Tag Archives: #Sustainability

Pengelolaan Sampah Kini Solusinya Tak Terbatas

Pengelolaan Sampah Kini Solusinya Tak Terbatas

Foto Industri Pengelolaan Sampah (Reciki)

Halo, bertemu lagi di artikel HPSN Series #2! Di artikel sebelumnya, kami sudah membahas seluk beluk permasalahan berbagai jenis sampah di Indonesia. Pastinya Generasi Hijau sepakat kalau masalah ini sudah mendesak untuk segera diselesaikan sebelum kita tidak mampu memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh masalah sampah, bukan?

 

Untuk menyelesaikan masalah ini, peran masing-masing individu tentu penting untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan. Namun, ada peran yang tak kalah penting, yaitu peran dari para inovator yang menciptakan berbagai inovasi kreatif solusi pengelolaan sampah untuk skala industri. Seperti apa saja inovasi terkini solusi pengelolaan sampah? Cek selengkapnya di sini!

Inovasi Pengurangan Sampah

Foto Bulk Store (Liandro N. I. Siringoringo)

Inovasi pengelolaan sampah yang menjadi garda terdepan untuk mencegah timbulnya sampah adalah inovasi pengurangan sampah. Saat ini, berbagai gebrakan solusi kurangi sampah organik maupun anorganik menawarkan kemudahan layanan melalui teknologi dengan dampak yang besar dan luas. Inovasi tersebut datang dari Surplus, Food Cycle, dan bulk store.

 

Surplus dan Food Cycle sama-sama bergerak untuk mengurangi jumlah sampah sisa makanan. Hanya saja strategi yang mereka terapkan berbeda. Dalam menangani sampah sisa makanan, Food Cycle berupaya untuk mengatasi kelaparan pada masyarakat yang kurang mampu. Mereka mengumpulkan sisa makanan yang masih layak dari industri makanan maupun donasi untuk didonasikan kepada orang yang membutuhkan. Sedangkan Surplus mengurangi sampah sisa makanan dengan menyediakan platform bagi penggunanya untuk jual beli sisa makanan yang masih layak konsumsi. Sisa makanan dijual oleh industri makanan dan dapat dibeli oleh konsumen umum. Inovasi tersebut tentunya berdampak baik untuk mengurangi jumlah sampah sisa makanan yang dihasilkan dari aktivitas industri makanan maupun konsumsi pribadi. 

 

Selain mengurangi sampah organik berupa sisa makanan, sampah anorganik tetap harus kita cegah. Bulk store adalah inovasi yang hadir untuk mengurangi produksi sampah baik organik maupun anorganik. Bulk store adalah toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang menerapkan prinsip zero waste. Berbelanja di bulk store, kita harus menyediakan wadah untuk tempat barang yang kita beli karena produk bulk store tidak menyediakan kemasan sekali pakai seperti kemasan plastik alias menerapkan sistem isi ulang. Kita juga harus membawa tas belanja sendiri karena tidak tersedia kantong plastik. Barang-barang yang dijual juga ramah lingkungan. Berbelanja di bulk store juga membantu mencegah sampah sisa makanan karena kamu bisa menakar sendiri kebutuhan pangan yang perlu kamu beli.

Inovasi Pengumpulan dan Pengolahan Sampah

Foto Startup Pengelolaan Sampah (Gringgo.co)

Saat ini di Indonesia, banyak sekali inovasi yang bergerak untuk mengelola sampah berbasis teknologi. Inovasi ini melahirkan startup pengelolaan sampah dan teknologi pengumpulan sampah. Tak hanya mengumpulkan sampah, namun juga mendaur ulang sampah yang terkumpul agar menjadi barang yang memiliki nilai guna. Mereka yang menyediakan layanan seperti Waste4Change, Gringgo, Mall Sampah, Reciki, Rapel dan Sungai Watch yang menawarkan teknologi pengumpul sampah sungai.

 

Walaupun bergerak dalam bidang yang sama, namun masing-masing startup tersebut bergerak di sektor yang berbeda. Misalnya saja Waste4Change dan Gringgo yang bergerak di sektor rumah tangga dan bussiness to bussiness mengelola sampah dari masyarakat umum yang mengikuti layanannya dan melayani berbagai perusahaan untuk mengelola sampah mereka. Khusus untuk yang bergerak di sektor rumah tangga, ada Rapel yang siap mengelola sampah anorganik dari kliennya yang sudah terpilah.

 

Inovasi ini tentunya memberi dampak positif. Selain membersihkan lingkungan, inovasi sampah bisa membuka peluang bisnis startup yang akan membuka lapangan pekerjaan, mendatangkan laba, bahkan para klien sampah juga bisa memperoleh keuntungan dari sampah yang ditukarkan menjadi uang. Walaupun beberapa startup masih belum mampu mendaur ulang sampah yang didapat, mereka masih memiliki semangat untuk mengupayakan daur ulang sampah dengan bekerjasama dengan industri daur ulang sampah. Sementara, yang sudah mampu mengolah sampahnya tentu sudah berhasil membentuk kebiasaan pilah sampah bagi kliennya agar startup dapat mengolah sampah yang terpilah sesuai jenis dan produknya.

 

Inovasi teknologi juga hadir dari Citarum Repair yang menciptakan penghalang sampah (trash barrier) dan alat pengumpul sampah bertenaga surya yang di pasang di Sungai Citarum untuk mencegah sampah plastik berakhir ke laut. Sungai Citarum merupakan sungai terkotor di Indonesia. Tak sekedar mengumpulkan sampah dari sungai, mereka juga mendaur ulang sampah yang dikumpulkan. Di bali, juga terdapat Sungai Watch yang telah berhasil mengumpulkan 333 ton sampah di sungai Bali pada tahun 2021 lalu dengan memasang 105 penghalang sampah. 

 

Inovasi Daur Ulang Sampah Organik

Maggot
Foto Maggot (Jiri Birtnik / Unsplash)

Sampah organik memiliki jumlah yang paling banyak di Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, tentunya butuh banyak inovasi dan ide kreatif pengelolaan sampah organik yang diwujudkan dalam bentuk tindakan. Aksi yang saat ini marak dilakukan adalah pembuatan kompos dan maggot.

 

Kompos adalah pupuk organik yang dibuat dari bahan sampah organik seperti sisa makanan, kayu, ranting, daun, dan rumput yang melalui proses pelapukan oleh bakteri pembusuk. Proses pembuatannya cukup mudah dan tidak memakan waktu lama. Pembuatan kompos memerlukan waktu 1-3 bulan sampai pupuk siap dipanen. 

 

Hasil dari mengolah sampah organik menjadi kompos dapat digunakan mulai dari skala rumah tangga dan industri. Untuk rumah tangga, pupuk yang dihasilkan bisa Generasi Hijau gunakan untuk menyuburkan tanaman di rumah, sehingga Generasi Hijau tidak perlu membeli pupuk lagi. Untuk skala industri, kompos bisa dijadikan peluang bisnis dengan menjual hasil olahan pupuk pada jangkauan pasar yang lebih luas.

 

Selain kompos, maggot juga bisa menjadi pilihan untuk mengolah sampah organik skala industri. Maggot (Black Soldier Fly) merupakan larva yang akan bermetamorfosis menjadi lalat. Budidaya maggot sangat berkontribusi untuk pengurangan sampah organik karena 1 kg maggot mampu menghabiskan 2-5 kg sampah organik per harinya. Jika dihasilkan dalam skala industri, tentu sampah organik yang menjadi makanannya akan semakin berkurang menjadi sampah.

 

Budidaya maggot dinilai sangat menguntungkan karena proses budidayanya yang mudah dan tingginya permintaan pasar karena protein tinggi yang terkandung pada maggot sangat baik untuk pakan ternak. Memperbanyak budidaya maggot bisa menjadi salah satu strategi untuk mengurangi sampah organik secara alami. 

Inovasi Daur Ulang Sampah Plastik

Foto Olahan Ecobrick Oleh Rebricks (Aviaska Wienda S)

Tak kalah dari inovasi pengolahan sampah organik, inovasi pengolahan sampah plastik juga terus bermunculan. Salah satunya adalah mengubah sampah plastik menjadi batu bata untuk bahan bangunan (ecobrick). Pembuatan ecobrick dapat dilakukan dalam skala industri maupun rumah tangga. Untuk skala rumah tangga, ecobrick dapat dibuat dengan memecah sampah plastik kemasan. Lalu, sampah tersebut dimasukkan ke dalam botol plastik bekas untuk dipadatkan. Botol-botol berisi plastik tersebut, jika dirangkai bisa menjadi bahan untuk membuat meja, kursi, bahkan bangunan. 

 

Untuk skala industri, sampah plastik akan dijadikan bahan campuran batako yang digunakan untuk membangun infrastruktur. Plastik tersebut akan dicacah dengan mesin lalu dicampurkan ke semen dan akhirnya dicetak menjadi berbagai bentuk batako seperti hollow block dan paving block. Salah satu industri yang telah mengolah sampah plastik menjadi ecobrick adalah Rebricks. Rebricks telah mampu mengolah 17.500 kg sampah plastik menjadi 10.000 kg batako.

 

Sektor industri memang memiliki peran dan tanggung jawab besar untuk sistem pengelolaan sampah. Sektor ini menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia. Meskipun sudah banyak inovasi pengelolaan sampah yang bermunculan, bukan berarti kita tak berupaya sama sekali untuk mencegah sampah. Jadi, perilaku minim sampah tetap harus diterapkan! Masih penasaran bagaimana peranan sektor ini hadir di masyarakat? 

 

Nantikan artikel HPSN Series ke-3 yang akan mengupas peran industri kuliner dalam menangani sampah organik maupun anorganik! Artikel selanjutnya dapat kamu nikmati disini!

 

Artikel ini merupakan artikel kedua dari seri Hari Peduli Sampah Nasional 2022. 

 

 

 

Ditulis oleh: Aviaska Wienda Saraswati

Referensi

(n.d.). FoodCycle Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.foodcycle.id/

 

(n.d.). Surplus | Food Rescue App | Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.surplus.id/

 

(n.d.). https://sungaiwatch.com/pages/rivers.

 

(n.d.). https://rebricks.id/what-we-do

 

Home. (n.d.). Rapel.id. Retrieved February 7, 2022, from https://www.rapel-id.com/en/

 

Kurangi Sampah Organik dengan Beternak Maggot – Infografik Katadata.co.id. (2021, November 13). Katadata. Retrieved February 7, 2022, from https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/618f1ec50b131/kurangi-sampah-organik-dengan-beternak-maggot

 

Kurniasih, W., & Atthariq, R. (2021, October 14). Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya – Best Seller Gramedia. Gramedia.com. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gramedia.com/best-seller/budidaya-maggot/

 

Membuat Kompos dari Sampah Organik. (2021, March 9). Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya. Retrieved February 7, 2022, from https://dlh.palangkaraya.go.id/membuat-kompos-dari-sampah-organik/

 

Sustainable development. (n.d.). Gringgo Tech. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gringgo.co/about

Tentang. (n.d.). Waste4Change. Retrieved February 7, 2022, from https://waste4change.com/official/about

 

(n.d.). FoodCycle Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.foodcycle.id/

 

(n.d.). Surplus | Food Rescue App | Indonesia. Retrieved February 7, 2022, from https://www.surplus.id/

 

(n.d.). https://sungaiwatch.com/

pages/rivers.

 

(n.d.). https://rebricks.id/

what-we-do

 

Home. (n.d.). Rapel.id. Retrieved February 7, 2022, from https://www.rapel-id.com/en/

 

Kurangi Sampah Organik dengan Beternak Maggot – Infografik Katadata.co.id. (2021, November 13). Katadata. Retrieved February 7, 2022, from https://katadata.co.id/

ariayudhistira/infografik/618f1ec50b131/kurangi-sampah-organik-dengan-beternak-maggot

 

Kurniasih, W., & Atthariq, R. (2021, October 14). Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya – Best Seller Gramedia. Gramedia.com. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gramedia.com/

best-seller/budidaya-maggot/

 

Membuat Kompos dari Sampah Organik. (2021, March 9). Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya. Retrieved February 7, 2022, from https://dlh.palangkaraya.go.id/

membuat-kompos-dari-sampah-organik/

 

Sustainable development. (n.d.). Gringgo Tech. Retrieved February 7, 2022, from https://www.gringgo.co/about

Tentang. (n.d.). Waste4Change. Retrieved February 7, 2022, from https://waste4change.com/official/

about

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

Mengenal Lebih Jauh Kota Berkelanjutan

 

31 Oktober 2020, PBB meluncurkan data persebaran populasi urban di seluruh dunia untuk memperingati Hari Kota. Penelitian ini dilakukan di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin. Hasilnya, penduduk kota di Asia kini mencapai 51.1%, meningkat drastis dibanding tahun 1950 di mana hanya 17.5% dari total populasi yang tinggal di kota. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan 56.2% populasi dunia kini tinggal di daerah perkotaan. 

Mengingat hampir seluruh bahan pangan dan sumber daya berasal dari pedesaan, temuan tadi menimbulkan pertanyaan, bagaimana sistem perkotaan dapat menghidupi tiap warganya dengan berkelanjutan? Hal tersebut mungkin dilakukan dengan menerapkan konsep kota berkelanjutan.

Apa Itu Kota Berkelanjutan?

Secara konseptual, kota berkelanjutan mengacu pada usaha berjalannya perekonomian dan kegiatan sosial dengan meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan. Jadi, generasi selanjutnya masih dapat tetap merasakan kota ramah lingkungan dengan kondisi yang sama. Inspirasi dan inovasi dalam membangun kota adalah meniru kerja alam, karena alam sendiri bersifat berkelanjutan.

 

Songdo, Korea Selatan. Tiap gedungnya sudah terkomputerisasi dan memiliki kontrol cuaca otomatis. (Sumber: Panya K/Shutterstock)

Menurut Koordinator Kemitraan Kota Hijau Nirwono Joga, kota berkelanjutan mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas penyediaan air bersih, pengolahan air limbah dan pengelolaan sampah ramah lingkungan, aksesibilitas dan mobilitas yang didukung transportasi berkelanjutan, pemanfaatan energi baru terbarukan, persyaratan bangunan gedung hijau, dan ruang terbuka hijau yang memadai.

Menurut BBC, berikut pilar utama kota berkelanjutan:

            1. Semua penduduk kota dapat layanan dan akses yang setara.

            2. Transportasi publik dinilai aman dan merupakan alternatif yang baik dari kendaraan pribadi.

            3. Aman bersepeda dan berjalan kaki.

            4. Warga dapat mengakses dan menikmati RTH..

            5. Penggunaan energi baru dan terbarukan lebih masif.

            7. Sampah dinilai sebagai sumber daya dan didaur ulang sedapat mungkin.

            8. Akses perumahan lebih terjangkau.

            9. Hubungan antarkomunitas lebih kuat dan warga saling bantu untuk mengentaskan kriminalitas.

            10. Fasilitas publik dapat diakses tiap kalangan.

            11. Penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan.

 

Konsep Kota Berkelanjutan di Berbagai Negara

Tahun 2019 pasca kemenangannya, Presiden Joko Widodo mencanangkan perpindahan ibukota Indonesia dari Jakarta ke dua kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara. Atas alasan konversi lahan dan penduduk pulau Jawa yang terlalu padat, Kalimantan dipilih sebagai rencana pembangunan ibukota baru.

 

Deputi II bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut Alu Dohong menyebutkan agar perpindahan ini menganut konsep “green and smart city”, seperti dilansir ANTARAKonsep ini mengombinasikan antara kota pemerintahan berbasis keberlanjutan dan teknologi serta memperhatikan efisiensi. Jadi, bukan berarti semua tanaman akan dibabat habis dan dibangun lahan baru. Namun sebagian tanaman dipertahankan dan dipelihara selagi menjalankan konsep kota berkelanjutan.

 

Menerapkan konsep kota berkelanjutan pasti akan jadi hal baru untuk Indonesia, tetapi bukan berarti tidak dapat dicapai. Untuk mewujudkannya, kita dapat mencontoh beberapa kota berikut. Berikut beberapa kota di dunia yang telah menerapkan prinsip kota berkelanjutan.

Kopenhagen, Denmark

Kopenhagen menargetkan untuk jadi ibukota pertama di dunia yang bebas emisi karbon pada tahun 2025. Kini, hasil upayanya mulai terlihat. Kurang dari 2% sampah di kota berakhir di TPA. Sebagian besar sisanya didaur ulang atau dikonversi menjadi energi di Copenhill (Amager Resource Center – Pusat Sumber Daya Amager). Copenhill ialah pembangkit listrik tenaga sampah yang sekaligus berperan sebagai fasilitas olah raga warga Kopenhagen. 

 

Copenhill, pembangkit listrik tenaga sampah di tengah kota Denmark. (Sumber: Visit Denmark)

 

 Bus sebagai transportasi publik seluruhnya sudah beralih ke tenaga listrik dari bahan bakar diesel. Jalanan didominasi oleh sepeda, bahkan anggota parlemen juga bersepeda ke kantor. Kalau kamu memilih jalur air, kamu bisa menyewa perahu listrik untuk menyusuri kanal. Kalau tertarik berenang di kanal, air di Kopenhagen bersih sekali untuk berenang.

 

Meski memiliki sistem tata kelola sampah yang sangat baik, gerakan minim sampah juga berkembang. Amass, restoran di Kopenhagen dinilai sebagai restoran paling ramah lingkungan di dunia. Bahan yang disajikan di Amass berasal dari kebun sendiri, bahkan membuat bir sendiri. Sisa dapur diolah menjadi makanan lagi atau dikompos.

Vancouver, Kanada

Alam dan perkotaan sudah jadi entitas yang menyatu di Vancouver. Dikelilingi Gunung Cypress, Grouse dan Seymour, Vancouver jadi daya tarik bagi pecinta alam. Kota ini juga menghasilkan emisi karbon paling minim dari semua kota di Amerika Utara.

 

Vancouver Convention Center – satu-satunya convention center di dunia yang mendapat sertifikasi platinum dalam aspek keberlanjutan. (Sumber: Vancouver Economic Comission)

50 persen warga di Vancouver berjalan kaki, bersepeda atau naik transportasi umum. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah pohon sebanyak 125.000 pohon sudah ditanam sejak 2010, dan masih akan terus bertambah. Vancouver menargetkan untuk sepenuhnya menghapus jejak karbon pada 2040.

Singapura

Dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Asia, tidak salah jika titel kota paling maju di Asia disematkan pada Singapura. Negara-kota yang sedikit lebih besar dari Jakarta ini menerapkan konsep kota berkelanjutan dan berkomitmen untuk mereduksi konsumsi energinya hingga 35 persen pada 2030. 

 

Singapura mampu menjaga preservasi alam di tengah gedung betonnya. Karena lahan yang minim, apartemen dan rumah susun vertikal mengisi 80 persen dari total residential area. Tempat wisata yang berbasis ekologi juga menerapkan konsep taman vertikal, seperti Gardens by the Bay, Jewel Changi dan Marina One. 

Supertree, panel surya berbentuk pohon raksasa dengan beragam tumbuhan menjalar di Gardens by The Bay, Singapura. (Sumber: Patrick Bingham Hall/Grant Associates UK)

Minimnya sumber air tawar membuat Singapura memiliki water recycling system. Air saluran pembuangan disaring untuk membuang bakteri, virus dan partikel besar. Airnya akan disuling kembali dengan reverse osmosis, menyaring kontaminan dan substansi pembawa penyakit. Di akhir proses, air disterilisasi dengan sinar ultraviolet untuk memastikannya murni dan siap dikonsumsi.

Prinsip kota berkelanjutan secara sirkular akan menghasilkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan pula. Greeneration Foundation sebagai lembaga yang mendukung produksi dan konsumsi berkelanjutan mengajak Generasi Hijau turut berperan dalam kolaborasi multipihak untuk dapat mewujudkan konsep kota berkelanjutan. Selain itu, kami juga mendukung perwujudan pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab melalui beberapa inisiatif kami, yaitu Bebas Sampah ID dan Indonesia Circular Economy Forum (ICEF).

Referensi

Alonso, T. (2020, February 10). Success story: the transformation of Singapore into a sustainable garden city. Retrieved from Tomorrow City: https://www.smartcitylab.com/blog/urban-environment/singapore-transformation-garden-city/

ArcGIS. (n.d.). Retrieved from How does Vancouver plan to become the most sustainable city worldwide?: https://www.arcgis.com/apps/Cascade/ index.html?appid= 9a8f6f4bdb2e4bdaa762ce805684ae37

Duerre, R. I. (2013, June 6). Singapore ‘toilet-to-tap’ concept. Retrieved from Deutsch Welle: https://www.dw.com/en/singapores-toilet-to-tap-concept/a-16904636

Gloede, K. (2015, May 18). The Greenest City in the World by 2020. Retrieved from Architect Magazine: https://www.architectmagazine.com/ technology/the-greenest-city-in-the-world-by-2020_c

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Holland, O. (2021, February 2). Singapore is building a 42,000-home eco ‘smart’ city . Retrieved from CNN Style: https://edition.cnn.com/style/article/ singapore-tengah-eco-town/index.html

Joga, N. (2019, November 6). Investor.id. Retrieved from Menggaungkan Konsep Ibukota Baru: https://investor.id/opinion/menggaungkan-kota-berkelanjutan

Koesno, D. A. (2019, Agustus 28). Tirto.id. Retrieved from Mengenal Konsep Green City Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur: https://tirto.id/mengenal-konsep-green-city-ibu-kota-baru-di-kalimantan-timur-eg9t

Mathieson, E. (2020, August 14). 10 of the most sustainable cities in the world. Retrieved from Condé Nast Traveller: https://www.cntraveller.com/gallery/ sustainable-cities

Visit Singapore. (n.d.). Leading the Way: Singapore’s Sustainable Future. Retrieved from Visit Singapore: https://www.visitsingapore.com/mice/en/ bulletin-board/leading-the-way-singapores-sustainable-future/overview/

Wilmott, J. (2020, February 6). Have you been to the world’s greenest city? . Retrieved from The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/travel/ discovering-hygge-in-copenhagen/worlds-greenest-city/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

MENJALANI MASA KARANTINA DI RUMAH SECARA RAMAH LINGKUNGAN

MENJALANI MASA KARANTINA DI RUMAH SECARA RAMAH LINGKUNGAN

Jumlah kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia hingga tanggal 30 Maret 2020 pukul 08.30 WIB tercatat 1.285 kasus dengan rincian 1.107 orang dalam perawatan, 64 sembuh, dan 114 orang meninggal. Untuk mengurangi penyebaran virus tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak sosial atau melakukan social distancing dengan tetap beraktivitas di rumah hingga pandemi ini mereda. Meskipun berada di dalam rumah, generasi hijau harus tetap berperilaku ramah lingkungan. Oleh karena itu, pada tulisan ini, kami akan membagikan tips mengenai cara mengisi waktu karantina di rumah secara ramah lingkungan:

 

1. Kurangi Produksi Sampah

Meskipun tinggal di rumah, kita harus tetap memperhatikan timbulan sampah yang kita produksi selama masa karantina. Mengurangi produksi sampah di rumah sangat penting karena sampah rumah tangga masih termasuk sampah yang paling banyak diproduksi di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita kurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak baik bagi lingkungan seperti sampah plastik. Selain itu, untuk mengurangi sampah organik, generasi hijau juga dapat mengkompos sampah organik tersebut sehingga tidak mencemari lingkungan.

 

2. Membuat Prakarya Daur Ulang

Tetap berada di dalam rumah dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kebosanan bagi beberapa orang. Rasa bosan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan membuat prakarya dari bahan-bahan bekas. Selain menyenangkan, kegiatan ini tentunya dapat bermanfaat bagi lingkungan. Jika bingung, yuk cek di sini untuk melihat tutorial membuat prakarya dari bahan bekas.

 

3. Menonton Film Lingkungan

Selain membuat prakarya, generasi hijau juga dapat mengisi waktu luang di rumah dengan cara menonton film edukatif yang memiliki pesan untuk lebih menjaga lingkungan. Dengan menonton film tersebut, kita dapat terhibur sekaligus terdorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Penasaran film apa saja yang memiliki tema tentang lingkungan? Yuk cek di sini.

 

Itu dia hal-hal yang bisa generasi hijau lakukan di rumah untuk bisa menjadi lebih ramah lingkungan. Untuk terhindar dari covid-19, kita juga harus tetap menjaga daya tahan tubuh dengan cara makan makanan yang bergizi, olahraga yang cukup, dan rajin menjaga kebersihan seperti cuci tangan secara rutin.

 

Selain itu, jangan lupakan juga pahlawan yang berada di garda paling belakang seperti pemulung dan petugas persampahan. Dengan munculnya pandemi COVID-19 ini, sampah seperti masker bekas pakai sudah mulai menumpuk di tempat penampungan sampah seperti di TPST Bantar Gerbang. Tanpa adanya alat pelindung diri, pemulung dan petugas persampahan beserta keluarganya terancam untuk tertular virus serta penyakit lainnya yang disebabkan oleh jenis sampah lain. Oleh karena itu, mari kita bantu mereka dengan berdonasi agar mereka mendapat alat kebersihan yang layak dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Donasi ini diinisiasi oleh Greeneration Foundation, Waste4Change, serta komunitas lainnya dan dapat dilakukan melalui tautan berikut.

 

Ditulis oleh: Siti Aisyah Novitri

 

Sumber: https://tirto.id/update-corona-30-maret-di-indonesia-kasus-covid-19-di-30-provinsi-eJFs

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Tips Kurangi Sampah Plastik Sachet

Tips Kurangi Sampah Plastik Sachet