Category Archives: Citarum Repair

Mengenal Jasa ekosistem Sungai-Sungai di Indonesia

Mengenal Jasa ekosistem Sungai-Sungai di Indonesia

Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mengurangi sampah plastik sebesar 70% pada tahun 2025. Semangat ini mulai ditunjukkan pada tahun 2018. Presiden Joko Widodo menetapkan Keputusan Presiden Nomor 83, tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional dalam mengurangi  sampah laut Indonesia tahun 2018-2025. Pada periode yang sama, penelitian yang dilakukan oleh Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 20.000 sampah plastik ukuran besar (plastik makro) yang mengalir ke laut melalui sungai di Jakarta selama satu jam. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa jumlah sampah plastik dari semua sungai di Jakarta mencapai berat 2,1 juta kilogram (Van Emmerick, Tim, 2020). Berat ini setara dengan 42.000 kali berat mahkota emas Monas. Temuan menarik lainnya dari penelitian ini yaitu kantong plastik dan bungkus makanan merupakan sampah yang paling banyak ditemukan di sungai. Dari sini dapat diasumsikan bahwa banyak orang membuang sampah ke sungai secara langsung. Lebih lanjut, fakta ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia masih tidak menghargai sungai. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai sungai harus terus dilakukan. 

 

Jasa Ekosistem sebagai Sarana Penyadaran akan Nilai Sungai Indonesia

 

Selama beberapa ribu tahun, sungai telah menjadi bagian dari hidup manusia dan organisme lain. Sungai menjadi sumber air untuk minum, sarana irigasi serta menjadi tempat ikan dan biota air tawar lainnya bernaung. Banyak juga sungai yang dibangun sebagai area untuk perlindungan banjir. Selain itu, sungai-sungai dapat memiliki nilai budaya dan estetika.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya sungai dan lebih mudah memasukannya ke dalam perencanaan pembangunan adalah dengan menggunakan konsep jasa ekosistem (Ecosystem Service/ES). Konsep ini merujuk pada kesinambungan antara ekosistem dan kesejahteraan manusia (MEA, 2003). Dengan bahasa sederhana, jasa ekosistem adalah berbagai manfaat yang diberikan suatu ekosistem kepada manusia. Sementara jasa ekosistem sungai adalah ketersediaan manfaat sungai yang bisa diperoleh oleh manusia dan organisme lain.

Dengan memahami jasa ekosistem sungai, pemerintah juga dapat secara objektif merencanakan apa yang harus dilakukan terhadap sungai kita. Salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan yang kurang terencana di daerah sungai adalah kurangnya pemahaman terhadap jasa ekosistem yang dapat diberikan oleh sungai tersebut. Lebih lanjut, pemerintah dapat berkolaborasi dengan para ilmuwan dari dalam maupun luar pemerintahan untuk memvaluasi nilai-nilai sungai kita. Untuk memberikan penghargaan yang lebih terhadap suatu ekosistem, jasa ekosistem dapat diukur dengan satuan moneter (uang). Penelitian terbaru oleh Costanza dkk. (2014) mengestimasi bahwa nilai jasa ekosistem dari seluruh ekosistem yang ada di dunia bisa setara dengan US$ 125 triliun. Jika seluruh ekosistem di dunia saja bernilai sangat besar seperti itu, bagaimana dengan nilai-nilai sungai di Indonesia?

Seberapa Berharganya Sungai-Sungai di Indonesia

Klasifikasi jasa ekosistem yang paling umum telah dikembangkan oleh Millenium Ecosystem Assessment (MEA, 2003) dan The Economics of Ecosystems & Biodiversity (TEEB, 2008). MEA dan TEEB membagi jasa ekosistem menjadi empat kategori, yaitu: jasa pendukung, jasa penyedia, jasa regulasi, dan jasa kebudayaan. 

 

1.Jasa pendukung/Supporting service artinya bahwa ekosistem menyediakan ruang hidup bagi tanaman dan hewan, serta juga mendukung kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Contohnya, setiap sungai memiliki siklus nutrisi yang akan menjaga kesuburan daerah sungai. Kesuburan ini akan menjaga keanekaragaman hayati di sungai. TEEB memiliki istilah lain yaitu Jasa Habitat/Habitat Service karena manfaatnya yang menyediakan beragam jenis habitat yang dapat menunjang siklus hidup suatu spesies. Dalam konteks sungai Indonesia, sungai-sungai kita memiliki peran dalam siklus nutrisi dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tanaman atau hewan untuk bertahan hidup: makanan, air, dan tempat berlindung.

 

2. Jasa penyediaan/provisioning service yang mengacu pada kemampuan sungai menyediakan sumber daya seperti air, nutrisi, ikan, dan sumber daya lainnya. Biota sungai sudah lama dimanfaatkan baik sebagai makanan atau obat-obatan. Contohnya masyarakat Sumatera Selatan menggunakan Ikan Belida di Sungai Musi sebagai bahan utama makanan tradisional mereka yaitu pempek. Selain untuk konsumsi, air di sungai juga berpotensi digunakan sebagai sarana non-konsumtif seperti pembangkit listrik, transportasi, dan navigasi. 

 

3. Jasa regulasi/Regulation Service artinya sungai di Indonesia juga dapat divaluasi dari kapasitasnya dalam bertindak seolah-olah sebagai penjaga keteraturan. Berbagai potensi pengaturan dimiliki oleh sungai-sungai di Indonesia seperti kemampuan pengendalian erosi, penahan banjir, dan penjaga kualitas air. Sebagai contoh, pada tahun 1973, Master Plan untuk Drainase dan Pengendalian Banjir Jakarta yang disusun dengan bantuan Konsultan Teknik Belanda (NEDECO), menggantungkan upaya pengendalian banjir pada dua kanal yang menampung air yang meluap dari Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, Sungai Cideng, dan sungai-sungai lain di Jakarta.

 

4. Jasa Budaya/Cultural Service yang merujuk pada kemampuan ekosistem yang memiliki manfaat non-material termasuk manfaat estetika, spiritual, dan psikologis. Beberapa sungai di Indonesia digunakan sebagai sarana kegiatan rekreasi seperti arung jeram di Sungai Asahan, Sumatera Utara, kayak di Sungai Mahakam, Kalimantan, hingga memancing. Pemandangan sungai di Indonesia juga berpotensi untuk menarik wisatawan. 

 

Contoh-contoh di atas menunjukkan betapa berpotensinya sungai-sungai di Indonesia jika dikelola dengan baik. Semua pihak harus mulai menyadari betapa krusialnya peran sungai bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lain. Masyarakat baik yang tinggal di dekat sungai maupun masyarakat umum harus mulai berhenti membuang sampah di sungai. Selain merusak keindahan dan mengotori laut, ekosistem di sungai sendiri bisa rusak dan bisa membawa dampak buruk bagi masyarakat, seperti banjir hingga erosi. Pemerintah juga harus mulai melakukan kajian terhadap potensi yang dimiliki oleh sungai-sungai di Indonesia. Dengan mengetahui nilai manfaat dari sungai tersebut, pemerintah dapat terbantu untuk merencakan rencana pembangunan yang tepat guna pada lanskap sungai di negeri ini.

 

Ditulis oleh: Rio Alfajri

Referensi

Böck, K., Polt, R., & Schülting, L. (2018). Ecosystem Services in River Landscapes. In Riverine Ecosystem Management (pp. 413-433). Springer, Cham.

Costanza R, de Groot R, Sutton P, van der Ploeg S, Anderson SJ, Kubiszewski I, Farber S, Kerry Turner R (2014) Changes in the global value of ecosystem services. Glob Environ Chang 26 (May):152–158. https://doi.org/10.1016/ j.gloenvcha.2014.04.002  

MEA (2003) Ecosystems and human well-being: a framework for assessment. Washington, DC. http:// www.millenniumassessment.org/ en/Framework.html  

Satria, Arif. 2018. Indonesia is the Second Largest Plastic Waste Contributor in the World. Available at https://ipb.ac.id/news/index/2018/10/ indonesia-is-the-second-largest-plastic-waste-contributor-in-the-world/ 65b58e2ccb3ffe42cd0470ea3624b018. Accessed at 08 July 2020.  

Van Emmerick, Tim. 2020. Research: Indonesia’s Ciliwung among the World’s Most Polluted Rivers. Available at https://theconversation.com/research-indonesias-ciliwung-among-the-worlds-most-polluted-rivers-131207. Accessed at 08 July 2020. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Asia adalah benua yang paling banyak menyumbang polusi plastik di dunia. Menurut sebuah laporan dari Jambeck et al (2015), 8 dari 10 negara teratas yang diberi peringkat berdasarkan jumlah sampah plastik yang salah kelola adalah negara-negara Asia. Peningkatan pesat dalam permintaan konsumen untuk produk yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai adalah alasan utamanya. Hal ini diperparah oleh sistem pengelolaan limbah padat yang tidak memadai dan perilaku buruk dalam membuang sampah ke sungai yang bermuara ke lautan.

Indonesia sendiri berada di peringkat kedua dalam laporan itu, di bawah Tiongkok. Indonesia menghasilkan 65 juta ton limbah padat pada tahun 2016 menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sekitar 69% ditimbun, 7% didaur ulang dan dibuat kompos, dan 24% dibakar secara ilegal atau dibuang secara tidak bertanggung jawab (salah kelola). Di antara limbah padat lainnya, plastik adalah salah satu yang sangat menantang untuk ditangani. Setiap tahun volume sampah plastik meningkat 10 juta ton. Indonesia menyumbang 1,49 MMT / tahun limbah plastik ke laut dan diproyeksikan oleh Jambeck et al (2015) bahwa pada tahun 2025 jumlahnya akan lebih dari dua kali lipat.

Untungnya, upaya untuk mengatasi masalah ini tumbuh di Indonesia sebagai bagian dari upaya internasional untuk melindungi lingkungan. Beberapa negara di dunia menyediakan program pengurangan limbah plastik seperti perpajakan, kantong plastik tipis, serta menerapkan teknologi dan rekayasa sosial untuk mengubah perilaku masyarakat terhadap limbah plastik. Pemerintah Indonesia ikut mengambil peran aktif dalam mengatasi masalah ini. Beberapa inisiatif untuk mencegah sampah laut yang dilakukan oleh berbagai aktor di Indonesia didukung oleh pembentukan Peraturan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah di Laut periode 2018-2025. Rencana Aksi Nasional ini dilakukan untuk mengatasi sampah laut dari sumbernya melalui perbaikan dalam pengelolaan limbah rumah tangga.

Knowledge Gaps dalam Masalah Isu Sampah di Lautan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saat ini banyak negara masih menghadapi masalah kesenjangan pengetahuan (knowledge gaps) di masyarakat. Banyak masyarakat yang masih menganggap remeh tentang pentingnya lingkungan laut bagi kehidupannya. Keterbatasan pengetahuan tentang jenis plastik seperti apa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari serta bahayanya menyebabkan pengabaian terhadap sampah plastik yang mereka hasilkan. 

 

Padahal, jika masyarakat menjadi lebih sadar akan plastik yang mereka gunakan dan kerugiannya bagi lingkungan, perilaku membuang sampah sembarangan diharapkan dapat berubah secara dramatis. Asumsi ini dikemukakan McKinley dan Fletcher (2012) bahwa peningkatan pengetahuan publik dapat menyebabkan perubahan perilaku. Salah satu yang dapat menciptakan kesenjangan pengetahuan di antaranya adalah jarak antara masyarakat ke daerah laut yang terkena dampak. Orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan dengan akses yang sulit untuk melihat langsung dampak terhadap lingkungan laut mungkin merasa tidak ada masalah sama sekali.

 

Berangkat dari permasalah tersebut, dalam artikel ini, saya akan menunjukkan seberapa dekat sebenarnya manusia dengan plastik baik dalam hal penggunaan dalam kehidupan sehari-hari dan dampak yang bahkan bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Pertama-tama, kita harus tahu jenis plastik yang kita gunakan setiap hari. Menurut Derraik (2002) dan Thompson, et. Al (2009), plastik adalah polimer organik sintetik atau semi-sintetik yang murah, ringan, kuat, tahan lama, dan tahan korosi. Karena sifatnya ini, plastik sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kemasan untuk makanan kita, tas belanja di warung, hingga bahan pembuat pipa rumah kita. Salah satu karakteristik plastik adalah ketahanannya dan sulit terdegradasi. Oleh karenanya, limbah plastik sekali pakai menciptakan masalah serius di lingkungan terutama bagi lautan kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan plastik untuk sepenuhnya terdegradasi di lingkungan laut bahkan masih belum diketahui. Sehingga sampah ini terus terombang-ambing di lautan merusak ekosistem dengan jeratan atau tidak sengaja tertelan oleh organisme laut.

Sampah Plastik dalam Kehidupan Manusia

Manusia adalah penghasil pencemaran plastik terbanyak karena banyak sekali plastik yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak dari kita masih tidak menyadarinya. Padahal plastik-plastik dengan berbagai jenis setiap hari kita konsumsi. Polimer/plastik yang paling umum digunakan adalah polietilen densitas tinggi (HDPE), polivinil klorida (PVC), polistirena (PS), dan polietilena tereftalat (PET). Konsekuensinya, polimer-polimer ini juga yang paling umum ditemukan mencemari lingkungan, terutama di lingkungan laut (Andrady, 2011; Engler, 2012). Karena sifatnya yang tahan korosi, diperkirakan sampah-sampah plastik akan bertahan di lingkungan hingga satu abad. 

 

Kita biasanya menggunakan polimer jenis HDPE dalam bentuk botol deterjen, tabung susu, dan juga pipa. HDPE jika terdapat dalam tubuh dapat melepaskan bahan kimia estrogenik yang mengakibatkan perubahan struktur sel manusia (Ecology Center, 1996). Plastik yang biasa digunakan berikutnya adalah Polivinil Klorida (PVC). PVC dapat ditemukan dalam bentuk tirai mandi, lantai, hingga film. Efek samping PVC jika tertelan di antaranya dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, perubahan genetik, bronkitis kronis, hingga disfungsi hati (Ecology Center, 1996). Jenis plastik berikutnya adalah Polystyrene (PS) yang biasa kita gunakan setiap hari sebagai kemasan foam, wadah makanan, gelas sekali pakai, piring, sendok, dan sedotan plastik sekali paki. Ketika kita menggunakan gelas plastik dan sendok plastik untuk makanan kita, kita harus mulai ingat bahwa mereka memiliki efek samping bagi kesehatan. Efek kesehatan dari plastik jenis PS ini adalah iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Partikel PS juga dapat bermigrasi dalam makanan dan tertimbun dalam lemak (Ecology Center, 1996). Selanjutnya, banyak orang yang setiap harinya minum minum air mineral dan minuman berkarbonasi lain. Tahukah kalian bahwa botolnya dibuat dengan polimer polyethylene terephthalate (PET). Padahal PET berpotensi menyebabkan karsinogen pada manusia jika tertimbun dalam tubuh dalam jumlah yang banyak (Ecology Center, 1996).

 

Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa masalah plastik tidak jauh dari kita sebagai manusia. Jika sampah plastik terus dihasilkan dan tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin partikel plastik bisa tertimbun melimpah di tubuh manusia dan menciptakan efek kesehatan. Jika Anda bertanya bagaimana bisa plastik masuk ke tubuh manusia, maka Anda perlu tahu jenis plastik berdasarkan ukurannya.

 

Plastik dalam ukuran besar yang biasa kita lihat dikenal sebagai macro plastik. Jenis ini telah dilaporkan mencemari lingkungan laut sejak awal kali pemakaiannya (Derraik, 2002). Ya, Anda tidak bisa menelan plastik makro ini, tetapi bagaimana dengan hewan/ikan di laut? Penelanan plastik karena keliru membedakannya sebagai makanan telah ditemukan dalam burung laut, penyu, dan mamalia laut (Jacobsen et al. 2010).

 

Jenis plastik yang lebih kecil diklasifikasikan sebagai plastik mikro (5 mm – 100 nm), nanoplastik (100 nm – 1 nm), dan sub-nanoplastik (<1 nm). Menurut Warring et al. (2018) plastik dalam ukuran mikro dan nano paling mungkin terinternalisasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan kerusakan langsung pada kesehatan manusia. Plastik makro yang ditemukan di lingkungan laut dan darat dapat terdegradasi menjadi partikel mikro dan nano plastik. Plastik jenis mikro dan nano inilah yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan (food chain). Banyak organisme laut yang tidak sengaja menelan plastik mikro dan nano karena ukurannya yang kecil, terutama oleh jenis krustasea yang biasanya kita santap sebagai seafood. Meskipun, kontaminasi plastik pada rantai makanan tidak mungkin menyebabkan dampak serius hingga kontaminasinya mencapai level tinggi, tetap saja masalah limbah plastik khususnya ukuran mikro mulai menarik perhatian.

 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih perhatian lagi terhadap kebiasaan kita dalam menggunakan plastik. Usahakan untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai sebanyak mungkin. Bawalah peralatan makan sendiri, botol minum sendiri, sehingga Anda tidak perlu menggunakan sendok plastik dan teman-temannya. Ingatlah bahwa plastik ukuran besar yang mengontaminasi laut dapat terdegradasi menjadi plastik mikro atau bahkan lebih kecil. Kampanye untuk meminimalkan sampah plastik yang dihasilkan melalui gaya hidup 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus terus digencarkan. Penelitian-penelitian terhadap dampak buruk sampah plastik bagi ekosistem dan manusia harus dibahasakan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat sehingga knowledge gaps di masyarakat dapat tertutup. Sampah plastik tidak hanya berbahaya karena dampak ekologis tetapi juga karena mereka dapat membahayakan keamanan pangan kita, keamanan pangan dan akibatnya kesehatan manusia.

 

Ditulis oleh: Rio Alfajri, M.Sc.

 
Referensi:

 

Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Mar. Pollut. Bull., 62(8): 1596-1605.

 

Center, E. (1996). Plastic Task Force Report. Berkeley, CA

 

Derraik, J. G. (2002). The pollution of the marine environment by plastic debris: a review. Marine pollution bulletin44(9), 842-852.

 

Engler, R. E. (2012). The complex interaction between marine debris and toxic chemicals in the ocean. Environmental science & technology46(22), 12302-12315.

 

Jacobsen, J.K., Massey, L. and Gulland, F. (2010). Fatal ingestion of floating net debris by two sperm whales (Physeter macrocephalus). Marine Pollution Bulletin, 60(15), 765-767

 

Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., … & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science347(6223), 768-771.

 

McKinley, E., & Fletcher, S. (2012). Improving marine environmental health through marine citizenship: a call for debate. Marine Policy36(3), 839-843.

 

Ministry of Environment and Forestry of Indonesia. 2017. The Ministry of Environment and Forestry of Indonesia Reduces 70% Marine Debris by 2025.

http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/541, Accessed date: 12 Juni 2020

 

Thompson, R. C., Swan, S. H., Moore, C. J., & Vom Saal, F. S. (2009). Our plastic age.

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Si Penjerat Hewan di Laut, Dari Mana Mereka Berasal?

Si Penjerat Hewan di Laut, Dari Mana Mereka Berasal?

Tahukah kamu bahwa terdapat 13 kali lebih banyak plastik di lautan daripada bintang-bintang yang ada di galaksi Bimasakti kita. Ada sekitar 400 juta bintang di galaksi kita, jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding sampah plastik di lautan yang mencapai 5,25 triliun (Li, et al, 2015). Setiap sampah yang berakhir terapung-apung di laut disebut puing-puing laut (marine debris). Mulai dari botol, kaleng aluminium, hingga bangkai sepeda, terus beredar mengikuti arus laut mengarungi samudera. Sebagian besar dari sampah di lautan ini adalah plastik. Lalu bagaimana sampah plastik yang banyak ini bisa berakhir di lautan kita?

 

 

Kita dapat mengklasifikasikan sumber dari sampah laut ini menjadi dua jenis, yaitu yang berasal dari aktivitas manusia di darat dan dari aktivitas manusia di laut. Jenis pertama adalah sampah plastik yang berasal dari darat (land-based marine debris). Sampah jenis ini mendominasi komposisi sampah laut. Limbah terestrial ini berkontribusi sekitar 80% dari total sampah plastik di lingkungan laut (Li et al, 2015). Beberapa hal yang bisa membuat sampah di darat berakhir di laut di antaranya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dikelola dengan buruk, sampah di sungai, air limbah yang tidak diolah, fasilitas industri dan manufaktur dengan kontrol yang tidak memadai, hingga sampah plastik di daratan yang tertiup angin. Pemanfaatan wilayah pesisir untuk rekreasi dan perilaku pariwisata yang tidak bertanggung jawab juga menyebabkan sampah di darat mudah masuk ke laut. (Barnes et al. 2009).

 

Kombinasi faktor perilaku konsumsi plastik berlebihan, TPA yang tidak terkelola, dan cuaca menghasilkan sampah plastik di laut. Aktivitas yang tampaknya biasa saja dalam kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan plastik berpotensi mencemari lautan kita. Manusia sering meninggalkan sampah di pantai saat berekreasi. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai juga masih sering membuang sampah rumah tangganya ke aliran air seperti selokan atau sungai. Hal ini ditambah buruk dengan faktor cuaca seperti angin yang dapat meniup sampah dari tempat pembuangan sampah dan yang berserakan ke saluran air yang mengarah ke laut. Pada akhirnya, konsumsi plastik yang terlalu banyak dan perilaku sembarangan dalam membuang sampah membuat plastik mudah mencemari sungai dan laut yang menjadi muaranya.

 

Meskipun, land-based marine debris dianggap menjadi sumber utama sampah laut, variasi regional ikut memengaruhi saluran mana yang paling sering membuat plastik berakhir di laut. Secara umum, semakin padat populasi, semakin banyak sampah plastik yang dihasilkan dan berpotensi berakhir di laut. Bagaimana di Asia? Saluran mana yang berkontribusi lebih banyak puing ke lautan kita? 

 

Lebreton et al. (2017) berpendapat bahwa sungai di Asia memasok sekitar 67% dari sampah plastik tahunan ke lingkungan laut. Salah satu sungai di Asia, Sungai Yangtze, terbukti sebagai sumber limbah plastik terbesar. Sungai ini mengirimkan sekitar 330.000 ton plastik ke laut pada tahun 2015 (Lebreton et al., 2017). Penelitian lain dari Jambeck et al. (2015) memperkirakan ada total 4,8 hingga 12,7 juta ton limbah plastik, dari 192 negara yang dibuang ke lingkungan laut. Selain itu, masih banyak negara di Asia yang memiliki manajemen sampah yang tidak memadai dan tidak bijak dalam mengelola limbah plastik. Di antara negara-negara tersebut adalah Tiongkok, Indonesia, Sri Lanka dan India (Jambeck et al., 2015). Jika manajemen limbah plastik dan perilaku membuang sampah tidak diperbaiki, diperkirakan jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut akan meningkat signifikan pada tahun 2025.

 

Jenis kedua dari sampah laut adalah yang berasal dari aktivitas manusia di laut (ocean-based debris). Meskipun sumber ini dianggap berkontribusi hanya 20% dari keseluruhan sampah plastik di laut, mengetahui sumbernya bisa menjadi awal yang baik untuk kita meminimalkan marine debris. Ada beberapa aktivitas manusia di laut yang menjadi sumber sampah laut di antaranya pengeboran minyak, transportasi baik kargo atau manusia, dan aktivitas lainnya. Namun demikian, aktivitas yang paling banyak menghasilkan sampah plastik di lingkungan laut adalah penangkapan ikan komersial (Li et al., 2015). Lebih dari 40 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1975, dari hasil aktivitas penangkapan ikan dihasilkan sampah plastik 135.400 ton dari alat tangkap plastik dan sekitar 23.600 ton bahan kemasan sintetis (Cawthorn, 1989).

 

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Ternyata semakin buruk. Jumlah alat tangkap berbahan plastik terbuang ke lingkungan mencapai empat kali lipat dari tahun 1975. Diperkirakan 640.000 ton alat tangkap plastik yang dibuang ke lautan, merepresentasikan sekitar 10% dari total sampah laut (Good et al., 2010). Sampah laut jenis ini contohnya monofilamen dan jaring nilon. Keduanya mengapung di lautan dan berbahaya bagi makhluk hidup yang tinggal di lautan. Seringkali mereka menjerat organisme air pada kedalaman yang berbeda (Lozano dan Mouat, 2009).

 

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sampah di lautan dihasilkan oleh aktivitas manusia baik di darat maupun di laut itu sendiri. Plastik adalah komposisi terbesar dari sampah-sampah yang mengapung di lingkungan laut. Sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap konsumsi plastik, perilaku membuang sampah sembarangan ke sungai, aktivitas penangkapan ikan komersial berlebihan, dan pengelolaan TPA secara tidak bijak adalah penyebab-penyebab utama dari banyaknya polusi plastik di laut. Aktivitas dan perilaku manusia adalah penyebab sampah laut. Di sisi lain, manusia juga merupakan solusi utama untuk menyelamatkan lingkungan laut kita selain tentunya teknologi dalam mengelola sampah plastik di darat sehingga mencegahnya menjadi penjerat di lautan.

Penulis: Rio Alfajri

 
 

Sumber

 

Barnes, D.K.A., Galgani,F., Thompson, R.C.,Barlaz, M., 2009. Accumulation and fragmentation of plastic debris in global environments. Philos. Trans.R. Soc., B364,1985–1998.

 

Cawthorn, M., 1989. Impacts of marine debris on wildlife in New Zealand coastal waters. Proceedings of Marine Debris in New Zealand’s Coastal Waters Workshop, 9 March 1989. Department of Conservation, Wellington, New Zealand, pp. 5–6.

 

Good, T.P., June, J.A., Etnier, M.A., Broadhurst, G., 2010. Derelict fishing nets in Puget Sound and the Northwest Straits: patterns and threats to marine fauna. Mar. Pollut. Bull. 60, 39–50.

 

Jambeck, J.R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T.R., Perryman, M., Andrady, A., and Law, K. L., 2015, Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347(6223), 768–771.

 

Lebreton, L.C.M., Zwet, J.V.D., Damsteeg, J.W., Slat1, B., Andrady, A., and Reisser, J., 2017, River plastic emissions to the world’s oceans. Nature Communications 8, 15611. doi:10.1038/ncomms15611

 

LI, W. C., Tse, H. F., & Fok, L. (2016). Plastic waste in the marine environment: A review of sources, occurrence and effects. Science of the Total Environment566, 333-349.

Lozano, R.L., Mouat, J., 2009. Marine Litter in the North-East Atlantic Region: Assessment and Priorities for Response (KIMO International).

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan