Tag Archives: gas metana

Gambar 1

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Latar Belakang

Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) merupakan infrastruktur pengelolaan sampah yang dikelola oleh Greeneration Foundation di bawah program EcoRanger dan telah berjalan hampir tiga tahun. Sentra Kelola Sampah, merupakan infrastruktur pengelolaan sampah satu-satunya di daerah Dusun Pancer. Di SEKOLA, sampah dikumpulkan dan dipilah lalu dilakukan pendataan terkait jumlah sampah. Setelah itu, sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sampah yang bisa direcycle dijual ke industri daur ulang dan sisanya dibuang ke TPA. Sampai saat ini, SEKOLA berhasil memberikan pelayanan pengelolaan sampah ke 300 KK. SEKOLA merupakan program pilot yang diharapkan dapat diperbesar cakupan jangkauan layanannya melalui kerja sama multi pihak di Dusun pancer, terutama Pemerintah Desa.

Namun, proses pengolahan sampah tidak efisien di SEKOLA masih tidak efisien karena pemilahan sampah oleh masyarakat dari sumber untuk daerah domestik layanan SEKOLA masih kurang dari 5%. Ketidakefisienan dalam melakukan pemilahan di sumber menyebabkan biaya operasional yang membesar dan menurunkan tingkat daur ulang. Padahal, pemilahan di sumber merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah sampah ke TPA.

Riset ini dilakukan untuk meningkatkan pemilahan dari sumber di Dusun Pancer dengan menginvestigasi pemahaman dan perilaku masyarakat di Dusun terkait dengan sampah. Tujuan-tujuan dari riset ini adalah:

 

      1. 1. Menganalisis tingkat pemilahan sampah dari sumber, baik klien SEKOLA maupun non-klien;
    1. 2. Menganalisis kondisi sosial dan budaya masyarakat Dusun Pancer untuk mendukung program edukasi persampahan;
    2. 3. Mengidentifikasi regulasi persampahan yang berlaku di Dusun Pancer beserta keberjalanan penegakannya;
    3. 4. Memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan pemilahan sampah di Dusun Pancer.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tempat yang sama dengan letak SEKOLA, yaitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (peta lokasi dapat dilihat pada Gambar 1). Dusun Pancer terdiri dari 3 RW dan 21 RT dengan jumlah penduduk (2017) sebanyak 1.648 KK dan 4.888 jiwa. Di Dusun Pancer juga terdapat dua pantai utama yang menjadi tempat berkunjungnya wisatawan, yaitu Pantai Pulau Merah & Pantai Mustika.

Gambar 1
Gambar 1 Peta Lokasi Dusun Pancer

Kegiatan penelitian ini dilakukan khusus di RW 2 dan RW 3 yang merupakan cakupan wilayah layanan SEKOLA. Proses pengambilan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling yang dilakukan ke 50 orang di RW 2 dan 54 orang di RW 3 di mana dari 104 orang tersebut 56 diantaranya adalah klien yang berlangganan layanan SEKOLA dan 48 orang lainnya adalah non-klien. Pengambilan data ini dilakukan untuk mengidentifikasi penyampaian informasi dan komunikasi, perilaku memilah dan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, dan evaluasi keberjalanan Ecoranger dan SEKOLA. Pertanyaan yang digunakan terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Data yang dikumpulkan merupakan campuran antara data kuantitatif dan kualitatif. Topik-topik pertanyaan yang ditanyakan adalah terkait karakteristik demografi, cara berkomunikasi, penyebaran informasi, keadaan kelompok masyarakat, pengetahuan umum mengenai persampahan, konsep 3R, pewadahan sampah, biaya retribusi, dan peraturan persampahan.
  • Wawancara semi-terstruktur dilakukan menggunakan beberapa set pertanyaan yang terkait pengelolaan sampah di Dusun Pancer berdasarkan lima aspek persampahan, yaitu: partisipasi masyarakat, operasional, pendanaan, regulasi, dan institusi. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling agar pemangku kepentingan yang dipilih beragam dari berbagai macam pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
  • Lembaga lokal (Ketua RT, Ketua RW 2 dan Ketuan RW 3, Kepala Dusun, KUB, Pokmas, DLH Banyuwangi)
  • Industri daur ulang (3 orang pengepul dan 3 orang dari industri daur ulang)
  • Petugas persampahan (2 orang pemulung dan 1 orang petugas pengangkut sampah)

Sampling sampah dilakukan menggunakan metode kuadran. Sampling sampah ini dilakukan untuk mencari tahu komposisi dan berat jenis sampah, jika dibutuhkan untuk memperluas SEKOLA. Sampling dilakukan sebanyak dua kali di SEKOLA, yaitu satu kali saat weekday dan satu kali saat weekend, setelah semua sampah telah diangkut ke SEKOLA. Jumlah sampel sampah yang diambil adalah 25% dari sampah yang masuk di hari tersebut. Sampling sampah dilakukan menggunakan sampling box untuk menghitung berat, volume, dan densitas dari sampah dengan ukuran 100 cm x 21 cm x 21 cm. Sampah dipilah menjadi 8 jenis, yaitu organik, plastik, kresek, logam, kertas, kaca, karet, dan residu

Hasil Penelitian

Demografi Responden Penduduk

Dari 104 responden penduduk yang diwawancarai, 67,3% diantaranya adalah wanita. Usia responden terbanyak adalah di antara 36 hingga 45 tahun. Sekitar 43% responden merupakan lulusan sekolah dasar dan hampir separuh responden memiliki pendapatan kurang dari Rp 2.000.000 per bulannya. Seluruh responden penduduk ini berasal dari RW 2 dan RW 3 Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi. Jumlah warga yang diwawancarai sebanyak 56 orang klien dan 48 orang non-klien. Rangkuman data mengenai demografi responden dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2a
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2b
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2c
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2d
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan

Kondisi Sosial

Informasi dan Komunikasi

Berdasarkan hasil wawancara, sekitar 90% responden memperoleh informasi tentang sesuatu hal di lingkungan mereka melalui ketua RT/RW tempat mereka tinggal dan 74% responden memperoleh informasi melalui pengumuman lewat masjid. Untuk cara penyampaian informasi lain seperti melalui tetangga, keluarga, puskesmas, PKK, karang taruna, atau media digital, digunakan hanya sebagian kecil responden saja (2%-22%). Hal ini didukung juga dengan temuan bahwa hanya sekitar 48% responden yang menggunakan media digital dan hanya 12,5% responden yang menggunakan media digital sebagai media untuk menyebarkan informasi. Tidak ada perbedaan yang jauh antara cara memperoleh informasi antara klien dan non klien seperti tertera pada Gambar 3. Klien lebih banyak menggunakan facebook tetapi secara keseluruhan baik di klien maupun non-klien, Whatsapp tetap paling banyak digunakan sebanyak 29% responden. Meskipun demikian, masih cukup banyak responden yang menggunakan telepon langsung (di luar aplikasi pengirim pesan) untuk menyampaikan berita dan/atau informasi seperti yang tertera pada bagian lainnya di Gambar 3 (b).

Gambar 3a
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital
Gambar 3b
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital

Kegiatan komunal yang biasa diikuti dan dinantikan oleh masyarakat adalah pengajian (90%), festival petik laut (67%), dan kegiatan sosial (65%). Kumpul rutin mingguan juga diikuti oleh sebagian kecil masyarakat (28%). Perbandingan kegiatan komunal yang diikuti dan dinantikan relatif sama antara klien dan non-klien layanan SEKOLA.

Gambar 4
Gambar 4 Kegiatan Komunal

Kelompok Masyarakat di Bidang Lingkungan

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa Dusun Pancer didominasi oleh masyarakat pendatang dari daerah lain di banyuwangi maupun dari luar banyuwangi. Terdapat beberapa kelompok yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan minat dan peruntukkan yang berbeda-beda, seperti asosiasi nelayan, KUB Bina Karya, KUB Sekar Arum, POKMAS wisata, karang taruna, dan perkumpulan Ibu PKK. Karena memiliki tujuan yang berbeda, kelompok-kelompok ini tidak bersaing satu sama lain. Selain Ecoranger, tidak ada kelompok masyarakat lain yang fokus pada lingkungan, terutama persampahan. Secara umum, beberapa masyarakat dan kelompok-kelompok ini mendukung kegiatan lingkungan dan memiliki kepedulian sosialisasi yang cukup tinggi.

Walaupun begitu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kegiatan sosial dan lingkungan kelompok-kelompok yang ada dan juga kebanyakan masyarakat bersikap acuh kegiatan ini. Keacuhan ini ditenggarai disebabkan utamanya oleh kelompok-kelompok ini yang kurang merangkul dan terkesan eksklusif. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ada dilakukan hanya untuk anggota kelompoknya sendiri. Hal ini menjadi kendala untuk pengembangan kegiatan lingkungan yang sifatnya mengajak orang banyak. Kemudian, ada beberapa konflik yang terjadi akibat adanya pertambangan dan warga yang mendukung dan menolak kegiatan tambang yang dilakukan oleh perusahaan tambang yang tersebar di seluruh wilayah Dusun Pancer tanpa adanya afiliasi khusus dengan kelompok-kelompok yang ada.

Kondisi Pengelolaan Persampahan

Secara keseluruhan, pengelolaan persampahan di Dusun Pancer masih dilakukan dari inisiatif masyarakat dan komunitas. Belum muncul kepekaan pemangku kebijakan, terutama Kades, yang peduli terhadap isu sampah karena sampai saat ini Perdes masih belum disosialisasikan dengan baik karena bahkan Kepala RT dan Kepala RW di Dusun Pancer tidak mengetahui adanya Peraturan Desa. Selain itu, DLH Kab. Banyuwangi belum memprioritaskan kawasan ini sebagai wilayah yang penting dijangkau dari segi pengelolaan persampahan. DLH berkilah bahwa mereka tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Kemudian, salah satu pemangku kepentingan di Dusun Pancer, Perhutani, juga belum berpikir untuk ikut andil secara aktif untuk kemajuan pengelolaan sampah dengan alasan kebijakan yang terlalu birokratis.

Pengetahuan Umum Persampahan

Dari segi pengetahuan umum persampahan, responden ditanya seputar definisi sampah, kompos, program pengelolaan sampah, dan dampak sampah yang tidak terkelola. Sebagian besar responden mendefinisikan sampah sebagai kotoran, limbah, sisa-sisa kegiatan yang sudah tidak terpakai dan dibuang. Ada juga beberapa responden yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang masih dapat berguna. Hal ini menandakan bahwa secara umum, responden sudah mengerti tentang definisi sampah walaupun dalam tingkatan yang berbeda.

Saat ditanya mengenai pengertian kompos, sebagian besar responden masih mendefinisikannya sebagai sampah yang ditumpuk-tumpuk atau setara dengan pupuk organik. Beberapa responden juga mendefinisikan kompos sebagai sampah organik saja atau daun yang dibakar kemudian ditempatkan di tanaman. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan responden tentang apa itu kompos masih terbatas dan perlu edukasi lebih lanjut. Walaupun sebagian besar masih keliru mengenai definisi, hampir 100% responden, baik klien maupun non-klien, mengetahui dan paham jenis sampah apa saja yang dapat diolah melalui proses komposting. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5, dimana hanya terdapat 1 responden saja yang masih keliru mengenai hal ini.

Gambar 5a
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer
Gambar 5b
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer

Mengenai pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal, mayoritas klien (78%) dan non-klien (73%) sudah mengetahui bahwa terdapat program pengelolaan sampah di Dusun Pancer. Hampir tidak ada perbedaan antara klien dan non-klien. Walaupun demikian, masih sedikit responden yang mengetahui tentang EcoRanger sebagai salah satu pelaksana program. Pengetahuan kebanyakan responden hanya terbatas pada aktor-aktor dari EcoRanger, seperti Pak Sukam, Pak Jarwo, dan Mbak Saroh, bahkan untuk klien SEKOLA. Hanya ada sebanyak 21% klien yang mengetahui tentang SEKOLA atau Ecoranger secara organisasi, jumlahnya bahkan lebih kecil lagi untuk non-klien, yaitu sebanyak 10%.

Temuan menarik lainnya adalah ada sebagian kecil responden (3 orang) yang menganggap bahwa pelaksana program berasal dari pihak pertambangan sekitar yang berjarak cukup dekat ke SEKOLA, padahal responden tersebut merupakan klien dari SEKOLA. Beberapa responden lain tidak mengetahui nama tetapi hanya sebatas mengenali wajah aktor-aktor pelaksana program. Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa branding SEKOLA ataupun EcoRanger masih sangat minim di kalangan masyarakat Dusun Pancer, bahkan untuk klien sekalipun.

Saat ditanya mengenai dampak sampah yang tidak terkelola, seluruh responden sudah mengetahui dampak buruknya. Mereka telah sadar dan tahu bahwa jika sampah tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan bau, tidak enak dipandang, menyebabkan penyakit, mengganggu, hingga pencemaran ke lingkungan yang menyebabkan banjir dan pendangkalan sungai. Walaupun begitu, berdasarkan observasi di lapangan, banyak masyarakat yang dekat dengan Sungai Cacalan yang masih membuang sampah ke sungai. Selain itu, pembakaran sampah masih umum dilakukan oleh masyarakat di Dusun Pancer. Edukasi tentang bahaya sampah, termasuk membakar sampah, perlu dimasukkan dalam konten edukasi yang akan dilakukan.

Konsep 3R

Mengenai konsep 3R, responden ditanya tentang sampah yang memiliki nilai jual, penerapan perilaku 3R individu, hingga pandangan mengenai 3R itu sendiri. Dari hasil wawancara, sekitar 83% responden tahu bahwa terdapat jenis sampah yang memiliki nilai jual dan mengetahui pihak yang dapat membeli jenis sampah tersebut. Menariknya hanya 76% klien SEKOLA yang tahu bahwa ada sampah yang bisa dijual dibandingkan dengan 90% non-klien yang tahu bahwa ada jenis sampah yang bisa dijual. Jenis sampah yang paling banyak dianggap memiliki nilai jual adalah plastik, walaupun juga banyak responden yang memilih jenis sampah lainnya seperti besi dan kardus. Hampir tidak ada perbedaan pengetahuan antara klien dan non-klien terkait sampah jenis apa yang memiliki nilai jual (Gambar 6).

Gambar 6a
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden
Gambar 6b
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden

Mengenai aplikasi perilaku 3R dalam keseharian, responden ditanya menggunakan contoh perilaku untuk memudahkan responden memahami konteks perilaku yang dimaksud, yaitu membawa tas belanja sendiri saat berbelanja atau wadah saat membeli makanan (reduce), menggunakan kembali wadah atau barang lain sebelum dibuang (reuse), dan mendaur ulang barang atau sampah (recycle). Dari perilaku reduce, hanya sebanyak 24% responden menjawab melakukannya meskipun sebanyak 75% responden merasa perilaku ini tidak merepotkan bagi mereka. Klien cenderung lebih melakukan reduce (28%) dibandingkan dengan non-klien (18%), walaupun klien dan non-klien memiliki persentase jawaban bahwa perilaku reduce tidak merepotkan yang relatif sama. Hal ini menandakan adanya jarak (gap) antara kesadaran dengan perilaku yang dilakukan oleh responden. Walaupun, responden merasa hal ini mudah dan tidak merepotkan, tetapi masih sedikit yang melakukannya. Saat ditanya mengenai alasan mengapa perilaku reduce merepotkan, banyak responden yang menjawab karena alasan kemudahan seperti tidak repot membawa tas, karena jarak tempat belanja yang dekat, dan sudah disediakan plastik oleh penjual. Hal ini juga perlu menjadi perhatian untuk edukasi masyarakat kedepannya, mengingat adanya kejanggalan dimana saat lokasi belanja dekat, para responden malah enggan membawa wadah atau tas belanja sendiri.

Seputar perilaku reuse, sekitar 57% responden menjawab sudah melakukannya. Barang terbanyak yang digunakan kembali adalah wadah makanan dan kantong plastik. Hasil lengkap mengenai barang yang digunakan kembali oleh responden dapat dilihat pada Gambar 7. Perilaku ini dilakukan oleh klien dan non-klien dengan jumlah yang hampir sama. Mengenai perilaku daur ulang, hanya 5% responden saja yang sudah melakukannya dan hampir seluruhnya mendaur ulang plastik. Hal ini menandakan bahwa perilaku reuse masih menjadi prioritas utama bagi para responden dibandingkan dengan dua perilaku lainnya. Hal ini juga didukung oleh data saat responden ditanya perilaku 3R mana yang lebih baik dimana data ini disajikan pada Gambar 8. Sebanyak 33% responden menganggap perilaku reuse lebih baik, 30% memilih reduce, dan 26% memilih recycle. Hal ini menandakan bahwa konsep hirarki pengelolaan sampah masih perlu disosialisasikan lebih lanjut lagi untuk warga klien ataupun non-klien SEKOLA di Dusun Pancer.

Gambar 7
Gambar 7 Jenis barang yang digunakan kembali oleh responden
Gambar 8
Gambar 8 Pandangan responden mengenai perilaku 3R yang lebih baik

Pewadahan

Dari segi pewadahan, seluruh responden sudah menggunakan wadah untuk menampung sampah mereka kecuali satu (1) responden yang langsung membakar sampahnya sehingga tidak menggunakan wadah apapun di rumahnya. Jenis wadah yang paling banyak digunakan adalah tempat sampah tidak tetap. Hanya terdapat satu responden saja sudah menggunakan tempat sampah tetap. Masih banyak responden yang menggunakan kantong plastik dan karung untuk menampung sampah mereka di rumah. Untuk ukuran wadah yang digunakan oleh para responden, sebagian besar menggunakan wadah dengan volume yang setara dengan ember kecil (setara volume 5-10 L) dan ember sedang (setara ember cat 25 L). Data terkait jenis dan ukuran wadah yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9a
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran
Gambar 9b
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran

Untuk jumlah wadah, cukup banyak responden (62,5%) sudah menggunakan lebih dari 1 tempat sampah di rumah. Mayoritas responden (90,4%) (Gambar 10) merasa membutuhkan lebih dari 1 tempat sampah di rumah dengan berbagai macam alasan, seperti kemudahan, kebersihan, dan pemilahan sampah, walaupun mayoritas dari responden merasa perlu memiliki lebih dari 1 wadah sebagai cadangan jika ada tempat sampah lain yang penuh. Hal ini menandakan bahwa sudah banyak responden yang merasa bahwa pewadahan sampah yang sesuai kebutuhan merupakan sesuatu yang penting meskipun masih terdapat responden yang memiliki jumlah wadah saat ini yang terbatas.

Gambar 10a
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1
Gambar 10b
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1

Mayoritas responden menempatkan wadah sampah di luar rumah (72%) dan di ruang dapur (70%). Tidak ada perbedaan preferensi khusu penempatan tempat sampah di dalam rumah untuk klien dan non-klien, kecuali lebih banyak klien juga yang menempatkan tempat sampah di ruang tengah dibandingkan dengan non-klien. Kemudian untuk frekuensi pengosongan wadah, hampir seluruh responden melakukannya satu kali sehari atau satu kali dalam 2 hari. Responden yang melakukan pengosongan wadah satu kali dalam 2 hari kebanyakan merupakan klien SEKOLA (Gambar 11), dimana frekuensi ini sesuai dengan kondisi saat ini operasional pengangkutan SEKOLA. Hal ini menandakan untuk responden yang merupakan non-klien SEKOLA mayoritas melakukan pengosongan satu kali sehari.

Gambar 11a
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan
Gambar 11b
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan

Pemilahan

Dari 104 responden, sebanyak 33% menjawab sudah melakukan pemilahan dan 62,5% ingin memulai atau melanjutkan untuk melakukan pemilahan. Menariknya persentase non-klien yang melakukan pemilahan lebih banyak dibandingkan persentase klien yang melakukan pemilahan, yaitu 38% dibandingkan 29% (Gambar 12). Alasan responden ingin memulai atau melanjutkan pemilahan adalah untuk menjual jenis sampah yang dipilah, untuk mempermudah penanganan selanjutnya, dan juga karena kebiasaan. Namun, masih ada responden yang enggan untuk memilah karena pemilahan masih dirasa repot, malas, lama, tidak terpikir, tidak penting, merasa sudah ada yang pilah, hingga dirasa kotor jika dipilah. Untuk jenis sampah yang dipilah, mayoritas responden memilah sampah plastik seperti botol plastik dan kantong belanja sekali pakai. Selain plastik, jenis sampah lainnya yang cukup banyak dipilah adalah kardus, kertas, dan sampah makanan. Hal ini selaras dengan alasan responden memilah sampah mengingat plastik, kardus, dan kertas mengingat ketiga jenis ini mudah untuk dijual ke pelapak atau pengepul. Data yang lebih lengkap mengenai jenis sampah yang dipilah oleh responden dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12a
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden
Gambar 12b
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden

Selain kondisi saat ini pemilahan, responden juga ditanyakan mengenai motivasi pemilahan. Dari berbagai jawaban yang diperoleh, faktor finansial masih menjadi alasan bagi responden untuk memilah (57,7%), terutama bagi non-klien (Gambar 13). Faktor kedua yang banyak dipilih adalah alasan kesehatan & lingkungan, walaupun dengan persentase yang jauh dibandingkan dengan alasan finansial. Contoh faktor finansial yang banyak disebutkan adalah keuntungan dari penjualan jenis sampah yang dipilah. Alasan terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan juga memberikan kepada pihak yang membutuhkan masih menjadi dasar mengapa responden ingin memilah meskipun tidak sebesar alasan finansial.

Gambar 13
Gambar 13 Motivasi responden dalam pemilahan sampah

Responden juga ditanyakan apakah mereka bersedia jika setiap jenis sampah diangkut di hari-hari tertentu, misalkan seperti pengangkutan khusus sampah plastik di hari Senin, sampah organik di hari Selasa dan Jumat, dan seterusnya. Dari 72 responden yang ditanyakan mengenai hal ini, hanya sebagian kecil, yaitu 39% responden (28 orang) yang setuju dengan gagasan ini. Ada responden yang setuju tetapi dengan syarat kondisi tertentu, yaitu dimana sampah organik tetap diangkut setiap hari.

Dari seluruh data mengenai pemilahan sampah, dapat dikatakan bahwa secara keinginan dan kesadaran untuk memilah sampah, banyak responden yang sudah mengetahui manfaatnya. Meskipun demikian, dari segi praktikal, masih banyak responden yang belum melakukannya. Adanya jarak antara keinginan dan perilaku saat ini dapat diperkecil melalui sosialisasi atau edukasi oleh para tokoh yang dapat merangkul seluruh kelompok masyarakat. Tidak hanya sosialisasi atau edukasi, para tokoh tersebut juga perlu ikut memberikan contoh agar masyarakat sekitar yang mengagumi atau menghormati mereka akan mengikuti perilaku tersebut pada akhirnya.

Finansial

Dari segi finansial, responden ditanyakan seputar jumlah dan teknis pembayaran retribusi. Sekitar 90% responden menganggap jumlah retribusi saat ini (Rp 20.000) sudah murah dan terdapat 10% responden yang menganggap jumlah retribusi mahal. Tidak ada perbedaan yang jauh antara klien dan non-klien terkait hal ini. Hasil ini sudah selaras dengan kesediaan membayar (willingness-to-pay) responden seperti yang ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14
Gambar 14 Kesediaan membayar responden

Hal lain yang ditanyakan adalah willingness-to-pay responden untuk membayar lebih dari nominal retribusi saat ini. Hanya terdapat 31% responden (22 orang) yang bersedia membayar lebih, dimana 81,8% (18 orang) bersedia membayar hingga Rp 25.000 dan 18,2% (4 orang) bersedia membayar di atas Rp 30.000. Untuk waktu pembayaran retribusi, dari 72 responden yang ditanya, sekitar 67% responden memilih untuk membayar retribusi sebulan satu kali dengan pembayaran di awal bulan. Hal ini dapat menjadi pertimbangan mengenai penarikan retribusi saat ini, terutama untuk klien SEKOLA, dimana saat ini penarikan masih menggunakan sistem pembayaran setiap 3 bulan sekali.

Peraturan Persampahan

Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15, hanya sekitar 23% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tertulis. Persentase ketidaktahuan klien dan non-klien terhadap peraturan desa ini relatif sama rendahnya. Itu pun ternyata para responden menganggap berbagai himbauan tertulis yang berada di sekitar sungai atau pantai sebagai peraturan tertulis. Untuk peraturan tertulis yang merupakan spesifik terhadap Peraturan Desa SumberAgung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, maka hanya 2 dari 104 responden yang mengetahui hal tersebut, dimana salah satunya juga masih tidak yakin jika Perdes ini memang ada. Jumlah ini sangat kecil mengingat peraturan ini sudah ada cukup lama berlakunya. Hal ini menandakan kurangnya sosialisasi mengenai peraturan ini baik dari pihak desa, dusun, RW, maupun RT sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai Perdes ini.

Selain itu, hanya sekitar 47% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tidak tertulis. Untuk peraturan tidak tertulis, berikut beberapa temuan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan para responden:

  • Dilarang membuang sampah di kuburan
  • Tidak diperbolehkan membuang sampah di Sungai Cacalan saat sore hari (peraturan ini masih sering dilanggar oleh warga)
  • Dilarang membuang sampah di daerah sungai dan pantai
  • Membuang pembalut sembarangan akan mengundang kuntilanak
  • Tidak boleh membuang di timur daerah wisata
  • Dilarang membuang sampah di bawah pohon besar
  • Dilarang membuang sampah sembarangan tetapi jika dibakar tidak apa-apa
  • Dilarang membakar sampah popok atau pembalut
  • Dilarang buang sampah di belakang rumah
Gambar 15a
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis
Gambar 15b
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis

Pembahasan dan Rekomendasi

Pada bagian ini, rekomendasi akan diberikan berdasarkan motivasi dan/atau rintangan (diwarnai kotak biru tua di Gambar 16, 17, dan 18) yang didapatkan dari hasil penelitian di lapangan. Rekomendasi ini akan berupa saran dan/atau konten yang dapat dilakukan ketika melakukan edukasi untuk meningkatkan pemilahan sampah dari sumber (diwarnai kotak abu di Gambar 16, 17, dan 18) atau pun rekomendasi yang lebih praktikal dalam bentuk kegiatan dan/atau saran (diwarnai kotak biru muda di Gambar 16, 17, dan 18). Motivasi dan/atau rintangan dan rekomendasi yang selaras dikelompokkan dalam kotak yang lebih besar. Cara ini mengadaptasi dari pendekatan fostering sustainable behavior yang dikembangkan oleh Doug McKenzie (Mckenzie-Mohr, 2011).

Partisipasi Masyarakat

Dalam partisipasi masyarakat, ada lima kelompok rintangan yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Dusun Pancer (lihat Gambar 16). Kelompok rintangan pertama terkait dengan perilaku berkelompok. Kelompok-kelompok komunitas di Dusun Pancer cenderung eksklusif dan tidak mengajak orang di luar kelompoknya dalam suatu kegiatan. Dalam hal ini, Ecoranger dapat memperkenalkan diri sebagai pihak netral yang inklusif mengajak semua lapisan masyarakat tanpa membatasi diri ke kelompok tertentu. Terkait organisasi Ecoranger atau SEKOLA yang masih kurang dikenal masyarakat dapat menjadi kelebihan tersendiri karena berarti Ecoranger dapat melakukan branding sebagai pihak netral yang inklusif dengan relatif lebih mudah dan tanpa ada prasangka atau stigma apapun sebelumnya.

Selain itu, ada juga perilaku individu yang menjadi salah penyebab masalah. Perilaku individu yang dimaksud disini adalah sebagian warga hanya mau melakukan sesuatu jika warga lain melakukannya. Sebagian warga mempertimbangkan pilihan orang lain dalam pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa peduli dampak yang dihasilkan baik atau buruk. Sebagian warga merasa “rugi” jika mereka membayar iuran retribusi, sedangkan warga yang lain tidak ikut membayar dan tetap membuang sampah sembarangan atau dibakar. Hal ini tidak selalu berarti buruk karena berarti edukasi dan perubahan perilaku harus dilakukan dalam level kelompok atau komunitas, bukan dalam level individu.

Kemudian kelompok rintangan kedua, yaitu rendahnya kepedulian terhadap lingkungan yang diakibatkan kurangnya sosialisasi dan juga kurangnya dukungan tokoh daerah di Dusun Pancer. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat yang dihormati, seperti tokoh agama (seperti kyai), tokoh adat, ataupun tokoh sosial (seperti Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Dusun) setempat. Pendekatan dilakukan untuk mengajak tokoh masyarakat melakukan edukasi dan ikut memberikan contoh untuk melakukan pemilahan sampah dari sumber. Edukasi yang dapat dilakukan misalnya melalui diskusi dengan Kyai agar tema ceramah di Jumat juga disisipi dengan tema-tema lingkungan yang disandingkan dengan agama islam.

Kelompok rintangan ketiga adalah cara edukasi yang kurang sesuai. Cara sosialisasi dan edukasi yang berfokus pada acara langsung yang berkaitan dengan persampahan seperti workshop tentu dapat dilakukan, tetapi penyisipan konten edukasi tentang persampahan di lingkungan pada acara pengajian dan kegiatan sosial juga perlu dilakukan. Kabupaten Banyuwangi, termasuk juga Dusun Pancer, memiliki keterikatan yang kuat dengan acara keagamaan terlihat dari banyaknya warga yang ikut dan juga menantikan pengajian di Dusun Pancer berdasarkan hasil studi ini. Selain ceramah Jumat tadi, tim Ecoranger juga dapat menyelenggarakan acara pengajian dengan teman utama lingkungan, terutama persampahan dalam sudut pandang islam. Pengajian ini juga dapat menjadi ajang branding bagi Ecoranger. Selain itu, kegiatan sosial yang dapat dilakukan dapat berupa kegiatan bersih-bersih sungai untuk menambah acara bersih-bersih pantai yang biasanya dilakukan oleh Ecoranger. Dalam acara bersih-bersih sungai sampah yang ada jadi terasa lebih dekat karena sampah tersebut bukan berasal dari wisatawan tetapi terutama berasal dari warga di sekitar juga.

Kelompok rintangan ke-empat adalah konflik tambang. Konflik tambang di Dusun Pancer memiliki dampak sosial yang cukup besar dan meluas. Pihak pendukung dan pihak penolak tambang sama-sama memiliki pendapat yang sangat bertentangan. Beberapa kali konflik ini juga melebar ke arah bentrokan antara warga dengan warga dan warga dengan polisi. Dalam hal ini, branding sebagai organisasi netral yang dijelaskan pada paragraf kedua di subchapter ini, sebetulnya tidak terbatas pada menyatakan diri sebagai pihak netral, tapi juga membuat konten edukasi yang netral. Maksud dari konten edukasi yang netral adalah konten edukasi yang menghindari permasalahan konflik tambang yang ada di Dusun Pancer. Konten edukasi tentang pemilahan sampah, pengelolaan sampah, dan lingkungan dapat menjadi beberapa opsi pilihan konten edukasi yang dilakukan.

Kelompok rintangan yang kelima adalah sebagian masyarakat merasa malas dalam memilah sampah atau berperan aktif dalam pengelolaan sampah karena dianggap sulit dan mengeluarkan uang untuk melakukannya. Hal yang dapat dilakukan disini adalah dengan penyediaan wadah atau tempat sampah untuk pemilahan per rumah yang menjadi klien SEKOLA. Wadah ini nantinya diletakkan di depan rumah yang terlihat oleh orang yang melintas (berdasarkan hasil studi diketahui mayoritas warga menempatkan tempat sampah mereka di luar rumah). Wadah yang diberikan untuk pemilahan dapat diwarnai/diberi stiker dengan tulisan “aku sudah memilah” atau kata-kata lainnya yang menunjukkan bahwa suatu rumah telah melakukan pemilahan dan mendukung proses melindungi lingkungan sekitar. Hal ini penting karena suatu perilaku akan lebih bertahan lama dan lambat laun jadi kebiasaan, jika perilaku tersebut dapat terlihat oleh umum dalam jangka waktu yang lama (atau dalam fostering sustainable behavior disebut public and durable commitment).

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi rintangan kelima ini adalah dengan membuat tempat sampah komunal. Hal ini sempat menjadi usulan beberapa warga ketika diwawancara. Tetapi, tempat sampah komunal memiliki keuntungan (misalnya, relatif lebih murah dan memudahkan dalam pemisahan dari sumber dan koleksi sampah oleh petugas) dan kerugian (misalnya, jadi tempat sampah baru yang menggunung dan orang yang tidak membayar ikut menikmati fasilitas tersebut) yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum dilakukan (meskipun misalnya dana tersedia).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan edukasi dan sosialisasi tentang pemilahan sampah adalah melakukan kegiatan di skala RT. Kegiatan di skala RT memiliki kelebihan dimana masyarakat relatif saling mengenal dan oleh sebab itu, akan relatif lebih mudah diajak. Skala RT juga penting karena informasi lebih mudah disebarkan dan kegiatan dilakukan di kelompok yang relatif kecil.

Gambar 16
Gambar 16 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Partisipasi Masyarakat

Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Dalam pemahaman masyarakat dan edukasi, ada tiga kelompok rintangan dan satu alasan motivasi dalam menyampaikan materi edukasi dan konten apa saja yang penting untuk disampaikan (lihat Gambar 17). Rintangan pertama adalah perilaku 3R belum menjadi kebiasaan masyarakat. Dari hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa mayoritas masyarakat sebetulnya sudah terbiasa melakukan “penggunaan kembali” (reuse) terhadap barang yang dibeli atau digunakan sebelum dibuang. Walaupun, dalam hal mengurangi (reduce) dan daur ulang (recycle) tergolong masih minim. Rintangan kedua adalah misinformasi tentang pengetahuan sampah yang mendasar seperti cara membuat kompos dari sampah organik. Untuk kedua rintangan ini, hal-hal yang dapat dilakukan adalah membuat konten edukasi tentang pentingnya perilaku 3R dalam pengelolaan sampah dan juga penyebaran informasi persampahan melalui sistem broadcast. Sebelum memulai broadcast, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah melakukan pendekatan ke ketua RT di Dusun Pancer untuk membuat grup Whatsapp (WA) untuk kebutuhan penyebaran informasi di tingkat RT. Walaupun hanya 48% dari responden yang menggunakan media digital, jumlah ini cukup signifikan dalam penyebaran informasi jika digabung dengan diseminasi informasi oleh Ketua RT yang mencapai 90%. WA grup ini bisa dimanfaatkan oleh ketua RT untuk memudahkan penyebaran informasi dan dapat digunakan juga oleh Ecoranger dalam menyampaikan info-info pemilahan dan pengelolaan sampah yang mudah, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, rintangan ketiga adalah masyarakat tidak mengetahui esensi dari melakukan pemilahan sampah dan merasa malah. Diketahui juga dari hasil wawancara bahwa hampir 30% masyarakat sudah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumber walaupun secara sederhana. Sebagian besar responden mengatakan finansial adalah motivasi utama mereka dalam melakukan atau jika melakukan pemilahan sampah. Finansial disini maksudnya adalah sampah yang mereka pilah dapat dijual dan menghasilkan tambahan ekonomi untuk mereka. Terkait rintangan malas dan tidak tahu esensi, masih sama seperti rekomendasi di subchapter sebelumnya, pemberian wadah untuk pemilahan sampah dan penyesuaian cara edukasi yang lebih cocok dengan masyarakat dapat dilakukan. Sedangkan, terkait motivasi finansial ini akan dibahas lebih lanjut dalam subchapter keempat Ecoranger dan Sekola.

Gambar 17
Gambar 17 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis

Dalam segi regulasi, ada dua kelompok rintangan untuk melancarkan implementasi dan penegakkan aturan yang telah ada (lihat Gambar 18). Sebetulnya, Dusun Pancer telah memiliki Peraturan Desa Sumber Agung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sampat saat ini, Perdes ini belum pernah disosialisasikan ke masyarakat. Akibatnya, hanya dua orang dari total 104 responden yang mengetahui keberadaan Perdes ini, 1 orang diantaranya bahkan ragu kalo Perdes tentang sampah ini betul-betul ada. Untuk mengatasi masalah ini, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu sosialisasi Perdes dan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up approach). Sosialisasi Perdes dapat dilakukan oleh Ecoranger sendiri dengan meminta bantuan dari desa (jika ada dana) ataupun terus-menerus melakukan audiensi dan advokasi kepada Kepala Desa ataupun orang-orang di Kantor Desa untuk mendorong dilakukannya sosialisasi Perdes ini. Cara kedua adalah dengan melakukan pendekatan dari bawah ke atas, yaitu melakukan pendekatan dan advokasi ke ketua RT, ketua RW, dan Kepala Dusun yang menunjukkan antusiasme yang lebih baik dalam urusan pengelolaan sampah rumah tangga ini dibandingkan dengan Kepala Desa. Pendekatan dan kerja sama yang terus menerus dengan ketiga pemangku kepentingan ini diharapkan dapat menggerakan Kepala Desa juga pada akhirnya.

Rintangan kedua adalah peraturan tidak tertulis dalam penanganan sampah seperti tidak boleh membakar popok atau pembalut, namun membuangnya ke sungai atau laut dan juga mengikuti orang lain walaupun salah, misalnya dalam membuang sampah ke sungai. Manusia memang mengikuti kebiasaan sosial yang berlaku, sehingga jika membuang sampah ke sungai ini sudah menjadi “norma umum”, tidak aneh jika hal ini susah diubah. Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan di level RT menjadi penting untuk mengubah kebiasaan buruk ini dengan cara membuat kebiasaan baru di masyarakat yang lebih ramah lingkungan sampai pada tahap misalnya orang yang aneh adalah orang yang tidak memilah sampah dari rumah.

Gambar 18
Gambar 18 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Aspek Regulasi

Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA

Dalam segi Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA, ada satu kelompok rintangan dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan rencana di masa depan dari Ecoranger dan SEKOLA. Rintangan ini adalah keterlambatan membayar retribusi dan kesediaan bayar lebih tetapi dengan syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering oleh pihak SEKOLA. Dalam hal keterlambatan membayar retribusi, mayoritas warga bersedia membayar iuran di awal bulan, jadi waktu penagihan iuran mungkin bisa dipindahkan ke awal bulan agar lebih banyak klien yang membayar tepat waktu. Dalam hal syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering, pihak SEKOLA dapat menjadikan penambahan armada pengangkut sampah dari program BCAD sebagai daya tawar untuk mengedukasi warga agar mau melakukan pemilahan sampah dari rumah. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan sampah yang diberikan kepada petugas satu persatu sambil diingatkan agar melakukan pemisahan berdasarkan organik dan anorganik.

Dalam pelaksanaanya memang akan merepotkan tetapi hal ini cukup dilakukan selama 2 bulan awal agar masyarakat mau mengubah perilakunya terlebih dahulu. Agar memastikan sampah yang sudah dipilah tidak tercampur, ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu menggunakan sekat di armada atau melakukan pengangkutan sampah organik setiap hari dan sampah anorganik di waktu-waktu tertentu. Sebagai tambahan motivasi bagi masyarakat, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat unit tambahan di SEKOLA, yaitu unit bank sampah keliling. Jadi, sampah anorganik yang telat dipisah tadi akan dibayar oleh pihak SEKOLA seperti bank sampah pada umumnya.

Rekomendasi lainnya

Selain rekomendasi-rekomendasi di atas, ada beberapa tambahan rekomendasi yang dapat dilakukan oleh Ecoranger, yaitu:

  • Melakukan riset dan studi banding model bisnis ke tempat pengelolaan sejenis yang bisa menutupi biaya operasional keseluruhan dan bahkan mendapatkan profit
  • Melakukan pendekatan pilah sampah lewat sekolah-sekolah agar anak-anak menjadi agent of change untuk keluarga di rumah
  • Riset kerja sama dengan perguruan tinggi terkait inovasi dalam hal inovasi produk dan pengelolaan sampah, serta pemberdayaan multipihak
  • Melakukan kerja sama dengan SMK-SMK di sekitar Desa Sumber Agung terkait program inovasi produk dari sampah yang ada (misalnya semacam produk inovasi dari sampah popok yang dilakukan oleh Popokku Berkah) dan diintegrasikan dengan BUMDES
  • Kolaborasi BUMDES dengan SEKOLA untuk pembuatan program TPST

Acknowledgement

Riset ini merupakan salah satu bagian dari program kerja sama antara Greeneration Foundation, Kitabisa, dan BCA Digital yang akan dilakukan dari bulan September 2021 sampai April 2022 untuk meningkatkan keterpilahan sampah dari sumber di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kab. Banyuwangi. Jika ada pertanyaan lebih lanjut terkait riset ini, silahkan menghubungi Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, R&D Manager di Greeneration Foundation, melalui email aditya@greeneration.org.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah Berceceran

Dampak Sampah Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Dampak Sampah Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir

Selama ini, jarang terdengar bagaimana sampah bisa terkait dengan perubahan iklim. Padahal, jika tidak terkelola dengan baik, sisa konsumsi dan produksi kita dapat menjadi sampah yang menyumbang gas metana. Gas metana merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, yang lebih lanjut lagi mendorong pemanasan global (global warming).

Arie Herlambang dalam penelitiannya mengenai gas metana dari hasil pengelolaan sampah menyebutkan, saat ini terdapat kurang lebih 450 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kota besar dengan sistem open dumping. Sistem ini membiarkan sampah dibuang begitu saja di TPA, sehingga sampah akan menggunung dan rawan longsor.

Ia mengatakan bahwa potensi sampah yang diperoleh merupakan sampah yang dihasilkan dari 45 kota besar di Indonesia dan mencapai 4 juta ton/tahun. Potensi gas metana yang bisa dihasilkan dari sampah tersebut mencapai hingga 11.390 ton CH4 / tahun atau setara dengan 239.199 ton CO2 / tahun. Jumlah ini merupakan 64% dari total emisi sampah yang berasal dari 10 kota besar di Indonesia: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Palembang, Makassar, Bekasi, Depok, dan Tangerang.

Mengutip dari WWF Indonesia, ketika kita membuang makanan ke dalam tempat sampah, maka sampah-sampah tersebut akan dibawa dan terkubur di tempat pembuangan sampah. Kemudian, ketika sampah tersebut berada paling bawah akan mengalami pembusukan sehingga terbentuk gas metana. Gas metana akan merusak lapisan ozon bumi karena gas metana termasuk gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bernt Johnke, pembakaran sampah juga dapat menghasilkan gas rumah kaca, seperti CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik. CO2 merupakan gas utama yang dihasilkan oleh pembakaran sampah dan dihasilkan cukup tinggi dibandingkan dengan emisi gas lainnya.

Mencari Alternatif Pengelolaan Sampah Indonesia

Ilustrasi Sampah Makanan
Ilustrasi Sampah Makanan. (Sumber: Jasmin Sessler/Unsplash)

Open dumping masih menjadi sistem yang paling banyak dipraktikkan di berbagai kota di Indonesia. Tak heran, sistem ini sangat mengganggu bagi lingkungan. Idealnya, Indonesia mengelola sampah dengan controlled landfill dan sanitary landfill (urug saniter). Controlled landfill merupakan sistem lanjutan dari open dumping, di mana sampah yang diratakan dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan lapisan tanah setiap satu minggu.

Sementara itu, sanitary landfill adalah standar pembuangan sampah internasional. Dengan sanitary landfill, sampah dipadatkan dan diratakan, lalu ditutup dengan lapisan tanah setiap hari. Dikarenakan biaya operasional yang mahal, sistem ini masih jarang digunakan di TPA Indonesia.

Sistem pengelolaan sampah lain yang juga dipakai di Indonesia adalah insinerasi, menggunakan alat yang disebut insinerator. Insinerator digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu. Teknologi ini merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi timbunan limbah karena melibatkan pembakaran dengan suhu tinggi, dan energi panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan menjadi sumber listrik (waste to energy).

Selain itu, ahli kesehatan masyarakat juga mengingatkan bahasa insinerator bagi kesehatan dan lingkungan. Insinerator menghasilkan senyawa dioksin, senyawa paling beracun yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit reproduksi, hingga kerusakan imun. Selain dioksin, insinerator juga membuang merkuri dan partikel halus. Merkuri dapat berdampak buruk bagi saraf dan perkembangan otak anak, sementara partikel halus menyebabkan penurunan fungsi paru, kanker, serangan jantung, dan kematian dini. Terakhir, insinerator juga menghasilkan abu yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3), yang penangannya mahal karena sifatnya yang berbahaya.

Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Indonesia Masih Bergantung Pada Individu

Ilustrasi Sampah Plastik. (Sumber: Magda Ehlers/Pexels)

Sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum menerapkan pemilahan sampah secara masif. Ketika kamu sudah memilah sampahmu dari rumah, besar kemungkinan sampah tersebut akan dicampur lagi setelah diangkut. Ini mempersulit pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Indonesia, serta mendorong laju emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.

Generasi hijau, pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia masih sangat bergantung pada penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan yang dilakukan oleh individu. Ketika sampah anorganik yang kita hasilkan masih sulit dikelola dan didaur ulang, ada baiknya kita menerapkan sistem pengurangan dan penggunaan kembali (reduce dan reuse). Sementara untuk sampah organik, seperti sisa makanan dan sampah daun, bisa dikelola dengan melakukan kompos dari rumah.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

  1. Arie Herlambang, H. S. d. K. W., 2010. Produksi Gas Metana Dari Pengolahan Sampah. pp. 389 – 399.
  2. Johnke, B., n.d. Emissions from Waste Incineration. Good Practice Guidance and Uncertainty Management in National Greenhouse Gas Inventories, pp. 455-468.
  3. https://mdpi.com/2076-3298/8/8/73/pdf diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  4. https://mongabay.co.id/2019/02/22/open-dumping-sampah-harus-segera-ditinggalkan-bagaimana-langkahnya/ diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  5. https://mutuinstitute.com/post/apa-itu-alat-incinerator/ diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  6. https://theconversation.com/insinerator-sampah-akan-perparah-pencemaran-udara-jakarta-114017 diperoleh pada tanggal 3 September 2021.
  7. https://wwf.id/program/iklim-dan-energi diperoleh pada tanggal 3 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest