

Untuk memerangi sampah laut, diperlukan kombinasi pendidikan, insentif, dan regulasi. Daur ulang botol plastik adalah contoh yang baik; telah berkembang setiap tahun sejak 1990, mencapai 2,2 triliun pound pada tahun 2006. Sumber daya pendidikan, seperti kode identifikasi plastik pada botol, menawarkan informasi penting kepada masyarakat umum dan meningkatkan partisipasi. Deposito botol, hadiah finansial, menghasilkan pengurangan kerugian lingkungan sebesar 75%. Peraturan, seperti larangan botol minuman sekali pakai baru-baru ini, dapat membantu meringankan masalah lebih jauh.

 

Di sisi lain, kurangnya pengetahuan kita membuat sulit untuk menargetkan pendidikan, insentif, dan regulasi. Saat ini tidak mungkin untuk menghubungkan plastik di atmosfer dengan pabrik, supermarket, nelayan, atau pelanggan tertentu. Seperti banyak bentuk polusi lainnya, ini berarti alat kami untuk perubahan budaya harus disesuaikan secara luas, sementara kerugian lingkungan kemungkinan besar disebabkan oleh minoritas yang sembrono. Perilaku manusia harus bergeser dari masyarakat yang membuang sampah saat ini, dan transparansi adalah komponen kunci dari transformasi ini.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Dampak Mikroplastik pada Manusia

Berdasarkan penelitian Frias & Nash (2018), mikroplastik didefinisikan sebagai “partikel padat sintetis atau matriks polimer, dengan bentuk beraturan atau tidak beraturan dan dengan ukuran mulai dari 1 m sampai 5 mm, baik primer maupun sekunder yang berasal manufaktur dan tidak larut dalam air.”

Mikroplastik sudah menyebar di tiap aspek kehidupan kita. (Sumber: Zatevahins/Shutterstock)

Jumlah mikroplastik sudah sangat banyak dan juga sudah tersebar di seluruh dunia terutama dalam 70 tahun terakhir. Distribusi dan jumlah mikroplastik sangat banyak dan bahakan membuat lapisan startifikasi sendiri di tanah atau batuan, sehingga banyak ilmuwan yang menjadikan mikroplastik sebagai periode zaman tersendiri: Plasticene (Campanale et al. 2020). Namun, dampak dari mikroplastik tidak sepenuhnya dimengerti, terutama dampaknya pada kesehatan manusia. Hal disebabkan karena sifat fisik dan kimia dari mikroplastik yang sangat kompleks. Mikroplastik terdiri dari dua tipe senyawa kimia, yaitu 1. Senyawa aditif dan material polimer mentah (termasuk material penguat, plasticizer, antioksidan, penstabil UV, pelumas, pewarna dan penghambat api) dan 2. Senyawa kimia yang diserap dari lingkungan.

Mikroplastik dikhawatirkan dapat masuk ke dalam rantai makanan, terakumulasi, dan dikonsumsi oleh manusia seperti biogmanifikasi dari zat xenobiotic. Ide tentang biomangifikasi berasal dari buku Rachel Carson yang berjudul “silent spring” tentang akumulasi senyawa DDT yang menyebabkan telur ayam dan elang bercangkang tipis dan menyebabkan kematian telur-telur tersebut.

Biomagnifikasi adalah “proses di mana zat xenobiotic (senyawa kimia yang secara alami tidak ada dalam organisme) dipindahkan dari organisme ke organisme lain dalam rantai makanan yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumbernya.” (Rand et al., 1995). Walaupun fenomena biomagnifikasi dipakai untuk menjelaskan akumulasi senyawa kimia pada jaring makanan, mikroplastik yang merupakan benda fisik juga diasumsikan punya pola yang sama. Mikroplastik merupakan salah satu xenobiotic yang mulai banyak diteliti oleh banyak peneliti sebagai akibat dari meningkatnya jumlah dan distribusi plastik di lingkungan selama beberapa tahun terakhir (Gray, 2002).

Dari penelitian Saley et al. (2019) di Jurnal marine Pollution Bulletin, akumulasi mikroplastik bahkan terjadi di rantai makanan di ekosistem pantai yang jauh dari manusia, mikroplastik ini ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi terutama di populasi herbivora air (terutama siput). Jika di ekosistem perairan yang ada di tempat terpencil saja mikroplastik dapat terakumulasi mencapai konsentrasi yang bisa terdeteksi, ekosistem yang dekat dengan populasi manusia diasumsikan mengandung lebih banyak lagi mikroplastik.

Berdasarkan penelitian Miller et al. (2020) di Jurnal Plos One, mikroplastik telah terakumulasi dan ada dalam semua tingkatan pada jaring-jaring makanan di ekosistem perairan, terutama di laut. Walaupun tidak ada indikasi di lapangan bahwa akumulasi mikroplastik yang terjadi dalam tubuh mahkluk hidup adalah biomagnifikasi. Tetap saja tidak dapat dipungkiri bahwa mikroplastik telah ada dalam hewan air tawar dan laut yang kita konsumsi, bahkan juga di hewan darat.

Penelitian tentang bahaya mikroplastik pada kesehatan manusia sudah mulai banyak dilakukan. Walaupun belum ada hasil yang konklusif dari banyak penelitian tersebut, terdapat indikasi bahwa mikroplastik membahayakan tubuh manusia karena bersifat toksik bagi sel-sel tubuh dan juga karena mikroplastik dapat menjadi pembawa mikrooganisme ataupun senyawa lain seperti logam berat yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pencernaan, pernafasan, dan kontak dengan kulit.

Mikroplastik dapat masuk ke sistem pencernaan lewat makanan dan dapat berdampak buruk sistem pencernaan dan sistem eskresi. Berdasakan hasil penelitian Barboza et al. (2018), mikroplastik dengan ukuran 10 µm dapat masuk ke membran sel, organ, dan plasenta. Selain itu, mikroplastik berukuran lebih kecil dari 2,5 µm dapat masuk ke saluran pencernaan melalui endositosis oleh sel. Masuknya mikroplastik ke saluran pencernaan dapat menyebabkan keracunan yang disebabkan oleh inflamasi. Tingkat keparahan inflamasi dipengaruhi oleh konsentrasi mikroplastik dalam saluran pencernaan. Sebenarnya sistem ekskresi manusia mampu untuk mengeluarkan mikro dan nanoplastik sampai sebanyak 90% (Campanale et al. 2020). Walaupun begitu, lebih dari 10% sisanya tetap dapat menyebakan inflamasi.

Mikroplastik juga ada di udara dapat berasal dari tempat pengolahan sampah, baju berbahan sintetik, emisi industri, debu, dan pertanian. Mikroplastik ini dapat masuk ke sistem pernafasan lewat udara dan dapat berdampak buruk sistem pernafasan. Dampak mikroplastik ini berbeda-beda tergantung kerentanan, dosis, dan metabolisme tubuh, namun beberapa orang dapat mengalami asma, pneumonia, inflamasi, radang bronchitis, dan bahkan kanker pulmonari (seperti yang ditemukan pada karyawan di industri tekstil) (Campanale et al. 2020). Selain itu, ada bahaya lain dari kemungkinan transmisi mikroorganisme ke saluran pernafasan dari mikroorganisme yang menempel di mikroplastik.

Mikroplastik juga dapat masuk ke kulit melalui kontak fisik dengan kulit saat membasuh kulit dengan air atau dari kosmetik. Walaupun begitu, hanya mikroplastik yang berukuran kurang dari 100 nm yang dapat masuk. Mikroplastik tersebut mengandung polutan organik, antibiotik, dan logam berat yang memiliki sifat sitotoksitas (tingkat merusaknya suatu zat pada sel) yang tinggi (Campanale et al. 2020). Salah satu contohnya adalah logam aluminium dan antimon yang dapat menyebabkan kanker payudara dan logam mangan yang dapat menyebabkan kelainan sistem syaraf.

Detail bahaya dari mikroplastik dan efeknya ke tubuh manusia belum banyak dipelajari. Bisa jadi mikroplastik lebih berbahaya bagi kesehatan daripada penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengurangi sampah plastik agar distribusi dan jumlah mikroplastik di sungai dan lautan dapat berkurang dan tidak membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Greeneration Foundation mendukung pencegahan mikroplastik di perairan melalui Citarum Repair untuk membantu mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum dan juga membantu melakukan edukasi ke warga di sekitar Sungai Citarum terkait sampah plastik di sungai dan laut.

 

Referensi

Barboza, L. G. A., Vethaak, A. D., Lavorante, B. R., Lundebye, A. K., & Guilhermino, L. (2018). Marine microplastic debris: An emerging issue for food security, food safety and human health. Marine pollution bulletin133, 336-348.

 

Campanale, C., Stock, F., Massarelli, C., Kochleus, C., Bagnuolo, G., Reifferscheid, G., & Uricchio, V. F. (2020). Microplastics and their possible sources: The example of Ofanto river in Southeast Italy. Environmental Pollution258, 113284.

 

Frias, J. P. G. L., & Nash, R. (2019). Microplastics: finding a consensus on the definition. Marine pollution bulletin138, 145-147.

 

Gray, J. S. (2002). Biomagnification in marine systems: the perspective of an ecologist. Marine Pollution Bulletin45(1-12), 46-52.

 

Miller, M. E., Hamann, M., & Kroon, F. J. (2020). Bioaccumulation and biomagnification of microplastics in marine organisms: A review and meta-analysis of current data. Plos one15(10), e0240792

 

Rand GM, Wells PG, McCarty LS. Introduction to aquatic toxicology. (1995). In: Rand GM, editor. Fundamentals of aquatic toxicology: Effects, environmental fate, and risk assessment. North Palm Beach: Taylor & Francis. pp. 3–67

 

Saley, A. M., Smart, A. C., Bezerra, M. F., Burnham, T. L. U., Capece, L. R., Lima, L. F. O., … & Morgan, S. G. (2019). Microplastic accumulation and biomagnification in a coastal marine reserve situated in a sparsely populated area. Marine pollution bulletin146, 54-59.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Bukan Bocah Sampah

Versi English

Versi English

karya Chiara Thidy E. Siregar 

siswi kelas VD SD Swasta Katolik Asisi Medan

Juara 1 Lomba Menulis Cerita Anak

“Lihat….” bisik Dwi di telingaku, “Si bocah sampah datang lagi mengambil tumpukan kulit kentang di depan rumahmu.”

“Sudahlah….” ucapku, “Jangan selalu mengolok-oloknya. Bukankah dia tak pernah mengganggu kita.”

Sayangnya, belum lagi tuntas ucapanku, Dwi, Thomas, dan Naga sudah berlarian ke depan rumahku. Tampaknya tak ada yang mengingat bahwa kami berkumpul sore ini untuk mengerjakan tugas IPA yang harus dikumpulkan keesokan hari. 

“Bocah sampah!” seru Thomas pongah, “Untuk apa kau mengumpulkan kulit kentang itu? Jangan-jangan untuk dimakan ya?”

“Ihhhhh….” sela Naga dengan mimik wajah jijik, “Memangnya ada yang mau makan kulit kentang?”

“Pasti ada,” senyum Dwi mengembang lebar, “Siapa lagi kalau bukan si bocah sampah. Hahaha….”

“Sudahlah. Jangan diteruskan lagi,” ujarku. Aku sungguh tak tega melihat ketiga sahabatku tiada hentinya mengolok-olok bocah lugu berwajah memelas itu.

“Rendy…” sebuah suara bernada tegas dari dalam rumah tiba-tiba mengejutkan kami semua, “Ajak teman-temanmu masuk! Mereka datang untuk mengerjakan tugas ‘kan?”

Kami semua langsung terdiam. Semua sahabatku sangat mengenal sifat ayahku. Beliau bisa bersikap ramah dan pemurah jika mereka datang untuk mengerjakan tugas atau kegiatan lain yang berhubungan dengan kepentingan sekolah. Namun, beliau juga tak jarang marah bila sahabat-sahabatku berdatangan hanya untuk bermain-main atau melakukan hal-hal tak bermanfaat.

“Ayah tidak suka kalian mengolok-olok anak itu,” tegur ayah tajam setelah Dwi, Thomas, dan Naga berpamitan.

“Bukan Rendy, ayah!” sahutku lemah, “Rendy tak pernah mengolok-oloknya.”

“Ayah percaya padamu,” suara ayah tak lagi terdengar tajam, “Andai saja kalian mengenalnya dan mengetahui kegigihannya, pasti kalian akan mengaguminya.”

“Rendy ingin bisa mengenalnya, ayah!” ucapku yakin, “Siapa namanya? Di mana ia tinggal?”

“Namanya Bayu,” jawab ayah, “Ia tinggal di dekat rel kereta api. Jika Rendy ingin mengenalnya, datanglah ke sana. Tidak sulit menemukan rumahnya. Carilah rumah berdinding bata merah dan berpagar kayu bercat kuning.”

Keesokan sore, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Bayu. Ucapan ayah tentangnya sungguh membuatku merasa penasaran.
“Seperti apa kegigihan yang dimaksud ayah,” tanyaku dalam hati.

Benar ucapan ayah. Tak sulit menemukan rumah Bayu. Belum lagi aku sempat mengucapkan salam, sosoknya sudah muncul dengan senyum terpancar hangat.

“Kamu pasti Rendy,” sapanya ramah sembari mengulurkan tangan, “Ayahmu sudah bercerita kalau kamu akan datang berkunjung. Tapi, maafkan aku ya! Seperti inilah keadaan di rumahku. Panas dan tidak nyaman.”

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya, “Aku datang sekaligus untuk meminta maaf atas ejekan teman-temanku kemarin. Maukah kamu memaafkan mereka?”

“Sudahlah. Lupakan saja,” ucapnya ringan, “Mari masuk! Kami sedang menggoreng keripik kulit kentang. Kamu mau mencicipinya?”

“Keripik kulit kentang?” batinku keheranan.

“Kamu pasti terkejut mendengarnya,” celotehnya seolah dapat membaca pikiranku, ”Ayahmu selalu mengizinkanku mengambil kulit kentang yang tersisa dari usaha pembuatan keripik kentang milik kalian. Dari kulit kentang itu, kami membuat keripik gurih untuk dijual ke warung-warung sekitar. Hasilnya memang tidak banyak. Tapi, cukuplah untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku.”

Dengan penuh minat, aku mendengarkan penjelasan Bayu. Ternyata, kulit kentang yang dikumpulkannya terlebih dahulu harus dicuci dengan air mengalir berulang kali hingga bersih, barulah kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Kulit kentang lantas digoreng dalam minyak banyak di atas nyala api sedang agar kering dan renyah. Untuk memberi rasa gurih, Bayu menambahkan bubuk penyedap juga taburan bawang goreng.

”Renyah…. Gurih sekali….” pujiku setelah mencicipi keripik kulit kentang buatan Bayu.

”Aku senang kamu menyukainya,” senyum Bayu mengembang tulus.

Di ruangan depan, aku melihat dua orang bocah perempuan sebaya adikku sedang sibuk menjalin plastik-plastik bekas kemasan deterjen menjadi tas dan dompet. Pekerjaan mereka sangat teliti, sehingga menghasilkan kerajinan yang unik juga indah. Aku yakin, ibu pasti akan menyukai tas dan dompet buatan mereka.

”Mereka adik-adikku,” bisik Bayu, ”Seperti inilah pekerjaan kami setiap hari. Mengolah benda-benda yang tersisa dan sering dianggap sampah. Selain memperoleh uang untuk menyambung hidup, kami juga bangga karena bisa mengurangi tumpukan sampah yang mencemari bumi.”

”Di mana ayah dan ibumu?” tanyaku penasaran.

”Mereka meninggal karena kecelakaan hampir dua tahun lalu,” lirih Bayu dengan mata berkaca-kaca.

Aku terdiam mendengar ucapan Bayu. Bocah-bocah seperti Bayu dan adik-adiknya seharusnya belum pantas memikirkan apa pun selain bermain dan belajar. Namun, mereka telah sanggup menunjukkan keuletan luar biasa di tengah kerasnya kehidupan. Diam-diam aku merasa malu pada diriku sendiri yang selalu hanya bisa menuntut atau merengek pada kedua orangtuaku.

”Boleh aku datang lagi besok?” tanyaku.

”Tentu saja,” sahut Bayu dengan sorot mata berbinar, ”Aku akan sangat senang bila bisa bersahabat denganmu. Tapi, apakah kamu tidak malu bersahabat dengan si bocah sampah?”

”Tentu saja tidak!” sergahku, ”Aku akan menceritakan kepada semua sahabatku tentang apa yang kulihat hari ini. Aku yakin, mereka juga pasti akan ingin menjadi sahabatmu.”

”Terima kasih,” ucap Bayu terbata-bata.

Mendadak aku teringat pada Dwi. Ayahnya adalah pengusaha keripik pisang dan aku sering melihat onggokan kulit pisang di depan rumahnya. Besok, aku akan mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kulit pisang itu. Aku pun ingin seperti mereka. Aku ingin berbuat sesuatu guna menunjukkan rasa cinta kepada bumiku.

Pemetaan Karakteristik Masyarakat di Sekitar Bantaran Sungai Citarum

Pemetaan Karakteristik Masyarakat di Sekitar Bantaran Sungai Citarum

oleh Farid Lisniawan Muzakki, pemenang Citarum Repair Writing Competition (Kategori Bahasa Indonesia)

Sungai Citarum. Sumber foto: CNN Indonesia

 

Permasalahan sampah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, dan hal tersebut sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Kegiatan sehari-hari manusia, baik dalam skala rumah tangga maupun industri, dapat menghasilkan sampah yang tidak sedikit jumlahnya. Sampah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan masalah baru. Namun kenyataannya di lapangan, masih ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap sampahnya dan membuang begitu saja. Hal tersebut menyebabkan pencemaran lingkungan, salah satunya adalah pencemaran sungai dan laut.

 

Sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Sungai Citarum tidak lepas dari permasalahan sampah. Sungai Citarum melewati 13 wilayah kabupaten/kota dan berdekatan dengan banyak pemukiman dan kawasan industri. Dengan kondisi geografis tersebut, besar kemungkinan terjadinya pencemaran sungai oleh pihak-pihak tertentu. Bahkan pada tahun 2018, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia oleh World Bank. Banyak hal yang menyebabkan tercemarnya Sungai Citarum, seperti limbah domestik rumah tangga, limbah peternakan, limbah industri, dan tumpukan sampah padat.

 

Menurut Kepala LPTB LIPI Sri Priatni, sumber pencemaran terbesar Sungai Citarum berasal dari limbah domestik rumah tangga dengan presentase 60-70%. Permasalahan limbah domestik ini tidak terlepas dari kelayakan sanitasi masyarakat di bantaran sungai. Kehidupan masyarakat dengan sanitasi yang buruk menyebabkan limbah produk rumah tangga dan feses manusia terbuang begitu saja ke perairan tanpa diproses terlebih dahulu.

 

Banyaknya peternak yang bermukim di bantaran Sungai Citarum meningkatkan kemungkinan terjadinya pencemaran sungai. Limbah ternak yang tidak diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan dibuang langsung ke sungai menjadi permasalahan baru. Bersama dengan limbah feses manusia, limbah peternakan menyebabkan tingginya total bakteri E. coli pada Sungai Citarum. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal menjelaskan bahwa bakteri E. coli dapat membawa penyakit serius bagi manusia, seperti diare bercampur darah, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, dan penyakit jantung.

 

Kawasan industri juga turut bertanggung jawab atas pencemaran Sungai Citarum. Dari seluruh industri yang ada di bantaran Sungai Citarum, hanya sekitar 20% saja yang mengolah limbah mereka, sedangkan sisanya langsung membuang limbah ke perairan tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak berwenang (Tribunnews, 09/07/2018). Limbah berbahaya yang masuk ke Sungai Citarum dari kawasan industri menimbulkan kerugian bagi masyarakat, mulai dari bau yang tidak sedap, kematian biota air tawar, hingga terjadinya gagal panen bagi petani. Bahkan menurut Greenpeace, total kerugian ekonomi akibat tercemarnya Sungai Citarum pada tahun 2016 adalah sekitar Rp 11,4 triliun.

 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pencemaran Sungai Citarum, salah satunya melalui program Citarum Harum. Program tersebut dilaksanakan oleh Satgas PPK DAS Citarum dengan payung hukum Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Derah Aliran Sungai Citarum. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan menyisir anak sungai dan sungai Citarum untuk membersihkan tumpukan sampah padat dan mengidentifikasi beberapa saluran yang berisi limbah pencemar. Komandan Satgas Citarum Harum Sektor 13, Kolonel Inf Nazwadi Irham menyatakan bahwa kondisi anak Sungai Citarum mulai mengalami perubahan cukup signifikan setelah patroli dilakukan. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah berhasil menyeret beberapa perusahaan yang terbukti mencemari Sungai Citarum ke pengadilan. Namun strategi tersebut masih belum dapat sepenuhnya mengubah kebiasaan masyarakat dan mengindentifikasi saluran yang berada di bawah permukaan air.

 

Untuk mengatasi masalah pencemaran Sungai Citarum, pemerintah harus menyasar akar dari permasalahannya, yaitu aktivitas manusia. Setiap Pemerintahan Daerah (Pemda) perlu memetakan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum, mulai dari kegiatan rumah tangga, peternakan, maupun industri. Kemudian Pemda mengidentifikasi kemana perginya sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Hasil pemetaan alur perginya sampah dari masing-masing Pemda disatukan oleh Pemerintahan Provinsi (Pemprov) untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai aktivitas masyarakat di sekitar bantaran Sungai Citarum dari hulu hingga bermuara di laut.

 

Pemda bersama Satgas Citarum Harum dapat melakukan inspeksi mendadak ke industri di sekitar bantaran sungai untuk mengidentifikasi alur pembuangan limbah dan mengukur kandungan bahan kimia berbahaya yang terkandung didalamnya. Stategi ini lebih efektif untuk menemukan saluran-saluran tersembunyi yang mencemari Sungai Citarum. Perusahaan yang ditemukan melakukan pencemaran sungai dapat langsung diproses secara hukum.

 

Gambaran aktivitas masyarakat tersebut merupakan landasan dasar dari setiap program yang akan dijalankan. Pemerintah dapat membuat beberapa titik lokasi bank sampah dan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) bersama. Berdasarkan hasil pemetaan, pemerintah juga dapat mengidentifikasi karakteristik sampah di suatu daerah dan menentukan jenis bank sampah dan IPAL yang tepat. Pembangunan IPAL bersama akan memudahkan pelaku industri, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki dana cukup untuk membangun IPAL sendiri. Daerah dengan fasilitas kebersihan yang kurang memadai bisa teridentifikasi dari hasil pemetaan, sehingga perencanaan pembangunan atau pengadaan fasilitas menjadi lebih tepat sasaran.

 

Aktivitas masyarakat dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung pada budaya dan nilai yang dipegang oleh masyarakat daerah tersebut. Pemetaan kegiatan masyarakat berarti juga pemetaan kebiasaan dan perilaku masyarakat. Hal tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan materi edukasi sehingga dapat tersampaikan secara optimal. Materi edukasi yang tepat sasaran akan mempermudah Satgas dalam mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat. Selain itu, dari kebudayaan yang berlaku dapat diketahui siapa sosok yang dihormati di daerah tersebut. Menjadikan tokoh masyarakat sebagai pemberi edukasi dan pengawas kebersihan sungai dapat mendukung pemerintah untuk mencapai tujuan program Citarum Harum.

 

Pemerintah melalui Satgas Citarum Harum tidak mampu mengendalikan pencemaran dan kerusakan Sungai Citarum sendirian, komunitas dan masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai harus bergotong royong membantu menjaga kelestarian Sungai Citarum. Pencemaran Sungai Citarum bukanlah sebuah masalah sederhana, perlu adanya penanganan yang terencana dan tepat sasaran serta melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dengan penanganan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sasaran, program Citarum Harum akan berjalan lebih efektif dan optimal.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Kompetisi Menulis Citarum Repair 2021 Hasilkan 6 Nama Pemenang

Kompetisi Menulis Citarum Repair 2021 Hasilkan 6 Nama Pemenang

Program Citarum Repair dari Greeneration Foundation membuka lomba penulisan artikel populer dalam dua bahasa. Kompetisi ini dibuka sejak awal Januari 2021 dan pengiriman karya ditutup pada 14 Februari 2021. Partisipan dapat memilih tema tulisan: sungai dan laut tercemar sampah plastik atau aktivitas manusia mencemari sungai dan laut

Jurnalis lingkungan senior Harry Surjadi dan dosen Teknologi Pengelolaan Lingkungan ITB Indah Rachmatiah Siti Salami akan menilai karya yang masuk. Dari 140 pengirim, para juri telah menentukan 6 pemenang dari dua kategori:

Pemenang Kompetisi Menulis Kategori Bahasa Indonesia

Kategori Bahasa Indonesia

Juara 1: Farid Lisniawan Muzzaki

Juara 2: Hasna Afifah

Juara 3: Vella Maharani Febina

Pemenang Kompetisi Menulis Kategori Bahasa Inggris

Kategori Bahasa Inggris

Juara 1: Christa Anggelia Sulistio

Juara 2: Calista Trina Winata

Juara 3: Tiar Salsabila Fitriazaki

Tiap pemenang akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:

Juara 1:

  • Uang sebesar Rp 1.500.000
  • Tulisan bahasa Indonesia dipublikasi di website Greeneration Foundation
  • Tulisan bahasa Inggris dipublikasi di website cleancurrentcoalition.org
  • Souvenir Citarum Repair

Juara 2:

  • Uang sebesar Rp 1.000.000
  • Souvenir Citarum Repair
  • Juara 3:

  • Uang sebesar Rp 500.000
  • Souvenir Citarum Repair
  • Greeneration Foundation ucapkan selamat bagi para pemenang! Bagi Generasi Hijau yang belum beruntung, nantikan kompetisi menarik lainnya dari Greeneration Foundation!

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Kompetisi Menulis Cerita Pendek Fiksi Anak Kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar

    Kompetisi Menulis Cerita Pendek Fiksi Anak Kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar

    Sumber: theasianparent.com

    Total Hadiah 5 Juta Rupiah!

    Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Greeneration Foundation dan Unilever Indonesia Foundation bekerjasama untuk mengadakan kompetisi menulis bagi siswa sekolah dasar. Ayo adik-adik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang suka menulis dan peduli terhadap lingkungan, ikuti Kompetisi Menulis Cerita Pendek Fiksi Anak ini!

    KATEGORI KOMPETISI

    Kompetisi Menulis Cerita Pendek Fiksi untuk siswa Sekolah Dasar kelas 4, 5, dan 6

    TEMA KOMPETISI

    “Semangat Melawan Sampah di Sekitar Kita”

    KETENTUAN PENULISAN

    • Tulisan berupa Cerita Fiksi bahasa Indonesia yang ditulis oleh peserta yang mendaftar
    • Judul dituliskan di dalam karya peserta
    • Maksimal jumlah kata dalam tulisan sebanyak 800 kata, sudah termasuk judul
    • Tulisan ditulis dalam format Ms. Words, tanpa spasi (single spaced), dengan font Times New Roman, dan ukuran huruf sebesar 12 pt
    • Hak cipta milik penulis dan Greeneration Foundation berhak mempublikasikan hasil tulisan pemenang juara 1 sampai 3 dengan mencantumkan nama penulis di masa depan
    • Penilaian juri tidak dapat diganggu gugat

    TIMELINE

    • Pendaftaran dan Pengumpulan : 5 Februari 2021 s.d 28 Februari 2021
    • Penilaian: 1 Maret 2021 s.d 14 Maret 2021
    • Pengumuman Pemenang: 18 Maret 2021

    TEKNIS PENGUMPULAN

    • Kirimkan hasil tulisan adik-adik disertai dengan:

    • Kartu pelajar atau surat keterangan dari sekolah yang menyatakan bahwa peserta duduk di kelas 4, 5 atau 6 di Sekolah Dasar
    • Data diri seperti: Nama lengkap, Alamat, Nomor HP/WhatsApp pribadi atau orang tua dan email saat pendaftaran Kirim ke email media@greeneration.org paling lambat tanggal 28 Februari 2021 Namai file dan subjek email dengan: Kompetisi Menulis Anak GF Unilever (Nama Peserta)

    • Kirim ke email mailto:media@greeneration.org paling lambat tanggal 28 Februari 2021
    • Namai file dan subjek email dengan: Kompetisi Menulis Anak GF Unilever (Nama Peserta)

    HADIAH DAN APRESIASI

    • Juara 1: 1 set lunch box, sertifikat juara 1, uang tunai sebesar 2,5 juta rupiah, cerita akan dipublikasikan di website Greeneration Foundation
    • Juara 2: 1 set lunch box, sertifikat juara 2, uang tunai sebesar 1,5 juta rupiah
    • Juara 3: 1 set lunch box, sertifikat juara 3, uang tunai sebesar 1 juta rupiah

    SESI TANYA JAWAB

    9 Februari 2021, Pukul 17.00 di Live Instagram: @greenerationid Bersama Ka Wisya (Program Manager Edukasi)

    Jangan lupa untuk mendaftar dan tunjukan karya terbaikmu!

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    #MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

    #MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

    Dari dulu Sungai Citarum itu dikenal sebagai sungai yang kotor. Bahkan warga yang tinggal di Jawa Barat juga mengenalnya sebagai sungai yang kotor.

    Tapi bagaimana jika kita memposisikan diri menjadi Sungai Citarum?
    Orang-orang tidak mengenal kita, tapi mereka langsung memberi gelar kita sebagai orang yang kotor?
    Pasti rasanya tidak enak, bukan?

    Nah mungkin seperti itulah yang terjadi dengan Sungai Citarum saat ini. Dikenal akan citra buruknya bukan manfaatnya.

    Maka dari itu, agar kita tidak mengikuti orang-orang yang tahu Sungai Citarum hanya sebatas berita.

    Mari kita simak bersama-sama Pandangan dari Berbagai Pemangku Kepentingan terhadap Sungai Citarum.
    Ayo join! dan klik Linknya, agar kita lebih paham!

    Mari berdiskusi!


    Webinar Series ini diorganisir oleh @greenerationid dengan dukungan dari mitra kerja @waste4change dan @river_recycle.

    Ajak teman-temanmu dan daftarkan diri kalian sekarang juga pada link yang ada di video.

    Kami tunggu partisipasinya dan semangatnya untuk menjaga sungai kita. Daftarkan dirimu pada kedua Webinar tersebut melalui link ini

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

    Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

     

    Ketersediaan air bersih adalah salah satu faktor penentu utama kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sejak Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan pertumbuhan populasi, tantangan menyediakan air bersih untuk kehidupan semakin meningkat. Tingginya permintaan akan air bersih juga membuat permintaan akan pengelolaan sumber daya air yang bertanggung jawab menjadi semakin intensif.

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak sumber daya air, salah satunya sungai-sungai yang tersebar di nusantara. Secara geografis, Indonesia dibagi menjadi 131 wilayah wilayah sungai dengan lebih dari 5.700 sungai, termasuk bendungan dan kanal-kanal. (ADB, 2016). Dengan demikian, seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk menyediakan air bersih bagi seluruh populasi Indonesia. Dalam artikel sebelumnya, kita juga telah membahas tentang jasa ekosistem sungai yang berpotensi memberikan manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. 

    Sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa dekade terakhir dan semakin tingginya laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi membuat sungai-sungai Indonesia menghadapi banyak masalah saat ini. Masalah yang paling mendesak adalah pencemaran air di sungai-sungai yang banyak melalui kawasan industri dan pemukiman warga. Pencemaran sungai ini mempengaruhi kualitas air di sungai kita. Untuk memahami kualitas sungai, kita dapat merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 82/2001 tanggal 14 Desember 2001. Menurut peraturan ini, kualitas air dibagi menjadi 4 kelas, yaitu:

    (i) Kelas I, air yang dapat digunakan untuk keperluan minum;

    (ii) Kelas II, air yang dapat digunakan untuk rekreasi air, budidaya ikan, irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa;

    (iii) Kelas III, air yang dapat digunakan sebagai alat/fasilitas budidaya ikan, irigasi, dan/atau penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas yang serupa dengan manfaatnya; dan

    (iv) Kelas IV, air yang hanya dapat digunakan untuk irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa

    Asian Development Bank (ADB) melalui Country Water Assessment (2016), melaporkan bahwa kualitas air sungai di Indonesia buruk. Beberapa parameter digunakan untuk menilai kualitas sungai Indonesia seperti ketersediaan oksigen secara kimiawi dan biologis, banyaknya kandungan bakteri fecal coli, dan total banyaknya coliform. ADB melakukan studi terhadap 44 sungai besar di seluruh Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa hanya empat sungai yang memenuhi standar Kelas II sepanjang tahun 2016 (ADB, 2016). Penilaian ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan di Indonesia berada di bawah ancaman serius. Ancaman yang lebih tinggi terutama terjadi di pulau-pulau berpenduduk padat di mana hampir semua sungai besarnya tergolong tercemar berat.

    Sebagai pulau utama, Jawa juga merupakan pulau dengan jumlah penduduk terbanyak. Pesatnya pertumbuhan urbanisasi ke pulau Jawa dan kelangkaan tanah untuk pemukiman menarik orang untuk tinggal di dekat sungai. Implikasi dari permukiman padat di dekat sungai adalah semakin banyak sampah rumah tangga dibuang secara sembarangan ke sungai.

    Sungai-sungai utama di Jawa seperti Citarum dan Cimanuk di barat, Serang dan Serayu di Jawa tengah, dan Solo dan Brantas di timur (ADB, 2016) hampir semuanya sekarang sedang tercemar. Bahkan salah satunya yaitu Sungai Citarum mendapat predikat sebagai sungai paling tercemar di dunia. Dalam laporan dari Black Smith Institute dan Green Cross Switzerland (2013), Indonesia menerima “kehormatan” yang tidak diinginkan tersebut dalam sebuah laporan yang berisi tempat-tempat yang paling tercemar di dunia.

    Biaya dari sungai yang tercemar yang harus ditanggung oleh masyarakat sangat besar seperti berkurangnya sumber daya air bersih, hilangnya potensi jasa ekosistem sungai, dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir bandang. Belum lagi kerusakan ekosistem laut yang juga terdampak polusi sungai yang mengalir ke laut. Beberapa sungai mengalir langsung ke lautan membawa polusi termasuk bahan kimia beracun, limbah rumah tangga, dan polusi plastik. Sebagai akibatnya, lautan juga semakin memburuk dari hari ke hari.

    Beberapa upaya sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memulihkan sungai seperti mengeluarkan Keputusan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah-Sampah Laut tahun 2018-2025 dan membentuk satuan tugas (Satgas) untuk membersihkan sungai salah satunya Satgas Citarum Harum. Namun, upaya pemerintah kita ini tidak bisa berjalan sendiri, kita harus mendukung program pemulihan sungai-sungai di Indonesia. Pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat sipil harus berkolaborasi untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan mengedukasi publik tentang sikap yang bertanggung jawab terhadap sungai.

    Ditulis oleh: Rio Alfajri

    Referensi:

    Asian Development Bank. 2016. Indonesia Country Water Assessment. Accessed at 
    https://www.adb.org/sites/default/files/ institutional-document/183339/ino-water-assessment.pdf
     at 20th July 2020

    Blacksmith Institute. 2013. THE WORLDS WORST 2013: THE TOP TEN TOXIC THREATS. Accessed at
    https://www.worstpolluted.org/docs/TopTenT hreats2013.pdf
    at 20th July 2020

    Government Regulation No. 82/2001 dated 14 December 2001

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Support Organization

    Support Specific Program

    Berlangganan

    * Diperlukan