Tag Archives: mindfulness

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

3 Tips Mengurangi Konsumerisme di Bulan Ramadan

Di negara dengan mayoritas Muslim, Ramadan menjadi momen di mana konsumsi justru meningkat di bulan menahan hawa nafsu. Tidak hanya di negara dengan pendapatan tinggi seperti Uni Emirat Arab atau Qatar, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia sendiri, meningkatnya konsumsi dan belanja didorong oleh tradisi kita saat berpuasa dan lebaran Idulfitri. Salah satunya, anggapan untuk memakai baju baru saat lebaran, tradisi mudik, makan bersama dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

 

Makna utama Ramadan ialah untuk mensucikan diri, merawat jiwa raga dan orang sekitar kita. Puasa di bulan Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu lainnya seperti keinginan belanja. Akan jadi kesempatan emas bagi umat Muslim khususnya di Indonesia untuk mempertimbangkan beralih ke hidup yang lebih mindful dan sadar lingkungan. 

 

Tanggal 22 April lalu, kita merayakan Hari Bumi. Bertepatan dengan bulan Ramadan dan momentum untuk menekan pengeluaran, kita juga bisa menyelamatkan bumi, menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, sembari menghemat THR. Gaya hidup sadar lingkungan ini dapat membantu kita mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengusahakan penghematan sumber daya alam, kita juga mengimplementasikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

 

Di bulan Ramadan ini, bukan tidak mungkin untuk Generasi Hijau meredam pengeluaran dan memanfaatkan apa yang kita punya. Yuk, cek tips berikut untuk tahu bagaimana memulai menahan diri untuk belanja!

Cek kembali lemari bajumu

Audit pakaian di lemari agar tidak menumpuk. (Sumber: Pinterest)

Apakah kamu tipe orang yang bosanan? Sekali beli baju, hanya dua-tiga kali pakai, bosan dan lupakan. Jika iya, pasti ada banyak baju yang kamu lupa ada di lemarimu. Di waktu dua minggu sebelum lebaran seperti sekarang, kamu bisa menggunakan waktu luang untuk audit pakaian. Periksa kembali pakaian lama yang masih bagus, mix n’ match dengan baju lainnya. Hasil kurasi pakaianmu dapat jadi baju hari raya yang tak kalah ciamik dengan baju baru!

Jangan tergiur diskon

Diskon hari raya memang beragam dan ada di mana-mana. Tetap utamakan prioritasmu lebih dulu, ya. (Sumber: dok. Agung Rahmat P)

Dalam rangka Ramadan dan lebaran, aktivitas ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Di tahun kedua pandemi, aktivitas ekonomi di tahun 2021 ini meningkat dan lebih baik dibanding tahun 2020. Momen ini dimanfaatkan industri ritel untuk memberi diskon besar-besaran. Diskon memang sangat membantu kita untuk meredam pengeluaran, namun akan beda jadinya apabila kita tergiur terlalu banyak barang, membeli yang tidak kita butuhkan dan malah jadi tidak digunakan.

 

Untuk menghindari kalap belanja, cek daftar barang diskon, dan tentukan mana yang benar kamu butuhkan. Jika kamu beli barang dengan tanggal kadaluarsa seperti makanan dan minuman, jangan lupa dihabiskan agar mencegah limbah makanan. Jangan langsung membeli karena ada diskon, apalagi untuk barang-barang non-kebutuhan. Percayalah diskon itu tidak lari meski dikejar.

 

Mindful Eating

Setelah seharian 12 jam berpuasa, ada kalanya nafsu makan kita meningkat saat berbuka. Rasanya ingin menyantap beragam hidangan yang tersedia di meja. Gorengan, es buah, bubur sumsum, yang mana dulu, ya?

Perut kita yang kosong selama berpuasa, kaget ketika diisi beragam makanan dalam waktu singkat. Akhirnya begah, kekenyangan, dan tidak dapat menghabiskan semuanya. Padahal sudah banyak camilan yang dibeli. Inilah salah satu alasan mengapa limbah makanan justru meningkat di bulan Ramadan. Hidangan berbuka yang sudah dibeli ternyata terlampau banyak untuk dihabiskan, akhirnya jadi terbuang.

 

Tahun ini, mari kita praktikkan konsep mindfulness dalam menyantap makanan. Untuk menghindari lapar mata, kamu bisa mulai dengan memasak sendiri makanan berbuka. Dengan memperkirakan porsi sendiri dan orang di rumah, tidak perlu ada makanan terbuang. Selain itu, coba untuk pahami makanan yang ada di hadapanmu. Pikirkan perjalanannya hingga sampai ada di piringmu. Dari biji, ditanam petani hingga berbulan-bulan, setelah dipanen perlu melalui proses distribusi antarkota dan antarprovinsi hingga sampai ke pedagang di pasar, kamu beli, dan baru dapat diolah menjadi pangan lezat. Inderakan semua rasa makanannya ketika masuk mulut. Jadilah lebih atentif pada rasa, tekstur, dan aromanya. Ambil potongan kecil-kecil dan makan dengan perlahan. Dengan begitu, kamu bisa lebih menghargai makananmu.

 

Sikap mindfulness akan sangat esensial ketika Generasi Hijau sedang mempraktikkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mari kita jadikan momentum Ramadan untuk usahakan memulainya. Semoga dapat konsisten hingga Ramadan berakhir, ya!

 

Oleh: Melisa Qonita Ramadhiani

Artikel Terkait

Spread the News

Share to Social Media

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest