Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua. (Sumber: Shutterstock)

Perubahan iklim telah memberi dampak besar bagi dunia, tak terkecuali juga Indonesia. Gletser kebangaan Indonesia yang berada di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, atau sering disebut juga sebagai Puncak Carstensz ini ternyata ikut terkena dampak dari memanasnya suhu bumi. Gletser yang terletak di Taman Nasional Lorentz di Provinsi Papua merupakan gletser tropis terakhir yang ada di Asia. Beberapa orang menyebut gletser ini dengan sebutan “Gletser Keabadian” yang meski pada kenyataannya, gletser ini tentu tidak akan bisa bertahan lama. Gletser yang berada di atas puncak Pegunungan Jayawijaya ini merupakan sisa dari daratan es yang terbentuk sekitar 5.000 tahun lalu.

Gletser tropis merupakan salah satu indikator perubahan iklim yang paling sensitif. Kini jumlahnya semakin sedikit yang tersisa di dunia. Selain di Papua, gletser tropis juga terdapat di Amerika Selatan dan Afrika. Sedangkan, Pegunungan Jayawijaya merupakan pegunungan tertinggi di Indonesia, puncak tertinggi antara pegunungan Himalaya dan Andes. Pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, penurunan suhu dan hujan berubah menjadi salju, selanjutnya akan membentuk es dan akan memadat menjadi gletser. Indonesia adalah salah satu wilayah terbasah di bumi, dan hujan turun di kawasan Papua hampir 300 hari dalam setahun. Akan tetapi, suhu yang memanas membuat hujan tidak lagi berubah menjadi salju. Akibatnya, gletser mencair dari atas dan bawah.

Peneliti senior BMKG, Donaldi Permana, mengatakan bahwa sebagian orang Indonesia masih kurang mengetahui keberadaan gletser ini. Meskipun puncak Pegunungan Jayawijaya tidak memiliki es pada daerah puncaknya namun terdapat beberapa lapisan es di sekitarnya. Ia juga menjelaskan bahwa proses mencairnya es pada gletser yang tergolong cepat tersebut dapat dilihat berdasarkan data mengenai penyusutan luasan wilayah gletser dari tahun 1850 hingga 2018.

Pada tahun 1850, gletser memiliki luas 19,3 km2. Kemudian pada tahun 1972, luas gletser menyusut menjadi 7,3 km2. Data pada tahun 2018 menunjukkan kondisi luas gletser yang mencapai 0,5 km2. Melihat hal ini, para ilmuwan memperkirakan bahwa gletser puncak Pegunungan Jayawijaya akan benar-benar menghilang pada tahun 2026 nanti, akan tetapi gletser diprediksi kemungkinan terburuknya bisa punah atau menghilang pada tahun 2021 ini. Tentunya hal Ini menjadi petunjuk penting bagaimana perubahan iklim bumi yang semakin dekat.

Penyebab Penyusutan Gletser

Ilustrasi Glester yang Meleleh
Ilustrasi Gletser yang Meleleh. (Sumber: Christopher Michel/Flickr)

Penyebab dari penyusutan gletser ini adalah perubahan iklim yang ekstrim yang ditandai dengan pemanasan global. Mengutip laporan Indonesian Third National Communication, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celcius dan suhu permukaan naik sebanyak 0,25 derajat celcius per dekade.

Di Indonesia khususnya, fenomena El Nino memperparah penyusutan gletser di Papua yang terjadi semakin cepat dari tahun ke tahun. Fenomena El Nino merupakan peristiwa iklim di mana suhu permukaan air laut dan suhu atmosfer meningkat. Fenomena ini terjadi ketika udara hangat memangkas curah hujan sehingga akan menyebabkan daerah sekitarnya menjadi mengering.

Sebagai dampaknya, penyusutan gletser ini akan berdampak pada daerah-daerah di sekelilingnya. Dampak lainnya juga dirasakan oleh masyarakat suku asli Papua yang menganggap gletser ini adalah dewa sehingga menyusutnya gletser ini dianggap akan kehilangan sosok pemimpin dalam budaya dan adat di suku Papua tersebut.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya
Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya. (Sumber: Shutterstock)

Fenomena El Nino merupakan faktor pendorong terbesar penyusutan gletser ini. Namun, tidak hanya penyusutan gletser saja yang terdampak oleh fenomena tersebut, melainkan kebakaran hutan yang juga menarik perhatian pemerintah dalam memperhatikan dampak yang disebabkan oleh fenomena El Nino.

Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan 16 provinsi berisiko mengalami kebakaran hutan menjelang fenomena El Nino yang ditentukan oleh pola iklim. Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino dapat diantisipasi oleh pemerintah. Apabila fenomena El Nino dapat dikendalikan, maka harapannya akan tersisa untuk gletser terakhir di Indonesia.

Diskusi mengenai El Nino lebih banyak berputar soal isu mitigasi ketimbang pencegahan. Dalam isu gletser Jayawijaya, mitigasi akan membantu penduduk Papua merespons akibat dari penyusutan gletser dan tentunya perubahan iklim, namun tidak membantu pencegahan penyusutan gletser itu sendiri.

Konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menjadi kunci pencegahan penyusutan gletser. Semakin banyak orang memilih barang dan jasa yang terbukti lebih ramah lingkungan dan menghasilkan lebih sedikit karbon, produsen akan terdorong untuk menyesuaikan permintaan pasar dengan memproduksi barang dan jasa yang lebih ramah lingkungan pula. Mengurangi konsumsi energi fosil dengan cara menghemat listrik, transisi ke energi terbarukan, serta menggunakan transportasi umum menjadi beberapa cara sederhana untuk memulai langkah tersebut.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/05/183300823/puncak-jaya-papua-gletser-terakhir-di-asia-yang-diprediksi-punah-tahun?page=all diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.suara.com/news/2020/12/04/165957/puncak-jaya-di-papua-jadi-gletser-tropis-terakhir-di-dunia-terancam-punah diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.dw.com/id/gletser-di-papua-akan-punah-dalam-satu-dekade/a-51653411 diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/13/ragam-upaya-mencegah-hilangnya-salju-papua diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2020/06/17/the-last-glacier-runtuhnya-salju-abadi-papua/ diakses pada tanggal 30 September 2021.

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan