Tag Archives: konsumsi dan produksi berkelanjutan

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Bagaimana Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat
Ilustrasi warga menggunakan perahu motor saat terjadi banjir di Sintang Kalimantan Barat (Sumber: ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)

Banjir di Sintang Kalimantan Barat yang terjadi sejak awal November 2021 belum kunjung surut setelah lebih dari tiga pekan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang mencatat bahwa setidaknya terdapat 124.497 warga terdampak oleh banjir ini dan 25.884 di antaranya terpaksa harus mengungsi. Bencana banjir yang terjadi di Sintang saat ini merupakan salah satu potret nyata dari krisis iklim. Bencana banjir ini disebabkan oleh meningkatnya intensitas curah hujan akibat cuaca ekstrem dan berkurangnya daerah resapan air akibat deforestasi.

Deforestasi adalah aktivitas penebangan atau penggundulan hutan agar lahan hutan dapat dialihfungsikan untuk penggunaan lain di sektor non-kehutanan. Sejak 2010 hingga 2020, rata-rata net penyusutan hutan di dunia mencapai 4.7 juta hektar per tahun. Namun, angka laju deforestasi secara global justru lebih tinggi, yakni mencapai 10 juta hektar per tahun. Rata-rata net penyusutan hutan ini diukur dari jumlah deforestasi dan tambahan hutan yang tumbuh dalam suatu periode. Penyebab dari deforestasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti alih fungsi lahan untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan pertambangan. Komoditi yang dominan menyebabkan deforestasi secara global di antaranya adalah: daging sapi (41%), kedelai dan sawit (10%), dan produk kayu (5%).

Dampak Buruk Deforestasi

Hutan berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim karena memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dari proses fotosintesis. Namun, ketika ditebang atau dibakar, hutan justru akan mengeluarkan karbon yang tersimpan ke atmosfer. Setiap tahun, sekitar 5.2 miliar ton karbondioksida mencemari atmosfer karena deforestasi. Angka ini setara dengan 10% emisi gas rumah kaca global yang terhitung sejak 2009 hingga 2016.

Hilangnya fungsi hutan akibat deforestasi tentunya akan berdampak buruk terhadap keseimbangan ekosistem. Keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam hutan akan terancam punah. Selain itu, deforestasi juga dapat menyebabkan degradasi tanah, kekeringan, longsor, dan banjir sehingga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat seperti yang terjadi di Kabupaten Sintang.

Berbagai Upaya Atasi Deforestasi

Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi
Ilustrasi kayu hutan yang ditebang hasil deforestasi (sumber: pexels)

Pada awal November lalu, para pemimpin dunia berkumpul di Glasgow untuk KTT Perubahan Iklim atau COP 26 yang diselenggarakan oleh PBB untuk mendiskusikan aksi dan komitmennya untuk mengatasi krisis iklim. Isu deforestasi pun menjadi salah satu perbincangan penting dalam konferensi tersebut. Lebih dari 100 negara termasuk Indonesia telah sepakat untuk mengakhiri deforestasi di 2030. Negara lain yang menguasai sekitar 85% hutan secara global seperti Brazil, Kanada, Russia, China, Kongo, AS, dan Inggris pun turut menandatangani perjanjian tersebut. Melalui perjanjian ini, dana sekitar 19.2 miliar dollar direncanakan akan dialokasikan untuk merestorasi degradasi hutan, mengatasi kebakaran hutan, dan melindungi masyarakat.

Perjanjian untuk mengakhiri deforestasi di 2030 ini tentu bisa disambut baik, namun pada pelaksanaannya harus tetap dikawal dan diawasi. Pasalnya, perjanjian serupa pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa negara sebelumnya telah sepakat untuk mengurangi separuh deforestasi di 2020 dan mengakhirinya di 2030 melalui The New York Declaration on Forest 2014. Namun, pada kenyataannya angka laju deforestasi justru tetap meningkat.

Selain melalui upaya struktural, masyarakat juga dapat terlibat dalam upaya mengatasi deforestasi melalui aksi individu. Kini, beberapa organisasi lingkungan sudah menyediakan jasa donasi tanam pohon sehingga konsumen bisa langsung terlibat dalam upaya reforestasi secara mudah. Pada 28 November, Indonesia akan menyambut hari menanam pohon. Hari ini juga bisa dijadikan momen bagi masyarakat untuk menanam pohon baik secara mandiri atau melalui organisasi lingkungan.

Implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan pun tentunya berperan penting dalam mengatasi isu deforestasi. Pada acara COP 26, 28 negara bahkan sepakat untuk menolak perdagangan global untuk produk makanan dan pertanian yang terkait dengan deforestasi seperti minyak sawit, kedelai, dan kakao. Dalam tingkat individu, masyarakat dapat mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan menjalankan gaya hidup ramah lingkungan seperti hidup minim sampah, mengurangi penggunaan produk berlebihan, dan teliti dalam memilih merek produk.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

https://regional.kompas.com/read/2021/11/24/113424378/banjir-di-sintang-kalbar-jadi-yang-terbesar-dan-terlama-sejak-1963 Diakses pada 25 November 2021

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211116084504-20-721696/sebulan-banjir-sintang-25-ribu-orang-mengungsi-listrik-padam Diakses pada 25 November 2021

https://www.forestdigest.com/detail/1445/banjir-sintang Diakses pada 25 November 2021

https://ourworldindata.org/deforestation Diakses pada 25 November 2021

Deforestation can raise local temperatures by up to 4.5℃ – and heat untouched areas 6km away (theconversation.com) Diakses pada 25 November 2021

https://www.bbc.com/news/science-environment-59088498 Diakses pada 25 November 2021

https://theconversation.com/organized-crime-is-a-top-driver-of-global-deforestation-along-with-beef-soy-palm-oil-and-wood-products-170906 Diakses pada 25 November 2021

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Mengenal Carbon Pricing dan Peranannya dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca
Ilustrasi polusi emisi gas rumah kaca (sumber: Pixels/Pixabay)

Pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan upaya yang perlu kita lakukan untuk mencegah perubahan iklim dan menjaga laju pemanasan bumi tetap berada di bawah 1.5 derajat celcius. Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% melalui usaha sendiri dan 41% melalui bantuan Internasional serta berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060. Untuk mencapai target tersebut, Presiden Joko Widodo baru saja mengesahkan Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon atau yang lebih dikenal dengan istilah carbon pricing.

Nilai Ekonomi Karbon atau carbon pricing secara sederhana dapat diartikan sebagai mekanisme biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak pencemar emisi dan pemberian insentif kepada pihak yang mampu menghemat emisi. Kebijakan carbon pricing di Indonesia menerapkan prinsip polluters-pay-principle. Melalui prinsip ini, setiap pelaku kegiatan atau usaha yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca harus membayar biaya atas dampak pencemaran yang telah dihasilkannya. Kebijakan carbon pricing ini terdiri dari instrumen perdagangan dan non-perdagangan. Instrumen perdagangan karbon terdiri dari perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset). Sementara instrumen non-perdagangan dalam mekanisme carbon pricing terdiri dari pungutan/pajak atas karbon dan pembayaran berbasis hasil.

Apa Itu Perdagangan Karbon?

Perdagangan karbon adalah kegiatan jual beli kredit karbon antara pihak yang mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan dengan pihak yang mampu menyerap atau menghemat karbon. Sistem perdagangan karbon terbagi menjadi dua, yaitu perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dan penyeimbangan karbon (carbon offset).

Perdagangan izin emisi (emission trading system/ETS) dikenal juga dengan skema cap and trade. Pihak yang dapat terlibat pada perdagangan izin emisi ini di antaranya adalah organisasi, perusahaan, dan bahkan negara. Pada awal periode, para pihak yang terlibat dalam perdagangan izin emisi akan diberikan kuota atau batasan jumlah emisi yang boleh dihasilkan. Jika pada akhir periode suatu organisasi/perusahaan/negara memproduksi emisi lebih dari batasan yang sudah ditentukan, maka mereka harus membeli izin emisi dari pihak yang masih memiliki kuota izin emisi. Agar mereka dapat menjual kuota izin emisi yang mereka punya, maka mereka harus melakukan upaya penghematan emisi.

Mekanisme perdagangan karbon yang kedua adalah penyeimbangan karbon (carbon offset) atau yang juga dikenal dengan sistem baseline-and-crediting. Pada mekanisme ini, pembeli membeli kredit karbon dalam bentuk sertifikasi dari pihak yang sudah melakukan upaya penyerapan karbon melalui proyek hijau seperti penanaman pohon. Upaya ini dilakukan oleh pembeli untuk mencapai target net zero emission atau netral karbon.

Pajak Karbon dan Pembayaran Berbasis Hasil

Selain melalui perdagangan karbon, kebijakan lain yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan emisi adalah pemberlakuan pajak karbon dan pembayaran berbasis hasil. DPR RI baru saja mengesahkan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang di dalamnya mengatur tentang pajak karbon. Penerapan pajak karbon ini menggunakan sistem cap and tax, yaitu setiap pihak yang sudah melebihi batas emisi yang ditetapkan akan dikenakan wajib pajak dengan tarif Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen. Pajak karbon ini akan mulai diberlakukan di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara pada 1 April 2022.

Instrumen carbon pricing yang terakhir adalah pembayaran berbasis hasil, yaitu sistem pemberian insentif terhadap pihak yang sudah berhasil melakukan penurunan emisi melalui upaya mitigasi tertentu. Pengukuran keberhasilan ini tentunya sudah disepakati dan diverifikasi oleh Sekretariat UNFCCC atau tim teknis yang sudah ditunjuk oleh UNFCCC.

Bagaimana Kebijakan Carbon Pricing Berperan dalam Mengatasi Perubahan Iklim?

Ilustrasi bibit tanaman
Ilustrasi bibit tanaman (sumber: pexels)

Kebijakan carbon pricing ini memberi beberapa keuntungan bagi upaya pencegahan perubahan iklim seperti mendorong pelaku usaha untuk mengurangi emisi, mendorong terbukanya investasi hijau, dan mengatasi kesulitan dalam membiayai dana perubahan iklim. Dengan kebijakan ini, diharapkan para pelaku usaha dapat menjalankan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Namun kebijakan carbon pricing ini juga tidak lepas dari kritikan. Beberapa organisasi lingkungan menilai kebijakan carbon offset bukan solusi yang tepat untuk atasi perubahan iklim karena hanya akan memberi celah bagi korporasi untuk membenarkan pembabatan hutan dan melakukan konsesi lahan dengan menukarkan emisinya dengan program pengurangan emisi di tempat lain. Kebijakan ini menjadi dinilai bermasalah karena emisi yang akan diserap belum tentu seimbang dengan emisi yang sudah dikeluarkan mengingat setiap wilayah memiliki daya serap emisi yang berbeda. Selain itu, keanekaragaman hayati yang berada di suatu wilayah juga tidak dapat ditukar dengan mudah.

Penerapan tarif pajak karbon sebesar Rp30 per kilogram CO2e di Indonesia juga dinilai terlalu rendah. Tarif ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Singapura yang memasang tarif pajak karbon senilai Rp56.89 per kilogram CO2e. Pada awalnya, RUU Harmonisasi Peraturan Perpajakan mengatur tarif pajak karbon senilai Rp75 per kilogram CO2e, namun upaya ini tidak terealisasikan.

Terlepas dari kontroversi yang diperdebatkan, kebijakan carbon pricing ini dapat menjadi angin segar bagi upaya pembangunan yang sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan ini tetap perlu kita kawal bersama-sama.

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-iklim/#:~:text=Tujuan%20utama%
  • 20dari%20pengenaan%20pajak,ekonomi%20hijau%20yang%20rendah%20karbon.&text=Tarif%20Rp30%20per%20kilogram%20karbon,yang%20melebihi%20cap%20yang%20ditetapkan diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/
  •  
  • fiskalpedia/2021/10/06/18-nilai-ekonomi-karbon-carbon-pricing diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.icdx.co.id/news-detail/publication/apa-yang-dimaksud-dengan-perdagangan-karbon diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/
  •  
  • berita/pajak-karbon-sebagai-instrumen-pengendali-perubahan-i
  •  
  • https://tirto.id/pajak-karbon-di-uu-hpp-langkah-maju-tapi-tarif-terlalu-rendah-gkfz diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 
  •  
  • https://unfccc.int/about-us/regional-collaboration-centres/the-ci-aca-initiative/about-carbon-pricing#eq-1 diakses pada tanggal 17 Oktober 2021. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dan Peluang Green Jobs di Indonesia

Konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi kota Jakarta pada masa PSBB (Pexels/Tom Fisk)

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 telah mengakibatkan kemunduran besar di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Di samping itu, umat manusia juga harus bersiap untuk menghadapi ancaman yang lebih besar, yaitu perubahan iklim. Para ilmuwan telah memprediksi bahwa cuaca dan bencana ekstrem akan lebih sering terjadi akibat perubahan iklim sehingga dapat menurunkan produktivitas di berbagai sektor terutama pertanian. Selain itu, perubahan iklim juga dapat menurunkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat. 

 

Oleh karena itu, secara makro perubahan iklim juga dapat berdampak terhadap perekonomian. Jika pada 2050 suhu bumi tetap naik hingga 3.2 derajat celcius, maka PDB global diprediksi akan menurun hingga 18%. Bappenas juga memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 115 Triliun pada 2024 akibat perubahan iklim di sektor air, kesehatan, laut pesisir, dan pertanian. 

 

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Indonesia pun sedang bersiap untuk melakukan upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan. Upaya ini bertujuan untuk mengatasi dampak ekonomi dari pandemi sekaligus mencegah dan menangani isu perubahan iklim. Sektor berkelanjutan yang diprioritaskan pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi berkelanjutan di antaranya adalah pengembangan energi terbarukan, ekowisata, dan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Berwawasan Lingkungan. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini dapat mendorong implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan serta sesuai dengan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan Internasional pada 2030. Pemulihan ekonomi berkelanjutan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru di bidang lingkungan atau green jobs bagi masyarakat khususnya anak muda yang masih dalam usia produktif.  

green jobs untuk konsumsi dan produksi berkelanjutan
Ilustrasi teknisi pemasangan panel surya (Pexels/Los Muertos)

Apa Itu Green Jobs?

Green jobs adalah pekerjaan yang bertujuan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas ekonomi. Namun, perlu diingat bahwa meskipun suatu pekerjaan pada prinsipnya ‘hijau’ dan turut berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan, tidak semua pekerjaan tersebut dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang layak. Pemulung dan petugas persampahan contohnya seringkali mendapatkan perlindungan dan upah yang minim karena sistem pengelolaan sampah yang belum layak. Oleh karena itu, upaya peningkatan green jobs pun perlu memperhatikan kesejahteraan dan mutu pekerjanya. 

 

Green jobs juga tidak hanya mengacu bagi para pekerja yang menekuni bidang lingkungan secara khusus seperti spesialis konservasi alam atau insinyur teknik lingkungan. Jenis pekerjaan lainnya juga dapat dikatakan green jobs selama mendukung upaya pelestarian lingkungan. Perancang busana ramah lingkungan, arsitek ramah lingkungan, content creator ramah lingkungan, petani dan peternak ramah lingkungan juga dapat dikategorikan sebagai green jobs.

Peluang Green Jobs di Indonesia

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan bahwa secara global ekonomi hijau dapat menciptakan 24 juta lapangan kerja baru di 2030. Sementara di Indonesia sendiri, penerapan ekonomi sirkular yang berdasarkan prinsip berkelanjutan juga berpotensi menciptakan 4.4 juta lapangan kerja baru di 2030. Selain itu, masa peralihan transisi juga berpotensi menciptakan 1.721.435 juta lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan pada 2030. 

 

Potensi green jobs ini tentunya perlu didukung oleh setiap pemangku kepentingan. Hal yang dapat dilakukan untuk mendukung green jobs di Indonesia di antaranya adalah: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang green jobs, memberikan stimulus untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan mendorong pihak swasta untuk membuka lapangan kerja hijau atau green jobs. 

 

Implementasi prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan di sektor ekonomi juga tentunya dapat membuka peluang green jobs lebih banyak. Oleh karena itu, para pelaku usaha perlu didorong untuk menerapkan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan dalam menjalankan usahanya. Selain itu, untuk mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan, minat masyarakat terhadap barang atau jasa ramah lingkungan pun perlu ditingkatkan.  

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

Referensi

  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim diakses melalui: https://katadata.co.id/happyfajrian/ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021/09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath
  • Merchant, Natalie. (2021, 28 Juni). This is How Climate Change Could Impact the Global Economy.: https://www.weforum.org/agenda/2021/
  • 06/impact-climate-change-global-gdp/
  •  
  • Setiawan, Verda. (2021, 21 Juli). Bappenas: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim https://katadata.co.id/happyfajrian/
  • ekonomi-hijau/60f7d280e4b6d/bappenas-potensi-kerugian-ekonomi-akibat-perubahan-iklim-rp-115-t
  •  
  • Kwan, Marlis. (2020, 30 Oktober). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif Kajian Makroekonomi Diakses melalu: https://www.mongabay.co.id/2020/10/
  • 30/dampak-perubahan-iklim-dalam-perspektif-kajian-makroekonomi/
  •  
  • IESR. Potensi Green Jobs di Era Transisi Energi. Diakses melalui: https://iesr.or.id/infografis/potensi-green-jobs-di-era-transisi-energi
  •  
  • ILO. Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan di Indonesia. Diakses melalui: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/
  • public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-
  • jakarta/documents/publication/
  • wcms_149950.pdf
  •  
  • Kimbrough, Karin. (2021, 23 September. Sectors Where Green Job Are Growing in Demand. Diakses melalui: https://www.weforum.org/agenda/2021
  • /09/sectors-where-green-jobs-are-growing-in-demand/
  •  
  • IESR. Green Jobs is A Recovery Solution for COVID-19 Aftermath Diakses melalui: https://iesr.or.id/en/green-job-is-a-recovery-solution-for-covid-19-aftermath

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Bahaya Parasetamol yang Mencemari Teluk Jakarta

Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut
Ilustrasi Sampah yang Tercemar di Laut. (Sumber: nationalgeographic.grid.id)

Parasetamol terkenal di kalangan masyarakat sebagai obat pereda rasa nyeri dan dapat menurunkan panas. Jenis obat ini telah dikonsumsi oleh masyarakat sebanyak ribuan ton per tahunnya. Dikutip dari Kompas.com, pada awal Oktober 2021 lalu, ditemukan kandungan parasetamol berkonsentrasi tinggi yang tercemar di daerah Muara Angke dan Ancol, Jakarta Utara.

Akibat tercemarnya parasetamol tersebut menyebabkan kawasan Teluk Jakarta memiliki air laut yang berubah warna dari biru menjadi merah kecoklatan. Hal ini juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat sekitar seperti nelayan yang harus mencari ikan hingga ke tengah lautan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Brighton asal Inggris, mengungkapkan bahwa konsentrasi parasetamol tinggi yang tercemar di Teluk Jakarta mengandung 610 nanogram per liter pada Muara Sungai Angke dan sebanyak 420 nanogram per liter pada Muara Sungai Ciliwung Ancol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan ke publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak mengetahui adanya kadar parasetamol tinggi pada perairan Teluk Jakarta.

Namun, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusiono berdalih bahwa pihak pemerintah tidak pernah menganalisis adanya kadar parasetamol pada perairan Jakarta dikarenakan menurutnya zat tersebut tidak termasuk dalam daftar indikator pencemaran lingkungan.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Peraturan Pemerintah itu menyebutkan bahwa ada 38 parameter yang merupakan indikator dari pencemaran lingkungan dan parasetamol tidak termasuk di dalamnya. Meskipun demikian, pihak Pemprov DKI Jakarta rutin meneliti kualitas air laut Ibukota setiap enam bulan sekali sesuai perintah perundangan.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI DKI Jakarta) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi mengungkap pendapatnya bahwa obat parasetamol tidak termasuk dalam parameter pencemaran lingkungan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rehabilitasi Teluk Jakarta termasuk dalam daftar kegiatan strategis. Oleh karena itu, sudah seharusnya upaya pencegahan pencemaran lingkungan dilakukan oleh pemerintah.

Tubagus juga mengungkapkan penelitian yang telah dilakukan oleh BRIN dan Universitas Brighton pada tahun 2018-2019 lalu memiliki proses penelitian yang panjang sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi bersama LIPI serta ahli dari berbagai bidang terkait dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini, karena setiap terjadi pencemaran lingkungan dipastikan akan mempengaruhi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Terkait sumber limbah tersebut, Tubagus mengatakan banyak dugaan yang bisa menjadi penyebab tercemarnya Teluk Jakarta. Untuk dapat memastikan hal tersebut, sudah diungkapkan melalui peneliti yang sempat terlibat dalam studi yang terbit di jurnal Science Direct pada Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 hingga 70 persen pencemaran di laut yang sumbernya datang dari daratan atau antropogenik (dilakukan manusia).

Dalam kasus pencemaran air di daerah Muara Angke dan Ancol oleh parasetamol konsentrasi tinggi, kemungkinan besar menurut peneliti sumbernya berasal dari daerah Jabodetabek. Dugaan pertama yaitu bisa karena gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, obat-obatan kadaluarsa atau rusak kemudian dibuang sembarangan. Dugaan kedua yaitu instalasi pembuangan air limbah yang tidak optimal.

Peneliti menjelaskan, parasetamol tidak bisa terendapkan oleh jaring limbah yang saat ini digunakan. Ini artinya, kita memerlukan inovasi teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Sementara itu, Dr. Wulan Koaguow yang juga Peneliti Oseanografi BRIN dan terlibat dalam penelitian menambahkan bahwa sebenarnya semua obat-obatan bisa menjadi kontaminan lingkungan.

Langkah Mengolah Sampah Obat yang Tepat

Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat
Cara Mengolah Sampah Obat yang Tepat. (Sumber: Wikihow)

Generasi Hijau, berikut beberapa langkah tepat yang dapat kita lakukan dalam mengelola sampah obat-obatan yang sudah kadaluarsa ataupun rusak sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah hingga terjadinya pencemaran lingkungan seperti peristiwa pada perairan di Teluk Jakarta yang disebabkan oleh parasetamol berkonsentrasi tinggi. Di antaranya adalah:

Obat yang belum lewat dari tanggal kadaluarsa bisa kita donasikan ke klinik amal untuk diberikan kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini hanya berlaku untuk kondisi obat yang masih bagus. Artinya, obat masih berada dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol yang belum dibuka atau masih tersegel rapi.

Sementara untuk obat yang sudah kadaluarsa, bisa kita titipkan ke apotik, rumah sakit, ataupun pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa. Namun, sebelum kita titipkan jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Seperti misalnya, stiker pada botol yang disobek, kotak kemasan yang digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa ada pihak yang bisa menyalahgunakan obat kadaluarsa ini.

Apabila jumlah obat yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, kita dapat juga dititipkan seperti di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen. Vitamin dan mineral cair bisa dipakai sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman. Jika obat berbentuk kapsul, isinya bisa dikeluarkan, sedangkan obat yang berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti obat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak ataupun hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut. Untuk obat-obatan ini direkomendasikan untuk dibuang dengan cara diguyur ke dalam toilet segera setelah tidak lagi digunakan.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://propertyobserver.id/cara-mengelola-sampah-obat-kita/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.liputan6.com/news/read/

4676263/headline-perairan-teluk-jakarta-tercemar-parasetamol-seberapa-bahaya diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2021/

10/04/130100923/teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-peneliti-duga-sumbernya-dari-sini?page=all diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

https://www.alinea.id/nasional/seberapa-bahaya-parasetamol-yang-mencemari-teluk-jakarta-b2cCa97m8 diakses pada tanggal 12 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Coral Bleaching

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Coral Bleaching, Sang Pembunuh Terumbu Karang

Ilustrasi Coral Bleaching
Ilustrasi Coral Bleaching. (Sumber: theguardian.com)

Sekitar 18% terumbu karang dunia tumbuh di Indonesia, dengan luas mencapai 50.785 kilometer persegi. Terumbu karang memberikan tempat bernaung bagi ikan hias dan ikan santap, melindungi daerah pesisir dari erosi dan badai, serta memberikan penghidupan bagi nelayan serta pekerja industri wisata. Begitu banyak manfaat dari terumbu karang di laut kita. Sayangnya, ada satu ancaman terhadap eksistensi terumbu karang, yakni coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Mengenal Coral Bleaching

Terumbu karang terdiri dari banyak polyps yaitu binatang kecil yang berbentuk kantung dan memiliki ujung yang mekar dengan tentakel-tentakel kecil. Di dalam polyps, terdapat ganggang hidup yang ukurannya sangat kecil dan disebut zooxanthellae. Ganggang kecil ini yang memberikan warna pada terumbu karang.

Hubungan antara terumbu karang dengan zooxanthellae termasuk ke dalam hubungan simbiosis mutualisme di mana terumbu karang menyediakan tempat tinggal untuk ganggang kemudian tumbuhan laut tersebut memberikan gizi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Namun, ketika terjadi perubahan suhu pada air laut, ganggang tersebut akan meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. Salah satu dampak yang akan terjadi ketika ganggang kecil tersebut pergi adalah bagian luar dari terumbu karang yang berwarna putih akan terlihat karena polyps tidak memiliki warna (transparan). Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Dilansir dari National Geographic, hingga saat ini pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sudah terjadi di wilayah Australia hingga Madagaskar. Selama tahun 2014 sampai tahun 2017, terjadi peristiwa coral bleaching terbesar di dunia dan telah mencapai angka 70%. Meski masih mampu bertahan hidup tanpa adanya ganggang, akan tetapi terumbu karang akan menjadi rentan terserang penyakit. Terlebih jika suhu air laut yang mengalami kenaikkan suhu, maka kemungkinan besar terumbu karang akan mati. Sekalipun suhu air laut kembali normal dan ganggang kembali ke dalam terumbu karang, maka memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun kemudian agar terumbu karang dapat pulih secara sempurna.

Penyebab Utama Terjadinya Coral Bleaching

Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati
Ilustrasi Terumbu Karang yang Mati. (Sumber: marineconservation.org.au)

Penyebab utama terjadinya coral bleaching adalah karena perubahan suhu, polusi, dan penangkapan makhluk laut yang berlebihan. Kenaikkan suhu air laut baik di atas ataupun di bawah dari suhu normal dapat memicu terjadinya peristiwa coral bleaching. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik atau secara optimal di laut tropis pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius.

Ketika terjadi perbedaan suhu 2 hingga 3 derajat celsius di atas ataupun di bawah dari suhu normal dalam kurun waktu antara satu sampai dua minggu, terumbu karang akan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya coral bleaching. Ketika perubahan suhu terjadi hingga satu bulan, maka seluruh koloni karang, karang lunak, anemon dan zoanthid akan memutih bahkan akan mengalami kematian pada minggu keenam.

Massa air hangat di laut juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sementara penurunan suhu laut juga dipengaruhi Indian Ocean Dipolemode, terutama pada coral bleaching di bagian barat Sumatera, kadang-kadang disebabkan oleh turunnya suhu di bawah normal yaitu kurang dari 26 derajat celsius.

Dapatkah Terumbu Karang yang Mengalami Coral Bleaching Kembali Pulih?

Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat
Penampakan Coral Bleaching Secara Dekat. (Sumber: gilisharkconservation.com)

Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul di benak kita setelah membaca uraian mengenai coral bleaching. Pemulihan terumbu karang akan tergantung pada jenis terumbu karang serta tingkat stress yang dialami oleh terumbu karang akibat perubahan suhu air laut di sekelilingnya.

Beberapa terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, seperti terumbu karang dari kelompok Pociliporoid dan Acroporoid. Sementara, ada juga jenis terumbu karang yang cukup kuat untuk tetap bertahan dalam mengalami perubahan suhu air laut, seperti terumbu karang jenis Porites dan polyp besar. Terumbu karang jenis ini akan kembali normal apabila kenaikkan suhu tidak lebih dari enam minggu hingga satu bulan. Namun, apabila kenaikkan suhu air laut hanya terjadi selama dua hingga tiga minggu, biasanya terumbu karang dapat bertahan dan akan segera pulih kembali warnanya seperti semula.

Pada prinsipnya, sebenarnya terumbu karang hanya mengalami stress dan jika faktor penyebab stress tersebut hilang seperti suhu yang kembali normal maka karang akan segera pulih kembali. Kondisi sebaliknya bisa terjadi yaitu coral bleaching yang sangat parah diikuti oleh faktor lain yang memperparah kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contohnya yaitu ketika terjadi coral bleaching secara bersamaan dengan waktu transisi pada musim peralihan. Pada kondisi ini, air laut sangat tenang ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini biasanya akan muncul berbagai pertumbuhan filamentus, turf alage, cyanobacteria dan penyakit karang. Jika hal ini terjadi maka akan sangat berakibat fatal.

Intervensi Manusia pada Pemulihan Terumbu Karang

Pada dasarnya, terumbu karang bisa memulihkan diri sendiri. Akan tetapi, Generasi Hijau pun juga dapat mengambil berbagai langkah untuk memulihkan terumbu karang yang memutih, serta mencegah pemutihan pada terumbu karang yang sehat.

Menjalankan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dalam kehidupan sehari-hari ataupun saat berwisata, dapat menjadi solusi. Walau hidup jauh dari laut, Generasi Hijau yang bercocok tanam dapat menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida agar senyawa kimia tidak masuk dalam saluran air yang akan berakhir di laut. Generasi Hijau juga bisa memilah sampah agar tidak ada sampah yang tercecer dan berakhir di laut. Di rumah, hematlah air, agar mengurangi air sisa yang kotor dan dapat mencemari laut.

Saat berwisata di pantai, Generasi Hijau dapat menggunakan tabir surya ramah lingkungan, agar senyawa kimia berbahaya tidak larut dalam air laut ketika berenang. Dalam aktivitas diving atau snorkeling, pastikan jangkar kapal tidak menyentuh terumbu karang. Pastikan juga Generasi Hijau tidak menyentuh terumbu karang, dan tidak ada limbah yang dibuang dari kapal ke laut. Terakhir, tentu saja, jangan buang sampah di pantai atau laut, dan ikuti kegiatan volunteer membersihkan pantai, seperti yang dilakukan kawan-kawan EcoRanger di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.

Dalam jangka yang lebih panjang, menghambat pemanasan global adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan coral bleaching. Jadi, pastikan juga Generasi Hijau sudah memulai langkah menghambat pemanasan global, seperti beralih ke energi terbarukan, menggunakan transportasi umum atau transportasi tanpa bahan bakar fosil, serta membaca label karbon pada produk yang Generasi Hijau konsumsi.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

http://coremap.or.id/berita/1172 diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131623449/coral-bleaching-fenomena-hilangnya-warna-indah-terumbu-karang diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://reefresilience.org/id/stressors/bleaching/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/18/173000923/cegah-pemutihan-terumbu-karang-diberi-makan-bakteri-probiotik?page=all diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

https://www.instagram.com/p/CUWZcP_h7Nz/ diakses pada tanggal 7 Oktober 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Gletser Terakhir Kebanggaan Indonesia yang Terancam Punah

Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua
Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua. (Sumber: Shutterstock)

Perubahan iklim telah memberi dampak besar bagi dunia, tak terkecuali juga Indonesia. Gletser kebangaan Indonesia yang berada di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, atau sering disebut juga sebagai Puncak Carstensz ini ternyata ikut terkena dampak dari memanasnya suhu bumi. Gletser yang terletak di Taman Nasional Lorentz di Provinsi Papua merupakan gletser tropis terakhir yang ada di Asia. Beberapa orang menyebut gletser ini dengan sebutan “Gletser Keabadian” yang meski pada kenyataannya, gletser ini tentu tidak akan bisa bertahan lama. Gletser yang berada di atas puncak Pegunungan Jayawijaya ini merupakan sisa dari daratan es yang terbentuk sekitar 5.000 tahun lalu.

Gletser tropis merupakan salah satu indikator perubahan iklim yang paling sensitif. Kini jumlahnya semakin sedikit yang tersisa di dunia. Selain di Papua, gletser tropis juga terdapat di Amerika Selatan dan Afrika. Sedangkan, Pegunungan Jayawijaya merupakan pegunungan tertinggi di Indonesia, puncak tertinggi antara pegunungan Himalaya dan Andes. Pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, penurunan suhu dan hujan berubah menjadi salju, selanjutnya akan membentuk es dan akan memadat menjadi gletser. Indonesia adalah salah satu wilayah terbasah di bumi, dan hujan turun di kawasan Papua hampir 300 hari dalam setahun. Akan tetapi, suhu yang memanas membuat hujan tidak lagi berubah menjadi salju. Akibatnya, gletser mencair dari atas dan bawah.

Peneliti senior BMKG, Donaldi Permana, mengatakan bahwa sebagian orang Indonesia masih kurang mengetahui keberadaan gletser ini. Meskipun puncak Pegunungan Jayawijaya tidak memiliki es pada daerah puncaknya namun terdapat beberapa lapisan es di sekitarnya. Ia juga menjelaskan bahwa proses mencairnya es pada gletser yang tergolong cepat tersebut dapat dilihat berdasarkan data mengenai penyusutan luasan wilayah gletser dari tahun 1850 hingga 2018.

Pada tahun 1850, gletser memiliki luas 19,3 km2. Kemudian pada tahun 1972, luas gletser menyusut menjadi 7,3 km2. Data pada tahun 2018 menunjukkan kondisi luas gletser yang mencapai 0,5 km2. Melihat hal ini, para ilmuwan memperkirakan bahwa gletser puncak Pegunungan Jayawijaya akan benar-benar menghilang pada tahun 2026 nanti, akan tetapi gletser diprediksi kemungkinan terburuknya bisa punah atau menghilang pada tahun 2021 ini. Tentunya hal Ini menjadi petunjuk penting bagaimana perubahan iklim bumi yang semakin dekat.

Penyebab Penyusutan Gletser

Ilustrasi Glester yang Meleleh
Ilustrasi Gletser yang Meleleh. (Sumber: Christopher Michel/Flickr)

Penyebab dari penyusutan gletser ini adalah perubahan iklim yang ekstrim yang ditandai dengan pemanasan global. Mengutip laporan Indonesian Third National Communication, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celcius dan suhu permukaan naik sebanyak 0,25 derajat celcius per dekade.

Di Indonesia khususnya, fenomena El Nino memperparah penyusutan gletser di Papua yang terjadi semakin cepat dari tahun ke tahun. Fenomena El Nino merupakan peristiwa iklim di mana suhu permukaan air laut dan suhu atmosfer meningkat. Fenomena ini terjadi ketika udara hangat memangkas curah hujan sehingga akan menyebabkan daerah sekitarnya menjadi mengering.

Sebagai dampaknya, penyusutan gletser ini akan berdampak pada daerah-daerah di sekelilingnya. Dampak lainnya juga dirasakan oleh masyarakat suku asli Papua yang menganggap gletser ini adalah dewa sehingga menyusutnya gletser ini dianggap akan kehilangan sosok pemimpin dalam budaya dan adat di suku Papua tersebut.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya
Gletser di Puncak Pegunungan Jayawijaya. (Sumber: Shutterstock)

Fenomena El Nino merupakan faktor pendorong terbesar penyusutan gletser ini. Namun, tidak hanya penyusutan gletser saja yang terdampak oleh fenomena tersebut, melainkan kebakaran hutan yang juga menarik perhatian pemerintah dalam memperhatikan dampak yang disebabkan oleh fenomena El Nino.

Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan 16 provinsi berisiko mengalami kebakaran hutan menjelang fenomena El Nino yang ditentukan oleh pola iklim. Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino dapat diantisipasi oleh pemerintah. Apabila fenomena El Nino dapat dikendalikan, maka harapannya akan tersisa untuk gletser terakhir di Indonesia.

Diskusi mengenai El Nino lebih banyak berputar soal isu mitigasi ketimbang pencegahan. Dalam isu gletser Jayawijaya, mitigasi akan membantu penduduk Papua merespons akibat dari penyusutan gletser dan tentunya perubahan iklim, namun tidak membantu pencegahan penyusutan gletser itu sendiri.

Konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menjadi kunci pencegahan penyusutan gletser. Semakin banyak orang memilih barang dan jasa yang terbukti lebih ramah lingkungan dan menghasilkan lebih sedikit karbon, produsen akan terdorong untuk menyesuaikan permintaan pasar dengan memproduksi barang dan jasa yang lebih ramah lingkungan pula. Mengurangi konsumsi energi fosil dengan cara menghemat listrik, transisi ke energi terbarukan, serta menggunakan transportasi umum menjadi beberapa cara sederhana untuk memulai langkah tersebut.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/05/183300823/puncak-jaya-papua-gletser-terakhir-di-asia-yang-diprediksi-punah-tahun?page=all diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.suara.com/news/2020/12/04/165957/puncak-jaya-di-papua-jadi-gletser-tropis-terakhir-di-dunia-terancam-punah diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.dw.com/id/gletser-di-papua-akan-punah-dalam-satu-dekade/a-51653411 diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/13/ragam-upaya-mencegah-hilangnya-salju-papua diakses pada tanggal 30 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2020/06/17/the-last-glacier-runtuhnya-salju-abadi-papua/ diakses pada tanggal 30 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Gambar 1

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Sudah 3 Tahun Berjalan, Bagaimana Kondisi Teknis dan Sosial dari Program EcoRanger di Banyuwangi?

Latar Belakang

Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) merupakan infrastruktur pengelolaan sampah yang dikelola oleh Greeneration Foundation di bawah program EcoRanger dan telah berjalan hampir tiga tahun. Sentra Kelola Sampah, merupakan infrastruktur pengelolaan sampah satu-satunya di daerah Dusun Pancer. Di SEKOLA, sampah dikumpulkan dan dipilah lalu dilakukan pendataan terkait jumlah sampah. Setelah itu, sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sampah yang bisa direcycle dijual ke industri daur ulang dan sisanya dibuang ke TPA. Sampai saat ini, SEKOLA berhasil memberikan pelayanan pengelolaan sampah ke 300 KK. SEKOLA merupakan program pilot yang diharapkan dapat diperbesar cakupan jangkauan layanannya melalui kerja sama multi pihak di Dusun pancer, terutama Pemerintah Desa.

Namun, proses pengolahan sampah tidak efisien di SEKOLA masih tidak efisien karena pemilahan sampah oleh masyarakat dari sumber untuk daerah domestik layanan SEKOLA masih kurang dari 5%. Ketidakefisienan dalam melakukan pemilahan di sumber menyebabkan biaya operasional yang membesar dan menurunkan tingkat daur ulang. Padahal, pemilahan di sumber merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah sampah ke TPA.

Riset ini dilakukan untuk meningkatkan pemilahan dari sumber di Dusun Pancer dengan menginvestigasi pemahaman dan perilaku masyarakat di Dusun terkait dengan sampah. Tujuan-tujuan dari riset ini adalah:

 

      1. 1. Menganalisis tingkat pemilahan sampah dari sumber, baik klien SEKOLA maupun non-klien;
    1. 2. Menganalisis kondisi sosial dan budaya masyarakat Dusun Pancer untuk mendukung program edukasi persampahan;
    2. 3. Mengidentifikasi regulasi persampahan yang berlaku di Dusun Pancer beserta keberjalanan penegakannya;
    3. 4. Memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan pemilahan sampah di Dusun Pancer.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tempat yang sama dengan letak SEKOLA, yaitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (peta lokasi dapat dilihat pada Gambar 1). Dusun Pancer terdiri dari 3 RW dan 21 RT dengan jumlah penduduk (2017) sebanyak 1.648 KK dan 4.888 jiwa. Di Dusun Pancer juga terdapat dua pantai utama yang menjadi tempat berkunjungnya wisatawan, yaitu Pantai Pulau Merah & Pantai Mustika.

Gambar 1
Gambar 1 Peta Lokasi Dusun Pancer

Kegiatan penelitian ini dilakukan khusus di RW 2 dan RW 3 yang merupakan cakupan wilayah layanan SEKOLA. Proses pengambilan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling yang dilakukan ke 50 orang di RW 2 dan 54 orang di RW 3 di mana dari 104 orang tersebut 56 diantaranya adalah klien yang berlangganan layanan SEKOLA dan 48 orang lainnya adalah non-klien. Pengambilan data ini dilakukan untuk mengidentifikasi penyampaian informasi dan komunikasi, perilaku memilah dan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, dan evaluasi keberjalanan Ecoranger dan SEKOLA. Pertanyaan yang digunakan terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Data yang dikumpulkan merupakan campuran antara data kuantitatif dan kualitatif. Topik-topik pertanyaan yang ditanyakan adalah terkait karakteristik demografi, cara berkomunikasi, penyebaran informasi, keadaan kelompok masyarakat, pengetahuan umum mengenai persampahan, konsep 3R, pewadahan sampah, biaya retribusi, dan peraturan persampahan.
  • Wawancara semi-terstruktur dilakukan menggunakan beberapa set pertanyaan yang terkait pengelolaan sampah di Dusun Pancer berdasarkan lima aspek persampahan, yaitu: partisipasi masyarakat, operasional, pendanaan, regulasi, dan institusi. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling agar pemangku kepentingan yang dipilih beragam dari berbagai macam pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
  • Lembaga lokal (Ketua RT, Ketua RW 2 dan Ketuan RW 3, Kepala Dusun, KUB, Pokmas, DLH Banyuwangi)
  • Industri daur ulang (3 orang pengepul dan 3 orang dari industri daur ulang)
  • Petugas persampahan (2 orang pemulung dan 1 orang petugas pengangkut sampah)

Sampling sampah dilakukan menggunakan metode kuadran. Sampling sampah ini dilakukan untuk mencari tahu komposisi dan berat jenis sampah, jika dibutuhkan untuk memperluas SEKOLA. Sampling dilakukan sebanyak dua kali di SEKOLA, yaitu satu kali saat weekday dan satu kali saat weekend, setelah semua sampah telah diangkut ke SEKOLA. Jumlah sampel sampah yang diambil adalah 25% dari sampah yang masuk di hari tersebut. Sampling sampah dilakukan menggunakan sampling box untuk menghitung berat, volume, dan densitas dari sampah dengan ukuran 100 cm x 21 cm x 21 cm. Sampah dipilah menjadi 8 jenis, yaitu organik, plastik, kresek, logam, kertas, kaca, karet, dan residu

Hasil Penelitian

Demografi Responden Penduduk

Dari 104 responden penduduk yang diwawancarai, 67,3% diantaranya adalah wanita. Usia responden terbanyak adalah di antara 36 hingga 45 tahun. Sekitar 43% responden merupakan lulusan sekolah dasar dan hampir separuh responden memiliki pendapatan kurang dari Rp 2.000.000 per bulannya. Seluruh responden penduduk ini berasal dari RW 2 dan RW 3 Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi. Jumlah warga yang diwawancarai sebanyak 56 orang klien dan 48 orang non-klien. Rangkuman data mengenai demografi responden dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2a
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2b
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2c
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan
Gambar 2d
Gambar 2 Profil responden: a) gender; b) usia; c) pendidikan; d) pendapatan bulanan

Kondisi Sosial

Informasi dan Komunikasi

Berdasarkan hasil wawancara, sekitar 90% responden memperoleh informasi tentang sesuatu hal di lingkungan mereka melalui ketua RT/RW tempat mereka tinggal dan 74% responden memperoleh informasi melalui pengumuman lewat masjid. Untuk cara penyampaian informasi lain seperti melalui tetangga, keluarga, puskesmas, PKK, karang taruna, atau media digital, digunakan hanya sebagian kecil responden saja (2%-22%). Hal ini didukung juga dengan temuan bahwa hanya sekitar 48% responden yang menggunakan media digital dan hanya 12,5% responden yang menggunakan media digital sebagai media untuk menyebarkan informasi. Tidak ada perbedaan yang jauh antara cara memperoleh informasi antara klien dan non klien seperti tertera pada Gambar 3. Klien lebih banyak menggunakan facebook tetapi secara keseluruhan baik di klien maupun non-klien, Whatsapp tetap paling banyak digunakan sebanyak 29% responden. Meskipun demikian, masih cukup banyak responden yang menggunakan telepon langsung (di luar aplikasi pengirim pesan) untuk menyampaikan berita dan/atau informasi seperti yang tertera pada bagian lainnya di Gambar 3 (b).

Gambar 3a
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital
Gambar 3b
Gambar 3 Informasi dan komunikasi : a) Cara memperoleh informasi; b) Penggunaan media digital

Kegiatan komunal yang biasa diikuti dan dinantikan oleh masyarakat adalah pengajian (90%), festival petik laut (67%), dan kegiatan sosial (65%). Kumpul rutin mingguan juga diikuti oleh sebagian kecil masyarakat (28%). Perbandingan kegiatan komunal yang diikuti dan dinantikan relatif sama antara klien dan non-klien layanan SEKOLA.

Gambar 4
Gambar 4 Kegiatan Komunal

Kelompok Masyarakat di Bidang Lingkungan

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa Dusun Pancer didominasi oleh masyarakat pendatang dari daerah lain di banyuwangi maupun dari luar banyuwangi. Terdapat beberapa kelompok yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan minat dan peruntukkan yang berbeda-beda, seperti asosiasi nelayan, KUB Bina Karya, KUB Sekar Arum, POKMAS wisata, karang taruna, dan perkumpulan Ibu PKK. Karena memiliki tujuan yang berbeda, kelompok-kelompok ini tidak bersaing satu sama lain. Selain Ecoranger, tidak ada kelompok masyarakat lain yang fokus pada lingkungan, terutama persampahan. Secara umum, beberapa masyarakat dan kelompok-kelompok ini mendukung kegiatan lingkungan dan memiliki kepedulian sosialisasi yang cukup tinggi.

Walaupun begitu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kegiatan sosial dan lingkungan kelompok-kelompok yang ada dan juga kebanyakan masyarakat bersikap acuh kegiatan ini. Keacuhan ini ditenggarai disebabkan utamanya oleh kelompok-kelompok ini yang kurang merangkul dan terkesan eksklusif. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ada dilakukan hanya untuk anggota kelompoknya sendiri. Hal ini menjadi kendala untuk pengembangan kegiatan lingkungan yang sifatnya mengajak orang banyak. Kemudian, ada beberapa konflik yang terjadi akibat adanya pertambangan dan warga yang mendukung dan menolak kegiatan tambang yang dilakukan oleh perusahaan tambang yang tersebar di seluruh wilayah Dusun Pancer tanpa adanya afiliasi khusus dengan kelompok-kelompok yang ada.

Kondisi Pengelolaan Persampahan

Secara keseluruhan, pengelolaan persampahan di Dusun Pancer masih dilakukan dari inisiatif masyarakat dan komunitas. Belum muncul kepekaan pemangku kebijakan, terutama Kades, yang peduli terhadap isu sampah karena sampai saat ini Perdes masih belum disosialisasikan dengan baik karena bahkan Kepala RT dan Kepala RW di Dusun Pancer tidak mengetahui adanya Peraturan Desa. Selain itu, DLH Kab. Banyuwangi belum memprioritaskan kawasan ini sebagai wilayah yang penting dijangkau dari segi pengelolaan persampahan. DLH berkilah bahwa mereka tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Kemudian, salah satu pemangku kepentingan di Dusun Pancer, Perhutani, juga belum berpikir untuk ikut andil secara aktif untuk kemajuan pengelolaan sampah dengan alasan kebijakan yang terlalu birokratis.

Pengetahuan Umum Persampahan

Dari segi pengetahuan umum persampahan, responden ditanya seputar definisi sampah, kompos, program pengelolaan sampah, dan dampak sampah yang tidak terkelola. Sebagian besar responden mendefinisikan sampah sebagai kotoran, limbah, sisa-sisa kegiatan yang sudah tidak terpakai dan dibuang. Ada juga beberapa responden yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang masih dapat berguna. Hal ini menandakan bahwa secara umum, responden sudah mengerti tentang definisi sampah walaupun dalam tingkatan yang berbeda.

Saat ditanya mengenai pengertian kompos, sebagian besar responden masih mendefinisikannya sebagai sampah yang ditumpuk-tumpuk atau setara dengan pupuk organik. Beberapa responden juga mendefinisikan kompos sebagai sampah organik saja atau daun yang dibakar kemudian ditempatkan di tanaman. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan responden tentang apa itu kompos masih terbatas dan perlu edukasi lebih lanjut. Walaupun sebagian besar masih keliru mengenai definisi, hampir 100% responden, baik klien maupun non-klien, mengetahui dan paham jenis sampah apa saja yang dapat diolah melalui proses komposting. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5, dimana hanya terdapat 1 responden saja yang masih keliru mengenai hal ini.

Gambar 5a
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer
Gambar 5b
Gambar 5 (a) Jenis sampah yang dapat dikompos menurut responden dan (b) Pengelolaan sampah di Dusun Pancer

Mengenai pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal, mayoritas klien (78%) dan non-klien (73%) sudah mengetahui bahwa terdapat program pengelolaan sampah di Dusun Pancer. Hampir tidak ada perbedaan antara klien dan non-klien. Walaupun demikian, masih sedikit responden yang mengetahui tentang EcoRanger sebagai salah satu pelaksana program. Pengetahuan kebanyakan responden hanya terbatas pada aktor-aktor dari EcoRanger, seperti Pak Sukam, Pak Jarwo, dan Mbak Saroh, bahkan untuk klien SEKOLA. Hanya ada sebanyak 21% klien yang mengetahui tentang SEKOLA atau Ecoranger secara organisasi, jumlahnya bahkan lebih kecil lagi untuk non-klien, yaitu sebanyak 10%.

Temuan menarik lainnya adalah ada sebagian kecil responden (3 orang) yang menganggap bahwa pelaksana program berasal dari pihak pertambangan sekitar yang berjarak cukup dekat ke SEKOLA, padahal responden tersebut merupakan klien dari SEKOLA. Beberapa responden lain tidak mengetahui nama tetapi hanya sebatas mengenali wajah aktor-aktor pelaksana program. Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa branding SEKOLA ataupun EcoRanger masih sangat minim di kalangan masyarakat Dusun Pancer, bahkan untuk klien sekalipun.

Saat ditanya mengenai dampak sampah yang tidak terkelola, seluruh responden sudah mengetahui dampak buruknya. Mereka telah sadar dan tahu bahwa jika sampah tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan bau, tidak enak dipandang, menyebabkan penyakit, mengganggu, hingga pencemaran ke lingkungan yang menyebabkan banjir dan pendangkalan sungai. Walaupun begitu, berdasarkan observasi di lapangan, banyak masyarakat yang dekat dengan Sungai Cacalan yang masih membuang sampah ke sungai. Selain itu, pembakaran sampah masih umum dilakukan oleh masyarakat di Dusun Pancer. Edukasi tentang bahaya sampah, termasuk membakar sampah, perlu dimasukkan dalam konten edukasi yang akan dilakukan.

Konsep 3R

Mengenai konsep 3R, responden ditanya tentang sampah yang memiliki nilai jual, penerapan perilaku 3R individu, hingga pandangan mengenai 3R itu sendiri. Dari hasil wawancara, sekitar 83% responden tahu bahwa terdapat jenis sampah yang memiliki nilai jual dan mengetahui pihak yang dapat membeli jenis sampah tersebut. Menariknya hanya 76% klien SEKOLA yang tahu bahwa ada sampah yang bisa dijual dibandingkan dengan 90% non-klien yang tahu bahwa ada jenis sampah yang bisa dijual. Jenis sampah yang paling banyak dianggap memiliki nilai jual adalah plastik, walaupun juga banyak responden yang memilih jenis sampah lainnya seperti besi dan kardus. Hampir tidak ada perbedaan pengetahuan antara klien dan non-klien terkait sampah jenis apa yang memiliki nilai jual (Gambar 6).

Gambar 6a
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden
Gambar 6b
Gambar 6 (a) Pengetahuan bahwa ada sampah yang bisa dijual dan (b) Jenis sampah yang memiliki nilai jual menurut responden

Mengenai aplikasi perilaku 3R dalam keseharian, responden ditanya menggunakan contoh perilaku untuk memudahkan responden memahami konteks perilaku yang dimaksud, yaitu membawa tas belanja sendiri saat berbelanja atau wadah saat membeli makanan (reduce), menggunakan kembali wadah atau barang lain sebelum dibuang (reuse), dan mendaur ulang barang atau sampah (recycle). Dari perilaku reduce, hanya sebanyak 24% responden menjawab melakukannya meskipun sebanyak 75% responden merasa perilaku ini tidak merepotkan bagi mereka. Klien cenderung lebih melakukan reduce (28%) dibandingkan dengan non-klien (18%), walaupun klien dan non-klien memiliki persentase jawaban bahwa perilaku reduce tidak merepotkan yang relatif sama. Hal ini menandakan adanya jarak (gap) antara kesadaran dengan perilaku yang dilakukan oleh responden. Walaupun, responden merasa hal ini mudah dan tidak merepotkan, tetapi masih sedikit yang melakukannya. Saat ditanya mengenai alasan mengapa perilaku reduce merepotkan, banyak responden yang menjawab karena alasan kemudahan seperti tidak repot membawa tas, karena jarak tempat belanja yang dekat, dan sudah disediakan plastik oleh penjual. Hal ini juga perlu menjadi perhatian untuk edukasi masyarakat kedepannya, mengingat adanya kejanggalan dimana saat lokasi belanja dekat, para responden malah enggan membawa wadah atau tas belanja sendiri.

Seputar perilaku reuse, sekitar 57% responden menjawab sudah melakukannya. Barang terbanyak yang digunakan kembali adalah wadah makanan dan kantong plastik. Hasil lengkap mengenai barang yang digunakan kembali oleh responden dapat dilihat pada Gambar 7. Perilaku ini dilakukan oleh klien dan non-klien dengan jumlah yang hampir sama. Mengenai perilaku daur ulang, hanya 5% responden saja yang sudah melakukannya dan hampir seluruhnya mendaur ulang plastik. Hal ini menandakan bahwa perilaku reuse masih menjadi prioritas utama bagi para responden dibandingkan dengan dua perilaku lainnya. Hal ini juga didukung oleh data saat responden ditanya perilaku 3R mana yang lebih baik dimana data ini disajikan pada Gambar 8. Sebanyak 33% responden menganggap perilaku reuse lebih baik, 30% memilih reduce, dan 26% memilih recycle. Hal ini menandakan bahwa konsep hirarki pengelolaan sampah masih perlu disosialisasikan lebih lanjut lagi untuk warga klien ataupun non-klien SEKOLA di Dusun Pancer.

Gambar 7
Gambar 7 Jenis barang yang digunakan kembali oleh responden
Gambar 8
Gambar 8 Pandangan responden mengenai perilaku 3R yang lebih baik

Pewadahan

Dari segi pewadahan, seluruh responden sudah menggunakan wadah untuk menampung sampah mereka kecuali satu (1) responden yang langsung membakar sampahnya sehingga tidak menggunakan wadah apapun di rumahnya. Jenis wadah yang paling banyak digunakan adalah tempat sampah tidak tetap. Hanya terdapat satu responden saja sudah menggunakan tempat sampah tetap. Masih banyak responden yang menggunakan kantong plastik dan karung untuk menampung sampah mereka di rumah. Untuk ukuran wadah yang digunakan oleh para responden, sebagian besar menggunakan wadah dengan volume yang setara dengan ember kecil (setara volume 5-10 L) dan ember sedang (setara ember cat 25 L). Data terkait jenis dan ukuran wadah yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9a
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran
Gambar 9b
Gambar 9 Wadah yang digunakan oleh responden berdasarkan: a) jenis; b) ukuran

Untuk jumlah wadah, cukup banyak responden (62,5%) sudah menggunakan lebih dari 1 tempat sampah di rumah. Mayoritas responden (90,4%) (Gambar 10) merasa membutuhkan lebih dari 1 tempat sampah di rumah dengan berbagai macam alasan, seperti kemudahan, kebersihan, dan pemilahan sampah, walaupun mayoritas dari responden merasa perlu memiliki lebih dari 1 wadah sebagai cadangan jika ada tempat sampah lain yang penuh. Hal ini menandakan bahwa sudah banyak responden yang merasa bahwa pewadahan sampah yang sesuai kebutuhan merupakan sesuatu yang penting meskipun masih terdapat responden yang memiliki jumlah wadah saat ini yang terbatas.

Gambar 10a
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1
Gambar 10b
Gambar 10 Jumlah pewadahan responden: a) kondisi saat ini; b) merasa perlu lebih dari 1

Mayoritas responden menempatkan wadah sampah di luar rumah (72%) dan di ruang dapur (70%). Tidak ada perbedaan preferensi khusu penempatan tempat sampah di dalam rumah untuk klien dan non-klien, kecuali lebih banyak klien juga yang menempatkan tempat sampah di ruang tengah dibandingkan dengan non-klien. Kemudian untuk frekuensi pengosongan wadah, hampir seluruh responden melakukannya satu kali sehari atau satu kali dalam 2 hari. Responden yang melakukan pengosongan wadah satu kali dalam 2 hari kebanyakan merupakan klien SEKOLA (Gambar 11), dimana frekuensi ini sesuai dengan kondisi saat ini operasional pengangkutan SEKOLA. Hal ini menandakan untuk responden yang merupakan non-klien SEKOLA mayoritas melakukan pengosongan satu kali sehari.

Gambar 11a
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan
Gambar 11b
Gambar 11 Kondisi pewadahan saat ini: a) penempatan; b) frekuensi pengosongan

Pemilahan

Dari 104 responden, sebanyak 33% menjawab sudah melakukan pemilahan dan 62,5% ingin memulai atau melanjutkan untuk melakukan pemilahan. Menariknya persentase non-klien yang melakukan pemilahan lebih banyak dibandingkan persentase klien yang melakukan pemilahan, yaitu 38% dibandingkan 29% (Gambar 12). Alasan responden ingin memulai atau melanjutkan pemilahan adalah untuk menjual jenis sampah yang dipilah, untuk mempermudah penanganan selanjutnya, dan juga karena kebiasaan. Namun, masih ada responden yang enggan untuk memilah karena pemilahan masih dirasa repot, malas, lama, tidak terpikir, tidak penting, merasa sudah ada yang pilah, hingga dirasa kotor jika dipilah. Untuk jenis sampah yang dipilah, mayoritas responden memilah sampah plastik seperti botol plastik dan kantong belanja sekali pakai. Selain plastik, jenis sampah lainnya yang cukup banyak dipilah adalah kardus, kertas, dan sampah makanan. Hal ini selaras dengan alasan responden memilah sampah mengingat plastik, kardus, dan kertas mengingat ketiga jenis ini mudah untuk dijual ke pelapak atau pengepul. Data yang lebih lengkap mengenai jenis sampah yang dipilah oleh responden dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12a
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden
Gambar 12b
Gambar 12 (a) Jumlah responden yang melakukan pemilahan dan (b) Jenis sampah yang dipilah oleh responden

Selain kondisi saat ini pemilahan, responden juga ditanyakan mengenai motivasi pemilahan. Dari berbagai jawaban yang diperoleh, faktor finansial masih menjadi alasan bagi responden untuk memilah (57,7%), terutama bagi non-klien (Gambar 13). Faktor kedua yang banyak dipilih adalah alasan kesehatan & lingkungan, walaupun dengan persentase yang jauh dibandingkan dengan alasan finansial. Contoh faktor finansial yang banyak disebutkan adalah keuntungan dari penjualan jenis sampah yang dipilah. Alasan terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan juga memberikan kepada pihak yang membutuhkan masih menjadi dasar mengapa responden ingin memilah meskipun tidak sebesar alasan finansial.

Gambar 13
Gambar 13 Motivasi responden dalam pemilahan sampah

Responden juga ditanyakan apakah mereka bersedia jika setiap jenis sampah diangkut di hari-hari tertentu, misalkan seperti pengangkutan khusus sampah plastik di hari Senin, sampah organik di hari Selasa dan Jumat, dan seterusnya. Dari 72 responden yang ditanyakan mengenai hal ini, hanya sebagian kecil, yaitu 39% responden (28 orang) yang setuju dengan gagasan ini. Ada responden yang setuju tetapi dengan syarat kondisi tertentu, yaitu dimana sampah organik tetap diangkut setiap hari.

Dari seluruh data mengenai pemilahan sampah, dapat dikatakan bahwa secara keinginan dan kesadaran untuk memilah sampah, banyak responden yang sudah mengetahui manfaatnya. Meskipun demikian, dari segi praktikal, masih banyak responden yang belum melakukannya. Adanya jarak antara keinginan dan perilaku saat ini dapat diperkecil melalui sosialisasi atau edukasi oleh para tokoh yang dapat merangkul seluruh kelompok masyarakat. Tidak hanya sosialisasi atau edukasi, para tokoh tersebut juga perlu ikut memberikan contoh agar masyarakat sekitar yang mengagumi atau menghormati mereka akan mengikuti perilaku tersebut pada akhirnya.

Finansial

Dari segi finansial, responden ditanyakan seputar jumlah dan teknis pembayaran retribusi. Sekitar 90% responden menganggap jumlah retribusi saat ini (Rp 20.000) sudah murah dan terdapat 10% responden yang menganggap jumlah retribusi mahal. Tidak ada perbedaan yang jauh antara klien dan non-klien terkait hal ini. Hasil ini sudah selaras dengan kesediaan membayar (willingness-to-pay) responden seperti yang ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14
Gambar 14 Kesediaan membayar responden

Hal lain yang ditanyakan adalah willingness-to-pay responden untuk membayar lebih dari nominal retribusi saat ini. Hanya terdapat 31% responden (22 orang) yang bersedia membayar lebih, dimana 81,8% (18 orang) bersedia membayar hingga Rp 25.000 dan 18,2% (4 orang) bersedia membayar di atas Rp 30.000. Untuk waktu pembayaran retribusi, dari 72 responden yang ditanya, sekitar 67% responden memilih untuk membayar retribusi sebulan satu kali dengan pembayaran di awal bulan. Hal ini dapat menjadi pertimbangan mengenai penarikan retribusi saat ini, terutama untuk klien SEKOLA, dimana saat ini penarikan masih menggunakan sistem pembayaran setiap 3 bulan sekali.

Peraturan Persampahan

Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15, hanya sekitar 23% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tertulis. Persentase ketidaktahuan klien dan non-klien terhadap peraturan desa ini relatif sama rendahnya. Itu pun ternyata para responden menganggap berbagai himbauan tertulis yang berada di sekitar sungai atau pantai sebagai peraturan tertulis. Untuk peraturan tertulis yang merupakan spesifik terhadap Peraturan Desa SumberAgung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, maka hanya 2 dari 104 responden yang mengetahui hal tersebut, dimana salah satunya juga masih tidak yakin jika Perdes ini memang ada. Jumlah ini sangat kecil mengingat peraturan ini sudah ada cukup lama berlakunya. Hal ini menandakan kurangnya sosialisasi mengenai peraturan ini baik dari pihak desa, dusun, RW, maupun RT sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai Perdes ini.

Selain itu, hanya sekitar 47% responden yang mengetahui adanya peraturan persampahan tidak tertulis. Untuk peraturan tidak tertulis, berikut beberapa temuan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan para responden:

  • Dilarang membuang sampah di kuburan
  • Tidak diperbolehkan membuang sampah di Sungai Cacalan saat sore hari (peraturan ini masih sering dilanggar oleh warga)
  • Dilarang membuang sampah di daerah sungai dan pantai
  • Membuang pembalut sembarangan akan mengundang kuntilanak
  • Tidak boleh membuang di timur daerah wisata
  • Dilarang membuang sampah di bawah pohon besar
  • Dilarang membuang sampah sembarangan tetapi jika dibakar tidak apa-apa
  • Dilarang membakar sampah popok atau pembalut
  • Dilarang buang sampah di belakang rumah
Gambar 15a
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis
Gambar 15b
Gambar 15 Pengetahuan mengenai peraturan persampahan: a) tertulis; b) tidak tertulis

Pembahasan dan Rekomendasi

Pada bagian ini, rekomendasi akan diberikan berdasarkan motivasi dan/atau rintangan (diwarnai kotak biru tua di Gambar 16, 17, dan 18) yang didapatkan dari hasil penelitian di lapangan. Rekomendasi ini akan berupa saran dan/atau konten yang dapat dilakukan ketika melakukan edukasi untuk meningkatkan pemilahan sampah dari sumber (diwarnai kotak abu di Gambar 16, 17, dan 18) atau pun rekomendasi yang lebih praktikal dalam bentuk kegiatan dan/atau saran (diwarnai kotak biru muda di Gambar 16, 17, dan 18). Motivasi dan/atau rintangan dan rekomendasi yang selaras dikelompokkan dalam kotak yang lebih besar. Cara ini mengadaptasi dari pendekatan fostering sustainable behavior yang dikembangkan oleh Doug McKenzie (Mckenzie-Mohr, 2011).

Partisipasi Masyarakat

Dalam partisipasi masyarakat, ada lima kelompok rintangan yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Dusun Pancer (lihat Gambar 16). Kelompok rintangan pertama terkait dengan perilaku berkelompok. Kelompok-kelompok komunitas di Dusun Pancer cenderung eksklusif dan tidak mengajak orang di luar kelompoknya dalam suatu kegiatan. Dalam hal ini, Ecoranger dapat memperkenalkan diri sebagai pihak netral yang inklusif mengajak semua lapisan masyarakat tanpa membatasi diri ke kelompok tertentu. Terkait organisasi Ecoranger atau SEKOLA yang masih kurang dikenal masyarakat dapat menjadi kelebihan tersendiri karena berarti Ecoranger dapat melakukan branding sebagai pihak netral yang inklusif dengan relatif lebih mudah dan tanpa ada prasangka atau stigma apapun sebelumnya.

Selain itu, ada juga perilaku individu yang menjadi salah penyebab masalah. Perilaku individu yang dimaksud disini adalah sebagian warga hanya mau melakukan sesuatu jika warga lain melakukannya. Sebagian warga mempertimbangkan pilihan orang lain dalam pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa peduli dampak yang dihasilkan baik atau buruk. Sebagian warga merasa “rugi” jika mereka membayar iuran retribusi, sedangkan warga yang lain tidak ikut membayar dan tetap membuang sampah sembarangan atau dibakar. Hal ini tidak selalu berarti buruk karena berarti edukasi dan perubahan perilaku harus dilakukan dalam level kelompok atau komunitas, bukan dalam level individu.

Kemudian kelompok rintangan kedua, yaitu rendahnya kepedulian terhadap lingkungan yang diakibatkan kurangnya sosialisasi dan juga kurangnya dukungan tokoh daerah di Dusun Pancer. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat yang dihormati, seperti tokoh agama (seperti kyai), tokoh adat, ataupun tokoh sosial (seperti Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Dusun) setempat. Pendekatan dilakukan untuk mengajak tokoh masyarakat melakukan edukasi dan ikut memberikan contoh untuk melakukan pemilahan sampah dari sumber. Edukasi yang dapat dilakukan misalnya melalui diskusi dengan Kyai agar tema ceramah di Jumat juga disisipi dengan tema-tema lingkungan yang disandingkan dengan agama islam.

Kelompok rintangan ketiga adalah cara edukasi yang kurang sesuai. Cara sosialisasi dan edukasi yang berfokus pada acara langsung yang berkaitan dengan persampahan seperti workshop tentu dapat dilakukan, tetapi penyisipan konten edukasi tentang persampahan di lingkungan pada acara pengajian dan kegiatan sosial juga perlu dilakukan. Kabupaten Banyuwangi, termasuk juga Dusun Pancer, memiliki keterikatan yang kuat dengan acara keagamaan terlihat dari banyaknya warga yang ikut dan juga menantikan pengajian di Dusun Pancer berdasarkan hasil studi ini. Selain ceramah Jumat tadi, tim Ecoranger juga dapat menyelenggarakan acara pengajian dengan teman utama lingkungan, terutama persampahan dalam sudut pandang islam. Pengajian ini juga dapat menjadi ajang branding bagi Ecoranger. Selain itu, kegiatan sosial yang dapat dilakukan dapat berupa kegiatan bersih-bersih sungai untuk menambah acara bersih-bersih pantai yang biasanya dilakukan oleh Ecoranger. Dalam acara bersih-bersih sungai sampah yang ada jadi terasa lebih dekat karena sampah tersebut bukan berasal dari wisatawan tetapi terutama berasal dari warga di sekitar juga.

Kelompok rintangan ke-empat adalah konflik tambang. Konflik tambang di Dusun Pancer memiliki dampak sosial yang cukup besar dan meluas. Pihak pendukung dan pihak penolak tambang sama-sama memiliki pendapat yang sangat bertentangan. Beberapa kali konflik ini juga melebar ke arah bentrokan antara warga dengan warga dan warga dengan polisi. Dalam hal ini, branding sebagai organisasi netral yang dijelaskan pada paragraf kedua di subchapter ini, sebetulnya tidak terbatas pada menyatakan diri sebagai pihak netral, tapi juga membuat konten edukasi yang netral. Maksud dari konten edukasi yang netral adalah konten edukasi yang menghindari permasalahan konflik tambang yang ada di Dusun Pancer. Konten edukasi tentang pemilahan sampah, pengelolaan sampah, dan lingkungan dapat menjadi beberapa opsi pilihan konten edukasi yang dilakukan.

Kelompok rintangan yang kelima adalah sebagian masyarakat merasa malas dalam memilah sampah atau berperan aktif dalam pengelolaan sampah karena dianggap sulit dan mengeluarkan uang untuk melakukannya. Hal yang dapat dilakukan disini adalah dengan penyediaan wadah atau tempat sampah untuk pemilahan per rumah yang menjadi klien SEKOLA. Wadah ini nantinya diletakkan di depan rumah yang terlihat oleh orang yang melintas (berdasarkan hasil studi diketahui mayoritas warga menempatkan tempat sampah mereka di luar rumah). Wadah yang diberikan untuk pemilahan dapat diwarnai/diberi stiker dengan tulisan “aku sudah memilah” atau kata-kata lainnya yang menunjukkan bahwa suatu rumah telah melakukan pemilahan dan mendukung proses melindungi lingkungan sekitar. Hal ini penting karena suatu perilaku akan lebih bertahan lama dan lambat laun jadi kebiasaan, jika perilaku tersebut dapat terlihat oleh umum dalam jangka waktu yang lama (atau dalam fostering sustainable behavior disebut public and durable commitment).

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi rintangan kelima ini adalah dengan membuat tempat sampah komunal. Hal ini sempat menjadi usulan beberapa warga ketika diwawancara. Tetapi, tempat sampah komunal memiliki keuntungan (misalnya, relatif lebih murah dan memudahkan dalam pemisahan dari sumber dan koleksi sampah oleh petugas) dan kerugian (misalnya, jadi tempat sampah baru yang menggunung dan orang yang tidak membayar ikut menikmati fasilitas tersebut) yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum dilakukan (meskipun misalnya dana tersedia).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan edukasi dan sosialisasi tentang pemilahan sampah adalah melakukan kegiatan di skala RT. Kegiatan di skala RT memiliki kelebihan dimana masyarakat relatif saling mengenal dan oleh sebab itu, akan relatif lebih mudah diajak. Skala RT juga penting karena informasi lebih mudah disebarkan dan kegiatan dilakukan di kelompok yang relatif kecil.

Gambar 16
Gambar 16 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Partisipasi Masyarakat

Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Dalam pemahaman masyarakat dan edukasi, ada tiga kelompok rintangan dan satu alasan motivasi dalam menyampaikan materi edukasi dan konten apa saja yang penting untuk disampaikan (lihat Gambar 17). Rintangan pertama adalah perilaku 3R belum menjadi kebiasaan masyarakat. Dari hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa mayoritas masyarakat sebetulnya sudah terbiasa melakukan “penggunaan kembali” (reuse) terhadap barang yang dibeli atau digunakan sebelum dibuang. Walaupun, dalam hal mengurangi (reduce) dan daur ulang (recycle) tergolong masih minim. Rintangan kedua adalah misinformasi tentang pengetahuan sampah yang mendasar seperti cara membuat kompos dari sampah organik. Untuk kedua rintangan ini, hal-hal yang dapat dilakukan adalah membuat konten edukasi tentang pentingnya perilaku 3R dalam pengelolaan sampah dan juga penyebaran informasi persampahan melalui sistem broadcast. Sebelum memulai broadcast, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah melakukan pendekatan ke ketua RT di Dusun Pancer untuk membuat grup Whatsapp (WA) untuk kebutuhan penyebaran informasi di tingkat RT. Walaupun hanya 48% dari responden yang menggunakan media digital, jumlah ini cukup signifikan dalam penyebaran informasi jika digabung dengan diseminasi informasi oleh Ketua RT yang mencapai 90%. WA grup ini bisa dimanfaatkan oleh ketua RT untuk memudahkan penyebaran informasi dan dapat digunakan juga oleh Ecoranger dalam menyampaikan info-info pemilahan dan pengelolaan sampah yang mudah, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, rintangan ketiga adalah masyarakat tidak mengetahui esensi dari melakukan pemilahan sampah dan merasa malah. Diketahui juga dari hasil wawancara bahwa hampir 30% masyarakat sudah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumber walaupun secara sederhana. Sebagian besar responden mengatakan finansial adalah motivasi utama mereka dalam melakukan atau jika melakukan pemilahan sampah. Finansial disini maksudnya adalah sampah yang mereka pilah dapat dijual dan menghasilkan tambahan ekonomi untuk mereka. Terkait rintangan malas dan tidak tahu esensi, masih sama seperti rekomendasi di subchapter sebelumnya, pemberian wadah untuk pemilahan sampah dan penyesuaian cara edukasi yang lebih cocok dengan masyarakat dapat dilakukan. Sedangkan, terkait motivasi finansial ini akan dibahas lebih lanjut dalam subchapter keempat Ecoranger dan Sekola.

Gambar 17
Gambar 17 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Pemahaman Masyarakat dan Edukasi

Peraturan Tertulis dan Tidak Tertulis

Dalam segi regulasi, ada dua kelompok rintangan untuk melancarkan implementasi dan penegakkan aturan yang telah ada (lihat Gambar 18). Sebetulnya, Dusun Pancer telah memiliki Peraturan Desa Sumber Agung No. 8 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sampat saat ini, Perdes ini belum pernah disosialisasikan ke masyarakat. Akibatnya, hanya dua orang dari total 104 responden yang mengetahui keberadaan Perdes ini, 1 orang diantaranya bahkan ragu kalo Perdes tentang sampah ini betul-betul ada. Untuk mengatasi masalah ini, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu sosialisasi Perdes dan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up approach). Sosialisasi Perdes dapat dilakukan oleh Ecoranger sendiri dengan meminta bantuan dari desa (jika ada dana) ataupun terus-menerus melakukan audiensi dan advokasi kepada Kepala Desa ataupun orang-orang di Kantor Desa untuk mendorong dilakukannya sosialisasi Perdes ini. Cara kedua adalah dengan melakukan pendekatan dari bawah ke atas, yaitu melakukan pendekatan dan advokasi ke ketua RT, ketua RW, dan Kepala Dusun yang menunjukkan antusiasme yang lebih baik dalam urusan pengelolaan sampah rumah tangga ini dibandingkan dengan Kepala Desa. Pendekatan dan kerja sama yang terus menerus dengan ketiga pemangku kepentingan ini diharapkan dapat menggerakan Kepala Desa juga pada akhirnya.

Rintangan kedua adalah peraturan tidak tertulis dalam penanganan sampah seperti tidak boleh membakar popok atau pembalut, namun membuangnya ke sungai atau laut dan juga mengikuti orang lain walaupun salah, misalnya dalam membuang sampah ke sungai. Manusia memang mengikuti kebiasaan sosial yang berlaku, sehingga jika membuang sampah ke sungai ini sudah menjadi “norma umum”, tidak aneh jika hal ini susah diubah. Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan di level RT menjadi penting untuk mengubah kebiasaan buruk ini dengan cara membuat kebiasaan baru di masyarakat yang lebih ramah lingkungan sampai pada tahap misalnya orang yang aneh adalah orang yang tidak memilah sampah dari rumah.

Gambar 18
Gambar 18 Motivasi, Rintangan, dan Rekomendasi dalam Aspek Regulasi

Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA

Dalam segi Keberjalanan dan Operasional Ecoranger dan SEKOLA, ada satu kelompok rintangan dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan rencana di masa depan dari Ecoranger dan SEKOLA. Rintangan ini adalah keterlambatan membayar retribusi dan kesediaan bayar lebih tetapi dengan syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering oleh pihak SEKOLA. Dalam hal keterlambatan membayar retribusi, mayoritas warga bersedia membayar iuran di awal bulan, jadi waktu penagihan iuran mungkin bisa dipindahkan ke awal bulan agar lebih banyak klien yang membayar tepat waktu. Dalam hal syarat pengambilan sampah dilakukan lebih sering, pihak SEKOLA dapat menjadikan penambahan armada pengangkut sampah dari program BCAD sebagai daya tawar untuk mengedukasi warga agar mau melakukan pemilahan sampah dari rumah. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan sampah yang diberikan kepada petugas satu persatu sambil diingatkan agar melakukan pemisahan berdasarkan organik dan anorganik.

Dalam pelaksanaanya memang akan merepotkan tetapi hal ini cukup dilakukan selama 2 bulan awal agar masyarakat mau mengubah perilakunya terlebih dahulu. Agar memastikan sampah yang sudah dipilah tidak tercampur, ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu menggunakan sekat di armada atau melakukan pengangkutan sampah organik setiap hari dan sampah anorganik di waktu-waktu tertentu. Sebagai tambahan motivasi bagi masyarakat, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat unit tambahan di SEKOLA, yaitu unit bank sampah keliling. Jadi, sampah anorganik yang telat dipisah tadi akan dibayar oleh pihak SEKOLA seperti bank sampah pada umumnya.

Rekomendasi lainnya

Selain rekomendasi-rekomendasi di atas, ada beberapa tambahan rekomendasi yang dapat dilakukan oleh Ecoranger, yaitu:

  • Melakukan riset dan studi banding model bisnis ke tempat pengelolaan sejenis yang bisa menutupi biaya operasional keseluruhan dan bahkan mendapatkan profit
  • Melakukan pendekatan pilah sampah lewat sekolah-sekolah agar anak-anak menjadi agent of change untuk keluarga di rumah
  • Riset kerja sama dengan perguruan tinggi terkait inovasi dalam hal inovasi produk dan pengelolaan sampah, serta pemberdayaan multipihak
  • Melakukan kerja sama dengan SMK-SMK di sekitar Desa Sumber Agung terkait program inovasi produk dari sampah yang ada (misalnya semacam produk inovasi dari sampah popok yang dilakukan oleh Popokku Berkah) dan diintegrasikan dengan BUMDES
  • Kolaborasi BUMDES dengan SEKOLA untuk pembuatan program TPST

Acknowledgement

Riset ini merupakan salah satu bagian dari program kerja sama antara Greeneration Foundation, Kitabisa, dan BCA Digital yang akan dilakukan dari bulan September 2021 sampai April 2022 untuk meningkatkan keterpilahan sampah dari sumber di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kab. Banyuwangi. Jika ada pertanyaan lebih lanjut terkait riset ini, silahkan menghubungi Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, R&D Manager di Greeneration Foundation, melalui email aditya@greeneration.org.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Blue Carbon

Mengenal Apa itu Blue Carbon, Manfaat, dan Langkah untuk Menjaganya

Mengenal Apa itu Blue Carbon, Manfaat, dan Langkah untuk Menjaganya

Ilustrasi Blue Carbon
Ilustrasi Blue Carbon. (Sumber: icctf.or.id)

Selama ini, kita mengetahui bahwa hutan memiliki fungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Degradasi dan alih fungsi lahan hutan merupakan tindakan yang dapat mengemisi karbon ke atmosfer bumi dan menyebabkan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi menjadi semakin padat. Itulah sebabnya, kegiatan mitigasi perubahan iklim dititikberatkan pada upaya-upaya perbaikan wilayah hutan.

Namun, ada potensi emitan karbon yang tidak kalah besar dibanding wilayah hutan, yaitu ekosistem pesisir yang meliputi hutan mangrove, tumbuhan laut (seagrass) dan rawa-rawa merupakan hal penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Secara alamiah, ekosistem pesisir menyerap karbon dari atmosfer dan lautan lalu menyimpannya. Karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dikenal sebagai blue carbon. Dilansir dari Tempo.co, blue carbon atau karbon biru itu sendiri merupakan karbon yang ditangkap dan disimpan di samudra dan ekosistem pesisir, termasuk karbon pantai yang tersimpan di lahan basah pasang surut, seperti hutan yang dipengaruhi pasang surut, bakau, rawa pasang surut dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan sumber karbon biomassa yang tidak hidup.

Seperti dengan namanya, karbon ini memiliki warna biru. Blue carbon dianggap penting karena secara ekosistemnya merupakan penyerap karbon yang efektif. Blue carbon ini dapat memainkan peran utama dalam memenuhi target nasional dan global tentang perubahan iklim.

Manfaat Blue Carbon

Ilustrasi Penerapan Blue Carbon
Ilustrasi Penerapan Blue Carbon. (Sumber: bluecarbonsociety.org)

Berdasarkan penelitian, ditemukan fakta bahwa ekosistem pesisir juga merupakan penyerap gas rumah kaca. Ekosistem pesisir diyakini mampu menyerap dan menyimpan karbon dengan seratus kali lebih banyak dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan. Karbon yang diserap oleh ekosistem pesisir tidak kalah besar dibandingkan hutan.

Berbeda dengan ekosistem daratan yang cenderung tidak bertambah pada saat tertentu, ekosistem pesisir mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sedimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama.

Sekitar 50-99 persen karbon yang diserap oleh ekosistem pantai disimpan dalam tanah di kedalaman 6 meter di bawah permukaan tanah. Karbon yang tersimpan ini dapat tersimpan sampai ribuan tahun. Karena potensi yang besar inilah ekosistem pesisir bisa berperan banyak sebagai solusi adaptasi dan mitigas dampak perubahan iklim.

Selain manfaat penyimpanan karbonnya, ekosistem blue carbon juga menyediakan lapangan kerja dan pendapatan bagi ekonomi lokal, meningkatkan kualitas air, mendukung perikanan yang sehat, dan memberikan perlindungan pesisir.

Mangrove bertindak sebagai penghalang alami dengan menstabilkan garis pantai dan mengurangi energi gelombang untuk mengurangi risiko banjir bagi masyarakat pesisir dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut. Padang lamun menjebak sedimen tersuspensi di akarnya yang meningkatkan redaman cahaya, meningkatkan kualitas air, dan mengurangi erosi. Lahan basah pesisir menyerap polutan (misalnya, logam berat, nutrisi, bahan tersuspensi) sehingga membantu menjaga kualitas air dan mencegah eutrofikasi.

Langkah-langkah untuk Menjaga Ekosistem Blue Carbon

Ilustrasi Ekosistem Blue Carbon
Ilustrasi Ekosistem Blue Carbon. (Sumber: ndcpartnership.org)

1. Adapun sejumlah langkah yang bisa kita lakukan dalam menjaga ekosistem blue carbon ini, di antaranya adalah:

 

2. Mengurangi pemakaian limbah cair

 

3. Tidak sembarang memancing hewan laut

 

4. Menjaga kelestarian habitat laut

 

5. Membuang sampah pada tempatnya

 

6. Mengurangi penggunaan plastik

 

7. Menjaga aset pesisir saat berwisata

 

8. Melakukan penanaman mangrove

 

9. Menjaga dan merawat pesisir serta lautan

Manfaat yang bisa diperoleh apabila kita menjaga ekosistem blue carbon adalah dapat menanggulangi perubahan iklim, dijadikan sebagai habitat dari keanekaragaman biota laut seperti udang, ikan, kepiting, dan lain sebagainya.

Dengan kita menjaga mangrove, akarnya dapat menyaring air dari kotoran dan polutan supaya menghasilkan air yang sehat untuk vegetasi di sekitarnya. Mangrove juga mampu sebagai stabilitator garis pantai karena dapat mencegah erosi oleh ombak sekaligus sebagai pengikat lumpur yang dibawa oleh aliran sungai. Menjaga mangrove pun menjadi bagian dari langkah penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan yang akan berdampak dalam jangka panjang untuk kita dan generasi penerus kita.

Ditulis oleh: Yohanna Christiani

Referensi

https://www.thebluecarboninitiative.org/about-blue-carbon diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://www.mongabay.co.id/2017/09/11/besarnya-potensi-karbon-biru-dari-pesisir-indonesia-tetapi-belum-ada-roadmap-blue-carbon-kenapa/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://tekno.tempo.co/read/1108480/apa-itu-blue-carbon-ini-penjelasannya/full&view=ok diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://maritim.go.id/indonesia-masukkan-blue-carbon-sebagai-andalan-dalam-skenario/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

https://reefresilience.org/id/blue-carbon/blue-carbon-introduction/blue-carbon-benefits/ diakses pada tanggal 20 September 2021.

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest
Ilustrasi Kemajuan Teknologi

Kantor Ramah Lingkungan dengan Penerapan Paperless Office