Tag Archives: #covid-19

Ilustrasi Karantina Mandiri

Penerapan PPKM Mempengaruhi Kualitas Udara di Indonesia

Penerapan PPKM Mempengaruhi Kualitas Udara di Indonesia

Ilustrasi Karantina Mandiri
Ilustrasi Karantina Mandiri. (Sumber: Sarah Kilian/Unsplash)

Angka infeksi Covid-19 yang sempat melonjak naik sejak pertengahan bulan Juni 2021 lalu, membuat pemerintah akhirnya mengambil tindakan tegas dengan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) yang telah diberlakukan untuk daerah Jawa dan Bali yang dimulai sejak 3 Juli 2021 dan aturan ini masih berlaku hingga sekarang.

Dengan diberlakukannya PPKM selama masa pandemi pada sejumlah wilayah, hal ini memiliki pengaruh terhadap kualitas lingkungan di Indonesia karena terbatasnya aktivitas yang dilakukan masyarakat di luar rumah. Penerapan PPKM saat ini memberikan kesempatan bagi lingkungan dalam pemulihan udara di Indonesia. Sebagai indikator untuk melihat bagaimana kualitas lingkungan di Indonesia adalah melalui kualitas udara pada wilayah tersebut.

Umumnya, dalam mengukur kualitas udara pada suatu wilayah memerlukan satuan polusi per meter kubik udara. Baik atau buruknya kualitas udara, dapat diketahui dari banyaknya polutan yang terdapat di udara dan salah satunya adalah particulate matter (PM). PM merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna. PM juga cukup berbahaya jika ukurannya yang semakin kecil maka akan semakin berbahaya bagi tubuh kita, karena dari ukurannya yang kecil berarti akan semakin mudah masuk ke dalam tubuh tanpa bisa tersaring oleh filter tubuh kita. Partikel kecil tersebut bahkan bisa masuk ke dalam bagian terkecil dari sistem pernapasan kita.

PM terdiri dari 3 bagian, yaitu condensed organic material, soot particle, dan fly ash (inorganic). Bagian terbesarnya adalah soot atau unburnt carbon. Sementara, berdasarkan ukurannya, PM terbagi menjadi 2 jenis, yaitu PM2.5 atau polutan yang lebih kecil dari 2,5 mikrogram per meter kubik (μg/m3) dan PM10. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara yang sehat jika berada dalam PM2,5 masih di bawah 60 μg/m3 dan PM10 di bawah 150 μg/m3.

Di berbagai kota di Indonesia, pengurangan mobilitas penduduk terbukti meningkatkan kualitas udara. Di Pekanbaru, Rosita Rakhim dan Wendel Jan Pattipeiloh melakukan penelitian dengan menganalisis kualitas udara di kota Pekanbaru pada saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum PSBB, angka PM10 sebesar 5-10 μg/m3. Kemudian setelah PSBB, kualitas udara Pekanbaru beranjak naik menjadi 5-10 μg/m3.

Di Jakarta, BMKG melaporkan perbandingan kualitas udara Jakarta pada Maret 2019 dan Maret 2020, angka PM10 yang cenderung turun. Selama Maret 2019 angka PM10 di Jakarta sebesar 65 di awal bulan dan mencapai puncak 85 μg/m3 di akhir bulan. Apabila dibandingkan dengan masa awal pandemi di Indonesia pada awal Maret 2020, angka PM10 Jakarta langsung turun. Angkanya hanya 30-70 μg/m3.

PM10 dan Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

PM10 berasal dari pembakaran batu bara atau asap knalpot kendaraan bermotor. Meski sejumlah pembangkit listrik atau pabrik berada di lingkar luar Jakarta, asapnya mengotori langit Jakarta sehingga menurut riset Jaringan Kerja Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, tak ada waktu berolahraga yang bagus buat warga Jakarta sebelum pandemi Covid-19.

Polusi merupakan salah satu hal yang paling mengancam dan dapat membahayakan kesehatan manusia secara perlahan. Menurut WHO, 9 dari 10 orang penduduk di dunia menghirup udara yang mengandung polusi. Sebanyak 7 juta orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan gangguan kardiovaskular.

Kualitas udara Jakarta semakin menurun akibat emisi dan polusi tak memiliki penyerap, yakni pohon dan taman kota. Menurut UU Ruang Terbuka Hijau, emisi akan terserap jika sebuah kota memiliki areal ruang terbuka hijau sebanyak 30% dari luas wilayahnya. Kota Jakarta dengan luas wilayah 66.000 hektare, hanya memiliki 14,9% ruang hijau.

Akibatnya polusi membumbung ke udara lalu kembali turun bersama oksigen yang terhirup oleh manusia. Saat padat polusi, polutan membumbung setinggi 2-3 kilometer, kemudian kembali turun ketika kepadatan polusi berkurang karena turunnya lalu lintas kendaraan bermotor. Biasanya hal ini terjadi pada pagi dan malam hari. Maka dampak PPKM terhadap kualitas udara cukup signifikan karena menghentikan sumber polusi di banyak kota.

Kesempatan untuk Membangun Kembali

Inovasi kesehatan dan pengguliran vaksin akan membawa dampak positif terhadap kepulihan masyarakat dunia dari Covid-19. Akan tetapi, dengan kembalinya mobilitas masyarakat dan industri, ada kekhawatiran kualitas udara di berbagai tempat di dunia akan menurun kembali.

Jeda yang diberikan pandemi dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk membangun kota yang lebih berkelanjutan pasca pandemi. Kesempatan ini sudah dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kota-kota di belahan wilayah dunia. Paris, Milan, Brussels, dan London berkomitmen untuk memperluas jalur sepeda mereka untuk mengakomodasi transportasi berkelanjutan. Bahkan, Prancis menargetkan akan menjadi negara dengan karbon netral pada 2050, dan Inggris menargetkan 80% pengurangan emisi pada 2050.

Kesempatan ini pun juga milik Indonesia. Selagi pemerintah berbenah menyiapkan kota yang berkelanjutan, kita pun bisa menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan untuk menyongsong kehidupan pasca pandemi yang lebih sehat dan lebih hijau.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. https://www.gjesm.net/article_40288_

  2. dcaaec135c595ceb30158e25f364155e.pdf diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  3. https://nasional.kompas.com/read/2021/06/30/

  4. 20101901/rencana-ppkm-darurat-jawa-bali-mulai-3-juli-2021-ini-gambaran-aturannya?page=all diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  5. https://www.forestdigest.com/detail/1214/dampak-ppkm-kualitas-udara diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  6. https://covid19.go.id/p/berita/tingkat-kepatuhan-membaik-dampak-dari-ppkm-dan-ppkm-mikro diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  7. https://www.idntimes.com/science/discovery/anisa-anggi-dinda/mengenal-particulate-matter-polutan-berbahaya-bagi-pernafasan-c1c2/3 diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  8. https://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JKLH/article/download/6172/5356 diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

  9. https://jurnal.stmkg.ac.id/index.php/jmkg/article/

  10. download/141/115/ diperoleh pada tanggal 22 Agustus 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Masker Bekas Pakai

Cara Mengelola Sampah Masker Bekas Pakai

Cara Mengelola Sampah Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Masker Bekas Pakai. (Sumber: Limpido/iStockPhoto)

Di masa pandemi, masker merupakan salah satu barang penting dan tentunya digunakan bagi setiap orang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Penggunaan masker ini juga menjadi salah satu bagian dari protokol kesehatan yang wajib dipatuhi karena memakai masker dapat melindungi seseorang dari infeksi Covid-19.

Dilansir dari covid19.go.id, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 (Satgas Covid-19) menjelaskan bahwa penggunaan masker medis ini akan memberikan perlindungan hingga 30% sampai 95% dari infeksi virus Covid-19 dengan bergantung pada jenis masker yang digunakan. Namun Satgas Covid-19 juga memastikan bahwa masker medis lebih efektif melindungi dari virus Covid-19 dibandingkan dengan penggunaan masker kain yang efektivitasnya hanya mencapai 10 persen.

Beragamnya jenis masker yang digunakan tentu akan menyebabkan kenaikan volume timbunan sampah masker. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah mengumpulkan sebanyak 1,5 ton limbah masker medis atau masker sekali pakai selama pandemi Covid-19 di Jakarta. Data limbah masker tersebut terhitung sejak April hingga akhir Desember 2020 lalu. Salah satunya adalah masker medis atau masker yang hanya diperbolehkan dalam sekali pemakaian dengan jangka waktu maksimal hanya 6 jam saja dan setelahnya masker tersebut harus dibuang. Masker medis sendiri akan menghasilkan limbah medis yang tidak bisa dibuang secara sembarangan. Apabila salah langkah ketika membuang masker medis bisa berujung pada penularan Covid-19.

Generasi Hijau, kita mungkin sudah banyak mendengar dan mengetahui kabar mengenai kasus daur ulang dan penjualan ulang masker bekas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab ketika kelangkaan masker terjadi pada masa awal pandemi. Untuk mencegah hal tersebut terulang kembali, kita perlu membuang masker bekas pakai dengan cara yang tepat karena selain untuk mempermudah pengelolaan limbah masker, kita juga bisa membantu mencegah hal tersebut terulang.

Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Limbah Masker dari Masyarakat yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan pada bulan Maret 2020 lalu, kita bisa menerapkan beberapa langkah berikut untuk membuang masker bekas pakai:

1. Kumpulkan Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Limbah Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Limbah Masker Bekas Pakai. (Sumber: Kaldera News)

Masker medis idealnya tidak digunakan lebih dari 6 jam karena akan dapat mengurangi efektivitas masker. Namun, jika kita dalam kondisi melakukan aktivitas di luar rumah, kita perlu mengganti masker medis hingga 3-4 kali yang harus dibuang. Kita bisa mengganti masker yang sedang kita gunakan apabila masker tersebut dalam kondisi yang basah, robek, ataupun terlalu lembab.

Setelah mengganti masker, kita perlu mengumpulkan masker bekas yang sudah kita pakai seharian sebelum dibuang ke tempat sampah, terlebih jika kita tidak sempat membuang masker bekas pakai tersebut dengan benar.

2. Desinfeksi Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Desinfektan
Ilustrasi Desinfektan. (Sumber: Anshu A/Unsplash)

Langkah selanjutnya setelah mengumpulkan masker bekas pakai adalah kita bisa melakukan desinfeksi pada masker-masker tersebut dengan cara merendam masker yang sudah selesai digunakan pada larutan desinfektan atau klorin.

3. Ubah Bentuk Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Menggunting Masker Bekas Pakai. (Sumber: Antara News)

Setelah masker bekas pakai direndam menggunakan larutan desinfektan, lakukan langkah penting namun terkadang suka dilupakan bagi sebagian orang, yaitu menyobek atau memotong bagian masker bekas pakai.

Kita bisa mengubah bentuk masker bekas pakai dengan cara memotong masker hingga menjadi dua bagian, merusak tali masker dengan cara memutuskan kedua tali tersebut agar masker tidak digunakan kembali maupun tersangkut pada benda atau makhluk hidup lain. Mengubah bentuk masker bekas pakai tentunya dapat membantu mencegah masker tersebut digunakan kembali oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

4. Ubah Bentuk Masker Bekas Pakai

Ilustrasi Membuang Masker Bekas Pakai
Ilustrasi Membuang Masker Bekas Pakai. (Sumber: Beauty Journal)

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kita bisa membuang masker bekas pakai pada tempat sampah khusus masker yang tersedia di ruang publik atau dapat dibuang melalui tempat sampah berwarna kuning khusus untuk menampung limbah infeksius.

Namun, jika tidak menemukan tempat sampah khusus masker, kita bisa membungkus rapat masker bekas yang sudah kita gunakan dengan plastik transparan agar memudahkan petugas medis dalam mengolah limbahnya dan membuang sampah masker tersebut ke tempat sampah domestik.

5. Cuci Tangan

Ilustrasi Mencuci Tangan Dengan Sabun
Ilustrasi Mencuci Tangan Dengan Sabun. (Sumber: Melissa Jeanty/Unsplash)

Langkah terakhir setelah membuang sampah masker bekas pakai adalah jangan lupa untuk mencuci tangan kita menggunakan sabun dan dengan kondisi air mengalir. Apabila kita sedang berada dalam kondisi sulit menemukan tempat cuci tangan yang memadai, kita bisa menggunakan hand sanitizer dengan kadar alkohol minimum 70%.

Saat ini, banyak institusi di Indonesia yang tengah mencoba mendaur ulang sampah medis. Salah satunya adalah Parongpong Raw Lab yang melakukan inovasi dengan mengumpulkan sampah masker bekas pakai kemudian memanfaatkan tali dan polimer yang ada pada masker tersebut sebagai pengganti pasir karena pasir termasuk dalam kategori sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.

Parongpong Raw Lab merupakan perusahaan pengelolaan/pengolahan sampah yang memberikan pelatihan untuk memisahkan sampah, mendaur ulang, dan mencegah sampah residu agar tidak mencapai tempat pembuangan sampah (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA) dengan dikelola secara mandiri oleh penghasil sampah.

Kesehatan kita menjadi prioritas di masa pandemi ini. Tapi, alangkah baiknya jika kita bisa menjaga kesehatan dan lingkungan sama baiknya. Mengelola sampah masker dapat menjadi implementasi sederhana prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan, yang menjaga kita, para petugas persampahan yang rentan terkena COVID-19, serta orang lain dari pandemi ini.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. https://covid19.go.id/p/berita/
  2. menggunakan-masker-yang-benar-cara-ampuh-menangkal-virus diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  3. https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-kelola-limbah-masker-masyarakat diperoleh pada 20 Agustus 2021.
  4. https://indonesiabaik.id/infografis/
  5. pakai-lepas-dan-buang-masker-dengan-benar diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  6. https://health.kompas.com/read/
  7. 2020/03/21/180100768/cara-menggunakan-melepas-dan-membuang-masker-yang-benar diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  8. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5396523/penting-ini-cara-buang-limbah-masker-agar-tak-tularkan-virus-corona diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  9. https://www.dlhk.jogjaprov.go.id/
  10. pengelolaan-sampah-masker-sekali-pakai diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  11. https://news.detik.com/berita/d-5350288/15-ton-sampah-masker-bekas-dari-rumah-tangga-terkumpul-selama-pandemi diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.
  12. https://www.liputan6.com/lifestyle/
  13. read/4596631/inovasi-limbah-masker-jadi-bahan-tembok-dari-parongpong diperoleh pada tanggal 20 Agustus 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

MENJALANI MASA KARANTINA DI RUMAH SECARA RAMAH LINGKUNGAN

MENJALANI MASA KARANTINA DI RUMAH SECARA RAMAH LINGKUNGAN

Jumlah kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia hingga tanggal 30 Maret 2020 pukul 08.30 WIB tercatat 1.285 kasus dengan rincian 1.107 orang dalam perawatan, 64 sembuh, dan 114 orang meninggal. Untuk mengurangi penyebaran virus tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak sosial atau melakukan social distancing dengan tetap beraktivitas di rumah hingga pandemi ini mereda. Meskipun berada di dalam rumah, generasi hijau harus tetap berperilaku ramah lingkungan. Oleh karena itu, pada tulisan ini, kami akan membagikan tips mengenai cara mengisi waktu karantina di rumah secara ramah lingkungan:

 

1. Kurangi Produksi Sampah

Meskipun tinggal di rumah, kita harus tetap memperhatikan timbulan sampah yang kita produksi selama masa karantina. Mengurangi produksi sampah di rumah sangat penting karena sampah rumah tangga masih termasuk sampah yang paling banyak diproduksi di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak baik bagi lingkungan seperti sampah plastik. Selain itu, untuk mengurangi sampah organik, generasi hijau juga dapat mengkompos sampah organik tersebut sehingga tidak mencemari lingkungan.

 

2. Membuat Prakarya Daur Ulang

Tetap berada di dalam rumah dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kebosanan bagi beberapa orang. Rasa bosan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan membuat prakarya dari bahan-bahan bekas. Selain menyenangkan, kegiatan ini tentunya dapat bermanfaat bagi lingkungan. Jika bingung, yuk cek di sini untuk melihat tutorial membuat prakarya dari bahan bekas.

 

3. Menonton Film Lingkungan

Selain membuat prakarya, generasi hijau juga dapat mengisi waktu luang di rumah dengan cara menonton film edukatif yang memiliki pesan untuk lebih menjaga lingkungan. Dengan menonton film tersebut, kita dapat terhibur sekaligus terdorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Penasaran film apa saja yang memiliki tema tentang lingkungan? Yuk cek di sini.

 

Itu dia hal-hal yang bisa generasi hijau lakukan di rumah untuk bisa menjadi lebih ramah lingkungan. Untuk terhindar dari covid-19, kita juga harus tetap menjaga daya tahan tubuh dengan cara makan makanan yang bergizi, olahraga yang cukup, dan rajin menjaga kebersihan seperti cuci tangan secara rutin.

 

Selain itu, jangan lupakan juga pahlawan yang berada di garda paling belakang seperti pemulung dan petugas persampahan. Dengan munculnya pandemi COVID-19 ini, sampah seperti masker bekas pakai sudah mulai menumpuk di tempat penampungan sampah seperti di TPST Bantar Gerbang. Tanpa adanya alat pelindung diri, pemulung dan petugas persampahan beserta keluarganya terancam untuk tertular virus serta penyakit lainnya yang disebabkan oleh jenis sampah lain. Oleh karena itu, mari kita bantu mereka dengan berdonasi agar mereka mendapat alat kebersihan yang layak dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Donasi ini diinisiasi oleh Greeneration Foundation, Waste4Change, serta komunitas lainnya dan dapat dilakukan melalui tautan berikut.

 

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

 

Sumber: https://tirto.id/update-corona-30-maret-di-indonesia-kasus-covid-19-di-30-provinsi-eJFs

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest