Laut, Penopang Kehidupan Bumi

Kehidupan pertama di bumi dimulai dari laut. Makhluk darat pertama berasal dari laut. Hingga kini, laut menjadi tonggak penting kehidupan makhluk hidup bumi.

 

Tiap hari Jumat di minggu ketiga Mei diperingati sebagai Hari Spesies Flora dan Fauna Langka. Untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga dan merestorasi alam liar untuk keberlangsungan hidup satwa, Hari Spesies Flora dan Fauna Langka di tahun ini jatuh tanggal 21 Mei.

Sustainable consumption and production contributes to healthy ocean life. (Source: Miles Prolevic/Unsplash)

Sejak revolusi industri yang pertama, planet bumi telah menyaksikan kehilangan banyaknya spesies hewan dan tumbuhan akibat aktivitas manufaktur dan perkembangan teknologi manusia. Sayangnya, perkembangan industri tersebut tidak dibarengi dengan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Ekosistem laut modern kini menanggung akibatnya.

Bukan hanya tempat produksi ikan

Lebih dari sekadar hamparan air asin yang luas, laut berperan penting dalam keberlangsungan hidup di bumi; baik di laut itu sendiri maupun di darat. Berikut beberapa alasannya.

Produsen oksigen

80% oksigen dunia diproduksi fitoplankton di lautan. Betul, kamu tidak salah baca! Hutan hujan tropis dan tumbuhan memang turut menyumbang kadar oksigen di atmosfer bumi, namun sebenarnya laut memproduksi sebagian besar oksigen yang kita hirup sekarang. Fitoplankton ialah tumbuhan laut mikroskopik, jumlahnya masif di lautan. Merekalah yang berperan menghasilkan oksigen bagi makhluk darat.

 

 

Evaporasi air hujan

Laut berperan sebagai panel surya raksasa, dan mendistribusikan panasnya ke seluruh dunia. Ketika sinar matahari menghangatkan laut, terjadi pertukaran antara molekul air dan udara. Proses ini disebut evaporasi. Air laut berevaporasi secara konstan, meningkatkan suhu dan kelembaban udara di sekitarnya untuk membentuk awan hujan. Awan hujan tersebut lalu terbawa angin ke darat. Daerah tropis lebih sering hujan, karena matahari bersinar sepanjang tahun, sehingga proses evaporasi frekuensinya lebih tinggi di area ekuator.

 

Mengapa air hujan rasanya tawar, meski airnya menguap dari laut? Proses evaporasi murni hanya membawa molekul air, tanpa ada substansi lainnya. Jadi, kandungan garam dan partikel lainnya tetap ada di laut. Ketika cuaca di laut sedang berangin, kadang percikan airnya terbawa hingga tepi pantai. Percikan air tersebut memuat partikel garam yang tertinggal saat proses evaporasi. Proses inilah yang menyebabkan angin laut terasa asin dan berbau logam.

Pengatur iklim daratan

Laut mempengaruhi cuaca dan iklim darat dengan menjaga temperatur bumi. Sebagian besar radiasi matahari diserap air laut dan samudra di perairan tropis dekat ekuator. Sementara untuk daerah bumi di luar ekuator, laut mempengaruhi pola cuaca darat dengan arusnya. Arus laut mengalir terus menerus, dibentuk dari angin di permukaan laut, suhu dan kadar garam, rotasi bumi, serta pasang-surut lautan. Arus laut bergerak searah jarum jam dari belahan bumi utara, dan berlawanan jarum jam di belahan bumi selatan. Polanya melingkar dan melewati garis pantai.

 

Arus laut bergerak seperti conveyor belt, mengangkut air hangat dan presipitasi dari ekuator ke kutub, dan air dingin dari kutub kembali ke daerah tropis. Siklus ini menjaga iklim global dan menetralkan distribusi panas matahari di permukaan bumi. Tanpa arus ini, temperatur regional akan jadi sangat ekstrem; panas luar biasa di ekuator dan dingin membeku di dekat kutub. Selain itu, daratan di bumi mungkin tidak akan layak ditempati.

Laut dan ancaman yang menyertainya

Pada praktiknya, bumi memang mengalami kenaikan suhu secara natural. Namun sejak adanya aktivitas industri manusia, bumi mengalami kenaikan temperatur global dalam kecepatan tinggi. Dilansir dari jurnal Advances in Atmospheric Science, temperatur air laut disinyalir paling tinggi di tahun 2019, sejak 60 tahun lalu pencatatan suhu bumi dimulai.

 

Laut sangat sensitif dengan suhu. Adanya kenaikan temperatur global mempengaruhi seluruh elemen laut. Jika tidak beradaptasi, biota laut akan mati. 

Healthy coral reefs have bright vibrant colors. (Source: QUI/Unsplash)

Salah satu dampak kenaikan temperatur ialah terjadinya coral bleaching. Terumbu karang yang sehat aslinya berwarna terang dan ditinggali hewan laut lainnya. Warna terang ini dikeluarkan oleh alga berukuran mikroskopik bernama zooxanthellae. Terumbu karang dan alga ini menjalin simbiosis mutualisme; zooxanthellae yang hidup di terumbu karang melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk mereka.

Ketika suhu air naik, terumbu karang di dasar laut bisa stres dan melepas alga dari tubuhnya. Karena hilangnya alga ini, warna terumbu karang dapat berubah menjadi putih seperti terkena bleaching. Tanpa zooxanthellae, terumbu karang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Jika suhu air tetap tinggi, terumbu karang tersebut akan mati.

 

Selain coral bleaching, ancaman lain yang dihadapi makhluk laut berhubungan erat dengan aktivitas manusia. Belum lagi jika kita membicarakan soal sampah lautan, overfishing, dan tumpahan minyak di lepas pantai. Dengan memahami masalahnya, Generasi Hijau dapat mengambil peran untuk mengatasi salah satu dari faktor yang disebutkan tadi. Tetap ingat bahwa tiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif. Jadi, jangan berhenti mengompos, membawa tas pakai ulang, belanja tanpa kemasan, gunakan transportasi umum, dan tetap jalankan konsumsi dan produksi berkelanjutan, ya.

Ditulis oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Referensi

Berwyn, B. (2020, January 14). Ocean Warming Is Speeding Up, with Devastating Consequences, Study Shows. Retrieved from Inside Climate News: https://insideclimatenews.org/news/14012020/ocean-heat-2019-warmest-year-argo-hurricanes-corals-marine-animals-heatwaves/

 

DNA Web Team. (2020, May 15). National Endangered Species Day 2020: History, significance & more. Retrieved from DNA India: https://www.dnaindia.com/lifestyle/report-national-endangered-species-day-2020-history-significance-more-2824843

 

Earth Science Communication Team. (n.d.). What is happening in the ocean? Retrieved from NASA Climate Kids: https://climatekids.nasa.gov/ocean/

 

Fallahnda, B. (2021, March 19). Apa Penyebab Pencemaran dan Dampak Konservasi Laut? Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/apa-penyebab-pencemaran-dan-dampak-konservasi-laut-gbhK

 

Hancock, L. (n.d.). Everything You Need to Know about Coral Bleaching—And How We Can Stop It. Retrieved from WWF Page: https://www.worldwildlife.org/pages/everything-you-need-to-know-about-coral-bleaching-and-how-we-can-stop-it

 

National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). What is coral bleaching? Retrieved from National Ocean Service: https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_bleach.html

Ocean Exploration. (n.d.). How does the ocean affect climate and weather on land? Retrieved from Ocean Exploration Facts: https://oceanexplorer.noaa.gov/facts/climate.html

 

Skilling, T. (2017, September 1). Ask Tom: Why is rain that comes from evaporated ocean water not salty? Retrieved from Chicago Tribune: https://www.chicagotribune.com/weather/ct-wea-asktom-0903-20170901-column.html

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan