Tag Archives: zero waste

Foto 1. Poster Kampanye Zero-waste week (Rebecca / Pinterest)

Kampanye Zero-waste Week untuk Bumi

Kampanye Zero-waste Week untuk Bumi

Foto 1. Poster Kampanye Zero-waste week (Rebecca / Pinterest)
Foto 1. Poster Kampanye Zero-waste week (Rebecca / Pinterest)

Generasi Hijau, saat ini kita sedang ada di minggu peringatan zero-waste week international. Di minggu ini, banyak pegiat lingkungan dan aktivis zero-waste mengkampanyekan penerapan zero-waste lifestyle. Semangat ini digerakkan untuk melindungi bumi dari polusi sampah yang kian memburuk. Ingin tahu lebih jauh tentang zero-waste week? Simak selengkapnya di sini!

Zero-waste Week

Foto 2. Rachel Strauss (House of Strauss)
Foto 2. Rachel Strauss (House of Strauss)

Kampanye zero-waste week dimulai dari kegelisahan Rachelle Strauss yang menjadi korban bencana banjir di Boscastle pada tahun 2004. Ia menyadari kalau banjir yang terjadi di daerahnya juga akibat dari perubahan iklim yang dipicu perilaku manusia yang merusak alam. Sejak saat itu, ia dan keluarganya berusaha mengubah gaya hidupnya jadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ia kemudian membuat sebuah website  MyZeroWaste.com. Melalui website tersebut, Rachel membagikan berbagai tips dan informasi menarik tentang zero-waste lifestyle. Lalu, ia mencetuskan kampanye zero-waste week pertama kalinya pada 9-10 September 2008.  


Kampanye ini awalnya fokus untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dalam skala rumah tangga, industri, sekolah dan komunitas dengan cara daur ulang. Kampanye ini diawali dari gerakan akar rumput. Dampak yang diberikan zero-waste week adalah hadirnya berbagai inovasi pengurangan sampah seperti kompos, plastik biodegradable, dan kemasan biodegradable. Berkat kontribusinya lewat zero-waste week, Rachelle memenangkan penghargaan Hot 100 List 2014. Tentunya, mendapat penghargaan bukan tujuan utama Rachelle, ia selalu semangat memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah perubahan iklim dengan mengurangi sampah.

Misi Zero-waste Week untuk Bumi

Foto 3. Belanja Tanpa Kantong Plastik (Unimmafm)
Foto 3. Belanja Tanpa Kantong Plastik (Unimmafm)

Berawal dari gerakan sebuah keluarga, kampanye ini meluas hingga ke mancanegara. Berawal dari Inggris, saat ini sudah ada 76 negara yang mengikuti kampanye ini tiap tahunnya. Kampanye ini memiliki misi untuk menyadarkan manusia akan bahaya sampah bagi keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, gagasan zero-waste hadir untuk mengurangi sampah yang kita hasilkan sehari-hari dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. 

 

Kampanye zero-waste ini digalakkan untuk berbagai lini masyarakat. Mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga pelaku industri. Setiap elemen tersebut memiliki peran penting untuk membangun gaya hidup minim sampah yang bersinergi. 



Ayo Ikuti Kampanye Zero-waste Week!

Foto 4. Toko Nol Sampah (Raisan Al Farisi / ANTARA Foto)

Generasi Hijau juga bisa mengikuti kampanye ini dengan menerapkan beberapa tips sederhana ini untuk kurangi sampah. Untuk mengurangi sampah, pertama kamu bisa menggunakan kemasan guna ulang. Cara ini efektif untuk mengurangi sampah plastik dari bungkus makanan maupun botol minuman. Kamu bisa membawa tumbler dan kotak bekal kemanapun kamu pergi. Kedua, kamu bisa memperpanjang masa penggunaan barang-barang dengan alih fungsi maupun mendonasikan barang yang tidak terpakai. Contohnya, baju bekas yang sudah tak terpakai bisa kamu gunakan untuk kain lap dan yang masih layak pakai bisa kamu donasikan. Ketiga, kamu dapat mendaur ulang sampah organik maupun anorganik yang kamu hasilkan. Sampah anorganik dapat kamu daur ulang dengan membuat ecobrick sedangkan sampah organik bisa didaur ulang jadi kompos maupun eco-enzyme.

 

Banyak sekali cara yang bisa kamu lakukan untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. Bahkan, saat ini kamu juga bisa berkontribusi untuk mengelola sampah yang ada di sungai hingga laut. Caranya mudah saja, kamu bisa mengikuti kampanye #KemanaSampahmu dengan mengisi quiz yang akan menguji pengetahuanmu tentang isu lingkungan. Ikut kuis bisa berkontribusi? Dengan mengikuti quiz, kamu sudah berdonasi sebesar RP 20.000. Donasimu akan digunakan untuk kegiatan River Cleanup. Jadi, tunggu apa lagi? Gabung kuisnya di www.kemanasampahmu.com.

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Petani Bambu

Manfaat Bambu Sebagai Kemasan Ramah Lingkungan

Manfaat Bambu Sebagai Kemasan Ramah Lingkungan

Petani Bambu
Foto 1. Petani Bambu (catkayu.com)

Bambu, tanaman serbaguna ini sangat mudah ditemui di Indonesia. Tanaman ini biasa digunakan untuk membuat pondasi rumah, furnitur, kemasan, kerajinan, bahkan digunakan sebagai senjata andalan para pehlawan pejuang kemerdekaan Indonesia. Melihat ragam jenis barang yang bisa diproduksi dengan bahan baku bambu, membuka peluang peluang bisnis olahan bambu yang tentunya berkelanjutan. Bisnis yang menjanjikan untuk kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan salah satunya produksi kemasan berbahan dasar bambu yang dapat didaur ulang dan digunakan berulang kali. Yuk intip manfaat bisnis kemasan bambu untuk perekonomian dan lingkungan!

Potensi Bambu di Indonesia

Tanaman Bambu
Foto 2. Tanaman Bambu (KEHATI)

Sebagai negara pengekspor bambu terbesar ke-3 di dunia, Indonesia punya potensi yang sangat baik untuk mengembangkan industri bambu yang berkelanjutan. Negara kita memiliki 176 spesies bambu dari 1620 spesies bambu yang ada di dunia. Umumnya, tanaman ini tumbuh liar dan hanya 25.000 hektar dari satu juta hektar yang dikelola sebagai hutan atau kebun bambu. 

 

Meskipun memiliki potensi yang besar, pemanfaatan lahan untuk budidaya bambu terbilang masih rendah. Pemanfaatan lahan masih banyak dilakukan dalam skala masyarakat. Tak ingin menyia-nyiakan potensi ini, pemerintah indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencoba untuk mengembangkan industri bambu lewat program 1000 Desa Bambu bersama  Yayasan Bambu Lestari untuk meningkatkan produksi bambu. 

 

Selain memiliki potensi tinggi dalam bidang perekonomian, tanaman ini juga memiliki segudang manfaat untuk konservasi ekosistem disekitarnya. Bambu dapat diandalkan untuk konservasi air dan tanah. Tanaman ini memiliki struktur akar yang rapat dan menyebar secara luas sehingga dapat mengurangi resiko erosi tanah yang ditempatinya. Selain itu, akar bambu juga banyak menyerap air sehingga cadangan air tanah disekitarnya berlimpah. 

 

Manfaat ekonomi dan konservasi yang dimiliki bambu tentunya tak boleh disia-siakan. Meningkatkan budi daya bambu jadi modal penting untuk pengembangan berbagai peluang bisnis berkelanjutan seperti pembuatan kemasan bambu yang ramah lingkungan. Pengembangan bisnis ini memiliki misi untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai yang berdampak buruk bagi keberlanjutan lingkungan.

Inovasi Bisnis Kemasan Bambu Pengganti Styrofoam

Produk Kemasan Bambu UB Pack
Foto 3. Produk Kemasan Bambu UB Pack (ubpack.com)

Inovasi bisnis kemasan bambu salah satunya datang dari negri gajah, Thailand. Sebuah perusahaan produksi kemasan makanan UB Pack hadir untuk menciptakan solusi pengganti kemasan plastik dan styrofoam yaitu dengan produk kemasan biodegradable yang terbuat dari pati singkong dan serat alami bambu. Bambu dimanfaatkan untuk memperkuat produk yang dihasilkan. 

 

Dalam proses produksinya, mereka menghindari penggunaan bahan kimia seperti pewarna buatan dan pemutih agar produk benar-benar bisa terurai di alam bahkan bisa dimanfaatkan untuk bahan kompos. Bambu yang digunakan juga merupakan sisa produksi sumpit kayu. 

 

Produk kemasan ramah lingkungan ini dapat terurai di alam dalam 180 hari. Kemasan yang diproduksi juga tahan panas dan dingin sehingga makanan atau minuman dapat dipanaskan di microwave maupun didinginkan dalam freezer. Mereka menawarkan berbagai kemasan makanan seperti mangkuk, gelas, piring, kotak bekal, hingga loyang.

Bisnis Kemasan Bambu Tradisional Indonesia

Kemasan Besek Bambu
Foto 4. Kemasan Besek Bambu (Eatfever)

Bagi masyarakat Indonesia, kemasan yang terbuat dari bambu sudah lama populer sejak dahulu kala. Masyarakat mengolah bambu sebagai kemasan tradisional yang bisa digunakan untuk membungkus makanan, hadiah, wadah bunga tabur, dan lain-lainnya. Berbeda dengan UB Pack yang telah mengolah bambu jadi kemasan dalam skala industri besar, masyarakat Indonesia masih mengolah bambu secara tradisional dengan cara menganyam bambu yang diproduksi dalam skala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). 

 

Meskipun begitu, produk yang dihasilkan seperti besek, keranjang bambu, dan tampah memiliki daya tahan yang baik sehingga bisa digunakan berulang kali, memiliki tampilan yang unik dan menarik, bebas bahan kimia, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Kemasan-kemasan bambu tersebut juga dapat kamu beli dengan mudah di pasar hingga e-commerce. Menggunakan kemasan bambu tradisional dapat menumbuhkan kebiasaan guna ulang untuk kurangi sampah.

 

Banyaknya ragam jenis kemasan yang terbuat dari bambu memberikan konsumen lebih banyak pilihan kemasan sebagai wadah pembungkus produk mereka baik untuk sesama pelaku bisnis maupun penggunaan pribadi. Memaksimalkan potensi budidaya bambu untuk mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan harus dilakukan demi pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan keberlanjutan lingkungan.

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Ibadah Tanpa Nyampah: Pandangan Agama Pada Prinsip Zero Waste

Ibadah Tanpa Nyampah: Pandangan Agama Pada Prinsip Zero Waste

Foto 1. Muslimah Membawa Barang Belanjaan (RgStudio / istock)

Gaya hidup bebas sampah atau yang populer disebut zero waste ternyata sudah diajarkan dan dianjurkan untuk diterapkan dalam agama sejak dahulu kala. Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan kita bagaimana berperilaku baik terhadap sesama dan bumi seisinya. Menerapkan gaya hidup zero waste juga merupakan kebaikan yang patut disebarkan pada seluruh umat. Lalu, seperti apa pandangan dari masing-masing agama di Indonesia ini melihat kebermanfaatan zero waste

Islam Dukung Gaya Hidup Zero Waste

Foto 2. Memetik Jeruk Di Kebun (Riaz / Sakata.id)

Saat ini, masyarakat Muslim Indonesia sedang merayakan Ramadan. Sayangnya, bulan Ramadan jadi momen peningkatan jumlah sampah yang kita hasilkan. Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, sampah pada bulan ramadan meningkat sebesar 20%. Kebanyakan sampah yang dihasilkan adalah sampah sisa makanan dan plastik sekali pakai. Tentunya, ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Pandangan Islam tentang tata cara menerapkan zero waste dengan mengantisipasi sampah sisa makanan disampaikan dalam surat Al-An’am ayat 141 yang berbunyi, Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

 

Berdasarkan ayat tersebut, Allah melarang umatnya yang melakukan konsumsi secara berlebihan karena dapat menimbulkan sampah. Untuk itu, Alquran menganjurkan manusia untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan musimnya dan berbagi kepada mereka yang tidak mampu agar tidak ada bahan makanan tersisa yang berpotensi menimbulkan sampah. 

 

Mengkonsumsi makanan sesuai dengan musimnya memberikan banyak manfaat bagi lingkungan dan manusia. Makanan sesuai musimnya mengandung nutrisi yang lebih tinggi untuk kesehatan dan pertumbuhan. Makanan yang didapatkan juga lebih segar dan minim penggunaan pengawet dan pestisida. Petani lokal juga diuntungkan karena banyaknya pembelian dari masyarakat setempat. Untuk lingkungan, pola ini akan mengurangi pembukaan lahan pertanian besar-besaran yang dapat mengancam ekosistem sekitar. Transportasi bahan pangan yang dapat menghasilkan karbon juga berkurang karena pola konsumsi makanan lokal. 

Bagi Kristiani, Menghasilkan Sampah Akan Mengurangi Keimanan

Foto 3. Gereja Berbagi Makanan (Adhik Kurniawan / Solopos.com)

Ajaran Kristiani baik Katolik maupun Protestan mengajarkan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan lewat surat Amsal 3:19-22 yang menyatakan “(19) Dengan hikmat Tuhan telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, (20) dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun. (21) Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu.”

 

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa Tuhan telah memberikan banyak kenikmatan kepada manusia lewat lingkungan yang telah diatur untuk mendukung kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia wajib mensyukuri seluruh nikmat yang diberikan dan rendah hati. Salah satu bentuk ungkapan syukur adalah dengan mengurangi jumlah sampah sisa makanan sebagai bentuk pelayanan yang bertanggung jawab secara rohani. Poin utama yang ingin diwujudkan selain keberlanjutan lingkungan adalah berbagi cinta kasih kepada mereka yang kekurangan makanan.

Zero Waste Dengan Membiasakan Mindful Consumption Ala Buddha

Foto 4. Ilustrasi Mindful Consumption (balance.media)

Ajaran agama Buddha juga mengajarkan gaya hidup minim sampah dengan penerapan mindful consumption. Mindful consumption adalah wujud penerapan salah satu poin Jalan Arya Berunsur Delapan yang merupakan cara yang diterapkan untuk menghilangkan penderitaan atau keluh kesah dalam hidup dan mencapai pencerahan. Poin tersebut adalah perhatian atau kesadaran benar. Poin ini mengajarkan umatnya untuk tidak serakah dan cemas terhadap urusan duniawi. Di sini, umat diajarkan untuk fokus memperhatikan dan menyadari tubuh, pikiran, perasaan, dan mental diri. 

 

Mindful consumption adalah perilaku konsumsi di mana kita benar-benar menyadari kebutuhan kita akan konsumsi suatu barang serta tetap memikirkan aspek keberlanjutan lingkungan dari aktivitas konsumsi yang kita lakukan. Dengan menerapkan kebiasaan ini kita akan berlatih untuk mempertimbangkan secara matang barang yang akan kita konsumsi mulai dari proses produksi, manfaat, hingga dampak yang ditimbulkan. Kebiasaan ini sangat baik diterapkan untuk benar-benar mengurangi sampah yang kita hasilkan.

Tri Hita Karana, Pandangan Umat Hindu Untuk Kelestarian

Foto 5. Upacara Adat Bali (disbud.bulelengkab.go.id)

Umat Hindu sangat mengagungkan falsafah hidup Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan harmoni hubungan antar manusia, manusia dan alam, serta manusia dengan tuhannya. Seperti ajaran agama lainnya, ajaran hindu juga sangat menjunjung tinggi kelestarian lingkungan. Dalam kitab, Hyang Widhi (Tuhan) menjelaskan, ”Manusia jangan dan hentikan mencemari atmosfer, tumbuh-tumbuhan, sungai, sumber-sumber air, dan hutan belantara, karena kesemuaannya ini adalah pelindung kekayaan alam yang tak terkira banyaknya” (Rgweda, III.51.5). 

 

Bagi umat Hindu, mereka diperintahkan untuk menggunakan seluruh daya dukung alam yang diberikan hanya sebatas memenuhi kebutuhan bukan keinginan. Ini dilakukan agar manusia bisa menjaga keseimbangan alam agar tetap bahagia hidup di bumi dan bisa mencapai surga. Prinsip ini juga menjadi landasan untuk menerapkan gaya hidup zero waste. Menjaga pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan menuntut kita untuk dapat memetakan kebutuhan konsumsi dan produksi kita sesuai kebutuhan agar tidak menimbulkan sampah.

 

Ajaran-ajaran baik yang dibawa oleh masing-masing agama tentunya harus diimplementasikan dengan baik bagi seluruh umatnya. Menjaga alam dengan menerapkan gaya hidup minim sampah menjadi bagian dari #IbadahTanpaNyampah sebagai wujud kesetiaan dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Author :

Aviaska Wienda Saraswati

Aviaska Wienda Saraswati

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Bulk Store, Cara Efisien Mengurangi Kemasan Plastik

Bulk Store, Cara Efisien Mengurangi Kemasan Plastik

 

Mencoba hidup minim sampah rasanya sulit ketika belanja kebutuhan harian. Belanja di supermarket maupun pasar tradisional, kebanyakan barang sudah dikemas dengan wadah plastik sekali pakai. Dari kebutuhan dapur, kebersihan rumah tangga hingga perawatan tubuh, kita terbiasa dengan pilihan beragam ukuran kemasan. Berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dari kebutuhan harian kita dalam seminggu? Tentunya kita tidak ingin menjadi salah satu penyumbang sampah ke TPA.

Di bulan Februari ini, kita akan memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada tanggal 21 Februari nanti. Peringatan ini timbul untuk mengenang peristiwa ledakan dan longsornya TPA Leuwigajah pada tahun 2006, di tanggal yang sama. Dalam rangka mendekati peringatan HPSN, kami mengajak Generasi Hijau untuk mendukung konsumsi dan produksi bertanggung jawab dan turut mengatasi permasalahan sampah dengan cara paling efisien, yaitu mengurangi dari sumbernya.

The Bulkstore & Co., salah satu bulk store di Jakarta. (Sumber: Kompas.com/Hilel Hodawya)

Untuk mendukung pergeseran gaya hidup Generasi Hijau menuju minim sampah, belanja di bulk store dapat menjadi pilihan tepat. Bulk store menyajikan kebutuhan harian tanpa kemasan, sehingga pelanggan membawa wadah sendiri. Belanja di bulk store bukan berarti kamu membeli kebutuhan dalam kontainer besar seperti di wholesale. Sebaliknya, kamu dapat menakar belanjaan sesuai keperluan. 

Panduan Belanja di Bulk Store Bagi Pemula

Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah barang apa saja yang akan dibeli. Buat daftar belanja lengkap dengan jumlahnya. Tanpa panduan daftar, mungkin kamu akan kewalahan menentukan ukuran belanjaan dan berakhir membeli banyak barang yang tidak dibutuhkan.

Selain itu, Generasi Hijau juga perlu menyiapkan wadah belanja. Tas kain serut atau produce bag dan toples kaca bekas selai dapat menjadi pilihan. Gunakan apa yang ada di rumah dan jangan lupa dicuci agar dapat dipakai ulang.

Belanja di bulk store menggunakan kantong kain akan lebih mudah ditakar. (Sumber: Unsplash/Gaelle Marcel)

Generasi Hijau yang terbiasa belanja di supermarket mungkin akan bingung dengan sistem pembayaran di bulk store. Supermarket menjual produknya dengan harga per unit, sementara bulk store menakar harga sesuai ukuran yang kita beli. Misal, kita terbiasa membeli gula kemasan ukuran 1 kg dengan harga x. Sementara di bulk store, harga barang dipatok dari satuan berat (gram) untuk benda padat dan volume (liter) untuk benda cair. 

Di bulk store tertentu, ada juga yang menjual kebutuhan rumah tangga seperti sabun mandi dan sampo, sabun cuci piring atau deterjen. Untuk sikat bambu, loofah, sabun dan sampo batang, harganya akan dihitung per unit (jumlah). 

Dengan sistem pembayaran ini, penjual akan menghitung bobot wadah pelanggan dulu sebelum diisi. Untuk toples kaca yang beratnya 50 gram dan diisi gula 200 gram, Generasi Hijau hanya perlu membayar gulanya tanpa biaya tambahan dari berat toples. Nantinya, penjual akan menghitung berat wadahmu dulu sebelum diisi.

Mengapa Perlu Beralih ke Bulk Store?

Belanja dengan wadah sendiri memangkas kebutuhan kemasan plastik yang tidak dibutuhkan. Saat Generasi Hijau mulai belanja ke bulk store, kamu akan merasakan betapa minim sampah yang kamu hasilkan dalam seminggu. Tanpa kemasan plastik, Generasi Hijau juga membeli barang lebih murah — kamu murni beli barangnya saja, tanpa ada biaya kemasan!

Tampilan interior Toko Nol Sampah, bulk store di Kota Bandung. (Sumber: Beritabaik.id/Djuli Pamungkas)

Bulk store memungkinkan Generasi Hijau untuk mengukur kebutuhan rumah dan membeli sesuai kebutuhan. Hal ini juga dapat meminimalisasi food waste dari rumah. Belanja di bulk store juga membuatmu bisa mencoba produk lain dalam volume kecil sebelum memutuskan membeli banyak.

Bahan-bahan yang dijual di bulk store kebanyakan diproduksi dari rumah atau tumbuh dari kebun sendiri. Sayur, buah dan bumbu didapat dari petani lokal. Kebutuhan rumah tangga dan badan juga dibuat dari bahan ramah lingkungan, tanpa bahan kimia berbahaya dan tentunya cruelty-free. Dengan belanja di bulk store, Generasi Hijau tidak hanya dapat meminimalisasi sampah, namun juga mendukung petani dan pengusaha lokal.

Bahan yang didistribusi lokal juga mereduksi emisi karbon yang ditimbulkan dari proses distribusi retail. Minim kemasan, minim sampah, minim emisi. 

Referensi

Bold Commerce Collaborator. (2017, July 13). How to Shop At a Bulk Foods Store. Retrieved from Upcycle Studio: https://www.upcyclestudio.com.au/blogs/ sustainable-living/how-to-shop-at-a-bulk-foods-store

Miles, L. (2018, January 25). A First-Timer’s Guide to Shopping at Bulk Stores. Retrieved from Treading My Own Path: https://treadingmyownpath.com/2018/01/ 25/first-time-bulk-store/

Shreeves, R. (2019, April 22). The Many Benefits of Buying Bulk Foods. Retrieved from Treehugger: https://www.treehugger.com/ the-many-benefits-of-buying-bulk-foods-4867771

The Source Bulk Foods. (n.d.). Benefits of Buying Bulk Foods. Retrieved February 2021, from The Source Bulk Foods: Zero Waste Blog: https://thesourcebulkfoods.com.au/blog/ benefits-of-buying-bulk-foods/

Trost, C. (2016, March). Learn How and Why to Buy Food in Bulk. Retrieved from Scratch Mommy: https://scratchmommy.com/learn-how-and-why-to-buy-food-in-bulk/

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Haider, N., & et., a. (2020). COVID-19—Zoonosis or Emerging Infectious Disease? frontiers in Public Health, 1-8.

Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Asia adalah benua yang paling banyak menyumbang polusi plastik di dunia. Menurut sebuah laporan dari Jambeck et al (2015), 8 dari 10 negara teratas yang diberi peringkat berdasarkan jumlah sampah plastik yang salah kelola adalah negara-negara Asia. Peningkatan pesat dalam permintaan konsumen untuk produk yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai adalah alasan utamanya. Hal ini diperparah oleh sistem pengelolaan limbah padat yang tidak memadai dan perilaku buruk dalam membuang sampah ke sungai yang bermuara ke lautan.

Indonesia sendiri berada di peringkat kedua dalam laporan itu, di bawah Tiongkok. Indonesia menghasilkan 65 juta ton limbah padat pada tahun 2016 menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sekitar 69% ditimbun, 7% didaur ulang dan dibuat kompos, dan 24% dibakar secara ilegal atau dibuang secara tidak bertanggung jawab (salah kelola). Di antara limbah padat lainnya, plastik adalah salah satu yang sangat menantang untuk ditangani. Setiap tahun volume sampah plastik meningkat 10 juta ton. Indonesia menyumbang 1,49 MMT / tahun limbah plastik ke laut dan diproyeksikan oleh Jambeck et al (2015) bahwa pada tahun 2025 jumlahnya akan lebih dari dua kali lipat.

Untungnya, upaya untuk mengatasi masalah ini tumbuh di Indonesia sebagai bagian dari upaya internasional untuk melindungi lingkungan. Beberapa negara di dunia menyediakan program pengurangan limbah plastik seperti perpajakan, kantong plastik tipis, serta menerapkan teknologi dan rekayasa sosial untuk mengubah perilaku masyarakat terhadap limbah plastik. Pemerintah Indonesia ikut mengambil peran aktif dalam mengatasi masalah ini. Beberapa inisiatif untuk mencegah sampah laut yang dilakukan oleh berbagai aktor di Indonesia didukung oleh pembentukan Peraturan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah di Laut periode 2018-2025. Rencana Aksi Nasional ini dilakukan untuk mengatasi sampah laut dari sumbernya melalui perbaikan dalam pengelolaan limbah rumah tangga.

Knowledge Gaps dalam Masalah Isu Sampah di Lautan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saat ini banyak negara masih menghadapi masalah kesenjangan pengetahuan (knowledge gaps) di masyarakat. Banyak masyarakat yang masih menganggap remeh tentang pentingnya lingkungan laut bagi kehidupannya. Keterbatasan pengetahuan tentang jenis plastik seperti apa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari serta bahayanya menyebabkan pengabaian terhadap sampah plastik yang mereka hasilkan. 

 

Padahal, jika masyarakat menjadi lebih sadar akan plastik yang mereka gunakan dan kerugiannya bagi lingkungan, perilaku membuang sampah sembarangan diharapkan dapat berubah secara dramatis. Asumsi ini dikemukakan McKinley dan Fletcher (2012) bahwa peningkatan pengetahuan publik dapat menyebabkan perubahan perilaku. Salah satu yang dapat menciptakan kesenjangan pengetahuan di antaranya adalah jarak antara masyarakat ke daerah laut yang terkena dampak. Orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan dengan akses yang sulit untuk melihat langsung dampak terhadap lingkungan laut mungkin merasa tidak ada masalah sama sekali.

 

Berangkat dari permasalah tersebut, dalam artikel ini, saya akan menunjukkan seberapa dekat sebenarnya manusia dengan plastik baik dalam hal penggunaan dalam kehidupan sehari-hari dan dampak yang bahkan bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Pertama-tama, kita harus tahu jenis plastik yang kita gunakan setiap hari. Menurut Derraik (2002) dan Thompson, et. Al (2009), plastik adalah polimer organik sintetik atau semi-sintetik yang murah, ringan, kuat, tahan lama, dan tahan korosi. Karena sifatnya ini, plastik sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kemasan untuk makanan kita, tas belanja di warung, hingga bahan pembuat pipa rumah kita. Salah satu karakteristik plastik adalah ketahanannya dan sulit terdegradasi. Oleh karenanya, limbah plastik sekali pakai menciptakan masalah serius di lingkungan terutama bagi lautan kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan plastik untuk sepenuhnya terdegradasi di lingkungan laut bahkan masih belum diketahui. Sehingga sampah ini terus terombang-ambing di lautan merusak ekosistem dengan jeratan atau tidak sengaja tertelan oleh organisme laut.

Sampah Plastik dalam Kehidupan Manusia

Manusia adalah penghasil pencemaran plastik terbanyak karena banyak sekali plastik yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak dari kita masih tidak menyadarinya. Padahal plastik-plastik dengan berbagai jenis setiap hari kita konsumsi. Polimer/plastik yang paling umum digunakan adalah polietilen densitas tinggi (HDPE), polivinil klorida (PVC), polistirena (PS), dan polietilena tereftalat (PET). Konsekuensinya, polimer-polimer ini juga yang paling umum ditemukan mencemari lingkungan, terutama di lingkungan laut (Andrady, 2011; Engler, 2012). Karena sifatnya yang tahan korosi, diperkirakan sampah-sampah plastik akan bertahan di lingkungan hingga satu abad. 

 

Kita biasanya menggunakan polimer jenis HDPE dalam bentuk botol deterjen, tabung susu, dan juga pipa. HDPE jika terdapat dalam tubuh dapat melepaskan bahan kimia estrogenik yang mengakibatkan perubahan struktur sel manusia (Ecology Center, 1996). Plastik yang biasa digunakan berikutnya adalah Polivinil Klorida (PVC). PVC dapat ditemukan dalam bentuk tirai mandi, lantai, hingga film. Efek samping PVC jika tertelan di antaranya dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, perubahan genetik, bronkitis kronis, hingga disfungsi hati (Ecology Center, 1996). Jenis plastik berikutnya adalah Polystyrene (PS) yang biasa kita gunakan setiap hari sebagai kemasan foam, wadah makanan, gelas sekali pakai, piring, sendok, dan sedotan plastik sekali paki. Ketika kita menggunakan gelas plastik dan sendok plastik untuk makanan kita, kita harus mulai ingat bahwa mereka memiliki efek samping bagi kesehatan. Efek kesehatan dari plastik jenis PS ini adalah iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Partikel PS juga dapat bermigrasi dalam makanan dan tertimbun dalam lemak (Ecology Center, 1996). Selanjutnya, banyak orang yang setiap harinya minum minum air mineral dan minuman berkarbonasi lain. Tahukah kalian bahwa botolnya dibuat dengan polimer polyethylene terephthalate (PET). Padahal PET berpotensi menyebabkan karsinogen pada manusia jika tertimbun dalam tubuh dalam jumlah yang banyak (Ecology Center, 1996).

 

Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa masalah plastik tidak jauh dari kita sebagai manusia. Jika sampah plastik terus dihasilkan dan tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin partikel plastik bisa tertimbun melimpah di tubuh manusia dan menciptakan efek kesehatan. Jika Anda bertanya bagaimana bisa plastik masuk ke tubuh manusia, maka Anda perlu tahu jenis plastik berdasarkan ukurannya.

 

Plastik dalam ukuran besar yang biasa kita lihat dikenal sebagai macro plastik. Jenis ini telah dilaporkan mencemari lingkungan laut sejak awal kali pemakaiannya (Derraik, 2002). Ya, Anda tidak bisa menelan plastik makro ini, tetapi bagaimana dengan hewan/ikan di laut? Penelanan plastik karena keliru membedakannya sebagai makanan telah ditemukan dalam burung laut, penyu, dan mamalia laut (Jacobsen et al. 2010).

 

Jenis plastik yang lebih kecil diklasifikasikan sebagai plastik mikro (5 mm – 100 nm), nanoplastik (100 nm – 1 nm), dan sub-nanoplastik (<1 nm). Menurut Warring et al. (2018) plastik dalam ukuran mikro dan nano paling mungkin terinternalisasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan kerusakan langsung pada kesehatan manusia. Plastik makro yang ditemukan di lingkungan laut dan darat dapat terdegradasi menjadi partikel mikro dan nano plastik. Plastik jenis mikro dan nano inilah yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan (food chain). Banyak organisme laut yang tidak sengaja menelan plastik mikro dan nano karena ukurannya yang kecil, terutama oleh jenis krustasea yang biasanya kita santap sebagai seafood. Meskipun, kontaminasi plastik pada rantai makanan tidak mungkin menyebabkan dampak serius hingga kontaminasinya mencapai level tinggi, tetap saja masalah limbah plastik khususnya ukuran mikro mulai menarik perhatian.

 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih perhatian lagi terhadap kebiasaan kita dalam menggunakan plastik. Usahakan untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai sebanyak mungkin. Bawalah peralatan makan sendiri, botol minum sendiri, sehingga Anda tidak perlu menggunakan sendok plastik dan teman-temannya. Ingatlah bahwa plastik ukuran besar yang mengontaminasi laut dapat terdegradasi menjadi plastik mikro atau bahkan lebih kecil. Kampanye untuk meminimalkan sampah plastik yang dihasilkan melalui gaya hidup 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus terus digencarkan. Penelitian-penelitian terhadap dampak buruk sampah plastik bagi ekosistem dan manusia harus dibahasakan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat sehingga knowledge gaps di masyarakat dapat tertutup. Sampah plastik tidak hanya berbahaya karena dampak ekologis tetapi juga karena mereka dapat membahayakan keamanan pangan kita, keamanan pangan dan akibatnya kesehatan manusia.

 

Ditulis oleh: Rio Alfajri, M.Sc.

 
Referensi:

 

Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Mar. Pollut. Bull., 62(8): 1596-1605.

 

Center, E. (1996). Plastic Task Force Report. Berkeley, CA

 

Derraik, J. G. (2002). The pollution of the marine environment by plastic debris: a review. Marine pollution bulletin44(9), 842-852.

 

Engler, R. E. (2012). The complex interaction between marine debris and toxic chemicals in the ocean. Environmental science & technology46(22), 12302-12315.

 

Jacobsen, J.K., Massey, L. and Gulland, F. (2010). Fatal ingestion of floating net debris by two sperm whales (Physeter macrocephalus). Marine Pollution Bulletin, 60(15), 765-767

 

Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., … & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science347(6223), 768-771.

 

McKinley, E., & Fletcher, S. (2012). Improving marine environmental health through marine citizenship: a call for debate. Marine Policy36(3), 839-843.

 

Ministry of Environment and Forestry of Indonesia. 2017. The Ministry of Environment and Forestry of Indonesia Reduces 70% Marine Debris by 2025.

http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/541, Accessed date: 12 Juni 2020

 

Thompson, R. C., Swan, S. H., Moore, C. J., & Vom Saal, F. S. (2009). Our plastic age.

 

Artikel Terkait

Sebarkan Artikel

Bagikan ke Media Sosial​

Berlangganan

* Diperlukan