Tag Archives: climate change

Krisis Air = Krisis Iklim?

Krisis Air = Krisis Iklim?

Warga mencuci pakaian di Telaga Digal, Wonogiri, Jawa Tengah. Warga terpaksa memanfaatkan air telaga yang kotor dan berwarna itu untuk mencuci dan memandikan ternak akibat saluran pipa air bantuan pemerintah setempat rusak. (Sumber: ANTARA FOTO/Maulana Surya)
 

22 Maret lalu, Generasi Hijau beserta seluruh masyarakat dunia rayakan sebagai Hari Air Sedunia. Hari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa masih ada 2,2 miliar orang di bumi yang hidup tanpa akses ke air bersih. Tiap tahunnya berfokus pada topik berbeda namun tetap terpusat di air bersih – clean water, sanitasi – sanitation, dan higienitas – hygiene (WASH). Hari Air Sedunia ditujukan untuk mengadvokasikan sumber air bersih dan manajemen air berkelanjutan, yang berkelindan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6: air bersih dan sanitasi.

SDGs 6 dan 13 tentang mengatasi krisis iklim sangat berkaitan erat. Topik seputar krisis iklim kebanyakan berputar di dampak emisi karbon terhadap kondisi udara, namun yang sesungguhnya sangat dirasakan justru ialah akses ke air bersih. Dilansir dari WaterAid, krisis iklim yang menyebabkan naiknya suhu bumi berarti meningkatnya kemungkinan banjir besar, kekeringan dan pola cuaca yang tidak dapat diperkirakan di seluruh dunia. Hal ini mengacaukan ketersediaan air dan layanan sanitasi.

Bagaimana keterkaitan perubahan iklim dan krisis air?

Krisis iklim mengacaukan susunan gas di lapisan atmosfer bumi, akibatnya pola cuaca yang sudah terbentuk sekian ribu tahun berubah menjadi lebih ekstrem dan tidak dapat diperkirakan. Dampaknya, pasokan air berlebih di satu tempat namun kekurangan di tempat lainnya.

Air memang adalah sumber energi terbarukan dan akan selalu ada di bumi melalui terbentuknya siklus air. Siklus hidrologi yang terdiri dari evaporasi, kondensasi, presipitasi, run off dan kembali lagi ke evaporasi menghasilkan hujan di lingkungan kita dan memberi akses kehidupan di bumi. Namun seiring dengan makin parahnya krisis iklim, siklus hidrologi pun berubah.

Suhu bumi yang naik menyebabkan menguapnya air lebih banyak dan meningkatnya permintaan air untuk kebutuhan agrikultur dan ekosistem natural. Banjir dan badai juga disebabkan karena tingginya panas dan kelembaban atmosfer. Atmosfer yang lebih hangat terindikasi menahan lebih banyak air. Udara yang membawa titik air berarti meningkatkan curah hujan yang dapat berpotensi banjir.

Danau dan aliran sungai yang menghangat mulai merusak kualitas air, sehingga kualitas ikan air tawar yang diternakkan mulai menurun, bahkan banyak yang mati. Meningkatnya permukaan laut selain berpotensi banjir rob, suatu saat akan menyebabkan tenggelamnya kota di pesisir pantai.

Warga Manggarai, Nusa Tenggara TImur mandi dan mengambil air di sungai yang debitnya mulai mengering. (Sumber: Media Indonesia/Gilbert Lewar)

 

Selain itu, musim hujan akan lebih pendek, membuat hari-hari sisanya justru kekurangan air dan kebutuhan air meningkat. Dampak kumulatif bagi sumber daya air ini membuat ketersediaan air menurun dan sulit diprediksi serta sulit dikelola. Masalah ini menjadi lebih parah bagi wilayah yang telah merasakan dampaknya dan meningkatkan krisis air ke wilayah yang belum terdampak, sehingga mereka harus terus beradaptasi.

 

Di Indonesia, krisis air juga merupakan isu darurat. Menurut Eva Wishanti dari risetnya di The Conversation, banyak penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur harus menempuh jarak sepanjang enam sampai 10 kilometer untuk membeli air bersih seharga Rp 2000 per jerigen berisi 20 liter. Kini, pada 2021, harganya Rp 2500 per 20 liter.

 

Di Kupang, Ibu Kota NTT, harga air bersih satu tangki dapat mencapai Rp 200.000. Pada 2017, dari 51 kelurahan di Kupang, 48 di antaranya menderita krisis air sehingga pemerintah harus memasok 100 tangki air. Saat musim kemarau, air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) berkurang debitnya dan layanan air yang mengalir ke rumah tangga dapat menurun drastis hingga sekali seminggu. Hal ini menimbulkan masalah sistemik yang menghambat kampanye Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Dilihat dari perbedaan krisis air di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, krisis air berkaitan erat dengan ketimpangan ekonomi. Eva juga menyatakan, fenomena krisis air nasional ini bukan hanya merupakan turunan dari krisis iklim, melainkan juga masalah struktural dan krisis tata kelola. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa negara berkurang perannya untuk menyediakan air, dan mestinya bukan hanya sebagai pengelola air.

Apa yang bisa dilakukan?

Walaupun tidak semua krisis air disebabkan oleh perubahan iklim, namun sebagian besar dipengaruhi olehnya. Maka itu, satu cara untuk mengurangi dampak buruknya di kemudian hari ialah dengan mengurangi dampak krisis iklim.

 

Alasan utama dari krisis iklim yaitu gas yang memerangkap panas bumi di atmosfer, yang umumnya disebabkan oleh emisi karbon dari kendaraan, sektor energi, pertanian, peternakan, pasca-produksi dan bahkan manajemen sampah. Dengan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, kita dapat menerapkan aksi sistemik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini juga dapat mengurangi dampak buruk krisis iklim dan krisis air.

Ilustrasi mencuci tangan dengan kran mati ketika menyabun tangan. (Sumber; Pixabay)

 

Pasokan energi dan sistem transportasi harus datang dari sumber daya energi terbarukan; kita perlu mengurangi limbah makanan, beralih ke transportasi publik dibanding kendaraan pribadi dan mendukung konservasi hutan kita. Selain itu, kita juga perlu meningkatkan kesadaran lingkungan secara kolektif agar usaha yang kita lakukan menyebar makin luas dan lebih terasa dampaknya. Namun begitu, semua aksi ini harus mempertimbangkan kebutuhan bagi komunitas rentan, karena krisis iklim berdampak paling besar bagi mereka.

 

Generasi Hijau yang tidak memiliki akses untuk membantu teman-teman di Nusa Tenggara tetap dapat turut membantu menghemat air di rumah dengan berbagai cara. Contohnya adalah tidak berlama-lama di kamar mandi, dengan mematikan kran air selagi mencuci tangan dengan sabun atau ketika menyikat gigi. Jangan lupa cek juga kran air, selang, atau pipa di rumahmu jika ada kebocoran, ya! Makin cepat diperbaiki, Generasi Hijau akan menghemat air lebih banyak.

Referensi

Gleick, P. (2019). Water Scarcity and Climate Change. Retrieved from Before the Flood: https://www.beforetheflood.com/explore/the-crisis/water-scarcity-and-climate-change/

 

Partisa, J. P. (2019, September 9). The World Is in a Water Crisis and Climate Change Is Making it Worse. Retrieved from Union of Concerned Scientists: https://blog.ucsusa.org/pablo-ortiz/the-world-is-in-a-water-crisis-and-climate-change-is-making-it-worse

 

UNICEF. (2021, March 18). Water and the global climate crisis: 10 things you should know . Retrieved from UNICEF: https://www.unicef.org/stories/water-and-climate-change-10-things-you-should-know

 

Water Aid. (2019, July). Climate change adaptation and resilience and water, sanitation and hygiene: links between SDG 13 and SDG 6 . Retrieved from Wash Matters: Water Aid: washmatters.wateraid.org/sustainable-development-goals

 

Wishanti, D. A. (2021, March 23). Mengapa krisis air selalu terjadi di Nusa Tenggara Timur, juga di Pulau Jawa. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/mengapa-krisis-air-dan-sanitasi-selalu-terjadi-di-nusa-tenggara-timur-juga-di-pulau-jawa-155152

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan