Tag Archives: sampah makanan

sampah makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

Indonesia Darurat Sampah Makanan

sampah makanan
Ilustrasi sampah makanan. (Foto oleh Rachel Claire dari Pexels)

Di saat jutaan orang masih banyak mengalami kelaparan dan kekurangan gizi, sepertiga makanan di dunia setiap tahunnya malah terbuang sia-sia atau hilang sebelum dapat dikonsumsi. Sampah makanan yang terbuang ini mampu memberi makan dua milyar orang, jumlah yang setara dengan dua kali lipat jumlah orang yang kekurangan gizi di dunia. Sampah makanan juga masih menjadi permasalahan sampah yang besar di Indonesia.

 

Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia. Setiap orang di Indonesia diperkirakan menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya. Kajian terbaru dari Bappenas, Waste4Change, dan WRI Indonesia juga menunjukan bahwa jumlah pemborosan makanan (food waste) dan penyusutan makanan (food loss) di Indonesia dari tahun 2000-2019 diperkirakan mencapai 23-48 juta ton per tahun. 

Food Waste dan Food Loss, Apa Bedanya?

Untuk mengatasi masalah sampah makanan, kita perlu memahami pengertian antara sampah makanan (food wastage), pemborosan makanan (food waste), dan penyusutan makanan (food loss) karena ketiganya memerlukan solusi yang berbeda. Sampah makanan adalah semua makanan yang terbuang dan tidak dimakan. Sampah makanan ini terdiri dari dua kategori: pemborosan makanan dan penyusutan makanan.

Pemborosan makanan (food waste) adalah sampah makanan yang terbuang yang disebabkan oleh retail, restoran, dan konsumen. Pemborosan makanan terjadi saat menjelang akhir rantai pasokan. Sementara penyusutan makanan (food loss) adalah penurunan kualitas dan kuantitas makanan yang terjadi pada awal rantai pasok. Ini biasanya disebabkan oleh manajemen produksi, penyimpanan, transportasi, dan pemrosesan yang tidak memadai.

Dampak Buruk Sampah Makanan

Sampah makanan termasuk ke dalam kategori sampah organik. Sampah organik sering kali dianggap lebih aman daripada sampah anorganik seperti plastik karena mampu terurai kembali. Kenyataannya, sampah organik yang tidak dikelola dengan benar justru dapat menyebabkan dampak yang lebih buruk terhadap lingkungan, terutama ketika sampah organik dan anorganik tersebut tidak kita pisahkan. Jika sampah makanan berakhir di TPA dan bercampur dengan sampah anorganik, sampah makanan tersebut akan mengalami proses penguraian secara anaerob sehingga dapat menimbulkan gas metana pada atmosfer. Gas metana ini merupakan gas rumah kaca yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Bahkan, gas metana 25 kali lipat lebih berbahaya daripada karbon dioksida dalam hal memerangkap panas di atmosfer. Emisi yang dikeluarkan dari pemborosan makanan dan penyusutan makanan di Indonesia setara dengan 7.29% rata-rata emisi gas rumah kaca Indonesia per tahun. 

 

Selain berdampak terhadap lingkungan, sampah makanan juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Timbulan pemborosan makanan dan penyusutan makanan dari tahun 2000-2019 di Indonesia telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 214-551 triliun per tahun. Jumlah kerugian ini setara dengan 4-5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kerugian ekonomi ini bahkan diperkirakan bisa lebih besar karena dalam proses penghitungannya menggunakan harga pangan yang tersedia pada saat kajian dilakukan. Sementara harga pangan di pasaran yang sesungguhnya dapat menjulang tinggi karena bersifat fluktuatif. 

 

sampah makanan
Ilustrasi tomat buruk potensi sebabkan sampah makanan (Foto oleh oleh Wendy Wei dari Pexels)

Mencegah dan Mengatasi Sampah Makanan

Sampah makanan merupakan tanggung jawab setiap pihak baik produsen, konsumen, dan pemerintah. Untuk mengurangi sampah makanan dalam rantai pasokan (food loss), produsen dapat membuat perencanaan produksi yang sesuai dengan jumlah kebutuhan konsumen, menyediakan sistem penyimpanan dan pendinginan, hingga mengolah pangan menjadi makanan yang lebih tahan lama dan bernilai tinggi. 

 

Upaya ini tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah seperti kebijakan yang menjamin harga pangan yang stabil dan mempersingkat rantai pasokan agar tidak banyak sampah makanan yang terbuang pada saat perjalanan. 

 

Sebagai konsumen, kita juga dapat mencegah sampah makanan dengan melakukan perencanaan konsumsi yang lebih terukur seperti dengan melakukan meal preparation (persiapan makanan). 

Bagaimana Jika Kita Masih Menyisakan Sampah Makanan?

Seperti yang kita ketahui, tidak semua bagian dari sayuran atau bumbu dapur yang kita gunakan umum untuk dikonsumsi seperti cangkang dan kulit buah. Jika kita terpaksa masih menyisakan sampah makanan, sebaiknya kita mengolahnya terlebih dahulu sebelum dikirim ke petugas sampah. Terdapat berbagai cara yang bisa generasi hijau lakukan untuk mengolah sampah makanan seperti:

 

  • 1. Membuat kreasi masakan dari sisa makanan seperti membuat manisan kulit buah atau kaldu dari sisa sayuran dan kulit bawang. 
  • 2. Membuat eco-enzym, yaitu cairan fermentasi kulit buah dan gula yang bisa dijadikan pembersih rumah dan nutrisi tanaman. 
  • 3. Mengompos sampah makanan untuk dijadikan nutrisi tanaman 

 

Dengan mengolah sampah makanan yang ada di rumah, kita dapat berkontribusi atasi salah satu permasalahan utama dalam persampahan Indonesia. Hal ini karena 40% timbulan sampah di Indonesia merupakan sampah makanan. Selain itu, dengan mencegah dan mengolah sampah makanan secara bertanggung jawab, kita juga sudah turut mendukung implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan di Indonesia. 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Jadi Urban Farmer dengan Tanam Kembali Sisa Buah dan Sayur

Sudah memasuki bulan Ramadan lagi nih, Generasi Hijau! Pasti kita akan lebih sibuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur. Apakah kamu atau orang di rumahmu masak? Atau kamu memilih beli agar lebih praktis? Yang manapun itu, pastikan tidak ada makanan yang terbuang, ya.

 

Ramadan seharusnya menjadi bulan di mana kita menahan hawa nafsu. Bukan hanya lapar dan haus, namun juga menahan keinginan untuk membeli barang yang tidak kita perlukan, termasuk makanan. Tahukah Generasi Hijau, ironisnya justru di bulan Ramadan sampah makanan meningkat? Pada hari selain Ramadan saja, Food and Agriculture Organization dari PBB mencatat, setiap penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 300 kg sampah makanan tiap tahunnya. Dikutip dari Malay Mail, angka ini meningkat 20-30% pada bulan Ramadan di negara mayoritas Muslim.

 

Sampah makanan yang terhitung tersebut bukan hanya pangan jadi, namun juga limbah makanan dari hasil proses memasak. Sayuran yang cenderung murah membuat kita kadang menyia-nyiakannya dengan langsung membuang sisa masakan ke tempat sampah atau komposter. Padahal, banyak sisa sayuran yang dapat kita tanam kembali (regrow). Uang yang kita gunakan untuk beli kebutuhan dapur dapat ditukar dengan waktu yang dibutuhkan dan kesabaran kita menunggu tanaman kita tumbuh.

Tanam sisa sayur

Untuk kita yang tinggal di apartemen atau rumah tanpa halaman, rasanya kadang iri dengan mereka yang bisa memasak dari kebun sendiri, ya. Sebenarnya, dengan memanfaatkan sedikit wadah dan beberapa ruang dekat jendela untuk sinar matahari, kita juga bisa urban farming di unit apartemen kita! Berikut beberapa sayuran yang dapat ditanam ulang dengan media yang tidak makan tempat.

Sawi, pakcoy dan selada

Tiga sayuran ini pasti meninggalkan bonggol yang tidak kita makan. Jangan buru-buru dikompos, bonggolnya dapat menumbuhkan sayur lagi untuk nanti kita panen. Letakkan 5 cm bonggol sayuran tersebut di wadah berisi air, jangan sampai tenggelam. Simpan di tempat yang terkena sinar matahari. Setelah 3 hari, tunasnya akan mulai terlihat. Pindahkan ke pot setelah 7 hari.

Menanam selada dari bonggolnya. (Sumber: Heather Buckner/Gardener’s Path)

Serai

Letakkan ujung batang serai di air, pastikan wadahnya memungkinkan batangnya berdiri. Ganti airnya setiap hari untuk mencegahnya berlumut. Dalam seminggu, kamu akan punya suplai serai tanpa perlu beli lagi. Jangan lupa pindahkan serai ke tanah setelah tumbuh sekitar 5cm. Ketika dibutuhkan, gunting saja lalu biarkan tumbuh lagi.

 

3. Mengambil peluang untuk negara berkembang

Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Sustainable Development Goals (SDGs). Di Indonesia, konsumsi dan produksi berkelanjutan dapat menciptakan lapangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta pengelolaan sumber daya yang efisien dan mempertimbangkan kesejahteraan pekerjanya.

Daun bawang, bawang bombay, bawang putih dan merah

Bawang-bawangan ialah sayuran yang paling mudah ditanam kembali. Perawatannya juga tidak sulit. Kubur saja ujung bawang di dalam tanah, dalam waktu 4 hari akan mulai terlihat tunasnya. Pastikan masih ada ‘mata’ tempat akarnya tumbuh, ya. Untuk daun bawang, kamu tinggal letakkan ujung daunnya di air seperti hendak menanam serai. Lebih mudah lagi jika kamu punya daun bawang yang masih ada akarnya.

Daun bawang dalam gelas. (Sumber: The Gardening Cook/Pinterest)

Rosemary, thyme, basil, dan cilantro

Dedaunan herbal yang bukan asli Indonesia ini biasanya jarang ditemukan di pasar tradisional. Untuk mendapatkannya perlu pemasok khusus, atau kita dapat beli di supermarket di pusat belanja. Karena aksesnya agak sulit dibanding sayuran lainnya, akan lebih mudah kalau kita beli satu kali dan tanam sendiri.

Herbal Mediterania sekarang bisa kita nikmati di dapur sendiri. (Sumber: Kirsten Boehmer)

Sisakan sekitar 5 cm batang dan daun. Letakkan di air, ganti airnya setiap hari. Tunggu hingga akarnya tumbuh dan bisa dipindahkan ke pot.

Tanam kembali buahmu

Ketika beli buah, rasanya agak sayang kalau kita langsung buang bijinya ya. Yuk, manfaatkan sisa biji buah untuk tanam tumbuhan baru.

Stroberi dan tomat

Tahukah Generasi Hijau, bintik kecil stroberi yang turut kita makan ialah bijinya? Sementara biji tomat yang terkandung dalam satu buah dapat mencapai 150-300 biji.  Untuk memanfaatkan bijinya, iris kecil stroberi dan tomat, letakkan dalam pot yang sudah diisi tanah. Tutup dengan tanah lagi di atasnya. Pastikan tanahnya selalu lembab dan letakkan di tempat yang hangat. Dalam waktu dua minggu, akan tumbuh tunas baru.

Simpan tomat di pot, lalu tutup lagi dengan tanah. (Sumber: Shirley E/Thrifty Fun)

Alpukat

Buah ini butuh waktu lebih banyak dibanding sayuran dan herbal yang tadi sudah disebutkan, jadi kamu butuh kesabaran penuh ya. Bersihkan biji buah alpukat, lalu keringkan. Tusukkan tiga buah tusuk gigi mengelilingi alpukat seperti gambar di bawah. Tusukan harus berbentuk melingkar di garis lurus, dan agak serong ke bawah Tusuk gigi ini gunanya untuk menyangga biji di wadah air.

Alpukat berusia satu bulan. (Sumber: Ingrid HS/Getty Images)

Simpan biji alpukat di wadah air. Bagian atas yang bentuknya lebih lonjong adalah tempat tumbuh tunasnya, dan bagian bawah tempat tumbuh akar yang bentuknya sedikit lebih datar dibanding yang atas. Pastikan seperempat bagian biji alpukat terendam air. Generasi Hijau bisa menuangkan satu sendok gula pasir ke dalam air untuk menambah nutrisi pertumbuhan tunas dan akar alpukat. Kemudian, letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Jangan lupa ganti airnya setiap lima hari sekali.

 

Di hari ke-45, akarnya akan terlihat rimbun dan batangnya sudah tinggi. Potong batang sekitar 7 cm untuk merangsang pertumbuhannya. Ketika batangnya sudah menghasilkan daun cukup banyak, pindahkan ke tanah. 

Nanas

Putar daun mahkota nanas untuk memisahkan daun dan buahnya. Kupas beberapa daun di bawahnya untuk membuka batang. Balik dan biarkan mengering selama seminggu.

 

Setelah batang nanas mengering, siapkan empat tusuk gigi dan wadah air yang mulutnya cukup lebar. Tusuk batangnya seperti hendak menanam biji alpukat tadi. Rendam batangnya, dan letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Hindari suhu ekstrem di sekitar tunas nanas, pastikan tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

 

Ganti airnya setiap lima hari sekali. Pertumbuhan akar nanas akan memakan waktu hingga satu bulan, jadi kamu harus lebih sabar lagi dibanding ketika tanam alpukat ya. Ketika akarnya sudah cukup panjang, pindahkan dalam pot.

Jeruk, apel, ceri, pir dan kiwi

Biji di buah-buahan ini dapat langsung kita pisahkan dari daging buahnya. Keringkan dulu, lalu langsung kubur di pot. Untuk mempercepat pertumbuhan tunasnya, Generasi Hijau dapat membuat rumah kaca DIY dengan botol plastik bekas seperti di bawah ini.

(Sumber: Hanna/Tracks of Foxes)

Selain membantu mengurangi sampah makanan, Generasi Hijau juga punya persediaan bahan makanan dari kebun sendiri. Minim sampah dan minim pengeluaran, pasti menyenangkan, ya!

Referensi

H, D. (2018, February 6). 10 VEGETABLES YOU CAN REGROW FROM SCRAP. Retrieved from SPUD Vancouver: https://about.spud.com/blog-regrowing-vegetables-from-scrap/

 

Will, M. J. (2020, November 21). 39 Vegetables, Fruits, and Herbs to Regrow from Scraps. Retrieved from Empress of Dirt: https://empressofdirt.net/regrow-vegetable-scraps/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin
Share on pinterest