Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Ilustrasi Coral Bleaching
Ilustrasi Coral Bleaching. (Sumber: theguardian.com)

Sekitar 18% terumbu karang dunia tumbuh di Indonesia, dengan luas mencapai 50.785 kilometer persegi. Terumbu karang memberikan tempat bernaung bagi ikan hias dan ikan santap, melindungi daerah pesisir dari erosi dan badai, serta memberikan penghidupan bagi nelayan serta pekerja industri wisata. Begitu banyak manfaat dari terumbu karang di laut kita. Sayangnya, ada satu ancaman terhadap eksistensi terumbu karang, yakni coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Mengenal Coral Bleaching

Terumbu karang terdiri dari banyak polyps yaitu binatang kecil yang berbentuk kantung dan memiliki ujung yang mekar dengan tentakel-tentakel kecil. Di dalam polyps, terdapat ganggang hidup yang ukurannya sangat kecil dan disebut zooxanthellae. Ganggang kecil ini yang memberikan warna pada terumbu karang.

Hubungan antara terumbu karang dengan zooxanthellae termasuk ke dalam hubungan simbiosis mutualisme di mana terumbu karang menyediakan tempat tinggal untuk ganggang kemudian tumbuhan laut tersebut memberikan gizi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Namun, ketika terjadi perubahan suhu pada air laut, ganggang tersebut akan meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. Salah satu dampak yang akan terjadi ketika ganggang kecil tersebut pergi adalah bagian luar dari terumbu karang yang berwarna putih akan terlihat karena polyps tidak memiliki warna (transparan). Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Dilansir dari National Geographic, hingga saat ini pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sudah terjadi di wilayah Australia hingga Madagaskar. Selama tahun 2014 sampai tahun 2017, terjadi peristiwa coral bleaching terbesar di dunia dan telah mencapai angka 70%. Meski masih mampu bertahan hidup tanpa adanya ganggang, akan tetapi terumbu karang akan menjadi rentan terserang penyakit. Terlebih jika suhu air laut yang mengalami kenaikkan suhu, maka kemungkinan besar terumbu karang akan mati. Sekalipun suhu air laut kembali normal dan ganggang kembali ke dalam terumbu karang, maka memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun kemudian agar terumbu karang dapat pulih secara sempurna.

Penyebab Utama Terjadinya Coral Bleaching

Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati
Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati. (Sumber: marineconservation.org.au)

Penyebab utama terjadinya coral bleaching adalah karena perubahan suhu, polusi, dan penangkapan makhluk laut yang berlebihan. Kenaikkan suhu air laut baik di atas ataupun di bawah dari suhu normal dapat memicu terjadinya peristiwa coral bleaching. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik atau secara optimal di laut tropis pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius.

Ketika terjadi perbedaan suhu 2 hingga 3 derajat celsius di atas ataupun di bawah dari suhu normal dalam kurun waktu antara satu sampai dua minggu, terumbu karang akan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya coral bleaching. Ketika perubahan suhu terjadi hingga satu bulan, maka seluruh koloni karang, karang lunak, anemon dan zoanthid akan memutih bahkan akan mengalami kematian pada minggu keenam.

Massa air hangat di laut juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sementara penurunan suhu laut juga dipengaruhi Indian Ocean Dipolemode, terutama pada coral bleaching di bagian barat Sumatera, kadang-kadang disebabkan oleh turunnya suhu di bawah normal yaitu kurang dari 26 derajat celsius.

Dapatkah Terumbu Karang yang Mengalami Coral Bleaching Kembali Pulih?

Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat
Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat. (Sumber: gilisharkconservation.com)

Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul di benak kita setelah membaca uraian mengenai coral bleaching. Pemulihan terumbu karang akan tergantung pada jenis terumbu karang serta tingkat stress yang dialami oleh terumbu karang akibat perubahan suhu air laut di sekelilingnya.

Beberapa terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, seperti terumbu karang dari kelompok Pociliporoid dan Acroporoid. Sementara, ada juga jenis terumbu karang yang cukup kuat untuk tetap bertahan dalam mengalami perubahan suhu air laut, seperti terumbu karang jenis Porites dan polyp besar. Terumbu karang jenis ini akan kembali normal apabila kenaikkan suhu tidak lebih dari enam minggu hingga satu bulan. Namun, apabila kenaikkan suhu air laut hanya terjadi selama dua hingga tiga minggu, biasanya terumbu karang dapat bertahan dan akan segera pulih kembali warnanya seperti semula.

Pada prinsipnya, sebenarnya terumbu karang hanya mengalami stress dan jika faktor penyebab stress tersebut hilang seperti suhu yang kembali normal maka karang akan segera pulih kembali. Kondisi sebaliknya bisa terjadi yaitu coral bleaching yang sangat parah diikuti oleh faktor lain yang memperparah kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contohnya yaitu ketika terjadi coral bleaching secara bersamaan dengan waktu transisi pada musim peralihan. Pada kondisi ini, air laut sangat tenang ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini biasanya akan muncul berbagai pertumbuhan filamentus, turf alage, cyanobacteria dan penyakit karang. Jika hal ini terjadi maka akan sangat berakibat fatal.

Intervensi Manusia pada Pemulihan Terumbu Karang

Pada dasarnya, terumbu karang bisa memulihkan diri sendiri. Akan tetapi, Generasi Hijau pun juga dapat mengambil berbagai langkah untuk memulihkan terumbu karang yang memutih, serta mencegah pemutihan pada terumbu karang yang sehat.

Menjalankan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dalam kehidupan sehari-hari ataupun saat berwisata, dapat menjadi solusi. Walau hidup jauh dari laut, Generasi Hijau yang bercocok tanam dapat menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida agar senyawa kimia tidak masuk dalam saluran air yang akan berakhir di laut. Generasi Hijau juga bisa memilah sampah agar tidak ada sampah yang tercecer dan berakhir di laut. Di rumah, hematlah air, agar mengurangi air sisa yang kotor dan dapat mencemari laut.

Saat berwisata di pantai, Generasi Hijau dapat menggunakan tabir surya ramah lingkungan, agar senyawa kimia berbahaya tidak larut dalam air laut ketika berenang. Dalam aktivitas diving atau snorkeling, pastikan jangkar kapal tidak menyentuh terumbu karang. Pastikan juga Generasi Hijau tidak menyentuh terumbu karang, dan tidak ada limbah yang dibuang dari kapal ke laut. Terakhir, tentu saja, jangan buang sampah di pantai atau laut, dan ikuti kegiatan volunteer membersihkan pantai, seperti yang dilakukan kawan-kawan EcoRanger di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.

Dalam jangka yang lebih panjang, menghambat pemanasan global adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan coral bleaching. Jadi, pastikan juga Generasi Hijau sudah memulai langkah menghambat pemanasan global, seperti beralih ke energi terbarukan, menggunakan transportasi umum atau transportasi tanpa bahan bakar fosil, serta membaca label karbon pada produk yang Generasi Hijau konsumsi.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

http://coremap.or.id/berita/1172 diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131623449/coral-bleaching-fenomena-hilangnya-warna-indah-terumbu-karang diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://reefresilience.org/id/stressors/bleaching/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/18/173000923/cegah-pemutihan-terumbu-karang-diberi-makan-bakteri-probiotik?page=all diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.instagram.com/p/CUWZcP_h7Nz/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial‚Äč

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan