Category Archives: Press Release

Peringati HPSN 2021, Greeneration Foundation Ajak Komunitas Pegiat Lingkungan Bersinergi untuk Indonesia Bebas Sampah

Peringati HPSN 2021, Greeneration Foundation Ajak Komunitas Pegiat Lingkungan Bersinergi untuk Indonesia Bebas Sampah

Dokumentasi peserta Community Gathering HPSN 2021. Sumber: dokumentasi Greeneration Foundation

Kurang lebih 30 perwakilan komunitas pegiat persampahan di Indonesia berkumpul dalam acara community gathering virtual Peduli Sampah Nasional 2021 (#PESAN2021) yang berlangsung pada 15 Februari 2021, dengan tema Bergerak di 2021 untuk Indonesia Bebas Sampah 2025. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Better, Greener, Together dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2021. Community gathering ini mengajak komunitas pegiat persampahan untuk berjejaring bersama gerakan partisipatif Bergerak Indonesia Bebas Sampah (BIBS) dan BebasSampahID, demi mewadahi inisiatif peduli persampahan di 34 provinsi di Indonesia.

Dalam sesi diskusi yang dilaksanakan bersama Executive Director Greeneration Foundation, Vanessa Letizia; Program Manager Strategic Engagement Greeneration Foundation, Via Azlia Widiyadi; dan Platform Development Manager Greeneration Foundation, Andre Prasetyo, membahas fokus kegiatan #PESAN2021 yang sejalan dengan surat edaran KLHK mengenai HPSN 2021: Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi.

#PESAN2021 mempunyai tujuan utama untuk menciptakan sistem tata kelola persampahan yang inklusif dan kolaboratif menuju tercapainya Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2025. “Dari seluruh program GF yang dijalankan, terdapat poin penting yang kami ambil yaitu kolaborasi merupakan hal yang sangat krusial untuk dilakukan oleh sebuah inisiatif/gerakan untuk memperbesar dampak positif yang dihasilkan. Oleh karena itu pada PESAN 2021 ini kami sangat mengapresiasi keterlibatan teman-teman semua dalam kolaborasi ini, mudah-mudahan kita dapat bersama-sama, bersinergis secara konsisten melakukan inisiatif-inisiatif baik sebagai salah satu solusi permasalahan sampah demi terwujudnya Indonesia Bebas Sampah,” ujar Vanessa Letizia selaku Direktur Eksekutif Greeneration Foundation.

Via Azlia selaku Program Manager dari Strategic Engagement Greeneration Foundationmenuturkan, setidaknya ada 5 hal yang dapat dilakukan rekan komunitas dan masyarakat luas dalam #PESAN2021. Pertama, menandatangani Aspirasi Bebas Sampah di change.org/AspirasiBebasSampah. Kedua, menyebarkan gerakan di media sosial. Ketiga, bergabung dengan Forum Komunikasi Bergerak Indonesia Bebas Sampah. Keempat, beraudiensi dengan lembaga pemerintah setempat. Kelima, memetakan titik aset persampahan di Bebas Sampah ID (bebassampah.id).

Pemaparan Panduan Bergerak Peduli Sampah Nasional oleh Via Azlia. Sumber: dokumentasi Greeneration Foundation

Di segmen selanjutnya, Andre Prasetyo memaparkan kondisi pengelolaan sampah Indonesia dan latar belakang munculnya platform Bebas Sampah ID. BebasSampah.id ialah platform nasional yang menggerakkan para pemangku kepentingan untuk berperan serta dalam mewujudkan Indonesia Bebas Sampah, melalui pemetaan aset persampahan sebagai solusi maupun kolaborator peduli persampahan yang tergabung dalam Bergerak Indonesia Bebas Sampah (BIBS). BSID juga menjadi wadah tukar informasi terkait isu-isu persampahan sekaligus turut mendorong terciptanya tata kelola persampahan yang baik di kabupaten/kota. BSID memiliki fitur aset, kolaborator, sampah ilegal, gerakan, perpustakaan, dan fitur indeks. Dalam #PESAN2021, rekan komunitas dapat mengunggah data yang dimiliki ke fitur aset persampahan dan fitur gerakan. Untuk berkontribusi menjadi bagian dari aktor persampahan, rekan komunitas dapat mendaftar langsung di website bebassampah.id.

Pemaparan materi oleh Andre Prasetyo. Sumber: dokumentasi Greeneration Foundation

Meski rangkaian kegiatan HPSN 2021 ini dilaksanakan secara virtual, namun tidak mengurangi semangat pegiat persampahan untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia.

“Kita pikirkan gagasan ini sejak tahun 2014, dan ternyata sangat relevan dalam kondisi pandemi seperti ini. Saya yakin, dengan pengalaman kita selama setahun di 2020 membuat kita lebih siap lagi untuk menyelenggarakan kegiatan secara virtual namun dengan dampak yang lebih luas lagi. Asalkan kita berkolaborasi dan satu visi, sehingga hasil dari (kegiatan) parsial dapat menjadi rekomendasi yang besar dampaknya bagi pengolahan sampah di Indonesia,” tutur Andre selaku Platform Development Manager Greeneration Foundation.

Bersama #PESAN2021, Greeneration Foundation berharap sinergi dan peran dari rekan-rekan komunitas agar dapat saling mendukung inisiatif gerakan peduli sampah menjadi gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

PRESS RELEASE Program Bantu Pemulung dan Petugas Persampahan Aman dari COVID-19

PRESS RELEASE Program Bantu Pemulung dan Petugas Persampahan Aman dari COVID-19

Sejak Agustus 2020, Greeneration Foundation bekerja sama dengan The Coca Cola Foundation Atlanta yang dibantu oleh The Coca-cola Foundation Indonesia melakukan penyaluran paket bantuan yang diperuntukan bagi 2.500 pemulung dan petugas persampahan di 25 titik wilayah di Indonesia bertajuk “Bantu Pemulung dan Petugas Persampahan Aman Dari COVID-19”

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk respon kepedulian terhadap para pelaku atau pekerja di sektor persampahan agar tetap aman di tengah pandemi Covid-19. Adapun 25 titik wilayah penyaluran yang menjadi target dalam program ini diantaranya Aceh, Padang, Lampung, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kab. Malang, Batu, Surabaya, Banyuwangi, Denpasar, Maumere, Mataram, Ternate, Banjarmasin, Balikpapan, Pontianak, Kapuas, Makassar, Palu, Gorontalo, Kendari dan Manado. 

Paket bantuan yang disalurkan dalam program ini diantaranya berupa:

  • Paket Sembako, yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula, susu, dan mie instan.
  • Alat Pelindung Diri (APD), yang terdiri dari Masker guna ulang, sarung tangan, topi, dan sepatu boot.
  • Hygiene Kit, yang terdiri dari sabun cuci tangan dan hand sanitizer
  • Modul Edukasi Covid-19 yang disunting oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
  • Penyaluran dilaksanakan mulai dari 31 Oktober hingga awal Desember 2020 secara bertahap di tiap lokasi. Dalam pelaksanaannya, penyaluran di tiap lokasi dibantu oleh mitra lokal yang terdiri dari komunitas, organisasi, lembaga pemerintah, hingga lembaga pendidikan. 25 mitra lokal ini bertugas membantu mulai dari proses persiapan dan pendataan penerima manfaat, pembelian beberapa paket bantuan, pengemasan, edukasi, dan penyaluran langsung baik melalui metode door to door maupun menggunakan metode penyaluran berjarak. 

    Proses penyaluran paket bantuan diawali dengan pemberian informasi/ edukasi terkait pencegahan COVID-19 berdasarkan modul pencegahan COVIS-19, kemudian dilanjutkan dengan pembagian paket bantuan, dan diakhiri dengan survey singkat tentang manfaat dari pembagian paket bantuan.

    Bantuan yang diberikan diharapkan dapat bermanfaat bagi penerima manfaat dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Kami juga mengajak teman-teman yang lain untuk turut membantu meringankan tugas mereka dengan mulai memilah sampah dari rumah. 

    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Email : media@greeneration.org
  • Nomor kontak : 081224060607
  • Website : www.greeneration.org 
  • Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

    Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

    Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim EcoRanger Banyuwangi pada 8 Oktober 2020. Seminar yang dilakukan secara daring ini disiarkan langsung melalui zoom dan youtube dan diikuti sekitar 140 peserta dari 25 provinsi di Indonesia. Sebagai tuan rumah kegiatan ini, Tim EcoRanger Banyuwangi mengundang 5 narasumber dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata. Mereka adalah Ibu Susi Herawati (Kepala Bidang Pengembangan Ekspose Generasi Lingkungan – Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Bapak Dimas Teguh (Manager Program EcoRanger Indonesia – Greeneration Foundation), Bapak Saka Dwi Hanggara (Waste Management Trainer – PT. Waste4Change), Bapak Candra Hermawan, M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Biologi – Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi), dan Bapak Edi Laksono (Wakil Ketua POKMAS Wisata Pulau Merah).Kegiatan ini juga memperoleh dukungan penuh oleh JICA Indonesia. 

    Seminar daring yang diselenggarakan kurang lebih 3 jam ini menghasilkan poin-poin penting. Pertama, Permasalahan persampahan berakar pada kemauan dan kesadaran masing-masing individu. Perubahan perilaku produksi dan konsumsi yg lebih ramah lingkungan tidak hanya harus dilakukan oleh konsumen, tetapi juga produsen dlm proses produksinya. Kedua, diperlukan data-data persampahan yg aktual dan akurat untuk menunjang pengambilan kebijakan pengelolaan sampah secara tepat. Ketiga, Pemilahan sampah di sumber sangat membantu proses pengolahan lebih lanjut (daur ulang). Perkembangan teknologi pengolahan juga turut membantu pengurangan sampah residu yang “dibuang” ke TPA. Keempat, Diperlukan masterplan pengembangan pariwisata dengan mengikutsertakan rencana jangka panjang dan jangka pendek pengelolaan lingkungan, termasuk persampahan. Terakhir, Kerja sama berbagai stakeholder (pemerintah, pelaku usaha, komunitas, pelaku usaha dan wisatawan) untuk saling membantu mewujudkan pariwisata berkelanjutan. 

    Tim EcoRanger Banyuwangi turut mengedukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta seminar daring. Kegiatan tersebut dilakukan di rumah masing-masing pada 02-07 Oktober 2020. Panitia menyediakan video tutorial untuk memandu peserta dalam mempraktikkan kegiatan daur ulang tersebut. Terdapat 3 pilihan kegiatan daur ulang, yaitu daur ulang material organik menggunakan biopori, daur ulang material plastik dengan ecobrick, dan daur ulang kertas bekas. Seluruh peserta tergabung dalam grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi. PT. Bamboo Arum sebagai startup yang memproduksi barang ramah lingkungan di Banyuwangi juga turut serta mendukung acara dengan donasi merchandise sedotan bambu sebagai upaya edukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta.

    Dokumentasi kegiatan online FGD ini dapat diakses melalui:

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

    Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

    Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga terancam oleh kenaikan muka air laut. Semua ancaman ini juga berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan dan ruang hidup bagi masyarakat di wilayah rentan. Menyadari hal ini, Indonesia bersama negara-negara dunia telah menyatakan komitmen untuk menghadapi perubahan iklim sesuai yang tertuang dalam Persetujuan Paris. Indonesia menyatakan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tanpa syarat, serta 41% bila dengan dukungan internasional pada tahun 2030, mengacu pada skenario business as usual. Target penurunan emisi yang disebut sebagai Nationally Determined Contribution (NDC) ini terbagi pada 5 sektor, kehutanan (deforestasi dan alih guna lahan), pertanian/agrikultur, limbah, industri dan penggunaan produk, serta energi.

    Mempertimbangkan bahwa dampak perubahan iklim telah jelas bisa dirasakan di berbagai wilayah, serta bahwa pemerintah telah memiliki komitmen untuk mengatasi permasalahan ini, tantangan berikutnya bagi pembuat kebijakan adalah dalam implementasi dan realisasi kebijakan ini dalam berbagai proyek dan program kebijakan. Bagaimanakah perkembangan terkini dari upaya tersebut, bila dilihat dari perspektif organisasi masyarakat sipil yang berhadapan secara langsung dengan dampak dan upaya penanganan perubahan iklim pada bidang serta domisili yang berbeda-beda? Masalah-masalah mendesak apa sajakah yang memerlukan perhatian khusus dari para pembuat kebijakan, serta program dan kebijakan apa saja yang bisa diambil pemerintah sebagai alternatif solusi pada masalah bersangkutan?

    pertanyaan-pertanyaan ini didiskusikan bersama dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu, 23 September 2020. Greeneration Foundation sebagai organisasi nirlaba yang fokus dalam isu persampahan turut hadir dalam agenda tersebut. Greeneration Foundation yang saat diskusi diwakili oleh Dimas Teguh Prasetyo (Program Manager Ecoranger) membahas pentingnya perubahan perilaku manusia sebagai kunci dalam penanganan sampah. Menurutnya, permasalahan sampah akan berdampak langsung pada krisis iklim. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan lebih banyak menghasilkan timbunan di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, Indonesia masih menerapkan sistem open dumping yang berpotensi menghasilkan dampak negatif pada pelepasan gas metana dan kandungan berbahaya lain ke atmosfer. Oleh karena itu, Greeneration hadir dalam membantu masyarakat, dan stakeholder lainnya dalam meminimalisir dampak tersebut melalui program-program inovatif dan berkelanjutan.

    Dalam FGD yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia, Greeneration Foundation juga memberikan beberapa usulan kebijakan terhadap pemerintah. Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan atau regulasi yang dapat mendukung upaya pengurangan limbah. Kedua, pemerintah perlu menyusun standar yang mengusung prinsip-prinsip ekonomi sirkular untuk dapat diterapkan ke sektor industri agar dapat menekan laju peningkatan emisi atau gas rumah kaca. Ketiga, mendorong pemerintah lebih masif dalam mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan ke masyarakat luas. Keempat, pemerintah perlu mewujudkan sistem satu data persampahan yang memiliki sinkronisasi dan integrasi dengan seluruh aset dan informasi persampahan di Indonesia. Terakhir, pemerintah perlu membentuk tim khusus yang berfungsi mengawasi penerapan 5 aspek manajemen persampahan hingga level daerah. Usulan-usulan ini kemudian akan dimajukan dalam aksi friday for future bersama para policy makers pada Jumat, 25 September 2020.

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Menuju Forum Ekonomi Sirkular Indonesia ke-4: Langkah ke Arah Kota Cerdas & Berkelanjutan Melalui Penerapan Ekonomi Sirkular

    Menuju Forum Ekonomi Sirkular Indonesia ke-4: Langkah ke Arah Kota Cerdas & Berkelanjutan Melalui Penerapan Ekonomi Sirkular

    Ketika bicara krisis iklim, jarang sekali kita menyentuh ranah di mana perempuan menghadapi krisis iklim dengan level kesulitan yang berbeda dibanding lelaki. Nyatanya, efek domino dari ketidaksetaraan gender menempatkan perempuan di tempat yang lebih rentan terkait dampak buruk krisis iklim.

    Perubahan iklim meningkatkan ketidaksetaraan gender, menurunkan kemampuan perempuan untuk jadi independen secara finansial, dan secara umum berdampak buruk bagi hak sosial dan politik perempuan. Peran gender di tatanan sosial negara berkembang sering menempatkan perempuan sebagai yang dinafkahi. Hal ini memperparah beban perempuan yang keluarganya bergantung pada pertanian dan kerja buruh.

    Sulitnya jadi perempuan di masyarakat patriarkal

    Di beberapa daerah utamanya di belahan bumi selatan, masih banyak negara berkembang yang mengandalkan perempuan untuk melakukan pekerjaan domestik, seperti memasak, mengambil air, atau bercocok tanam. Adanya krisis iklim menggandakan kesulitan tugas-tugas ini. Cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir meningkatkan risiko perempuan menjadi korban kekerasan ketika mereka tidak mampu menyajikan makanan di atas meja.

    Dengan meningkatnya frekuensi kekeringan dan meluasnya permukaan gurun di belahan bumi selatan, berarti semakin banyak pula sumber air dan sumur yang mengering. Riset menunjukkan, kekeringan ekstrem menyebabkan meningkatnya KDRT di Uganda. Penelitian di topik yang sama menunjukkan bahwa kesulitan finansial yang disebabkan kekeringan ini berefek pada peningkatan konsumsi pria terhadap alkohol dan obat-obatan sebagai coping mechanism. Kecanduan alkohol ini menjadikan perempuan sebagai korban KDRT.

    Anak perempuan Nigeria, Afrika Barat, pulang setelah bekerja di ladang. (Sumber: Mike Goldwater/Alamy Stock Photo)

    Mengumpulkan air acap kali jadi pekerjaan perempuan. Kekeringan ini menyebabkan mereka terpaksa berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air. Otomatis risiko serangan seksual juga meningkat, terutama di daerah-daerah yang rawan kejahatan geng bersenjata.

    Kekeringan di Afrika berbanding terbalik dengan kelebihan air di Indonesia. Setiap musim hujan, kita pasti kebagian banjir besar di daerah Jabodetabek. Pada masa krisis, perempuan punya insting lebih kuat untuk menyelamatkan anak, sehingga memprioritaskan keselamatan anak lebih dulu dibanding dirinya. Hal ini sebaliknya, tidak begitu umum ditemui di laki-laki.

    Kekeringan di Afrika berbanding terbalik dengan kelebihan air di Indonesia. Setiap musim hujan, kita pasti kebagian banjir besar di daerah Jabodetabek. Pada masa krisis, perempuan punya insting lebih kuat untuk menyelamatkan anak, sehingga memprioritaskan keselamatan anak lebih dulu dibanding dirinya. Hal ini sebaliknya, tidak begitu umum ditemui di laki-laki.

    Seorang wanita dan anaknya berjalan menyusuri banjir Jakarta, 25 Februari 2020. (Sumber: Bay Ismoyo/AFP via Getty Images)

    Laki-laki dapat pindah dari daerah terdampak krisis iklim untuk mencari penghidupan yang lebih laik. Namun perempuan memiliki banyak pertimbangan untuk pindah; komitmen mengurus anak, kesejahteraan anak, atau masa depan anak di tempat baru. Karena itu pula, perempuan punya kewajiban untuk bekerja, meski diupah rendah karena tanggung jawabnya membesarkan anak. Hal ini kemudian jadi topik lain: kesetaraan gender di ranah pekerjaan.

    Mitigasi krisis iklim di tangan perempuan

    Perempuan mengemban beban berat ekspektasi masyarakat di bahunya. Meski terdampak krisis iklim lebih besar dibanding laki-laki, perempuan punya peran krusial dalam adaptasi krisis iklim dan mitigasi. Perempuan lebih paham tentang solusi praktis dan apa yang diperlukan untuk adaptasi di kondisi lingkungan yang berbeda, namun kebanyakan potensi mereka belum dimanfaatkan.

    8 Maret lalu, perempuan seluruh dunia merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai pencapaian sosial, ekonomi, budaya dan politik bagi perempuan. Hari ini juga menandakan panggilan aksi untuk meningkatkan kesetaraan gender. Kita berkesempatan untuk berefleksi bagaimana perempuan di seluruh dunia terdampak krisis iklim dan bernasib sama.

    Petani wanita menanam padi selagi ditunggu petani lelaki di Desa Sekejati, Bandung. (Sumber: dok. pribadi Melisa Qonita Ramadhiani)

    Bukan hanya sebagai inisiator gerakan peduli lingkungan, sudah sepatutnya gerakan ini dipimpin perempuan. Advokasi dan penyelesaian masalah yang diinisiasi perempuan lebih sarat empati dan inklusivitas. Baik perempuan adat yang menolak pembukaan lahan tambang, perempuan inisiator kebun urban, perempuan yang menggerakkan dana untuk sanitasi dan air bersih, atau perempuan peneliti energi terbarukan, banyak contoh perempuan memimpin gerakan yang mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

    Mengatasi krisis iklim perlu pendekatan yang ramah gender. Hal ini berarti bergerak lebih jauh dari sekadar memastikan perempuan dan laki-laki terepresentasikan dengan baik di panel diskusi. Kita harus memperluas paham bahwa relasi kuasa struktural dan marjinalisasi ekonomi sosial menyebabkan perempuan lebih terdampak pada krisis iklim.

    Wanita Aceh membawa kayu bakar dari hutan untuk memasak. (Sumber: Boy Haqi/CIFOR)

    Seperti diuraikan dalam kertas kerja UN Women tahun 2015, “pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender punya efek katalis pada pencapaian pengembangan SDM, good governance, konsumsi dan produksi berkelanjutan, kedamaian, dan dinamika lingkungan dan populasi manusia yang harmonis”.

    Selamat Hari Perempuan Internasional untuk semua perempuan hebat di dunia!

    Referensi

    Cwink, J. (2020, February 22). Perubahan Iklim Lebih Berbahaya Bagi Perempuan dan Anak. Retrieved from Deutsche Welle: https://www.dw.com/id/dampak-perubahan-iklim-terhadap-perempuan/a-52466076

    IUCN. (2021). Issues Brief: Gender and Climate Change. Retrieved from IUCN : https://www.iucn.org/resources/issues-briefs/gender-and-climate-change

    Megumi,S. R. (2017, September 25). Perubahan Iklim Berimbas pada Kesehatan Perempuan. Retrieved from Greeners.co: https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-berimbas-kesehatan-perempuan/

    Park, A. (2019, November 26). How Climate Change Exacerbates Gender Inequality Across the Globe. Retrieved from TIME.com: https://time.com/5738322/climate-change-gender-inequality/

    Sinha, V. (2019, September 16). We can solve climate change – if we involve women. Retrieved from World Economic Forum: https://www.weforum.org/agenda/2019/09/why-women-cannot-be-spectators-in-the-climate-change-battle/

    Thomas, A. (2020, March 8). Power structures over gender make women more vulnerable to climate change. Retrieved from Climate Change News: https://www.climatechangenews.com/2020/03/08/power-structures-gender-make-women-vulnerable-climate-change/

    UN WomenWatch. (2009). Fact Sheet: Women, Gender Equality and Climate Change. Retrieved from UN WomenWatch: https://www.un.org/womenwatch/feature/climate_change/downloads/Women_and_Climate_Change_Factsheet.pdf

    Wang, N. (2020, June 10). How Women Can Lead The Resistance Against Climate Change. Retrieved from Forbes.com: https://www.forbes.com/sites/nancywang/2020/06/10/how-women-can-lead-the-resistance-against-climate-change/?sh=5b0ac8651445

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Di Tengah Pandemi, Ratusan Pegiat Persampahan Bertemu dalam Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2020 Virtual

    Di Tengah Pandemi, Ratusan Pegiat Persampahan Bertemu dalam Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah 2020 Virtual

    Pandemi global tidak menjegal langkah pegiat persampahan nasional untuk bertemu dan berdiskusi seputar isu persampahan. Menyesuaikan diri dengan tantangan pandemi, tahun ini Greeneration Foundation dan Bergerak Indonesia Bebas Sampah mengadakan serangkaian Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah (JIBBS) 2020 secara virtual dari 22 Agustus s.d 29 September 2020.

    Dengan tema “Membangun Sinkronisasi dan Integrasi Data Persampahan Nasional yang Transparan dan Melibatkan Partisipasi Masyarakat.” JIBBS 2020 Virtual dibagi kedalam dua agenda utama. Pertama, “JIBBS Virtual Series” merupakan seri webinar mingguan yang diadakan setiap Sabtu dari 22 Agustus hingga 12 September 2020. Kedua, “JIBBS Virtual Grand Event” yang akan diselenggarakan pada 28-29 September 2020.

    Rangkaian Virtual Series dimaksudkan untuk menjadi ruang belajar para pegiat persampahan, sementara Virtual Grand Event, dengan salah satu kegiatannya Focus Group Discussion per provinsi, menjadi ruang diskusi dari apa yang telah mereka pelajari selama rangkaian Virtual Series untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan pada sektor persampahan dan menyusun rencana aksi untuk mengatasinya. Salah satu target yang diharapkan sebagai bentuk keluaran berkelanjutan Jambore tahun ini adalah terbentuknya Forum Komunikasi Bergerak Indonesia Bebas Sampah (BIBS) yang tersebar di 34 provinsi.” ujar Andre Prasetyo.

    JIBBS Virtual Grand Event hari pertama (28/9) dibuka langsung oleh Bijaksana Junerosano (Founder Greeneration Foundation dan Waste4Change), Danis Hidayat Sumadilaga (Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Rosa Vivien Ratnawati (Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), dan Nani Hendiarti (Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi).

    Menurut Danis Hidayat Sumadilaga selaku Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kolaborasi menjadi salah satu kunci terkelolanya sampah di Indonesia:

    “Pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Berdasar data BPS, di 2016 hanya 60,64% rumah tangga di perkotaan yang sampahnya terkelola, sehingga masih ada 100 juta jiwa penduduk yang belum terlayani layanan pengelolaan persampahan dan membuang sampahnya di badan air, tanah lapang, atau dibakar. Untuk mencapai target RPJMN 2024 yaitu meningkatnya rumah tangga dengan akses sampah terkelola di perkotaan menjadi 100% terdapat gap sebesar 39,36%.

    “Tantangan dalam pengelolaan persampahan di Indonesia mencakup keseluruhan aspek, mulai dari minimnya komitmen kepala daerah dalam pengelolaan persampahan, belum adanya ketersediaan peraturan daerah yang mengatur sektor persampahan secara merata di seluruh kab/kota, minimnya kesadaran masyarakat dalam mendukung layanan persampahan, keterbatasan pendanaan dalam penyelenggaraan layanan sampah termasuk untuk biaya operasi dan pemeliharaan, hingga belum adanya database sektor persampahan yang terintegrasi. Kolaborasi semua pihak, meliputi Pemerintah, Industri, Swasta, dan Masyarakat menjadi penting dalam mewujudkan tercapainya 100% sampah terkelola di 2024, termasuk dalam upaya mewujudkan adanya Integrasi Data Persampahan Nasional yang transparan yang menjadi acuan dalam perumusan kebijakan dan evaluasi efektivitas dari suatu kebijakan. Melalui kolaborasi bersama, kita bisa mewujudkan Indonesia Bersih Sampah di 2025

    Agenda dilanjutkan dengan diskusi pemantik bertema “Tantangan Akses Data Persampahan Nasional dan Pentingnya Sinergi Antar-Pemangku Kepentingan di Daerah”, FGD per provinsi, pemaparan rekomendasi hasil FGD, dan talkshow interaktif dengan tema “Kebijakan Satu Data Indonesia dalam Sektor Persampahan.”

    Pada akhir kegiatan, peserta membacakan Deklarasi JIBBS 2020 Virtual yang berisikan lima poin. Pertama, memperkuat forum komunikasi Indonesia Bersih dan Bebas Sampah di provinsi masing-masing. Kedua, mendorong penerapan kebijakan satu data pada sektor persampahan. Ketiga, mendukung Bebassampah.ID sebagai platform partisipasi publik pada sektor persampahan. Keempat, menyampaikan aspirasi kepada pemerintah pusat, provinsi dan daerah untuk meningkatkan peran serta masyarakat melalui pengembangan kapasitas relawan pegiat persampahan secara terstruktur dan terukur. Kelima, memperkuat implementasi Deklarasi Indonesia Bersih dan Bebas Sampah, hasil Jambore 2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020.

    JIBBS 2020 Virtual merupakan kegiatan yang dihasilkan dari kerja kolaborasi lintas pemangku kepentingan yang memiliki tujuan yang sama untuk memperbaiki sistem tata kelola persampahan di Indonesia. Total 902 peserta mendaftar rangkaian acara dari 34 provinsi di Indonesia. Sementara itu, 602 peserta menghadiri JIBBS Grand Event hari pertama, dan 418 peserta menghadiri JIBBS Grand Event hari kedua. Kegiatan ini didukung oleh lembaga pemerintahan, seperti Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sektor swasta seperti Unilever, Indofood, PRAISE, Tetra Pak, dan Nutrifood, serta 95 kolaborator di seluruh Indonesia.

    JIBBS 2020 Virtual dimaksudkan untuk menjadi bagian dari tata kelola persampahan di Indonesia. David Sutasurya, Koordinator Forum Komunikasi Bandung Juara Bebas Sampah, mengatakan:

    “Upaya menggagas sistem tata kelola persampahan di Indonesia merupakan sebuah keharusan. Target nasional untuk mencapai pengelolaan sampah 100% berarti pemerintah dan pemerintah daerah perlu siap mengambil peran pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, termasuk pengumpulan sampah di kawasan di mana saat ini pemerintah belum hadir. Karena itu percepatan transformasi tata kelola pengelolaan sampah, yaitu aspek regulasi, kelembagaan dan pembiayaan, di seluruh tingkatan pemerintahan adalah isu kunci saat ini. Untuk itu, mengingat pemerintah harus mengelola sumber sampah yang begitu massif dan beragam, maka teknologi informasi menjadi teknologi kunci percepatan penguatan tata kelola pemerintahan ini.”

    “Upaya menggagas sistem tata kelola persampahan di Indonesia merupakan sebuah keharusan. Target nasional untuk mencapai pengelolaan sampah 100% berarti pemerintah dan pemerintah daerah perlu siap mengambil peran pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, termasuk pengumpulan sampah di kawasan di mana saat ini pemerintah belum hadir. Karena itu percepatan transformasi tata kelola pengelolaan sampah, yaitu aspek regulasi, kelembagaan dan pembiayaan, di seluruh tingkatan pemerintahan adalah isu kunci saat ini. Untuk itu, mengingat pemerintah harus mengelola sumber sampah yang begitu massif dan beragam, maka teknologi informasi menjadi teknologi kunci percepatan penguatan tata kelola pemerintahan ini.”

    Sementara Maya Tamimi selaku Head of Environment & Sustainability Unilever mengungkapkan, dukungannya kepada Jambore adalah wujud komitmen untuk mengimplementasi kebijakan Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

    “Permasalahan pengelolaan sampah plastik maupun pengelolaan sampah secara keseluruhan memerlukan perhatian serius dari kita semua. Sebagai pihak produsen, paling lambat pada tahun 2025, Unilever secara global berkomitmen untuk mengurangi setengah dari penggunaan plastik baru, mempercepat penggunaan plastik daur ulang, serta mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang dijualnya.

    “Dalam upaya mewujudkan komitmen tersebut, kami melihat bahwa perubahan pola pikir, kebiasaan, hingga ke tatanan sistem saat ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa plastik tidak melulu menjadi sumber masalah, bahkan justru memberikan keuntungan bagi kita. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pihak produsen seperti Unilever, dan juga seluruh lapisan masyarakat.”

    Dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak yang terjalin ini diakui Direktur Greeneration Foundation, Vanessa Letizia, sebagai salah satu peran multipihak dalam berpartisipasi di Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah dari tahun ke tahun:

    “Pelaksanaan Jambore tahun ini memiliki tujuan untuk memperkuat peran dan partisipasi para pemangku kepentingan di tingkat daerah maupun pusat, dengan segala tantangannya di tahun ini JIBBS 2020 dapat tetap terselenggara berkat kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak.”

    Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah pertama kali hadir pada tahun 2016 di Kota Solo, mengumpulkan 234 peserta dari 22 provinsi. Kemudian JIBBS 2017 dilaksanakan di Banda Aceh dengan 290 peserta dari 21 provinsi, disusul JIBBS 2018 di Malang Raya dengan 327 peserta dari 34 provinsi, dan JIBBS 2019 di Bali dengan 268 peserta dari 28 provinsi.

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Siaran Pers: 2.627 Paket Bantuan Berhasil Disalurkan

    Siaran Pers: 2.627 Paket Bantuan Berhasil Disalurkan

    SIARAN PERS
    Di Tengah Pandemi, Greeneration Foundation Berhasil Salurkan Bantuan APD & Sembako Kepada Lebih dari 2.000 Petugas Persampahan & Pemulung di Indonesia

    Sejak April 2020 Greeneration Foundation dan Waste4Change berinisiasi melakukan galang dana bertajuk #JanganLupakan #IndonesiaLawanCorona untuk membantu petugas persampahan dan pemulung di tengah pandemi corona, di berbagai wilayah Indonesia hingga total penerima paket bantuan mencapai 2.627 orang.

    Inisasi ini tentu saja tidak dilakukan sendiri, berkolaborasi dengan 2 platform crowdfunding di Indonesia yaitu Kitabisa.com dan BernihBaik, serta memboyong 96 Kolaborator yang terdiri dari berbagai komunitas khususnya komunitas persampahan dan beberapa media di Indonesia. Peran para influencer yang secara probono membantu galang dana ini pun menjadi salah satu faktor pendukung meningkatkan antusias masyarakat untuk membantu pahlawan di garda terdepan persampahan ini bisa terwujud. Beberapa diantara mereka yang membantu menyebarkan kebaikan ini adalah Arifin Putra, Lukman Sardi, Dee Lestari, Veronika Krasnasari, serta Puteri Indonesia Lingkungan seperti Vania Herlambang, Putu Ayu, Reisa Broto Asmoro, Chintya Fabiola, Felicia Hwang, Kevin Liliana, Zukhriatul Hafizah, dan Elfin Pertiwi Rappa.

    Adapun paket bantuan yang disalurkan berupa Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan sarung tangan guna ulang, Hygiene Kit seperti sabun cuci tangan dan hand sanitizer, Paket Sembako seperti minyak, gula, susu, biskuit/ makanan ringan, serta paket makanan jadi siap konsumsi di beberapa wilayah.

    Tidak hanya petugas persampahan dan pemulung, donasi yang tersisa juga disalurkan kepada panitia kurban di beberapa wilayah dan anak-anak panti asuhan, hingga total penerima paket bantuan sebanyak 2.627 orang jika dirincikan terdiri dari:

  • 2.235 paket donasi untuk Petugas Persampahan dan Pemulung.
  • 220 paket donasi untuk Panitia Kurban.
  • 172 paket donasi untuk anak-anak yatim.
  • Adapun titik sebaran penyaluran donasi tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jambi, Lampung Utara, Serang, Bekasi, Ciamis, Padang, Medan, Bontang, Kapuas, Ambon, Bogor, Purwakarta, Kab. Bandung Barat, Tangerang, Sumedang, Depok, Jakarta, Cimahi, Kota Bandung, Palabuhanratu, Salatiga, Jombang, Kabupaten Bengkulu Selatan, Makassar, Kabupaten Gowa, Manado, Kota Minahasa, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara.

    “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para kolaborator dan donatur yang telah berkontribusi dalam penggalangan dana untuk para petugas persampahandan pemulung yang saat ini telah disalurkan dalam 2 tahap di 47 titik lokasi di seluruh Indonesia. Kami percaya bantuan dan kontribusi dari para donatur dan kolaborator akan memberikan manfaat yang begitu besar untuk para petugas persampahan dan pemulung yang selalu berkomitmen dalam pengelolaan sampah di Indonesia” ujar Vanessa Letizia selaku Direktur Eksekutif Greeneration Foundation.

  • Laporan Lengkap & Dokumentasi Penyaluran dapat diakses di sini:  https://greeneration.org/media/report/
  • Data Organisasi/ Komunitas Kolabolator Galang Dana :
  • Sustainable Indonesia
  • Youth for Climate Change (YFCC) Indonesia
  • Yayasan BIKAL KARYA LESTARI
  • World Cleanup Day Indonesia
  • Komunitas Saung Buku
  • TBM HAHALAEN
  • FLAC Indonesia
  • Sekitar Kita Indonesia
  • Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI)
  • Clean And Green UNISBA
  • BGBJ
  • Galeri Ijo Lumut Salatiga
  • Bring Your Tumbler
  • DKM Masjid Al Fairuz
  • Oceanara
  • Bangun Kota
  • Wise Waste
  • Komunitas Kotata’
  • Bogor Osoji Club
  • Bekasi Berkebun
  • Ciamis Cleanaction
  • Berbagi nasi ciamis
  • Greenmillennials.id
  •  Komunitas Peduli Ciliwung
  • Buangdisini.id
  • DLH Banda Lampung
  • Bank Daun Kapas
  • Repala Adinira
  • Yayasan Generasi Semangat Selalu Ikhlas (GSSI)
  • Most Valued Business Indonesia
  • Mareraean Bumi Lestari
  • Jambi Greeneration
  • Komunitas Masagi
  • Try to Zeo Waste Medan
  • Ikatan Pemuda Masjid Nurul Falaah
  • RAGAPALA LAMPUNG
  • Ijo Project
  • Inowastech
  • Explorekeun
  • Bank Sampah Desa Karyamekar
  • Energi Karya Indonesia
  • Sanggar Hijau Indonesia
  • Tampah Indonesia
  • Komunitas Sahabat Lingkungan
  • BACK-IND
  • Kresek Indonesia
  • Sobi Aceh
  • Kudus Mengajar
  • Perempuan Peduli Sanitasi
  • Indonesian Plastics Recyclers
  • Sustaination
  • Bekas Keren
  • GNFI
  • SINDO News
  • sayapilihbumi
  • cleanomic
  • lyfewithless
  • Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI)
  • Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia
  • Ecodeen
  • Zero Waste Indonesia
  • Belajar Zero Waste
  • Waste Solution Hub
  • kapasisbon
  • ADUPI
  • Sea Soldier Medan
  • Peduli Anak dan Lingkungan
  • Environmental Consulting Club
  • Karasa & Bantu1Ajak2.id
  • Bantu1Ajak2.id
  • Green Moluccas
  • Zona Bening
  • Bekasi Keren
  • EcoRanger
  • Komunitas Peduli Ciliwung
  • Buangdisini.id
  • Manna Mengabdi
  • Pemuda Al-Ikhlas
  • Kita Indonesia
  • Clean Up Indonesia
  • Bening Saguling
  • BeritaUtama.Net
  • Bandung Creative Media
  • Sumedang Progresif
  • MAPASAS Sumedang
  • Kec. Maleer
  • HMTL
  • Padang Sidampuan
  • Kec. Cibeunyi Kidul (Jl. Citamian)
  • Kec. Antapani
  • Kec. Coblong
  • Panti Asuhan – Sukabumi
  • Panti Asuhan – Kita Indonesia
  • GAMAIS – ITB
  • Pahlawan Bencana
  • Kec. Cidadap
  • Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Tips Tetap Cinta Lingkungan di Pertandingan Asian Games

    Tips Tetap Cinta Lingkungan di Pertandingan Asian Games

    Asian Games 2018 makin dekat. Yuk ikutin tips-tips ini biar Asian Games 2018 makin seru !

    ASIAN Games adalah pesta olahraga multi-event untuk regional Asia yang akan diadakan di Indonesia pada tanggal 18 Agustus – 2 September 2018, di dua kota yaitu Jakarta dan Palembang serta beberapa tempat sebagai pendukung yang tersebar di Jawa Barat dan Banten. Ini merupakan kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games setelah Asian Games IV tahun 1962.

    Nah, buat kamu yang pengen ikutan mendukung Asian Games kali ini kamu bisa dengan melakukan hal-hal kecil seperti menjaga lingkungan. Greeneration punya beberapa tips keren nih buat kamu yang akan ngeramein Asian Games kali ini. Simak yuk !

    Buang Sampah Pada Tempatnya dan Pilah Sesuai Jenisnya

    Tips yang pertama ini udah pasti harus kamu lakukan setiap hari dong. Bukan hanya sekedar buang sampah, tetapi kamu kamu harus memilah-milah sampah sesuai dengan jenisnya yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Agar mempermudah proses daur ulang sampah-sampah yang bersifat anorganik tersebut. Ayo pungut sampahmu!

    Gunakan Moda Transportasi Umum

    Buat kamu yang akan nonton Asian Games 2018 secara langsung, ada baiknya kamu gunakan transportasi umum seperti bus kota atau kereta api. Bukan hanya lebih hemat, kamu ga perlu khawatir dengan yang namanya parkir. Kamu juga berperan mengurangi kemacetan dan polusi udara yang semakin menigkat. Jadi, jangan malu naik transportasi umum ya.

    Hemat Listrik dan Penggunaan Alat Elektronik

    Penggunaan listrik dan alat elektronik juga ga kalah penting nih. Jangan lupa matikan lampu dan alat-alat elektronik sebelum kamu pergi nonton Asian Games. Buat kamu yang nonton di rumah baiknya juga menghemat penggunaan listrik dengan cara yang sama yaitu mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan terutama charger ponsel. Nah dengan begitu kamu bisa menonton pertandingan Asian Games 2018 tanpa khawatir biaya listrik kamu naik.

    Bawa Botol Minum dan Tempat Makan Sendiri

    Nonton Asian Games pastinya lebih asik sambil makan dan minum. Nah, ga ada salahnya kamu bawa botol minum dan tempat makan nantinya. Udah pasti lebih praktis dan kamu ga perlu nunggu makanan dan minuman kamu dibungkus.

    Kurangi Penggunaan Benda-Benda Plastik

    Kamu tahu gak kalo Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia ? Apalagi saat Asian Games berlangsung nanti. Penggunaan plastik tentunya akan bertambah banyak. Hal ini bisa kita atasi dengan cara membawa tote bag dan barang-barang reusable lainnya.



    Nah, itu dia beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk menyambut Asian Games 2018 mendatang. Buat kamu yang belum bisa nonton secara langusung, tips-tips diatas bisa kamu lakukan di kehidupan sehari-hari kok. Tetap jaga kebersihan dan lestarikan lingkungan sekitar kamu ya!

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Hari Ulang Tahun Asian

    Hari Ulang Tahun Asian

    ASEAN (Association of South East Asian Nations) sudah menginjaki usia yang ke-51 tahun. Organisasi ini dibentuk oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya di setiap negaranya. Tak hanya itu, ASEAN juga turut memperhatikan hubungan dan menjaga erat persatuan setiap negara anggota ASEAN.

    Seiring berjalannya waktu, ASEAN banyak memperhatikan masalah-masalah di era global. Seperti permasalahan lingkungan, HAM, HIV/AIDS, Human Trafficking dan lainnya. Pada 2007 saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 di Singapura, Menteri Lingkungan Hidup se ASEAN telah sepakat mempriotaskan pembahasan isu-isu lingkungan hidup. Hal ini menjadi perhatian karena meningkatnya perubahan iklim dan kritis sumber-sumber daya alam di negara-negara ASEAN. Tak hanya itu, ASEAN juga di negara masing-masing mempromosikan enegeri alternatif seperti solar, hidro, angin, bio energi, dan energi panas bumi. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi polusi transportasi dan polusi industri. Kemudian pada tahun 2013, Indonesia memimpin negara ASEAN dalam pertemuan IAMME (Meeting of the Informal Ministerial Meeting on Environment) yang membahas isu-isu lingkungan hidup. Tak hanya itu, Indonesia juga mendapat apresiasi atas konsep pembangunan lingkungan hidup. Konsep pembangunan tersebut juga akan dipakai oleh negara-negara ASEAN lainnya.

    Hingga saat ini ASEAN masih terus mengembangkan program-program dan kebijkan untuk mengatasi permasalahan limbah dan lingkungan hidup. Karena jika masalah lingkungan ini tidak ditangani dengan benar maka akan berdampak serius. Semoga negara-negara ASEAN tetap konsisten menangani permasalahan ini mengingat juga Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi 30% limbah dan 70% sampah laut pada tahun 2025. Selamat ulang tahun ASEAN yang ke-51. Ayo kita dukung terus program lingkungan hidup ASEAN.

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest

    Road to the 4th Indonesia Circular Economy Forum: Towards Smart & Sustainable Cities Through Circular Economy

    Road to the 4th Indonesia Circular Economy Forum: Towards Smart & Sustainable Cities Through Circular Economy

    The spirit of the circular economy in Indonesia has never been more apparent than now.  Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) has provided a high-level dialogue through the  webinar Road to the 4th Indonesia Circular Economy Forum on October 6th 2020 with the  theme “Towards Smart & Sustainable Cities Through Circular Economy” in commemoration  of World Cities Day that is held every October 31st. According to the UN, city population is  predicted to grow rapidly and two-thirds of the population will live in urban areas by 2050.  “In line with this growing population, the consumption and human’s basic needs will also be  increasing rapidly. Therefore, it is very important to design the right policies addressing the  issues of sustainable cities for a better life of our people”, stated Suharso Monoarfa, the  Minister for National Development Planning/Head of Bappenas of the Republic of Indonesia.  In which touched on the urgency of creating smart and sustainable cities. 

    The European Green Deal provides a roadmap with actions to boost the efficiency of  resources by moving to a clean, circular economy. Which aims to restore biodiversity and we  will cut pollution” stated H.E. Mr. Vincent Piket, European Union (EU) Ambassador to  Indonesia. Thus clarifying the need for circular economy in supporting green growth in  Indonesia. Furthermore, he added, we look forward to continue our cooperation on circular  economy that we stated during our Circular Economy Mission in October 2018 in Jakarta.” The  progress on the circular economy between EU-Indonesia since then includes; support of  RPJMN 2020-2024 National Development Plan, supporting Indonesia Circular Economy  Forum (ICEF) in November 2019, partnership with UNDP in developing a National Circular  Economy Strategy, and exchange visit on Extended Producer Responsibility in collaboration  with Denmark, Germany and Netherlands. 

    Deputy Minister for Maritime and Natural Resources Affairs of the Ministry of National  Development Planning, Arifin Rudiyanto stated that close partnership between the public and  private sector is essential in implementing a circular economy especially through the green  industry. The first session of the webinar “The Circular Economy Progress in Indonesia”  highlighted the progress since the formal launch of the national circular economy strategy on  February 24th 2020. Fraser Thompson, Co-Founder of AlphaBeta stated that the circular  economy roadmap for Indonesia is currently being developed with inputs from key stakeholders. Multi-stakeholder collaboration efforts are needed to advance the circular  economy movement further in Indonesia.

    “Indonesia as an archipelago is of course especially vulnerable to the cross-border trade, and  to the cross-border transition of waste. I think we also need to think about provincial and  global dimension in it, stated H.E. Lars Bo Larsen, Ambassador of Denmark to Indonesia. In  which circularity at the provincial level is needed especially in Indonesia as an archipelago  with 34 (thirty-four) provinces. 

    Dodi Reza Alex Noerdin, Chairman of Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) believed that  circular economy practices and regulations should be implemented up to the level that is  closest to the general public especially in regencies. Members of LTKL have already carried  out several practices that support the circular economy. The second session of the webinar  “The Circular Economy in Cities” discussed the importance of circular cities, whilst identifying  the challenges, opportunities and best practices. Since more than half of the world’s  population currently lives in cities and two-thirds of the world’s population will reside in cities  by 2050, circular cities have become a very important topic of conversation. 

    In the last session of the webinar “Strategic Focus Area for the Circular Economy”, efforts and  chances in 5 (five) core economic sectors for circular economy strategies were highlighted,  namely plastics conversion and waste management, food and beverages, electronic  manufacturing and e-waste, construction and built environment as well as, textile and the  fashion industry. This session’s speakers ranged from public-private, socio entrepreneur, and  international speakers which indicate all walks of live involvement in this circular movement. 

    Founder of Greeneration Foundation, M. Bijaksana Junerosano stated that the transition to  circular economy paves the way to smart and sustainable cities, where municipalities are the  hub of energy flow which are: people, information, currency, water, materials, energy, food  and waste. This webinar is a series with PT Napindo Media Ashatama, that will lead to the  Indowater Expo on July 21st-23rd 2021. This road to the 4th ICEF webinar was supported by the  EU-German co-financed project “Rethinking Plastics – Circular Economy Solutions to Marine  Litter”, Partnering for Green Growth and the Global Goals 2030 (P4G), Siklus Refill,  Waste4Change, Most Valued Business (MVB), and PT. Napindo.

    For further information, please contact: 

     

    Maria Stephanie 

     

    Greeneration Foundation 

     

    Email: maria@indonesiacef.id

    Artikel Terkait

    Spread the News

    Share to Social Media

    Share on twitter
    Share on facebook
    Share on linkedin
    Share on pinterest