Dari Mana Sampah Lautan Berasal?

Jika Generasi Hijau berlibur ke pantai dan melihat sampah di tepinya, kemungkinan besar sampah itu bukan berasal dari daerah pesisir pantai. Bisa jadi sampah tersebut berasal dari negara di seberang lautan, sudah terombang-ambing di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya terbawa ombak dan terdampar di pantai.

Laut kita penuh sampah. Bukan hanya plastik kemasan, termasuk juga jala ikan, besi berkarat, atau sampah sisa peradaban manusia lainnya. Sebenarnya dari mana sampah ini berasal?

We often see marine debris washed ashore at the coast. (Source: dokumen Tim EcoRanger)

Sampah laut berasal dari beragam sumber. Pembuangan sampah dari seluruh dunia menjadi sebab utamanya. Dalam kasus tertentu, seperti ketika pengunjung pantai tidak mengambil sampah mereka dan mengelolanya dengan baik, sampah tersebut langsung masuk ke lautan. Seringnya, sampah tersebut datang dari seberang laut. Ketika ada yang buang sampah di jalan, kadangkala sampahnya tidak menyumbat saluran air dan terbawa arus hingga ke muara dan berakhir di laut.

Penyebab besar lainnya ialah sistem pembuangan sampah yang serampangan. TPA di Indonesia yang hampir penuh memang bukan solusi praktis. Sampah hanya dibuang hingga menggunung, tanpa ada pengolahan, dan terus menerus ditumpuk. Lama kelamaan, gunungan sampah tersebut tidak akan bisa menopang lagi. Kalau sudah begitu, mungkin akan jatuh, tertiup angin, terbawa saluran air, dan sampai ke laut.

Di seluruh dunia, banyak orang yang tidak punya akses ke pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Namun ketika sampahnya tetap menumpuk, mereka tidak hilang begitu saja. Sampah itu akan pindah tempat. Jika tidak di darat, kemungkinan besar akan menuju laut; tempat yang jauh dari penglihatan dan jangkauan mata manusia.

Bukan hanya di darat, sampah laut bisa bersumber dari aktivitas manusia di lautan juga. Tak jarang penumpang kapal secara sadar membuang sampahnya ke lautan. Atau barang yang sedang dipakai, tanpa sengaja jatuh dari kapal, tertiup angin, atau terseret arus. Contohnya saja, kamu sedang bermain di pantai yang ombaknya besar. Tanpa sadar, kamu keluar dari air tanpa memakai sandal. Ternyata sandalmu tahu-tahu sudah ada di tengah air yang cukup dalam. Sandalmu akan tetap ada di laut hingga bertahun-tahun selanjutnya, terbawa arus hingga hanyut di tepi pantai, atau berakhir di perut hewan laut. Selain itu, nelayan seringkali kehilangan perlengkapan pancing ketika mendapati badai di laut.

Sampah plastik di laut akan mencemari air dan biotanya. (Sumber: Naja Bertold Jensen/Unsplash)

Ketika sudah ada di laut lepas, sulit sekali melacak kedatangan sampah laut tersebut. Untuk sampah plastik sachet atau kemasan, kita masih dapat memastikan sampah ini datang dari negara mana melalui keterangan di kemasannya. Namun tentu saja sulit untuk menentukan, apakah kemasan ini datang dari sampah rumah tangga di darat, dari TPA, pantai, atau terbuang langsung dari lautan.

Intinya, semua sampah laut berasal dari aktivitas manusia. Manusia menjadi biangnya, dan tiap manusia punya tanggung jawab yang sama pula untuk menghentikan dan mencegahnya.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita mengurangi sampah plastik dari sumbernya. Dapat dikatakan, kita menutup keran terbentuknya sampah laut sejak awal. Hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti menggunakan tas kain, belanja di bulk store, mengompos, atau menggunakan menstrual pad, tentu akan berdampak besar jika dilakukan banyak orang. Kamu telah menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan tanpa kamu sadari. Jadi, jangan berkecil hati dengan usahamu ya.

Greeneration Foundation turut mendukung pencegahan sampah plastik di perairan melalui program Citarum Repair untuk mengatasi masalah sampah di Sungai Citarum, sehingga mencegahnya bermuara ke lautan.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Ocean Today. (n.d.). Where Does Marine Debris Come From? Retrieved from National Oceanic and Atmospheric Administration: https://oceantoday.noaa.gov/trashtalk_wheredoesmarinedebriscomefrom/

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial‚Äč

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan