Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan
Ilustrasi Seseorang yang Membawa Barang Belanjaan. (Sumber: Freestocks/Unsplash)

Dalam industri fashion, kita mungkin mengenal dua istilah yang saling bertolak belakang, yaitu fast fashion dan sustainability fashion. Fast fashion merupakan industri fashion yang bergerak sangat cepat, dengan koleksi baru yang siap untuk diluncurkan setiap minggu dan dijual dengan harga yang relatif murah. Sebaliknya, sustainable fashion sering dikaitkan dengan produk fashion yang menggunakan bahan-bahan lebih ramah lingkungan, seperti memanfaatkan daur ulang maupun bahan alami.

Sebagian besar orang menyadari bahwa ketika mereka membeli produk fast fashion yang harganya murah, sebenarnya mereka sama saja ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan manusia. Pakaian dengan bahan yang tidak ramah lingkungan akan berpotensi merusak bumi kita ketika pakaian tersebut sudah tidak lagi bisa dipakai dan berujung hanya akan menjadi sampah.

Fast fashion sangat erat kaitannya dengan “limbah fashion”. Fast fashion menjadi salah satu penyebab terbesar polusi limbah fashion yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, maupun penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat menyebabkan climate change (perubahan iklim).

Industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya, sehingga kerap kali disebut tidak etis (unethical). Kebanyakan industri fast fashion terletak di Asia dan beberapa negara berkembang, seperti Bangladesh, India, bahkan Indonesia. Biasanya mereka akan mempekerjakan wanita yang berpendidikan rendah, wanita muda, dan imigran (bukan penduduk asli negara tersebut). Kemudian para pekerja harus bekerja selama 14 jam/hari, diberikan upah yang rendah, tidak ada jaminan asuransi jiwa ataupun jaminan keselamatan kerja, serta harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya untuk memproduksi produk fast fashion.

Produksi dan konsumsi yang berlebihan

Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian
Ilustrasi Seseorang Memilah Pakaian. (Sumber: Sarah Brown/Unsplash)

Kita mungkin lebih merelakan t-shirt atau celana panjang murah untuk disumbangkan daripada tas dari merek ternama. Akan tetapi kita perlu ingat bahwa barang-barang yang diproduksi oleh merek mewah juga sebagian besar tidak ramah lingkungan.

Sebagai contoh, sebuah fashion brand ternama asal London mendapat kecaman pada tahun 2018 karena membakar stok yang tidak terjual senilai hampir 40 juta dollar AS. Hal itu dilakukan untuk mencegah barang-barang tersebut dijual dengan harga lebih rendah atau diskon, sekaligus meningkatkan daya tarik merek di mata publik.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa setiap detiknya sampah tekstil dalam satu truk sampah dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selain itu, industri fast fashion juga dinilai menyumbang limbah sebanyak 20 persen dan emisi karbon 10 persen.

Dampak yang Ditimbulkan dari Industri Fast Fashion

Ilustrasi Industri Fast Fashion
Ilustrasi Industri Fast Fashion. (Sumber: John Cameron/Unsplash)

Industri fast fashion tentunya memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan, bahkan terhadap manusia sendiri. Di antaranya adalah:

Meminimalisasi Dampak Fast Fashion dengan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Konsumsi dan produksi berkelanjutan merupakan salah satu kunci mengurangi dampak fast fashion. Secara praktis, berikut merupakan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari dampak dari industri fast fashion:

Dilansir dari laporan Fixing Fashion, memperpanjang masa aktif 50% pakaian hingga sembilan bulan akan menghemat: 8% karbon, 10% air, 4% limbah per metrik ton pakaian.

Serat sintetis berbasis minyak bumi seperti poliester membutuhkan lebih sedikit air dan tanah dibandingkan kapas, tetapi serat ini memancarkan lebih banyak gas rumah kaca per kilogram. Polimer sintetis berbasis bio yang dibuat dari tanaman yang dapat diperbarui seperti jagung dan tebu melepaskan emisi karbon hingga 60% lebih sedikit. Label harus menunjukkan apakah pakaian dibuat menggunakan polyester daur ulang (rPET).

Di Inggris, beberapa merek yang berkelanjutan dan vintage menawarkan layanan perbaikan seumur hidup. Sebanyak 59% pengecer besar termasuk IKEA dan GAP berjanji meningkatkan penggunaan poliester daur ulang dengan minimum 25% pada tahun 2020. Belanja dan beramal Pada 2017, sebelas ribu toko amal Inggris menyelamatkan 330 ribu metrik ton tekstil dari TPA, dan membantu mengurangi emisi karbon hingga jutaan ton per tahun melalui penggunaan kembali dan daur ulang pakaian bekas.

Asosiasi Tanah mengatakan kepada Komite Audit Lingkungan, peningkatan produksi kapas organik dapat meminimalkan dampak lingkungan dari industri fast fashion, karena akan mengurangi penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan air.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://lifestyle.kompas.com/read/

2021/05/07/155527320/jangan-cuma-belanja-pakaian-ketahui-juga-dampak-fast-fashion-pada?page=all diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/ diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://www.fimela.com/fashion/read/

4465856/kenali-istilah-fast-fashion-dan-dampaknya-bagi-kehidupan diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

https://mediaindonesia.com/weekend/

238334/ini-7-cara-menghentikan-fast-fashion diakses pada tanggal 20 Oktober 2021.

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Berlangganan

* Diperlukan