Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut. (Sumber: nationalgeographic.grid.id)

Parasetamol terkenal di kalangan masyarakat sebagai obat pereda rasa nyeri dan dapat menurunkan panas. Jenis obat ini telah dikonsumsi oleh masyarakat sebanyak ribuan ton per tahunnya. Dikutip dari Kompas.com, pada awal Oktober 2021 lalu, ditemukan kandungan parasetamol berkonsentrasi tinggi yang tercemar di daerah Muara Angke dan Ancol, Jakarta Utara.

Akibat tercemarnya parasetamol tersebut menyebabkan kawasan Teluk Jakarta memiliki air laut yang berubah warna dari biru menjadi merah kecoklatan. Hal ini juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat sekitar seperti nelayan yang harus mencari ikan hingga ke tengah lautan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Brighton asal Inggris, mengungkapkan bahwa konsentrasi parasetamol tinggi yang tercemar di Teluk Jakarta mengandung 610 nanogram per liter pada Muara Sungai Angke dan sebanyak 420 nanogram per liter pada Muara Sungai Ciliwung Ancol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan ke publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak mengetahui adanya kadar parasetamol tinggi pada perairan Teluk Jakarta.

Namun, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusiono berdalih bahwa pihak pemerintah tidak pernah menganalisis adanya kadar parasetamol pada perairan Jakarta dikarenakan menurutnya zat tersebut tidak termasuk dalam daftar indikator pencemaran lingkungan.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Peraturan Pemerintah itu menyebutkan bahwa ada 38 parameter yang merupakan indikator dari pencemaran lingkungan dan parasetamol tidak termasuk di dalamnya. Meskipun demikian, pihak Pemprov DKI Jakarta rutin meneliti kualitas air laut Ibukota setiap enam bulan sekali sesuai perintah perundangan.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI DKI Jakarta) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi mengungkap pendapatnya bahwa obat parasetamol tidak termasuk dalam parameter pencemaran lingkungan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rehabilitasi Teluk Jakarta termasuk dalam daftar kegiatan strategis. Oleh karena itu, sudah seharusnya upaya pencegahan pencemaran lingkungan dilakukan oleh pemerintah.

Tubagus juga mengungkapkan penelitian yang telah dilakukan oleh BRIN dan Universitas Brighton pada tahun 2018-2019 lalu memiliki proses penelitian yang panjang sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi bersama LIPI serta ahli dari berbagai bidang terkait dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini, karena setiap terjadi pencemaran lingkungan dipastikan akan mempengaruhi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Terkait sumber limbah tersebut, Tubagus mengatakan banyak dugaan yang bisa menjadi penyebab tercemarnya Teluk Jakarta. Untuk dapat memastikan hal tersebut, sudah diungkapkan melalui peneliti yang sempat terlibat dalam studi yang terbit di jurnal Science Direct pada Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 hingga 70 persen pencemaran di laut yang sumbernya datang dari daratan atau antropogenik (dilakukan manusia).

Dalam kasus pencemaran air di daerah Muara Angke dan Ancol oleh parasetamol konsentrasi tinggi, kemungkinan besar menurut peneliti sumbernya berasal dari daerah Jabodetabek. Dugaan pertama yaitu bisa karena gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, obat-obatan kadaluarsa atau rusak kemudian dibuang sembarangan. Dugaan kedua yaitu instalasi pembuangan air limbah yang tidak optimal.

Peneliti menjelaskan, parasetamol tidak bisa terendapkan oleh jaring limbah yang saat ini digunakan. Ini artinya, kita memerlukan inovasi teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Sementara itu, Dr. Wulan Koaguow yang juga Peneliti Oseanografi BRIN dan terlibat dalam penelitian menambahkan bahwa sebenarnya semua obat-obatan bisa menjadi kontaminan lingkungan.

Langkah Mengolah Sampah Obat yang Tepat

Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat
Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat. (Sumber: Wikihow)

Generasi Hijau, berikut beberapa langkah tepat yang dapat kita lakukan dalam mengelola sampah obat-obatan yang sudah kadaluarsa ataupun rusak sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah hingga terjadinya pencemaran lingkungan seperti peristiwa pada perairan di Teluk Jakarta yang disebabkan oleh parasetamol berkonsentrasi tinggi. Di antaranya adalah:

Obat yang belum lewat dari tanggal kadaluarsa bisa kita donasikan ke klinik amal untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini hanya berlaku untuk kondisi obat yang masih bagus. Artinya, obat masih berada dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol yang belum dibuka atau masih tersegel rapi.

Sementara untuk obat yang sudah kadaluarsa, bisa kita titipkan ke apotik, rumah sakit, ataupun pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa. Namun, sebelum kita titipkan jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Seperti misalnya, stiker pada botol yang disobek, kotak kemasan yang digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa ada pihak yang bisa menyalahgunakan obat kadaluarsa ini.

Apabila jumlah obat yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, kita dapat juga dititipkan seperti di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen. Vitamin dan mineral cair bisa dipakai sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman. Jika obat berbentuk kapsul, isinya bisa dikeluarkan, sedangkan obat yang berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti obat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak ataupun hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut. Untuk obat-obatan ini direkomendasikan untuk dibuang dengan cara diguyur ke dalam toilet segera setelah tidak lagi digunakan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://propertyobserver.id/cara-mengelola-sampah-obat-kita/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.liputan6.com/news/read/

4676263/headline-perairan-teluk-jakarta-tercemar-parasetamol-seberapa-bahaya diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2021/

10/04/130100923/teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-peneliti-duga-sumbernya-dari-sini?page=all diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.alinea.id/nasional/seberapa-bahaya-parasetamol-yang-mencemari-teluk-jakarta-b2cCa97m8 diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial‚Äč

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan