Category Archives: Green Info

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat
Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat (Sumber: ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)

Banjir di Sintang Kalimantan Barat yang terjadi sejak awal November 2021 belum kunjung surut setelah lebih dari tiga pekan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang mencatat bahwa setidaknya terdapat 124.497 warga terdampak oleh banjir ini dan 25.884 di antaranya terpaksa harus mengungsi. Bencana banjir yang terjadi di Sintang saat ini merupakan salah satu potret nyata dari krisis iklim. Bencana banjir ini disebabkan oleh meningkatnya intensitas curah hujan akibat cuaca ekstrem dan berkurangnya daerah resapan air akibat deforestasi.

Deforestasi adalah aktivitas penebangan atau penggundulan hutan agar lahan hutan dapat dialihfungsikan untuk penggunaan lain di sektor non-kehutanan. Sejak 2010 hingga 2020, rata-rata net penyusutan hutan di dunia mencapai 4.7 juta hektar per tahun. Namun, angka laju deforestasi secara global justru lebih tinggi, yakni mencapai 10 juta hektar per tahun. Rata-rata net penyusutan hutan ini diukur dari jumlah deforestasi dan tambahan hutan yang tumbuh dalam suatu periode. Penyebab dari deforestasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti alih fungsi lahan untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan pertambangan. Komoditi yang dominan menyebabkan deforestasi secara global di antaranya adalah: daging sapi (41%), kedelai dan sawit (10%), dan produk kayu (5%).

Dampak Buruk Deforestasi

Hutan berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim karena memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dari proses fotosintesis. Namun, ketika ditebang atau dibakar, hutan justru akan mengeluarkan karbon yang tersimpan ke atmosfer. Setiap tahun, sekitar 5.2 miliar ton karbondioksida mencemari atmosfer karena deforestasi. Angka ini setara dengan 10% emisi gas rumah kaca global yang terhitung sejak 2009 hingga 2016.

Hilangnya fungsi hutan akibat deforestasi tentunya akan berdampak buruk terhadap keseimbangan ekosistem. Keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam hutan akan terancam punah. Selain itu, deforestasi juga dapat menyebabkan degradasi tanah, kekeringan, longsor, dan banjir sehingga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat seperti yang terjadi di Kabupaten Sintang.

Berbagai Upaya Atasi Deforestasi

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi
Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi (sumber: pexels)

Pada awal November lalu, para pemimpin dunia berkumpul di Glasgow untuk KTT Perubahan Iklim atau COP 26 yang diselenggarakan oleh PBB untuk mendiskusikan aksi dan komitmennya untuk mengatasi krisis iklim. Isu deforestasi pun menjadi salah satu perbincangan penting dalam konferensi tersebut. Lebih dari 100 negara termasuk Indonesia telah sepakat untuk mengakhiri deforestasi di 2030. Negara lain yang menguasai sekitar 85% hutan secara global seperti Brazil, Kanada, Russia, China, Kongo, AS, dan Inggris pun turut menandatangani perjanjian tersebut. Melalui perjanjian ini, dana sekitar 19.2 miliar dollar direncanakan akan dialokasikan untuk merestorasi degradasi hutan, mengatasi kebakaran hutan, dan melindungi masyarakat.

Perjanjian untuk mengakhiri deforestasi di 2030 ini tentu bisa disambut baik, namun pada pelaksanaannya harus tetap dikawal dan diawasi. Pasalnya, perjanjian serupa pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa negara sebelumnya telah sepakat untuk mengurangi separuh deforestasi di 2020 dan mengakhirinya di 2030 melalui The New York Declaration on Forest 2014. Namun, pada kenyataannya angka laju deforestasi justru tetap meningkat.

Selain melalui upaya struktural, masyarakat juga dapat terlibat dalam upaya mengatasi deforestasi melalui aksi individu. Kini, beberapa organisasi lingkungan sudah menyediakan jasa donasi tanam pohon sehingga konsumen bisa langsung terlibat dalam upaya reforestasi secara mudah. Pada 28 November, Indonesia akan menyambut hari menanam pohon. Hari ini juga bisa dijadikan momen bagi masyarakat untuk menanam pohon baik secara mandiri atau melalui organisasi lingkungan.

Implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan pun tentunya berperan penting dalam mengatasi isu deforestasi. Pada acara COP 26, 28 negara bahkan sepakat untuk menolak perdagangan global untuk produk makanan dan pertanian yang terkait dengan deforestasi seperti minyak sawit, kedelai, dan kakao. Dalam tingkat individu, masyarakat dapat mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan menjalankan gaya hidup ramah lingkungan seperti hidup minim sampah, mengurangi penggunaan produk berlebihan, dan teliti dalam memilih merek produk.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://regional.kompas.com/read/2021/11/24/113424378/banjir-di-sintang-kalbar-jadi-yang-terbesar-dan-terlama-sejak-1963 Diakses pada 25 November 2021

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211116084504-20-721696/sebulan-banjir-sintang-25-ribu-orang-mengungsi-listrik-padam Diakses pada 25 November 2021

https://www.forestdigest.com/detail/1445/banjir-sintang Diakses pada 25 November 2021

https://ourworldindata.org/deforestation Diakses pada 25 November 2021

Deforestation can raise local temperatures by up to 4.5℃ – and heat untouched areas 6km away (theconversation.com) Diakses pada 25 November 2021

https://www.bbc.com/news/science-environment-59088498 Diakses pada 25 November 2021

https://theconversation.com/organized-crime-is-a-top-driver-of-global-deforestation-along-with-beef-soy-palm-oil-and-wood-products-170906 Diakses pada 25 November 2021

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi perlengkapan fashion

Potensi Circular Economy pada Industri Tekstil: Gen-Z dan Millennial sebagai Penggerak Sustainable Fashion

Potensi Circular Economy pada Industri Tekstil: Gen-Z dan Millennial sebagai Penggerak Sustainable Fashion

Ilustrasi perlengkapan fashion
Ilustrasi perlengkapan fashion (sumber: pexels)

Sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan menjadi sebuah tren dan salah satu hal yang diperhitungkan konsumen dalam membeli pakaian. Tingginya permintaan akan pakaian yang sustainable didorong oleh tingginya kesadaran akan sustainable fashion pada konsumen terbesar saat ini yaitu Gen-Z dan millennial, mendorong rantai pemasok di industri tekstil dan retailer besar mengambil langkah dan berkomitmen untuk mengubah bisnis model ke arah sustainable.

Fast Fashion di Indonesia

Tren fast fashion yang merebak dipicu oleh perkembangan tren fesyen dan inovasi teknologi dengan kemunculan media sosial dan online shop, serta berkembangnya populasi dunia. Sebagai 10 negara produsen tekstil terbesar dan pengekspor terbesar ke-12 di dunia, Indonesia menyumbang sebanyak 88% limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan atau pembakaran. Besarnya potensi kontribusi industri tekstil secara ekonomi, sosial dan lingkungan menjadikan industri ini unggul dan ideal untuk penerapan circular economy di Indonesia. Dalam circular economy, penggunaan sumber daya, sampah, emisi dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi-konsumsi dengan cara memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, penggunaan kembali, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling).

Jika dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu, rata-rata konsumen di dunia membeli 60 persen pakaian lebih banyak. Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia membuang pakaian yang tidak diinginkan setelah satu kali pemakaian. Siklus ‘hidup’ pakaian yang pendek disertai dengan produksi dan konsumsi pakaian murah berlebihan menyebabkan peningkatan jumlah limbah tekstil secara signifikan dan diprediksi akan memburuk pada tahun 2030 di Indonesia.

Berbicara mengenai limbah tekstil, sekitar 180 ton limbah beracun dibuang ke Sungai Citarum setiap harinya yang berdampak pada tercemarnya air lokal di Jakarta Barat dan menurunnya kesuburan tanah di tahun 2018. Permintaan akan bahan viscose memperparah deforestasi hutan Indonesia. Selain itu, limbah dalam jumlah besar dari industri batik dapat membahayakan hidup manusia dan binatang. Di tahun 2015, produksi tekstil juga menyumbang 10% dari semua emisi gas rumah kaca global dan menghasilkan 1,2 miliar ton CO2e.

Peran Gen-Z dan Millennial dalam Sustainable Fashion

Dominasi Gen-Z dan Millennial dalam dunia fashion didukung oleh kemunculan smartphone dan media sosial. Kemudahan dalam mengakses online shop dan keinginan untuk selalu up-to-date serta terlihat bergaya berdampak besar akan konsumsi berlebih pakaian. Meskipun begitu, berdasarkan survey global di tahun 2018, sebanyak 66% millennial bersedia membeli pakaian lebih banyak untuk merek yang berkelanjutan dan sebanyak 69% memperhatikan klaim branding “eco-friendly” dan “sustainable” saat membeli pakaian. Komitmen Gen-Z dan Millennial untuk membeli pakaian yang berasal dari retailer yang berkomitmen pada sustainability terhambat oleh permintaan akan pakaian berharga murah. Namun, peluang untuk membeli barang yang lebih mahal sangat mungkin terjadi ketika generasi tersebut sudah memiliki penghasilan lebih di masa mendatang. Kesadaran akan peduli lingkungan dan sosial oleh Gen-Z dan Millennial mempengaruhi pelaku industri tekstil dan retailer besar dan brand lokal untuk mengubah model bisnis ke arah sustainable.

Penerapan Reuse dan Recycle dalam Penerapan Ekonomi Sirkular

Pendekatan “reuse” memiliki potensi yang sangat besar dalam penerapan ekonomi sirkular. Berdasarkan survey, sebanyak 20% millennial di Indonesia menjadikan faktor bosan sebagai motivasi utama untuk membuang pakaian mereka. Banyak alternatif yang bisa ditawarkan untuk memperpanjang masa pemakaian produk tekstil antara lain preloved atau menjual kembali pakaian bekas, perbaikan pakaian dan menyewa pakaian. Selain itu, potensi untuk meng-upcycle bahan sisa produksi tekstil ataupun kain batik dapat diubah menjadi berbagai jenis produk pakaian wanita. Potensi “reuse” juga menjadi alasan produsen dan merek untuk mengganti bahan pakaian yang sustainable.

Sementara itu, tingkat recycle atau daur ulang limbah tekstil di Indonesia diperkirakan menjadi 12%, padahal sekitar 20% limbah tekstil dapat didaur ulang. Proses recycle sendiri membutuhkan bantuan bahan kimia serta mesin, berbeda dengan proses reuse. Akan tetapi, proses recycle menggunakan bahan kimia masih terbatas untuk diterapkan di Indonesia saat ini. Bukan hanya keterbatasan, tetapi recycle memiliki resiko menurunkan kualitas bahan yang didaur ulang. Hal tersebut yang membuat beberapa produsen untuk menciptakan jeans dari material yang mudah untuk didaur ulang dan lebih tahan lama.

Respon Industri Tekstil dan Retailer

Tidak hanya brand-brand besar, banyak brand fashion lokal yang juga menerapkan keberlanjutan seperti merek Sejauh Mata Memandang, Sukkha Citha, dan Kana Goods. Penerapan ekonomi sirkular untuk pelaku usaha memiliki potensi profitable dengan mengurangi sebesar 16.4 juta ton emisi CO2 -eq dan 1.2 miliar kubik air. Hal ini dapat menekan biaya produksi para pelaku usaha di sektor industri tekstil.

Penerapan efisiensi sumber daya dan produksi bersih di sebuah industri di Semarang berhasil mengurangi konsumsi air hingga 31.4%, pengurangan air limbah hingga 23.7%, 7.1% pengurangan penggunaan listrik, dan penurunan emisi GRK hingga 9.8%. Strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil tersebut, antara lain dengan manajemen industri secara berkelanjutan, modifikasi produk dan peralatan, dan perubahan teknologi. Selain itu, dapat dilakukan pengurangan limbah pakaian, seperti reuse, repairing, dan recycling pakaian agar tidak dibuang langsung ke TPA.

Referensi

[1] Widyasanti, A. A. (2021). Strategi Mewujudkan Implementasi Ekonomi Sirkular pada Industri Tekstil di Indonesia.

 

[2] Economic, Social, and Environmental Benefits of a Circular Economy in Indonesia (Bappenas , UNDP, & Embassy of Denmark, 2021)

 

[3] HSBC Global Research. 2019

 

[4] Sembiring, Emenda. komunikasi pribadi. 24 Agustus 2021

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca (sumber: Pixels/Pixabay)

Pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan upaya yang perlu kita lakukan untuk mencegah perubahan iklim dan menjaga laju pemanasan bumi tetap berada di bawah 1.5 derajat celcius. Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% melalui usaha sendiri dan 41% melalui bantuan Internasional serta berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060. Untuk mencapai target tersebut, Presiden Joko Widodo baru saja mengesahkan Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon atau yang lebih dikenal dengan istilah carbon pricing.

Nilai Ekonomi Karbon atau carbon pricing secara sederhana dapat diartikan sebagai mekanisme biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak pencemar emisi dan pemberian insentif kepada pihak yang mampu menghemat emisi. Kebijakan carbon pricing di Indonesia menerapkan prinsip polluters-pay-principle. Melalui prinsip ini, setiap pelaku kegiatan atau usaha yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca harus membayar biaya atas dampak pencemaran yang telah dihasilkannya. Kebijakan carbon pricing ini terdiri dari instrumen perdagangan dan non-perdagangan. Instrumen perdagangan karbon terdiri dari perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset). Sementara instrumen non-perdagangan dalam mekanisme carbon pricing terdiri dari pungutan/pajak atas karbon dan pembayaran berbasis hasil.

Apa Itu Perdagangan Karbon?

Perdagangan karbon adalah kegiatan jual beli kredit karbon antara pihak yang mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan dengan pihak yang mampu menyerap atau menghemat karbon. Sistem perdagangan karbon terbagi menjadi dua, yaitu perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset).

Perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dikenal juga dengan skema cap and trade. Pihak yang dapat terlibat pada perdagangan izin emisi ini di antaranya adalah organisasi, perusahaan, dan bahkan negara. Pada awal periode, para pihak yang terlibat dalam perdagangan izin emisi akan diberikan kuota atau batasan jumlah emisi yang boleh dihasilkan. Jika pada akhir periode suatu organisasi/perusahaan/negara memproduksi emisi lebih dari batasan yang sudah ditentukan, maka mereka harus membeli izin emisi dari pihak yang masih memiliki kuota izin emisi. Agar mereka dapat menjual kuota izin emisi yang mereka punya, maka mereka harus melakukan upaya penghematan emisi.

Mekanisme perdagangan karbon yang kedua adalah penyeimbangan karbon (carbon offset) atau yang juga dikenal dengan sistem baseline-and-crediting. Pada mekanisme ini, pembeli membeli kredit karbon dalam bentuk sertifikasi dari pihak yang sudah melakukan upaya penyerapan karbon melalui proyek hijau seperti penanaman pohon. Upaya ini dilakukan oleh pembeli untuk mencapai target net zero emission atau netral karbon.

Pajak Karbon dan Pembayaran Berbasis Hasil

Selain melalui perdagangan karbon, kebijakan lain yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan emisi adalah pemberlakuan pajak karbon dan pembayaran berbasis hasil. DPR RI baru saja mengesahkan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang di dalamnya mengatur tentang pajak karbon. Penerapan pajak karbon ini menggunakan sistem cap and tax, yaitu setiap pihak yang sudah melebihi batas emisi yang ditetapkan akan dikenakan wajib pajak dengan tarif Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen. Pajak karbon ini akan mulai diberlakukan di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara pada 1 April 2022.

Instrumen carbon pricing yang terakhir adalah pembayaran berbasis hasil, yaitu sistem pemberian insentif terhadap pihak yang sudah berhasil melakukan penurunan emisi melalui upaya mitigasi tertentu. Pengukuran keberhasilan ini tentunya sudah disepakati dan diverifikasi oleh Sekretariat UNFCCC atau tim teknis yang sudah ditunjuk oleh UNFCCC.

Bagaimana Kebijakan Carbon Pricing Berperan dalam Mengatasi Perubahan Iklim?

Ilustrasi bibit tanaman
Ilustrasi bibit tanaman (sumber: pexels)

Kebijakan carbon pricing ini memberi beberapa keuntungan bagi upaya pencegahan perubahan iklim seperti mendorong pelaku usaha untuk mengurangi emisi, mendorong terbukanya investasi hijau, dan mengatasi kesulitan dalam membiayai dana perubahan iklim. Dengan kebijakan ini, diharapkan para pelaku usaha dapat menjalankan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Namun kebijakan carbon pricing ini juga tidak lepas dari kritikan. Beberapa organisasi lingkungan menilai kebijakan carbon offset bukan solusi yang tepat untuk atasi perubahan iklim karena hanya akan memberi celah bagi korporasi untuk membenarkan pembabatan hutan dan melakukan konsesi lahan dengan menukarkan emisinya dengan program pengurangan emisi di tempat lain. Kebijakan ini menjadi dinilai bermasalah karena emisi yang akan diserap belum tentu seimbang dengan emisi yang sudah dikeluarkan mengingat setiap wilayah memiliki daya serap emisi yang berbeda. Selain itu, keanekaragaman hayati yang berada di suatu wilayah juga tidak dapat ditukar dengan mudah.

Penerapan tarif pajak karbon sebesar Rp30 per kilogram CO2e di Indonesia juga dinilai terlalu rendah. Tarif ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Singapura yang memasang tarif pajak karbon senilai Rp56.89 per kilogram CO2e. Pada awalnya, RUU Harmonisasi Peraturan Perpajakan mengatur tarif pajak karbon senilai Rp75 per kilogram CO2e, namun upaya ini tidak terealisasikan.

Terlepas dari kontroversi yang diperdebatkan, kebijakan carbon pricing ini dapat menjadi angin segar bagi upaya pembangunan yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan ini tetap perlu kita kawal bersama-sama.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-iklim/#:~:text=Tujuan%20utama%
  • 20dari%20pengenaan%20pajak,ekonomi%20hijau%20yang%20rendah%20karbon.&text=Tarif%20Rp30%20per%20kilogram%20karbon,yang%20melebihi%20cap%20yang%20ditetapkan diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi kota Jakarta pada masa PSBB (Pexels/Tom Fisk)

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 telah mengakibatkan kemunduran besar di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Di samping itu, umat manusia juga harus bersiap untuk menghadapi ancaman yang lebih besar, yaitu perubahan iklim. Para ilmuwan telah memprediksi bahwa cuaca dan bencana ekstrem akan lebih sering terjadi akibat perubahan iklim sehingga dapat menurunkan produktivitas di berbagai sektor terutama pertanian. Selain itu, perubahan iklim juga dapat menurunkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat. 

 

Oleh karena itu, secara makro perubahan iklim juga dapat berdampak terhadap perekonomian. Jika pada 2050 suhu bumi tetap naik hingga 3.2 derajat celcius, maka PDB global diprediksi akan menurun hingga 18%. Bappenas juga memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 115 Triliun pada 2024 akibat perubahan iklim di sektor air, kesehatan, laut pesisir, dan pertanian. 

 

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Indonesia pun sedang bersiap untuk melakukan upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan. Upaya ini bertujuan untuk mengatasi dampak ekonomi dari pandemi sekaligus mencegah dan menangani isu perubahan iklim. Sektor berkelanjutan yang diprioritaskan pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan di antaranya adalah pengembangan energi terbarukan, ekowisata, dan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Berwawasan Lingkungan. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini dapat mendorong implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan serta sesuai dengan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan Internasional pada 2030. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru di bidang lingkungan atau green jobs bagi masyarakat khususnya anak muda yang masih dalam usia produktif.  

green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi teknisi pemasangan panel surya (Pexels/Los Muertos)

Apa Itu Green Jobs?

Green jobs adalah pekerjaan yang bertujuan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas ekonomi. Namun, perlu diingat bahwa meskipun suatu pekerjaan pada prinsipnya ‘hijau’ dan turut berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan, tidak semua pekerjaan tersebut dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang layak. Pemulung dan petugas persampahan contohnya seringkali mendapatkan perlindungan dan upah yang minim karena sistem pengelolaan sampah yang belum layak. Oleh karena itu, upaya peningkatan green jobs pun perlu memperhatikan kesejahteraan dan mutu pekerjanya. 

 

Green jobs juga tidak hanya mengacu bagi para pekerja yang menekuni bidang lingkungan secara khusus seperti spesialis konservasi alam atau insinyur teknik lingkungan. Jenis pekerjaan lainnya juga dapat dikatakan green jobs selama mendukung upaya pelestarian lingkungan. Perancang busana ramah lingkungan, arsitek ramah lingkungan, content creator ramah lingkungan, petani dan peternak ramah lingkungan juga dapat dikategorikan sebagai green jobs.

Peluang Green Jobs di Indonesia

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan bahwa secara global ekonomi hijau dapat menciptakan 24 juta lapangan kerja baru di 2030. Sementara di Indonesia sendiri, penerapan ekonomi sirkular yang berdasarkan prinsip berkelanjutan juga berpotensi menciptakan 4.4 juta lapangan kerja baru di 2030. Selain itu, masa peralihan transisi juga berpotensi menciptakan 1.721.435 juta lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan pada 2030. 

 

Potensi green jobs ini tentunya perlu didukung oleh setiap pemangku kepentingan. Hal yang dapat dilakukan untuk mendukung green jobs di Indonesia di antaranya adalah: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang green jobs, memberikan stimulus untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan mendorong pihak swasta untuk membuka lapangan kerja hijau atau green jobs. 

 

Implementasi prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan di sektor ekonomi juga tentunya dapat membuka peluang green jobs lebih banyak. Oleh karena itu, para pelaku usaha perlu didorong untuk menerapkan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan dalam menjalankan usahanya. Selain itu, untuk mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan, minat masyarakat terhadap barang atau jasa ramah lingkungan pun perlu ditingkatkan.  

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim diakses melalui: https://katadata.co.id/happyfajrian/ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath
  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy.: https://www.weforum.org/agenda/2021/
  • 06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim https://katadata.co.id/happyfajrian/
  • ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/
  • 30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/
  • public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/
  • wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021
  • /09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
sampah makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

sampah makanan
Ilustrasi sampah makanan. (Foto oleh Rachel Claire dari Pexels)

Di saat jutaan orang masih banyak mengalami kelaparan dan kekurangan gizi, sepertiga makanan di dunia setiap tahunnya malah terbuang sia-sia atau hilang sebelum dapat dikonsumsi. Sampah makanan yang terbuang ini mampu memberi makan dua milyar orang, jumlah yang setara dengan dua kali lipat jumlah orang yang kekurangan gizi di dunia. Sampah makanan juga masih menjadi permasalahan sampah yang besar di Indonesia.

 

Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia. Setiap orang di Indonesia diperkirakan menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya. Kajian terbaru dari Bappenas, Waste4Change, dan WRI Indonesia juga menunjukan bahwa jumlah pemborosan makanan (food waste) dan penyusutan makanan (food loss) di Indonesia dari tahun 2000-2019 diperkirakan mencapai 23-48 juta ton per tahun. 

Food Waste dan Food Loss, Apa Bedanya?

Untuk mengatasi masalah sampah makanan, kita perlu memahami pengertian antara sampah makanan (food wastage), pemborosan makanan (food waste), dan penyusutan makanan (food loss) karena ketiganya memerlukan solusi yang berbeda. Sampah makanan adalah semua makanan yang terbuang dan tidak dimakan. Sampah makanan ini terdiri dari dua kategori: pemborosan makanan dan penyusutan makanan.

Pemborosan makanan (food waste) adalah sampah makanan yang terbuang yang disebabkan oleh retail, restoran, dan konsumen. Pemborosan makanan terjadi saat menjelang akhir rantai pasokan. Sementara penyusutan makanan (food loss) adalah penurunan kualitas dan kuantitas makanan yang terjadi pada awal rantai pasok. Ini biasanya disebabkan oleh manajemen produksi, penyimpanan, transportasi, dan pemrosesan yang tidak memadai.

Dampak Buruk Sampah Makanan

Sampah makanan termasuk ke dalam kategori sampah organik. Sampah organik sering kali dianggap lebih aman daripada sampah anorganik seperti plastik karena mampu terurai kembali. Kenyataannya, sampah organik yang tidak dikelola dengan benar justru dapat menyebabkan dampak yang lebih buruk terhadap lingkungan, terutama ketika sampah organik dan anorganik tersebut tidak kita pisahkan. Jika sampah makanan berakhir di TPA dan bercampur dengan sampah anorganik, sampah makanan tersebut akan mengalami proses penguraian secara anaerob sehingga dapat menimbulkan gas metana pada atmosfer. Gas metana ini merupakan gas rumah kaca yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Bahkan, gas metana 25 kali lipat lebih berbahaya daripada karbon dioksida dalam hal memerangkap panas di atmosfer. Emisi yang dikeluarkan dari pemborosan makanan dan penyusutan makanan di Indonesia setara dengan 7.29% rata-rata emisi gas rumah kaca Indonesia per tahun. 

 

Selain berdampak terhadap lingkungan, sampah makanan juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Timbulan pemborosan makanan dan penyusutan makanan dari tahun 2000-2019 di Indonesia telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 214-551 triliun per tahun. Jumlah kerugian ini setara dengan 4-5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kerugian ekonomi ini bahkan diperkirakan bisa lebih besar karena dalam proses penghitungannya menggunakan harga pangan yang tersedia pada saat kajian dilakukan. Sementara harga pangan di pasaran yang sesungguhnya dapat menjulang tinggi karena bersifat fluktuatif. 

 

sampah makanan
Ilustrasi tomat buruk potensi sebabkan sampah makanan (Foto oleh oleh Wendy Wei dari Pexels)

Mencegah dan Mengatasi Sampah Makanan

Sampah makanan merupakan tanggung jawab setiap pihak baik produsen, konsumen, dan pemerintah. Untuk mengurangi sampah makanan dalam rantai pasokan (food loss), produsen dapat membuat perencanaan produksi yang sesuai dengan jumlah kebutuhan konsumen, menyediakan sistem penyimpanan dan pendinginan, hingga mengolah pangan menjadi makanan yang lebih tahan lama dan bernilai tinggi. 

 

Upaya ini tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah seperti kebijakan yang menjamin harga pangan yang stabil dan mempersingkat rantai pasokan agar tidak banyak sampah makanan yang terbuang pada saat perjalanan. 

 

Sebagai konsumen, kita juga dapat mencegah sampah makanan dengan melakukan perencanaan konsumsi yang lebih terukur seperti dengan melakukan meal preparation (persiapan makanan). 

Bagaimana Jika Kita Masih Menyisakan Sampah Makanan?

Seperti yang kita ketahui, tidak semua bagian dari sayuran atau bumbu dapur yang kita gunakan umum untuk dikonsumsi seperti cangkang dan kulit buah. Jika kita terpaksa masih menyisakan sampah makanan, sebaiknya kita mengolahnya terlebih dahulu sebelum dikirim ke petugas sampah. Terdapat berbagai cara yang bisa generasi hijau lakukan untuk mengolah sampah makanan seperti:

 

  • 1. Membuat kreasi masakan dari sisa makanan seperti membuat manisan kulit buah atau kaldu dari sisa sayuran dan kulit bawang. 
  • 2. Membuat eco-enzym, yaitu cairan fermentasi kulit buah dan gula yang bisa dijadikan pembersih rumah dan nutrisi tanaman. 
  • 3. Mengompos sampah makanan untuk dijadikan nutrisi tanaman 

 

Dengan mengolah sampah makanan yang ada di rumah, kita dapat berkontribusi atasi salah satu permasalahan utama dalam persampahan Indonesia. Hal ini karena 40% timbulan sampah di Indonesia merupakan sampah makanan. Selain itu, dengan mencegah dan mengolah sampah makanan secara bertanggung jawab, kita juga sudah turut mendukung implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan di Indonesia. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Aktivis Muda Peduli Lingkungan

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Bagaimana Pemuda Dapat Berkontribusi Memerangi Perubahan Iklim?

Aktivis Muda Peduli Lingkungan
Ilustrasi demo aksi perubahan iklim (sumber: Unsplash/Markus Spiske)

Akhir bulan September lalu, sekitar 400 perwakilan pemuda dari 197 negara di dunia telah menyuarakan aksi dan tuntutannya untuk perubahan iklim dalam sebuah forum Internasional bernama Youth4Climate: Driving Ambition (Pre-COP26 Youth Event) yang diselenggarakan di Milan, Italia. Acara Youth4Climate ini merupakan rangkaian pra-acara dari Conference of the Parties (COP) 26, yaitu konferensi PBB terkait perubahan iklim yang akan diselenggarakan pada 1-12 November 2021 mendatang. Ratusan pemuda peduli lingkungan dari seluruh dunia hadir dalam acara ini, termasuk salah satunya Greta Thunberg yang pidato kritikannya terhadap pemimpin dunia berujung viral di dunia maya. Indonesia pun turut mengirimkan 2 orang perwakilan pemuda pada acara ini. Kedua perwakilan pemuda tersebut adalah Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari.

Menjelang Hari Sumpah Pemuda, Steven Setiawan dan Damayanti Prabasari membagikan pengalamannya kepada penggiat lingkungan muda di Kota Bandung dalam diskusi interaktif “Cengkerama Iklim” dengan tajuk “Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh: Pemuda Sadar Emisi dan Berketahanan Iklim” yang diselenggarakan oleh Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK pada 18 Oktober 2021 di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Diskusi ini diselenggarakan secara hybrid di mana sebagian peserta menghadiri acara secara tatap muka dan sebagian menghadiri acara melalui aplikasi daring.

Damayanti Prabasari yang hadir selaku pemantik pada acara diskusi tersebut memaparkan bahwa terdapat beberapa pesan utama yang direkomendasikan oleh para pemuda yang menghadiri acara Youth4Climate ini. Pesan utama tersebut telah diklasifikasi menjadi empat kelompok kerja yang di antaranya adalah youth driving ambition yang isinya mendorong keterlibatan pemuda dalam aksi iklim, mendorong upaya pemulihan berkelanjutan (sustainable recovery), mendorong keterlibatan aktor non-pemerintah (non-state actors’ engagement), dan membangun masyarakat sadar iklim (climate conscious society). Namun, dokumen rekomendasi tersebut masih belum sepenuhnya difinalisasi.

Peran Pendidikan dan Media dalam Atasi Perubahan Iklim

Pemuda Peduli Lingkungan
Diskusi Cengkerama Iklim KLHK (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Siti Aisyah N)

Isu tentang upaya membangun masyarakat sadar iklim terutama di kalangan pemuda menjadi perhatian para peserta pada acara diskusi ini. Pasalnya, relasi pemuda dengan alam dinilai telah semakin jauh terutama bagi pemuda yang tinggal di perkotaan sehingga sulit bagi mereka untuk memahami dan menyadari permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Steven Setiawan yang juga hadir sebagai pemantik menjelaskan bahwa pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan di kalangan pemuda.

Mendorong pendidikan iklim merupakan salah satu poin rekomendasi yang diusulkan oleh para perwakilan pemuda dalam acara Youth4Climate. Pendidikan iklim harus menggunakan pendekatan yang holistik dan dapat mengintegrasikan pengetahuan lokal masyarakat adat, perspektif gender, dan mendorong perubahan dalam gaya hidup, sikap, dan perilaku. Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pendidikan iklim adalah dengan cara memasukannya ke dalam kurikulum nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim baru-baru ini pun mengusulkan agar mata pelajaran IPA dan IPS dapat difokuskan pada isu perubahan iklim. Usulan ini tentunya memberikan harapan bagi kita untuk membangun pemuda yang lebih peduli lingkungan.

Selain melalui pendidikan, media juga berperan penting untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim. Steven mengatakan bahwa media saat ini sudah bekerja cukup baik dalam menyampaikan pemberitaan terkait bencana alam akibat perubahan iklim. Namun, penyampaian berita ini perlu diiringi dengan informasi mengenai solusi dan aksi yang bisa masyarakat lakukan. Penyampaian berita bencana akibat dampak perubahan iklim dengan cara menakut-nakuti tidak membuat generasi muda semakin peduli, tapi justru malah membuat mereka merasa cemas hingga putus asa dan hilang harapan. Sebuah survei yang dilakukan pada 10.000 anak muda berusia 16-25 tahun di 10 negara bahkan menunjukan bahwa 60% orang merasa sangat khawatir dengan perubahan iklim. Ini menunjukan bahwa pemberitaan tentang perubahan iklim juga dapat menyebabkan dampak psikologis terutama di kalangan anak muda. Oleh karena itu, pemberitaan mengenai bencana akibat krisis iklim ini perlu diimbangi dengan informasi mengenai aksi mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan.

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, Apa yang Anak Muda dapat Lakukan untuk Memerangi Krisis Iklim?

Jika pemuda zaman dahulu berjuang melawan penjajah, pemuda di masa sekarang harus berjuang melawan krisis iklim. Sebagai agen perubahan, kita dapat memerangi krisis iklim baik melalui upaya individu dan kolektif. Untuk melakukan aksi individu, generasi hijau dapat mulai mencoba gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah dan jejak karbon. Generasi hijau juga bisa melakukan aksi kolektif seperti dengan cara bergabung di organisasi penggiat lingkungan di sekitarmu, menandatangani petisi aksi iklim, mendorong kerja sama lintas sektor di bidang lingkungan, dan aksi-aksi lainnya.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

Hickman, C. et al. Preprint at http://dx.doi.org/10.2139/

ssrn.3918955 (2021)

Nadiem Makarim Usulkan Pelajaran IPA Difokuskan untuk Pelajari Isu Perubahan Iklim. Liputan6.com. 20 Oktober 2021. Diakses dari https://www.liputan6.com/news/

read/4689185/nadiem-makarim-usulkan-mata-pelajaran-ipa-difokuskan-untuk-pelajari-isu-perubahan-iklim

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan. (Sumber: Freestocks/Unsplash)

Dalam industri fashion, kita mungkin mengenal dua istilah yang saling bertolak belakang, yaitu fast fashion dan sustainability fashion. Fast fashion merupakan industri fashion yang bergerak sangat cepat, dengan koleksi baru yang siap untuk diluncurkan setiap minggu dan dijual dengan harga yang relatif murah. Sebaliknya, sustainable fashion sering dikaitkan dengan produk fashion yang menggunakan bahan-bahan lebih ramah lingkungan, seperti memanfaatkan daur ulang maupun bahan alami.

Sebagian besar orang menyadari bahwa ketika mereka membeli produk fast fashion yang harganya murah, sebenarnya mereka sama saja ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan manusia. Pakaian dengan bahan yang tidak ramah lingkungan akan berpotensi merusak bumi kita ketika pakaian tersebut sudah tidak lagi bisa dipakai dan berujung hanya akan menjadi sampah.

Fast fashion sangat erat kaitannya dengan “limbah fashion”. Fast fashion menjadi salah satu penyebab terbesar polusi limbah fashion yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, maupun penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat menyebabkan climate change (perubahan iklim).

Industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya, sehingga kerap kali disebut tidak etis (unethical). Kebanyakan industri fast fashion terletak di Asia dan beberapa negara berkembang, seperti Bangladesh, India, bahkan Indonesia. Biasanya mereka akan mempekerjakan wanita yang berpendidikan rendah, wanita muda, dan imigran (bukan penduduk asli negara tersebut). Kemudian para pekerja harus bekerja selama 14 jam/hari, diberikan upah yang rendah, tidak ada jaminan asuransi jiwa ataupun jaminan keselamatan kerja, serta harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya untuk memproduksi produk fast fashion.

Produksi dan konsumsi yang berlebihan

Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian
Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian. (Sumber: Sarah Brown/Unsplash)

Kita mungkin lebih merelakan t-shirt atau celana panjang murah untuk disumbangkan daripada tas dari merek ternama. Akan tetapi kita perlu ingat bahwa barang-barang yang diproduksi oleh merek mewah juga sebagian besar tidak ramah lingkungan.

Sebagai contoh, sebuah fashion brand ternama asal London mendapat kecaman pada tahun 2018 karena membakar stok yang tidak terjual senilai hampir 40 juta dollar AS. Hal itu dilakukan untuk mencegah barang-barang tersebut dijual dengan harga lebih rendah atau diskon, sekaligus meningkatkan daya tarik merek di mata publik.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa setiap detiknya sampah tekstil dalam satu truk sampah dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selain itu, industri fast fashion juga dinilai menyumbang limbah sebanyak 20 persen dan emisi karbon 10 persen.

Dampak yang Ditimbulkan dari Industri Fast Fashion

Ilustrasi Industri Fast Fashion
Ilustrasi Industri Fast Fashion. (Sumber: John Cameron/Unsplash)

Industri fast fashion tentunya memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan, bahkan terhadap manusia sendiri. Di antaranya adalah:

Meminimalisasi Dampak Fast Fashion dengan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan salah satu kunci mengurangi dampak fast fashion. Secara praktis, berikut merupakan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari dampak dari industri fast fashion:

Dilansir dari laporan Fixing Fashion, memperpanjang masa aktif 50% pakaian hingga sembilan bulan akan menghemat: 8% karbon, 10% air, 4% limbah per metrik ton pakaian.

Serat sintetis berbasis minyak bumi seperti poliester membutuhkan lebih sedikit air dan tanah dibandingkan kapas, tetapi serat ini memancarkan lebih banyak gas rumah kaca per kilogram. Polimer sintetis berbasis bio yang dibuat dari tanaman yang dapat diperbarui seperti jagung dan tebu melepaskan emisi karbon hingga 60% lebih sedikit. Label harus menunjukkan apakah pakaian dibuat menggunakan polyester daur ulang (rPET).

Di Inggris, beberapa merek yang berkelanjutan dan vintage menawarkan layanan perbaikan seumur hidup. Sebanyak 59% pengecer besar termasuk IKEA dan GAP berjanji meningkatkan penggunaan poliester daur ulang dengan minimum 25% pada tahun 2020. Belanja dan beramal Pada 2017, sebelas ribu toko amal Inggris menyelamatkan 330 ribu metrik ton tekstil dari TPA, dan membantu mengurangi emisi karbon hingga jutaan ton per tahun melalui penggunaan kembali dan daur ulang pakaian bekas.

Asosiasi Tanah mengatakan kepada Komite Audit Lingkungan, peningkatan produksi kapas organik dapat meminimalkan dampak lingkungan dari industri fast fashion, karena akan mengurangi penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan air.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://lifestyle.kompas.com/read/

2021/05/07/155527320/jangan-cuma-belanja-pakaian-ketahui-juga-dampak-fast-fashion-pada?page=all diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/ diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://www.fimela.com/fashion/read/

4465856/kenali-istilah-fast-fashion-dan-dampaknya-bagi-kehidupan diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://mediaindonesia.com/weekend/

238334/ini-7-cara-menghentikan-fast-fashion diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut. (Sumber: nationalgeographic.grid.id)

Parasetamol terkenal di kalangan masyarakat sebagai obat pereda rasa nyeri dan dapat menurunkan panas. Jenis obat ini telah dikonsumsi oleh masyarakat sebanyak ribuan ton per tahunnya. Dikutip dari Kompas.com, pada awal Oktober 2021 lalu, ditemukan kandungan parasetamol berkonsentrasi tinggi yang tercemar di daerah Muara Angke dan Ancol, Jakarta Utara.

Akibat tercemarnya parasetamol tersebut menyebabkan kawasan Teluk Jakarta memiliki air laut yang berubah warna dari biru menjadi merah kecoklatan. Hal ini juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat sekitar seperti nelayan yang harus mencari ikan hingga ke tengah lautan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Brighton asal Inggris, mengungkapkan bahwa konsentrasi parasetamol tinggi yang tercemar di Teluk Jakarta mengandung 610 nanogram per liter pada Muara Sungai Angke dan sebanyak 420 nanogram per liter pada Muara Sungai Ciliwung Ancol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan ke publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak mengetahui adanya kadar parasetamol tinggi pada perairan Teluk Jakarta.

Namun, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusiono berdalih bahwa pihak pemerintah tidak pernah menganalisis adanya kadar parasetamol pada perairan Jakarta dikarenakan menurutnya zat tersebut tidak termasuk dalam daftar indikator pencemaran lingkungan.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Peraturan Pemerintah itu menyebutkan bahwa ada 38 parameter yang merupakan indikator dari pencemaran lingkungan dan parasetamol tidak termasuk di dalamnya. Meskipun demikian, pihak Pemprov DKI Jakarta rutin meneliti kualitas air laut Ibukota setiap enam bulan sekali sesuai perintah perundangan.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI DKI Jakarta) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi mengungkap pendapatnya bahwa obat parasetamol tidak termasuk dalam parameter pencemaran lingkungan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rehabilitasi Teluk Jakarta termasuk dalam daftar kegiatan strategis. Oleh karena itu, sudah seharusnya upaya pencegahan pencemaran lingkungan dilakukan oleh pemerintah.

Tubagus juga mengungkapkan penelitian yang telah dilakukan oleh BRIN dan Universitas Brighton pada tahun 2018-2019 lalu memiliki proses penelitian yang panjang sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi bersama LIPI serta ahli dari berbagai bidang terkait dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini, karena setiap terjadi pencemaran lingkungan dipastikan akan mempengaruhi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Terkait sumber limbah tersebut, Tubagus mengatakan banyak dugaan yang bisa menjadi penyebab tercemarnya Teluk Jakarta. Untuk dapat memastikan hal tersebut, sudah diungkapkan melalui peneliti yang sempat terlibat dalam studi yang terbit di jurnal Science Direct pada Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 hingga 70 persen pencemaran di laut yang sumbernya datang dari daratan atau antropogenik (dilakukan manusia).

Dalam kasus pencemaran air di daerah Muara Angke dan Ancol oleh parasetamol konsentrasi tinggi, kemungkinan besar menurut peneliti sumbernya berasal dari daerah Jabodetabek. Dugaan pertama yaitu bisa karena gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, obat-obatan kadaluarsa atau rusak kemudian dibuang sembarangan. Dugaan kedua yaitu instalasi pembuangan air limbah yang tidak optimal.

Peneliti menjelaskan, parasetamol tidak bisa terendapkan oleh jaring limbah yang saat ini digunakan. Ini artinya, kita memerlukan inovasi teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Sementara itu, Dr. Wulan Koaguow yang juga Peneliti Oseanografi BRIN dan terlibat dalam penelitian menambahkan bahwa sebenarnya semua obat-obatan bisa menjadi kontaminan lingkungan.

Langkah Mengolah Sampah Obat yang Tepat

Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat
Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat. (Sumber: Wikihow)

Generasi Hijau, berikut beberapa langkah tepat yang dapat kita lakukan dalam mengelola sampah obat-obatan yang sudah kadaluarsa ataupun rusak sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah hingga terjadinya pencemaran lingkungan seperti peristiwa pada perairan di Teluk Jakarta yang disebabkan oleh parasetamol berkonsentrasi tinggi. Di antaranya adalah:

Obat yang belum lewat dari tanggal kadaluarsa bisa kita donasikan ke klinik amal untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini hanya berlaku untuk kondisi obat yang masih bagus. Artinya, obat masih berada dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol yang belum dibuka atau masih tersegel rapi.

Sementara untuk obat yang sudah kadaluarsa, bisa kita titipkan ke apotik, rumah sakit, ataupun pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa. Namun, sebelum kita titipkan jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Seperti misalnya, stiker pada botol yang disobek, kotak kemasan yang digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa ada pihak yang bisa menyalahgunakan obat kadaluarsa ini.

Apabila jumlah obat yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, kita dapat juga dititipkan seperti di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen. Vitamin dan mineral cair bisa dipakai sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman. Jika obat berbentuk kapsul, isinya bisa dikeluarkan, sedangkan obat yang berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti obat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak ataupun hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut. Untuk obat-obatan ini direkomendasikan untuk dibuang dengan cara diguyur ke dalam toilet segera setelah tidak lagi digunakan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://propertyobserver.id/cara-mengelola-sampah-obat-kita/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.liputan6.com/news/read/

4676263/headline-perairan-teluk-jakarta-tercemar-parasetamol-seberapa-bahaya diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2021/

10/04/130100923/teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-peneliti-duga-sumbernya-dari-sini?page=all diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.alinea.id/nasional/seberapa-bahaya-parasetamol-yang-mencemari-teluk-jakarta-b2cCa97m8 diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Coral Bleaching

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Ilustrasi Coral Bleaching
Ilustrasi Coral Bleaching. (Sumber: theguardian.com)

Sekitar 18% terumbu karang dunia tumbuh di Indonesia, dengan luas mencapai 50.785 kilometer persegi. Terumbu karang memberikan tempat bernaung bagi ikan hias dan ikan santap, melindungi daerah pesisir dari erosi dan badai, serta memberikan penghidupan bagi nelayan serta pekerja industri wisata. Begitu banyak manfaat dari terumbu karang di laut kita. Sayangnya, ada satu ancaman terhadap eksistensi terumbu karang, yakni coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Mengenal Coral Bleaching

Terumbu karang terdiri dari banyak polyps yaitu binatang kecil yang berbentuk kantung dan memiliki ujung yang mekar dengan tentakel-tentakel kecil. Di dalam polyps, terdapat ganggang hidup yang ukurannya sangat kecil dan disebut zooxanthellae. Ganggang kecil ini yang memberikan warna pada terumbu karang.

Hubungan antara terumbu karang dengan zooxanthellae termasuk ke dalam hubungan simbiosis mutualisme di mana terumbu karang menyediakan tempat tinggal untuk ganggang kemudian tumbuhan laut tersebut memberikan gizi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Namun, ketika terjadi perubahan suhu pada air laut, ganggang tersebut akan meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. Salah satu dampak yang akan terjadi ketika ganggang kecil tersebut pergi adalah bagian luar dari terumbu karang yang berwarna putih akan terlihat karena polyps tidak memiliki warna (transparan). Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Dilansir dari National Geographic, hingga saat ini pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sudah terjadi di wilayah Australia hingga Madagaskar. Selama tahun 2014 sampai tahun 2017, terjadi peristiwa coral bleaching terbesar di dunia dan telah mencapai angka 70%. Meski masih mampu bertahan hidup tanpa adanya ganggang, akan tetapi terumbu karang akan menjadi rentan terserang penyakit. Terlebih jika suhu air laut yang mengalami kenaikkan suhu, maka kemungkinan besar terumbu karang akan mati. Sekalipun suhu air laut kembali normal dan ganggang kembali ke dalam terumbu karang, maka memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun kemudian agar terumbu karang dapat pulih secara sempurna.

Penyebab Utama Terjadinya Coral Bleaching

Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati
Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati. (Sumber: marineconservation.org.au)

Penyebab utama terjadinya coral bleaching adalah karena perubahan suhu, polusi, dan penangkapan makhluk laut yang berlebihan. Kenaikkan suhu air laut baik di atas ataupun di bawah dari suhu normal dapat memicu terjadinya peristiwa coral bleaching. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik atau secara optimal di laut tropis pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius.

Ketika terjadi perbedaan suhu 2 hingga 3 derajat celsius di atas ataupun di bawah dari suhu normal dalam kurun waktu antara satu sampai dua minggu, terumbu karang akan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya coral bleaching. Ketika perubahan suhu terjadi hingga satu bulan, maka seluruh koloni karang, karang lunak, anemon dan zoanthid akan memutih bahkan akan mengalami kematian pada minggu keenam.

Massa air hangat di laut juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sementara penurunan suhu laut juga dipengaruhi Indian Ocean Dipolemode, terutama pada coral bleaching di bagian barat Sumatera, kadang-kadang disebabkan oleh turunnya suhu di bawah normal yaitu kurang dari 26 derajat celsius.

Dapatkah Terumbu Karang yang Mengalami Coral Bleaching Kembali Pulih?

Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat
Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat. (Sumber: gilisharkconservation.com)

Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul di benak kita setelah membaca uraian mengenai coral bleaching. Pemulihan terumbu karang akan tergantung pada jenis terumbu karang serta tingkat stress yang dialami oleh terumbu karang akibat perubahan suhu air laut di sekelilingnya.

Beberapa terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, seperti terumbu karang dari kelompok Pociliporoid dan Acroporoid. Sementara, ada juga jenis terumbu karang yang cukup kuat untuk tetap bertahan dalam mengalami perubahan suhu air laut, seperti terumbu karang jenis Porites dan polyp besar. Terumbu karang jenis ini akan kembali normal apabila kenaikkan suhu tidak lebih dari enam minggu hingga satu bulan. Namun, apabila kenaikkan suhu air laut hanya terjadi selama dua hingga tiga minggu, biasanya terumbu karang dapat bertahan dan akan segera pulih kembali warnanya seperti semula.

Pada prinsipnya, sebenarnya terumbu karang hanya mengalami stress dan jika faktor penyebab stress tersebut hilang seperti suhu yang kembali normal maka karang akan segera pulih kembali. Kondisi sebaliknya bisa terjadi yaitu coral bleaching yang sangat parah diikuti oleh faktor lain yang memperparah kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contohnya yaitu ketika terjadi coral bleaching secara bersamaan dengan waktu transisi pada musim peralihan. Pada kondisi ini, air laut sangat tenang ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini biasanya akan muncul berbagai pertumbuhan filamentus, turf alage, cyanobacteria dan penyakit karang. Jika hal ini terjadi maka akan sangat berakibat fatal.

Intervensi Manusia pada Pemulihan Terumbu Karang

Pada dasarnya, terumbu karang bisa memulihkan diri sendiri. Akan tetapi, Generasi Hijau pun juga dapat mengambil berbagai langkah untuk memulihkan terumbu karang yang memutih, serta mencegah pemutihan pada terumbu karang yang sehat.

Menjalankan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dalam kehidupan sehari-hari ataupun saat berwisata, dapat menjadi solusi. Walau hidup jauh dari laut, Generasi Hijau yang bercocok tanam dapat menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida agar senyawa kimia tidak masuk dalam saluran air yang akan berakhir di laut. Generasi Hijau juga bisa memilah sampah agar tidak ada sampah yang tercecer dan berakhir di laut. Di rumah, hematlah air, agar mengurangi air sisa yang kotor dan dapat mencemari laut.

Saat berwisata di pantai, Generasi Hijau dapat menggunakan tabir surya ramah lingkungan, agar senyawa kimia berbahaya tidak larut dalam air laut ketika berenang. Dalam aktivitas diving atau snorkeling, pastikan jangkar kapal tidak menyentuh terumbu karang. Pastikan juga Generasi Hijau tidak menyentuh terumbu karang, dan tidak ada limbah yang dibuang dari kapal ke laut. Terakhir, tentu saja, jangan buang sampah di pantai atau laut, dan ikuti kegiatan volunteer membersihkan pantai, seperti yang dilakukan kawan-kawan EcoRanger di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.

Dalam jangka yang lebih panjang, menghambat pemanasan global adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan coral bleaching. Jadi, pastikan juga Generasi Hijau sudah memulai langkah menghambat pemanasan global, seperti beralih ke energi terbarukan, menggunakan transportasi umum atau transportasi tanpa bahan bakar fosil, serta membaca label karbon pada produk yang Generasi Hijau konsumsi.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

http://coremap.or.id/berita/1172 diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131623449/coral-bleaching-fenomena-hilangnya-warna-indah-terumbu-karang diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://reefresilience.org/id/stressors/bleaching/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/18/173000923/cegah-pemutihan-terumbu-karang-diberi-makan-bakteri-probiotik?page=all diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.instagram.com/p/CUWZcP_h7Nz/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah