Tag Archives: environmental issues

Krisis Air = Krisis Iklim?

Krisis Air = Krisis Iklim?

Warga mencuci pakaian di Telaga Digal, Wonogiri, Jawa Tengah. Warga terpaksa memanfaatkan air telaga yang kotor dan berwarna itu untuk mencuci dan memandikan ternak akibat saluran pipa air bantuan pemerintah setempat rusak. (Sumber: ANTARA FOTO/Maulana Surya)
 

22 Maret lalu, Generasi Hijau beserta seluruh masyarakat dunia rayakan sebagai Hari Air Sedunia. Hari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa masih ada 2,2 miliar orang di bumi yang hidup tanpa akses ke air bersih. Tiap tahunnya berfokus pada topik berbeda namun tetap terpusat di air bersih – clean water, sanitasi – sanitation, dan higienitas – hygiene (WASH). Hari Air Sedunia ditujukan untuk mengadvokasikan sumber air bersih dan manajemen air berkelanjutan, yang berkelindan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6: air bersih dan sanitasi.

SDGs 6 dan 13 tentang mengatasi krisis iklim sangat berkaitan erat. Topik seputar krisis iklim kebanyakan berputar di dampak emisi karbon terhadap kondisi udara, namun yang sesungguhnya sangat dirasakan justru ialah akses ke air bersih. Dilansir dari WaterAid, krisis iklim yang menyebabkan naiknya suhu bumi berarti meningkatnya kemungkinan banjir besar, kekeringan dan pola cuaca yang tidak dapat diperkirakan di seluruh dunia. Hal ini mengacaukan ketersediaan air dan layanan sanitasi.

Bagaimana keterkaitan perubahan iklim dan krisis air?

Krisis iklim mengacaukan susunan gas di lapisan atmosfer bumi, akibatnya pola cuaca yang sudah terbentuk sekian ribu tahun berubah menjadi lebih ekstrem dan tidak dapat diperkirakan. Dampaknya, pasokan air berlebih di satu tempat namun kekurangan di tempat lainnya.

Air memang adalah sumber energi terbarukan dan akan selalu ada di bumi melalui terbentuknya siklus air. Siklus hidrologi yang terdiri dari evaporasi, kondensasi, presipitasi, run off dan kembali lagi ke evaporasi menghasilkan hujan di lingkungan kita dan memberi akses kehidupan di bumi. Namun seiring dengan makin parahnya krisis iklim, siklus hidrologi pun berubah.

Suhu bumi yang naik menyebabkan menguapnya air lebih banyak dan meningkatnya permintaan air untuk kebutuhan agrikultur dan ekosistem natural. Banjir dan badai juga disebabkan karena tingginya panas dan kelembaban atmosfer. Atmosfer yang lebih hangat terindikasi menahan lebih banyak air. Udara yang membawa titik air berarti meningkatkan curah hujan yang dapat berpotensi banjir.

Danau dan aliran sungai yang menghangat mulai merusak kualitas air, sehingga kualitas ikan air tawar yang diternakkan mulai menurun, bahkan banyak yang mati. Meningkatnya permukaan laut selain berpotensi banjir rob, suatu saat akan menyebabkan tenggelamnya kota di pesisir pantai.

Warga Manggarai, Nusa Tenggara TImur mandi dan mengambil air di sungai yang debitnya mulai mengering. (Sumber: Media Indonesia/Gilbert Lewar)

 

Selain itu, musim hujan akan lebih pendek, membuat hari-hari sisanya justru kekurangan air dan kebutuhan air meningkat. Dampak kumulatif bagi sumber daya air ini membuat ketersediaan air menurun dan sulit diprediksi serta sulit dikelola. Masalah ini menjadi lebih parah bagi wilayah yang telah merasakan dampaknya dan meningkatkan krisis air ke wilayah yang belum terdampak, sehingga mereka harus terus beradaptasi.

 

Di Indonesia, krisis air juga merupakan isu darurat. Menurut Eva Wishanti dari risetnya di The Conversation, banyak penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur harus menempuh jarak sepanjang enam sampai 10 kilometer untuk membeli air bersih seharga Rp 2000 per jerigen berisi 20 liter. Kini, pada 2021, harganya Rp 2500 per 20 liter.

 

Di Kupang, Ibu Kota NTT, harga air bersih satu tangki dapat mencapai Rp 200.000. Pada 2017, dari 51 kelurahan di Kupang, 48 di antaranya menderita krisis air sehingga pemerintah harus memasok 100 tangki air. Saat musim kemarau, air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) berkurang debitnya dan layanan air yang mengalir ke rumah tangga dapat menurun drastis hingga sekali seminggu. Hal ini menimbulkan masalah sistemik yang menghambat kampanye Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Dilihat dari perbedaan krisis air di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, krisis air berkaitan erat dengan ketimpangan ekonomi. Eva juga menyatakan, fenomena krisis air nasional ini bukan hanya merupakan turunan dari krisis iklim, melainkan juga masalah struktural dan krisis tata kelola. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa negara berkurang perannya untuk menyediakan air, dan mestinya bukan hanya sebagai pengelola air.

Apa yang bisa dilakukan?

Walaupun tidak semua krisis air disebabkan oleh perubahan iklim, namun sebagian besar dipengaruhi olehnya. Maka itu, satu cara untuk mengurangi dampak buruknya di kemudian hari ialah dengan mengurangi dampak krisis iklim.

 

Alasan utama dari krisis iklim yaitu gas yang memerangkap panas bumi di atmosfer, yang umumnya disebabkan oleh emisi karbon dari kendaraan, sektor energi, pertanian, peternakan, pasca-produksi dan bahkan manajemen sampah. Dengan menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, kita dapat menerapkan aksi sistemik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini juga dapat mengurangi dampak buruk krisis iklim dan krisis air.

Ilustrasi mencuci tangan dengan kran mati ketika menyabun tangan. (Sumber; Pixabay)

 

Pasokan energi dan sistem transportasi harus datang dari sumber daya energi terbarukan; kita perlu mengurangi limbah makanan, beralih ke transportasi publik dibanding kendaraan pribadi dan mendukung konservasi hutan kita. Selain itu, kita juga perlu meningkatkan kesadaran lingkungan secara kolektif agar usaha yang kita lakukan menyebar makin luas dan lebih terasa dampaknya. Namun begitu, semua aksi ini harus mempertimbangkan kebutuhan bagi komunitas rentan, karena krisis iklim berdampak paling besar bagi mereka.

 

Generasi Hijau yang tidak memiliki akses untuk membantu teman-teman di Nusa Tenggara tetap dapat turut membantu menghemat air di rumah dengan berbagai cara. Contohnya adalah tidak berlama-lama di kamar mandi, dengan mematikan kran air selagi mencuci tangan dengan sabun atau ketika menyikat gigi. Jangan lupa cek juga kran air, selang, atau pipa di rumahmu jika ada kebocoran, ya! Makin cepat diperbaiki, Generasi Hijau akan menghemat air lebih banyak.

Referensi

Gleick, P. (2019). Water Scarcity and Climate Change. Retrieved from Before the Flood: https://www.beforetheflood.com/explore/the-crisis/water-scarcity-and-climate-change/

 

Partisa, J. P. (2019, September 9). The World Is in a Water Crisis and Climate Change Is Making it Worse. Retrieved from Union of Concerned Scientists: https://blog.ucsusa.org/pablo-ortiz/the-world-is-in-a-water-crisis-and-climate-change-is-making-it-worse

 

UNICEF. (2021, March 18). Water and the global climate crisis: 10 things you should know . Retrieved from UNICEF: https://www.unicef.org/stories/water-and-climate-change-10-things-you-should-know

 

Water Aid. (2019, July). Climate change adaptation and resilience and water, sanitation and hygiene: links between SDG 13 and SDG 6 . Retrieved from Wash Matters: Water Aid: washmatters.wateraid.org/sustainable-development-goals

 

Wishanti, D. A. (2021, March 23). Mengapa krisis air selalu terjadi di Nusa Tenggara Timur, juga di Pulau Jawa. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/mengapa-krisis-air-dan-sanitasi-selalu-terjadi-di-nusa-tenggara-timur-juga-di-pulau-jawa-155152

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Meningkatkan Kesadaran Lingkungan untuk Bumi yang Lebih Baik

Meningkatkan Kesadaran Lingkungan untuk Bumi yang Lebih Baik

 

Senang melihat makin hari makin banyak orang yang menyadari dampak buruk kegiatan manusia terhadap lingkungan. Kesadaran lingkungan ini sudah terlihat meningkat sejak satu abad yang lalu, dan terus memuncak selama dua dekade ini. Dapat dilihat dari gerakan peduli lingkungan yang cepat bertumbuh tiap tahunnya serta dukungan dari pemerintah berupa kebijakan pengelolaan sampah atau yang berpihak pada pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Selain itu, Generasi Hijau pasti juga sudah tahu tentang Sustainable Development Goals – 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk masa depan global yang lebih baik. Melalui SDGs, PBB juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat dunia.

SDG nomor 4: pendidikan berkualitas. (Sumber: IS Global)

17 poin SDGs saling berinterrelasi satu sama lain, yang artinya untuk mewujudkan satu poin kita akan bersinggungan dengan poin lain dan turut menimbulkan dampak baik. Misalnya, untuk menebarkan ‘virus’ less waste, berarti Generasi Hijau ikut menjalankan SDG nomor 4 tentang edukasi berkualitas, nomor 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta nomor 13 tentang mengatasi krisis iklim.

Berdasarkan SDGs nomor 4, semua orang berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta memiliki kesempatan belajar sepanjang hayat. Ini juga berarti berhak mendapat informasi tentang dampak buruk aktivitas manusia terhadap lingkungan, informasi pengelolaan sampah, atau tentang pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Secara keseluruhan, semua orang berhak memiliki level yang sama tentang kesadaran lingkungan.

Apa itu kesadaran lingkungan?

Kesadaran lingkungan adalah pemahaman tentang rentannya lingkungan kita dan seberapa penting untuk menjaganya. Menyebarluaskan kesadaran lingkungan adalah cara paling sederhana untuk berpartisipasi menciptakan masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang.

Koneksi manusia dengan lingkungan dapat ditingkatkan melalui kesadaran lingkungan. (Sumber: Craig Stennett/Alamy Stock Photo)

Menginisiasi perubahan kecil dari gaya hidup kita bisa jadi satu cara paling mudah untuk hidup lebih ‘sadar lingkungan’. Satu individu manusia dapat mempengaruhi lingkungan dalam berbagai cara, seperti tidak turut menyumbang polusi darat, air dan udara, menggunakan produk ramah lingkungan, dan menjalankan langkah kecil pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Setelah menerapkannya dalam kehidupan kita sendiri, kita bisa pastikan menebarkan ‘virus’ yang sama ke orang-orang terdekat kita.

 

Kesadaran lingkungan adalah bagian penting dari kesuksesan gerakan peduli lingkungan. Dengan mengadvokasikan pada teman-teman dan keluarga bahwa lingkungan fisik di sekitar kita rentan tercemar dan tidak ada gantinya, kita bisa mulai menangani masalahnya. Secara tidak sadar, kita turut mendukung dan menjalankan empat poin SDGs sekaligus: nomor 4 tentang edukasi berkualitas, nomor 12 tentang pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, nomor 13 tentang mengatasi krisis iklim, dan nomor 15 tentang memproteksi dan memulihkan ekosistem di darat (life on land).

Mengapa ini penting?

Tak dapat dipungkiri, hampir semua aktivitas manusia di masa modern berdampak buruk bagi lingkungan. Penggunaan transportasi yang mengeluarkan emisi gas, deforestasi, dan dalam level rumah tangga, sampah yang tidak terkelola menyebabkan TPA penuh. Karena itu, menjadi tanggung jawab manusia juga untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan mengubah perilaku kita, sedikit demi sedikit.

 

Isu krisis iklim juga menempatkan berbagai spesies flora dan fauna di ambang kepunahan karena mereka sulit beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Tiap ekosistem saling terhubung, jadi kepunahan satu spesies yang kita pikir tidak signifikan ternyata punya efek substantif bagi manusia.

Mama-mama penjaga Gunung Mbeliling, Nusa Tenggara Timur. Mereka menjaga hutan kawasan konservasi Gunung Mbeliling dan fauna langkanya. (Sumber: Muhammad Meisa/BirdLife International)

Bahkan walaupun hubungan antara perilaku manusia dengan isu lingkungan tidak tergambar konkret, bukan berarti kita tidak akan terpengaruh dengan konsekuensinya. Inilah alasan mengapa begitu penting kita turut bertanggung jawab melindungi bumi kapanpun kita bisa.

 

Greeneration Foundation turut mendukung SDGs nomor 4 tentang edukasi berkualitas dan nomor 12 tentang pola konsumsi dan produksi berkelanjutan melalui berbagai program kami: Perpustakaan Bebas Sampah ID di mana Generasi Hijau dapat mengakses beragam informasi seputar isu persampahan, Citarum Repair yang bertujuan mereduksi sampah laut dengan membersihkan Sungai Citarum, dan Indonesian Children Care for the Environment (ICCFTE), program edukasi anak tentang bahaya limbah makanan.

Referensi

Anderson, R. (2019, June 27). Why is
          Environmental Awareness Important? from Delta Net: https://www.delta-net.com/health-and-safety/environmental-awareness/faqs/why-is-environmental-awareness-important

Cohen, S. (2015, February 28). The Growing Level
of Environmental Awareness. Retrieved from Huffpost: https://www.huffpost.com/entry/the-growing-level-of-envi_b_6390054

Pachamama Alliance. (n.d.). Environmental 
Awareness. Retrieved from Pachamama: https://www.pachamama.org/environmental-awareness

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

 

31 Oktober 2020, PBB meluncurkan data persebaran populasi urban di seluruh dunia untuk memperingati Hari Kota. Penelitian ini dilakukan di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin. Hasilnya, penduduk kota di Asia kini mencapai 51.1%, meningkat drastis dibanding tahun 1950 di mana hanya 17.5% dari total populasi yang tinggal di kota. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan 56.2% populasi dunia kini tinggal di daerah perkotaan. 

Mengingat hampir seluruh bahan pangan dan sumber daya berasal dari pedesaan, temuan tadi menimbulkan pertanyaan, bagaimana sistem perkotaan dapat menghidupi tiap warganya dengan berkelanjutan? Hal tersebut mungkin dilakukan dengan menerapkan konsep kota berkelanjutan.

Apa Itu Kota Berkelanjutan?

Secara konseptual, kota berkelanjutan mengacu pada usaha berjalannya perekonomian dan kegiatan sosial dengan meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan. Jadi, generasi selanjutnya masih dapat tetap merasakan kota ramah lingkungan dengan kondisi yang sama. Inspirasi dan inovasi dalam membangun kota adalah meniru kerja alam, karena alam sendiri bersifat berkelanjutan.

 

Songdo, Korea Selatan. Tiap gedungnya sudah terkomputerisasi dan memiliki kontrol cuaca otomatis. (Sumber: Panya K/Shutterstock)

Menurut Koordinator Kemitraan Kota Hijau Nirwono Joga, kota berkelanjutan mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas penyediaan air bersih, pengolahan air limbah dan pengelolaan sampah ramah lingkungan, aksesibilitas dan mobilitas yang didukung transportasi berkelanjutan, pemanfaatan energi baru terbarukan, persyaratan bangunan gedung hijau, dan ruang terbuka hijau yang memadai.

Menurut BBC, berikut pilar utama kota berkelanjutan:

            1. Semua penduduk kota dapat layanan dan akses yang setara.

            2. Transportasi publik dinilai aman dan merupakan alternatif yang baik dari kendaraan pribadi.

            3. Aman bersepeda dan berjalan kaki.

            4. Warga dapat mengakses dan menikmati RTH..

            5. Penggunaan energi baru dan terbarukan lebih masif.

            7. Sampah dinilai sebagai sumber daya dan didaur ulang sedapat mungkin.

            8. Akses perumahan lebih terjangkau.

            9. Hubungan antarkomunitas lebih kuat dan warga saling bantu untuk mengentaskan kriminalitas.

            10. Fasilitas publik dapat diakses tiap kalangan.

            11. Penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan.

 

Konsep Kota Berkelanjutan di Berbagai Negara

Tahun 2019 pasca kemenangannya, Presiden Joko Widodo mencanangkan perpindahan ibukota Indonesia dari Jakarta ke dua kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara. Atas alasan konversi lahan dan penduduk pulau Jawa yang terlalu padat, Kalimantan dipilih sebagai rencana pembangunan ibukota baru.

 

Deputi II bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut Alu Dohong menyebutkan agar perpindahan ini menganut konsep “green and smart city”, seperti dilansir ANTARAKonsep ini mengombinasikan antara kota pemerintahan berbasis keberlanjutan dan teknologi serta memperhatikan efisiensi. Jadi, bukan berarti semua tanaman akan dibabat habis dan dibangun lahan baru. Namun sebagian tanaman dipertahankan dan dipelihara selagi menjalankan konsep kota berkelanjutan.

 

Menerapkan konsep kota berkelanjutan pasti akan jadi hal baru untuk Indonesia, tetapi bukan berarti tidak dapat dicapai. Untuk mewujudkannya, kita dapat mencontoh beberapa kota berikut. Berikut beberapa kota di dunia yang telah menerapkan prinsip kota berkelanjutan.

Kopenhagen, Denmark

Kopenhagen menargetkan untuk jadi ibukota pertama di dunia yang bebas emisi karbon pada tahun 2025. Kini, hasil upayanya mulai terlihat. Kurang dari 2% sampah di kota berakhir di TPA. Sebagian besar sisanya didaur ulang atau dikonversi menjadi energi di Copenhill (Amager Resource Center – Pusat Sumber Daya Amager). Copenhill ialah pembangkit listrik tenaga sampah yang sekaligus berperan sebagai fasilitas olah raga warga Kopenhagen. 

 

Copenhill, pembangkit listrik tenaga sampah di tengah kota Denmark. (Sumber: Visit Denmark)

 

 Bus sebagai transportasi publik seluruhnya sudah beralih ke tenaga listrik dari bahan bakar diesel. Jalanan didominasi oleh sepeda, bahkan anggota parlemen juga bersepeda ke kantor. Kalau kamu memilih jalur air, kamu bisa menyewa perahu listrik untuk menyusuri kanal. Kalau tertarik berenang di kanal, air di Kopenhagen bersih sekali untuk berenang.

 

Meski memiliki sistem tata kelola sampah yang sangat baik, gerakan minim sampah juga berkembang. Amass, restoran di Kopenhagen dinilai sebagai restoran paling ramah lingkungan di dunia. Bahan yang disajikan di Amass berasal dari kebun sendiri, bahkan membuat bir sendiri. Sisa dapur diolah menjadi makanan lagi atau dikompos.

Vancouver, Kanada

Alam dan perkotaan sudah jadi entitas yang menyatu di Vancouver. Dikelilingi Gunung Cypress, Grouse dan Seymour, Vancouver jadi daya tarik bagi pecinta alam. Kota ini juga menghasilkan emisi karbon paling minim dari semua kota di Amerika Utara.

 

Vancouver Convention Center – satu-satunya convention center di dunia yang mendapat sertifikasi platinum dalam aspek keberlanjutan. (Sumber: Vancouver Economic Comission)

50 persen warga di Vancouver berjalan kaki, bersepeda atau naik transportasi umum. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah pohon sebanyak 125.000 pohon sudah ditanam sejak 2010, dan masih akan terus bertambah. Vancouver menargetkan untuk sepenuhnya menghapus jejak karbon pada 2040.

Singapura

Dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Asia, tidak salah jika titel kota paling maju di Asia disematkan pada Singapura. Negara-kota yang sedikit lebih besar dari Jakarta ini menerapkan konsep kota berkelanjutan dan berkomitmen untuk mereduksi konsumsi energinya hingga 35 persen pada 2030. 

 

Singapura mampu menjaga preservasi alam di tengah gedung betonnya. Karena lahan yang minim, apartemen dan rumah susun vertikal mengisi 80 persen dari total residential area. Tempat wisata yang berbasis ekologi juga menerapkan konsep taman vertikal, seperti Gardens by the Bay, Jewel Changi dan Marina One. 

Supertree, panel surya berbentuk pohon raksasa dengan beragam tumbuhan menjalar di Gardens by The Bay, Singapura. (Sumber: Patrick Bingham Hall/Grant Associates UK)

Minimnya sumber air tawar membuat Singapura memiliki water recycling system. Air saluran pembuangan disaring untuk membuang bakteri, virus dan partikel besar. Airnya akan disuling kembali dengan reverse osmosis, menyaring kontaminan dan substansi pembawa penyakit. Di akhir proses, air disterilisasi dengan sinar ultraviolet untuk memastikannya murni dan siap dikonsumsi.

Prinsip kota berkelanjutan secara sirkular akan menghasilkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan pula. Greeneration Foundation sebagai lembaga yang mendukung produksi dan konsumsi berkelanjutan mengajak Generasi Hijau turut berperan dalam kolaborasi multipihak untuk dapat mewujudkan konsep kota berkelanjutan. Selain itu, kami juga mendukung perwujudan pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab melalui beberapa inisiatif kami, yaitu Bebas Sampah ID dan Indonesia Circular Economy Forum (ICEF).

Referensi

Alonso, T. (2020, February 10). Success story: the transformation of Singapore into a sustainable garden city. Retrieved from Tomorrow City: https://www.smartcitylab.com/blog/urban-environment/singapore-transformation-garden-city/

ArcGIS. (n.d.). Retrieved from How does Vancouver plan to become the most sustainable city worldwide?: https://www.arcgis.com/apps/Cascade/ index.html?appid= 9a8f6f4bdb2e4bdaa762ce805684ae37

Duerre, R. I. (2013, June 6). Singapore ‘toilet-to-tap’ concept. Retrieved from Deutsch Welle: https://www.dw.com/en/singapores-toilet-to-tap-concept/a-16904636

Gloede, K. (2015, May 18). The Greenest City in the World by 2020. Retrieved from Architect Magazine: https://www.architectmagazine.com/ technology/the-greenest-city-in-the-world-by-2020_c

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Joga, N. (2019, November 6). Investor.id. Retrieved from Menggaungkan Konsep Ibukota Baru: https://investor.id/opinion/menggaungkan-kota-berkelanjutan

Koesno, D. A. (2019, Agustus 28). Tirto.id. Retrieved from Mengenal Konsep Green City Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur: https://tirto.id/mengenal-konsep-green-city-ibu-kota-baru-di-kalimantan-timur-eg9t

Mathieson, E. (2020, August 14). 10 of the most sustainable cities in the world. Retrieved from Condé Nast Traveller: https://www.cntraveller.com/gallery/ sustainable-cities

Visit Singapore. (n.d.). Leading the Way: Singapore’s Sustainable Future. Retrieved from Visit Singapore: https://www.visitsingapore.com/mice/en/ bulletin-board/leading-the-way-singapores-sustainable-future/overview/

Wilmott, J. (2020, February 6). Have you been to the world’s greenest city? . Retrieved from The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/travel/ discovering-hygge-in-copenhagen/worlds-greenest-city/

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Support Organization

Support Specific Program

Berlangganan

* Diperlukan