Dampak Mikroplastik pada Manusia

Berdasarkan penelitian Frias & Nash (2018), mikroplastik didefinisikan sebagai “partikel padat sintetis atau matriks polimer, dengan bentuk beraturan atau tidak beraturan dan dengan ukuran mulai dari 1 m sampai 5 mm, baik primer maupun sekunder yang berasal manufaktur dan tidak larut dalam air.”

Mikroplastik sudah menyebar di tiap aspek kehidupan kita. (Sumber: Zatevahins/Shutterstock)

Jumlah mikroplastik sudah sangat banyak dan juga sudah tersebar di seluruh dunia terutama dalam 70 tahun terakhir. Distribusi dan jumlah mikroplastik sangat banyak dan bahakan membuat lapisan startifikasi sendiri di tanah atau batuan, sehingga banyak ilmuwan yang menjadikan mikroplastik sebagai periode zaman tersendiri: Plasticene (Campanale et al. 2020). Namun, dampak dari mikroplastik tidak sepenuhnya dimengerti, terutama dampaknya pada kesehatan manusia. Hal disebabkan karena sifat fisik dan kimia dari mikroplastik yang sangat kompleks. Mikroplastik terdiri dari dua tipe senyawa kimia, yaitu 1. Senyawa aditif dan material polimer mentah (termasuk material penguat, plasticizer, antioksidan, penstabil UV, pelumas, pewarna dan penghambat api) dan 2. Senyawa kimia yang diserap dari lingkungan.

Mikroplastik dikhawatirkan dapat masuk ke dalam rantai makanan, terakumulasi, dan dikonsumsi oleh manusia seperti biogmanifikasi dari zat xenobiotic. Ide tentang biomangifikasi berasal dari buku Rachel Carson yang berjudul “silent spring” tentang akumulasi senyawa DDT yang menyebabkan telur ayam dan elang bercangkang tipis dan menyebabkan kematian telur-telur tersebut.

Biomagnifikasi adalah “proses di mana zat xenobiotic (senyawa kimia yang secara alami tidak ada dalam organisme) dipindahkan dari organisme ke organisme lain dalam rantai makanan yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumbernya.” (Rand et al., 1995). Walaupun fenomena biomagnifikasi dipakai untuk menjelaskan akumulasi senyawa kimia pada jaring makanan, mikroplastik yang merupakan benda fisik juga diasumsikan punya pola yang sama. Mikroplastik merupakan salah satu xenobiotic yang mulai banyak diteliti oleh banyak peneliti sebagai akibat dari meningkatnya jumlah dan distribusi plastik di lingkungan selama beberapa tahun terakhir (Gray, 2002).

Dari penelitian Saley et al. (2019) di Jurnal marine Pollution Bulletin, akumulasi mikroplastik bahkan terjadi di rantai makanan di ekosistem pantai yang jauh dari manusia, mikroplastik ini ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi terutama di populasi herbivora air (terutama siput). Jika di ekosistem perairan yang ada di tempat terpencil saja mikroplastik dapat terakumulasi mencapai konsentrasi yang bisa terdeteksi, ekosistem yang dekat dengan populasi manusia diasumsikan mengandung lebih banyak lagi mikroplastik.

Berdasarkan penelitian Miller et al. (2020) di Jurnal Plos One, mikroplastik telah terakumulasi dan ada dalam semua tingkatan pada jaring-jaring makanan di ekosistem perairan, terutama di laut. Walaupun tidak ada indikasi di lapangan bahwa akumulasi mikroplastik yang terjadi dalam tubuh mahkluk hidup adalah biomagnifikasi. Tetap saja tidak dapat dipungkiri bahwa mikroplastik telah ada dalam hewan air tawar dan laut yang kita konsumsi, bahkan juga di hewan darat.

Penelitian tentang bahaya mikroplastik pada kesehatan manusia sudah mulai banyak dilakukan. Walaupun belum ada hasil yang konklusif dari banyak penelitian tersebut, terdapat indikasi bahwa mikroplastik membahayakan tubuh manusia karena bersifat toksik bagi sel-sel tubuh dan juga karena mikroplastik dapat menjadi pembawa mikrooganisme ataupun senyawa lain seperti logam berat yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pencernaan, pernafasan, dan kontak dengan kulit.

Mikroplastik dapat masuk ke sistem pencernaan lewat makanan dan dapat berdampak buruk sistem pencernaan dan sistem eskresi. Berdasakan hasil penelitian Barboza et al. (2018), mikroplastik dengan ukuran 10 µm dapat masuk ke membran sel, organ, dan plasenta. Selain itu, mikroplastik berukuran lebih kecil dari 2,5 µm dapat masuk ke saluran pencernaan melalui endositosis oleh sel. Masuknya mikroplastik ke saluran pencernaan dapat menyebabkan keracunan yang disebabkan oleh inflamasi. Tingkat keparahan inflamasi dipengaruhi oleh konsentrasi mikroplastik dalam saluran pencernaan. Sebenarnya sistem ekskresi manusia mampu untuk mengeluarkan mikro dan nanoplastik sampai sebanyak 90% (Campanale et al. 2020). Walaupun begitu, lebih dari 10% sisanya tetap dapat menyebakan inflamasi.

Mikroplastik juga ada di udara dapat berasal dari tempat pengolahan sampah, baju berbahan sintetik, emisi industri, debu, dan pertanian. Mikroplastik ini dapat masuk ke sistem pernafasan lewat udara dan dapat berdampak buruk sistem pernafasan. Dampak mikroplastik ini berbeda-beda tergantung kerentanan, dosis, dan metabolisme tubuh, namun beberapa orang dapat mengalami asma, pneumonia, inflamasi, radang bronchitis, dan bahkan kanker pulmonari (seperti yang ditemukan pada karyawan di industri tekstil) (Campanale et al. 2020). Selain itu, ada bahaya lain dari kemungkinan transmisi mikroorganisme ke saluran pernafasan dari mikroorganisme yang menempel di mikroplastik.

Mikroplastik juga dapat masuk ke kulit melalui kontak fisik dengan kulit saat membasuh kulit dengan air atau dari kosmetik. Walaupun begitu, hanya mikroplastik yang berukuran kurang dari 100 nm yang dapat masuk. Mikroplastik tersebut mengandung polutan organik, antibiotik, dan logam berat yang memiliki sifat sitotoksitas (tingkat merusaknya suatu zat pada sel) yang tinggi (Campanale et al. 2020). Salah satu contohnya adalah logam aluminium dan antimon yang dapat menyebabkan kanker payudara dan logam mangan yang dapat menyebabkan kelainan sistem syaraf.

Detail bahaya dari mikroplastik dan efeknya ke tubuh manusia belum banyak dipelajari. Bisa jadi mikroplastik lebih berbahaya bagi kesehatan daripada penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengurangi sampah plastik agar distribusi dan jumlah mikroplastik di sungai dan lautan dapat berkurang dan tidak membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Greeneration Foundation mendukung pencegahan mikroplastik di perairan melalui Citarum Repair untuk membantu mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum dan juga membantu melakukan edukasi ke warga di sekitar Sungai Citarum terkait sampah plastik di sungai dan laut.

 

Referensi

Barboza, L. G. A., Vethaak, A. D., Lavorante, B. R., Lundebye, A. K., & Guilhermino, L. (2018). Marine microplastic debris: An emerging issue for food security, food safety and human health. Marine pollution bulletin133, 336-348.

 

Campanale, C., Stock, F., Massarelli, C., Kochleus, C., Bagnuolo, G., Reifferscheid, G., & Uricchio, V. F. (2020). Microplastics and their possible sources: The example of Ofanto river in Southeast Italy. Environmental Pollution258, 113284.

 

Frias, J. P. G. L., & Nash, R. (2019). Microplastics: finding a consensus on the definition. Marine pollution bulletin138, 145-147.

 

Gray, J. S. (2002). Biomagnification in marine systems: the perspective of an ecologist. Marine Pollution Bulletin45(1-12), 46-52.

 

Miller, M. E., Hamann, M., & Kroon, F. J. (2020). Bioaccumulation and biomagnification of microplastics in marine organisms: A review and meta-analysis of current data. Plos one15(10), e0240792

 

Rand GM, Wells PG, McCarty LS. Introduction to aquatic toxicology. (1995). In: Rand GM, editor. Fundamentals of aquatic toxicology: Effects, environmental fate, and risk assessment. North Palm Beach: Taylor & Francis. pp. 3–67

 

Saley, A. M., Smart, A. C., Bezerra, M. F., Burnham, T. L. U., Capece, L. R., Lima, L. F. O., … & Morgan, S. G. (2019). Microplastic accumulation and biomagnification in a coastal marine reserve situated in a sparsely populated area. Marine pollution bulletin146, 54-59.

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan